IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
V GAMBARAN UMUM 5.1 Kondisi Umum Kabupaten Bogor
6.1 Analisis Nilai Tambah pada Industri tempe di Desa Citeureup
Aktifitas pengolahan kedelai pada industri tempe merupakan salah satu bentuk kegiatan yang mengakibatkan bertambahnya nilai komoditi kedelai. Besaran nilai tambah tersebut dapat diketahui melalui analisis nilai tambah Metode Hayami. Melalui analisis ini dapat diuraikan proses produksi tempe menurut sumbangan masing-masing faktor produksi dan diketahui pula distribusi nilai tambah terhadap tenaga kerja dan pengrajin.
Perhitungan analisis nilai tambah dilakukan pada periode produksi Maret 2008. Pada dasarnya, pengrajin tempe di daerah penelitian melakukan kegiatan produksinya setiap hari sehingga strukur biaya yang digunakan merupakan struktur biaya produksi rata-rata setiap hari dikali tiga puluh.
Struktur biaya produksi pada industri tempe terdiri atas biaya pengadaan bahan baku utama, bahan baku lainnya, tenaga kerja, penyusutan peralatan, pajak, dan sewa tempat. Bahan baku utama pada industri tempe yaitu kedelai sedangkan bahan baku lain diantaranya ragi, daun, plastik, bahan bakar, dan pewarna. Masing-masing komponen biaya memiliki persentase kontribusi terhadap total biaya yang berbeda. Kedelai sebagai bahan baku utama memiliki persentase kontribusi yang paling tinggi yaitu sebesar 78,44 persen. Selanjutnya pada urutan kedua dengan kontribusi sebesar 8,30 persen ditempati oleh biaya tenaga kerja. Biaya penyusutan alat dan bahan baku lainnya secara berurutan masing-masing memberikan kontribusi sebesar 6,06 persen dan 5,67 persen. Selain keempat komponen biaya di atas, terdapat dua komponen biaya lainnya yaitu pajak dan
sewa tempat. Pajak memberikan kontribusi sebesar 0,78 persen sedangkan sewa tempat sebesar 0,75 persen dari total biaya produksi.
Kedelai, 78.44% Bahan baku lainnya, 5.67% Tenaga kerja, 8.30% Penyusutan alat, 6.06% Kedelai
Bahan baku lainnya Tenaga kerja Penyusutan alat
Gambar 11. Persentase Empat Komponen biaya penting dalam industri tempe Analisis nilai tambah yang dilakukan pada penelitian ini dimulai dari pengadaan bahan baku kedelai sampai dengan produk tempe dapat dipasarkan. Dasar perhitungan dalam analisis nilai tambah pada industri tempe menggunakan per satuan kilogram kedelai sebagai bahan baku utama. Harga rata-rata bahan baku kedelai di daerah penelitian yaitu Rp 7.015,00 per kilogram.
Tabel 19 memperlihatkan hasil perhitungan analisis nilai tambah pada industri tempe di Desa Citeureup dengan menggunakan Metode Hayami. Rata- rata setiap harinya pengrajin tempe di daerah tersebut memproduksi tempe sebanyak 163,2 kilogram sehingga dalam satu bulan dapat dihasilkan tempe sebanyak 4.896 kilogram. Output tersebut dipasarkan dengan harga rata-rata per satuan Rp 6.500,00. Dari sisi bahan baku, jumlah kedelai yang digunakan yaitu 3.060 kilogram per bulan. Berdasarkan hasil pembagian besaran total output dan input bahan baku utama didapatkan nilai faktor konversi sebesar 1,6. Nilai ini menunjukkan bahwa setiap satu kilogram kedelai yang diolah akan menghasilkan 1,6 kilogram tempe.
Tabel 18. Hasil Analisis Nilai Tambah pada Industri Tempe di Desa Citeureup Maret 2008
URAIAN NILAI
OUTPUT, INPUT, HARGA
1. Total output (kg/bulan) 4.896
2. Input bahan baku (kg/bulan) 3.060
3. Tenaga kerja (HOK/bulan) 61,71
4. Faktor konversi (1/2) 1,60
5. Koefisien tenaga kerja (3/2) 0,02
6. Harga output rata-rata (Rp/kg) 6.500
7. Upah rata-rata tenaga kerja (Rp/HOK) 36.096,25
PENDAPATAN DAN KEUNTUNGAN
8. Harga bahan baku (Rp/kg) 7.015
9. Sumbangan input lain (Rp/kg kedelai) 1.186,08
10. Nilai output (4 x 6) 10.400
11. a. Nilai tambah (10 - 9 - 8) 2.198,91
b. Rasio nilai tambah (11a/10) x 100% 21,14 12. a. Pendapatan tenaga kerja (5 x 7) 727,94 b. Pangsa tenaga kerja (12a/11a) x 100% 33,10
13. a. Keuntungan (11a - 12a) 1.470,97
b. Tingkat keuntungan (13a/11a) x 100% 66,89
BALAS JASA FAKTOR PRODUKSI
14. Margin (10 - 8) 3.385
a. Pendapatan tenaga kerja (12a/14) x 100% 21,50 b. Sumbangan input lain (9/14) x 100% 35,03
c. Keuntungan (13a/14) x 100% 43,45
Proses produksi pada industri tempe tentu tidak terlepas dari komponen tenaga kerja. Rata-rata industri tempe dengan skala usaha seratus kilogram kedelai per hari menggunakan hanya dua orang tenaga kerja dimana keduanya berasal dari dalam keluarga. Apabila digunakan tenaga kerja dari luar keluarga maka sistem pengupahan yang berlaku adalah sistem harian sebesar Rp 41.250,00 per orang. Tenaga kerja tersebut bekerja selama delapan jam per hari yang terdiri dari 1,143 HOK bagi tenaga kerja pria dan 0,914 HOK bagi tenaga kerja wanita dengan asumsi 1HOK = 7 jam dan 1HOK pria = 0,8 HOK wanita. Atau dengan kata lain, upah yang diterima pekerja adalah sebesar Rp 36.096,25 per HOK. Total
pemakaian jasa tenaga kerja selama satu bulan periode produksi adalah 61,71 HOK.
Nilai koefisien tenaga kerja diperoleh dari hasil pembagian jumlah total Hari Orang Kerja (HOK) selama satu bulan periode produksi dengan jumlah input bahan baku yang diolah dalam satu bulan. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan nilai koefisien tenaga kerja pada industri tempe di daerah penelitian adalah 0,02. Nilai ini dapat diinterpretasikan sebagai jumlah Hari Orang Kerja (HOK) yang diperlukan untuk memproduksi satu kilogram kedelai hingga menjadi tempe adalah 0,02 HOK (1HOK = 7 jam kerja).
Sumbangan input lain adalah biaya-biaya yang juga dikeluarkan industri selain biaya bahan baku kedelai dan tenaga kerja. Sumbangan input lain pada kegiatan pengolahan kedelai menjadi tempe terdiri dari biaya bahan baku lainnya (ragi, daun, plastik, pewarna, dan bahan bakar), biaya penyusutan alat, pajak dan sewa tempat. Nilai total sumbangan input lain pada industri tempe dengan skala usaha seratus kilogram per hari yaitu Rp 118.608,10. Nilai tersebut kemudian dibagi dengan jumlah input bahan baku utama yang digunakan sehingga diperoleh sumbangan input lain per satuan kilogram kedelai sebesar Rp 1.186,08.
Nilai output diperoleh dari hasil perkalian rata-rata harga output per kilogram dengan faktor konversi. Nilai output pada industri tempe disini yaitu sebesar Rp 10.400,00. Nilai output tersebut memberikan nilai tambah sebesar Rp 2.198,91 dengan rasio nilai tambah 21,14 persen. Nilai ini dapat diinterpretasikan bahwa sebesar 21,14 persen merupakan nilai tambah dari pengolahan produk. Nilai tambah disini merupakan nilai tambah kotor karena belum memperhitungkan imbalan tenaga kerja.
Imbalan tenaga kerja yang merupakan perkalian dari koefisien tenaga kerja dengan upah rata-rata tenaga kerja per HOK adalah sebesar Rp 727,94 dan pangsa tenaga kerja sebesar 33,10 persen. Hal ini berarti 33,10 persen dari nilai tambah merupakan imbalan yang diterima oleh tenaga kerja.
Industri tempe pada penelitian ini berhasil memperoleh keuntungan sebesar Rp 1.470,97 per kilogram. Tingkat keuntungan yang dimiliki yaitu 66,89 persen yang berarti bahwa 66,89 persen dari nilai tambah merupakan keuntungan pengrajin/pengusaha. Keuntungan ini merupakan keuntungan bersih karena sudah memperhitungkan imbalan tenaga kerja.
Berdasarkan tabel hasil analisis nilai tambah di atas dapat diketahui bahwa margin dari pengolahan kedelai pada industri tempe adalah sebesar Rp 3.385,00. Nilai ini diperoleh dari selisih harga atau nilai output dengan nilai input bahan baku utama. Margin ini kemudian didistribusikan menjadi imbalan bagi tenaga kerja, sumbangan input lain serta keuntungan pengusaha/pengrajin. Margin yang didistribusikan sebagai imbalan bagi tenaga kerja sebesar 21,50 persen. Margin bagi sumbangan input lain sebesar 35,03 persen dan margin bagi keuntungan pengrajin sebesar 43,45 persen.