• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dari hasil analisis komposit tematik yang telah dilakukan untuk setiap aspek pendekatan ekosistem dalam pengelolaan perikanan di Kabupaten Lembata, tahapan selanjutnya adalah mengestimasi keragaan agregat wilayah pengelolaan perikanan dengan menggunakan teknis komposit antar tematik. Hasil estimasi tematik masing-masing aspek kemudian digabung menjadi satu indeks dengan asumsi tidak ada perbedaan bobot masing-masing aspek. Dengan kata lain, dalam analisis agregat seluruh aspek dianggap penting (Adrianto dkk, 2012). Hasil analisis komposit agregat selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 14 berikut ini.

Tabel.15 Status dan Performa Sumberdaya Perikanan di Kabupaten Lembata

Domain

Nilai

Komposit Deskripsi

Sumberdaya Ikan 220 Baik Habitat & ekosistem 180,83 Sedang Teknik Penangkapan Ikan 180 Sedang

Sosial 125 Sedang

Ekonomi 185 Buruk

Kelembagaan 197,8 Sedang

Aggregat 181,44 Sedang

Berdasarkan hasil analisis indeks dekomposit untuk Ecosystem Approach

to Fisheries Management di Kabupaten Lembata menunjukan status sedang

dengan flag modeling berwarna kuning dengan nilai akhir agregat sebesar 184,44 dari nilai maksimal 300. Domain yang perlu mendapat mendapat perhatian yaitu: Domain Sumberdaya Ikan pada aktivitas penangkapan Spesies ETP, Domain Habitat & Ekosistem (untuk indikator kualitas perairan dan produktivitas estuary), Domain Teknik Penangkapan Ikan (untuk indikator metode penangkapan ikan yang bersifat destruktif dan/atau illegal, kesesuaian fungsi dan

68

ukuran kapal penangkapan ikan dengan dokumen legal, dan sertifikasi awak kapal perikanan sesuai dengan peraturan), Domain Sosial pada indikator konflik perikanan, Domain Ekonomi pada indikator Saving ratio dan Domain Kelembagaan yaitu pada indikator Keberadaan Rencana Pengelolaan Perikanan.

Meningkatkan performa pengelolaan perikanan di kabupaten Lembata sebaiknya memprioritaskan indikator yang masih dalam kondisi rendah seperti yang disebutkan diatas. Adapun peningkatan kebijakan yang ditawarkan tertuang dalam tabel berikut ini :

Tabel 15. Analisa Peningkatan Indikator EAFM di Kabupaten Lembata

No Domain Indikator Solusi

1 Sumberdaya Ikan Pemanfaatan Spesies ETP

Sosialisasi mengenai jenis-jenis biota ETP di masyarakat dan penerapan aturan yang tegas dalam perdagangan biota ETP

2 Habitat dan Ekosistem

Pengelolaan Habitat unik/khusus

Kajian lebih lanjut dalam identifikasi habitat penting seperti tempat peneluran penyu, habitat duyung dan peneluran ikan.

Status dan produktivitas Estuari dan perairan sekitarnya

Kajian lebih lanjut dalam terhadap kondisi klorofil pada daerah estuarine dan perairan sekitarnya

Perubahan iklim terhadap kondisi perairan dan habitat

Kajian lebih lanjut terhadap dampak perubahan iklim di kabupaten kepulauan yang mencakup upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim

3 Teknologi Penangkapan

Metode penangkapan ikan yang bersifat destruktif dan atau illegal

Melakukan pengawasan diwilayah timur kabupaten Lembata dan menguatkan kelembagaan kearifan lokal yang ada dalam mendukung mekanisme pengawasan.

Sertifikasi awak kapal perikanan sesuai dengan

Mendorong upaya sosialisasi mengenai keselamatan kapal bagi nelayan (Sea

69

peraturan. Safety)

4 Sosial Partisipasi pemangku kepentingan

Mendorong pelibatan masyarakat dalam setiap proses pembangunan mulai dari pembuatan perencanaan, implementasi, pemantauan hingga evaluasi kebijakan Konflik Perikanan Mendorong pengaturan penangkapan

ikan pelagis di wilayah tangkap yang sama antara pancing dan lampara atau purse seine yang menggunakan alat bantu penangkapan rumpon.

Perlunya membuat kesepakatan bersama dengan pemerintah kabupaten Flores Timur dalam pengaturan wilayah tangkap nelayan Flores Timur (andon) 5 Ekonomi Saving rate Kajian lebih lanjut terhadap saving rate

perlu dilakukan dan secara paralel mendorong peningkatan kapasitas rumah tangga perikanan dalam mengelola ekonomi rumah tangga

6 Kelembagaan Kepatuhan terhadap prinsip-prinsip perikanan yang bertanggung jawab dalam pengelolaan perikanan yang telah ditetapkan baik secara formal maupun non-formal (Alat)

Mendorong upaya pemanfaatan perikanan bertanggungjawab melalui aturan non formal yaitu melalui kearifan lokal hukuman sosial, serta perlu juga adanya serangkaian pendidikan mengenai pemanfaatan dan perlindungan kawasan laut yang berkelanjutan diwilayah pesisir kabupaten Lembata

Ketersediaan Rencana Pengelolaan Perikanan

Mendorong pembuatan rencana pengelolaan perikanan dalam lingkup kabupaten.

70

Potensi sumberdaya perikanan di Kabupaten Lembata yang relatif besar sebagai sumber perekonomi kabupaten, dan didukung dengan kondisi habitat ekosistem yang masih baik tidak saja menunjang perikanan namun juga disektor pariwisata ini menjadi modal bagi pemerintah daerah dan stakeholder lainnya dalam mendukung peningkatan perekonomian rumah tangga nelayan.

Perlunya meningkatkan instrument Pengelolaan Perikanan yang berkelanjutan perlu diatur dalam perumusan format pengelolaan perikanan berkelanjutan dan lestari, dalam bentuk yang baku dan dapat diterapkan, yaitu membuat Dokumen Rencana Pengelolaan Perikanan (RPP) Kabupaten Lembata sebagai acuan dalam pengelolaan perikanan.

Dalam konteks proses perencanaan RPP di atas, Kusumastanto dkk (2006), menyarankan agar peran stakeholders selalu muncul dalam setiap tahapan mulai dari formulasi sampai evaluasi. Dengan demikian, pendekatan partisipatif menjadi salah satu syarat utama dalam proses penyusunan RPP, karena prinsip dasar dari RPP adalah sifat komprehensif dan holistik dari sistem perikanan yang akan menjadi subjek pengelolaannya.

Elemen dasar RPP yang disarankan Kusumastanto dkk (2006) seperti terlihat pada Tabel 17, yaitu:

Tabel 13. Elemen Dasar Rencana Pengelolaan Perikanan

No Elemen

1 Prinsip-prinsip pengelolaan 1.1 Misi

1.2 Tujuan Pembangunan dan Pengelolaan Perikanan 1.3 Kebijakan dan Perencanaan Perikanan

1.4 Profil Wilayah 2 Profil Perikanan

2.1 Keterkaitan antar Sektor 2.2 Keadaan Umum Perikanan 2.3 Industri Perikanan

3 Pengelolaan Perikanan

71

3.2 Pengelolaan Wilayah Pesisir 3.3 Peraturan Perikanan

3.4 Wilayah Perikanan

3.5 Kerangka Organisasi Pengelolaan 3.6 Riset Perikanan dan Statistik

3.7 MCS (Monitoring, Control, and Surveillance) dalam Pengelolaan Perikanan

3.8 Inspeksi, perizinan, dan Sistem Lisensi 4 Pembangunan Perikanan

4.1 Visi Pemerintah tentang Perikanan

4.2 Visi Sektor Produksi (penangkapan ikan dan budidaya) 4.3 Visi Pengolahan Hasil Perikanan

5 Pengelolaan Perikanan Spesifik 6 Opsi Pengelolaan Perikanan 7 Glosarium

Pengelolaan perikanan di Kabupaten Lembata sebaiknya mengadopsi pemikiran Fauzi (2005), yaitu kebijakan sektor perikanan dan kelautan yang Back

to the Future. Back to the Future untuk pengelolaan perikanan dan kelautan

menawarkan suatu pendekatan dengan menggunakan informasi ekosistem (termasuk kebijakan perikanan dan kelautan) masa lalu (back) untuk dijadikan panduan kebijakan di masa mendatang (to the future). Secara ringkas Back to the

Future kebijakan sektor perikanan menawarkan tiga program utama restorasi yang

harus dilakukan (back) untuk menciptakan sektor perikanan kelautan yang sehat di masa mendatang (to the future), yaitu:

1. Restorasi ekosistem harus menjadi pertimbangan utama program KKP (termasuk dinas perikanan dan kelautan di daerah), karena restorasi ini adalah amanat utama World Fisheries Day. Restorasi ekosistem tidak saja menyangkut perbaikan ekosistem pesisir dan laut yang rusak akibat alam maupun antropogenik (bom, racun, dsb), namun juga menyangkut usaha meng-update dan menyempurnakan pendugaan stok sumberdaya.

72

2. Back to the Future kebijakan perikanan ke depan juga harus didasarkan pada restorasi institusi. Salah satu masalah krusial pengelolaan perikanan adalah tereduksinya peranan institusi lokal yang sebenarnya memiliki daya tahan lebih baik daripada institusi top down.

3. Restorasi ekonomi. Hakikatnya etika ekonomi harus direstorasi yaitu menyangkut perubahan cara pandang terhadap sumberdaya perikanan yang tidak boleh diperlakukan sebagai “engine of growth” semata.

73 BAB VI

Dokumen terkait