ANALISIS DAN PEMBAHASAN
6.2 Analisis Kinerja Manajer pada CV Usaha Semesta
Project 2009
1 Laba Project SST24 M lokasi Siantar Rp 147,000,000.00
2 Laba Project SST32 M lokasi Berastagi Rp 120,000,000.00
3 Laba Project SST32 M lokasi Sergai Rp 138,000,000.00
Total Laba Project 2009 Rp405,000,000.00
Project 2010
1 Laba Project SST24 M lokasi Siantar Rp 140,000,000.00
2 Laba Project SST32 M lokasi Berastagi Rp 132,000,000.00
3 Laba Project SST32 M lokasi Sergai Rp 130,000,000.00
Total Laba Project 2010 Rp402,000,000.00
Sumber: Hasil penelitian, 2011 (Data diolah)
Terlihat dengan jelas bahwa setiap tahun terjadi penurunan tingkat laba perusahaan.
6.2 Analisis Kinerja Manajer pada CV Usaha Semesta
Prestasi kerja atau yang biasa juga disebut kinerja adalah kontribusi yang dapat diberikan oleh suatu bagian pencapaian tujuan perusahaan oleh karena itu pengukuran atas kontribusi yang dapat diberikan oleh suatu bagian bagi pencapaian tujuan perusahaan. Dalam mengevaluasi pengukuran kinerja manager pusat pertanggungjawaban ada tiga kriteria yang digunakan yaitu efisiensi, efektivitas, dan ekonomis. Efisiensi adalah perbandingan, antara output yang dihasilkan dengan besarnya input yang digunakan. Sedangkan efektivitas adalah hubungan antara output suatu pusat pertanggungjawaban yang sasarannya harus dicapai. Efektivitas selalu berhubungan dengan tujuan organisasi sedang efisiensi
tindakan ekonomis dimaksudkan sebagai penggunaan sumber dana seminimal mungkin.
Suatu pusat pertanggungjawaban dalam melaksanakan operasinya harus memenuhi ketiga kriteria di atas. Dari uraian mengenai berbagai tipe pusat pertanggungjawaban tersebut di atas, manajer pusat pertanggungjawaban diukur prestasinya berdasarkan karakteristik masukan dan keluarannya. Biaya rnerupakan tolok ukur prestasi bagi manajer pusat biaya, sedangkan pendapatan merupakan tolok ukur prestasi bagi manajer pusat pendapatan. Dalam pusat investasi rasio laba dengan investasi utau residual income dipakai sebagai tolok ukur prestasi manajer pusat pertanggungjawaban tersebut. Perlu diingat bahwa manajer pusat pertanggungjawaban tidak hanya diukur prestasinya dengan menggunakan tolok ukur keuangan saja, namun masih ada tolok ukur non keuangan yang digunakan untuk mengukur prestasi manajer pusat pertanggungjawaban.
Berkaitan dengan uraian di atas, berikut ini dibahas mengenai bagaimana akuntansi pertanggungjawaban sebagai suatu sistim pelaporan yang dapat mengendalikan fungsi, tanggung jawab dari staf operasional dalam mengelola biaya operasional pada kelompok kerja. Dengan demikian fugsi dan kinerja Manajer Keuangan harus lebih spesifik dan melakukan perubahan dalam menetapkan anggaran serta tata cara pelaksanaan anggaran di dalam operasional pembangunan struktur Tower, dimana hal ini akan dilaksanakan sepenuhnya oleh Staf operasional sebagai panduan penggunaan anggaran dan selanjutnya penyusunan anggaran akan dilakukan oleh Staf Keuangan dengan arahan dari Manajer Keuangan.
Pada CV Usaha Semesta terdapat laporan yang dibuat oleh pusat pertanggungjawaban. Hasil kinerja manajer dapat dilihat dari anggaran dan laporan keuangan yang dikeluarkan oleh manajer, dimana anggaran dan laporan tersebut harus segera diberi informasi yang penting bagi atasan mengenai keadaan yang terjadi pada kegiatan operasional perusahaan (pemasangan tower sesuai permintaan/pesanan klien). Sehingga dapat diambil tindakan perbaikan jika terjadi selisih antara anggaran dan realisasinya untuk selanjutnya dilakukan analisis guna mencari penyebab penyimpangan. Dengan adanya laporan tersebut, maka kinerja manajer yang bersangkutan dapat dinilai apakah sudah sesuai dengan yang diharapkan.
Untuk pengukuran kinerja manajer pada CV Usaha Semesta didasarkan pada kriteria efisiensi yaitu tindakan ekonomis yang dimaksudkan sebagai penggunaan sumber dana seminimal mungkin. Sedangkan metode pengukuran yang digunakan adalah analisa rasio keuangan. Analisis rasio keuangan ini menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan antara satu pos tertentu dengan pos yang lain. Dalam penelitian ini metode penilaian yang dirasa akurat dan komprehensif mampu memberikan penilaian secara wajar atas kinerja manajer CV Usaha Semesta yaitu : Return on Invest (ROI) = Pengembalian Keuntungan Investasi.
Rasio ini dimaksudkan untuk mengukur kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamnya dalam aktiva yang digunakan dalam operasinya untuk menghasilkan keuntungan. Dengan demikian rasio ini menghubungkan keuntungan yang diperoleh dari operasi perusahaan (net
operating income) dengan jumlah investasi atau aktiva yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan operasi tersebut (net operating asset). Dimana untuk menghitung rasio ini digunakan rumus sebagai berikut :
ROI =
Selanjutnya bila diterapkan untuk melihat gambaran kinerja manajer pada CV Usaha Semesta periode tahun 2008-2010 didapat hasil sebagai berikut :
1. Sebagaimana hasil perhitungan tabel 6.4 di atas, dapat dilihat pada tahun 2008 laba yang diperoleh CV Usaha Semesta sebelum pajak sebesar Rp.143,000,000.00 dan total pajak (PPn = 10% dan dan PPh = 2%) sebesar Rp.17,160,00.00. Berarti besarnya perolehan laba bersih setelah pajak adalah : Rp.143,000,000.00 – Rp. 17,160,00.00 = Rp.125,840,000.000. Sedangkan pengeluaran sebesar Rp.286,000,000.00.
Dengan demikian berdasarkan rumus diperoleh nilai : ROI =
2. Sebagaimana hasil perhitungan tabel 6.5 di atas, dapat dilihat pada tahun 2009 laba yang diperoleh CV Usaha Semesta sebelum pajak sebesar Rp.119,000,000.00 dan total pajak (PPn = 10% dan dan PPh = 2%) sebesar Rp.14,780,00.00. Berarti besarnya perolehan laba bersih setelah pajak adalah : Rp.119,000,000.00 – Rp. 14,780,000.00 = Rp.104,220,000.000. Sedangkan pengeluaran sebesar Rp.286,000,000.00.
Dengan demikian berdasarkan rumus diperoleh nilai :
ROI =
3. Sebagaimana hasil perhitungan tabel 6.6 di atas, dapat dilihat pada tahun 2010 laba yang diperoleh CV Usaha Semesta sebelum pajak sebesar Rp.116,000,000.00 dan total pajak (PPn = 10% dan dan PPh = 2%) sebesar Rp.17,160,00.00. Berarti besarnya perolehan laba bersih setelah pajak adalah : Rp.143,000,000.00 – Rp. 13,920,00.00 = Rp.129,080,000.000. Sedangkan pengeluaran sebesar Rp.286,000,000.00.
Dengan demikian berdasarkan rumus diperoleh nilai : ROI = tahun 2008-2010 berturut-turut yaitu pada tahun 2008 diperoleh nilai ROI sebesar 44%, nilai ROI pada tahun 2009 sebesar 36%, dan nilai ROI pada tahun 2010 sebesar 45%, Dari besar nilai ROI ini dapat disimpulkan bahwa kinerja manajer bila diukur dari penerapan akuntansi pertanggungjawaban yang menjadi tanggungjawabnya bervariasi yaitu dari tahun 2008 ke tahun 2009 terjadi penurunan, sedangkan dari tahun 2009-2010 terjadi kenaikan.
Dengan melihat hasil perhitungan di atas, tentu saja sulit menerapkan akuntansi pertanggungjawaban sesuai dengan apa yang diharapkan bagi pencapaian tujuan perusahaan yaitu laba yang selalu meningkat. Untuk itu perlu adanya koordinasi dan kerjasama yang baik antar Staf Keuangan di bawah
pimpinan Manajer Keuangan. Sehingga Manajer dan para staf dapat memahami masalah-masalah finansial yang dihadapi dan mampu menemukan jalan keluarnya.
6.3 Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Turunnya Kinerja Dalam