Informasi mengenai peran, pengaruh dan kepentingan dari para pemangku kepentingan dalam pengembangan hutan rakyat terhadap program TFCA-Sumatra di Bengkulu sangat diperlukan. Hal ini dikarenakan para pemangku kepentingan yang terkait merupakan para aktor yang dapat mempengaruhi dan dipengaruhi dari adanya program TFCA-Sumatra pada pengembangan hutan rakyat di Bengkulu.
Identifikasi Pemangku Kepentingan
Pemangku kepentingan yang terlibat dalam pengembangan hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu dapat dikelompokkan menjadi tiga berdasarkan konsep identifikasi pemangku kepentingan ODA (1998). Pertama, pemangku kepentingan utama (Primary stakeholder) yang merupakan pemangku kepentingan yang secara langsung terkena dampak baik positif maupun negatif dari adanya pengembangan hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu. Kedua, pemangku kepentingan kunci (Key stakeholder) yang merupakan pemangku kepentingan secara legalitas memiliki kewenangan atau dengan kata lain memiliki pengaruh dan kepentingan yang tinggi dalam pengambilan keputusan dalam pengembangan hutan rakyat pada program TFCA- Sumatra di Bengkulu. Ketiga, pemangku kepentingan pendukung (Secondary stakeholder) yang merupakan pemangku kepentingan sebagai perantara dalam pengembangan hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu ataupun pihak yang tidak memiliki kaitan secara langsung tetapi memiliki kepedulian atas keputusan terkait pengembangan HR pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu. Tabel 25 Pemangku kepentingan yang terlibat dalam pengembangan hutan rakyat
pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu No Kategori Pemangku Kepentingan
Pemangku kepentingan kunci:
1. Yayasan konsorsium ulayat
2. Dinas Kehutanan Provinsi (Dishut Prov) 3. Dinas Kehutanan Kabupaten (Dishut Kab) Pemangku kepentingan utama:
4. Petani
5. Kelompok tani hutan rakyat Bumi Sulau Lestari 6. Buruh tani
7. Pedagang perantara 8. Penebang pohon
9. Pengusaha jasa angkutan Pemangku kepentingan pendukung:
10. Pemerintah desa
11. Dinas pertanian Bengkulu Selatan 12. Pemilik lahan dari luar daerah 13. Perguruan tinggi
14. Bappeda Bengkulu Selatan 15. Perbankan
pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu meliputi para pemangku kepentingan yang terkait pada tingkat lokal, yaitu wilayah administrasi Provinsi Bengkulu. Hasil wawancara mendalam, studi literatur dan pengamatan di lapangan teridentifikasi pemangku kepentingan yang terlibat dalam pengembangan hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu sesuai kelompoknya di sajikan pada Tabel 25.
Penangungjawab pelaksana pengembangan hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu saat ini berada pada LSM Konsorsium Ulayat dengan pelaksana dari yayasan ulayat. Oleh karena itu, pengembangan hutan rakyat di Desa Air Sulau yang termasuk pada program TFCA-Sumatra secara umum tidak dapat terlepas dari stakeholder ini. Disisi lain, pengelolaan hutan rakyat pada setiap kegiatan yang berhubungan dengan program pemerintah berada pada dinas terkait yang berkoordinasi mulai dari tingkat provinsi sampai dengan kabupaten. Dinas terkait tersebut adalah Dinas kehutanan Provinsi Bengkuu dan Dinas kehutanan Kabupaten Bengkulu Selatan. Menurut Minang et al. (2007), sangat dibutuhkan dukungan dari instansi pemerintah dalam pelaksanaan suatu proyek terutama di bidang penyediaan sumber daya/insentif, pelatihan, manajemen informasi, pemantauan, dan pemasaran.
Yayasan Ulayat, Dinas kehutanan provinsi, dan Dinas kehutanan kabupaten menjadi pemangku kepentingan kunci karena instansi-instansi tersebut memiliki kewenangan secara legalitas sebagai perumus, pelaksana, pembimbing secara teknis, dan melakukan evaluasi pelaksanaan bimbingan teknis. Yayasan ulayat merupakan LSM yang mengkhususkan diri pada bidang pemberdayaan masyarakat. Program kerja Ulayat lebih mengkonsentrasikan pada kelestarian lingkungan dan fungsi sebagai fasilitator antara masyarakat dengan pihak lain yang terkait dalam pengembangan hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra. Oleh karena itu, yayasan ulayat sebagai instansi utama menjadi pemangku kepentingan kunci dalam pengembangan hutan rakyat pada program TFCA- Sumatra.
Petani, Kelompok tani hutan rakyat Bumi Sulau Lestari, buruh tani, pedagang perantara, penebang pohon dan pengusaha jasa angkutan menjadi pemangku kepentingan utama yaitu pemangku kepentingan yang secara langsung terkena dampak baik positif maupun negatif dari adanya pengembangan hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu. Petani dan kelompok tani hutan rakyat Bumi Sulau Lestari merupakan pelaku utama yang melaksanakan program kerja dari TFCA-Sumatra terkait pengelolaan hutan rakyat. Petani dan kelompok tani hutan rakyat Bumi Sulau Lestari merupakan kelompok yang mengambil manfaat dari hutan, menerima berbagai manfaat dari pelaksanaan program TFCA-Sumatra terkait pengembangan hutan rakyat dan sekaligus sebagai pelaksana program. Dengan demikian, petani dan kelompok tani hutan rakyat Bumi Sulau Lestari merupakan pemangku kepentingan yang terkena pengaruh dari adanya program TFCA-Sumatra. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hardjanto (2003) bahwa petani hutan rakyat merupakan pemain utama tetapi belum mendapat manfaat yang optimal. Pemangku kepentingan utama lainnya adalah buruh tani, pedagang perantara, penebang pohon dan pengusaha jasa angkutan. Buruh tani, pedagang perantara, penebang pohon dan pengusaha jasa angkutan berperan pada kegiatan produksi dan pemasaran hasil hutan rakyat yang tentu saja sangat dipengaruhi oleh adanya program TFCA-Sumatra terkait kegiatan produksi dan pemasarannya. Buruh tani dan petani juga akan menjadi
salah satu aktor berhasil tidaknya program TFCA-Sumatra dalam pengembangan hutan rakyat sebagai insentif bagi kelestarian hutan. Sementara itu penebang pohon, pedagang perantara dan pengusaha jasa angkutan yang menjadi pemangku kepentingan utama yang terkait dalam kegiatan pemasaran hasil hutan rakyat.
Kelompok terakhir dari pemangku kepentingan yang terlibat dalam perumusan program TFCA-Sumatra di Bengkulu adalah pemangku kepentingan pendukung (secondary stakeholder) yang merupakan perantara dalam proses implementasi program TFCA-Sumatra di Bengkulu ataupun pihak-pihak yang tidak memiliki kaitan secara langsung terhadap program TFCA-Sumatra di Bengkulu tetapi memiliki kepedulian atas keputusan program TFCA-Sumatra di Bengkulu. Termasuk dalam kelompok ini adalah pemerintah desa, dinas pertanian Bengkulu Selatan, Pemilik lahan dari luar daerah, perguruan tinggi, Bappeda Bengkulu Selatan, perbankan, dan LIPI. Para pemangku kepentingan ini dapat digolongkan sebagai lembaga pemerintah yang berperan dalam implementasi program pemerintah terkait pengembangan hutan rakyat di Desa Air Sulau, lembaga akademik dan masyarakat. Pemerintah desa, Dinas pertanian Bengkulu Selatan, dan Bappeda Bengkulu Selatan merupakan instansi pemerintah yang tidak memiliki kewenangan untuk mengeluarkan maupun melaksanakan kebijakan formal terkait pengembangan hutan rakyat pada program TFCA- Sumatra, sehingga tugasnya sebatas memfasilitasi, mengkoordinir dan membantu berjalannya program TFCA-Sumatra di Bengkulu terkait pengembangan hutan rakyat pada program. Lembaga akademik, Lipi dan perbankan sebagai lembaga- lembaga yang melakukan advokasi agar pengembangan hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra berpihak pada pembangunan yang berkelanjutan melalui kegiatan-kegiatan yang menuju pengelolaan hutan lestari dan pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian lembaga-lembaga ini merupakan lembaga yang tidak memiliki kaitan secara langsung terhadap pengembangan hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu tetapi memiliki kepedulian atas pemberdayaan masyarakat dan terhadap kelestarian hutan.
Pengelompokkan dan Pengkategorian Pemangku Kepentingan
Pengklasifikasian dan pengkategorian pemangku kepentingan menggunakan analisis kategori berdasarkan tingkat kepentingan dan pengaruh. Metode yang digunakan untuk mengklasifikasikan stakeholder adalah menggunakan matriks kepentingan-pengaruh terhadap pengembangan hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu. Kategori para pemangku kepentingan dalam pengembangan hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu dikelompokkan menjadi: Key player, pemangku kepentingan yang memiliki kepentingan dan pengaruh yang tinggi; Context setters, pemangku kepentingan yang memiliki pengaruh yang tinggi tapi kepentingannya rendah; Subjects, pemangku kepentingan yang memiliki kepentingan yang tinggi tetapi pengaruhnya rendah; dan Crowd, pemangku kepentingan yang memiliki kepentingan dan pengaruh yang rendah.
Analisis pemangku kepentingan dilakukan berdasarkan variabel kepentingan dan pengaruh masing-masing stakeholders terhadap pengembangan hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra. Model analisis mengadopsi model yang di perkenalkan oleh Reed et al. (2009). Terlebih dahulu melakukan pengklasifikasian stakeholders berdasarkan tingkat kepentingan dan pengaruhnya dalam pengusahaan hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra. Dari hasil
pengaruh dan kepentingan pemangku kepentingan dalam pengembangan hutan rakyat program TFCA-Sumatra di Bengkulu dapat dinilai secara kualitatif dengan menggunakan derajat kepentingan sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah menggunakan kriteria yang diadopsi dan dimodifikasi dari ODA (1995).
1. Derajat Kepentingan. Sangat tinggi (5), yaitu memiliki harapan, aspirasi dan manfaat potensial yang sangat tinggi atas keberhasilan dan keberlangsungan pengembangan hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu. Tinggi (4), yaitu memiliki harapan, aspirasi dan manfaat potensial yang tinggi atas keberhasilan pengembangan hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu. Sedang (3), yaitu memiliki harapan dan aspirasi tetapi tidak menerima manfaat potensial secara langsung atas keberhasilan pengembangan hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu. Rendah (2), memiliki harapan tetapi tidak memilih aspirasi dan manfaat potensial atas terwujudnya hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu. Sangat rendah (1), tidak memiliki harapan, aspirasi dan manfaat potensial yang tinggi atas terwudunya pengembangan hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu
2. Derajat Pengaruh. Sangat tinggi (5), memiliki kewenangan sangat penuh dan menentukan keberhasilan dalam pelaksanaan program, memfasilitasi implementasi program, dan mempengaruhi pihak lain terkait pengembangan hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu. Tinggi (4), memiliki kewenangan penuh dalam pelaksanaan program, memfasilitasi implementasi program, dan mempengaruhi pihak lain terkait pengembangan hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu. Sedang (3), memiliki kewenangan yang terbatas dalam menentukan program, memfasilitasi implementasi program dan mempengaruhi pihak lain terkait pengembangan hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu. Rendah (2), tidak memiliki kewenangan dalam membuat program, memfasilitasi implementasi program, dan terbatas dalam mempengaruhi pihak lain dalam membuat kebijakan. Sangat rendah (1), tidak memiliki sama sekali kewenangan dalam menentukan program, memfasilitasi implementasi program maupun dalam mempengaruhi pihak lain terkait pengembangan hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu.
Matriks hasil analisis penilaian tingkat pengaruh dan kepentingan para pemangku kepentingan dalam perumusan program TFCA-Sumatra di Bengkulu dapat dilihat pada Gambar 18.
Tabel 26 Tingkat kepentingan dan pengaruh para pemangku kepentingan dalam pengembangan hutan rakyat program TFCA-Sumatra di Bengkulu No Kategori pemangku kepentingan
Tingkat
kepentingan Tingkat pengaruh
Pemangku kepentingan kunci:
1. Yayasan konsorsium ulayat 20 (+) 19 (+)
2. Dinas Kehutanan Provinsi (Dishut Prov) 12 (-) 15 (+) 3. Dinas Kehutanan Kabupaten (Dishut Kab) 14 (+) 15 (+)
Pemangku kepentingan utama:
4. Petani 21 (+) 22 (+)
5. Kelompok tani hutan rakyat Bumi Sulau Lestari 21 (+) 22 (+)
6. Buruh tani 20 (+) 20 (+)
7. Pedagang perantara 16 (+) 17 (+)
8. Penebang pohon 15 (+) 17 (+)
9. Pengusaha jasa angkutan 18 (+) 18 (+)
Pemangku kepentingan pendukung:
10. Pemerintah desa 18 (+) 18 (+)
11. Dinas pertanian Bengkulu Selatan 9 (-) 12 (-) 12. Pemilik lahan dari luar daerah 12 (-) 14 (+)
13. Perguruan tinggi 12 (-) 12 (-)
14. Bappeda Bengkulu Selatan 12 (-) 12 (-)
15. Perbankan 10 (-) 11 (-)
16. LIPI 12 (-) 14 (+)
Sumber: hasil wawancara mendalam dan studi literatur
Gambar 18 Matriks hasil analisis pemangku kepentingan 0 5 10 15 20 25 0 5 10 15 20 25 4 & 5 6 1 9 10 7 8 3 12 2 13 14 15 11 16 P ENG ARUH KEPENTINGAN Crowd
Context setters/actors Key players
konsorsium ulayat, Dishut Kab, petani/kelompok tani hutan rakyat, Buruh tani, pedagang perantara, penebang pohon, pengusaha jasa angkutan, dan pemerintah desa yang memiliki tingkat kepentingan dan pengaruh yang tinggi dalam pengelolaan hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu. Hal ini disebabkan karena institusi-institusi tersebut merupakan implementor, fasilitator dan evaluator sehingga sangat berpengaruh terhadap terwujudnya program TFCA- Sumatra di Bengkulu. Sedangkan petani yang tergolong masyarakat desa juga mengambil manfaat langsung dari hutan sehingga memiliki kepentingan yang tinggi pada hutan (Yamani 2011). Key players dapat mempengaruhi berhasilnya pengembangan hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu. Tupoksi dari institusi-institusi tersebut membuat tingkat pengetahuan yang dimiliki key players lebih dalam dibanding pemangku kepentingan yang lainnya.
Sementara itu tidak ada stakeholder yang termasuk dalam kategori pemangku kepentingan Subject, yaitu pemangku kepentingan yang memiliki kepentingan yang tinggi tetapi pengaruhnya rendah dalam perumusan program TFCA-Sumatra di Bengkulu.
Sementara itu, dinas kehutanan provinsi, pemilikan lahan dari luar desa dan LIPI termasuk dalam kategori Actors, yaitu pemangku kepentingan yang mempunyai pengaruh yang tinggi tetapi sedikit kepentingan. Kategori yang terakhir adalah crowd yaitu pemangku kepentingan yang memiliki kepentingan dan pengaruh yang rendah. Pemangku kepentingan yang dalam kategori ini adalah Dinas Pertanian Bengkulu Selatan, perguruan tinggi, Bappeda Bengkulu Selatan dan perbankan. Dengan demikian pengaruh dari pemangku kepentingan dalam kategori crowd ini termasuk kecil dalam pengembangan hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu.
Tingkat Hubungan antar Stakeholder
Pengembangan hutan rakyat pada program TFCA Sumatra di Bengkulu banyak mendapat dukungan dari berbagai stakeholder. Selain itu, juga terdapat penentang yang kurang setuju dengan adanya pengembangan hutan rakyat pada program TFCA Sumatra di Bengkulu (Tabel 27). Dukungan dan tidak adanya dukungan dari para stakeholder dikarenakan bebagai kepentingan masing-masing pada pengembangan hutan rakyat dan program TFCA Sumatra di Bengkulu. Tabel 27 Pemangku kepentingan pendukung dan penentang program
Kategori Kelompok
Pemerintah Provinsi
Pemerintah
Kabupaten Petani LSM penyedia jasa Pendukung Dinas Kehutanan Kabupaten Provinsi Pemerintah Desa Petani dan Yayasan Konsorsium Ulayat buruh tani, kelompok tani penebang pohon, pengusaha jasa angkutan Penentang Dinas Kehutanan Kabupaten pedagang perantara
Dinas Kehutanan Kabupaten merupakan pemangku kepentingan penentang dalam pengembangan hutan rakyat pada program TFCA Sumatra di Bengkulu. Hal ini dikarenakan adanya program dari Dinas Kehutanan Kabupaten yang
dilaksanakan di lokasi yang sama dengan pengembangan HR pada program TFCA. Selain itu, pedagang perantara merupakan stakeholder penentang. Hal ini dikarenakan pedagang perantara memiliki kepentingan yang tinggi dengan adanya hutan rakyat. Pengembangan hutan rakyat pada program TFCA direncanakan akan memberikan kemudahan pemasaran hasil hutan rakyat. Hal inilah yang menjadi kerisauan pedagang perantara yang selama ini memberikan jasa pemasaran hasil hutan rakyat kepada petani akan digantikan dengan adanya program TFCA. Oleh karena itu, kurangnya terjalin hubungan antar stakeholder pada program TFCA Sumatra di Bengkulu terutama pada kegiatan pengembangan hutan rakyat.
Langkah terakhir dalam analisis pemangku kepentingan adalah menganalisis tingkat hubungan antara pemangku kepentingan. Hubungan antar pemangku kepentingan dalam pengembangan hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu yang teridentifikasi adalah potensi konflik dan potensi bekerjasama (Reed et al. 2009). Pemangku kepentingan yang teridentifikasi ditulis dalam baris dan kolom tabel yang menggambarkan hubungan antar pemangku kepentingan (Tabel 28).
Tabel 28 Tingkat hubungan antar pemangku kepentingan
Pemerintah Provinsi Pemerintah Kabupaten Petani LSM penyedia jasa Pemerintah Provinsi 2;3 2;3 2 1 2 Pemerintah Kabupaten 2;3 1 2;3 1 2 Petani 2 2;3 1;2;3 2;3 2 LSM 1 1 2;3 2;3 1;2 penyedia jasa 2 2 2 1;2 1
Ket: 1=potensi konflik; 2=potensi saling mengisi; 3= potensi kerjasama
Dinas Kehutanan Kabupaten termasuk ke kelompok Pemerintah Kabupaten yang merupakan stakeholder penentang memiliki potensi konflik dengan LSM pelaksana program. Potensi konflik ini terjadi karena kepentingan dalam melaksanakan program masing-masing stakeholder. Selain itu, terdapat juga konflik antar pemerintah kabupaten sendiri yaitu Dinas Kehutanan Kabbupaten dengan Pemerintahan Desa seperti Kepala Desa. Pemerintah Desa lebih memilih mendukung program yang memberikan kontribusi terbesar kepada Desa. Sedangkan Dinas Kehutanan Kabupaten lebih memberikan kontribusi yang secara singkat dan belum berkelanjutan seperti halnya progr TFCA. Dinas Kehutanan Kabupaten yang sejak awal adanya Desa Air Sulau telah memulai programnya merasa lebih memiliki peran dan kontribusi yang besar kepada Desa.
Selain itu, terdapat juga potensi konflik antara LSM dan Pemerintah Provinsi. Konflik ini terjadi karena perizinan yang dilakukan LSM untuk melaksanakan programnya harus melalui pemerintah provinsi. Ssementara itu, program TFCA Sumatra di Bengkulu dibawahi langsung oleh pemerintah pusat. Rumitnya administrasi dan lemahnya peran stakeholder ini memicu terjadinya konflik.
Kesimpulan
Pola pengembangan hutan rakyat pada program TFCA di Bengkulu adalah pola tanam campuran dengan didominasi jenis tanaman perkebunan seperti karet. Tanaman berkayu seperti sengon baru dikembangkan pada usaha hutan rakyat di Bengkulu yang dipadukan dengan tanaman pangan semusim seperti ubi kayu dan jagung, atau dengan tanaman obat-obatan seperti kunyit dan jahe. Berdasarkan sumber dananya, pola hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu termasuk ke dalam pola hutan rakyat dengan subsidi penuh.
Kontribusi pendapatan pada usaha pengembangan hutan rakyat merupakan kontribusi terbesar dari total pendapatan yang diterima petani pada program TFCA-Sumatra. Kontribusi terbesar ini diterima pada pengelolaan hutan rakyat di strata tiga dengan luasan kurang dari satu ha. Sedangkan pendapatan dari usaha berdagang merupakan pendapatan bersih terbesar pada non usaha tani yang diperoleh.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu secara signifikan yaitu faktor karakteristik internal (tingkat pendidikan, penguasaan sawah,penguasaan lahan kering dan pendapatan non pertanian) dan faktor karakteristik eksternal (harga dan kebijakan). Sedangkan faktor lainnya tidak memberikan pengaruh secara signifikan. Faktor karakteristik internal dan karakteristik eksternal mempengaruhi motivasi petani sehingga sangat mempengaruhi pengembangan hutan rakyat di Desa Air Sulau pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu.
Kelembagaan hutan rakyat pada program TFCA di Bengkulu dilihat dari pengaruh kepentingan para pemangku kepentingan, maka Yayasan Konsorsium Ulayat, Dishut Kab, petani/kelompok tani hutan rakyat, buruh tani, pedagang perantara, penebang pohon, pengusaha jasa angkutan, dan pemerintah desa memiliki tingkat kepentingan dan pengaruh yang tinggi dalam pengelolaan hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu.
Saran
Perlunya dukungan dari berbagai pihak dalam pelaksanaan program TFCA- Sumatra di Bengkulu terutama dalam pengembangan usaha hutan rakyat. Kebijakan yang menjadi insentif bagi masyarakat petani hutan rakyat sangat diperlukan dengan didukung adanya informasi harga yang menjadi faktor signifikan dalam pengembangan hutan rakyat. Selain itu, penelitian lebih lanjut mengenai jenis tanaman yang sesuai pada pola agroforestry dalam pengembangan hutan rakyat pada program TFCA-Sumatra. Hal ini dikarenakan kontribusi pola hutan rakyat dengan sistem agroforestry merupakan kontribusi terbesar pada program TFCA-Sumatra di Bengkulu. Oleh karena itu, perlunya pengembangan pola hutan rakyat yang dapat memberikan kontribusi besar lainnya.