III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.4 Analisis Pendugaan Fungsi Produksi
3.6.2 Analisis Kriteria Investasi dan Analisis Sensitivitas
Kelayakan usaha pembesran udang windu di Desa Lamaran Tarung dapat diketahui melalui analisis terhadap kriteria investasi pada usaha tersebut.
Beberapa kriteria investasi yang penting untuk dianalisis diantaranya adalah nilai Net Present Value (NPV), Net Benefit/Cost (Net B/C), dan Internal Rate of Return (IRR). Analisis kriteria investasi yang dilakukan pada penelitian ini merupakan analisis kriteria investasi pada kondisi aktual dan optimal. Kondisi aktual dihitung
41 dengan analisis tanpa proyek, sedangkan untuk kondisi optimal dihitung menggunakan kondisi dengan proyek.
Analisis kriteria investasi dilakukan dengan menggunakan cashflow dari usaha yang dilakukan. Dalam cashflow ini terdapat dua komponen penting yaitu arus kas masuk (inflow) dan arus kas keluar (outflow). Dari hasil penelitian diperoleh nilai arus kas yang masuk tanpa proyek sebesar Rp 36.721.753,00. Pada kondisi dengan proyek yaitu kondisi optimal 7 ekor/m2, arus kas masuk sebesar Rp 158.878.128,00 yang berasal dari penjualan udang. Pada tahun akhir total arus kas yang masuk adalah Rp 171.971.461,00 yang berasal dari penjualan udang dan nilai sisa dari akhir proyek (Lampiran 11). Sedangkan pada kondisi optimal 5 ekor/m2(Islam dan Alam, 2008) arus kas yang masuk sebesar Rp. 146.675.819,00.
Pada tahun akhir total arus kas yang masuk adalah Rp 159.769.151,00 yang berasal dari penjualan udang dan nilai sisa dari akhir proyek.
Berdasarkan analisis usaha yang diperoleh, maka dalam analisis kriteria investasi ini akan digunakan tiga skenario analisis. Skenario pertama yaitu petambak menggunakan lahan milik sendiri. Pada skenario kedua diasumsikan petambak menggunakan lahan dengan cara menyewa dan pada skenario ketiga selain menggunakan lahan sewa, petambak juga mendapat sebagian modalnya melalui pinjaman bank.
Pada analisis kriteria investasi ini, arus kas keluar (outflow) terdiri dari biaya investasi, biaya tetap, dan biaya variabel. Biaya investasi dihitung dari besarnya biaya yang dikeluarkan untuk barang-barang yang memiliki umur teknis minimal satu tahun. Pada kondisi tanpa proyek, biaya investasi diperoleh dari biaya penyusutan dan sewa lahan.
Dalam suatu analisis kriteria investasi, cashflow dibuat untuk mengetahui arus tambahan manfaat bersih sebagai akibat pengurangan biaya bersih tambahan selama umur proyek, yaitu dari kondisi aktual ke kondisi optimal 7 ekor/m2 dengan tambahan biaya operasional yang harus ditambah sebesar Rp 1.023.65 dan untuk merubah ke kondisi optimal 5 ekor/m2 dibutuhkan tambahan biaya sebesar Rp 851,07. Beberapa asumsi yang digunakan dalam menyusun cashflow dalam penelitian usaha budidaya pembesaran udang windu di Desa Lamaran Tarung ini diantaranya adalah :
42 1. Usaha dianalisis berdasarkan tiga skenario kondisi usaha, yaitu
a. Skenario pertama adalah usaha dijalankan dengan menggunakan lahan milik sendiri dengan kepadatan benur 5 ekor/m2 dan 7 ekor/m2.
b. Skenario kedua adalah usaha dijalankan dengan menggunakan lahan milik orang lain melalui mekanisme sewa dengan kepadatan benur sebesar 5 ekor/m2 dan 7 ekor/m2.
c. Skenario ketiga adalah usaha dijalankan dengan menggunakan lahan sewa dan sebagian modal berasal dari pinjaman bank.
Pinjaman bank yang diberikan dalam bentuk kredit sebesar Rp.
5.000.000 (Sumber Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank BRI).
Kepadatan benur yang digunakan sebesar 5 ekor/m2 dan 7 ekor/m2.
2. Jangka waktu kredit sepuluh tahun dengan tingkat suku bunga 16% dan tingkat pengembalian setiap tahun.
3. Dalam satu tahun terdiri dari 3 kali panen.
4. Umur proyek selama 10 tahun yang didasarkan kepada umur teknis terlama dari komponen investasi yaitu konstruksi tambak.
5. Peningkatan teknologi menggunakan pemupukan, pengapuran dan pencegahan hama dan penyakit (Islam dan Alam, 2008) .
Skenario ini didasarkan pada kondisi di Desa Lamaran Tarung yang sebagian besar petambak melakukan budidaya dengan lahan milik sendiri dan jarang yang melakukan peminjaman kepada pihak bank. Skenario ketiga ini juga dapat digunakan oleh pihak bank sebagai dasar peminjaman modal kepada petambak agar prosesnya dapat dipermudah.
Analisis sensitivitas adalah suatu teknik untuk menguji secara matematis apa yang akan terjadi pada kapasitas penerimaan suatu proyek apabila terjadi kejadian-kejadian yang berbeda dengan perkiraan yang dibuat dalam perencanaan.
Suatu analisis sensitivitas dikerjakan dengan mengubah suatu unsur tertentu pada hasil analisis (Kadariah et al, 1976). Analisis sensitivitas akan dilakukan dengan menaikkan harga pakan sebesar 28% karena kenaikan tertinggi dalam 5 tahun terakhir adalah sebesar 28% (Lampiran 2). Harga pakan dipilih sebagai komponen
43 yang dinaikkan karena harga pakan merupakan faktor produksi yang paling tinggi biayanya dan amat penting untuk kelangsungan usaha budidaya.
a. Skenario 1 (Lahan Milik Sendiri)
Analisis kriteria investasi pada usaha pembesaran udang windu di Desa Lamaran Tarung dengan menggunakan skenario pertama, yaitu menggunakan lahan milik sendiri. Pada kondisi optimal 7 ekor/m2 diperoleh nilai NPV sebesar Rp 485.599.725. Nilai NPV ini menunjukkan besarnya manfaat bersih yang diperoleh selama umur proyek sepuluh tahun yang dihitung saat ini dengan discount rate 16% pertahun. Nilai Net B/C adalah perbandingan antara jumlah nilai sekarang dari keuntungan bersih pada tahun-tahun yang mana keuntungan bersih bernilai positif dengan keuntungan bersih bernilai negatif (Kadariah et al, 1976). Pada skenario 1 diperoleh nilai Net B/C sebesar 6.63 yang artinya usaha tersebut akan memberikan manfaat bersih sebesar 6,63 setiap biaya Rp 1,00 selama 10 tahun. IRR adalah nilai discount rate i yang membuat NPV pada proyek sama dengan nol (Kadariah et al, 1976). Pada skenario pertama IRR bernilai 105%
yang berarti usaha pembesaran udang windu dengan lahan milik sendiri memberikan manfaat bersih internal sebesar 105% per tahun dari investasi yang ditanamkan selama sepuluh tahun umur proyek.
Analisis sensitivitas pada skenario pertama kondisi optimal 7 ekor/m2 menunjukkan bahwa kenaikan harga pakan sebesar 28% akan menyebabkan nilai NPV menjadi 475.792.051 (Lampiran 14). Pada skenario pertama ini harga pakan dinaikkan dari Rp 9.000/kg menjadi Rp 11.520,00. Nilai Net B/C setelah dilakukan analisis sensitivitas menjadi 6,52 (berkurang 0,11) dan nilai IRR setelah dilakukan analisis sensitivitas menjadi 103% (Tabel 12)
Pada kondisi optimal 5 ekor/m2 diperoleh nilai NPV sebesar Rp 436.936.248, Nilai Net B/C sebesar 6.07 yang artinya usaha tersebut akan memberikan manfaat bersih sebesar 6,07 setiap biaya Rp 1,00 selama 10 tahun.
Pada skenario pertama IRR bernilai 95% yang berarti usaha pembesaran udang windu dengan lahan milik sendiri memberikan manfaat bersih internal sebesar 95% per tahun dari investasi yang ditanamkan selama sepuluh tahun umur proyek.
44 Analisis sensitivitas pada skenario pertama kondisi optimal 5 ekor/m2 menunjukkan bahwa kenaikan harga pakan sebesar 28% akan menyebabkan nilai NPV menjadi 427.128.573. Nilai Net B/C setelah dilakukan analisis sensitivitas menjadi 5,96 dan nilai IRR setelah dilakukan analisis sensitivitas menjadi 92%
(Tabel 12)
Tabel 12. Kriteria Investasi pada skenario 1 Sebelum dan Setelah Kenaikan Harga Pakan
Analisis kriteria investasi untuk skenario pertama ini diperoleh nilai NPV lebih besar dari nol, nilai Net B/C lebih dari satu dan IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku. Hasil analisis kriteria investasi untuk padat tebar 5 ekor/m2 dan 7 ekor/m2 menunjukkan bahwa usaha pembesaran udang windu dengan lahan milik sendiri layak untuk dijalankan. Analisis sensitivitas pada skenario 1 menunjukan bahwa usaha pembesaran udang windu pada skenario 1 pada padat penebaran benur 5 ekor/m2 dan 7 ekor/m2 tidak sensitif terhadap kenaikan harga pakan. Nilai NPV, Net B/C dan IRR kepadatan udang 7 ekor/m2 lebih tinggi dibandingkan dengan kepadatan udang 5 ekor/m2. Hal ini berarti pada skenario pertama, kepadatan udang 7 ekor/m2 memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan kepadatan udang 5 ekor/m2.
b. Skenario 2 (Lahan Sewa)
Pada skenario ini diasumsikan bahwa lahan yang digunakan untuk kegiatan usaha pembesaran udang windu ini merupakan lahan sewa. Harga sewa untuk laha di Desa Lamaran Tarung rata-rata sebesar Rp 550/m2 selama 1 tahun. Pada kondisi optimal 7 ekor/m2 diperoleh NPV Rp 514.329.105. Nilai NPV ini menunjukkan besarnya manfaat bersih yang diperoleh selama umur proyek sepuluh tahun yang dihitung saat ini dengan discount rate 16% pertahun. Pada skenario kedua nilai Net B/C diperoleh nilai 21,34 yang berarti bahwa setiap Rp
45 1,00 yang dikeluarkan untuk usaha pembesaran udang windu ini akan menghasilkan manfaat bersih sebesar 21,34. Nilai IRR bernilai 370% yang berarti usaha pembesaran udang windu ini dengan lahan sewa memberikan manfaat bersih internal sebesar 370% pertahun dari investasi yang ditanamkan selama sepuluh tahun proyek.
Analisis sensitivitas pada skenario kedua kondisi optimal 7 ekor/m2 menunjukkan bahwa kenaikan harga pakan sebesar 28% akan menyebabkan nilai NPV menjadi 504.521.431. Pada skenario kedua ini harga pakan juga dinaikkan dari Rp 9.000/kg menjadi Rp 11.520,00. Nilai Net B/C setelah dilakukan analisis sensitivitas menjadi 20,95 (berkurang 0,39) dan nilai IRR setelah dilakukan analisis sensitivitas menjadi 363% (Tabel 13).
Pada kondisi optimal 5 ekor/m2 diperoleh NPV Rp 465.665.628. Nilai NPV ini menunjukkan besarnya manfaat bersih yang diperoleh selama umur proyek sepuluh tahun yang dihitung saat ini dengan discount rate 16% pertahun. Nilai Net B/C diperoleh sebesar 19,41 yang berarti bahwa setiap Rp 1,00 yang dikeluarkan untuk usaha pembesaran udang windu ini akan menghasilkan manfaat bersih sebesar 19,41. Nilai IRR bernilai 335% yang berarti usaha pembesaran udang windu ini dengan lahan sewa memberikan manfaat bersih internal sebesar 335% pertahun dari investasi yang ditanamkan selama sepuluh tahun proyek.
Analisis sensitivitas pada skenario kedua kondisi optimal 5 ekor/m2 menunjukkan bahwa kenaikan harga pakan sebesar 28% akan menyebabkan nilai NPV menjadi 455.857.953. Nilai Net B/C setelah dilakukan analisis sensitivitas menjadi 19,02 dan nilai IRR setelah dilakukan analisis sensitivitas menjadi 328%
(Tabel 13).
Tabel 13. Kriteria Investasi pada skenario 2 Sebelum dan Setelah Kenaikan Harga Pakan
46 Analisis kriteria investasi untuk skenario kedua ini diperoleh nilai NPV lebih besar dari nol, nilai Net B/C lebih dari satu dan IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku. Hasil analisis kriteria investasi ini menunjukkan bahwa usaha pembesaran udang windu dengan lahan sewa layak untuk dijalankan dan memberikan keuntungan lebih besar dibandingkan dengan menggunakan lahan milik sendiri. Analisis sensitivitas pada skenario 2 menunjukan bahwa usaha pembesaran udang windu pada skenario 2 pada padat penebaran benur 5 ekor/m2 dan 7 ekor/m2 tidak sensitif terhadap kenaikan harga pakan. Nilai NPV, Net B/C dan IRR kepadatan udang 7 ekor/m2 lebih tinggi dibandingkan dengan kepadatan udang 5 ekor/m2. Hal ini berarti pada skenario keuda, kepadatan udang 7 ekor/m2 memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan kepadatan udang 5 ekor/m2.
c. Skenario 3 (Lahan Sewa dan Pinjaman Bank)
Pada skenario ketiga ini diasumsikan bahwa lahan yang digunakan untuk kegiatan usaha pembesaran udang windu ini merupakan lahan sewa dan sebagian modal usaha berasala dari pinjaman bank. Pinjaman yang digunakan berasal dari kredit sebesar Rp 5.000.000 dengan cicilan (pokok dan bunga) tetap selama jangka waktu 10 tahun dengan tingkat suku bunga pinjaman 16% pertahun. Dari hasil analisis kriteria investasi dengan skenario lahan sewa dan pinjaman pada kondisi optimal 7 ekor/m2 ini diperoleh nilai NPV sebesar Rp 516.815.905. Nilai Net B/C pada analisis kriteria investasi dengan skenario lahan sewa dan pinjaman ini sebesar 26,52. Hal ini berarti setiap Rp 1,00 biaya yang dikeluarkan untuk usaha pembesaran udang windu ini akan menghasilkan manfaat bersih sebesar Rp 26,52 selama sepuluh tahun umur proyek dengan discount rate 16%. Nilai IRR pada skenario ketiga ini menunjukkan nilai 464% yang artinya usaha pembesaran udang dengan lahan sewa dan pinjaman bank ini akan memberikan manfaat bersih sebesar 464% pertahun dari investasi yang ditanamkan selama sepuluh tahun umur proyek
Analisis sensitivitas pada skenario ketiga menunjukkan bahwa kenaikan harga pakan sebesar 28% akan menyebabkan nilai NPV menjadi 507.008.230.
Pada skenario ketiga ini harga pakan dinaikkan sebanyak 28% dari Rp 9.000/kg
47 menjadi Rp 11.520,00. Nilai Net B/C setelah dilakukan analisis sensitivitas menjadi 26,03 (berkurang 0,49) dan nilai IRR setelah dilakukan analisis sensitivitas menjadi 455% atau berkurang sebesar 9% (Tabel 14).
Pada kondisi optimal 5 ekor/m2 diperoleh NPV Rp 468.152.427. Nilai NPV ini menunjukkan besarnya manfaat bersih yang diperoleh selama umur proyek sepuluh tahun yang dihitung saat ini dengan discount rate 16% pertahun. Nilai Net B/C diperoleh sebesar 24,11 yang berarti bahwa setiap Rp 1,00 yang dikeluarkan untuk usaha pembesaran udang windu ini akan menghasilkan manfaat bersih sebesar 24,11. Nilai IRR bernilai 421% yang berarti usaha pembesaran udang windu ini dengan lahan sewa memberikan manfaat bersih internal sebesar 421% pertahun dari investasi yang ditanamkan selama sepuluh tahun proyek.
Analisis sensitivitas pada skenario kedua kondisi optimal 5 ekor/m2 menunjukkan bahwa kenaikan harga pakan sebesar 28% akan menyebabkan nilai NPV menjadi 458.344.753. Nilai Net B/C setelah dilakukan analisis sensitivitas menjadi 23,62 dan nilai IRR setelah dilakukan analisis sensitivitas menjadi 412%
(Tabel 14).
Tabel 14. Kriteria Investasi pada Skenario 3 Sebelum dan Setelah Kenaikan Harga Pakan
Hasil analisis kriteria investasi ini menunjukkan bahwa usaha pembesaran udang windu dengan lahan sewa layak untuk dijalankan dan memberikan keuntungan lebih besar dibandingkan skenario satu dan skenario dua. Analisis sensitivitas pada skenario 3 menunjukan bahwa usaha pembesaran udang windu pada skenario 3 pada padat penebaran benur 5 ekor/m2 dan 7 ekor/m2 tidak sensitif terhadap kenaikan harga pakan. Nilai NPV, Net B/C dan IRR kepadatan udang 7 ekor/m2 lebih tinggi dibandingkan dengan kepadatan udang 5 ekor/m2. Hal ini berarti pada skenario ketiga, kepadatan udang 7 ekor/m2 memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan kepadatan udang 5 ekor/m2.
48 Berdasarkan Hasil analisis kriteria investasi pada usaha pembesaran udang windu di Desa Lamaran Tarung dengan menggunakan tiga skenario ini menunjukkan bahwa usaha pada skenario ketiga memberikan manfaat terbesar.
Pada kondisi sebenarnya, analisis kriteria investasi dengan skenario ketiga paling layak dijalankan. Hal ini dikarenakan pada kondisi sebenarnya yang menjadi hambatan petambak melakukan perluasan usaha adalah masalah permodalan, karena itu skenario usaha dengan menggunakan lahan sewa dan sebagian modal berasal dari pinjaman bank layak untuk digunakan.
Skenario ketiga disarankan menjadi pilihan pemerintah untuk dijadikan suatu kebijakan sehingga pemberian modal terhadap petambak dapat dipermudah.
Pemberian modal kepada petambak dapat meningkatkan produksi perikanan budidaya khususnya udang windu. Produksi udang windu saat ini di Desa Lamaran Tarung telah menyumbangkan 64,62% dari total produksi di Kecamatan Cantigi atau sebesar 5.417,50 ton (2% dari total produksi udang di Indonesia pada Tahun 2009). Peningkatan produksi dengan program intensifikasi akan menghasilkan produksi sebesar 13.522,08 ton. Jika dianggap Desa Lamaran Tarung membudidayakan udang windu semuanya maka Desa Lamaran Tarung saja akan menyumbangkan 6,80% dari total target produksi udang windu Indonesia pada Tahun 2014 yang mencapai 199.000 ton. Padat tebar yang optimal untuk kegiatan budidaya di Desa Lamaran Tarung adalah 5 ekor/m2 dan 7 ekor/m2. Padat tebar 7 ekor/m2 memberikan keuntungan yang lebih besar, namun penggunaan padat tebar 7 ekor/m2 mempunyai resiko budidaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan 5 ekor/m2. Padat tebar yang lebih tinggi meningkatkan resiko kematian akibat lebih tinggi dibandingkan padat tebar yang rendah. Hal ini sesuai dengan Islam dan Alam (2008) yang melaporkan bahwa kepadatan 5 ekor/m2 merupakan kepadatan yang paling optimal untuk budidaya udang windu.
Penggunaan kepadatan 7 ekor/m2 dapat digunakan apabila pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan baik. Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti sterilisasi air masuk, pencegahan ikan-ikan dan udang liar masuk ke dalam tambak, penambahan imunostimulan seperti bawang putih dan penggunaan probiotik ke dalam tambak.
49