• Tidak ada hasil yang ditemukan

6.3. Keterkaitan antar Komponen Penunjang dengan komponen

7.1.2. Analisis Komponen SWOT

Analisis komponen SWOT terdiri dari analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang diperoleh dari analisis sistem agribisnis kedelai lokal pada bab sebelumnya dengan menggunakan Sistem Berlian Porter. Berikut ini akan dijelaskan apa saja yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman agribisnis kedelai lokal di Indonesia. Selanjutnya kita dapat merumuskan strategi untuk mengembangan dan meningkatkan dayasaing kedelai lokal di Indonesia berdasarkan analisis tiap komponen SWOT yang telah dilakukan.

1) Analisis Kekuatan

a) Usahatani kedelai lokal layak untuk diusahakan dan memberikan keuntungan secara finansial

Usahatani budidaya kedelai layak untuk diusahakan dan memberikan keuntungan secara finansial, tercermin dengan nilai R/C rasio sebesar 2,01 yang artinya untuk setiap biaya yang dikeluarkan petani sebesar satu rupiah maka petani tersebut memperoleh penerimaan sebesar 2,01. Hal ini menunjukan usahatani kedelai lokal layak untuk diusahakan karena nilai R/C rasionya lebih dari satu. Keuntungan finansial dan kelayakan usahatani kedelai ini tentunya menjadi kekuatan dalam pengembangan agribisnis kedelai lokal.

b) Kedelai lokal (tropis) memiliki masa panen yang lebih pendek dari kedelai impor (subtropis)

Tanaman kedelai di Indonesia umumnya telah berbunga pada umur 25-40 hari, pada saat tinggi tanaman baru mencapai 40-50 cm. Di wilayah subtropis, yang memiliki panjang hari 14-16 jam pada musim semi musim panas, tanaman kedelai baru berbunga setelah berumur 50-70 hari. Umur kedelai di Indonesia sangat genjah, berkisar antara 75-95 hari, sedang umur kedelai di daerah subtropis mencapai 150-160 hari. Hal ini menjadi kekuatan bagi pengembangan agribisnis kedelai lokal di Indonesia karena dengan umur panen kedelai lokal yang lebih pendek dibandingkan kedelai impor, diharapkan mampu menghasilkan kedelai lokal yang lebih banyak dibandingkan dengan kedelai impor yang usia panennya lebih panjang.

c) Kualitas kedelai varietas unggul lokal lebih baik dari kedelai impor Menurut (Balitbang 2008), di Indonesia sebagian besar kedelai digunakan untuk pembuatan tempe dan tahu. Bagi pengusaha tempe sendiri lebih menyukai tempe berbiji besar. Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan kedelai berbiji besar dengan bobot 14-17 gram/100 biji, mirip kedelai impor dengan bobot rata- rata 16 gram/100 biji. Varietas unggul kedelai berbiji besar tersebut diantaranya adalah Anjasmoro, Burangrang, Bromo, dan Argomulyo. Tempe yang dibuat dengan menggunakan ketiga varietas unggul kedelai nasional ini baik bobot, volume yang dimiliki sama dengan tempe yang dibuat dari kedelai impor, bahkan kandungan proteinnya lebih tinggi.

Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian telah menghasilkan galur harapan kedelai berbiji hitam dengan kadar protein lebih tinggi (43-44,6 persen bk) dan bobot biji besar (±14 g /100 biji). Kecap manis yang diolah dari galur harapan kedelai berbiji hitam ini berkadar protein relatif lebih tinggi dibanding kedelai berbiji kuning, sedangkan bobot, volume kecap relatif sama. Sedangkan untuk kedelai varietas Argopuro dan Gumitir dengan bobot biji masing-masing 15 gr dan 18 gr per 100 biji memiliki rendemen tempe 18 persen lebih tinggi dari kedelai impor. Badan Litbang Pertanian juga telah menghasilkan 12 varietas unggul dan satu galur harapan kedelai dengan kadar protein 40-44 persen bobot kering (bk), rendemen dan tekstur tahunya lebih baik dibanding kedelai impor yang kadar proteinnya hanya 35-37 persen bk. Kadar protein biji kedelai, terutama fraksi globulin, berkorelasi positif dengan bobot dan tekstur tahu, sedangkan bobot atau ukuran biji kedelai relatif tidak mempengaruhi mutu tahu. Beberapa hal diatas menjadikan kualitas kedelai lokal lebih baik dibandingkan dengan kedelai impor. Hal ini menjadi kekuatan kedelai lokal untuk bersaing dengan kedelai impor. Perbedaan kualitas kedelai lokal dan impor dapat dilihat pada Lampiran 5. Selain itu kedelai lokal memiliki varietas unggul yang mampu berproduksi lebih dari 2 ton/ha. Hal ini merupakan kekuatan yang dimiliki kedelai lokal untuk meningkatkan dayasaing dengan kedelai impor. Varietas unggul yang memiliki potensi produksi > 2 ton/ha dapat dilihat pada Lampiran 6.

d) Banyaknya industri pengolahan berbahan baku kedelai

Seiring dengan besarnya konsumsi kedelai maka industri pengolahan berbahan baku kedelai juga semakin berkembang. Pada Lampiran 4, terlihat banyaknya perusahaan pengolahan kedelai terutama untuk pengolahan tempe dan tahu. Industri pengolahan kedelai ini tersebar hampir di seluruh wilayah di Indonesia dan sebagian besar merupakan industri berskala kecil dan rumah tangga. Banyaknya industri pengolahan kedelai di Indonesia merupakan peluang pasar yang dapat dimanfaatkan bagi agribisnis kedelai lokal di Indonesia.

2) Analisis Kelemahan

a) Lahan yang digunakan untuk penanaman kedelai semakin sedikit

Berdasarkan data Direktorat Jendral Tanaman Pangan 2010, lahan bagi penanaman kedelai cenderung menurun. Pada tahun 1999 lahan kedelai sebesar 1.16 juta ha. Penurunan secara drastis terjadi pada tahun 2000 luas lahan menjadi sebesar 824.484 ha. Pada tahun 2009 lahan kedelai sebesar 722.931. Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya hal ini terjadi karena gairah petani kedelai yang terus menurun karena sulitnya bersaing dengan kedelai impor sehingga membuat petani beralih untuk menanam komoditi lainnya yang dinilai lebih menguntungkan.

b) Banyaknya petani yang tidak menggunakan benih yang dianjurkan

Berdasarkan wawancara dengan Kasi Aneka Kacang dan Umbi Direktorat

Perbenihan, petani kedelai kerap kali kesulitan dalam memperoleh benih kedelai yang diinginkan. Ketidaktersediaan benih yang diinginkan petani atau stok benih yang terbatas menjadi alasan sulitnya perolehan benih bagi para petani. Dalam hal ini seringkali benih kedelai yang tersedia dibalai benih tidak sesuai dengan jenis benih kedelai yang diinginkan oleh beberapa petani karena adanya keragaman penggunaan berbagai jenis benih kedelai lokal yang berbeda yang digunakan petani. Selain itu, stok benih yang ada seringkali terbatas karena balai benih membagi lahan untuk perbanyakan benih dengan tanaman pangan yang lain sehingga perbanyakan benih kedelai oleh balai benih terbatas oleh lahan yang tersedia di balai benih. Selain masalah ketersediaan, mahalnya harga benih berkualitas menjadi alasan banyaknya petani kedelai yang belum menggunakan benih berkualitas.

c) Penggunaan pupuk yang belum sesuai anjuran

Penggunaan pupuk di daerah-daerah bervariasi, sesuai dengan spesifikasi

lokasi. Kemampuan permodalan petani sangat menentukan petani dalam melaksanakan anjuran dosis pemupukan yang ideal. Pada kenyataannya, banyak petani yang belum menggunakan pupuk yang sesuai anjuran. Hal ini karena keterbatasan modal dan informasi pada petani serta harga pupuk yang dinilai cukup mahal. Untuk itu beberapa petani menanam kedelai sesudah penanaman padi. Hal ini dilakukan agar tanaman kedelai mendapatkan sisa-sisa pemupukan dari pertanaman sebelumnya. Selain itu pada beberapa daerah kerap kali terjadi kelangkaan pupuk, seperti yang terjadi di Kabupaten Garut dan Pasuruan. Hal ini tentu saja menghambat petani dalam penggunaan pupuk.

d) Gairah petani untuk melakukan budidaya kedelai menurun

Berdasarkan data Direktorat Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian 2004,

gairah petani untuk melakukan budidaya kedelai menurun drastis sejak tahun 1992. Hal tersebut antara lain disebabkan karena bercocok tanam kedelai dianggap tidak menguntungkan, dibandingkan apabila petani melakukan budidaya tanaman lain. Selain itu masuknya kedelai impor dengan harga murah dimana bea masuk impor sebesar nol persen membuat kedelai impor semakin deras masuk sehingga kedelai lokal sulit bersaing karena pada umumnya kedelai impor lebih murah bila dibandingkan dengan kedelai lokal. Kondisi inilah yang menyebabkan minat petani untuk menanam kedelai semakin rendah banyak petani beralih menanam komoditi lain seperti jagung, kacang tanah, kacang hijau dan lain-lain. e) Ketidakmampuan petani kedelai lokal dalam mengakses permodalan Hingga saat ini petani kedelai di Indonesia masih mengalami kesulitan modal. Padahal permodalan petani sangat menentukan petani dalam menghasilkan kedelai yang baik. Saat ini sumber permodalan petani untuk kegiatan usahatani kedelai berasal dari permodalan sendiri dan dari pembiayaan pemerintah yang digulirkan melalui program bantuan seperti bantuan Bantuan Langsung Benih Unggul dan Bantuan Langsung Pupuk. Namun bantuan ini masih jauh dari sempurna karena hingga saat ini masih banyak petani kedelai yang belum mendapatkan bantuan. Sebenarnya pemerintah telah memberikan bantuan kredit seperti KKPE. Namun pada prakteknya di lapangan para petani sulit mendapatkan

KKP-E. Melalui Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani), petani mengajukan pinjaman ke bank untuk mendapatkan KKP-E, namun pihak bank tetap meminta jaminan dari para petani. Hal yang sama juga terjadi pada pencairan KUR, yang bunganya sudah diturunkan. Dalam hal ini pihak bank meminta petani untuk menyediakan jaminan dan mendapatkan pendampingan serta bimbingan teknis dari Kementerian Pertanian. Bagi petani yang tidak memiliki agunan tentu saja pinjaman melalui KKP-E maupun KUR sulit untuk diperoleh. Sedangkan sebagian besar petani kedelai merupakan petani kecil yang rata-rata kekurangan modal dan tidak memiliki agunan. Hal inilah yang menjadi alasan sulitnya petani kedelai lokal dalam mengakses pinjaman modal. Keterbatasan permodalan petani

ini tentunya menghambat pengembangan agribisnis kedelai lokal di Indonesia.

f) Rendahnya kualitas kedelai lokal yang beredar di dalam negeri

Banyaknya petani kedelai lokal yang tidak menggunakan benih unggul

bermutu (benih asalan) dengan berbagai alasan baik karena kurangnya informasi maupun keterbatasan modal membuat mutu kedelai lokal yang dihasilkan rendah. Padahal penggunaan benih bermutu sangat menentukan kualitas kedelai yang dihasilkan. Hal ini menjadi penyebab rendahnya kualitas kedelai lokal yang beredar di dalam negeri.

g) Sistem tataniaga yang cenderung merugikan petani

Tataniaga semakin merugikan petani ketika LoI (Letter of Intent) pada 24

Juni 1998 dalam butir 16 menyebutkan pemerintah harus membebaskan tataniaga pangan termasuk kedelai dengan tarif bea masuk (BM) 0 persen, padahal sebelumnya tarif BM impor 20 persen (1997). Sejak saat itu, Bulog dan swasta mendapat peran sama dalam importasi dan pemasaran. Hal ini sangat merugikan petani kedelai lokal karena tidak adanya Bulog sebagai lembaga penstabil harga membuat harga kedelai yang beredar di dalam negeri menjadi tidak stabil. Selain

itu tanpa adanya lembaga yang membatasi, kedelai impor semakin deras masuk14.

       14

Anonim. 2008. Peran Bulog harus Permanen. http: //els.bappenas.go.id/ upload/ kliping /Peran%20bulog.pdf [diakses 15 April 2011]

h) Petani yang tergabung dalam kelompok tani masih terbatas

Menurut Dirjen Tanaman Pangan (2004), masih terbatasnya petani yang tergabung dalam kelompok tani membuat posisi tawar petani menjadi lemah. Padahal keberadaan kelompok tani bagi petani kedelai sendiri sangat besar. Hal ini ditunjukkan dengan masih terbatasnya petani yang menjual hasil panen secara berkelompok sehingga harga jual sangat ditentukan oleh pedagang pengumpul. 3) Analisis Peluang

a) Adanya lahan potensial untuk penanaman kedelai di Indonesia

Menurut data Direktorat Kacang-kacangan dan Umbi-umbian 2004, Indonesia memiliki potensi lahan penanaman kedelai dengan kriteria kesesuaian agroklimat yang cukup luas. Kedelai dapat ditanam hampir di seluruh lahan sawah dan lahan kering yang ada di wilayah Indonesia. Pada lahan kering kedelai dapat ditanam dengan melakukan penyesuaian waktu tanam dengan curah hujan. Lahan kering ini umumnya terdapat di Sumatera, NTB.

Terdapat 12 provinsi yang diidentifikasi masih tersedia lahan yang dapat diusahakan untuk usahatani kedelai seluas 12,9 juta ha. Di 12 provinsi (NAD, Sumbar, Jambi, Sumsel, Lampung, Jabar, Jateng, Jatim, Bali, Sulsel, Sultra dan NTB) terdapat 3,54 juta ha yang berpotensi tinggi 3 juta yang berpotensi sedang dan 5,46 juta ha yang berpotensi rendah. Disebutkan bahwa dari 12 provinsi yang telah dievaluasi, lahan yang berpotensi tinggi dan sedang untuk pengembangan

kedelai terdapat dipulau Jawa (Agus et al 2005) di dalam Pusat Penelitian dan

Pengembangan Tanaman Pangan (2007). Adanya lahan potensial yang dapat ditanami kedelai menjadi kekuatan bagi pengembangan agribisnis kedelai lokal di Indonesia.

b) Banyaknya penelitian pengembangan kedelai lokal yang sudah dilakukan dan diaplikasikan

Upaya pengembangan kedelai lokal di Indonesia didukung oleh berbagai penelitian yang dilakukan baik oleh lembaga penelitian seperti Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Batan Tenaga Atom Nasional (BATAN) maupun perguruan tinggi. Lembaga-lembaga tersebut mampu memberikan informasi yang berguna untuk mengembangkan agribisnis kedelai lokal di Indonesia. Hingga saat ini, Badan Penelitian Pertanian terus melakukan penelitian untuk menemukan

adalah telah dilepasnya 73 varietas unggul kedelai, dari jumlah tersebut 19 varietas unggul memiliki potensi produksinya antara 2,16 - 3,50 ton/ha. Ditemukannya varietas benih unggul tersebut tentunya sangat membantu pengembangan agribisnis kedelai lokal di Indonesia karena dapat meningkatkan produksi kedelai lokal sehingga memberikan peluang bagi agribisnis kedelai lokal di Indonesia agar semakin berkembang. Rincian varietas unggul dapat dilihat pada Lampiran 6.

c) Adanya dukungan KOPTI

KOPTI sebagai wadah yang menghimpun para pengusaha tahu tempe di Indonesia tidak hanya bertindak sebagai penyalur kedelai semata (tidak bersifat komersil) melainkan bertujuan untuk mensejahterakan anggotanya yaitu para pengusaha tempe dan dan tahu yang tergabung dalam KOPTI.

Keberadaan KOPTI sendiri sebagai perwujudan dari koperasi, mampu memberikan peluang untuk mendukung pengembangan agribisnis kedelai lokal di Indonesia. Karena KOPTI tidak hanya berperan sebagai penyalur yang membantu tataniaga kedelai lokal sendiri, keberadaan KOPTI juga membantu dalam akses permodalan bagi para anggotanya yaitu pengusaha tahu dan tempe. Diharapkan dengan semakin eksisnya peran KOPTI maka agribisnis kedelai lokal akan semakin berkembang.

d) Tingginya permintaan dalam negeri

Meskipun pertumbuhan permintaan kedelai di Indonesia berfluktuatif namun permintaan untuk kedelai dalam negeri tetap tinggi. Tingginya permintaan kedelai ini dapat dilihat dari besarnya defisit kedelai yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga dilakukan impor kedelai yang cukup tinggi. Tingginya permintaan kedelai juga disebabkan karena berbagai manfaat yang terdapat pada kedelai. Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya sebagian besar penduduk Indonesia mengkonsumsi berbagai makanan olahan kedelai seperti tempe dan tahu yang merupakan makanan turun temurun masyarakat Indonesia.

e) Harga kedelai dunia akan meningkat

Berdasarkan Penelitian yang dilakukan oleh (Sejati et al 2009),

membaiknya harga kedelai dunia membuat harga kedelai impor meningkat. Kondisi tersebut terjadi, karena adanya pencabutan terhadap subsidi harga kedelai di USA dan Brazil. Selain itu adanya pengalihan lahan kedelai menjadi jagung

yang digunakan untuk pembuatan biofuel yang secara teknis digunakan sebagai

bahan bakar minyak alternatif. Dalam hal ini tentu saja akan mengurangi stok kedelai dunia. Hal ini tentunya akan mempengaruhi pemenuhan kebutuhan kedelai Indonesia yang sebagian besar berasal dari impor. Dengan adanya kondisi tersebut merupakan peluang untuk meningkatkan produksi kedelai lokal, sehingga kedelai lokal mampu memenuhi kebutuhan kedelai di dalam negeri yang sebagian besar masih berasal dari impor.

f) Adanya program SL-PTT

Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman dan Sumber Daya Terpadu (SL-

PTT) merupakan sekolah lapang bagi petani. SL-PTT ini menerapkan berbagai teknologi usahatani melalui input produksi yang efisien menurut spesifik lokasi sehingga mampu menghasilkan produktivitas tinggi untuk menunjang peningkatan produksi secara berkelanjutan. Penerapan program SL-PTT kedelai, mampu meningkatkan produktivitas usahatani kedelai yang mengikuti SL-PTT ini. Produktivitas usahatani kedelai yang mengikuti SL-PTT dengan non SL-PTT sangat berbeda. Produktivitas usahatani kedelai SL-PTT lebih tinggi bila dibandingkan dengan non SL-PTT. Peningkatan produktivitas yang terjadi pada beberapa sentra kedelai yang mengikuti SL-PTT ini dapat dilihat pada Lampiran 7. Hal ini menunjukkan bahwa adanya program SL-PTT ini menjadi peluang dalam meningkatkan pengembangan agribisnis kedelai lokal di Indonesia.

g) Adanya dukungan kredit perbankan

Adanya dukungan kredit perbankan yang diberikan pemerintah untuk mendukung kegiatan usahatani bagi petani kedelai lokal, diantaranya adalah KKP-E (Kredit Ketahanan Pangan dan Energi) yang disalurkan melalui Bank Umum maupun Bank Pembangunan Daerah, KUR yang disalurkan melalui bank Mandiri, Syariah Mandiri, BNI, Bukopin, BRI, BTN sebesar 14,8 milyar. Untuk KUR sendiri, dari total kredit tersebut sektor pertanian termasuk kedelai

memperoleh sebesar 3,9 milyar, (26,6 persen) dengan penerima kredit sebanyak 613.780 orang atau rata-rata sebesar Rp6,45 juta per orang. Adanya bantuan pembiayaan yang disalurkan melaui perbankan ini dapat menjadi peluang untuk mengatasi masalah permodalan bagi para petani kedelai.

h) Adanya dukungan Dewan Kedelai

Dewan Kedelai merupakan lembaga yang memberikan masukan kepada

pemerintah untuk menetapkan kebijakan-kebijakan yang berguna bagi pengembangan agribisnis kedelai di Indonesia. Dewan Kedelai mampu memberikan peluang untuk mendukung pengembangan agribisnis kedelai lokal di Indonesia dari hulu hingga ke hilir. Diharapkan dengan adanya Dewan Kedelai ini masalah-masalah terkait kedelai nasional dapat teratasi serta dayasaing sistem agribisnis kedelai di Indonesia semakin meningkat.

i) Adanya LKMS di Indonesia

Pertumbuhan lembaga keuangan mikro syariah (LKMS) di Indonesia makin menunjukkan tren kemajuan yang signifikan. Dengan sasaran utama para pelaku usaha mikro dan super mikro yang umumnya berada di pedesaan, LKMS menjelma menjadi penggerak ekonomi rakyat kecil yang tangguh. Saat ini, terdapat sekitar tiga juta nasabah mikro yang memperoleh pembiayaan dari LKMS atau Baitul Mal wa Tamwil (BMT). Aset yang dikelola LKMS/BMT pun

sudah menyentuh angka Rp 3 triliun, dengan4.000 LKMS/BMT yang tersebar di

seluruh Indonesia. Meningkatnya aset BMT/LKMS membuktikan jika lembaga tersebut mampu menunjukkan diri sebagai lembaga yang handal dalam menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat, dimana mayoritas anggota dan nasabahnya adalah pelaku usaha berskala mikro yang selama ini tidak

diperhitungkan oleh perbankan sebagai sumber dana15.

j) Adanya balai benih

Sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah dalam menetapkan otonomi daerah, saat ini kewenangan pengelolaan balai benih telah diserahkan kepada masing-masing pemerintah daerah (Direktorat Jendral Tanaman Pangan 2005). Balai benih berfungsi untuk menyediakan benih-benih yang dibutuhkan petani       

15   Krisman Purwoko. 2010. BMT Indonesia Kelola Aset Rp 3 Triliun. http://bmt-link.co.id/bmt- Indonesia-kelola-aset-rp-3-triliun/ [diakses 12 April 2011] 

kedelai lokal. Balai benih sendiri terdapat di tingkat kecamatan, kabupaten maupun provinsi. Benih yang telah diperbanyak oleh balai benih disalurkan kepada para penangkar atau produsen benih. Setelah benih berada pada para penangkar atau produsen benih, benih disalurkan kepada petani atau melalui distributor kepada petani.

k) Adanya kemitraan dengan perusahaan swasta besar untuk mengembangkan kedelai lokal di Indonesia

Adanya kemitraan dengan perusahaan swasta besar. Dalam hal ini petani kedelai lokal memiliki kewajiban untuk menyediakan pasokan kedelai lokal dengan kualitas yang baik dan sesuai dengan permintaan industri mitra. Di lain sisi industri mitra memiliki kewajiban untuk menjamin pasar kedelai lokal yang dihasilkan serta memberi pinjaman modal bagi para petani kedelai lokal. Selain dari kedua pihak tersebut dukungan pemerintah untuk memfasilitasi kegiatan kemitraan tersebut penting dilakukan seperti dukungan infrastruktur atau menugaskan badan penelitian ataupun perguruan tinggi yang mampu memberikan masukan teknologi yang dapat menunjang kegiatan produksi.

Salah satu bentuk kemitraan dengan perusahaan swasta besar dilakukan

oleh perusahaan Unilever. Semakin berkembangnya produk kecap bango

dipasaran membuat PT Unilever sebagai pemilik kecap Bango membangun petani mitra untuk memenuhi kebutuhan pasokan kedelai hitam. Untuk menjamin ketersediaan bahan baku, PT Unilever Indonesia berkomitmen mengembangkan budidaya kedelai hitam di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan adanya kerjasama antara Unilever, Universitas Gajah Mada (UGM), dan petani di Yogyakarta. Kerjasama dengan pola kemitraan itu telah berhasil menemukan varietas kedelai hitam lokal bernama Kedelai Mallika. Saat ini benih Mallika telah dipergunakan petani yang mengikuti kemitraan dengan Unilever. Sejak program dirintis pada 2001, telah 5.000 petani dan 126 kelompok tani terlibat dalam kemitraan. Mereka tersebar di Bantul, Sleman, Nganjuk, Trenggalek, Madiun, Blitar, dan Jombang, serta beberapa daerah di Jawa Tengah. Pada 2005 total lahan mencapai 416,459

ha. Tahun 2006 meningkat menjadi 650 ha, dan 2007 sudah mencapai 1.800 ha16.

Dalam hal ini Unilever memberikan bantuan saprodi dan menjadi pembeli dari       

16

kedelai hitam yang dikembangkan. Pembinaan dilakukan oleh petugas lapang dari Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknologi Pertanian UGM Yogyakarta seperti yang dilakukan pada kabupaten Pacitan Jawa Timur. Apabila hal ini terus berlanjut tentunya, akan menjadi peluang bagi petani kedelai lokal untuk mengembangkan agribisnis kedelai lokal di Indonesia. Pengembangan kedelai hitam yang dilakukan PT Unilever dan UGM Yogyakarta, diharapkan mampu membangkitkan semangat petani, peneliti, dan pemerintah sekaligus industri dalam mengentaskan kemiskinan dan kebodohan dan mencegah ketergantungan impor kedelai dari negara lain.

4) Analisis Ancaman

a) Tingginya volume kedelai impor membuat persaingan antara kedelai lokal dan kedelai impor meningkat

Tingginya volume impor kedelai di Indonesia membuat semakin tingginya persaingan antara kedelai lokal dan kedelai impor. Tingginya volume impor ini ditunjukkan dengan volume impor yang semakin meningkat dan pada tahun 2010 volume impor sebesar 1,62 juta ton. Kedelai impor yang harganya lebih murah dengan kualitas yang baik membuat kedelai lokal semakin tersaingi. Dominasi kedelai impor pada pasar di dalam negeri akan membuat kedelai lokal semakin terhimpit. Tidak hanya persaingan kualitas namun persaingan harga juga harus dihadapi petani kedelai lokal dimana mereka harus menghadapi harga kedelai impor yang umumnya selalu lebih rendah. Tingginya volume impor ini akan berpengaruh terhadap gairah petani dalam menanam kedelai. Jika tidak segera diperbaiki kondisi ini akan mengancam kelangsungan pengembangan kedelai lokal di Indonesia.

b) Berlakunya kebijakan impor nol persen.

Dokumen terkait