BAB II LANDASAN TEORI
A. Kajian Pustaka
1. Karakteristik Kurikulum SD 2013
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kajian Pustaka
1. Karakteristik Kurikulum SD 2013
Kurikulum adalah suatu tanggapan pendidikan terhadap kebutuhan masyarakat dan bangsa dalam membangun generasi muda bangsanya Daryanto (2014: 1). Menurut Kurg (dalam Kurniasih & Sani, 2014: 5) kurikulum terdiri dari cara yang digunakan untuk mencapai atau melaksanakan tujuan yang diberikan sekolah.Arifin (2011: 1) kurikulum merupakan salah satu alat ukur untuk mencapai tujuan pendidikan, sekaligus merupakan pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran pada semua jenis jenjang pendidikan.
Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa kurikulum merupakan cara yang dilakukan untuk mencapai tujuan pendidikan Indonesia sekaligus menjadi pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran diberbagai jenis jenjang pendidikan.
Kurikulum 2013 muncul sebagai pelengkap dari kurikulum sebelumnya dan lebih menekankan pada pendidikan karakter siswa. Kurikulum 2013 ini mengintegrasikan antara karakter dengan pengimplementasiannya. Fadillah (2014: 16) mengemukakan bahwa kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang dikembangkan untuk meningkatkan dan menyeimbangkan antara kemampuan soft skills dan hard skills yang meliputi sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Pada semua komponen kurikulum harus mencerminkan karakter yang akan dicapai. Oleh karena itu kurikulum 2013 ini muncul istilah KI (Kompetensi Inti) sebagai pedoman dalam proses pembelajaran. Menurut Nuh (dalam Kurniasih & Sani, 2014) berpendapat bahwa kurikulum 2013
11
berfokus kepada kompetensi dengan pemikiran kompetensi berbasis sikap, keterampilan dan pengetahuan. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang berbasis karakter dan kompetensi. Mulyasa (2013: 7) kurikulum 2013 tidak hanya menekankan kepada penguasaan kompetensi siswa melainkan juga dalam pembentukan karakter. Sesuai dengan Kompetensi Inti (KI) yang telah ditentukan oleh Kemendikbud, KI 1 dan KI 2 berkaitan dengan tujuan pembentukan karakter siswa sedangkan KI 3 dan KI 4 berkaitan dengan penguasaan kompetensi siswa.
Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa kurikulum 2013 adalah kurikulum yang mengembangkan tidak hanya pengetahuansiswa namun aspek sikap dan keterampilan juga dilibatkan. Kurikulum 2013 juga menekankan pada pendidikan karakter yang diletakkan pada KI 1 dan KI 2 yang berupa pembiasaan pada saat kegiatan belajar mengajar.
Berikut ini merupakan karakteristik kuikulum 2013 : a. Pembelajaran Terpadu
Pada Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi menurut Permendikbud nomor 65 tahun 2013, prinsip pembelajaran yang digunakan yaitu dari pembelajaran parsial atau terpisah menuju ke pembelajaran terpadu. Menurut Daryanto (2014: 17) Kurikulum 2013 adalah sebuah komponen yang terpadu, semua materi pelajaran disatukan menjadi suatu kesatuan yang terpadu dalam menghasilkan kompetensi lulusan. Dalam Murfiah (Joni, 2017: 10) menyatakan bahwa pembelajaran terpadu merupakan sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara kelompok atau individu, aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip keilmuwan secara holistik, bermakna, dan autentik. Hadisubroto (dalam Trianto, 2014: 56) mengemukakan bahwa
12
pembelajaran terpadu yang diawali dengan suatu pokok bahasan atau tema tertentu yang dikaitkan dengan pokok bahasan lain, konsep tertentu dikaitkan dengan konsep lain, yang dilakukan secara spontan atau direncanakan baik dalam satu bidang studi atau lebih, dan dengan belajar anak, maka pembelajaran terpadu menjadi bermakna.
Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran terpadu adalah sebuah komponen yang terpadu, antara materi satu dengan yang lain disatukan menjadi satu kesatuan, sehingga dapat menghasilkan kompetensi lulusan yang membuat siswa dapat menggali dan mencari informasi yang ada baik secara individu maupun kelompok.
Karakteristik dalam pembelajaran terpadu menurut Trianto (dalam Murfiah, 2017: 20) adalah sebagai berikut.
1. Holistik
Suatu gejala atau peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran terpadu yang diamati dan diuji dari beberapa mata pelajaran sekaligus, tidak dari sudut pandang yang terpisah- pisah. Hal ini membuat siswa akan menjadi bijaksana dalam menyikapi suatu kejadian yang dihadapinya.
2. Bermakna
Mengkaji dari suatu fenomena dari berbagai macam aspek yang akan membentuk jalinan antar skemata yang dimiliki siswa. Diharapkan siswa akan memaknai materi yang dipelajari dan mampu menerapkan hasil belajarnya untuk memecahkan masalah yang ada dalam kehidupannya.
13
Siswa secara langsung memahami konsep dan prinsip yang ingin dipelajari. Mereka memahami hasil dari proses belajar dan interaksi dengan fakta dan peristiwanya sendiri. Guru hanya bersifat fasilitator, yang artinya guru hanya memberikan bimbingan mengenai arah yang dilalui dan memberikan fasilitas secara maksimal untuk mencapai tujuan tersebut.
4. Aktif
Pembelajaran terpadu dikembangkan berdasarkan pendekatan diskoveri inkuiri. Dilakukan dengan cara siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran, mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai kepada proses evaluasi.
b. Pengembangan Karakter Siswa
Fitri (2012) mengemukakan pendidikan karakter dapat dimasukkan dalam sebuah pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma dan nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan dan dikaitkan dalam kegiatan sehari- hari. Oleh karena itu, pendidikan karakter diarahkan pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Selain itu, dikaitkan dalam konteks nyata di kehidupan sehari- hari di sekolah maupun masyarakat. Menurut Retno (2012: 4) menyatakan bahwa pendidikan karakter sesungguhnya bukan sekedar mendidik benar dan salah, namun meliputi proses pembiasaan mengenai perilaku yang baik sehingga siswa dapat memahami, merasakan, dan mau berperilaku baik sehingga terbentuklah tabiat yang baik.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa kurikulum 2013 mengajak siswa untuk berpikir kritis dan membuat siswa
14
yang memiliki karakter unggul seperti kejujuran, kerja keras, berakhlak mulia, percaya diri, memiliki kreativitas dalam berpikir, dan tanggung jawab. Oleh sebab itu, pendidikan karakter berguna untuk generasi selanjutnya guna memilah pengaruh yang datang dari luar dalam konteks pendidikan maupun pergaulan yang mempengaruhi sikap atau perilaku siswa
c. Menggunakan Pendekatan Saintifik
Daryanto (2014: 51), pendekatan saintifik merupakan proses dimana pembelajaran dirancang sedemikian rupa agar siswa secara aktif mengonstruksi konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan mengamati, merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dari berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengkomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang "ditemukan". Menurut Yani (2014: 121) pendekatan sainifik merupakan pembelajaran keterampilan proses sains yang dapat mengembangkan sikap ilmiah dan membina keterampilan belajar (basic learning tools) yaitu kemampuan yang berfungsi untuk membentuk keterampilan individu dalam mengembangkan dirinya secara mandiri.
Dari beberapa penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang ditandai dengan siswa aktif dalam kegiatan mengonstruksi konsep melalui mengamati, menanya, menalar, mencoba yang berfungsi untuk membentuk keterampilan individu dalam mengembangkan diri peserta didik secara mandiri.
15
Karakteristik pendekatan saintifik (Daryanto, 2014: 53) yaitu berpusat pada siswa, melibatkan keterampilan proses sains dalam mengonstruksi konsep dan hukum, melibatkan proses kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan intelek khususnya keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa, dan dapat mengembangkan karakter siswa. Langkah- langkah pendekatan saintifik (Daryanto, 2014: 59)meliputi mengamati, menanya, menalar, mencoba yang kemudian dari semua itu membentuk jejaring atau networking. Dalam Yani, (Hosnan, 2014: 38) menyatakan bahwa pendekatan saintifik mempunyai kriteria proses pembelajaran (1) materi pembelajaran berbasis pada fakta yang dapat dijelaskan dengan logika, (2) mendorong siswa untuk berpikir ilmiah (kritis, analitis dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, menyelesaikan masalah dan mengaplikasikan atau menerapkan dalam materi pembelajaran), (3) berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggung jawabkan, (4) tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas namun menarik dalam sistem penjelasannya, (5) interaksi antara guru dengan siswa, penjelasan serta respons siswa dapat tersampaikan dengan baik tanpa menimbulkan presepsi yang berbeda, (6) mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik (saling ketergantungan antara satu dengan yang lain) dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lainnya dari materi pembelajaran.
Permendikbud No. 81A Tahun 2014 dalam Abduh (2017) menyatakan bahwa dalam pendekatan saintifik terdapat lima langkah pembelajaran `yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan informasi (mencoba),
16
mengasosiasikan, dan mengkomunikasikan. Berikut adalah tabel keterkaitan langkah pembelajaran dengan kegiatan pembelajaran serta maknanya.
Tabel 2.1 Keterkaitan antara Langkah Pembelajaran dengan Kegiatan Belajar dan Maknanya
Langkah- langkah Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Kompetensi yang dikembangkan Mengamati Membaca, mendengar, menyimak, melihat (tanpa atau dengan alat) Melatih ketelitian mencari informasi dan melatih kesungguhan Menanya Mengajukan pertanyaan tentang informasi yang belum dipahami dari pengamatan atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati (mulai dari pertanyaan faktual ke pertanyaan hipotettik) Mengembangkan sikap rasa ingin tahu, merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran yang kritis. Mengumpulkan informasi (mencoba) Melakukan eskperimen, membaca sumber lain selain buku teks, misal internet, mengamati objek/ kejadian/ aktivitas, wawancara Mengembakan sikap jujur, sopan, teliti, menghargai pendapat orang lain, kemampuan komunikasi dengan mengumpulkan informasi melalui cara yang
17 dengan narasumber dipelajari Mengasosiasikan Mengolah informasi yang sudah dikumpulkan baik secara eksperimen atau mengamati. Pengolahan informasi bersifat menambah keluasan dan kedalaman informasi yang diterima Mengembangkan sikap disiplin, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan berpikir induktif serta deduktif dalam menyimpulkan Mengkomunikasikan Menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan secara lisan, tertulis maupun media lainnya Mengembangkan sikap toleransi, menghargai pendapat orang lain, berpikir ssitematis dan mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar
d. Penilaian Otentik
Proses penilaian dalam Kurikulum 2013 adalah penilaian otentik. Aspek pada penilaian ini ada 3 ranah yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik dengan tujuan mampu menggambarkan hasil dari pembelajaran siswa. Jonathan Mueller (dalam Sani, 2016: 22) mengemukakan bahwa penilaian otentik adalah suatu bentuk penilaian dengan meminta siswa untuk menunjukkan tugas "dunia nyata" yang mendemonstrasikan aplikasi yang bermakna dari pengetahuan dan keterampilan penting.
18
Menurut Grant Wiggins (dalam Sani, 2016: 23) Penilaian otentik merupakan bentuk penilaian yang melibatkan siswa dalam persoalan yang berguna atau pertanyaan penting sehingga peserta didik harus menggunakan pengetahuan untuk menunjukkan kinerja secara efektif dan kreatif.
Penilaian atau asesmen hasil belajar oleh pendidik dimaksudkan untuk mengukur kompetensi atau kemampuan peserta didik terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan, sedangkan observasi adalah penilaianyang bertujuan untuk mengetahui ranah sikap dari siswa.Penilaian ini juga diperlukan untuk mengetahui apakah siswa benar- benar belajar atau tidak, apakah pengalaman siswa memiliki pengaruh yang positif terhadap pengembangan, baik intelektual ataupun mental siswa.
Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa penilaian otentik merupakan penilaian yang berdasarkan penguasaan kemampuan peserta didik yang telah dipelajari sebelumnya untuk menunjukkan kinerja secara efektif dan kreatif.
e. Keterampilan berfikir tingkat tinggi/ High Order Thinking Skill(HOTS )
Dalam Anugrah, (Gunawan, 2012: 171) menyatakan bahwa keterampilan berpikir tingkat tinggi/ High Order Thinking Skill(HOTS )adalah proses berpikir yang mengharuskan murid untuk memanipulasi ide- ide dan informasi dalam cara tertentu yang memberikan mereka pengertian atau implikasi baru. Menurut Ernawati (2017: 196- 197) mengemukakan keterampilan berpikir tingkat tinggi/ High Order Thinking Skill (HOTS) adalah cara berpikir yang tidak hanya menghafal secara verbalistik atau umum namun juga memaknai hakikat yang terkandung
19
didalamnya, cara berpikir yang dibutuhkan adalah cara berpikir integralistik dengan analisis, sintesis, mengasosiasi hingga membuat kesimpulan menuju kedalam penciptaan ide- ide yang kreatif dan produktif.
Dari paparan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi/ High Order Thinking Skill (HOTS) adalah kemampuan berpikir yang mengajak peserta didik atau siswa untuk menggali informasi dan ide- ide secara mendalam atau memaknainya sehingga terciptanya sesuatu yang kreatif dan inovatif.