• Tidak ada hasil yang ditemukan

PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

A. Analisis Konsep Petungan Jawa Dalam Pernikahan

Pernikahan dalam keyakinan masyarakat Desa Pakis merupakan sesuatu yang sangat sakral dan agung, dimana dalam setiap ritual sejak dimulainya lamaran hingga ritual sungkeman ada makna tersendiri di dalamnya.

Dalam ritual Pernikahan juga diadakan berbagai macam slametan agar diberi keselamatan dari berbagai sengkala atau marabahaya. Slametan kelahiran waktunya ditetapkan menurut peristiwa kelahiran, dan slametan kematian ditetapkan menurut peristiwa kematian itu, namun masyarakat Desa Pakis tidak menganggap peristiwa itu sebagai suatu kebetulan, peristiwa itu dianggap sebagai ketentuan dari Tuhan, yang menetapkan secara pasti perjalanan hidup setiap orang.

Upacara perkawinan, seperti pergantian tempat tinggal dan semacamnya perlu ditetapkan dengan kehendak manusia, tetapi di sini dalam penetapan secara sembarangan harus dihindari dan suatu tatanan ontologis yang lebih luas ditetapkan dengan sistem ramalan numerologi yang disebut Petungan atau ―hitungan‖ (Geertz,1960:38).

Sebagaimana dari hasil wawancara pada hari senin tanggal 29 September 2014, Bapak Sarju selaku modin dan takmir masjid Baitul Muttaqin mengatakan bahwa, perkawinan yang ideal ialah perkawinan dalam warna,

65

dimana pihak laki-laki dan perempuan sama derajatnya dan berpedoman pada adat-adat yang telah diyakini dalam masyarakat tersebut (petungan), biasanya dilambangkan dengan perkawinan antara Rama dan Shinta. Perkawina dalam warna tersebut memberikan jaminan kepada kelangsungan hidup warna, karena tidak menimbulkan kekeruhan atau kegoncangan.

Dalam menggunakan Petungan Jawa untuk memilih hari baik dalam pernikahan yang dilakukan oleh masyarakat Desa Pakis terdapat perbedaan antara dusun satu dengan dusun yang lain, antara dukun satu dengan dukun yang lain. Bagi para dukun yang ada di Desa Pakis itupun sudah berbeda dalam menggunakan petungan untuk pernikahan, yang mana dulu sangat rumit dari nilai hari dan pasaran kedua calon mempelai yang dijumlahkan bahkan sampai jam berapa waktu lahirnya kedua calon pengantin. Namun, lambat laun hal itu mulai berubah dengan hanya nilai hari dan pasaran calon pengantin perempuannya saja yang digunakan.

Bagi Mbah Sukiban salah satu dukun yang ada di Dusun Dogo dalam memilih hari baik biasanya yang punya hajat sudah punya pilihan waktu sendiri dan datang ke dukun hanyalah untuk konsultasi, apakah jika punya gawe atau hajatan pada hari itu baik atau tidak?, dalam hal ini dukun tinggal melihat bulan Jawa dan harinya yang telah ditentukan dalam buku catatannya saja.

Berbeda dengan Dusun Pakis yang mana dalam menikahkan anaknya menggunakan hari kelahiran calon pengantin perempuan untuk menentukan

66

hari pernikahan. Bagi warga Dusun Pakis juga takut pada hari naas atau hari dimana meninggalnya orang tua yang tidak berani punya hajat.

Dalam suatu komunitas di masyarakat Jawa khususnya Desa Pakis tidak semua orang bisa menentukan hari-hari baik untuk melangsungkan berbagai macam hajatan termasuk perkawinan, namun hanya beberapa orang saja dalam suatu desa atau kelurahan itu yang dapat melakukannya. Biasanya orang yang dianggap tua atau yang dituakan yang dimintai pertolongan oleh seseorang yang ingin punya hajat.

Di dalam sistem petungan, masyarakat Desa Pakis terdapat suatu konsep metafisis sebagai pedoman dalam pernikahan, yaitu cocog yang berarti sesuai, sebagaimana kesesuaian kunci dengan gembok, serta persesuaian seorang pria dengan wanita yang dinikahinya. Dalam menentukan hari baik untuk pernikahan ada hal-hal yang harus diketahui dan dipergunakan, misalnya: neptu hari dan pasaran serta bulan Jawa dari calon kedua pengantin waktu dilahirkan.

Menurut keterangan dari Mbah Legi, selaku orang yang paling dituakan di Desa Pakis mengatakan bahwa dalam melakukan hajat perkawinan, mendirikan rumah, bepergian dan sebagainya, kebanyakan orang Jawa dulu mendasarkan atas hari yang berjumlah 7 (Senin-Minggu) dan pasaran yang jumlahnya ada 5, tiap hari tentu ada rangkapannya pasaran, masing-masing hari

67

Hari dan pasaran dari kelahiran dua calon temanten yaitu anak perempuan dan anak laki-laki masing-masing dibuang (dikurangi) sembilan. Misalnya:

3. Kelahiran anak perempuan adalah hari Rabu (neptu 7) Pon (neptu 7) jumlah 14, dibuang 9 sisa 5.

4. Sedangkan kelahiran anak laki-laki Minggu (neptu 5) Legi (neptu 5) jumlah 10, dikurangi 9 sisa 1.

Masyarakat Jawa sangat hati-hati dalam melakukan berbagai hal termasuk melangsungkan upacara perkawinan, sehingga segala sesuatunya harus diperhitungkan untuk menghindari sesuatu yang tidak diharapkan. Mereka sangat hati-hati sekali terhadap hari-hari, maupun bulan yang dianggap baik ataupun yang dilarang dalam segala suatu keperluan.

Dalam Islam semua hari, bulan, tahun adalah waktu yang baik, tidak ada hari yang sial atau hari keramat, hanya saja para masyarakat Jawa yang menganggap teguh ajaran nenek moyanglah yang percaya terhadap hari-hari sial.

Tathayyur atau thiyarah yaitu merasa bernasib sial karena sesuatu. Diambil dari kalimat: َزٍَّْطنا َزَج َس (menerbangkan burung). Tathayyur (merasa sial) tidak terbatas hanya pada terbangnya burung saja, tetapi pada nama-nama, bilangan, angka, orang-orang cacat dan sejenisnya. Semua itu

diharamkan dalam syari‘at Islam dan dimasukkan dalam kategori perbuatan

68

bertathayyur menganggap hal-hal tersebut membawa untung ataupun celaka (Yazid, 2005:345).

Ibnu Mas‘ud r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

ِالله ِل ْىُسَر ْهَع,ُهْىَع ُالله َى ِضَر ٍد ْىُعْسَم ِهْب ِالله ِدْبَع ْهَع

,ُك ْزِش َة َراٍََّطنا :َلاَق ََََِّ َْ َ ََُّصَلَّى اللهُ عَلَيْه

ُّيِذِم ْزَّتنا ُهَجَزْخَا َو .ِمُك َىَّتناِب ُهُبِهْذٌُ َالله َّهِكَن َو ,َّلاِا اَّىِم اَم َو ,اًث َلََث ٌك ْزِش َة َراٍََّطنا

.َتَجام ُهْبا َو

Artinya: Dari Abdullah bin Mas‟ud R.A., Dari Rasulullah SAW. Beliau

bersabda:”Ramalan nasib dengan hewan itu syirik, ramalan nasib dengan hewan itu syirik” Beliau ucapkan tiga kali, kata Abdullah:” Dan diantara kita tak lain hanyalah orang yang hatinya terlintas oleh pikiran itu. Tapi, Allah melenyapkannya dengan rasa tawakal kepada-Nya”. Hadits ini dikeluarkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah (HR. Abi Daud Juz 4 Bab Thiyarah No.3756) (Yazid, 2005:359).

B.Analisis Faktor Yang Mendorong Untuk Melakukan Pembaharuan Akad