Sumber pendapatan petani hutan rakyat di Desa Air Sulau berasal dari tiga sumber, yaitu hutan rakyat, non hutan rakyat, dan non usaha tani. Pendapatan hutan rakyat berasal dari penjualan kayu, buah, tanaman obat dan tanaman palawija. Pendapatan non hutan rakyat diperoleh dari hasil kegiatan pertanian di sawah. Sedangkan pendapatan non usaha tani berasal pegawai, buruh tani, beternak, berdagang, dan wiraswasta lainnya. Berdasarkan Tabel 13 mengenai pekerjaan petani, maka jumlah pendapatan setiap petanipun berbeda-beda tergantung dari jenis pekerjaan yang dilakukan oleh petani.
Total pendapatan bersih terbesar diperoleh dari hasil pengelolaan hutan rakyat/bertani hutan rakyat pada strata tiga dengan luasan kurang dari satu ha, sedangkan pendapatan bersih terbesar pada non usaha tani diperoleh pada usaha berdagang. Kegiatan berdagang banyak dilakukan oleh petani yang memiliki lahan hutan rakyat pada strata I. Hal ini dikarenakan, sebagian besar para petani pada strata I tidak mengusahakan usaha tani non hutan rakyat (sawah) sehingga lebih fokus pada pengelolaan hutan rakyat. Kegiatan berdagang yang dilakukan merupakan kegiatan menjual hasil sumber daya alam yang diperoleh dari usata hutan rakyat.
Kontribusi pendapatan non hutan rakyat dari usaha tani yang diperoleh dari kegiatan persawahan diperoleh pada strata III. Sedangkan pada strata III diperoleh kontribusi pendapatan dari hutan rakyat masih terbesar. Hal ini dikarenakan petani pada strata III memiliki intensitas pengelolaan pada
(a) (b)
Gambar 13 Pola HR di desa binaan pemerintah. (a) HR agroforestry (b) HR campuran
persawahan lebih tinggi sehingga mempengaruhi intensitas pengelolaan di usaha hutan rakyat. Pengelolaan hutan rakyat mendapatkan pendapatan terbesar dikarenakan sebagian besar petani memiliki luas lahan pada strata III (Tabel 17).
Hal ini menunjukkan bahwa pendapatan dari hutan rakyat menjadi sumber pendapatan utama petani. Menurut Hardjanto (2001) intensitas pengelolaan dan perhatian terhadap usaha hutan rakyat berdasarkan pola tanaman hutan rakyat dengan sistem agroforestry lebih tinggi dibandingkan dengan hutan rakyat campuran. Selain itu,
Tabel 17 dan Tabel 18 menunjukkan bahwa intensitas pengelolaan hutan rakyat dipengaruhi juga oleh luas lahan hutan rakyat yang dikelompokkan ke dalam beberapa strata luas lahan hutan rakyat. Selain itu, menurut Hardjanto (2001) bahwa salah satu yang mempengaruhi intensitas pengelolaan hutan rakyat adalah kesuburan lahan.
Tabel 17 Perolehan pendapatan berdasarkan sumber pendapatan Strata
Rata-rata pendapatan (Rp/tahun)
Bertani Non Usaha Tani
HR Non HR Beternak berdagang buruh tani Wiraswasta Pegawai
I (>2 ha) 1 488 196.41 - 5 000 000 30 000 000 12 000 000 - - II (1-2 ha) 1 096 666.67 16 580 820 8 088 889 21 000 000 7 800 000 3 600 000 -
III (<1 ha) 2 322 683.23 55 269 400 4 031 429 11 350 000 16 600 000 6 000 000 30 000 000
Tabel 18 Pendapatan dan kontribusi pada masing-masing sumber pendapatan Strata
HR Non HR Non Usaha Tani Total Pendapatan
(Rp/tahun) Kontribusi (%) (Rp/tahun) Kontribusi (%) (Rp/tahun) Kontribusi (%) (Rp/tahun) Kontribusi (%) I (>2 ha) 1 488 196.41 9 - - 15 666 667 91 17 154 863 100 II (1-2 ha) 1 096 666.67 4 16 580 820 60 10 122 222 36 27 799 709 100 III (<1 ha) 2 322 683.23 3 55 269 400 78 13 596 286 19 71 188 369 100 39
Tabel 18 menunjukkan kontribusi masing-masing sumber pendapatan terhadap pendapatan total rumah tangga petani. Kontribusi pendapatan terbesar diperoleh dari hasil pengelolaan hutan rakyat pada strata III. Hal ini dikarenakan setiap petani melakukan usaha hutan rakyat sehingga jumlah pendapatan hutan rakyatpun besar. Sedangkan untuk sumber-sumber pendapatan yang lain tidak semua petani melakukan pekerjaan tersebut.
Tabel 19 Kontribusi pendapatan dari tiap kegiatan pengelolaan HR pada program TFCA-Sumatra Kegiatan Pengelolaan HR Strata I Kontribusi (%) II Kontribusi (%) III Kontribusi (%) pendapatan HR 1 488 196.41 1 096 666.67 2 322 683.23 persiapan lahan 56 657.22 3.8 41 025.64 3.7 104 347.83 4.5 penjarangan 339 943.34 22.8 153 846.15 14.0 43 478.26 1.9 penebangan 453 257.79 30.5 256 410.26 23.4 347 826.09 15.0 Kegiatan usaha hutan rakyat di Desa Air Sulau mendapat perhatian dari berbagai kalangan, diantaranya dari ulayat pada program TFCA-Sumatra. Subsidi yang diperoleh petani dari program TFCA-Sumatra mulai dari persiapan lahan, pembibitan, pemeliharaan dan direncanakan hingga pemanenan akhir. Petani hutan rakyat di Desa Air Sulau sudah ada yang memperoleh pendapatan dari kegiatan penjarangan, meskipun sebagian besar dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga seperti perbaikan rumah dan sebagainya. Kontribusi dari kegiatan penebangan ini merupakan salah satu kontribusi yang terbesar dari rangkaian kegiatan pengelolaan hutan rakyat (Tabel 19). Program TFCA-Sumatra lebih mengutamakan memberikan bantuan yang diperlukan oleh masyarakat, salah satunya pembibitan dan persiapan lahan (Gambar 14).
Pendapatan dari kegiatan persiapan lahan diperoleh dari bantuan bibit dan tenaga saat melakukan penanaman yang diperoleh dari program TFCA-Sumatra. Pendapatan penjarangan diperoleh dari hasil jual tebang butuh pohon di hutan rakyat yang dilakukan oleh petani. Secara umum, penebangan yang sudah dilakukan oleh petani dan dihitung sebagai hasil penjarangan diperoleh pada saat pohon berumur 3-4 tahun. Sedangkan pendapatan dari penebangan diperoleh dari hasil panen akhir di hutan rakyat yang diestimasikan berdasarkan hasil perolehan dari penjarangan. Estimasi dihitung berdasarkan jumlah pohon yang ditanam di lahan hutan rakyat dengan pendekatan harga pasar yang berlaku di lokasi penelitian.
Selain mendapat subsidi dari program TFCA-Sumatra, petani hutan rakyat di Desa Air Sulau juga mendapat subsidi dari pemerintah daerah. Subsidi yang diberikan sejak tahun 1993 ini berupa subsidi pinjaman (Tabel 16), sehingga harus dikembalikan dalam bentuk kredit oleh para petani. Subsidi tersebut berupa pinjaman dana sebesar Rp 1 380 000, pupuk sebanyak 250 kg, dan berbagai alat pertanian yang dibutuhkan.
Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Petani
Total pengeluaran rata-rata terbesar adalah pemenuhan kebutuhan pangan berupa makan dan belanja rumah tangga. Petani yang mempunyai sawah biasanya tidak menjual semua hasil sawahnya, tetapi mereka menyimpan hasilnya untuk keperluan makan sehari-hari. Sedangkan pengeluaran rata-rata terkecil adalah kesehatan dan pembayaran SPP sekolah. Hal ini tidak berarti bahwa petani hutan rakyat tidak memperhatikan kesehatan dan pendidikan. Para petani tetap memperhatikan kesehatan, biasanya petani membeli obat di warung. Selain itu, walaupun berobat ke puskesmas hanya mengeluarkan biaya antara Rp15 000 Rp50 000. Petani hutan rakyat sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Hal ini karena mereka berharap anak-anaknya bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Para petani yang mempunyai anak yang masih sekolah hingga tingkat menengah mendapat subsidi gratis uang sekolah. Oleh karena itu, petani hanya mengeluarkan pembayaran uang sekolah bagi anak yang berada pada tingkat atas dan untuk sebagian anak yang melanjutkan ke jenjang perkuliahan.
Tabel 20 menunjukkan bahwa pengeluaran petani dalam pengelolaan hutan rakyat cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa petani cukup memperhatikan hutan rakyat. Pengeluaran ini terdiri dari biaya pembelian bibit dan benih, persiapan lahan, pemupukan dan upah buruh (penanaman, pemupukan dan pemeliharaan). Sebagian besar untuk pembelian bibit dan persiapan lahan karena kegiatan-kegiatan pengelolaan hutan lainnya biasanya dilakukan sendiri oleh petani dengan bantuan anggota keluarganya.
Gambar 14 Kegiatan pembibitan dan persiapan lahan pada program TFCA-Sumatera
Tabel 20 Pengeluaran rumah tangga petani
Jenis Pengeluaran Strata III Strata II Strata I Persentase (%) Pangan 11 000 000 16 675 000 17 200 000 47 Sandang 1 197 500 1 241 667 716 667 3 Kesehatan 333 333 225 000 400 000 1 Pendidikan Spp 474 286 916 667 33 333 1 Buku 396 667 1 315 833 10 000 2 baya incidental naik haji - menikahkan anak 476 190 3 333 333 4 Sunatan 619 048 455 833 1 666 667 3 Pajak 69 476 121 625 416 667 1 biaya lainnya 1 457 143 200 000 183 333 2 sarana rumah tangga 772 143 867 833 1 233 333 3
Tabungan 1 466 667 1 725 000 600 000 4
biaya lain-lain 1 250 095 2 575 000 10 600 000 15 Pengelolaan HR 1 161 905 7 270 000 4 666 667 14 Jumlah pengeluaran RT 20 674 452 33 589 458 41 060 000 100
Pengeluaran lainnya yang dikeluarkan oleh petani adalah untuk memenuhi keperluan sandang. Petani hutan rakyat biasanya memenuhi kebutuhan sandang seperti pakaian hanya setahun sekali, sebagian besar ketika hari raya. Pengeluaran lainnya adalah untuk hajatan. Hajatan yang sering dilakukan adalah pernikahan dan sunatan. Pengeluaran untuk hajatan adalah biaya hajatan dan uang atau barang yang diberikan petani kepada orang yang punya hajat. Sedangkan biaya insidental lainnya seperti naik haji, belum dikeluarkan oleh petani. Pengeluaran untuk sarana rumah, tabungan dan biaya lainnya seperti transportasi cukup besar dikeluarkan oleh para petani. Tabungan biasanya dilakukan di koperasi desa atau bank. Biaya transportasi biasanya dikeluarkan petani untuk membeli bahan bakar. Alat transportasi yang umum dimiliki petani adalah motor. Petani menggunakan motor melalui jalan yang dibuat secara swadaya menuju lahan hutannya (Gambar 15). Hal ini dikarenakan tidak semua lahan hutan petani dekat dengan rumahnya. Lahan hutan mereka bukan lahan hutan yang hanya berada dalam satu lokasi, tetapi merupakan lahan yang berpencar-pencar (Tabel 20).
Perbandingan Pendapatan Total Petani dengan Pengeluaran Total Petani Tabel 21 menunjukkan bahwa secara keseluruhan pendapatan lebih besar daripada pengeluaran. Hal ini menunjukkan bahwa petani hutan rakyat dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Sisa uang dari selisih tersebut disimpan di koperasi desa, bank atau dalam bentuk emas. Petani juga menjual hasil bertani pangan/hutan (padi, karet, kakao, sayuran, buah-buahan dan lain-lain) yang disimpan di rumahnya, menjual kayu, mengambil uang tabungan atau menjual emas untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari.
Tabel 21 Perbandingan pendapatan total dan pengeluaran total petani Strata Pendapatan (Rp/orang) Pengeluaran (Rp/orang) Selisih (Rp/orang) I 41 933 333 41 060 000 873 333 II 48 088 042 33 589 458 14 498 584 III 82 221 114 20 674 452 61 546 662
Hasil perhitungan pada Tabel 21 diperoleh informasi bahwa dari pendapatan yang diperoleh responden masih dapat digunakan untuk tabungan. Hal ini membuktikan selain untuk membiayai kebutuhan hidup, masih ada pendapatan berlebih yang dapat dijadikan simpanan oleh responden, sehingga berperan penting untuk tabungan di masa akan datang. Selain itu juga membuktikan pendapatan responden dari hutan rakyat memberikan hasil lebih besar pada total pendapatan.