• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Teknik Analisis Shift Share

Analisis shift share pertama kali diperkenalkan oleh Perloft et all pada tahun 1960. Pada awalnya, analisis shift share digunakan untuk mengidentifikasikan sumber pertumbuhan ekonomi wilayah di Amerika Serikat. Selain itu analisis shift share juga digunakan untuk mengidentifikasi pertumbuhan sektor-sektor/ wilayah yang lambat di Indonesia dan Amerika Serikat. Manfaat lain dari analisis shift share dapat menduga dampak kebijakan wilayah ketenagakerjaan.

Menurut Glasson (1978), tiga kegunaan analisis shift share adalah untuk melihat perkembangan : (1) sektor perekonomian disuatu wilayah terdapat perkembangan ekonomi wilayah yang lebih luas, (2) sektor-sektor perekonomian jika dibandingkan secara relatif dengan sektor-sektor lainnya, dan (3) suatu

21

wilayah dibandingkan dengan wilayah lainnya, sehingga dapat membandingkan besarnya aktifitas suatu sektor pada wilayah tertentu dan pertumbuhan antar wilayah. Dengan demikian, dapat ditunjukkan adanya shift (pergeseran) hasil pembangunan perekonomian daerah, bila daerah itu memperoleh kemajuan sesuai dengan kedudukannya dalam perekonomina nasional.

Pada Gambar 2.1, analisis shift share menunjukkan bahwa perubahan sektor i pada wilayah j dipengaruhi oleh tiga komponen pertumbuhan wilayah. Ketiga komponen pertumbuhan tersebut yaitu : komponen pertumbuhan nasional (PN), komponen pertumbuhan proporsional (PP) dan komponen pertumbuhan pangsa wilayah (PPW). Berdasarkan tiga komponen pertumbuhah wilayah tersebut dapat ditentukan dan diidentifikasikan perkembangan suatu sektor ekonomi pada suatu wilayah. Apabila PP + PPW ≥ 0, maka disimpulkan bahwa pertumbuhan sektor ke i di wilayah ke j termasuk kedalam kelompok progresif (maju). Sedangkan jika PP + PPW < 0 maka pertumbuhan sektor ke i pada wilayah ke j dikategorikan pertumbuhan lambat.

Sumber : Budiharsono, 2001

Gambar 2.1. Model Analisis Shift Share Komponen Pertumbuhan Nasional

Wilayah ke j sektor ke i Wilayah ke j sektor i Maju PP+PPW≥ 0 Lamban PP+PPW < 0 Komponen Pertumbuhan Proporsional Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah

Dalam rangka melihat perkembangan sektor-sektor perekonomian. Teknik analisis shift share dibagi kedalam tiga analisis. Ketiga analisis tersebut antara lain analisis PDRB dan PDB. Analisis komponen pertumbuhan wilayah serta analisis profil pertumbuhan dan pergeseran bersih sektor-sektor perekonomian.

Analisis PDRB dan PDB digunakan untuk melihat pertumbuhan PDRB dan PDB masing-masing sektor ekonomi. Sedangkan analisis komponen pertumbuhan wilayah dapat digunakan untuk mengetahui perkembangan sektor- sektor perekonomian di suatu wilayah. Profil pertumbuhan dan pergeseran bersih sektor-sektor perekonomian digunakan untuk mengidentifikasikan pertumbuhan suatu sektor dalam suatu wilayah tertentu.

2.4.1. Kelebihan-kelebihan Analisis Shift Share

Menurut Soepono (1993), analisis shift share memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan analisis lain, yaitu :

1). Analisis shift share dapat melihat perkembangan produksi atau kesempatan kerja di suatu wilayah hanya pada dua titik waktu tertentu, yang mana suatu titik waktu dijadikan sebagai dasar analisis, sedangkan satu titik waktu lainnya dijadikan sebagai akhir analisis.

2). Perubahan indikator kegiatan ekonomi di suatu wilayah antara tahun dasar analisis dengan tahun akhir analisis dapat dilihat melalui tiga komponen pertumbuhan wilayah, yakni komponen pertumbuhan nasional (PN), komponen pertumbuhan proporsional (PP) dan komponen pertumbuhan pangsa wilayah (PPW).

23

3). Berdasarkan komponen PN, dapat diketahui laju pertumbuhan ekonomi suatu wilayah dibandingkan laju pertumbuhan nasional.

4). Komponen PP, dapat digunakan untuk mengetahui pertumbuhan sektor-sektor perekonomian di suatu wilayah. Hal ini berarti bahwa suatu wilayah dapat mengadakan spesialisasi di sektor-sektor yang berkembang secara nasional dan bahwa sektor-sektor dari perekonomian wilayah telah berkembang lebih cepat daripada rata-rata nasional untuk sektor-sektor itu.

5). Komponen PPW, dapat digunakan untuk melihat daya saing sektor-sektor ekonomi dibandingkan dengan sektor ekonomi pada wilayah lainnya.

6). Jika persentase PP dan PPW dijumlahkan, maka dapat ditunjukkan adanya shift (pergeseran) hasil pembangunan perekonomian daerah.

2.4.2. Kelemahan-kelemahan Analisis Shift Share

Menurut Soepono (1993), analisis shift share juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu :

1. Analsis shift share tidak lebih daripada suatu teknik pengukuran atau prosedur baku untuk mengurangi pertumbuhan suatu variabel wilayah menjadi komponen-komponen. Persamaan shift share hanyalah identity equation dan tidak mempunyai implikasi-implikasi keprilakuan. Metode shift share tidak untuk menjelaskan mengapa, misalnya pengaruh keunggulan kompetitif adalah positif di beberapa wilayah, tetapi negatif di daerah lain. Metode shift share merupakan teknik pengukuran yang mencerminkan suatu perhitungan semata dan tidak analitik.

2. Komponen pertumbuhan nasional secara implisit mengemukakan bahwa laju pertumbuhan suatu wilayah hendaknya tumbuh pada laju nasional tanpa memperhatikan sebab-sebab laju pertumbuhan wilayah.

3. Kedua komponen pertumbuhan wilayah (PP dan PPW ) berkaitan dengan hal- hal yang sama seperti perubahan penawaran dan permintaan, perubahan teknologi dan perubahan lokasi, sehingga tidak dapat berkembang dengan baik.

4. Teknik analisis shift share secara implisit mengambil asumsi bahwa semua barang dijual secara nasional, padahal tidak semua demikian. Bila pasar suatu wilayah bersifat lokal, maka barang itu tidak dapat bersaing dengan wilayah lain yang menghasilkan barang yang sama sehingga tidak mempengaruhi permintaan agregat.

2.4.3. Analisis PDRB dan PDB

Konsep analisis PDRB digunakan untuk mengetahui pertumbuhan PDRB suatu sektor pada suatu wilayah tertentu. Adapun konsep analisis PDRB terbagi atas perubahan PDRB dan persentase perubahan PDRB. Perubahan PDRB didasarkan kepada selisih antara PDRB suatu sektor pada tahun akhir analisis dengan PDRB suatu sektor tahun dasar analisis.

PDRB di bagi dua yaitu: PDRB atas dasar harga berlaku dan PDRB atas dasar harga konstan. PDRB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada setiap tahun. Sedangkan PDRB atas dasar harga konstan menggambarkan nilai tambah barang dan jasa

25

tersebut berdasarkan harga pada suatu tahun tertentu (tahun dasar), dalam perhitungan ini digunakan tahun 1993 sebagai tahun dasar.

Metode penghitungan PDRB dibagi menjadi dua cara, yaitu : 1. Metode Penghitungan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku

Penghitungan PDRB atas dasar harga berlaku ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :

1). Metode Langsung

Pada penghitungan metode langsung ini dilakukan pendekatan produksi, pendekatan pendapatan, dan pendekatan pengeluaran. Dari ketiga pendekatan tersebut akan memberikan hasil yang sama.

2). Metode Tidak Langsung

Dalam metode ini, nilai tambah disuatu wilayah region diperoleh dengan mengalokasikan nilai tambah suatu kegiatan ekonomi nasional ke dalam masing-masing kegiatan ekonomi pada tingkat regional dengan menggunakan indikator yang mempunyai pengaruh paling erat dengan kegiatan ekonomi tersebut.

2. Metode Penghitungan PDRB Atas Dasar Harga Konstan

Ada empat cara yang untuk menghitung nilai tambah bruto (NTB) atas dasar harga konstan :

1). Revaluasi

Metode ini dilakukan dengan cara menilai produksi dan biaya antara masing-masing tahun dengan harga pada tahun dasar. Hasilnya merupakan

output dan biaya antara atas dasar harga konstan. Selanjutnya NTB atas dasar harga konstan, diperoleh dari selisih antara output dan biaya antara. 2). Ekstrapolasi

Nilai tambah masing-masing tahun atas dasar harga konstan diperoleh dengan cara mengalikan nilai tambah pada tahun dasar dengan indeks produksi. Indeks produksi sebagai ekstrapolator dapat merupakan indeks dari maisng-masing produksi yang dihasilkan ataupun indeks dari berbagai indikator produksi misalnya tenaga kerja, jumlah perusahaan dan lainnya, yang dianggap cocok dengan jenis kegiatan yang dihitung. Ekstrapolasi dapat juga dilakukan terhadap penghitungan output atas dasar harga konstan. Kemudian dengan menggunakan rasio tetap nilai tambah terhadap output akan diperoleh perkiraan nilai tambah atas dasar harga konstan.

3). Deflasi

Nilai tambah atas dasar harga konstan diperoleh dengan cara membagi nilai tambah atas dasar harga yang berlaku masing-masing tahun dengan indeks harga. Indeks harga yang digunakan sebagai deflator biasanya merupakan Indeks Harga Konsumen (IHK), Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) dan sebagainya. Indeks harga diatas dapat pula dipakai sebagai inflator dalam keadaan dimana nilai tambah atas dasar harga yang berlaku justru diperoleh dengan mengalikan nilai tambah atas dasar harga konstan dengan indeks harga tersebut.

27

4). Deflasi Berganda

Dalam deflasi berganda ini, yang dideflasi adalah output dan biaya antaranya, sedangkan nilai tambah diperoleh dari selisih antara output dan biaya antara hasil deflasi tersebut. Indeks harga yang digunakan sebagai deflator untuk penghitungan output atas dasar harga konstan biasanya merupakan indeks harga produsen atau indeks harga perdagangan besar sesuai dengan cakupan komoditinya. Sedangkan indeks harga untuk biaya antara adalah indeks harga dari komponen input terbesar.

Konsep analisis PDB pada dasarnya merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu negara tertentu, atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi. PDB dibagi dua, yaitu : PDB atas dasar harga berlaku dan PDB atas dasar harga konstan. PDB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada setiap tahun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa tersebut yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada satu tahun tertentu sebagai dasar.

Untuk menghitung angka-angka PDB ada tiga pendekatan yang dapat digunakan, yaitu :

1). Pendekatan Produski

PDB adalah jumlah nilai tambah atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu negara dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Unit-unit produksi tersebut dikelompokkan menjadi 9

lapangan usaha (sektor). Setiap sektor tersebut dirinci lagi menjadi sub-sub sektor.

2). Pendekatan Pendapatan

PDB merupakan jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi di suatu negara dalam jangka waktu tertentu. Balas jasa faktor produksi yang dimaksud adalah upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal dan keuntungan; semuanya sebelum dipotong pajak penghasilan dan pajak langsung lainnya. Dalam definisi ini, PDB mencakup juga penyusutan dan pajak tidak langsung neto (pajak tak langsung dikurangi subsidi).

3). Pendekatan Pengeluaran

PDB adalah semua komponen permintaan akhir yang terdiri dari : (1) pengeluaran konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta nirlaba, (2) pengeluaran konsumsi pemerintah, (3) pembentukan modal tetap domestik bruto, (4) perubahan inventori, dan (5) ekspor neto (ekspor neto merupakan ekspor dikurangi impor).

Secara konsep ketiga pendekatan tersebut akan menghasilkan angka yang sama. Jadi, jumlah pengeluaran akan sama dengan jumlah barang dan jasa akhir yang dihasilkan dan harus sama pula dengan jumlah pendapatan untuk faktor- faktor produksi. PDB yang dihasilkan dengan cara ini disebut sebagai PDB atas dasar harga pasar, karena di dalamnya sudah dicakup pajak tak langsung neto.

29

2.4.4. Rasio PDRB dan PDB (nilai ri, Ra dan Ri)

Rasio PDRB digunakan untuk mengidentifikasikan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Sedangkan rasio PDB dimanfaatkan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi secara nasional. Rasio PDRB maupun PDB terbagi atas nilai ri, Ra dan Ri.

Nilai ri menunjukkan selisih antara PDRB dari sektor i pada wilayah j pada tahun akhir analisis dengan PDRB dari sektor i pada wilayah j pada tahun dasar analisis dibagi dengan PDRB dari sektor i pada wilayah tertentu pada tahun dasar analisis. Nilai Ra menunjukkan selisih antara PDB nasional pada tahun akhir analisis dengan PDB tahun dasar analisis dibagi PDB tahun dasar analisis. Sedangkan Ri menunjukkan selisih antara PDB tahun akhir analisis dari sektor i dengan PDB tahun dasar analisis dari sektor i dibagi PDB tahun dasar analisis dari sektor i.

2.4.5. Analisis Komponen Pertumbuhan Wilayah

Analisis komponen pertumbuhan wilayah digunakan untuk mengidentifikasikan bagaimana perkembangan suatu sektor pada wilayah yang bersangkutan dan mengidentifikasikan bagaimana perkembangan suatu wilayah/ sektor yang bersangkutan jika dibandingkan dengan wilayah/ sektor lainnya. Konsep ini dirumuskan berdasarkan tiga komponen wilayah yaitu : komponen pertumbuhan nasional (PN), komponen pertumbuhan proporsional (PP) dan komponen pertumbuhan pangsa wilayah (PPW).

2.4.6. Profil Pertumbuhan Sektor Perekonomian

Profil pertumbuhan sektor perekonomian digunakan untuk mengevaluasi pertumbuhan sektor perekonomian disuatu wilayah yang bersangkutan pada kurun waktu yang telah ditentukan, dengan cara mengekspresikan persen perubahan komponen pertumbuhan proporsional (PPij) dan pertumbuhan pangsa wilayah (PPWij). Pada sumbu horizontal, terdapat PP sebagai absis, sedangkan pada sumbu vertikal terdapat PPW sebagai ordinat.

Kuadran IV Kuadran I

PP

Kuadran III Kuadran II

PPW

Sumber : Budiharsono, 2001

Gambar 2.2. Profil Pertumbuhan Sektor Perekonomian

(i) Kuadran I menunjukkan bahwa sektor-sektor di wilayah yang bersangkutan memiliki pertumbuhan yang cepat, demikian juga daya saing wilayah untuk sektor-sektor tersebut baik apabila dibandingkan dengan wilayah-wilayah lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa wilayah yang bersangkutan merupakan wilayah progresif (maju).

(ii) Kuadran II menunjukkan bahwa sektor-sektor ekonomi yang ada di wilayah yang bersangkutan pertumbuhannya cepat, tetapi daya saing wilayah untuk sektor-sektor tersebut dibandingkan dengan wilayah lainnya tidak baik.

31

(iii) Kuadran III menunjukkan bahwa sektor-sektor ekonomi di wilayah yang bersangkutan memiliki pertumbuhan yang lambat dengan daya saing yang kurang baik jika dibandingkan dengan wilayah lain. Hal ini menunjukkan bahwa wilayah yang bersangkutan merupakan wilayah lamban.

(iv) Kuadran IV menunjukkan bahwa sektor-sektor ekonomi pada wilayah yang bersangkutan memiliki pertumbuhan yang lambat, tetapi daya saing wilayah untuk sektor-sektor tersebut baik jika dibandingkan dengan wilayah lainnya. (v) Pada kuadran II dan kuadran IV terdapat garis miring yang membentuk

sudut 450 dan memotong kedua kuadran tersebut. Bagian atas garis tersebut menunjukkan bahwa wilayah yang bersangkutan merupakan wilayah yang progresif (maju), sedangkan dibawah garis berarti wilayah yang bersangkutan menunjukkan wilayah yang lamban.