IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
V GAMBARAN UMUM 5.1 Kondisi Umum Kabupaten Bogor
6.2 Analisis Daya Saing
6.2.3 Analisis Kebijakan Pemerintah
Pada dasarnya suatu kebijakan bagi aktifitas ekonomi tertentu dapat memberikan dampak positif maupun dampak negatif terhadap para pelaku ekonomi. Melalui analisis matriks kebijakan dapat diketahui dampak kebijakan, baik kebijakan input (transfer input, koefisien proteksi input nominal dan transfer faktor), kebijakan output (transfer output dan koefisien proteksi output nominal),
maupun kebijakan input-output (koefisien proteksi efektif, transfer bersih, koefisien keuntungan, dan rasio subsidi produsen).
Kebijakan pemerintah pada sisi output dapat dilihat dari nilai transfer output, dan koefisien proteksi output nominal. Nilai transfer output positif menunjukkan besarnya insentif masyarakat terhadap produsen. Dengan kata lain masyarakat (konsumen) membeli dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan harga yang seharusnya mereka bayarkan. Demikian sebaliknya apabila transfer output bernilai negatif.
Analisis pada indusri tempe di Desa Citeureup menghasilkan nilai transfer output yang negatif. Hal ini mengindikasikan bahwa konsumen membayar dengan harga yang lebih rendah dibandingkan harga yang seharusnya konsumen bayarkan. Nilai transfer output sebesar Rp -1.555,14 memiliki pengertian bahwa terdapat transfer dari produsen kepada konsumen sebesar nilai tersebut.
Koefisien proteksi output nominal merupakan hasil pembagian antara penerimaan pada analisis finansial dengan penerimaan pada analisis ekonomi. Apabila nilai NPCO lebih besar dari satu (NPCO > 1) berarti terdapat proteksi harga oleh pemerintah sehingga harga output di pasar domestik yang diterima oleh produsen lebih tinggi dibandingkan harga bayangan (harga dunia), demikian pula sebaliknya. Berdasarkan analisis, diketahui bahwa nilai NPCO pada industri tempe di daerah penelitian yaitu sebesar 0,8699 (NPCO < 1). Nilai tersebut menunjukkan bahwa terdapat kebijakan pemerintah yang menyebabkan harga privat lebih rendah dibandingkan harga dunia. Kondisi ini juga dapat diartikan bahwa produsen atau pengrajin tidak memperoleh insentif dari pemerintah untuk peningkatan produksinya.
Transfer input merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk menganalisis kebijakan pemerintah yang diterapkan pada input tradable. Nilai transfer input diperoleh dari selisih antara biaya berdasarkan harga finansial dan biaya berdasarkan harga sosial. Apabila nilai transfer input yang dihasilkan positif berarti terdapat kebijakan subsidi negatif atau pemberlakuan pajak pada input produksi. Demikian sebaliknya, nilai transfer input negatif memperlihatkan bahwa terdapat kebijakan subsidi pada input produksi sehingga pengrajin atau produsen membeli input pada harga finansial yang lebih rendah dibandingkan harga ekonomi. Industri tempe di Desa Citeureup menunjukkan nilai transfer input yang positif yaitu Rp 180,25. Nilai tersebut mengindikasikan bahwa kebijakan pemerintah terhadap input tradable mengakibatkan pengrajin mengalami kerugian senilai Rp 180,25 per kilogram tempe.
Koefisien proteksi input nominal (NPCI) menunjukkan tingkat distorsi yang dibebankan pemerintah terhadap input tradable. Pada industri tempe di Desa Citeureup, dihasilkan nilai NPCI 1,0765. Nilai NPCI yang lebih besar dari satu menunjukkan bahwa terdapat kebijakan pemerintah yang memproteksi produsen input sehingga harga input tradable di pasar domestik akan meningkat menjadi lebih tinggi dibandingkan harga efisiennya. Sementara sektor usaha yang menggunakan input tersebut akan mengalami kerugian karena harus membayar input produksi dengan harga yang lebih tinggi.
Selain input produksi yang bersifat tradable terdapat pula input produksi yang bersifat non tradable. Transfer faktor yang merupakan analisis bagi kebijakan pemerintah pada input domestik diperoleh dari selisih antara biaya input non tradable pada analisis finansial dengan biaya input non tradable pada analisis
ekonomi. Hasil analisis menunjukkan transfer faktor pada industri tempe di Desa Citeureup sebesar Rp 261,91. Nilai tersebut menunjukkan bahwa harga input non tradable yang dikeluarkan pemerintah pada tingkat harga finansialnya lebih tinggi dibandingkan harga input non tradable pada tingkat harga sosial. Hal ini juga mengindikasikan terdapat kebijakan pemerintah yang bersifat melindungi input domestik sehingga pengrajin atau produsen harus membayar input domestik dengan harga yang lebih inggi dibandingkan harga sosialnya.
Koefisien proteksi efektif (EPC) merupakan indikator yang digunakan untuk melihat sejauh mana kebijakan pemerintah dalam melindungi ataupun menghambat produksi domestik. EPC ini diperoleh dari rasio antara selisih penerimaan dan biaya input tradable pada analisis finansial dengan selisih penerimaan dan biaya input tradable pada analisis ekonomi. Nilai EPC pada industri tempe di desa Citeureup yaitu 0,8192 (EPC < 1). EPC sebesar 0,8192 dapat diinterpretasikan bahwa kebijakan yang ada mengakibatkan pengrajin tempe tidak memperoleh tambahan keuntungan sebesar 81,92 persen dari harga bayangannya. Atau dengan kata lain pengrajin tempe di daerah penelitian hanya memperoleh sedikit manfaat subsidi sebagai akibat kebijakan pemerintah yang kurang melindungi para pengrajin tempe.
Selisih antara keuntungan finansial dengan keuntungan sosial menghasilkan nilai transfer bersih. Transfer bersih disini menyatakan adanya tambahan surplus produsen atau sebaliknya berkurangnya surplus produsen sebagai akibat adanya kebijakan pemerintah. Berdasarkan hasil analisis, transfer bersih di daerah penelitian bernilai Rp –1.997,30. Tranfer bersih yang bernilai negatif
menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah mengakibatkan berkurangnya surplus produsen sebesar Rp 1.997,30.
Dari tabel indikator penilaian matriks analisis kebijakan terlihat bahwa nilai koefisien keuntungan pada industri tempe di Desa Citeureup yaitu sebesar 0,5274. PC yang merupakan rasio antara keuntungan bersih privat dengan keuntungan bersih sosial menunjukkan pengaruh keseluruhan dari kebijakan yang mengakibatkan keuntungan sosial berbeda dengan keuntungan finansial. PC senilai 0,5274 memiliki arti bahwa kerugian ynag diterima pengrajin dengan adanya kebijakan pemerintah adalah 52,74 persen lebih tinggi dibandingkan kerugian yang diterima pada kondisi tanpa adanya kebijakan pemerintah.
Rasio subsidi produsen (SRP) merupakan rasio antara transfer bersih dengan penerimaan berdasarkan analisis ekonomi. SRP lebih besar dari nol berarti bahwa adanya kebijakan pemerintah mengakibatkan produsen mengeluarkan biaya produksi yang lebih rendah dibandingkan biaya imbangan untuk berproduksi. Sebaliknya, SRP lebih kecil dari nol menunjukkan adanya kebijakan pemeritah berdampak pada lebih tingginya biaya produksi yang dikeluarkan produsen dibandingkan opportunity costnya. SRP yang diterima pengrajin tempe di Desa Citeureup adalah -0,2540. Nilai rasio subsidi produsen ini berarti bahwa kebijakan yang berlaku selama ini mengakibatkan pengrajin tempe mengeluarkan biaya produksi lebih tinggi 25,40 persen dibandingkan biaya opportunity cost untuk berproduksi.