• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.7. Analisis Korelasi Pearson (r)

Setelah dilakukan pengukuran faktor fisik dan kimia tanah pada setiap lokasi penelitian, kemudian dikorelasikan dengan filum makrofauna tanah yang ditemukan pada tiap plot di masing-masing lokasi menggunakan software SPSS versi 21.00 (hasil analisis dapat dilihat pada Lampiran 6). Diperoleh nilai Indeks Korelasi Pearson (r) seperti yang terlihat pada Tabel 4.8 berikut:

Tabel 4.8. Koefisien Korelasi Antara Faktor Fisik dan Kimia Tanah dengan Filum Makrofauna Tanah yang Ditemukan

No. Parameter Lokasi I Lokasi II

Annelida Arthropoda Mollusca Annelida Arthropoda Mollusca

1. Suhu Tanah -0,279 -0,206 +0,408* -0,558** -0,552** -0,390 2. Kelembaban +0,110 +0,057 -0,161 +0,678** +0,596** +0,401* 3. pH -0,099 +0,043 +0,088 +0,046 +0,044 -0,146 4. Kadar Air Tanah +0,213 -0,214 -0,142 +0,306 +0,247 +0,142

Keterangan: ** = Korelasi sangat nyata (signifikan pada nilai 0,01), * = Korelasi nyata (signifikan pada nilai 0,05), Lokasi I = Lahan Pertanian Anorganik, Lokasi II = Lahan Pertanian Organik

Pada Tabel 4.8 terlihat bahwa dari hasil uji korelasi Pearson antara faktor fisik dan kimia tanah dengan filum makrofauna tanah yang ditemukan memberikan nilai korelasi yang bervariasi pada tiap parameter faktor fisik dan kimia tanah dengan filum makrofauna tanah yang ditemukan. Hasil uji (+) menunjukkan korelasi searah antara faktor fisik dan kimia tanah dengan filum makrofauna tanahnya, dengan perkataan lain tiap kenaikan faktor fisik dan kimia tanah tersebut diikuti pula dengan kenaikan filum makrofauna tanah yang ditemukan begitu pula sebaliknya. Uji (-) menunjukkan korelasi yang berlawanan arah, dimana tiap kenaikan nilai faktor fisik dan kimia tanahnya maka filum marofauna tanah yang ditemukan akan berkurang atau turun dan begitu pula sebaliknya. Kenaikan dan penurunan nilai faktor fisik kimia tanah dalam mempengaruhi fauna menurut Sukarsono (2010) hanya sampai batas optimum dari masing-masing fauna.

Suhu tanah memberikan hasil korelasi (-) atau berlawanan terhadap filum

Annelida dan Arthropoda baik pada lokasi I maupun lokasi II. Hasil korelasi suhu

tanah pada lokasi II bahkan memberikan hasil korelasi sangat nyata dengan nilai - 0,558 untuk Annelida dan -0,552 untuk Arthropoda. Keduanya menunjukkan hasil korelasi antara nilai 0,41 – 0,60 yang berdasarkan Usman & Akbar (2000) termasuk kategori nilai korelasi agak rendah. Dengan hasil ini dapat dilihat bahwa tiap kenaikan suhu dapat menurunkan makrofauna tanah dari filum Annelida dan

Arthropoda yang ditemukan, dengan korelasi sangat nyata namun nilainya agak

rendah. Filum Annelida khususnya cacing tanah memiliki kisaran suhu ideal 15 25 °C untuk pertumbuhannya (Handayanto & Hairiah, 2009). Arthropoda pada umumnya memiliki kisaran yang luas terhadap suhu tanah dan berbeda pada tiap- tiap spesies. Menurut Jumar (2000), Arthropoda khususnya serangga memiliki kisaran suhu tertentu di mana mereka dapat bertahan hidup. Pada umumnya kisaran suhu tanah yang efektif adalah sebagai berikut: suhu minimum 15 °C, optimum 25 °C dan maksimum 45 °C.

Kelembaban tanah memberikan hasil korelasi (+) atau searah terhadap filum Annelida dan Arthropoda pada lokasi I maupun lokasi II. Hasil korelasi kelembaban tanah pada lokasi II juga memberikan hasil korelasi sangat nyata seperti halnya suhu tanah dengan nilai +0,678 (korelasi cukup) untuk Annelida

dan +0,596 (korelasi agak rendah) untuk Arthropoda. Hasil ini dapat dinyatakan bahwa jika kelembaban tanah naik (lebih tinggi) maka makrofauna tanah dari filum Annelida dan Arthropoda yang ditemukan juga bertambah, dan jika kelembaban turun (terlalu rendah) maka filum Annelida dan Arthropoda yang ditemukan akan berkurang. Kelembaban ideal bagi Annelida khususnya cacing tanah adalah antara 60 – 85% (Red Worm Organic, 2007). Jika kelembaban terlalu tinggi maka cacing akan mati (Gunadi et at., 2003). Kebanyakan

Arthropoda menyukai tanah yang lebih lembab (Suin, 2006) dan kelembaban

yang sesuai membuat Arthropoda khususnya serangga lebih tahan terhadap suhu ekstrem (Jumar, 2000).

Kadar air tanah memberikan nilai korelasi yang berbeda pada tiap filum baik pada lokasi I maupun lokasi II. Filum Annelida menunjukkan hasil korelasi (+) atau searah terhadap kadar air di lokasi I dan lokasi II dengan nilai +0,213 pada lokasi I dan +0,306 pada lokasi II, keduanya tergolong korelasi rendah. Artinya, filum annelida lebih menyukai kadar air yang tinggi pada tanah untuk pertumbuhannya. Filum Annelida lebih banyak ditemukan pada tanah yang kelembaban dan kadar airnya tinggi karena air menyusun 90% dari berat tubuh

Annelida khususnya cacing tanah (Brown, 1980) sehingga kekeringan merupakan

faktor pembatas bagi kelangsungan hidupnya (Hanafiah et al., 2005). Filum

Arthropoda pada lokasi I memiliki nilai korelasi -0,214 (korelasi rendah) dan

lokasi II +0,247 (korelasi rendah) terhadap kadar air tanahnya. Menurut Jumar (2000), pada umumnya Arthropoda khususnya serangga lebih tahan terhadap terlalu banyak air, bahkan serangga yang bukan serangga air dapat tersebar karena hanyut bersama air. Akan tetapi, jika air terlalu banyak seperti saat banjir dan hujan deras merupakan bahaya bagi beberapa serangga. Berdasarkan hasil penelitian Sugiyarto (2000b) dan Mukti et al. (2004) diketahui bahwa filum

Arthropoda lebih menyukai tanah dengan kadar air yang tidak terlalu tinggi.

Derajat keasaman (pH) tanah menunjukkan hasil korelasi yang bervariasi tiap filum makrofauna tanah yang ditemukan baik pada lokasi I dan lokasi II. Akan tetapi, kenaikan dan penurunan pH tidak dapat secara langsung mengindikasikan kenaikan dan penurunan jumlah spesies dari filum makrofauna tanahnya. Hal tersebut dikarenakan pH skalanya tidak linier dan terbatas

(Hariyanto et al., 2008). Makrofauna tanah ada yang lebih menyukai pH asam (pH < 6,5), pH basa (6,5 ≤ pH ≥ 7,5), dan pH netral (> 7,5) (Suin, 2006). Filum

Annelida khususnya cacing tanah memiliki pH ideal antara 6,5 – 8,6 untuk

hidupnya (Hou et al., 2005) dan mereka mampu menetralkan pH tanah yang ditempatinya (Hidalgo & Harkess, 2002). Filum Arthropoda umumnya memiliki pH yang sangat bervariasi dan biasanya tergantung makanannya. Menurut Chapman (1982) dalam Batubara (2002), Arthropoda khususnya serangga

fitophagous umumnya lebih menyukai pH basa daripada serangga Carnivore.

Filum Mollusca pada umumnya menyukai pH sekitar 5 – 9, jika pH < 5 atau > 9 maka akan menciptakan kondisi yang tidak menguntungkan bagi pertumbuhannya (Joesidawati, 2008).

Filum Mollusca menunjukkan hasil korelasi yang berbanding terbalik antara suhu tanah, kelembaban dan kadar air yang ada di lokasi I dan lokasi II. Korelasinya terhadap suhu tanah pada lokasi I (+) nyata sedangkan pada lokasi II korelasinya (-) tidak nyata. Korelasinya terhadap kelembaban pada lokasi I (-) tidak nyata sedangkan pada lokasi II (+) nyata. Kadar air tanah menunjukkan korelasi (-) tidak nyata pada lokasi I dan (+) tidak nyata pada lokasi II. Perbedaan arah korelasi antara lokasi I dan lokasi II ini dikarenakan daya adaptasi makrofauna tanah dari filum Mollusca tersebut yang berbeda pada masing-masing lokasi. Pada umumnya, filum Mollusca lebih memilih hidup pada suhu tanah yang relatif rendah, kelembaban yang tinggi dengan kadar air yang cukup (Dindal, 1990) seperti halnya lokasi II. Namun, suhu tanah yang lebih tinggi serta kelembaban dan kadar air yang lebih rendah pada lokasi I dibandingkan lokasi II membuat filum Mollusca tersebut harus mampu beradaptasi agar dapat bertahan hidup. Brown (1980) yang menyatakan bahwa Mollusca memiliki kisaran toleransi terhadap suhu tanah, namum mereka memiliki daya adaptasi yang luas jika suhu tanah ekstrem (terlalu panas atau terlalu dingin). Menurut Andrews (1930), Mollusca dapat bertahan pada kondisi yang cukup ekstrem (kering) karena tubuhnya tertutupi kutikula yang lembab dan memiliki cangkang yang mempertahankan kelembaban tubuhnya tersebut.

BAB 5

Dokumen terkait