V. ANALISIS PERTUMBUHAN SEKTOR-SEKTOR PEREKONOMIAN
5.3. Analisis Komponen Pertumbuhan Wilayah Sebelum, Pada Masa, dan
Pertumbuhan sektor-sektor perekonomian di Provinsi Jawa Barat dipengaruhi oleh tiga komponen pertumbuhan wilayah. Ketiga komponen tersebut adalah pertumbuhan nasional (PN), pertumbuhan proporsional (PP) dan pertumbuhan pangsa wilayah (PPW). Pengaruh pertumbuhan nasional menjelaskan seberapa besar PDRB Provinsi Jawa Barat meningkat bila jumlah PDRB per sektor dan jumlah PDB Nasional per sektor bertambah dengan laju
71
yang sama dengan laju pertumbuhan nasional. Sehingga persentase komponen PN sama dengan persentase laju pertumbuhan nasional yakni sebesar 25,48 persen sebelum krisis ekonomi dan sebesar -4,96 persen pada masa krisis serta 16,18 persen setelah krisis ekonomi.
Tabel 5.4. Analisis Shift Share Menurut Sektor Perekonomian di Provinsi Jawa Barat Berdasarkan Komponen Pertumbuhan Nasional
PNiJawa Barat
Sebelum Krisis Ekonomi Pada Masa Krisis Ekonomi Setelah Krisis Ekonomi Sektor Perekonomian
(Juta Rp) (Persen) (Juta Rp) (Persen) (Juta Rp) (Persen)
1. Pertanian 2.033.174 25,48 -431.013 -4,96 1.302.023 16,18
2. Pertambangan dan
Penggalian 946.650 25,48 -158.307 -4,96 505.796 16,18
3. Industri Pengolahan 3.223.643 25,48 -1.182.931 -4,96 3.823.563 16,18
4. Listrik, Gas & Air Bersih 217.909 25,48 -65.722 -4,96 335.396 16,18
5. Bangunan 627.875 25,48 -179.530 -4,96 328.796 16,18
6. Perdag, Hotel dan
Restoran 2.142.015 25,48 -631.207 -4,96 1.685.167 16,18
7. Pengangkutan dan
Komunikasi 546.359 25,48 -162.985 -4,96 523.002 16,18
8. Keuangan, Persewaan
& Jasa Perusahaan 521.832 25,48 -155.928 -4,96 440.111 16,18
9. Jasa-jasa 1.105.407 25,48 -266.010 -4,96 860.131 16,18
Total 11.364.863 25,48 -3.233.632 -4,96 9.803.986 16,18
Sumber : Lampiran 6
Berdasarkan Tabel 5.4, jika ditinjau secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi nasional sebelum krisis tahun 1993-1996 telah mempengaruhi peningkatan PDRB Provinsi Jawa Barat sebesar Rp 11.364.863 juta (25,48 persen). Sedangkan pertumbuhan nasional pada saat krisis (1997-2001) telah mempengaruhi penurunan PDRB Provinsi Jawa Barat sebesar Rp -3.233.632 (-4,96 persen), dan setelah krisis ekonomi (2002-2005) perekonomian nasional telah mempengaruhi peningkatan pertumbuhan sektor perekonomian di Provinsi Jawa Barat sebesar Rp 9.803.986 juta (16,18 persen).
Sektor industri pengolahan pada masa sebelum maupun setelah krisis ekonomi memberikan kontribusi tertinggi terhadap PN (Rp 3.223.643 ;
Rp 3.823.563), ini mengidentifikan bahwa setiap terjadi perubahan pertumbuhan nasional, maka sektor ekonomi tersebut dipengaruhi oleh perubahan kebijakan nasional. Hal ini berarti jika terjadi perubahan kebijakan ekonomi nasional, maka kontribusi sektor industri pengolahan juga akan mengalami perubahan.
Komponen pertumbuhan proporsional sebagai pengaruh kedua pertumbuhan nasional menjelaskan mengenai perbedaan kenaikan PDB tingkat nasional dan kenaikan PDB sektor perekonomian secara nasional. Dengan demikian, persentase komponen PP untuk semua sektor di seluruh provinsi di Indonesia sama besar, yang membedakannya hanya kontribusi masing-masing sektor ekonomi. Secara keseluruhan sebelum terjadi krisis, pertumbuhan proporsional mengakibatkan terjadinya peningkatan PDRB Jawa Barat sebesar Rp 300.871 juta (0,67 persen), pada masa krisis sebesar Rp 1.119.348 juta (1,72) dan setelah krisis sebesar Rp -66,887 juta (-0,11 persen), lihat Tabel 9.
Jika ditinjau berdasarkan sektor perekonomian nasional sebelum krisis yang memiliki persentase PP positif (PP>0) adalah sektor listrik, gas dan air bersih, sektor bangunan, sektor industri pengolahan, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, sektor pengangkutan dan komunikasi, dan sektor perdagangan, hotel dan restoran. Hal ini mengidentifikasikan bahwa sektor-sektor ekonomi tersebut di Jawa Barat memiliki pertumbuhan yang cepat. Sektor yang memiliki pertumbuhan paling cepat adalah sektor listrik, gas dan air bersih sebesar 22,74 persen. Sedangkan sektor yang memiliki persentase PP yang negatif (PP<0), ini berarti memiliki pertumbuhan yang lambat. Dalam hal ini sektor yang
73
memiliki nilai PP negatif adalah sektor pertanian, sektor jasa-jasa serta sektor pertambangan dan penggalian.
Tabel 5.5. Analisis Shift Share Menurut Sektor Perekonomian di Provinsi Jawa Barat Berdasarkan Komponen Pertumbuhan Proporsional
PPiJawa Barat
Sebelum Krisis Ekonomi Pada Masa Krisis Ekonomi Setelah Krisis Ekonomi Sektor Perekonomian
Juta Rupiah Persen Juta Rupiah Persen Juta Rupiah Persen 1. Pertanian -1.374.838 -17,23 815.218 9,38 -395.443 -4,91 2. Pertambangan dan
Penggalian -210.318 -5,66 229.778 7,20 -535.072 -17,12
3. Industri
Pengolahan 1.713.604 13,54 1.325.328 5,56 -282.415 -1,20 4. Listrik, Gas dan
Air Bersih 194.479 22,74 460.294 34,74 39.793 1,92
5. Bangunan 511.725 20,77 -950.672 -26,27 157.890 7,77
6. Perdag, Hotel dan
Restoran 13.442 0,16 -701.256 -5,51 256.721 2,46 7. Pengangkutan dan Komunikasi 48.769 2,27 117.147 3,57 762.188 23,58 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 86.915 4,24 -627.836 -19,97 116.483 4,28 9. Jasa-jasa -682.906 -15,74 451.348 8,42 -187.032 -3,52 Total 300.871 0,67 1.119.348 1,72 -66.887 -0,11 Sumber : Lampiran 7
Sektor perekonomian yang memiliki laju pertumbuhan yang paling lambat berada pada sektor pertanian yakni sebesar -17,23 persen. Pada masa krisis hampir seluruh sektor perekonomian memiliki nilai PP yang positif. Sektor perekonomian yang memiliki PP positif adalah sektor listrik, gas dan air bersih, sektor pertanian, sektor jasa-jasa, sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan serta sektor pengangkutan dan komunikasi. Sedangkan sektor yang memiliki nilai PP negatif adalah sektor bangunan, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan serta sektor perdagangan hotel dan restoran.
Setelah krisis, sektor industri pengolahan mengalami pergeseran yang cukup signifikan dari sektor yang memiliki pertumbuhan cepat sebelum krisis (13,54 persen) menjadi pertumbuhan lambat (-1,20 persen) setelah krisis. Sektor
industri pengolahan mengalami pertumbuhan yang lambat disebabkan bahan baku yang digunakan sebagian besar masih berasal dari impor sehingga biaya produksinya tinggi. Pergeseran yang cukup signifikan juga terjadi pada sektor bangunan, dari sektor yang memiliki laju pertumbuhan lambat pada saat krisis (-26,27 persen) menjadi sektor yang memiliki pertumbuhan yang cepat setelah krisis (7,77 persen).
Kemampuan daya saing suatu sektor ekonomi dibandingkan dengan sektor ekonomi di wilayah lainnya disebut sebagai Pertumbuhan Pangsa Wilayah (PPW). Apabila PPW bernilai positif maka dapat dikatakan bahwa sektor ekonomi tersebut dapat berdaya saing baik, sebaliknya apabila PPW bernilai negatif berarti sektor ekonomi tersebut tidak dapat bersaing dengan baik apabila dibandingkan dengan wilayah lain.
Pengaruh daya saing merupakan komponen ketiga dari perubahan PDRB di Jawa Barat yang tidak setara dengan perubahan nasional, menyebabkan secara keseluruhan PDRB Jawa Barat sebelum krisis ekonomi meningkat sebesar 10,91 persen, pada saat terjadi krisis dan setelah krisis ekonomi PDRB Jawa Barat menurun sebesar (-7,30 ; -0,37 persen), lihat Tabel 5.6. Hal ini berarti sebelum terjadi krisis secara umum sektor perekonomian di Jawa Barat memiliki daya saing yang baik terhadap wilayah lainnya. Sedangkan pada saat dan setelah krisis ekonomi, sektor perekonomian di Jawa Barat tidak dapat berdaya saing baik dengan sektor ekonomi di wilayah lainnya.
75
Tabel 5.6. Analisis Shift Share Menurut Sektor Perekonomian di Provinsi Jawa Barat Berdasarkan Komponen Pangsa Wilayah
PPWiJawa Barat
Sebelum Krisis Ekonomi Pada Masa Krisis Ekonomi Setelah Krisis Ekonomi Sektor Perekonomian
Juta Rupiah Persen Juta Rupiah Persen Juta Rupiah Persen
1. Pertanian 300.089 3,76 -604.604 -6,96 -499.887 -6,21
2. Pertambangan dan
Penggalian -830.570 -22,35 10.731 0,34 -470.649 -15,06
3. Industri Pengolahan 3.687.736 29,15 -1.080.748 -4,53 116.443 0,49 4. Listrik, Gas & Air
Bersih -127.643 -14,92 199.652 15,07 -9.030 -0,44
5. Bangunan -198.993 -8,07 -613.668 -16,96 318.251 15,66
6. Perdag, Hotel &
Restoran 1.257.139 14,95 -1.794.962 -14,11 -262.733 -2,52
7. Pengangkutan &
Komunikasi 317.286 14,80 -344.853 -10,50 -657.658 -20,35
8. Keuangan,
Persewaan dan Jasa
Perusahaan 142.442 6,95 112.013 3,56 14.869 0,55
9. Jasa-jasa 319.408 7,36 -643.788 -12,01 1.225.159 23,05
Total 4.866.894 10,91 -4.760.226 -7,30 -225.234 -0,37
Sumber : Lampiran 8
Adapun sektor ekonomi yang mengalami pergeseran daya saing yang cukup signifikan dari sektor yang memiliki daya saing baik sebelum krisis menjadi tidak berdaya saing pada saat krisis adalah sektor industri pengolahan (29,15 persen menjadi -4,53 persen), akan tetapi setelah krisis sektor tersebut mampu bersaing kembali dengan baik terhadap wilayah lainnya (0,49 persen). Membaiknya daya saing dari sektor industri pengolahan setelah krisis, adalah karena mulai stabilnya kondisi perekonomian maka harga barang-barang pun mulai stabil sehingga biaya produksi dari sektor industri pengolahan yang sebagian bahan bakunya berasal dari impor menjadi turun.
Setelah krisis sektor pertanian memiliki daya saing yang kurang baik disebabkan oleh rendahnya dukungan kelembagaan pemerintah. Hal ini dikarenakan kelembagaan yang ada lebih terfokus pada sektor yang memberikan kontribusi yang besar terhadap pembentukan PDRB Jawa Barat, beralihnya lahan pertanian menjadi non pertanian. Sektor yang juga mengalami pergeseran
kemampuan daya saing yang cukup signifikan dari tidak dapat bersaing dengan baik menjadi dapat bersaing dengan baik setelah krisis ekonomi adalah sektor bangunan. Faktor penyebab membaiknya daya saing pada sektor bangunan adalah semakin membaiknya bisnis properti serta akses pasar yang ditunjang oleh membaiknya sarana dan prasana sosial ekonomi, meningkatnya permintaan pemukiman penduduk, pusat perbelanjaan, gedung-gedung bertingkat dan sarana penunjang ekonomi lainnya.
5.4. Pergeseran Bersih dan Profil pertumbuhan Sektor-sektor