• Tidak ada hasil yang ditemukan

III Skenario

7.5. Analisis Kelayakan Finansial

Dalam analisis finansial kriteria kelayakan yang digunakan untuk menilai kelayakan proyek yaitu Net Present value (NPV), Net B/C Ratio, Internal Rate

78 7.5.1. Analisis Kelayakan Finansial Skenario I

Perhitungan kelayakan finansial pada Skenario I ini menggunakan manfaat bersih yang diperoleh dari selisih antara biaya dan manfaat setiap tahunnya dengan dikurangi pajak berdasarkan jumlah manfaat bersih yang dihasilkan

(benefit). Analisis kelayakan finansial dilihat dari kriteria nilai NPV, Net B/C,

IRR, dan Discounted PaybackPeriod (DPP). Hasil perhitungan analisis kelayakan finansial pada Usaha pembenihan dan pembesaran ikan lele Sangkuriang (Skenario I) pada Perusahaan Parakbada dapat dilihat pada Tabel 28.

Tabel 28. Kelayakan Finansial pada Skenario I (Pembenihan dan Pembesaran Ikan Lele) di Perusahaan Parakbada

No. Kriteria Investasi Hasil

1 NPV Rp 187.121.447

2 Net B/C 3,961

3 IRR 46,51

4 Discounted Payback Period (DPP) 3,211 Periode

*) 1 periode = 3 bulan

Sumber : Data Proyeksi (diolah 2012)

Berdasarkan analisis finansial pada Tabel 28, dapat dilihat bahwa Skenario I (pembenihan dan pembesaran ikan lele) pada Perusahaan Parakbada memperoleh nilai NPV lebih besar dari nol yaitu sebesar Rp 187.121.447,00 yang artinya bahwa usaha pembenihan dan pembesaran ikan lele pada Perusahaan Parakbada ini layak untuk dilaksanakan. NPV sebesar Rp 187.121.447,00 juga menunjukkan manfaat bersih yang diterima dari usaha selama umur proyek terhadap tingkat suku bunga yang berlaku. Net B/C lebih besar dari satu yaitu sebesar 3,961 yang menyatakan bahwa usaha ini layak untuk dilaksanakan. Net B/C sama dengan 3,961 artinya setiap satu rupiah yang dikeluarkan selama umur proyek menghasilkan manfaat bersih sebesar 3,961 rupiah. Nilai IRR yang diperoleh dari analisis finansial pada Usaha pembenihan dan pembesaran ikan lele adalah 46,51 persen, dimana nilai IRR tersebut lebih besar dari discount rate yang berlaku yaitu 1,625 persen. Nilai IRR tersebut menunjukkan tingkat pengembalian internal proyek sebesar 46,51 persen, dan karena nilai IRR lebih besar dari

discount rate maka usaha pembenihan dan pembesaran ikan lele Sangkuriang ini

79 investasi selama 3,211 Periode atau 9,633 bulan. Rincian analisis cashflow

Skenario I dapat dilihat pada Lampiran 14.

7.5.2. Analisis Kelayakan Finansial pada Skenario II

Perhitungan kelayakan finansial pada Skenario II ini menggunakan manfaat bersih yang diperoleh dari selisih antara biaya dan manfaat setiap tahunnya dengan dikurangi pajak berdasarkan jumlah manfaat bersih yang dihasilkan (benefit). Analisis kelayakan finansial dilihat dari kriteria nilai NPV, Net B/C, IRR, dan Discounted Payback Period (DPP). Hasil perhitungan analisis kelayakan finansial pada Usaha pembenihan ikan lele Sangkuriang (Skenario II) pada Perusahaan Parakbada dapat dilihat pada Tabel 29.

Tabel 29. Kelayakan Finansial pada Skenario II (Pembenihan Ikan Lele)

No. Kriteria Investasi Hasil

1 NPV Rp 191.085.190

2 Net B/C 4,495

3 IRR 89,32%

4 Discounted Payback Period (DPP) 1,773 Periode

*) 1 periode = 3 bulan

Sumber : Data Proyeksi (diolah 2012)

Berdasarkan Tabel 29, hasil perhitungan analisis kelayakan finansial pada Skenario II diperoleh nilai NPV lebih besar dari nol yaitu sebesar Rp 191.085.190,00, sehingga usaha pembenihan ikan lele ini dapat dikatakan layak untuk diusahakan. Nilai NPV tersebut juga menunjukkan manfaat bersih yang diterima dari usaha pembenihan ikan lele selama umur proyek terhadap tingkat suku bunga yang berlaku. Nilai Net B/C yang diperoleh pada usaha ini adalah sebesar 4,495 dimana nilai Net B/C lebih besar dari satu sehingga ini layak untuk dilaksanakan. Net B/C sama dengan 4,495 berarti setiap satu rupiah biaya yang telah dikeluarkan selama umur proyek menghasilkan 4,495 rupiah manfaat bersih. Nilai IRR yang diperoleh berdasarkan hasil perhitungan analisis kelayakan finansial pada ini sebesar 89,32 persen lebih besar dari discount rate yang berlaku. Hal ini berarti usaha pembenihan ikan lele ini layak untuk dijalankan dengan tingkat pengembalian internal sebesar 89,32 persen, sedangkan periode yang diperlukan untuk mengembalikan semua biaya investasi adalah 1,773 periode atau

80 5,319 bulan. Rincian analisis cashflow Skenario II dapat dilihat pada Lampiran 15.

7.5.3. Analisis Kelayakan Finansial pada Skenario III

Perhitungan kelayakan finansial pada Skenario III menggunakan manfaat bersih yang diperoleh dari selisih antara biaya dan manfaat setiap tahunnya dengan dikurangi pajak berdasarkan jumlah manfaat bersih yang dihasilkan

(benefit). Analisis kelayakan finansial dilihat dari kriteria nilai NPV, Net B/C,

IRR, dan Discounted Payback Period (DPP). Hasil perhitungan analisis kelayakan finansial pada Usaha pembesaran ikan lele Sangkuriang (Skenario III) pada Perusahaan Parakbada dapat dilihat pada Tabel 30.

Tabel 30. Kelayakan Finansial pada Skenario III (Pembesaran Ikan Lele)

No. Kriteria Investasi Hasil

1 NPV Rp 96.337.157,00

2 Net B/C 2,788

3 IRR 68,82%

4 Discounted Payback Period (DPP) 1,756 Periode

*) 1 periode = 3 bulan

Sumber : Data Proyeksi (diolah 2012)

Berdasarkan Tabel 30, hasil perhitungan analisis kelayakan finansial pada Skenario III diperoleh nilai NPV lebih besar dari nol yaitu sebesar Rp 96.337.157,00,00, sehingga usaha ini dapat dikatakan layak untuk diusahakan. Nilai NPV tersebut juga menunjukkan manfaat bersih yang diterima dari usaha ini selama umur proyek terhadap tingkat suku bunga yang berlaku, sedangkan nilai Net B/C yang diperoleh pada usaha ini adalah sebesar 2,788 dimana nilai Net B/C lebih besar dari satu sehingga usaha ini layak untuk dilaksanakan. Net B/C sama dengan 2,788 berarti setiap satu rupiah biaya yang telah dikeluarkan selama umur proyek menghasilkan 2,788 rupiah manfaat bersih. Nilai IRR yang diperoleh berdasarkan hasil perhitungan analisis kelayakan finansial pada usaha pembesaran ikan lele yaitu sebesar 68,82 persen lebih besar dari discount rate yang berlaku. Hal ini berarti usaha pembesaran ikan lele layak untuk dilaksanakan dengan tingkat pengembalian internal sebesar 68,82 persen, sedangkan periode yang diperlukan untuk mengembalikan semua biaya investasi adalah 1,756 Periode atau

81 5,268 bulan. Rincian analisis cashflow Skenario III dapat dilihat pada Lampiran 16.

7.5.4. Analisis Kelayakan Finansial pada Skenario IV

Perhitungan kelayakan finansial pada Skenario IV menggunakan manfaat bersih yang diperoleh dari selisih antara biaya dan manfaat setiap tahunnya dengan dikurangi pajak berdasarkan jumlah manfaat bersih yang dihasilkan

(benefit). Analisis kelayakan finansial dilihat dari kriteria nilai NPV, Net B/C,

IRR, dan Discounted Payback Period (DPP). Hasil perhitungan analisis kelayakan finansial pada Skenario IV pada Perusahaan Parakbada dapat dilihat pada Tabel 31.

Tabel 31. Kelayakan Finansial pada Skenario IV

No. Kriteria Investasi Hasil

1 NPV Rp 177.592.646,00

2 Net B/C 3,810

3 IRR 80,86%

4 Discounted Payback Period (DPP) 1,779 Periode

*) 1 periode = 3 bulan

Sumber : Data Proyeksi (diolah 2012)

Berdasarkan Tabel 31, hasil perhitungan analisis kelayakan finansial pada Skenario IV diperoleh nilai NPV lebih besar dari nol yaitu sebesar Rp 177.592.646,00, sehingga usaha ini dapat dikatakan layak untuk diusahakan. Nilai NPV tersebut juga menunjukkan manfaat bersih yang diterima dari usaha Skenario IV selama umur proyek terhadap tingkat suku bunga yang berlaku, sedangkan nilai Net B/C yang diperoleh dari usaha ini adalah sebesar 3,810 dimana nilai Net B/C lebih besar dari satu sehingga usaha ini layak untuk dilaksanakan. Net B/C sama dengan 3,810 berarti setiap satu rupiah biaya yang telah dikeluarkan selama umur proyek menghasilkan 3,810 rupiah manfaat bersih. Nilai IRR yang diperoleh berdasarkan hasil perhitungan analisis kelayakan finansial pada usaha ini sebesar 80,86 persen lebih besar dari discount rate yang berlaku. Hal ini berarti usaha ini layak untuk dilaksanakan dengan tingkat pengembalian internal sebesar 80,86 persen, sedangkan periode yang diperlukan untuk mengembalikan semua biaya investasi adalah 1,779 Periode atau 5,337 bulan. Rincian analisis cashflow Skenario IV dapat dilihat pada Lampiran 17.

82 7.5.5. Perbandingan Hasil Kelayakan Finansial pada Skenario I, Skenario

II, Skenario III, dan Skenario IV

Pada usaha pembenihan dan pembesaran ikan lele Sangkuriang pada Skenario I, Skenario II, Skenario III, dan Skenario IV layak untuk dilaksanakan. Tetapi untuk melihat usaha mana yang paling menguntungkan untuk dilaksanakan, dapat dilihat dari perbandingan hasil kelayakan finansial pembenihan dan pembesaran ikan lele Skenario I, Skenario II, Skenario III dan Skenario IV pada Tabel 32.

Tabel 32. Perbandingan Hasil Kelayakan Finansial pada Skenario I, Skenario II, Skenario III, dan Skenario IV

No. Kriteria

Investasi

Hasil

Skenario I Skenario II Skenario III Skenario IV

1 NPV (Rp) 187.121.447 191.085.190 96.337.157 177.592.646

2 Net B/C 3,961 4,495 2,788 3,810

3 IRR 46,51 89,32% 68,82% 80,86%

4 DPP 3,211 Periode 1,773 Periode 1,756 Periode 1,779 Periode

*) 1 periode = 3 bulan

Sumber : Data Proyeksi (diolah 2012)

Berdasarkan Tabel 32, menunjukkan perbandingan dari empat skenario yakni Skenario I (pembenihan dan pembesaran ikan lele), Skenario II (pembenihan ikan lele), Skenario III (pembesaran ikan lele), dan Skenario IV (pembenihan dan pembesaran ikan lele) dimana Skenario II, III dan IV menggunakan modal pinjaman. Pada tabel tersebut dapat dilihat nilai NPV, Net B/C, IRR dan DPP usaha yang paling layak terdapat pada Skenario II yakni usaha pembenihan ikan lele.

Dokumen terkait