DAFTAR LAMPIRAN
DESKRIPSI PRODUK
C. ANALISIS KESENJANGAN (GAP ANALYSIS) KONDISI PERUSAHAAN SAAT INI DENGAN ISO 22000
Dengan telah diterapkannya hampir semua persyaratan CPMB sebagaimana tertuang dalam pedoman penerapan CPMB Depkes RI 1996, maka bisa dikatakan bahwa PT. Indesso Aroma telah memiliki pondasi yang kuat untuk pengembangan sebuah sistem manajemen keamanan pangan. Empat penyimpangan atas CPMB yang belum dipenuhi sebagaimana hasil pemeriksaan CPMB yang telah dilakukan harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum diterapkannya sistem manajemen keamanan pangan di perusahaan. Penerapan ISO 9001 mempunyai keuntungan tersendiri bagi sebuah perusahaan yang akan menerapkan sistem manajemen keamanan pangan berbasis ISO 22000. Hal ini dikarenakan bahwa sebagian persyaratan yang ada dalam ISO 22000 juga ada dalam ISO 9001.
Untuk mengetahui sejauh mana kesiapan PT. Indesso Aroma dalam mengembangkan sistem manajemen keamanan pangan berbasis ISO 22000 dan persiapan apa yang perlu dilakukan maka perlu dilakukan analisis kesenjangan (Gap Analysis). Hasil analisa kesenjangan yang telah dilakukan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 17. Berdasarkan analisa kesenjangan yang telah dilakukan diperoleh bahwa
PT. Indesso Aroma telah menerapkan 42 dari 52 persyaratan ISO 22000. Namun demikian penerapan tersebut masih yang terkait dengan mutu dan belum mencakup aspek keamanan pangan. Beberapa hal penting yang diperoleh dari analisa kesenjangan yang telah dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Sistem Manajemen Kemanan Pangan
Prosedur terdokumentasi sistem manajemen keamanan pangan dan catatan pelaksanaannya, kebijakan keamanan pangan dan sasarannya sebagaimana dipersyaratkan dalam ISO 22000 belum dibuat. Dokumen untuk sistem manajemen keamanan pangan yang sudah dibuat adalah rencana HACCP untuk ekstrak teh hijau dan SSOP. GMP yang merupakan pondasi untuk pelaksanaan sistem manajemen keamanan pangan sudah diterapkan, dan ada empat penyimpangan (3 mayor dan 1 minor) yang perlu segera diperbaiki sebelum diterapkannya sistem manajemen keamanan pangan di perusahaan.
Prosedur pengendalian dokumen dan pengendalian catatan sudah ada ada dan sudah berjalan, karena prosedur ini juga dipersyaratkan dalam ISO 9001. Hanya saja pelaksanaannya belum mencakup aspek keamanan pangan. Oleh karenanya prosedur pengendalian dokumen dan pengendalian catatan kemanan pangan bisa disatukan dengan prosedur pengendalian dokumen dan pengendalian catatan mutu dengan mengintegrasikan aspek keamanan pangan dalam prosedur tersebut.
2. Tanggung Jawab Manajemen
Komitmen manajemen dalam hal keamanan pangan sudah sangat jelas. Sebagai contoh fasilitas pabrik ekstrak sudah dibuat memenuhi standard CPMB, dan persiapan untuk penerapan sebuah sistem manajemen keamanan pangan sudah diminta untuk mulai dilakukan. Isu keamanan pangan menjadi isu yang sangat penting bagi manajemen perusahaan, karena hal ini menyangkut reputasi perusahaan. Oleh karenanya rekomendasi dari hasil kajian yang sedang dilakukan ini menjadi bahan masukan yang sangat penting buat manajemen perusahaan dalam rangka penerapan sistem manajemen keamanan pangan di perusahaan untuk ditindaklanjuti.
Kebijakan keamanan pangan belum ditetapkan secara tertulis, namun kebijakan ini sudah secara jelas dimiliki oleh manajemen dalam hal pemenuhan produk ke pelanggan yaitu hanya mengirimkan produk yang aman dan berkualitas ke pelanggan. Tanggung jawab dan wewenang masing-masing orang sudah dideskripsikan secara jelas dalam struktur organisasi perusahaan dan job description masing-masing orang. Pemimpin tim keamanan pangan belum ditetapkan.
Komunikasi baik eksternal dengan pelanggan dan supplier serta komunikasi internal di perusahaan sudah berjalan dengan baik, hanya saja komunikasi ini belum mencakup aspek keamanan pangan, masih yang terkait dengan mutu. Prosedur yang mengelola situasi tanggap darurat yang potensial dan kejadian-kejadian yang bisa berdampak pada keamanan pangan belum ditetapkan.
Tinjauan manajemen sudah berjalan secara rutin minimal 1 kali dalam setahun dan dipimpin langsung oleh manajemen puncak perusahaan. Hal ini menunjukkan komitmen perusahaan yang sangat tinggi. Namun pembahasan dalam Tinjauan manajemen masih belum mencakup aspek keamanan pangan, masih sebatas aspek mutu. Prosedur untuk Tinjauan manajemen ini juga sudah ditetapkan.
3. Manajemen Sumberdaya
Perusahaan sudah menyediakan sumberdaya yang mencukupi untuk penerapan sistem manajemen keamanan pangan diantaranya dengan penyediaan bangunan dan fasilitas pabrik yang memenuhi GMP. Pemeliharaan lingkungan kerja dan infrastruktur juga dilakukan secara baik. Sumberdaya manusia untuk pelaksanaan sistem manajemen keamanan pangan juga sudah mencukupi diantaranya seluruh supervisor produksi yang menangani proses produksi ekstrak (3 orang) memiliki latar belakang teknologi pangan (S1), 2 orang staf bagian riset dan pengembangan berlatar belakang teknologi pangan (S1), namun untuk di bagian QC pengetahuan tentang aspek keamanan pangan perlu ditingkatkan karena belum ada staf yang berlatar belakang teknologi pangan. Pelatihan tentang aspek keamanan pangan untuk seluruh personel yang terkait dengan produk ekstrak secara umum juga masih diperlukan untuk lebih meningkatkan pengetahuan tentang aspek keamanan pangan khususnya sistem menajemen keamanan pangan berbasis ISO 22000.
4. Perencanaan dan realisasi produk yang aman
Perencanaan dan realisasi produk yang aman sudah dibuat untuk ekstrak teh hijau sebagaimana dituangkan dalam rencana HACCP produk ekstrak teh hijau. Namun rencana HACCP ini belum dijalankan, baru sebatas dokumentasi. Yang sudah dijalankan adalah PRP yaitu melalui pelaksanaan GMP dan OPRP melalui pelaksanaan SSOP. CCP yang dikelola dalam rencana HACCP, berupa pemeriksaan CoA dari supplier belum dijalankan. Untuk pelaksanaan sistem manajemen keamanan pangan berbasis ISO 22000, perlu dibuat rencana HACCP untuk seluruh produk ekstrak yang akan dicakup dalam sistem manajemen keamanan pangan. Tim keamanan pangan sudah pernah ditetapkan oleh perusahaan, namun belum berjalan.
Pengendalian produk tidak sesuai sudah ada dalam prosedur ISO 9001, namun masih sebatas masalah mutu. Dengan demikian penanganan produk yang berpotensi tidak aman bisa dimasukkan dalam prosedur pengendalian produk tidak sesuai ini dengan memasukkan aspek keamanan pangan dan prosedur pengendalian produk tidak sesuai, termasuk di dalamnya prosedur mengenai disposisi produk yang tidak sesuai. Prosedur untuk penarikan produk belum dibuat.
5. Validasi, verifikasi dan perbaikan sistem manajemen keamanan pangan
Prosedur validasi tindakan pengendalian atau kombinasi tindakan belum ditetapkan. Prosedur verfikasi sudah dilakukan dalam sistem manajemen mutu ISO 9001 yaitu dalam prosedur audit mutu internal, namun masih sebatas aspek mutu. Pengendalian peralatan pengukuran dan pemantauan sudah dilakukan. Prosedur perbaikan berkesinambungan juga sudah ditetapkan.
Berdasarkan analisis kesenjangan kondisi perusahaan dengan ISO 22000 yang telah dilakukan di atas bisa disimpulkan bahwa sebagian persyaratan yang ditetapkan dalam sistem manajemen keamanan pangan ISO 22000, telah dicakup dalam sistem manajemen mutu ISO 9001 yang telah dijalankan oleh PT. Indesso Aroma. Hanya saja dalam sistem manajemen mutu yang telah dijalankan tersebut, walaupun klausulnya ada yang sama dengan ISO 22000, namun belum mencakup keamanan pangan. PT. Indesso Aroma juga telah menyiapkan dokumentasi rencana HACCP untuk ekstrak teh hijau. GMP dan SSOP juga telah dijalankan.