• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. METODE PENELITIAN

4.2.4. Analisis Kebijakan Perubahan Harga, Pengeluaran Riset

c. Elastisitas penawaran output terhadap input tetap Zk:

4.2.3. Bias Perubahan Teknologi

Perubahan teknologi memiliki pengaruh terhadap alokasi relatif faktor-faktor produksi variabel yang digunakan. Adapun input variabel yang dimasukkan dalam model fungsi keuntungan adalah benih jagung, pupuk urea, pupuk TSP, dan tenaga kerja. Dalam penelitian ini, untuk melihat bias perubahan teknologi mengacu pada penelitian sebelumnya yaitu Weaver (1983) dan Fulginiti and Perrin (1990), dimana bias perubahan teknologi pada fungsi translog diduga dengan ukuran Hicksian dengan rumus sebagai berikut:

Dimana:

Bhkt = ukuran Hicksian perubahan teknologi input Xht relatif terhadap input Xkt

βht dan βkt = parameter input variabel h dan k terhadap pengeluaran riset jagung. Sht dan Skt

Dalam rangka peningkatan produksi jagung, pemerintah melakukan berbagai kebijakan yang antara lain meliputi kebijakan harga input dan output

= dugaan pangsa input variabel h dan k.

4.2.4. Analisis Kebijakan Perubahan Harga, Pengeluaran Riset dan Pengembangan Jagung serta Infrastruktur Jalan

(Ditjen Tanaman Pangan, 2008). Kebijakan yang terkait input usahatani jagung adalah kebijakan subsidi pupuk dan benih, bantuan benih gratis, bantuan alsintan, dan teknologi budidaya. Kebijakan terkait output adalah kebijakan yang mendorong pemerintah daerah melalui kelembagaan pemasaran yang ada agar menampung produksi jagung petani disaat panen, sehingga harga jagung di tingkat petani tidak jatuh. Sejak tahun 1990 sudah tidak ada lagi pengaturan atas harga jagung melalui mekanisme harga dasar, karena dinilai tidak efektif dan tataniaga jagung dibebaskan sehingga harga jagung ditentukan oleh mekanisme pasar.

Terkait dengan kebijakan input seperti subsidi pupuk, karena keterbatasan angaran pemerintah, maka harga HET (Harga Eceran Tertinggi) pupuk bersubsidi secara bertahap mengalami peningkatan. Kenaikan harga pupuk (HET) urea dan SP36 misalnya pada periode 2005-2006 masing-masing sekitar 14.3 persen dan 10.7 persen. Sementara itu, harga jagung dipasaran mengalami peningkatan dari Rp 1 362/kg tahun 2005 menjadi Rp 1 500/kg tahun 2006 atau peningkatannya sekitar 10.1 persen. Selain itu, pada kurun waktu 1985-2009 rata-rata peningkatan harga pupuk dan benih baik di Proinsi Jawa Barat dan Jawa Timur masing-masing sebesar 10 persen dan 15 persen per tahun.Sementara rata-rata peningkatan harga jagaung pada kurun waktu 1985-2009 di kedua provinsi sebesar 10 persen per tahun. Untuk kebutuhan analisis kebijakan, terkait peningkatan harga pupuk, harga benih dan harga jagung menggunakan trend peningkatan harga-harga yang terjadi pada kurun waktu tersebut.

Oleh karena itu, dalam analisis kebijakan ini dilakukan simulasi kebijakan terhadap penawaran output dan permintaan input dengan memasukan nilai

elastisitas harga sendiri dan elastisitas silang. Menurut Fulginiti dan Perrin (1990), model elastisitas yang digunakan adalah:

dimana δ lnQ dan δ lnX adalah vektor (k+n) x 1 perubahan ouput dan input. E adalah matriks (k+n) x (k+n+m) elastisitas penawaran dan permintaan terhadap harga output, harga input dan faktor tetap. Selanjutnya δ ln P δ ln R δ ln Z adalah vector (k+n+m) x 1 perubahan harga output, harga input dan faktor tetap. Perubahan kebijakan yang yang akan dianalisis meliputi beberapa skenario:

(1) Harga jagung naik 10 persen, (2) Harga jagung turun 10 persen, (3) Harga pupuk naik 10 persen, (4) Harga benih naik 15 persen,

(5) Kombinasi kebijakan skenario: (1), (3), dan (4) (6) Kombinasi kebijakan skenario: (2), (3), dan (4) (7) Pengeluaran riset jagung meningkat 10 persen, (8) Infrastruktur jalan naik 10 persen,

(9) Kombinasi kebijakan skenario: (1), (3), (4), (7) dan (8) (10) Kombinasi kebijakan skenario: (2), (3), (4), (7) dan (8)

4.2.5. Analisis Daya Saing Usahatani Jagung

Untuk mengetahui sejauh mana keunggulan komparatif dan kompetitif jagung dilakukan pendekatan analisis penggunaan sumberdaya domestik dan input tradabel. Metode analisis yang digunakan adalah Matrik Analisis Kebijakan (PAM). Model matriks analisis kebijakan (PAM) yang dikembangkan oleh Monke

and Person (1995) merupakan sebuah model matriks yang selain dapat digunakan untuk mengukur keunggulan komparatif tetapi juga dapat mengukur intervensi pemerintah serta dampaknya terhadap sistem agribisnis komoditas secara sistematis dan menyeluruh.

Hasil analisis PAM menginformasikan bahwa keunggulan kompetitif dan komparatif serta dampak kebijakan terhadap usahatani jagung. Dalam PAM terdapat asumsi bahwa suatu kegiatan ekonomi dapat dipandang sebagai sisi privat dan sisi sosial. Kenyataannya pelaksanaan asumsi pertama merupakan analisis finansial dimana keuntungan dilihat dari pihak yang terlibat dalam aktivitas tersebut. Asumsi kedua merupakan analisis ekonomi, yaitu analisis yang dilihat dari masyarakat secara keseluruhan baik yang terlibat dalam aktivitas ekonomi maupun yang tidak.

Dengan kedua asumsi diatas maka dalam analisis PAM terdapat perbedaan perlakuan terhadap input dan output serta harga yang digunakan dari suatu kegiatan ekonomi. Analisis finansial mengunakan harga privat, yaitu harga yang diterima / dibayar oleh pelaksana ekonomi setelah ada kebijakan pemerintah atau distorsi pasar. Dalam analisis ekonomi digunakan harga bayangan, yaitu harga yang terbentuk sebagai akibat mekanisme pasar dalam pasar persaingan sempurna. Tahapan dalam mengunakan metode PAM adalah: (1) identifikasi input secara lengkap dari usahatani jagung, (2) menentukan harga bayangan (shadow price) dari input dan output usahatani jagung, (3) memilah biaya kedalam kelompok tradabel dan domestik, (4) menghitung penerimaan dari usahatani jagung, dan (5) menghitung dan menganalisis berbagai indikator yang bisa dihasilkan oleh PAM.

Pada analisis ini hanya 2 indikator yang akan dihitung yaitu DRCR (Domestic Resource Cost Ratio) dan PCR (Private Cost Ratio). Rasio Biaya Sumberdaya Domestik (DRCR) merupakan perbandingan antara biaya ekonomi faktor domestik dengan nilai tambah dalam harga ekonomi. DRC pada keuntungan ekonomi sedangkan PCR pada keuntungan finansial. Rasio DRC merupakan indikator daya saing ekonomi atau ukuran keunggulan komparatif. Meminimumkan DRC berarti memaksimumkan keuntungan ekonomi. Sementara Rasio Biaya Finansial (PCR) merupakan ukuran efesiensi atau daya saing dalam nilai finansial, atau juga dapat dikatakan sebagai ukuran keunggulan kompetitif dari sisi harga privat. PCR ini merupakan rasio antara biaya finansial faktor domestik dengan nilai tambah dalam harga finansial. Nilai tambah adalah perbedaan antara nilai output dengan biaya input-input tradabel. Hal ini menunjukan seberapa besar sistem ini dapat berusaha untuk membayar faktor-faktor domestik dan masih tetap bersaing. Seorang pengusaha untuk meminimumkan PCR dengan menekan biaya faktor domestik dan input tradabel atau memaksimumkan nilai tambah sehingga keuntungan yang akan diperoleh maksimum.

Menurut Rosegrant et.al, (1987) bahwa analisis keunggulan komparatif dengan indikator DRC pada komoditas pertanian dapat dikerjakan pada berbagai level regional. Analisis komparatif regional mengasumsikan 3 rejim dasar perdagangan regional yaitu: substitusi impor, perdagangan interregional, dan promosi ekspor. Dalam penelitian ini, untuk komoditas jagung karena dalam rangka pemenuhan kebutuhannya masih cukup dominan melakukan impor maka analisis akan difokuskan pada analisis sebagai substitusi impor.

Terdapat dua pendekatan untuk mengalokasikan biaya dalam analisis PAM yaitu pendekatan total dan pendekatan langsung. Pendekatan total diasumsikan bahwa setiap biaya input yang diperdagangkan (tradable) produksi domestik terdiri dari kelompok biaya domestik dan asing. Pendekatan ini untuk mengetahui dampak suatu kebijakan. Pendekatan langsung adalah bahwa seluruh biaya input tradabel baik yang di impor maupun produksi domestik dinilai sebagai kelompok biaya asing. Pendekatan ini dipakai bila tambahan input tradabel baik impor maupun produksi domestik dapat dipenuhi dari perdagangan internasional.

Dalam menentukan harga bayangan nilai tukar uang domestik terhadap mata uang asing digunakan persamaan:

dimana SCf = (Xt+Mt) / ((Xt-Txt)+(Mt+Tmt) ; dengan keterangan: SER = nilai tukar bayangan tahun t (Rp/$ US);

SCFt = standart conversion factor tahun t ; Xt = nilai Ekspor Indonesia tahun t (Rp); Mt = nilai Impor Indonesia tahun t (Rp); Txt = pajak ekspor tahun t (Rp), dan

Tmt = pajak impor atau bea masuk tahun t (Rp)

Berdasarkan hasil penelitian Hadi, et.al. (2002) dan Suroso (2008) pada Tabel 1 disajikan alokasi biaya usahatani khususnya untuk komoditas jagung. Alokasi biaya usahatani dipilah atas komponen domestik dan tradabel. Berdasarkan Tabel 1, maka dapat diketahui bahwa untuk input sepertti benih, pupuk urea, pupuk TSP dan pestisida seluruhnya dihitung sebagai komponen

input tradabel. Sementara untuk biaya lain dan tenaga kerja seluruhnya dihitung sebagai komponen input domestik.

Alokasi biaya usahatani dipilah atas komponen domestik dan tradable. Setelah pengalokasian biaya input dan output kedalam kelompok tradable dan domestik, baik secara finansial maupun ekonomi, maka tahap pertama menghitung tingkat keuntungan, berdasarkan atas biaya input dan harga output. Data pada matrik PAM merupakan dasar untuk menganalisis keuntungan dan dampak atas kebijakan pemerintah.

Tabel 1. Alokasi Biaya Usahatani Jagung Berdasarkan Komponen Domestik dan Tradabel

(%)

Jenis Biaya Domestik Tradabel

1. Biaya Lain: iuran, sewa alat pertanian 2. Benih Jagung 3. Pupuk Urea 4. Pupuk SP36/TSP 5. Pupuk KCl 6. Pestisida 7. Tenaga Kerja 100 0 0 0 0 0 100 0 100 100 100 100 100 0 Sumber: Hadi, et.al. (2002) dan Suroso (2008).

Analisis daya saing jagung akan dilakukan baik pada tingkat usahatani. Daya saing komoditas jagung dalam hal ini akan diukur dengan metode DRCR (Domestic Resource Cost Ratio) dan PCR (Private Cost Ratio). Makin kecil nilai DRCR dan PCR maka semakin besar daya saing komoditi pertanian tersebut. Rumus DRC dan PCR adalah sebagai berikut:

dengan keterangan:

RHS = Σ (Qy PyHS), dan TICHS = Σ (XtPtHS)

DRCR = Domestic Resource Cost Ratio DFCHS

R

= Jumlah biaya faktor domestik dengan harga sosial HS

TIC

= Jumlah penerimaan kotor dengan harga sosial HS

X

= Jumlah biaya input tradabel dengan harga sosial d

P

= Jumlah penggunaan faktor domestik dHS

Q

= Harga Sosial faktor domestik y

P

= Jumlah output tradabel yHS

X

= Harga sosial output tradabel t

P

= Jumlah penggunaan input tradabel tHS = Harga sosial input tradabel

dengan keterangan:

DFCHP = Σ (XdPdHP

R

),

HP = Σ (Qy PyHP), dan TICHP = Σ (XtPtHP

PCR = Private Cost Ratio

)

DFCHP R

= Jumlah biaya faktor domestik dengan harga private

HP

TIC

= Jumlah penerimaan kotor dengan harga private

HP

X

= Jumlah biaya input tradable dengan harga private

d

P

= Jumlah penggunaan faktor domestik d HP

Q

= Harga privatel faktor domestik y = Jumlah output tradabel

Py HP = Harga private output tradabel Xt = Jumlah penggunaan input tradabel Pt HP

Berdasarkan data BPS (2009) dan Bank Indonesia (2010) di ketahui bahwa nilai ekspor Indonesia (Xt) tahun 2009 sebesar US $ 116 510 juta atau setara Rp 1

= Harga private input tradabel

Penentuan Harga Sosial Nilai Tukar, Output dan Input Usahatani Jagung Pada analisis biaya sumberdaya domestic (DRC) digunakan dua harga yaitu harga privat dan harga sosial. Harga privat disebut juga dengan harga pasar, yaitu harga yang benar-benar diterima produsen atau yang dibayarkan oleh konsumen. Adapun harga sosial pada prinsipnya merupakan harga bayangan, yang menggambarkan nilai sosial atau nilai ekonomi yang sesungguhnya dari unsur-unsur biaya maupun hasil yang menunjukkan opportunity cost dari biaya dan hasil. Dengan asumsi bahwa harga perdagangan dipasar dunia bersaing sempurna, maka perhitungan yang digunakan sebagai dasar penentuan harga bayangan output adalah harga perbatasan (border price). Untuk barang yang di impor maka digunakan harga CIF (Cost Insurance and Freighht), dan untuk barang yang di ekspor digunakan harga FOB (Free on Board). Menurut Gittinger (1986) bahwa harga bayangan yang digunakan secara umum ditentukan dengan cara mengeluarkan distorsi akibat adanya kebijakan-kebijakan seperti subsidi, pajak, penentuan upah minimum, dan harga pembelian pemerintah.

Harga bayangan tersebut meliputi harga: nilai tukar, harga output, harga sarana produksi (pupuk dan pestisida), upah tenaga kerja, dan biaya lainnya.

095.19 Triliun rupiah. Adapun nilai impor Indonesia (Mt) tahun 2009 sebesar US $ 96 829.2 juta atau setara Rp 910.19 Triliun, dan untuk penerimaan Pajak ekspor (TXt) tahun 2009 sebesar Rp 7.60 Triliun serta penerimaan Pajak Impor (TMt) tahun 2009 seebesar Rp 19.60 Triliun. Pada tahun 2009 nilai tukar US $ 1 adalah setara Rp 9 400 (BPS, 2010b). Sesuai formula SCft (Standart Conversion Factor), maka berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai SCFt sebesar 0.994. Nilai SCFt yang diperoleh selanjutnya digunakan untuk menghitung SER (Shadow Exchange Rate), sesuai formula yang telah disebutkan sebelumnya maka dari hasil perhitungan diperoleh nilai SER sebesar Rp 9 457.

Harga Sosial Output (Jagung)

Komoditas jagung digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan pangan, industri bahan makanan, bahan baku pakan dan bahan baku energi (bioetanol). Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, sampai tahun 2009 Indonesia masih melakukan impor jagung, dengan rata-rata harga CIF sebesar US $ 250 per ton. Oleh karena itu, pada penelitian ini pendekatan harga bayangan melalui harga impor jagung.

Harga sosial jagung dihitung dari harga impor (CIF) sebagaimana dikemukakan oleh Rosegrant, et.al (1987), yaitu untuk lokasi Jawa Timur berasal dari CIF Pelabuhan Tanjung Perak dan di Jawa Barat CIF Pelabuhan Tanjung Priok, dengan mengkonversi kedalam rupiah (tahun 2009, US$ 1 = Rp 9 400, dan harga bayangan nilai tukar sebesar Rp 9 457) kemudian dikurangi dengan bea masuk (5 persen) dan PPH impor (2.5 persen). Harga sosial di tingkat pedagang besar perlu ditambahkan dengan biaya-biaya bongkar muat dan pengangkutan. Selanjutnya untuk menghitung harga bayangan ditingkat petani, maka harga

bayangan di tingkat pedagang besar dikurangi biaya angkut sampai ditingka t petani dan biaya pengepakan. Rata-rata biaya angkut sebesar Rp 160 per kilogram di Jawa Timur dan Rp 240 per kilogram di Jawa Barat. Hasil perhitungan harga sosial jagung ditingkat petani adalah sebesar Rp 2 397 per kilogram di Provinsi Jawa Barat dan Rp 2 317 per kilogram di Provinsi Jawa Timur.

Harga Sosial Input Produksi

Harga sosial input benih jagung didekati, didekati dari harga sosial komoditi jagung sebagai output. Namun karena pada penanganan benih terdapat aspek control kualitas, maka harga sosial benih lebih besar dibandingkan dengan harga bayangan sebagai output. Harga sosial benih di lokasi penelitian Provinsi Jawa Timur dan Jawa Barat diperoleh dari pembagian harga aktual benih di lokasi penelitian (Rp 24 582 per kilogram di Jawa Barat dan Rp 15 982 per kilogram di Jawa Timur) dibagi harga aktual output (jagung) di lokasi penelitian (Rp 2 100 per kilogram di Jawa Barat dan Rp 2 200 per kilogram di Jawa Timur) kemudian dikali dengan harga sosial jagung di lokasi penelitian, maka diperoleh harga sosial benih sebesar Rp 28 057 per kilogram di Jawa Barat dan Rp 16 831 per kilogram di Jawa Timur.

Untuk harga sosial input pupuk urea, mengacu pada harga FOB. Hal ini disebabkan bahwa Indonesia telah melakukan ekspor urea (Viva News, 2009). Harga FOB pupuk urea rata-rata tahun 2009 sekitar US $ 0.4 per kilogram di pelabuhan ekspor. Dengan memperhitungkan biaya bongkar muat dan transportasi ke lokasi penelitian, maka harga sosial urea diperoleh sebesar Rp 4 073 per kilogram di Provinsi Jawa Barat dan Rp 3 993 per kilogram di Provinsi Jawa Timur. Sementara itu, untuk pupuk TSP Indonesia masih dilakukan impor,

sehingga acuannya menggunakan harga CIF. Harga CIF di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta dan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya rata-rata sebesar US $ 0.45 per kilogram. Selanjutnya dengan memperhitungkan biaya bongkar muat dan pengangkutan maka diperoleh harga sosial pupuk TSP sebesar Rp 4 565 per kilogram di Provinsi Jawa Barat dan Rp 4 466 per kilogram di Provinsi Jawa Timur.

Untuk input lainnya yaitu pestisida, harga privat (aktual) juga merupakan harga sosial di lokasi penelitian. Hal ini didasari suatu fakta bahwa sejak 1 Januari 1989, harga pestisida nasional mengikuti mekanisme harga pasar yang artinya pemerintah sudah tidak lagi memberikan subsidi (Hutabarat, et.al, 1997). Pada data struktur ongkos usahatani, untuk input pestisida yang diketahui adalah nilainya, maka nilai pestisida atas harga privat juga merupakan nilai sosialnya.

Selanjutnya, untuk upah tenaga kerja harga sosialnya didekati dengan dari upah actual yang berlaku di lokasi penelitian. Upah yang berlaku di lokasi penelitian Provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur masing-masing sebesar Rp 19 689 per hari kerja dan Rp 18 145 per hari kerja. Hal ini didasarkan pertimbahangan bahwa pasar tenaga kerja di lokasi penelitian khususnya di Pulau Jawa telah berjalan lancar. Untuk biaya-biaya lain termasuk sewa lahan dan iuran-iuran pada kegiatan usahatani, nilai sosialnya di dekati dari nilai aktual yang dikeluarkan pada kegiatan usahatani di lokasi penelitian.

Penentuan harga bayangan biaya lain (sewa alat pertanian, iuran, pajak dan sebagainya) didasarkan atas nilai yang terdapat di lokasi penelitian. Hal ini didasari pemikiran bahwa mekanisme sewa alat pertanian, iuran dan pajak telah berjalan secara baik di pedesaan.

4.2.6. Analisis Sensitivitas: Perubahan Harga, Pengeluaran Riset dan Pengembangan Jagung serta Infrastruktur Jalan terhadap Keunggulan Komparatif dan Kompetitif

Setelah dilakukan analisis nilai keunggulan komparatif (DRC) dan kompetitif (PCR) dari matrik PAM dilakukan analisis sensitivitas yang bertujuan untuk melihat bagaimana hasil analisis suatu aktivitas ekonomi bila terjadi perubahan dalam perhitungan biaya. Analisis sensitivitas dilakukan dengan mengubah suatu unsur atau mengkombinasikan unsur-unsur serta menentukan pengaruh dari perubahan tersebut pada hasil analisis semula.

Menurut Pannell (1997) bahwa analisis sensitivitas dapat dibagi dalam empat kelompok utama, yaitu: pengambilan keputusan atau membangun rekomendasi untuk para pengambil kebijakan, peningkatan pengertian atau kualifikasi suatu sistem dan model pembangunan. Sementara Gittinger (1986) mengemukakan bahwa pada analisis kelayakan proyek pertanian, baik secara finansial maupun ekonomi terdapat empat faktor yang sangat sensitif terhadap suatu perubahan, sehingga diperlukan analisis sensitivitas. Keempat faktor tersebut yaitu: harga, keterlambatan pelaksanaan, kenaikan biaya dan perubahan hasil.

Analisis sensitivitas pada penelitian ini terutama dilakukan pada usahatani jagung. Analisis sensitivitas ini masih terkait dengan analisis kebijakan perubahan harga dan infrstruktur terhadap penawaran output dan input yang dilakukan sebelumnya. Pada analisis terdapat 10 skenario untuk memperoleh bentuk kebijakan yang paling efektif dalam meningkatkan keunggulan komparatif dan kompetitif jagung di lokasi penelitian, yaitu sebagai berikut:

(2) Harga jagung turun 10 persen, (3) Harga pupuk naik 10 persen, (4) Harga benih naik 15 persen,

(5) Kombinasi kebijakan skenario: (1), (3), dan (4) (6) Kombinasi kebijakan skenario: (2), (3), dan (4) (7) Pengeluaran riset jagung meningkat 10 persen, (8) Infrastruktur jalan naik 10 persen,

(9) Kombinasi kebijakan skenario: (1), (3), (4), (7) dan (8) (10) Kombinasi kebijakan skenario: (2), (3), (4), (7) dan (8)

Pada analisis sensitivitas usahatani, perubahan-perubahan yang dihasilkan dari analisis kebijakan penawaran output dan input dimasukan dalam perhitungan analisis sensitivitas usahatani jagung. Dengan analisis tersebut maka dapat diketahui bagaimana perubahannya terhadap keuntungan privat dan sosial usahatani, serta keunggulan komparatif (DRC) dan keunggulan kompetitif (PCR) usahatani jagung di lokasi penelitian Jawa Timur dan Jawa Barat.

5.1. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Jagung di Jawa Timur dan