• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

6.1 Analisis Aspek Non Finansial

6.2.7 Analisis Kelayakan Finansial Pengembangan Usaha

(Incremental Net Benefit)

Analisis kelayakan finansial incremental net benefit merupakan analisis

kelayakan yang digunakan untuk mengetahui manfaat bersih yang didapatkan dari adanya pengembangan usaha jamur tiram putih. Manfaat bersih tambahan usaha jamur tiram putih didapatkan dari pengurangan manfaat bersih yang dihasilkan dari pengembangan usaha dengan penambahan kapasitas kumbung jamur 45.000

baglog per siklus produksi (with business) dengan manfaat bersih yang dihasilkan

dari usaha jamur tiram putih dengan kapasitas kumbung 15.000 baglog per siklus

produksi (without business). Adanya manfaat bersih dari pengembangan usaha

jamur tiram putih dengan penambahan kapasitas kumbung 45.000 baglog per

siklus produksi dapat dilihat dari kriteria kelayakan investasi yaitu Incremental

Net Benefit, NPV, Net B/C, IRR, dan PP.

Berdasarkan hasil perhitungan pada Lampiran 17 yaitu penambahan

kapasitas kumbung jamur 45.000 baglog per siklus produksi yaitu kumbung yang

menggunakan rangka bambu (with business), dengan manfaat bersih yang

dihasilkan dari usaha jamur tiram putih dengan kapasitas kumbung 15.000 baglog

per siklus produksi (without business), didapatkan NPV sebesar Rp

85

kapasitas kumbung jamur 45.000 baglog per siklus produksi yaitu kumbung yang

menggunakan rangka bambu selama umur proyek 5 tahun dan menggunakan

tingkat discount factor 7,682 persen memberikan keuntungan sebesar Rp

581.453.665,82. Jadi, NPV tersebut menunjukkan manfaat bersih tambahan yang diterima/layak.

Nilai Net B/C yang diperoleh dari analisis ini yaitu 3,37, hal ini berarti penggunaan investasi dalam skenario II memenuhi ukuran kelayakan berdasarkan kriteria investasi dimana Net B/C-nya lebih dari 1. Ukuran kriteria investasi lainnya yaitu IRR diperoleh hasil 72 persen. Hal ini menunjukkan tingkat pengembalian terhadap investasi yang ditanamkan sebesar 72 persen. Nilai ini lebih besar dari tingkat diskonto yang digunakan, yaitu 7,682 persen sehingga dapat dikatakan bahwa usaha ini layak secara finansial untuk dijalankan.

Jangka waktu pengembalian investasi dari pengembangan usaha ini terlihat

pada nilai payback periode yaitu 2,16 atau 2 tahun, 1 bulan, 28 hari. Jangka

waktu tersebut lebih pendek dari umur usaha sehingga dapat dikatakan bahwa

pengembangan dengan penambahan kapasitas kumbung sebanyak 45.000 baglog

dengan menggunakan rangka bambu layak untuk dilaksanakan. Kelayakan finansial pengembangan usaha jamur tiram dengan penambahan kapasitas

kumbung 45.000 baglog menggunakan rangka bambu dapat dilihat pada Tabel

33.

Tabel 33. Hasil Kelayakan Finansial Pengembangan dengan Penambahan

Kapasitas Kumbung 45.000 Baglog Menggunakan Rangka Bambu

(Incremental Net Benefit)

No Kriteria Investasi Nilai

1 NPV (Rp) 581,453.665,82

2 Net B/C 3,37

3 IRR (%) 72

4 PP (Tahun) 2,16

Penambahan kapasitas kumbung jamur 45.000 baglog per siklus produksi

yaitu kumbung yang menggunakan rangka kayu (with business), dengan manfaat

bersih yang dihasilkan dari usaha jamur tiram putih dengan kapasitas kumbung

15.000 baglog per siklus produksi (without business) juga menunjukkan manfaat

tambahan yang layak pada pengembangan usaha. Hal ini dapat dari hasil perhitungan pada Lampiran 18 yaitu didapatkan NPV sebesar Rp 990.507.340,75.

86 Artinya, kegiatan pengembangan usaha dengan penambahan kapasitas kumbung

jamur 45.000 baglog per siklus produksi yaitu kumbung yang menggunakan

rangka bambu selama umur proyek 10 tahun dan menggunakan tingkat discount

factor 6.407 persen memberikan keuntungan sebesar Rp 990.507.340,75.

Nilai Net B/C yang diperoleh dari analisis ini yaitu 3,25 yang berarti penggunaan investasi dalam skenario III memenuhi ukuran kelayakan berdasarkan kriteria investasi dimana Net B/C-nya lebih dari 1. Hasil yang diperoleh untuk IRR yaitu 37 persen, artinya tingkat pengembalian terhadap investasi yang ditanamkan sebesar 37 persen lebih besar dari tingkat diskonto yang digunakan, yaitu 6,407 persen sehingga dapat dikatakan bahwa usaha ini layak secara finansial untuk dijalankan.

Nilai Payback Period (PP) yaitu selama 2,12 tahun. Nilai ini menunjukkan

bahwa pengembangan dengan penambahan kapasitas kumbung sebanyak 45.000

baglog dengan menggunakan rangka kayu akan dapat dikembalikan pada tahun

kedua, bulan kesatu hari ke-14. Hasil ini menunjukkan waktu yang kurang dari sepuluh tahun, sehingga layak untuk dijalankan. Dilihat dari keempat kriteria kelayakan investasi yakni NPV, Net B/C, IRR, dan PP maka rencana pengembangan kapasitas kumbung jamur tiram putih dengan menggunakan rangka kayu di Kumbung Jamur D & D (skenario III) layak secara finansial. Kelayakan finansial pengembangan usaha jamur tiram dengan penambahan

kapasitas kumbung 45.000 baglog menggunakan rangka kayu dapat dilihat pada

Tabel 34.

Tabel 34. Hasil Kelayakan Finansial Pengembangan dengan Penambahan

Kapasitas Kumbung 45.000 Baglog Menggunakan Rangka kayu

(Incremental Net Benefit)

No Kriteria Investasi Nilai

1 NPV (Rp) 990.507.340,75

2 Net B/C 3,25

3 IRR (%) 37

4 PP (Tahun) 2,12

6.2.8 Analisis Sensitivitas

Analisis sensitivitas merupakan salah satu perlakuan terhadap ketidakpastian. Analisis sensitivitas dilakukan dengan cara mengubah besarnya variabel-variabel yang penting, masing-masing dapat terpisah atau beberapa

87 dalam kombinasi dengan suatu persentase tertentu yang sudah diketahui atau diprediksi. Kemudian dinilai seberapa besar sensitivitas perubahan variabel- variabel tersebut berdampak pada hasil kelayakan, niali besarnya nilai NPV, IRR, dan nilai Net B/C (Gittinger 1986). Pada umumnya variabel yang diubah dalam menganalisis sensitivitas yakni harga input dan output, kuantitas produksi, waktu proyek dan penurunan permintaan. Sedangkan pada penelitian ini dilakukan perubahan yakni penurunan harga jual jamur dan kenaikan harga serbuk kayu.

Penurunan harga jamur tiram putih terjadi mengingat struktur pasar pada usaha jamur tiram putih merupakan pasar persaingan sempurna, yang tidak menutup kemungkinan munculnya pesaing-pesaing yang memasuki usaha budidaya jamur tiram putih. Semakin banyak pesaing yang masuk tentunya

berdampak pada penurunan harga jamur tiram dan baglog di pasar, sehingga perlu

dianalisis sejauh mana sensitivitas pada perubahan yang terjadi. Selama perjalanan usaha Kumbung Jamur D & D pernah mengalami harga jamur tiram terendah yakni Rp 7.200/kg karena harus bersaing memperebutkan pasar, dengan kata lain Kumbung Jamur D & D pernah mengalami penurunan harga jual jamur tiram sebesar 20 persen.

Kenaikan harga faktor produksi yang akan dianalisis yaitu harga serbuk kayu. Serbuk kayu merupakan media jamur tiram yang paling utama dalam

budidaya jamur tiram putih, Kumbung jamur D & D yang memproduksi baglog

sendiri sampai saat ini belum memiliki kontrak dengan penyedia serbuk kayu sehingga pelaku usaha harus mencari serbuk kayu ke beberapa tempat yang harganya ditentukan tempat penyedia serbuk kayu dan tidak menutup kemungkinan harga serbuk kayu naik. Kumbung Jamur D & D pernah mengalami kenaikan harga serbuk kayu menjadi Rp 2.750 per karung karena kehabisan serbuk kayu di beberapa tempat. Dengan kata lain Kumbung Jamur D & D pernah mengalami kenaikan harga serbuk kayu sebesar 10 persen.

1. Analisis Sensitivitas Kumbung Jamur D & D terhadap Penurunan Harga

Jamur 20 persen

Pada Tabel 35 dapat dilihat sensitivitas kelayakan Kumbung Jamur D & D pada ketiga skenario jika terjadi penurunan harga jamur sebesar 20 persen. Pada ketiga skenario memiliki kepekaan yang sama dimana setiap skenario tetap layak

88 untuk dilakukan walaupun terjadi penurunan harga jamur sebesar 20 persen. Hasil ini menunjukkan kondisi nyata yang pernah terjadi, yakni penurunan harga hingga Rp 7.200 per kilogram.

Tabel 35. Analisis Sensitivitas Kumbung Jamur D & D terhadap Penurunan Harga Jamur 20 persen

Uraian Skenario I Skenario II Skenario III

NPV (Rp) 49.844.581,38 407.458.397,25 618.707.056,64

Net B/C 1,25 1,84 1.91

IRR (%) 14 32 21

PP (Tahun) 4,27 2,22 2,46

2. Analisis Sensitivitas Kumbung Jamur D & D terhadap Kenaikan Harga Serbuk

Kayu 10 persen

Sensitivitas Kelayakan Kumbung Jamur D & D pada ketiga skenario dapat dilihat pada Tabel 36. Ketiga skenario tetap layak untuk dijalankan jika ada kenaikan harga serbuk kayu sebesar 10 persen atau menjadi Rp 2.750 per karung. Kondisi ini pernah terjadi karena Kumbung Jamur D & D tidak memiliki kerjasama dengan penyedia serbuk kayu sehingga Kumbung Jamur D & D harus menerima harga yang ditawarkan penyedia serbuk kayu. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa Kumbung Jamur D & D tidak sensitif terhadap kenaikan harga serbuk kayu sebesar 10 persen.

Tabel 36. Analisis Sensitivitas Kumbung Jamur D & D terhadap Kenaikan Harga Serbuk Kayu 10 persen

Uraian Skenario I Skenario II Skenario III

NPV (Rp) 159.193.426,09 727.590.323,11 1.147.841.194,89

Net B/C 1,86 2,70 2,83

IRR (%) 32 55 36

PP (Tahun) 2,4 1,65 1,85

Dokumen terkait