V. ANALISIS PERTUMBUHAN SEKTOR-SEKTOR PEREKONOMIAN
5.4. Pergeseran Bersih dan Profil pertumbuhan Sektor-sektor
Krisis Ekonomi (1993-1996, 1997-2001, dan 2002-2005)
Nilai Pergeseran Bersih (PB) merupakan penjumlahan antara PP dan PPW. Apabila hasil penjumlahan tersebut bernilai positif, dapat dikatakan bahwa pertumbuhan sektor perekonomian tersebut di Jawa Barat tergolong kedalam kelompok progresif. Nilai Pergeseran Bersih (PB) yang negatif mengidentifikasikan bahwa pertumbuhan sektor perekonomian pada wilayah Jawa Barat termasuk lamban.
Berdasarkan Tabel 5.7, secara keseluruhan nilai PB Provinsi Jawa Barat sebelum krisis memiliki pertumbuhan yang progresif sebesar Rp 5.167.766 juta (11,59 persen). Sedangkan pada saat krisis dan setelah krisis Provinsi Jawa Barat tergolong kedalam kelompok pertumbuhan lamban yakni sebesar (Rp-3.640.878 juta (-5,59 persen) ; Rp-292.121 juta (-0,48 persen). Sektor Bangunan merupakan sektor yang mengalami pergeseran cukup signifikan dari progresif sebelum krisis (12,69 persen) menjadi lamban pada saat krisis (-43,22 persen) dan kemudian setelah krisis kembali memiliki daya saing baik (23,43 persen).
77
Tabel 5.7. Pergeseran Bersih Provinsi Jawa Barat Sebelum, Pada Masa, dan Setelah Krisis Ekonomi
PBiJawa Barat
Sebelum Krisis Ekonomi Pada Masa Krisis Ekonomi Setelah Krisis Ekonomi Sektor Perekonomian
Juta Rupiah Persen Juta Rupiah Persen Juta Rupiah Persen
1. Pertanian -1.074.748 -13,47 210.614 2,42 -895.330 -11,13
2. Pertambangan dan
Penggalian -1.040.888 -28,01 240.509 7,54 -1.005.721 -32,17
3. Industri Pengolahan 5.401.340 42,69 244.579 1,03 -165.971 -0,70
4. Listrik, Gas dan Air
Bersih 66.836 7,81 659.945 49,81 30.763 1,48 5. Bangunan 312.732 12,69 -1.564.340 -43,22 476.141 23,43 6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 1.270.581 15,11 -2.496.218 -19,62 -6.011 -0,06 7. Pengangkutan dan Komunikasi 366.055 17,07 -227.706 -6,93 104.530 3,23 8. Keuangan,
Persewaan dan Jasa
Perusahaan 229.357 11,20 -515.823 -16,41 131.352 4,83
9. Jasa-jasa -363.498 -8,38 -192.439 -3,59 1.038.127 19,53 Total 5.167.766 11,59 -3.640.878 -5,59 -292.121 -0,48
Sumber : Lampiran 9
Selain itu ada juga sektor perekonomian yang mengalami pergeseran nilai PB yaitu sektor jasa-jasa dari sektor yang termasuk dalam kelompok pertumbuhan lamban baik sebelum maupun pada saat krisis (-8,38 ; -3,59 persen) menjadi sektor yang termasuk dalam kelompok pertumbuhan progresif setelah krisis (19,53 persen).
Profil pertumbuhan sektor perekonomian digunakan untuk mengevaluasi pertumbuhan sektor perekonomian dengan cara mengekspresikan persen perubahan PPij dan PPWij. Persentase PP diletakkan pada sumbu horizontal sebagai absis, sedangkan persentase PPW diletakkan pada sumbu vertikal sebagai ordinat. Profil pertumbuhan Provinsi Jawa Barat sebelum krisis, pada masa krisis dan setelah krisis ekonomi dapat di lihat pada Gambar 5.1.
Pada masa sebelum terjadi krisis ekonomi, di Provinsi Jawa Barat terlihat bahwa sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor keuangan dan jasa perusahaan berada
pada kuadan I. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor-sektor perekonomian tersebut merupakan sektor yang memiliki pertumbuhan yang cepat disertai daya saing yang baik dibandingkan dengan sektor ekonomi di wilayah lainnya. Sektor industri pengolahan dapat berdaya saing dengan baik karena hampir disebagian wilayah pembangunan di Jawa Barat sektor industri pengolahannya berkembang dengan pesat, selain itu juga karena besarnya pangsa pasar penjualan hasil produksinya. Sedangkan untuk sektor perdagangan, hotel dan restoran memiliki daya saing baik dan pertumbuhan cepat disebabkan, meningkatnya jumlah kunjungan wisata ke Jawa Barat sehingga meningkatkan kontribusi dari sub sektor hotel dan sub sektor restoran. Sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan memiliki pertumbuhan cepat dan daya saing baik, karena kondisi Jawa Barat yang strategis sebagai wilayah hinterland
Jakarta sehingga sarana dan prasarana yang ada berkembang dengan baik.
Sektor yang termasuk ke dalam kuadran II adalah sektor bangunan dan sektor listrik, gas dan air bersih. Hal ini menunjukkan bahwa keduaa sektor tersebut memiliki pertumbuhan yang cepat, akan tetapi tidak dapat bersaing baik dengan sektor ekonomi di wilayah lainnya. Sektor bangunan tidak berdaya saing baik karena sebagian besar bahan bakunya berasal dari impor sehingga keunggulan komparatif di Provinsi Jawa Barat tidak tersedia. Sedangkan sektor listrik, gas dan air bersih memiliki pertumbuhan yang baik karena produk akhir dari sektor tersebut merupakan kebutuhan pokok masyarakat, sedangkan daya saingnya kurang baik disebabkan alat-alat produksi yang digunakan sebagian besar masih berasal dari impor sehingga keunggulan komparatif di Jawa Barat
79
tidak tersedia. Meskipun kedua sektor tersebut memiliki daya saing yang kurang baik, akan tetapi kedua sektor tersebut termasuk kedalam kelompok pertumbuhan yang progresif karena memiliki nilai PB yang positif.
Sektor perekonomian di Jawa Barat yang memiliki pertumbuhan yang lamban dan daya saing yang kurang baik dibandingkan dengan sektor ekonomi di wilayah lainnya adalah sektor pertambangan dan penggalian. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor pertambangan dan penggalian berada pada kuadran III. Pertumbuhan lambat yang tejadi pada sektor pertambangan dan penggalian, diduga penyebabnya adalah karena terbatasnya SDA barang tambang dan galian yang terdapat di Provinsi Jawa Barat (lihat lampiran 10) serta rendahnya pembiayaan atau kredit dari sektor perbankan. Sedangkan daya saing baik disebabkan karena meningkatnya permintaan bahan baku dari sektor listrik, gas dan air bersih sehingga produkstivitas dari sektor pertambangan dan penggalian meningkat.
Sektor yang berada pada kuadran IV ditempati oleh sektor pertanian dan sektor jasa-jasa.. Hal ini menunjukkan bahwa kedua sektor tersebut merupakan sektor yang memiliki daya saing baik dengan sektor ekonomi di wilayah lainnya meskipun pertumbuhan sektor tersebut lambat. Sektor pertanian memiliki daya saing yang baik karena Jawa Barat memiliki lahan subur yang berasal dari endapan vulkanis dan aliran sungai, sehingga kualitas produk yang dihasilkan cukup baik. Selain itu juga pada sektor pertanian tidak terdapat komponen impor sehingga produk yang dihasilkan mampu bersaing dengan baik di dalam negeri. Sedangkan pertumbuhannya lambat disebabkan oleh kurangnya sumber dana atau
rendahnya kredit dari sektor perbankan . Selain itu juga mulai berkurangnya minat masyarakat terhadap sektor pertanian karena sektor tersebut tidak menjanjikan pendapatan yang memadai dibandingkan dengan sektor industri.
Pada saat krisis, sektor perekonomian di Jawa Barat yang menempati kuadran I adalah sektor listrik, gas dan bersih dan sektor pertambangan dan penggalian. Hal ini mengindiaksikan bahwa kedua sektor tersebut memiliki daya saing baik dan pertumbuhan yang cepat. Sektor listrik, gas dan air bersih mampu berdaya saing baik dan memiliki pertumbuhan yang cepat pada saat krisis, disebabkan karena tidak terpengaruhnya tingkat penggunaan oleh rumah tangga karena produk dari sektor tersebut merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan sektor pertambangan dan penggalian memiliki pertumbuhan yang cepat dan daya saing baik disebabkan karena meningkatnya permintaan bahan baku dari sektor listrik, gas dan air bersih.
Sektor perekonomian yang menempati kuadran II adalah sektor industri pengolahan, sektor pertanian, sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor jasa-jasa. Hal ini menunjukkan bahwa sektor-sektor tersebut memiliki pertumbuhan cepat, akan tetapi kurang berdaya saing baik dengan sektor ekonomi di wilayah lainnya. Sektor industri pengolahan memiliki daya saing kurang baik disebabkan karena pada saat krisis harga barang-barang melambung tinggi sehingga menyebabkan biaya produksi sektor tersebut meningkat karena sebagian bahan baku dan alat-alat modalnya berasal dari impor. Namun sektor tersebut memiliki pertumbuhan yang cepat karena besarnya pangsa pasar penjualan hasil produksinya. Meskipun sektor pertanian dan sektor industri pengolahan memiliki
81
daya saing kurang baik, namun kedua sektor tersebut termasuk kedalam sektor yang progresif karena memiliki nilai PB yang positif.
Sektor yang menempati kuadran III, yang berarti bahwa sektor tersebut memiliki pertumbuhan lambat dan daya saing kurang baik adalah sektor perdagangan, hortel dan restoran serta sektor bangunan. Pada saat krisis sektor perdagangan, hotel dan restoran memiliki pertumbuhan lambat dan daya saing kurang baik disebabkan karena menurunnya jumlah kunjungan wisata di Jawa Barat yang merupakan imbas dari kondisi keamanan nasional yang kurang baik akibat terjadinya berbagai kerusuhan dan pergolakan sosial, terganggunya proses distribusi barang serta menurunnya daya beli masyarakat yang lebih mementingkan pemenuhan kebutuhan pokok yang melonjak tinggi. Sedangkan sektor bangunan memiliki pertumbuhan yang lambat dan daya saing kurang baik pada saat krisis, adalah karena meningkatnya suku bunga maka harga melambung tinggi dan berdampak pada meningkatnya harga barang-barang bangunan, sehingga menyebabkan daya beli masyarakat terhadap barang bangunan menurun. Selain itu juga disebabkan oleh menurunnya tingkat kepercayaan dari perbankan karena meningkatnya jumlah kredit macet dari para developer.
Sektor yang berada pada kuadran IV adalah sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan memiliki daya saing baik, akan tetapi memiliki pertumbuhan yang lambat. Faktor yang menyebabkan pertumbuhan lambat pada sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan adalah karena menurunnya kontribusi dari sub sektor pendukungnya. Menurunnya kontribusi dari sub sektor keuangan,
persewaan dan jasa perusahaan disebabkan karena terdepresiasinya nilai tukar rupiah sehingga meningkatnya suku bunga. Selain itu juga karena lesunya atau memburuknya kondisi dunia usaha akibat gejolak ekonomi yang terjadi pada perekonomian nasional.
Pada masa setelah krisis di Provinsi Jawa Barat, terlihat bahwa sektor yang berada pada kuadran I adalah sektor bangunan dan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan. Hal ini mengindikasikan bahwa kedua sektor tersebut merupakan sektor yang memiliki pertumbuhan yang cepat disertai daya saing yang baik dibandingkan dengan sektor ekonomi di wilayah lainnya. Sektor bangunan sebelum krisis berada pada kuadran II dan pada saat krisis berada pada kuadran III, sedangkan setelah krisis berada pada kuadran I. Hal ini menunjukkan bahwa sektor bangunan mengalami pertumbuhan cepat dan daya saing yang baik, secara umum disebabkan oleh kondisi bisnis properti yang sudah mulai membaik sejak masa pemulihan ekonomi dan meningkatnya produktivitas dari sektor tersebut seiring dengan mengalirnya kredit dana perbankan serta meningkatnya permintaan akan pemukiman serta sarana ekonomi lainnya baik oleh pemerintah, swasta maupun perorangan.
Sektor yang berada pada kuadran II adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor listrik, gas dan air bersih, dan sektor pengangkutan dan komunikasi. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga sektor tersebut termasuk dalam sektor yang memiliki pertumbuhan cepat namun daya saing kurang baik jika dibandingkan dengan sektor ekonomi di wilayah lainnya. Pada masa sebelum krisis, sektor perdagangan, hotel dan restoran berada pada kuadran I dan pada saat
83
krisis di kaudran III, akan tetapi setelah krisis berada pada kuadran II. Hal ini menunjukkan bahwa setelah krisis, sektor tersebut mengalami peningkatan pertumbuhan disebabkan oleh menurunnya jumlah kunjungan wisata sehingga berdampak pada penurunan kontribusi sub sektor hotel dan restoran, selain itu juga terjadi penurunan nilai ekspor pada komoditi perdagangan. Sektor listrik, gas dan air bersih memiliki pertumbuhan cepat karena permintaan penggunaan daya oleh konsumen tidak berkurang meskipun tarif dasar listrik (TDL) dinaikkan karena produk dari sektor tersebut merupakan kebutuhan pokok masyarakat. Sedangkan sektor pengangkutan dan komunikasi memiliki pertumbuhan yang cepat, namun daya saing lambat disebabkan karena setelah krisis infrastruktur sudah mulai baik sehingga memperlancar mobilitas kegiatan sehari-hari masyarakat. Meskipun sektor pengangkutan dan komunikasi memiliki daya saing yang kurang baik, akan tetapi sektor tersebut termasuk kedalam kelompok yang progresif karena memiliki nilai PB yang positif.
Sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian berada pada kuadran III, yang berarti kedua sektor tersebut memiliki pertumbuhan yang lambat dan daya saing yang kurang baik. Pada saat krisis sektor pertanian memiliki pertumbuhan yang cepat, sedangkan setelah krisis sektor tersebut memiliki daya saing yang kurang baik dan pertumbuhan lamban. Hal ini disebabkan karena beralihnya lahan pertanian menjadi lahan non pertanian, yang diperkirakan mencapai 5 persen pertahunnya. Hal tersebut berdampak pada pengurangan SDA sehingga berakibat pada hasil produksi sektor pertanian di Jawa Barat tidak
mampu mencukupi permintaan pasar, selain itu juga disebabkan oleh rendahnya dukungan kelembagaan pemerintah.
Sedangkan sektor pertambangan dan penggalian berada pada kuadran III setelah krisis, padahal pada saat krisis sektor tersebut berada pada kuadran I. Hal ini menunjukkan baik bahwa setelah krisis ekonomi, sektor tersebut memiliki daya saing yang kurang baik dan pertumbuhan yang lamban. Faktor penyebabnya adalah karena terbatasnya jumlah sumber tambang dan galian yang terdapat di Jawa Barat, tingginya biaya produksi yang disebabkan naiknya harga alat-alat produksi yang berasal dari impor, serta rendahnya kredit yang mengalir pada sektor perbankan yang disebabkan oleh rendahnya tingkat kepercayaan sektor perbankan terhadap sektor tersebut, serta kegiatannya mengandung resiko tinggi sehingga para investor kurang berminat menanamkan modalnya pada sektor tersebut.
Setelah krisis sektor perekonomian yang berada pada kuadran IV adalah sektor jasa-jasa dan sektor industri pengolahan. Hal ini menunjukkan bahwa kedua sektor tersebut memiliki pertumbuhan lambat, akan tetapi mampu bersaing baik dengan wialayah lainnya. Secara umum penyebabnya adalah sudah mulai membaiknya struktur birokrasi pemerintahan dan swasta dalam perekonomian. Sedangkan lambatnya pertumbuhan pada sektor jasa-jasa disebabkan oleh meningkatnya impor tenaga ahli ke Indonesia sehingga sektor jasa-jasa mengalami pertumbuhan yang lambat. Sektor industri pengolahan mengalami pergeseran yang cukup signifikan dari sektor yang memiliki pertumbuhan cepat dan berada pada kuadran I sebelum krisis, menjadi sektor dengan pertumbuhan
85
lambat dan berada pada kuadran IV setelah krisis. Perubahan tersebut terjadi karena sebagian besar bahan baku yang digunakan masih berasal dari impor sehingga berakibat pada meningkatnya biaya produksi.
Berdasarkan semua uraian tersebut maka pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Barat jika dikorelasikan dengan Teori Pertumbuhan Rostow berada pada fase prasyarat untuk lepas landas (precondition for take-off). Fase ini merupakan fase yang diperlukan agar perkembangan ekonomi dapat lepas landas. Dasar pertimbangan Jawa Barat masuk kedalam fase prasyarat untuk lepas landas adalah dilihat dari ketergantungan wilayah Jawa Barat terhadap DKI Jakarta. Selain itu juga pemerintah daerah masih kurang memberikan perhatian pada fasilitas umum, pertanian dan perdagangan.