Diagaram 4.23 Hasil Observasi Kerja Sama Siklus II Pertemuan 3
4.2 Hasil dan Analisis Tindakan
4.2.3 Analisis Komparatif
Analisis data kuantitatif yang berasal dari hasil belajar IPA saat prasiklus, siklus I, siklus II akan disajikan dalam sebuah tabel dan diagram. Perbandingan
94% 6%
Tuntas Belum tuntas
122
hasil belajar IPA dan ketuntasan belajar IPA prasiklus, siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel 4.25
Perbandingan Ketuntasan Belajar IPA
No. Ketuntasan
Belajar Nilai
Prasiklus Siklus I Siklus II
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1. Tuntas 67 8 44 13 72 17 94 2. Belum tuntas < 67 10 56 5 28 1 6 Jumlah 18 100 18 100 18 100 Nilai Rata-rata 60,67 70,48 81,85 Nilai Tertinggi 83 91,43 100 Nilai Terendah 35 42,86 60
Berdasarkan tabel 4.25 tentang perbandingan ketuntasan belajar IPA prasiklus, siklus I dan siklus II, berdasarkan perbandingan tersebut terjadi peningkatan ketuntasan hasil belajar IPA dari prasiklus, siklus I dan siklus II. Dalam pembelajaran IPA siswa dikatakan tuntas apabila nilai yang diperoleh 67 dan ketuntasan belajar IPA secara klasikal 80% dari jumlah seluruh siswa. Pada kondisi prasiklus siswa yang mencapai ketuntasan belajar sebanyak 8 siswa dengan persentase 44% dari seluruh jumlah siswa, sedangkan siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar yang ditentukan yaitu 10 siswa dengan persentase 56% dari seluruh jumlah siswa, nilai rata-rata kelas pada kondisi prasiklus yaitu 60,67. Pada siklus I terjadi peningkatan ketuntasan belajar yaitu menjadi 13 siswa dengan persentase 72% seluruh jumlah siswa, sedangkan siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar menurun menjadi 5 siswa dengan persentase 28% dari seluruh jumlah siswa, nilai rata-rata kelas yang diperoleh pada siklus I meningkat menjadi 70,48. Pada siklus II terdapat 17 siswa yang telah mencapai ketuntasan belajar dengan persentase 94% dari seluruh jumlah siswa, sedangkan siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar terdapat 1 siswa dengan persentase 6% dari seluruh jumlah siswa, nilai rata-rata kelas pada siklus II juga mengalami peningkatan yaitu menjadi 81,85. Dari hasil belajar IPA dan ketuntasan belajar siswa pada siklus II dapat diketahui bahwa indikator keberhasilan yang ditentukan sudah tercapai (ketuntasan belajar siswa 80%)
123
Untuk memperjelas perbandingan ketuntasan belajar IPA prasiklus, siklus I dan siklus II akan disajikan dalam diagram batang sebagai berikut:
Diagram 4.31 Ketuntasan Belajar IPA
Untuk memperjelas peningkatan rata-rata hasil belajar IPA prasiklus, siklus I dan siklus II akan disajikan dalam diagram batang sebagai berikut:
Diagram 4.32 Peningkatan Rata-Rata Hasil Belajar IPA
4.3 Pembahasan
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 28 Januari 2014 terhadap proses pembelajaran yang dilakukan guru, serta kerja sama antarsiswa. Sebelum penelitian dilakukan dalam proses pembelajaran guru masih menggunakan metode konvensional yaitu metode ceramah. Metode pembelajaran
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18
Prasiklus Siklus I Siklus II
J um la h Sis w a Tuntas Belum tuntas 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
prasiklus siklus I siklus II
Nilai
rata
-r
124
yang seperti ini akan membuat siswa kurang aktif, kurang kerja sama antarsiswa, dan kurang menumbuhkan ketrampilan menyampaikan pendapat dalam diskusi, bertanya dengan guru atau teman, menjawab pertanyaan guru, sehingga siswa pasif dalam proses pembelajaran hanya menerima apa yang disampaikan oleh guru. Hal tersebut yang menyebabkan rendahnya kerja sama dan hasil belajar IPA siswa kelas 5 SDN 1 Ngropoh. Siswa yang mencapai KKM 67, hanya 8 siswa atau 44%, sedangkan siswa yang belum mencapai KKM terdapat 10 siswa atau 56%. Berdasarkan keadaan tersebut, maka perlu dilakukan tindakan perbaikan pembelajaran untuk meningkatkan kerja sama dan hasil belajar IPA.
Berdasarkan hasil belajar IPA pada prasiklus maka peneliti melakukan tindakan dengan menerapkan model Group Investigation dalam pembelajaran IPA. Perbandingan hasil observasi pada siklus I dan siklus II adalah sebagai berikut:
Tabel 4.26
Perbandingan Hasil Observasi Siklus I dan Siklus II
Tindakan Siklus I Siklus II
̅ % ̅ %
Aktivitas Guru 78 65 101 84
Aktivitas Siswa 62,67 52 91,67 76
Berdasarkan tabel 4.26 dapat diketahui bahwa hasil observasi aktivitas guru dan aktivitas siswa pada pelaksanaan tindakan siklus I dan siklus II melalui penerapan model Group Investigation telah mengalami peningkatan. Rata-rata skor hasil observasi aktivitas guru pada siklus I yaitu 78 dengan persentase 65%, siklus II skor rata-rata aktivitas guru mengalami peningkatan menjadi 101 dengan persentase 84%. Seiring dengan meningkatnya aktivitas guru, aktivitas siswa juga telah mengalami peningkatan dari siklus I memperoleh skor rata-rata 62,67 dengan persentase 52%, pada siklus II skor rata-rata meningkat menjadi 91,67 dengan persentase 76%. Untuk memperjelas perbandingan hasil observasi siklus I dan siklus II akan disajikan dalam diagram sebagai berikut:
125
Diagram 4.33 Perbandingan Hasil Observasi Siklus I dan Siklus II
Berdasarkan diagram 4.33 dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan hasil observasi aktivitas guru dan aktivitas siswa pada siklus I dan siklus II. Peningkatan aktivitas guru dan aktivitas siswa dalam pembelajaran menggunakan model Group Investigation berdampak pada peningkatan kerja sama belajar dan hasil belajar IPA. Hal ini terbukti dari perolehan hasil observasi kerja sama belajar dan hasil tes evaluasi yang dilakukan pada akhir pertemuan siklus I dan siklus II. Peningkatan skor kerja sama dan hasil belajar IPA dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel 4.27
Perbandingan Rata-Rata Kerja Sama dan Hasil Belajar IPA
Hasil Tindakan Siklus I ̅ Siklus II ̅
Kerja Sama 68,11 81
Hasil belajar 70,48 81,85
Berdasarkan tebel 4.27 dapat diketahui bahwa pada pelaksanan tindakan siklus I skor rata-rata kerja sama sudah mencapai rata-rata 68,11 dan hasil belajar IPA pada siklus I mencapai rata-rata 70,48 dengan ketuntasan belajar sebesar 72%, mengalami peningkatan rata-rata hasil belajar IPA prasiklus yang hanya 60,67. Berdasarkan hasil tindakan siklus I telah menunjukkan peningkatan, namun peningkatan kerja sama dan hasil belajar IPA belum dapat memenuhi indikator keberhasilan kerja sama dan hasil belajar IPA yang ditetapkan yaitu 80%.
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90%
Aktivitas Guru Aktivitas Siswa
Siklus I Siklus II
126
Setelah pelaksanaan tindakan siklus II skor rata-rata kerja sama menjadi 81 dan rata-rata hasil belajar IPA siklus II meningkat menjadi 81,85 dengan ketuntasan belajar 94%. Peningkatan kerja sama dan hasil belajar IPA pada siklus II memenuhi indikator keberhasilan kerja sama dan hasil belajar IPA yang ditetapkan yaitu 80%, namun dalam pelaksanaan tindakan siklus II terdapat 1 siswa yang belum mampu mencapai skor minimal kerja sama yang ditentukan dan belum dapat mencapai KKM yang telah ditentukan. Hai ini dikarenakan dalam pembelajaran siswa kurang aktif mengikuti proses percobaan dan kurang dapat bekerja sama dengan anggota kelompok yang lain, sehingga kurangnya kerja sama dalam pembelajaran berpengaruh pada rendahnya hasil belajar IPA yang diperoleh siswa.
Untuk memperjelas perbandingan skor kerja sama dan hasil belajar IPA siklus I dan siklus II akan disajikan dalam diagram sebagai berikut:
Diagram 4.34 Perbandingan Rata-Rata Kerja Sama dan Hasil Belajar IPA
Berdasarkan diagram 4.33 tentang peningkatan rata-rata kerja sama dan hasil belajar IPA dapat diketahui bahwa peningkatan kerja sama mempengaruhi hasil belajar IPA yang diperoleh siswa. Peningkatan kerja sama dan hasil belajar IPA terjadi karena model pembelajaran Group Investigation menuntut keterlibatan aktif siswa dan kerja sama yang baik antarsiswa mulai dari kegiatan perencanaan sampai kegiatan evaluasi dalam pembelajaran. Perencanaan percobaan meliputi pemilihan topik dan pembagian tugas dalam kelompok sehingga masing-masing
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
Kerja Sama Hasil Belajar
Siklus I Siklus II
127
anggota memiliki tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Pelaksanaan percobaan meliputi pengumpulan informasi, berdiskusi dalam menyusun hasil percobaan dan menyusun kesimpulan percobaan. Dalam menyiapkan laporan meliputi berdiskusi menyusun laporan akhir hasil percobaan dan pembagian tugas dalam dalam melaporkan hasil percobaan didepan kelas. Masing-masing kelompok mempresentasikan laporan secara bergantian dan saling memberikan penilaian serta umpan balik. Guru hanya bertugas sebagai fasilitator, mendampingi siswa dalam proses percobaan dan membimbing kelompok yang mengalami kesulitan.
Pembelajaran dengan menggunakan model Group Investigation melatih siswa menjadi lebih mandiri dalam mencari informasi tentang materi yang akan dipelajarai, bertukar pendapat dan menyatukan pendapat, melatih siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi dan mengungkapkan pendapatnya, dan pembelajaran yang dilakukan membuat suasana saling bekerjasama dan berinteraksi antarsiswa dalam kelompok tanpa memandang latar belakang sehingga siswa memiliki jiwa kooperatif yang tinggi. Dengan meningkatnya kerja sama antarsiswa, maka berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar IPA. Hal tersebut selaras dengan teori yang diungkapkan oleh Sutanto (Asviati, 2012:12-13).
Berdasarkan uraian penelitian yang telah disajikan maka penggunaan model pembelajaran Group Investigation dalam pembelajaran IPA pada kelas 5 SDN 1 Ngropoh semester II tahun 2013/2014 ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Sutanto yaitu rata-rata hasil belajar IPA pada siklus I yaitu 69, pada siklus II meningkat menjadi 83, penelitian yang dilakukan oleh Dina Maharani yaitu rata-rata hasil belajar IPA pada siklus I yaitu 78,40, pada siklus II meningkat menjadi 85,22, penelitian yang dilakukan oleh Untari yaitu rata-rata hasil belajar IPA pada siklus I yaitu 73,05, pada siklus II meningkat menjadi 80,28.