BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Analisis Kebutuhan
Langkah atau tahap awal penelitian pengembangan perangkat pembelajaran inovatif model Quantum Learning dan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) mengacu Kurikulum 2013 untuk kelas I SD adalah melakukan analisis kebutuhan. Analisis kebutuhan dilakukan sesuai dengan langkah- langkah yang sudah dijelaskan pada Bab III. Analisis kebutuhan dilakukan dengan melakukan observasi dan wawancara guru kelas I SD N Puren yang beralamat di Jalan Tantular, Condongcatur, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 52283 dan SD N Kentungan yang beralamat di Jl. Kaliurang No.21 D, Kentungan, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta.
Wawancara ditujukan kepada dua guru kelas I SD. Pertama adalah guru kelas I SD N Puren yaitu I pada tanggal 18 April 2018. Yang kedua adalah guru kelas I SD N Kentungan yaitu S pada tanggal 21Mei 2018. Observasi dan wawancara dilakukan guna mengetahui seberapa jauh pemahaman dan pengimpletasian pembelajaran inovatif di sekolah dasar (SD). Hal ini bertujuan agar perangkat pembelajaran inovatif dapat membantu guru mendapatkan contoh perangkat pembelajaran inovatif yang mengacu Kurikulum 2013 sebagai panduan dalam kegiatan belajar mengajar.
1. Hasil Wawancara Analisis Kebutuhan
Peneliti melakukan wawancara kepada guru kelas I SD N Puren dan SD N Kentungan. Wawancara berpedoman 22 item pertanyaan
66
analisis kebutuhan mengenai perangkat pembelajaran inovatif mengacu Kurikulum 2013 untuk siswa kelas I SD. Hasil wawancara dengan guru kelas I SD N Puren sebagai pelaksana Kurikulum 2013 akan dijabarkan setiap itemnya.
Butir pertanyaan pertama mengenai mulainya Kurikulum 2013 diterapkan di SD tersebut. SD N Puren menerapkan Kurikulum 2013 sejak Tahun 2013/ 2014 1 semester menerapkan kurikulum tersebut, namun pada saat itu guru I ditempatkan di kelas III SD, sedangkan yang sudah menerapkan Kurikulum 2013 adalah kelas I dan kelas IV. Tetapi pada saat semester 2 sempat terhenti dalam penerapan kuirkulum tersebut. Kemudian mulai lagi diterapkan tahun ajaran 2016/ 2017 untuk semua kelas kecuali kelas III dan VI. Sedangkan, SD N Kentungan yang ditempati oleh guru S mulai menerapkan sejak tahun 2013 dan bertahap dalam menerapkannya.
Butir pertanyaan kedua mengenai kepelatihan guru dalam pemahaman Kurikulum 2013. Guru S dan I pernah mengikuti pelatihan Kurikulum 2013. Yang pertama selama 2 minggu bertempat di SD N Percobaan 2 yang kedua di SD Tamanan 1 Kalasan. Guru juga mempunyai paguyuban Kurikulum 2013 bersama guru- guru dari SD lainnya yang setiap 1 bulan sekali berkumpul untuk membahas Kurikulum 2013, penanganan anak, administrasi guru dan membuat soal- soal untuk UTS.
Butir pertanyaan ketiga mengenai pemahaman guru tentang Kurikulum 2013. Guru I menjelaskan bahwa wali murid dan guru yang belum paham mengenai kurikulum 2013 merasa kaget, karena materi yang ada pada Kurikulum 2013 tidak terlalu luas dan jauh. Siswa dituntut untuk menemukan hal baru atau dikenal dengan istilah lain yaitudiscovery. Guru hanya menjadi fasilitator sedangkan siswa aktif dalam kegiatan
67
pembelajaran. Kurikulum 2013 membuat peserta didik lebih sering melakukan pengalaman langsung atau praktek di lapangan jadi pemahaman siswa juga lebih mendalam lagi. Sedangkan Guru S menjelaskan bahwa kurikulum 2013 adalah kurikulum yang terpadu dan berpusat pada siswa. Didalam kurikulum 2013 disisipkan pendidikan karakter untuk siswa yang diterapkan oleh guru S dalam proses pembelajaran sehari- hari disela- sela materi pelajaran pokok.
Butir pertanyaan keempat yaitu karakteristik Kurikulum 2013. Guru menyebutkan bahwa karakteristik Kurikulum 2013 adalahsiswa harus mampu menemukan hal- hal baru dan guru hanya menjadi pembimbing atau fasilitator. Guru lebih detail dalam menilai siswa yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Sedangkan menurut guru S karakteristik kurikulum 2013 meliputi kompetensi inti (KI), kompetensi dasar (KD), dan mengembangkan aspek kognitif, aspektif dan psikomotorik.
Butir pertanyaan kelima adalah pemahaman guru mengenai pendekatan saintifik. Menurut sepengetahuan guru S dan I hampir sama yaitu, pendekatan saintifik adalah pendekatan dimana siswa diajak mencari tahu masalah kemudian menyelesaikan masalah tersebut melalui hipotesis. Biasanya pendekatan saintifik mengarah pada kontekstual.
Butir pertanyaan keenam yaitu mengenai perumusan indikator dan tujuan pembelajaran yang sesuai dengan karakter peserta didik. Cara guru I merumuskan indikator adalah bersama guru-guru paguyuban Kurikulum 2013 yang mayoritas karakter siswa dalam sekolah- sekolah tersebut hampir sama. Jadi, guru lebih mudah merumuskan indikator dan tujuan pembelajaran dengan saling bertukar pikiran antara guru satu dengan yang lain dalam paguyuban Kurikulum 2013 tersebut.
68
Sedangkan guru S menjelaskan dalam perumusan indikator dan tujuan pembelajaran mengacu pada buku pegangan dan pengetahuan dari internet.
Butir pertanyaan ketujuh yaitu menumbuhkembangkan pendidikan karakter siswa dalam pembelajaran. Guru I dan S sependapat bahwa menanamkan kebiasaan-kebiasaan dan menyelipkan pendidikan karakter disela-sela materi. Tentu pendidikan karakter yang ditanamkan merujuk pada materi yang sedang diajarkan oleh guru. Di rumah pun guru masih bisa mengontrol karena orangtua siswa bekerja sama dengan guru. Salah satu contoh dari penanaman pendidikan karakter yang guru katakan adalah kebiasaan beribadah oleh siswa dirumah. Guru bersama orangtua bekerja sama dengan cara mengirim bukti foto saat siswa sedang melakukan ibadah dirumah.
Butir pertanyaan kedelapan yaitu mengenai model pembelajaran pada rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Guru I menggunakan model baru yang mengacu Kurikulum 2013. Namun tidak menyebutkan model yang diterapkan oleh guru saat pembelajaran berlangsung. Sedangkan guru S tidak menggunakan model pembelajaran hanya memberikan inovasi- inovasi pada setiap pembelajaran misalnya didalam pembelajaran matematika guru membuat game sendiri namun tidak mengikuti langkah- langkah pada model pembelajaran yang diketahui mahasiswa.
Butir pertanyaan kesembilan yaitu mengenai apakah tujuan pembelajaran sudah diupayakan mencapai pendidikan karakter untuk siswa. Guru I dan S sama- sama sudah mengupayakan tercapainya pendidikan karakter pada peserta didik. Namun ada beberapa peserta didik yang masih belum terlihat karakter dari dalam dirinya. Karena guru kewalahan membimbing 30 peserta
69
didik didalam kelas. Jadi guru melihat pendidikan karakter sudah tertanam dalam diri siswa secara umum/ keseluruhan.
Butir pertanyaan kesepuluh yaitu mengenai pengetahuan keterampilan yang harus dikuasai sesuai pada abad 21 seperti (berfikirkritis, kreatif, kolaborasi, komunikasi).Guru I dan S sudah mengetahui keterampilan yang harus dikuasai peserta didik seperti berpikir kritis, kreatif, kolaborasi dan komunikasi. Dalam pembelajaran guru sudah menerapkan keterampilan tersebut secara tidak langsung.
Butir pertanyaan kesebelas yaitu perumusan indikator dan tujuan pembelajaran terkait dengan keterampilan abad 21(berfikirkritis, kreatif, kolaboratif, komunikasi). Dalam perumusan indikator dan tujuan pembelajaran guru I dan S juga sudah merumuskan sesuai dengan keterampilan abad 21. Dan sudah diterapkan dalam kegiatan pembelajaran.
Butir pertanyaan keduabelas yaitu mengenai metode ceramah apakah masih mendominasi dalam kegiatan pembelajaran. Guru I dan S mengatakan bahwa metode ceramah dimana- mana masih tetap ada namun tidak mendominasi, seperti guru lebih memancing rasa keingintahuan siswa dan diakhir pembelajaran guru bersama peserta didik menyimpulkan kegiatan pembelajaran mulai dari awal sampai akhir.
Butir pertanyaan ketiga belas yaitu mengenai model pembelajaran inovatif. Guru I menggunakan CTL dalam semua pembelajaran karena baru model tersebut yang dikuasai. Dalam kegiatan belajar mengajar guru sering menggunakan LCD dan monitor, terjun langsung ke lapangan contohnya ke halaman sekolah dan hal lain yang bisa dimanfaatkan oleh guru. Sedangkan guru S tidak mengetahui model pembelajaran
70
inovatif namun dalam penerapannya guru S sudah menggunakan pembelajaran yang inovatif.
Butir pertanyaan keempat belas yaitu mengenai pembelajaran inovatif. Menurut guru I, pembelajaran inovatif adalah pembelajaran yang tidak hanya monoton di kelas, jadi guru menggunakan media pembelajaran dan terjun langsung ke lapangan atau praktek dalam kegiatan pembelajaran. Sedangkan menurut guru S, pembelajaran inovatif adalah pembelajaran dimana dalam proses pembelajaran tersebut terdapat inovasi atau pengalaman baru yang dibuat oleh siswa itu sendiri, guru hanya sebagai pembimbing dan siswa yang menciptakan sesuatu yang baru dengan informasi yang dimilikinya.
Butir pertanyaan kelima belas yaitu mengenai kesulitan yang dialami guru saat membuat model pembelajaran inovatif. Yang selalu guru I terapkan dalam pembelajaran inovatif di kelas adalah model CTL dengan melibatkan alam. Kesulitan yang dialami adalah pada peserta didik. Dimana siswa yang mempunyai karakter hiperaktif itu susah dikendalikan. Guru lebih sulit dalam penguasaan kelas. Sedangkan guru S tidak menemukan kesulitan saat membuat model pembelajaran inovatif karena guru S sudah menemukan cara atau trik dalam mengatasi siswa dan pembelajaran berjalan dengan lancar.
Butir pertanyaan keenam belas yaitu mengenaicara mengatasi kesulitan yang dialami. Guru I diawal pembelajaran sebelum mulai pembelajaran dan ketika pembelajaran diluar kelas sudah membuat aturan dan menjelaskan prosedur kegiatan yang akan dilakukan pada pembelajaran tersebut. Sedangkan guru S diawal pembelajaran sudah membuat apersepsi yang membuat siswa penasaran untuk mengikuti
71
pembelajaran pada saat itu jadi siswa akan termotivasi dengan pembelajaran yang berlangsung pada saat itu.
Butir pertanyaan ketujuh belas yaitu mengenai ketersediaan sekolah tentang contoh perangkat pembelajaran inovatif yang Mengacu Kurikulum 2013. Guru I dan guru S memaparkan bahwa contoh perangkat permbelajaran inovatif yang Mengacu Kurikulum 2013 sudah tersedia di sekolah seperti program tahunan (prota), program semester (promes), silabus, dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Namun model- model pembelajaran inovatif belum tersedia di sekolah hanya guru I mempunyai 1 model pembelajaran yaitu CTL yang dulu pernah dikuasai guru pada saat kuliah.
Butir pertanyaan kedelapan belas yaitu mengenai perlu tidaknya contoh perangkat pembelajaran inovatif yang Mengacu Kurikulum 2013 (model PBL, model inquiri, model pembelajaran kooperatif, model kuantum dsb). Guru I dan S sangat memerlukan contoh perangkat pembelajaran inovatif yang Mengacu Kurikulum 2013 dengan berbagai model sebagai eferensi dan acuan dalam mengajar.
Butir pertanyaan kesembilan belas yaitu perasaan bosan ketika guru menerapkan pembelajaran inovatif di kelas. Guru I dan S tidak merasa bosan dalam menerapkan pembelajaran inovatif, hanya saja kesulitan guru I pada penguasaan kelas. Contohnya sedang belajar diluar kelas atau dihalaman, terkadang peserta didik meminta izin untuk minum dan siswa yang lain akan ikut minum dan masuk kelas. Untuk awal masuk sekolah peserta didik lebih dibimbing ke arah membaca, menulis dan berhitung, sedangkan pembelajaran inovatif misalkan bermain peran ditempatkan pada tengah pembelajaran.
72
Butir pertanyaan kedua puluh mengenai rencana untuk mengembangkan pembelajaran inovatif agar kedepannya mampu meningkatkan prestasi belajar siswa. Guru I mempunyai rencana tersebut namun, jika tidak ada workshop atau pelatihan mengenai pengembangan pembelajaran inovatif, guru mengalami kesulitan karena menurut guru setiap orang mempunyai presepsi berbeda mengenai rencana pengembangan pembelajaran inovatif yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar siswa maka guru lebih memilih untuk mengembangkan pembelajaran inovatif sesuai dengan permendikbud atau pemerintah. Sedangkan guru S jika tidak mempunyai panduan atau acuan beliau juga kebingungan untuk mengembangkan pembelajaran yang inovatif bagi siswa.
Butir pertanyaan kedua puluh satu mengenai pentingnya pembelajaran inovatif diterapkan dalam proses pembelajaaran dewasa ini. Menurut guru I dan S sangat penting karena pembelajaran inovatif dapat membuat peserta didik bermain sambil belajar, tidak merasa bosan dan mengembangkan kemampuannya dengan pengetahuan yang dimiliki.
Butir pertanyaan keduapuluh dua yaitu mengenai taksonomi bloom yang sudah di revisi. Guru I dan S sama-sama sudah pernah mendengar mengenai taksonomi bloom namun belum direvisi itu pun mendengarnya di bangku kuliah dan guru juga belum menerapkannya dalam kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan hasil penjabaran wawancara diatas, peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa SD yang peneliti tempati untuk objek penelitian sudah menerapkan kurikulum 2013 sejak beberapa tahun yang lalu dengan guru sudah pernah mengikuti kepelatihan kurikulum 2013 bersama guru- guru di SD lain ataupun PLPG. Guru sudah paham mengenai
73
kurikulum 2013 yaitu kurikulum dimana peserta didik dituntut untuk menemukan hal- hal atau menciptakan hal- hal yang baru. Guru hanya sebagai fasilitator saja yang mana guru hanya membimbing dan menyisipkan pendidikan karakter dalam pembelajaran yang dilakukan. Guru mengetahui karakteristik kurikulum 2013 yang meliputi kompetensi inti (KI), kompetensi dasar (KD), dan mengembangkan aspek kognitif, aspektif dan psikomotorik. Pemahaman guru mengenai pendekatan saintifik adalah pendekatan yang mengarah pada kontekstual atau berhadapan dengan hal- hal yang nyata. Guru sudah merumuskan indikator dan tujuan pembelajaran sesuai dengan karakter siswa.
Cara guru menumbuhkembangkan pendidikan karakter dalam pembelajaran sudah dilakukan dengan menyisipkannya di sela-sela pembelajaran berlangsung seperti pada pembiasaan- pembiasaan yang selama ini siswamulai lupakan. Guru sudah mengupayakan tercapainya pendidikan karakter pada siswa, namun karakter siswaada yang belum terlihat karena guru kewalahan dalam membimbing 30 siswadidalam kelasnya. Guru memahami pengetahuan dan sudah merumusan indikator dan tujuan pembelajaran sesuai dengan keterampilan abad 21 (berfikir kritis, kreatif, kolaborasi, komunikasi), secara tidak langsung guru sudah menerapkannya dalam kegiatan pembelajaran. Metode ceramah dalam kegiatan pembelajaran sudah tidak mendominasi, guru lebih memfokuskan pengalaman langsung yang dilakukan oleh siswayang tidak lepas dengan bimbingan guru. Namun, guru belum begitu banyak mengetahui mengenai model pembelajaran inovatif. Salah satu guru hanya menyebutkan CTL saja yang selama ini dilakukan pada kegiatan pembelajaran. pemahaman guru mengenai pembelajaran inovatif adalah pembelajaran dimana
74
guru dan siswasaling berinteraksi dengan pengalaman langsung. Guru sebagai fasilitator membimbing siswadalam menemukan hal atau sesuatu yang baru dengan informasi yang dimiliki oleh peserta didik. Kesulitan yang dialami guru saat menerapkan model pembelajaran inovatif adala pada penguasaan kelas dimana siswa yang mempunyai karakter hiperaktif itu susah dikendalikan.
Cara guru mengendalikan kesulitan tersebut dengan memberikan peraturan di awal pembelajaran dan menerapkan apersepsi yang membuat siswa penasaran pada apa yang dipelajari hari itu. Sekolah sudah mempunyai perangkat pembelajaran seperti program tahunan (prota), program semester (promes), silabus, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang guru ambil dari internet, sedangkan model pembelajaran inovatif belum ada di sekolah tersebut. Maka dari itu, guru memerlukan perangkat pembelajaran inovatif yang Mengacu Kurikulum 2013 dengan berbagai model sebagai referensi dan acuan dalam mengajar. Dengan pembelajaran inovatif guru dan siswa tidak akan bosan dan pembelajaran berlangsung menyenangkan, asik dan bervariasi. Diharapkan pemngembangan pembelajaran inovatif dapat mempengaruhi prestasi siswa.
2. Hasil dan Pembahasan Observasi
Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan terhadap guru, guru sudah memenuhi sebagian besar dari butir-butir pernyataan yang ada dalam lembar observasi. Pada langkah awal, guru membuka pembelajaran dengan berdoa kemudian melakukan presensi. Guru melakukan apersepsi dimana siswa mulai timbul pertanyaan mengenai materi yang diajarkan pada saat itu. Guru melakukan motivasi dengan menyanyikan lagu anak yang kemudian dilanjutkan dengan penjelasan tujuan dari pembelajaran tersebut dilakukan dengan bahasa yang
75
sederhana. Pada kegiatan inti, guru hanya sebagai fasilitator, siswa menemukan hal baru dalam kegiatan pembelajaran tersebut. guru menerapkan 5M dan menggunakan media pembelajaran dalam mengajar. Sedangkan untuk model dan metode pembelajaran, guru tidak menerapkannya sehingga siswa terkesan bosan dan tidak menarik. Guru terkadang menggunakan bahasa jawa halus dalam kegiatan pembelajaran tidak selalu menggunakan bahasa indonesia. Penampilan guru rapi dan berwibawa. Dalam penyampaian materi artikulasi dan volume guru cukup jelas serta mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Guru memusatkan perhatian siswasaat proses pembelajaran dengan cara verbal dan non-verbal. Pada saat ada siswa yang menjawab pertanyaan atau memberikan pendapat guru mengapresiasi dengan melakukan tepuk.
Guru tidak menyisipkan pendidikan karakter saat penyampaian materi. Sumber pembelajaran yang digunakan guru belum berbasis teknologi, suasana pembelajaran menyenangkan dan menarik sehingga dalam pengendalian kelas atau pengondisian kelas dapat dilakukan guru dengan baik.
Hasil dari observasi siswa dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dapat dijelaskan sebagai berikut. Siswa berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran, aktif dalam bertanya, menjawab pertanyaan, dan mengemukakan pendapat. Siswa melakukan umpan balik dengan apersepsi yang dilakukan oleh guru, seperti bertanya mengenai kegiatan yang dilakukan oleh guru, disitulah rasa ingin tahu siswa mulai terlihat. Pada saat guru menyampaikan materi hampir seluruh siswa memperhatikan apa yang sedang dijelaskan oleh guru. Dan ada beberapa siswa yang masih saja bermain sendiri bersama teman sebangkunya. Setelah penyampaian materi selesai guru membagi siswa dalam beberapa kelompok. Siswa dapat berkomunikasi dan bekerja sama dalam kelompok tersebut.
76
Siswa sangat antusias dalam mengikuti pembelajaran terlihat pada saat bertanya, berkomunikasi dengan guru dan maju kedepan kelas untuk menyampaikan diskusi. Siswa memahami penjelasan yang telah disampaikan guru terlihat pada saat merangkum pembelajaran secara lisan maupun tertulis.