BAB IV PEMBAHASAN
B. Analisis perbandingan hasil keputusan Lembaga Bahtsul Masail DIY dengan keputusan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia
1. Analisis Keputusan LBM DIY yang membolehkan cryptocurrency Didalam sebuah keputusan yang diberikan oleh LBM DIY yang
B. Analisis perbandingan hasil keputusan Lembaga Bahtsul Masail DIY
pemerintah untuk membuat sebuah regulasi yang mengatur sebuah transakasi cryptocurrency .
Mengenai sebuah permasalah yang dimana cryptocurrency ini bisa sebagai sebuah komoditas, maka sebuah lembaga bahtsul masail yang diadakan di Yogyakarta ini membolehkan sebuah cryptocurrency yang mengecualikan sebuah cryptocureency yang tidak memenuhi syarat yang ada dalam syarat sah sebagai sil‟ah. Dalam sudut pandang Ulama Nu Yogyakarta bahwasannya cryptocurrency adalah suatu teknologi yang tidak dapat dirubah karena perkembangan zaman sangat membantu dalam semua aspek kehidupan. Dan dapat ditemukan dalam memutuskan sebuah persoalan tentang perkembangan di era milenial ini seperti halnya cryptocurrency ini mungkin tidak cukup jika hanya melihat sebuah rujukan dari sebuah kitab-kitab klasik sehingga para ulama memberikan sebuah keputusan juga merujuk pada sebuah karya ulama kontenporer (khalaf).
Didalam sebuah permasalahan mengenai cryptocurrency ini ulama Nu Yogyakarta merujuk pada sebuah karya ulama kontemporer yaitu Wahbah Zuhaili dalam kitab Fiqh Islam Wa Adillatuhu yang didalam kitab tersebut mengatakan bahwa syarat-syarat barang itu dibagi menjadi lima46: a. Barang tidak bertentangan syara‟, sehingga menjual bangkai, darah,
dan barang yang tidak ditangan tidak sah.
46 Ibid 45.
b. Barangnya harus bersih atau suci, tidak sah hukumnya menjual barang najis sebagaimana khamr. Pendapat yang masyhur dari imam Maliki yakni tidak boleh menjual gading, kotoran binatangm dan minyak najis. Namun dari Ibnu Wahb dari Maliki membolehkan jual beli barang-barang tersebut. Dalam hal ini, apabila orang menganggap gading adalah taring maka hukumnya sebagaimana bangkai. Namun apabila dianggap sebagaimana tanduk yang terbalik maka hukum menjualnya sebagai mana hukum tanduk.
c. Barang memiliki manfaat secara syara‟. Menjual barang yang tidak memiliki manfaat didalamnya sebagaimana menjual anjing, serangga, alat-alat musik. Namun berbeda dengan imam maliki yang membolehkan menjual belikan anjing untuk berburu untuk menjaga hewan ternak. Dalam hal ini mereka terbagi menjadi dua kelompok.
d. Barangnya harus diketahui kedua belah pihak yang berakad. Sehingga tidak boleh menjual barang yang tidak jelas.
e. Keduanya harus bisa diserahterimakan, tidak sah hukumnya jika menjual barang yang tidak ada atau tidak bisa di serahterimakan.
Sebagaimana menjual ikan yang masih di laut.
Dan dalam rujukannya juga mengambil dalam kitab Fiqh Muamalah kaya ulama kotemporer karya Prof. Dr. Abdul Aziz Muhammad Azzam. Bahwasannya didalam kitabnya ada 5 syarat sebuah barang dan harga jual beli:
a. Barang yang ada dalam akad adalah suci
b. Dapat dimanfaatkan secara syara„ walaupun pada masa akan datang seperti anak keledai
c. Mampu menyerahkan barang yang dijual d. Mempunyai kuasa terhadap barang yang dijual
e. Mengetahui barang yang dijual baik zat, jumlah, dan sifat.
Seungguhnya As-subki menyebutkan, kelima syarat tersebut sesungguhnya merujuk pada dua syarat saja yakni dimiliki dan bermanfaat karena adanya kemampuan untuk menyerahkan, mengetahui dan hak milik menjadi milik orang berakad pada hakikatnya adalah syarat orang yang berakad, dan syarat suci dikecualikan dari kepemilikan karena najis tidak boleh menjadi hak milik. Kemudian pendapat ini dijawab bahwa semua urusan ini hanya sesuatu yang dipersepsikan saja.
Dalam sebuah rujukan yang telah dikutip diatas bahwasannya cryptocurrency ini memenuhi syarat sil‟ah menagapa demikian karena barang yang diperjual belikan tersebut suci dan dapat diserah terimaka dan diketahui oleh kedua belah pihak. Karena tidak ditemukan sebuah ketidakpastian (gharar), maupun perjudian (qimar). Bahwasannya diatas penulis memberikan sebuah pengertian yang mana cryptocurrency salah satunya adalah bitcoin yang dikategorikan sebagai sil‟ah karena disetiap sebuah transaksinya yang diakses diketahui oleh blockchain, sehingga jika melalukan sebuah transaksi dapat diserahterimakan dan dilihat melalui
blockchain. Sehinghga barang yang dimiliki memiliki manfaat dan kesepakatan. Dan bitcoin ini bebas dari gharar dan qimar, mengapa bisa dikatakan sil‟ah karena dalam sebuah bitrcoin memiliki sebuauh cryptography yang memiliki sebuah jaminan yang bertujuan untuk mengamankan sebuah data-data dan privasi dari orang lain yang tidak berhak untuk mengaksesnya.
Melihat keterangan diatas bahwa salah satu cryptocurrency yang memeiliki syarat sil‟ah dalah bitcoin karena didalam sebuah bitcoin jumlahnya itu terbatas sehingga dapat berpengaruh keseimbangan dan ke stabilan keuangan negara. Kestabilan ini sangat berpengaruh terhadap keuangan negara. Berbeda dengan cryptocurrency yang berbeda jenisnya yang tidak memiliki sebuah batasan sehingga menjadi sebuah ambang kritis bagi dunia. Dan juga jika keberadaannya itu tidak terbatas sehingga dapat menimbulkan sebuah inflasi. Sehingga bagi penulis cryptocurrency salah satunya yang memenuhi syarat sil‟ah yaitu bitcoin.
Permasalahan yang kedua yaitu apakah cryptocurrency bisa memenuhi syarat sebagai uang. Maka keputusan yang diberikan oleh Ijtima‟ Ulama Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia bahwa cryptocurrency ini melanggar undang-undang no 7 tahun 2011 yang isinya menyatakan bahwa yang disebut dengan mata uang adalah uang yang dikeluarkan oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia dari setiap transaksi yang mempunyai sebuah tujuan untuk melakukan pembayaran
atau kewajiban lain yang harus dipenuhi dengan uang.47 Sehingga dengan ini Bank Indonesia menegaskan melalui surat edaran No. 20/4/Dkom bahwa virtualcurrency termasuk cryptocurrency tidak sah digunakan sebagai alat pembayaran.48
Berdasarkan keterangan diatas bawha penulis mengatakan bahwa cryptocurrency ini tidak bisa dikatan sebagai uang karena jika melihat didalam negara Indonesia yang dijelaskan oleh undang-undang nomer 7 tahun 2011 tentang mata uang yang didalamnya dibahas bahwa penggunaan sebuah alat tukar dalam suatu negara diatur oleh pemerintah negara yang memiliki sebuah kewenangan yaitu Bank Indonesia.
Kepatuhan terhadap negara hukumnya wajib dalam melakukan pemakainan cryptocurrency sebagai mata uang yang telah termaktub dalam kitab Bughyatul Murtasyidin halaman 9 bahwa: “Wajib hukumnya mematuhi perintah pemimpin di dalam segala hal yang menjadi wilayah kekuasaannya, seperti membayar zakat mal zhahir. Namun, untuk hal yang di luar kewenangan kekuasaan pemerintah, seperti melaksanakan hak-hak wajib atau sunah, maka boleh ia melaksanakannya dan bebas untuk bertasharruf di dalam kepentingannya. Dan apabila yang diperintahkan itu bersifat mubah, makruh atau haram maka tidak wajib melaksanakan perintah tersebut seperti yang telah diungkapkan oleh Imam Romly di dalam kitab Tuhfah, namun imam Romly ragu akan pendapat tersebut, dan
47 Zain, ―Mining-Trading Cryptocurrency Dalam Hukum Islam, ‖ 128.
48 Bank Indonesia, ―Bank Indonesia Memperingatkan Kepada Seluruh Pihak Agar Tidak Menjual, Membeli Atau Memperdagangkan Virtual Currency, ‖ www.bi.go.id, 2018, Di akses pada 19 Mei 2022
pada akhirnya Imam Romly lebih condong untuk mewajibkan semua perkara yang diperintahkan oleh imam walaupun perkara yang diperintahkan tersebut haram dilakukan. Akan tetapi pelaksanaannya secara dhohir saja.
Berbeda halnya dengan sebuah keputusan Nu Yogyakarta yang membolehkan dan mengatakan bahwa cryptocurrency ini dikatakan mata uang dengan alasan karena perkembangan zaman sehingga mendorong untuk melakukan sebuah transaksi ekonomi berkembang dan menjamah dunia digital. Sehingga cryptocurrency ini dibolehkan karena dikategorikan sebagai uang juga mendorong sebuah Pemerintah Negara untuk mengatur legalitas penggunaan cryptocurrency ini sebagai mata uang untuk mengikuti kebiasaan suatu komonitas.
Juga diperkuat dengan sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa cryptocurrency terbebas dari riba kerena penggunaan nya peer-to-peer sehingga dalam blockchain mampu menyelamatkan bagi orang yang melakukannyadari sebuah kerugiuan. Peer-to-peer adalah alat7 penyambung atau juga disebut disentralisasi, didalam perr-to-peer sudah diataur oleh blockchain sehingga memungkinkan untuk melakukan transaksi tanpa harus ada sebuah campur tangan orangf ketiga yang biasa kitra sebut bank. Berbeda dengan halnya uang biasa yang kita pegang yang dalam melakukan transaksi harus diatrur dan mekanismenya diatur oleh pihak kletiga yaitu bank.
Dari uraian diatas bahwa penulis tidak setuju bahwa cryptocurrency dikatakan sebagai mata uang. Meskipun cryptocurrency sering disebut dengan mata uang digital yang fungsi dan maaftnya sama dengan uang yang kita gunakan setiap harinya. Alasan yang tidak bisa dikatakan sebagai mata uang karena tidak memenuhi kriteria uang di Indonesia. Seperti hal nya didalam cryptocurrency yang mengatur dalam sebuah pembayaran adalah legal tender. Dan juga ulama NU Yogyakarta kurang cermat bahwasannya nilai dalam cryptocurrency ini tidak stabil kerena fluktuasi harga yang begitu tinggi shingga dapat menyebabkan kerusakan (gharar), pertaruhan dan bahaya. Juga suply keberadaan nya juga tidak diatur takutnya menggangu dalam sebuah ekonomi dunia.
2. Analisis keputusan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa Majelis Ulama