OPTIMALISASI PENGGUNAAN INPUT DAN ANALISIS FINANSIAL PADA USAHA PEMBESARAN UDANG WINDU Penaeus monodon
DI DESA LAMARAN TARUNG KECAMATAN CANTIGI KABUPATEN INDRAMAYU
HENDRIYANTO
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
2010
ii ABSTRAK
HENDRIYANTO. Optimalisasi Penggunaan Input dan Analisis Finansial pada Usaha Pembesaran Udang Windu Penaeus monodon di Desa Lamaran Tarung Kecamatan Cantigi Kabupaten Indramayu. Dibimbing Oleh Iis Diatin dan Enang Harris.
Budidaya tambak udang di Kecamatan Cantigi Kabupaten Indramayu masih belum optimal seperti faktor-faktor produksi yang terbatas, manajemen tambak yang belum efisien, dan pengetahuan petambak yang rendah dalam budidaya udang. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis optimalisasi penggunaan input dan kelayakan finansial di Kecamatan Cantigi. Metode yang digunakan berupa studi kasus dengan metode purposive sampling. Analisis data menggunakan metode analisis fungsi produksi Cobb-Douglas dan analisis finansial. Pendugaan efisiensi penggunaan input didapatkan input yang optimal adalah 7 ekor/m2 untuk benur, 0,0217 kg/m2 untuk pakan, 0,0229 jam/m2 untuk pompa, 0,0016 jam/m2 untuk tenaga kerja persiapan, 0,0142 jam/m2 untuk tenaga kerja pemeliharaan, 0,0049 jam/m2 untuk tenaga kerja panen dan 0,0031 kg/m2 untuk saponin.
Analisis usaha pembesaran udang windu pada kondisi optimal adalah R/C 4,51, Pay Back Period 0,42 tahun, dan Break Even Point sebesar Rp 4.735.940.
Analisis kriteria investasi dengan skenario sewa lahan dan pinjaman bank merupakan skenario yang paling baik dengan nilai NPV sebesar 517.669.132, Net B/C 26.79 dan IRR sebesar 469%. Analisis sensitivitas dengan merubah harga pakan sebesar 28% menunjukkan bahwa usaha masih layak untuk dijalankan.
Kata Kunci : Optimalisasi Input, Usaha Pembesaran Udang Windu, Analisis Finansial
--- ABSTRACT
HENDRIYANTO, Optimization Input Using and Analyse Financial Production of Tiger Prawn Penaeus monodon in Countryside Lamaran Tarung Subdistrict Cantigi Regency Indramayu. Supervised by Iis Diatin and Enang Harris.
Shrimp production at Subdistrict Cantigi Regency Indramayu is still not optimal such as production factor is limited, pond management is not efficient, and farmer’s knowledge about shrimp farming is low. The target research is to analyze optimization input use and financial elegibility at Subdistrict Cantigi. Method used by case study with intake sampel method in the form of purposive sampling.
Analyse data use method analyse function produce Cobb-Douglas and analyse finansial. input use Efficiency anticipation got a optimal input is 7/m2 for fry, 0,0217 kg/m2 for feed, 0,0229 hour/m2 to pump, 0,0016 hour/m2 for the preparation labour, 0,0142 hour/m2 for the conservancy labour, 0,0049 hour/m2 for the labour harvest and 0,0031 kg/m2 for saponin. Analyse the production of tiger prawn at optimal condition is R/C 4,51, Pay Back Period 0,42 year, and
iii Break Even Point equal to Rp 4.735.940. Invesment criteria analysis with third scenario represent best scenario with value NPV equal to 517.669.132, Net B/C 26.79 and IRR equal to 469%. analysis Sensitivity with change price of feed at 28% indicating that effort still be competent to be run.
Key Word : Optimization input, Production of Tiger Prawn, Financial Analyse
iv PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul :
OPTIMALISASI PENGGUNAAN INPUT DAN ANALISIS FINANSIAL PADA USAHA PEMBESARAN UDANG WINDU Penaeus monodon DI DESA LAMARAN TARUNG KECAMATAN CANTIGI KABUPATEN INDRAMAYU
Adalah benar merupakan hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya-karya yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan dari penulis yang telah disebutkan dalam teks dan tercantum dalam Daftar Pustaka di bagian akhir Skripsi ini.
Bogor, November 2010
Hendriyanto C14061310
v
© Hak cipta milik Hendriyanto, tahun 2010 Hak Cipta dilindungi
Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari Institut Pertanian Bogor, sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun, baik cetak, fotokopi,
microfilm, dan sebagainya
OPTIMALISASI PENGGUNAAN INPUT DAN ANALISIS FINANSIAL PADA USAHA PEMBESARAN UDANG WINDU Penaeus monodon
DI DESA LAMARAN TARUNG KECAMATAN CANTIGI KABUPATEN INDRAMAYU
HENDRIYANTO
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Program Studi Teknologi & Manajemen Perikanan Budidaya
Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
2010
vii Judul Skripsi : Optimalisasi Input dan Analisis Finansial pada Usaha
Pembesaran Udang Windu Penaeus monodon di Desa Lamaran Tarung Kecamatan Cantigi Kabupaten Indramayu
Nama Mahasiswa : Hendriyanto Nomor Pokok : C14061310
Disetujui,
Pembimbing I Pembimbing II
Ir. Iis Diatin, MM Prof. Dr. Ir. Enang Harris. MS NIP : 19630908 199902 2 001 NIP : 19490821 197503 1 001
Diketahui, Ketua Departemen
Dr. Ir. Odang Carman, M.Sc NIP : 19591222 198601 1 001
Tanggal Lulus :
viii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala karunia dan kemudahan yang diberikan kepada penulis dalam pembuatan skripsi yang berjudul “Optimalisasi Input dan Analisis Finansial pada Usaha Pembesaran Udang Windu Penaeus monodon di Desa Lamaran Tarung Kecamatan Cantigi Kabupaten Indramayu”. Penelitian ini dilakukan sejak bulan Maret hingga Juni 2010 bertempat di Desa Lamaran Tarung, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu.
Penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Agoes Halim dan Ibu Lilis Mulyawan yang telah banyak memberikan kasih sayangnya dan perhatiannya hingga saat ini. Kepada kakak saya Hadisusanto Halim yang memberikan motivasi agar segera menyelesaikan skripsi. Kepada Ibu Ir. Iis Diatin, MM selaku pembimbing akademik dan sekaligus juga sebagai pembimbing I skripsi, kepada Bapak Prof. Dr. Ir Enang Harris, MS, sebagai pembimbing II, kepada Ibu Dr. Widanarni sebagai pembimbing lapang, kepada Bapak Hj Maskur yang telah memberikan tempat tinggal ketika penulis melakukan penelitian, kepada Bapak Wiyoto, S.Pi M.Sc yang telah membantu penulis menyelesaikan skripsi ini, kepada Bapak Dr. Nur Bambang P.U, M.Si yang telah menjadi penguji tamu, kepada para petambak yang sudah memberikan informasi yang diperlukan penulis untuk menyelesaikan tugas akhir, kepada teman-teman Sistekers, teman-teman di Belanak Junction (Firsty Rahmatia, Ide Permatasari, Isni Rahmatika Sari), Hasan Abidin, Rahmadi Aziz, Riza Purbo, Rifqi Fathul Azmi, Angga Yudhistira, Zam-zam, Novia Gunawan, Novia Ayu Wulandari, Megaria, Fatma Hastuti dan Nicho Afiandi yang telah banyak membantu penulis menyelesaikan penelitian, kepada teman-teman seperjuangan BDP 43, 41, 42, 44, dan 45 atas persahabatan yang telah dibina selama ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, apabila terdapat kesalahan dalam skripsi ini harap dimaafkan dan dimaklumi. Penyusun juga mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan ke arah yang lebih baik lagi.
ix
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama lengkap Hendriyanto. Penulis lahir di Jakarta pada tanggal 27 September 1988 dari pasangan Bapak Agoes Halim dan Ibu Lilis Mulyawan. Penulis merupakan anak kedua dari dua bersaudara, dengan kakak yang bernama Hadisusanto Halim, S.Kom.
Pendidikan formal yang pernah dilalui penulis adalah SMA N 19 Jakarta dan lulus pada tahun 2006. Pada tahun 2006 penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk Institut Pertanian Bogor (USMI).
Pada tahun 2007 penulis diterima di Departemen Teknologi dan Manajemen Perikanan Budidaya melalui program mayor minor IPB. Selama perkuliahan penulis aktif dalam kegiatan organisasi Himpunan Mahasiswa Akuakultur (HIMAKUA) sejak tahun 2007 – 2009, menjadi asisten mata kuliah Nutrisi pada tahun 2009 dan asisten Manajemen Marikultur di Program Sarjana dan Diploma pada tahun 2010.
Penulis melakukan penelitian dengan judul “Optimalisasi Input dan Analisis Finansial pada Pembesaran Udang Windu Penaeus monodon di Desa Lamaran Tarung Kecamatan Cantigi Kabupaten Indramayu”. Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis dibimbing oleh Ibu Ir. Iis Diatin, MM dan Bapak Prof. Dr. Ir. Enang Harris, MS.
x
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ………... xi
DAFTAR GAMBAR ………... xii
DAFTAR LAMPIRAN ………... xiii
I. PENDAHULUAN ………... 1
II. BAHAN DAN METODE ………... 2.1 Waktu dan Tempat ………... 2.2 Metode Penelitian ... 2.3 Jenis dan Sumber Data ... 2.4 Metode Pengambilan Sampel ... 2.5 Analisis Data ... 2.5.1 Analisis Fungsi Produksi ... 2.5.2 Analisis Finansial ... 2.5.3 Analisis Sensitivitas ... 2.6 Batasan dan Pengukuran ... 4 4 4 4 5 5 6 9 11 13 III. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 3.1 Kondisi Umum Daerah Penelitian ... 3.2 Gambaran Umum Petambak ... 3.3 Usaha Pembesaran Udang Windu ... 3.3.1 Kegiatan Budidaya ... 3.3.2 Faktor Produksi Usaha Pembesaran Udang Windu ... 3.4 Analisis Pendugaan Fungsi Produksi ... 3.5 Analisis Efisiensi Penggunaan Input ... 3.6 Analisis Finansial ... 3.6.1 Analisis Usaha ... 3.6.2 Analisis Kriteria Investasi dan Analisis Sensitivitas ... 15 15 16 17 18 26 28 34 36 36 40 IV. KESIMPULAN DAN SARAN ... 4.1 Kesimpulan ... 4.2 Saran ... 49 49 50 DAFTAR PUSTAKA ... 51
LAMPIRAN ... 52
xi
DAFTAR TABEL
1. Proyeksi Produksi Udang di Indonesia Tahun 2009 – 2014 ... 1 2. Luas Lahan Perikanan Budidaya di Indonesia Menurut Jenis Budidaya,
2005 – 2009 (m2) ... 2 3. Luas Areal Pertambakan Di Kecamatan Cantigi Tahun 2008 ... 15 4. Rekapitulasi Data Realisasi Produksi Perikanan Budidaya Tambak
Bulan Januari 2009 s/d April 2010 di Kabupaten Indramayu ... 16 5. Rata-rata Input dan Output per Musim Tanam dari Usaha Pembesaran
Udang Windu pada Kondisi Aktual di Desa Lamaran Tarung tahun
2010 ... 27 6. Hasil Pendugaan Koefisien Regresi dengan Metode Kuadrat Terkecil
pada Usaha Pembesaran Udang Windu di Desa Lamaran Tarung ... 29 7. Nilai VIF dan Nilai Toleransi untuk Setiap Variabel Input ... 31 8. Nilai NPM, Input dan Output yang Efisien, serta nilai Rasio NPM dan
Pxi pada Usaha Pembesaran Udang Windu di Desa Lamaran Tarung
Tahun 2010 ... 34 9. Data Kualitas Air dari Beberapa Titik di Desa Lamaran Tarung ... 35 10. Analisis Pendapatan Usaha Pembesaran Udang Windu di Desa Lamaran
Tarung Kecamatan Cantigi pada Luas Lahan 12.363,64 m2 Tahun 2010 38 11. Total Biaya, Penerimaan dan Keuntungan Usaha Pembesaran Udang
Windu Di Desa Lamaran Tarung per tahun pada kondisi Aktual dan
Optimal ... 39 12. Kriteria Investasi pada skenario 1 Sebelum dan Setelah Kenaikan Harga
Pakan ... 44 13. Kriteria Investasi pada skenario 2 Sebelum dan Setelah Kenaikan Harga
Pakan ... 45 14. Kriteria Investasi pada Skenario 3 Sebelum dan Setelah Kenaikan
Harga Pakan ... 47
xii
DAFTAR GAMBAR
1. Grafik Produksi Udang dan Permintaan Ekspor di Indonesia... 2
2. Proses Pengeringan Tambak ... 19
3. Pompa ... 19
4. Pemanenan Benur Windu ... 21
5. Baskom Berisi Benur ... 21
6. Perendaman Air Tawar ... 21
7. Bentuk Tambak Pendederan ... 21
8. Tutup Botol Mineral yang Telah Diberi Lubang ... 21
9. Pengangkutan Benur Menggunakan Motor ... 22
10. Proses Pemberian Pakan ... 23
11 Grafik Normal P-P Plot of Output ... 30
12. Grafik Scatterplot ... 31
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
1. Peta Lokasi Penelitian ... 53 2. Kenaikan Harga Pakan Udang dari Tahun 2006 – 2010 ... 53 3. Karakteristik Responden Petambak Udang Windu di Desa Lamaran
Tarung Kecamatan Cantigi ... 54 4. Data Produksi, Faktor Produksi, Harga dan Nilai Beli Produksi Per
Musim Tanam pada Usaha Pembesaran Udang Windu di Desa
Lamaran Tarung ... 55 5. Hasil Pendugaan Fungsi Produksi dengan Metode Kuadrat Terkecil 57 6. Hasil Pendugaan Fungsi produksi dengan Statistical Product and
Service Solution ... 57 7. Contoh Perhitungan Input Produksi Optimal ... 62 8. Nilai Investasi dan Penyusutan pada Usaha Pembesaran Udang
Windu dalam Kondisi Aktual di Desa Lamaran Tarung dengan Luas Lahan 12.363,64 m2 Tahun 2010 ... 63 9. Nilai Investasi dan Penyusutan pada Usaha Pembesaran Udang
Windu dalam Kondisi Optimal di Desa Lamaran Tarung dengan Luas Lahan 12.363,64 m2 Tahun 2010 ... 63 10. Perhitungan Analisis Usaha pada Kondisi Aktual dan Optimal pada
Usaha Pembesaran Udang Windu di Desa Lamaran Tarung dengan
Luas Lahan 12363,64m2 Tahun 2010 ... 64 11. Cash Flow pada Usaha Pembesaran Udang Windu pada Kondisi
Optimal 7 ekor/m2 dengan Skenario 1 (Lahan Milik Sendiri) di Desa Lamaran Tarung Tahun 2010 ... 65 12. Cash Flow pada Usaha Pembesaran Udang Windu pada Kondisi
Optimal 5 ekor/m2 dengan Skenario 1 (Lahan Milik Sendiri) di Desa Lamaran Tarung Tahun 2010 ... 66 13. Cash Flow pada Usaha Pembesaran Udang Windu pada Kondisi
Optimal 7 ekor/m2 dengan Skenario 2 (Lahan Sewa) di Desa
Lamaran Tarung Tahun 2010 ... 67 14. Cash Flow pada Usaha Pembesaran Udang Windu pada Kondisi
Optimal 5 ekor/m2 dengan Skenario 2 (Lahan Sewa) di Desa
Lamaran Tarung Tahun 2010 ... 68 15. Cash Flow pada Usaha Pembesaran Udang Windu pada Kondisi
Optimal 7 ekor/m2 dengan Skenario 3 (Lahan Sewa & Pinjaman
Bank) di Desa Lamaran Tarung Tahun 2010 ... 69 16. Cash Flow pada Usaha Pembesaran Udang Windu pada Kondisi
Optimal 5 ekor/m2 dengan Skenario 3 (Lahan Sewa & Pinjaman
Bank) di Desa Lamaran Tarung Tahun 2010 ... 70
xiv 17. Cash Flow pada Usaha Pembesaran Udang Windu pada Kondisi
Optimal 7 ekor/m2 dengan Skenario 1 dengan asumsi terjadi kenaikan pakan sebesar 28% ... 71 18. Cash Flow pada Usaha Pembesaran Udang Windu pada Kondisi
Optimal 5 ekor/m2 dengan Skenario 1 dengan asumsi terjadi kenaikan pakan sebesar 28% ... 72 19. Cash Flow pada Usaha Pembesaran Udang Windu pada Kondisi
Optimal 7 ekor/m2 dengan Skenario 2 dengan asumsi terjadi kenaikan pakan sebesar 28% ... 73 20. Cash Flow pada Usaha Pembesaran Udang Windu pada Kondisi
Optimal 5 ekor/m2 dengan Skenario 2 dengan asumsi terjadi kenaikan pakan sebesar 28% ... 74 21. Cash Flow pada Usaha Pembesaran Udang Windu pada Kondisi
Optimal 7 ekor/m2 dengan Skenario 3 dengan asumsi terjadi kenaikan pakan sebesar 28% ... 75 22. Cash Flow pada Usaha Pembesaran Udang Windu pada Kondisi
Optimal 5 ekor/m2 dengan Skenario 3 dengan asumsi terjadi kenaikan pakan sebesar 28% ... 76
1
I. PENDAHULUAN
Indonesia adalah negara yang memiliki panjang pantai terpanjang kedua setelah Kanada dengan panjang keseluruhan mencapai 95.181 Km2. Oleh karena itu budidaya perikanan sangat berpotensi untuk dikembangkan. Pada tahun 2009 Menteri Kelautan dan Perikanan telah mencanangkan visi KKP yang berisi bahwa Indonesia akan dijadikan sebagai negara penghasil produk kelautan dan perikanan terbesar pada tahun 2015 mendatang. Visi tersebut bertujuan mensejahterakan masyarakat perikanan dan kelautan. Adapun program utama visi tersebut adalah peningkatan produksi budidaya nasional yang mencapai 353% pada tahun 2015 (KKP, 2010). Komoditas unggulan yang ditargetkan peningkatannya adalah rumput laut, patin, lele, nila, bandeng, udang vaname, udang windu, mas, gurame, kakap dan kerapu. Udang adalah salah satu komoditas unggulan Indonesia yang ditargetkan meningkat cukup pesat. Hasil proyeksi udang di Indonesia dari tahun 2009–2014, produksi udang semakin ditingkatkan setiap tahunnya (Tabel 1).
Tabel 1. Proyeksi Produksi Udang di Indonesia Tahun 2009 – 2014 (satuan : ton)
Sumber : DKP dalam angka, 2009
Budidaya tambak adalah sektor budidaya yang paling banyak diminati oleh pembudidaya di Indonesia. Beberapa jenis biota yang termasuk budidaya tambak adalah udang windu, udang vaname, rumput laut, ikan bandeng dan lain-lain.
Udang windu dan vaname nerupakan jenis biota budidaya tambak yang paling banyak diminati, karena udang windu maupun udang vaname memiliki cita rasa yang enak, permintaan dan harga yang tinggi, dan relatif stabil di perdagangan ekspor. Sehingga prospeknya cukup menjanjikan sebagai sumber penghasilan.
Laporan KKP (2009) menunjukkan bahwa persentase budidaya tambak adalah terbesar dibandingkan dengan jenis budidaya lainnya (Tabel 2).
Rincian 2009* 2010 2011 2012 2013 2014 Kenaikan
2009 - 2014 Udang 348,100 400,300 460,000 529,000 608,000 699,000 200 % Udang windu 123,100 125,300 130,000 139,000 158,000 199,000 161 % Udang vaname 225,000 275,000 330,000 390,000 450,000 500,000 222 %
2 Tabel 2. Luas Lahan Perikanan Budidaya di Indonesia Menurut Jenis Budidaya, 2005 – 2009 (m2)
Sumber : DKP dalam angka, 2009
Udang windu Penaeus monodon merupakan salah satu komoditas yang ditingkatkan produksinya hingga mencapai 161% (KKP, 2010). Adapun peningkatan produksi ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu ekstensifikasi dan intensifikasi. Ekstensifikasi adalah program peningkatan produksi dengan cara memperluas lahan. Sedangkan intensifikasi adalah penambahan kepadatan organisme yang dipelihara dengan berbagai teknologi sehingga meningkatkan produksi dalam satuan tertentu.
Udang menjadi salah komoditas ekspor yang memiliki nilai ekspor tinggi.
Hal ini dibuktikan dari permintaan ekspor yang cenderung meningkat dari tahun 2005–2008 (Gambar 1).
Sumber : DKP dalam angka, 2009
Gambar 1. Grafik Produksi Udang dan Permintaan Ekspor di Indonesia 0
0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2
2005 2006 2007 2008
Juta ton
Tahun
Ekspor dalam bentuk Tidak beku
Produksi Budidaya Tambak
Produksi Udang Ekspor dalam bentuk Beku
Jenis Budidaya Tahun
Persentase (%)
2005 2006 2007 2008 2009*)
Budidaya Sawah 125.884 119.057 118.320 127.944 136.330 11,60 % Budidaya Laut 62.629 74.543 84.481 87.790 120.680 10,27 % Budidaya Tambak 512.524 612.530 611.889 613.175 673.860 57,33 % Budidaya Kolam 107.785 113.132 125.398 241.891 242.020 20,60 %
Budidaya Karamba 401 320 433 207 930 0,07 %
Budidaya Jaring Apung 966 921 1.058 736 1.550 0,13 % Jumlah 810.189 920.503 941.580 1.071.743 1.175.370 100 %
3 Kabupaten Indramayu merupakan salah satu daerah di pantai utara Pulau Jawa (Pantura) yang berpotensi untuk budidaya udang. Produksi udang di Indramayu pada tahun 2009 sebanyak 42.658,31 ton (12,26% dari total produksi Indonesia). Daerah Indramayu merupakan daerah yang cukup maju dalam usaha budidaya udang dikarenakan salah satu faktornya adalah dibangunnya kilang minyak Pertamina unit Balongan yang menjadikan suplai listrik untuk daerah tersebut tercukupi (BPS, 2009). Namun ketersediaan listrik ini tidak begitu termanfaatkan oleh petambak daerah tersebut, hal ini dilihat dari budidaya tambak yang masih belum menggunakan listrik. Padahal listrik tersebut bisa dimanfaatkan sebagai pembangkit kincir ataupun pompa untuk budidaya tambak udang. Dengan adanya penggunaan listrik pada budidaya tambak, membuat program intensifikasi lebih maksimal karena penggunaan kincir dan pompa dengan menggunakan listrik lebih ekonomis dibandingkan dengan menggunakan solar.
Permasalahan yang sering timbul dalam usaha budidaya adalah keterbatasan dalam penggunaan input (faktor produksi) yang disebabkan modal yang terbatas, pengelolaan yang masih sederhana, serta keterampilan petambak rendah. Hal ini terlihat dari padat tebar yang digunakan masih rendah yaitu sekitar 1–3 ekor/m2 sedangkan tambak tradisional dapat ditingkatkan hingga mencapai 5 ekor/m2 (Suyanto dan Takarina, 2009), penggunaan sarana produksi yang masih minim seperti tidak adanya tandon untuk menampung air bersih, anco yang jumlahnya terbatas, pengelolaan kualitas air yang masih kurang baik, konstruksi wadah yang belum memadai seperti pembatas antar tambak terkadang ada yang kurang padat sehingga terjadi kebocoran antar tambak. Sehingga dari sarana produksi yang masih rendah tersebut memungkinkan proses produksi menjadi tidak efisien yang pada akhirnya membuat keuntungan yang didapat menjadi kurang maksimal.
Berdasarkan uraian diatas, masalah yang akan diteliti adalah kondisi aktual budidaya udang saat ini dan kelayakan finansial usaha pembesaran udang windu di Desa Lamaran Tarung yang belum optimal. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah menganalisis optimalisasi penggunaan input dan kelayakan finansial usaha pembesaran udang windu di Kecamatan Cantigi, Desa Lamaran Tarung.
4
II. BAHAN DAN METODE
2.1 Waktu dan tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Juni 2010 di Desa Lamaran Tarung, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu, dan Laboratorium Teknologi dan Manajemen Produksi Akuakultur. Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor
2.2 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Studi kasus mengenai subjek penelitian yang berkenaan dengan suatu fase spesifik dari keseluruhan personalitas (Nazir, 1998). Penelitian dengan studi kasus adalah memberikan gambaran secara detail tentang latar belakang, sifat-sifat, dan karakter yang khas dari unit yang dianalisis.
Menurut Soeratno dan Arsyad (1999), metode penelitian dengan menggunakan studi kasus, menunjukkan bahwa penelitian dilakukan dalam lingkup yang terbatas, sehingga hasil penelitian tidak dapat digeneralisasikan.
Studi kasus digunakan sebagai metode dalam penelitian ini, karena metode ini paling sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di daerah penelitian. Satuan kasus yang digunakan dalam penelitian ini adalah petambak yang melakukan usaha pembesaran udang windu secara monokultur di Desa Lamaran Tarung, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu, Jawa barat.
2.3 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data text dan data image. Data text adalah data yang diperoleh dalam bentuk alphabet dan angka numerik, sedangkan data image adalah data yang ditampilkan dalam bentuk foto, diagram dan sejenisnya yang memberikan informasi secara spesifik mengenai keadaan tertentu (Fauzi, 2001). Berdasarkan uraian diatas, peneliti menggunakan jenis data text untuk faktor produksi, biaya investasi, dan jumlah produksi yang dihasilkan. Data image yang digunakan berupa gambar dan foto selama penelitian.
5 Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer didapat melalui pengamatan secara langsung di lapangan dengan metode wawancara dan pengisian kuisioner. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik petambak, teknis produksi, input dan output produksi, penerimaan, biaya investasi, biaya variabel, biaya tetap, dan penyusutan. Data sekunder dalam penelitian ini diperlukan sebagai penunjang data primer yang telah didapatkan. Data sekunder diperoleh melalui informasi dari instansi dan lembaga terkait seperti Kementrian Kelautan dan Perikanan, Dinas Kelautan dan Perikanan Indramayu, Kantor Kelurahan Indramayu, Badan Pusat Statistik Jawa Barat dan literatur-literatur. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya data monografi Kabupaten Indramayu dan data produksi Kabupaten Indramayu.
2.4 Metode Pengambilan Sampel
Metode pengambilan sampel yang representatif pada dasarnya menyangkut masalah sampai manakah ciri-ciri yang terdapat pada sampel yang terbatas itu benar-benar menggambarkan keadaan sebenarnya dari keseluruhan populasi (Soeratno dan Arsyad, 1999). Metode pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling, yaitu anggota populasi dipilih untuk memenuhi tujuan tertentu menggandalkan logika atas kaidah-kaidah yang berlaku yang didasari pertimbangan peneliti. Sampel yang diambil berjumlah 33 orang petambak udang windu di Desa Lamaran Tarung, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu. Sampel yang dipilih merupakan individu yang dianggap memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Petambak masih aktif melakukan usaha pembesaran udang windu.
2. Memiliki pengalaman dalam kegiatan pembesaran ini minimal 1 tahun.
2.5 Analisis Data
Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diimplementasikan. Data dan informasi yang telah terkumpul ditabulasikan untuk kemudian dianalisis dengan menggunakan metode analisis fungsi produksi model Cobb-Douglas dan analisis finansial.
6 2.5.1 Analisis Fungsi Produksi
Analisis fungsi produksi dilakukan dengan menggunakan pendekatan fungsi produksi model Cobb-Douglas. Fungsi produksi Cobb-Douglas digunakan untuk menduga hubungan antara produksi pembesaran udang windu dengan penggunaan faktor-faktor produksinya. Model pendugaan dari persamaan fungsi produksi Cobb-Douglas adalah sebagai berikut :
Y = aX1b1X2b2X3b3X4b4X5b5X6b6X7b7eu... (1) Model pendugaan tersebut didasarkan pada kegiatan budidaya selama satu siklus produksi (4 bulan). Untuk memudahkan pendugaan terhadap persamaan diatas, maka persamaan tersebut diubah ke dalam bentuk linear berganda dengan cara melogaritmakan persamaan tersebut menjadi :
LnY = ln a + b1lnX1 + b2lnX2 + b3lnX3 + b4lnX4+ b5lnX5+ b6lnX6 + b7lnX7 ……..……… (2) Dimana :
Y = Produksi udang windu (ekor/m2) X1 = Benur udang windu (ekor/m2) X2 = Pakan (kg)
X3 = Pompa (jam kerja)
X4 = Tenaga Kerja pada Persiapan Wadah (jam kerja) X5 = Tenaga Kerja pada Pemeliharaan Udang (jam kerja) X6 = Tenaga Kerja pada Pemanenan (jam kerja)
X7 = Saponin (kg)
Ketepatan model yang digunakan sebagai alat analisis diuji dengan menggunakan uji statistik sebagai berikut :
1) Uji statistik t, digunakan untuk mengetahui seberapa jauh masing-masing faktor produksi (Xi) sebagai variabel bebas mempengaruhi produksi (Y) sebagai variabel tidak bebas. Prosedur pengujiannya adalah sebagai berikut :
H0 : bi = 0 (tidak ada pengaruh) H1 : bi ≠ 0 (ada pengaruh) t hitung = (bi – 0)/Sbi
7 Keterangan : Sbi = standard error dari b
bi = koefisien regresi
• Jika thitung < ttabel, maka H0 diterima, artinya X1 tidak berpengaruh nyata terhadap Y.
• Jika thitung > ttabel, maka H0 ditolak, artinya X1 berpengaruh nyata terhadap Y.
2) Uji statistik f, digunakan untuk mengetahui faktor produksi (X1) secara bersama mempengaruhi output (Y). Hipotesis yang diuji adalah :
H0 : bi = 0 (tidak ada pengaruh) H1 : bi ≠ 0 (ada pengaruh) Fhitung= (
JKR k-1)
JKD/(n-k) ………...………. (3)
Keterangan :
JKR = Jumlah Kuadrat Regresi JKD = Jumlah Kuadrat Residual n = Jumlah Sampel
k = Jumlah Variabel
• Jika Fhitung < Ftabel, maka H0 diterima, artinya faktor produksi secara simultan tidak berpengaruh nyata terhadap produksi.
• Jika Fhitung > Ftabel, maka H0 ditolak, artinya faktor produksi secara simultan berpengaruh nyata terhadap produksi.
Pada analisis fungsi produksi, selain digunakan analisis kriteria statistik juga dilakukan analisis kriteria ekonometrik untuk menguji ketepatan model yang digunakan. Analisis kriteria ekonometrik dilakukan untuk mengetahui apakah model regresi memenuhi asumsi normalitas, multikolinearitas, homoskedastisitas, dan autokorelasi.
Menurut Santoso (2000), normalitas adalah suatu kondisi dalam model regresi dimana nilai Y (variabel dependent) didistribusikan secara normal terhadap nilai X (variabel independent). Suatu model regresi yang baik harus memenuhi asumsi normalitas ini
Menurut Santoso (2000), multikolinearitas adalah problem dalam suatu model regresi yang diakibatkan adanya korelasi antar variabel independent.
8 Beberapa cara untuk mengatasi problem multikolinearitas diantaranya dengan menambah jumlah sampel dan mengeluarkan variabel yang mempunyai korelasi tinggi.
Homoskedastisitas adalah asumsi dalam model regresi dimana variasi disekitar garis regresi seharusnya konstan untuk setiap nilai X (Santoso, 2000).
Bila asumsi ini tidak terpenuhi berarti model regresi mengalami problem heteroskedastisitas. Heteroskedastisitas adalah masalah yang terjadi pada model regresi apabila terjadi asumsi variance error term konstan untuk setiap nilai pada variabel penjelas dilanggar. Masalah heteroskedastisitas ini sering terjadi pada data cross-section. Cara mengatasi masalah heteroskedastisitas ini diantarnya adalah dengan :
a) Menggunakan Weight Least Square Regression (nilai variabel dibagi dengan nilai variabel yang dianggap menyebabkan heteroskedastisitas).
b) Menggunakan fungsi log untuk variabel penjelas yang mengakibatkan heteroskedastisitas.
Autokorelasi adalah masalah dalam model regresi linear karena adanya korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Autokorelasi ini biasanya terjadi pada model regresi yang menggunakan data time series atau berdasarkan waktu berkala (Santoso, 2000).
Analisis Return to Scale (RTS) sangat penting untuk dilakukan untuk mengetahui apakah kegiatan usaha yang sedang diteliti tersebut berada dalam kondisi increasing, constant, atau decreasing return to scale. Analisis RTS ini dilakukan dengan menjumlahkan besaran elastisitas (bi). Berdasarkan persamaan 1 maka :
1 < b1 + b2 + b3 + b4 < 1 ………... (4) a. Jika b1 + b2 + b3 + b4 < 1, maka usaha berada dalam keadaan decreasing return to scale. Artinya apabila faktor produksi yang digunakan ditambahkan maka besarnya penambahan output akan lebih kecil dari proporsi penambahan input.
9 b. Jika b1 + b2 + b3 + b4 = 1, maka usaha berada dalam keadaan constant return to scale, dimana penambahan proporsi input yang digunakan akan sama dengan penambahan proporsi output yang dihasilkan.
c. Jika b1 + b2 + b3 + b4 > 1, maka usaha berada dalam keadaan increasing return to scale, dimana proporsi penambahan output yang dihasilkan akan lebih besar dari penambahan proporsi input.
Tingkat alokasi input yang optimal dapat diketahui melalui analisis dari fungsi keuntungan, yaitu :
Π = TR – TC atau Π = PyY – PxiXi ... (5)
Keuntungan maksimum pada usaha pembesaran udang windu dapat tercapai pada saat turunan pertama dari fungsi keuntungan usaha terhadap faktor produksi sama dengan nol, yaitu :
Π = PyY – PxiXi δ π
δ Xi=0
Py (dy/dxi) = Pxi
PyPMxi = Pxi
NPMxi = Pxi
NPMxi
Pxi
=
1 …….………... (6)2.5.2 Analisis Finansial
Analisis finansial adalah analisis yang dilakukan terhadap suatu proyek, dimana proyek dilihat dari sudut badan atau orang yang menanamkan uangnya dalam proyek maupun yang memiliki kepentingan terhadap jalannya proyek.
Analisis finansial ini penting untuk memperhitungkan insentif bagi badan maupun orang-orang yang terlibat di dalam proyek.
2.5.2.1 Analisis Usaha
Analisis usaha merupakan bagian dari analisis finansial yang digunakan untuk menghitung besarnya keutungan yang diperoleh dari suatu kegiatan usaha
10 dalam waktu satu tahun. Analisis usaha ini terdiri dari analisis pendapatan usaha, analisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C), analisis payback period (PP), dan analisis break even point (BEP).
a. Analisis Pendapatan Usaha
Analisis ini bertujuan untuk mengetahui komponen-komponen input dan output yang terlibat di dalam usaha dan besar keuntungan yang diperoleh dari hasil usaha. Secara matematis konsep pendapatan dapat dirumuskan sebagai berikut :
Π = Y.Py – ∑ni=0Xi . Pxi …………...………... (7) Dimana :
Π = Pendapatan (Rp per musim) Y = Total Produksi (Kg per musim) Xi = Jumlah input i yang digunakan (unit) Py = Harga persatuan output (Rp)
Pyi = Harga persatuan input (Rp) Py.Y = Penerimaan total (Rp) Px.ΣXi = Biaya Total (Rp)
b. Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C)
Analisis ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana manfaat yang diperoleh dari kegiatan usaha selama periode tertentu cukup menguntungkan.
Secara matematis analisis imbangan penerimaan dan biaya dapat dirumuskan sebagai berikut (Soekartawi, 1995)
R/C=TRTC ………... (8) Dimana :
TR = Total Revenue atau Penerimaan total (Rp) TC = Total Cost atau Biaya Total (Rp)
Dengan kriteria usaha
R/C > 1, usaha menguntungkan R/C = 1, usaha impas
R/C = 1, usaha rugi
11 c. Payback period (PP)
Analisis ini digunakan untuk mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menutupi investasi yang ditanamkan pada suatu usaha (Husnan, 1998). Metode payback period secara sistematis dinyatakan dalam rumus berikut:
Payback Period = Net BenefitInvestasi x 1 tahun
d. Analisis Break Event Point (BEP)
Break Event Point merupakan suatu nilai dimana hasil penjualan output produksi sama dengan biaya produksi. Pada kondisi Break Event Point ini pengusaha mengalami impas. Perhitungan BEP ini digunakan untuk menentukan batas minimum volume penjualan agar suatu perusahaan tidak rugi (Husnan, 1998). Selain itu BEP dapat dipakai untuk merencanakan tingkat keuntungan yang dikehendaki dan sebagai pedoman dalam mengendalikan operasi yang sedang berjalan. BEP dapat dihitung dengan persamaan matematis seperti ini:
BEP (Nilai Produksi) = Biaya Tetap
1-Biaya variabel/Penerimaan…...……...………….. (9) BEP (Volume Produksi)= Py-AVCTFC ………...………. (10) Dimana:
TFC = Biaya tetap total (Rp) AVC = Biaya variabel rata-rata (Rp) Py = Harga komoditas (Rp/kg)
2.5.2.2 Analisis Kriteria Investasi
Analisis kriteria investasi penting dilakukan untuk mengetahui besar manfaat dan besar biaya dari setiap unit yang dianalisis. Indikator yang biasa digunakan untuk analisis kriteria investasi diantaranya adalah :
a. Net Present Value (NPV)
Net Present Value adalah nilai sekarang dari keuntungan bersih yang akan didapatkan pada masa yang akan datang. NPV ini pada dasarnya merupakan kombinasi pengertian present value penerimaan dan present value pengeluaran (Husnan, 1998). Secara matematis NPV dinyatakan dalam rumus berikut :
NPV= ∑ni=0B1+it-Ctt ………... (11)
12 Dengan kriteria usaha sebagai berikut :
- NPV < 0 , usaha tidak layak
- NPV = 0 , usaha tersebut memberikan hasil yang sama dengan modal yang digunakan (impas)
- NPV > 0 , usaha layak untuk dijalankan karena akan dapat menghasilkan Keuntungan
Keterangan:
Bt = manfaat unit usaha pada tahun t (Rp) Ct = Biaya usaha pada tahun ke t (Rp) i = Discount rate (%)
t = umur proyek (10 tahun)
b. Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C)
Net B/C adalah perbandingan antara jumlah nilai sekarang dari keuntungan bersih pada tahun-tahun yang mana keuntungan bersih bernilai positif dengan keuntungan bersih bernilai negatif (Kadariah et al, 1976). Secara matematis Net B/C dinyatakan dengan rumus :
Net B/C
=
∑Bt- Ct (1+i)t t=10t=0
∑ Ct- Bt (1+i)t t=10t=0
………...…. (12)
Syarat : Bt – Ct > 0 Ct – Bt < 0 Dengan kriteria usaha :
- Net B/C < 1, berarti usaha itu sebaiknya tidak dilaksanakan karena tidak layak
- Net B/C > 1, berarti usaha itu akan mendatangkan keuntungan, sehingga usaha ini dapat dilaksanakan
Keterangan :
Bt = Benefit sehubungan dengan adanya investasi pada tahun t (Rp) Ct = Biaya sehubungan dengan adanya investasi pada tahun t (Rp) t = Umur Proyek (10 tahun)
i = Discount rate (%)
13 c. Internal Rate of Return (IRR)
IRR adalah nilai discount rate i yang membuat NPV pada proyek sama dengan nol (Kadariah et al, 1976). Secara matematis IRR dinyatakan dengan rumus
" " ……….... (13)
Dengan kriteria usaha:
IRR ≥ i (discount rate), berarti usaha dapat dilaksanakan
IRR < i (discount rate), berarti usaha lebih baik tidak dilaksanakan Keterangan :
i’ = discount rate yang menghasilkan NPV+ (%) i” = discount rate yang menghasilkan NPV- (%) NPV’ = NPV pada tingkat bunga i’(Rp)
NPV” = NPV pada tingkat bunga i”(Rp)
2.5.3 Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas dilakukan dengan mengubah suatu unsur kemudian menentukan pengaruh dari perubahan tersebut pada hasil analisis. Pada usaha pembesaran udang windu dengan sistem budidaya tradisional, analisis sensitivitas dilakukan terhadap perubahan harga pakan. Pakan merupakan faktor produksi yang utama, sehingga perubahannya akan sangat berpengaruh pada kelangsungan usaha. Pada penelitian ini, metode yang akan digunakan dalam analisis sensitivitas adalah kenaikan tertinggi harga pakan selama 5 tahun terakhir.
2.6 Batasan dan Pengukuran
a) Variabel yang dijelaskan (output) dalam analisis fungsi produksi dalam penelitian ini adalah udang dengan size 40, 50, 60-70.
b) Variabel yang menjelaskan (input) dalam analisis fungsi produksi dalam penelitian ini terdiri atas jumlah benur (ekor), pakan (Kg), pompa (Jam), tenaga kerja (Jam kerja) dan saponin (Kg). Variabel input ini dihitung per m2.
14 c) Umur proyek dalam penelitian ini ditetapkan selama 10 tahun dan
merupakan umur teknis terlama dari komponen investasi yaitu tanah yang digunakan.
d) Optimalisasi dengan menggunakan metode Cobb-Douglas dan kelayakan usaha dengan analisis kelayakan finansial.
e) Analisis sensitivitas dengan menaikan harga pakan sebesar kenaikan harga pakan tertinggi selama 5 tahun terakhir.
15
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Kondisi Umum Daerah Penelitian
Letak geografis Kabupaten Indramayu adalah 1070 52’ – 1080 36’ Bujur Timur dan 60 15’ – 60 40’ Lintang Selatan (Lampiran 1). Indramayu memiliki 31 kecamatan. Kecamatan Cantigi adalah salah satu kecamatan di Indramayu yang potensial untuk budidaya tambak. Berdasarkan topografinya sebagian besar merupakan daerah landai dengan kemiringan tanahnya rata-rata 0–1 %, dengan kisaran suhu 22,9–300C sementara rata-rata curah hujan sepanjang Tahun 2008 adalah sebesar 163,18 mm dengan jumlah hari hujan 84 hari. Kecamatan Cantigi memiliki 6 desa, salah satunya adalah Desa Lamaran Tarung. Desa Lamaran Tarung berjarak 7 km dari kantor Kecamatan Cantigi dan berjarak 15,9 km ke Kabupaten Indramayu. Desa Lamaran Tarung mempunyai luas 4.490 Km2 dengan jumlah penduduk 6.419 jiwa dengan laki-laki berjumlah 3.097 jiwa dan perempuan 3.322 jiwa. Desa Lamaran Tarung adalah salah satu desa di Kecamatan Cantigi yang memiliki potensi yang sangat besar dalam pengembangan industri akuakultur, terutama kegiatan budidaya udang yang dilakukan di tambak. Hal ini terlihat dari Tabel 3.
Tabel 3. Luas Areal Pertambakan, dan Hasil Produksi Di Kecamatan Cantigi Tahun 2008
Desa Luas Tambak
(Ha) Produksi (ton) Persentase Produksi (%)
Cangkring 1.529,00 1.911,25 22,80%
Cantigi Kulon 218,19 272,74 3,25%
Cantigi Wetan 221,50 276,88 3,30%
Panyiringan Lor 226,00 282,50 3,37%
Panyiringan Kidul 178,72 223,40 2,66%
Lamaran Tarung 4.334,00 5.417,50 64,62%
Total 6.707,41 8.384,27 100,00%
Sumber : Badan Pusat Statistik Indramayu, 2009
Luas tambak yang dimiliki Desa Lamaran Tarung tertinggi dibandingkan desa yang lainnya yaitu seluas 4.334 Ha dengan hasil produksi 5.417,5 ton (64,62% dari total hasil produksi di Kabupaten Indramayu). Produktivitas tiap desa adalah 1,25 ton/Ha. Produktivitas tersebut kurang dari 5 ton/ha, sehingga sistem tambak tersebut masih tergolong tambak tradisional (Suyanto dan
16 Takarina, 2009). Potensi pengembangan di Kabupaten Indramayu masih dapat dilakukan agar visi KKP dalam hal produksi udang Indonesia dapat terpenuhi.
Berikut adalah data realisasi perikanan budidaya tambak di Kabupaten Indramayu pada tahun 2009 yang disajikan pada Tabel 4.
Berdasarkan data tersebut target produksi udang pada tahun 2010 meningkat sesuai dengan visi KKP. Produksi udang perlu ditingkatkan tiap tahunnya untuk mencapai visi tersebut. Berikut adalah rekapitulasi data realisasi produksi perikanan budidaya dari Januari 2009 – April 2010 yang disajikan pada tabel 4.
Tabel 4. Rekapitulasi Data Realisasi Produksi Perikanan Budidaya Tambak Bulan Januari 2009 s/d April 2010 di Kabupaten Indramayu
No Kecamatan Januari - Desember 2009 Januari - April 2010 Target/thn
(Ton)
Realisasi
(Ton) % Target/thn (Ton)
Realisasi (Ton) % 1 Krangkeng 1.159,00 1.351,25 116,59 5.524,00 733,35 13,28
2 Karangampel 12,00 25,45 212,08 54,00 22,52 41,70
3 Juntinyuat 13,00 28,90 222,31 428,00 13,61 3,18
4 Balongan 648,00 736,49 113,66 1.576,00 790,21 50,14 5 Indaramayu 3.789,00 2.992,51 78,98 8.978,00 1.155,56 12,87 6 Sindang 4.947,00 5.012,30 101,32 8.194,00 3.250,90 39,67 7 Pasekan 14.586,00 10.586,90 72,58 18.369,00 7.291,00 39,69 8 Loh Bener 1.132,00 1.182,63 104,47 2.294,00 965,98 42,11 9 Arahan 1.535,00 1.867,74 121,68 6.428,00 1.670,16 25,98 10 Cantigi 7.362,00 11.953,07 162,32 24.451,00 6.349,77 25,97 11 Kandanghaur 300,00 670,45 223,48 2.596,00 162,10 6,24
12 Patrol 284,00 59,90 21,09 472,00 117,00 24,79
13 Sukra 66,00 37,90 57,42 73,00 47,30 64,79
14 Losarang 5.688,00 6.152,82 108,17 9.842,00 2.764,74 28,09 Total 41.521,00 42.658,31 102,74 89.279,00 25.334,20 28,38
Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Indramayu, 2010
3.2 Gambaran Umum Petambak Udang Windu
Sebagian besar warga desa Lamaran Tarung merupakan pekerja kasar di pertanian padi, dan sebagian lagi merupakan petambak udang windu. Usaha pembesaran udang windu ini umumnya masih bersifat tradisional dan banyak yang memiliki pekerjaan lain selain melakukan kegiatan budidaya udang windu.
Responden petambak usaha pembesaran di Desa Lamaran Tarung rata-rata berusia 48 tahun dengan yang tertua adalah 65 tahun dan yang termuda adalah berumur 25 tahun. Responden petambak memiliki pengalaman usaha rata-rata
17 selama 10,2 tahun dengan rentang pengalaman antara 2 tahun hingga 17 tahun.
Hampir sebagian besar responden usaha pembesaran udang windu merupakan pekerjaan utama sebesar 27% dan yang memiliki pekerjaan sampingan selain menambak sebesar 73%.
Tingkat pendidikan responden pada penelitian kali ini tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari jumlah responden petambak yang mampu menyelesaikan wajib belajar 9 tahun atau lulus SMP yang hanya berjumlah 4 orang (12%) dan lulus SMA sebesar 3 orang (9%), sebanyak 14 orang (43%) memiliki tingkat sederajat dengan SD dan 12 orang (36%) tidak pernah bersekolah. Pendidikan yang rendah ini diduga menyebabkan produksi budidaya udang tidak terlalu baik.
Proses budidaya dilakukan secara otodidak dan coba-coba, sedangkan pelatihan dalam bentuk apapun belum terdapat di desa ini.
Lahan pembesaran udang windu di Desa Lamaran Tarung biasanya berbentuk persegi panjang dengan dasar tanah. Tambak dengan dasar tanah digunakan karena jenis tanah di desa tersebut berupa liat yang dapat menahan air dengan baik. Luas tambak budidaya biasanya disesuaikan dengan kondisi lahan dan keinginan dari petambak. Rata-rata luas per satu tambak di desa Lamaran Tarung adalah 1,24 Ha, dengan yang terendah adalah 0,3 Ha dan yang tertinggi adalah 5 Ha.
Tambak yang digunakan untuk usaha pembesaran udang windu di Desa Lamaran Tarung ini pada umumnya merupakan lahan sewa dan ada juga yang merupakan milik sendiri yang diperoleh dengan cara membelinya ataupun warisan dari orang tua. Biaya sewa untuk tambak di Desa Lamaran Tarung adalah Rp.
5.500.000/Ha/Tahun, sedangkan jika ingin membelinya harga perhektarnya adalah Rp 55.000.000. Surat kepemilikan masih berupa akta tanah dan belum berupa Surat Hak Milik (SHM).
3.3 Usaha Pembesaran Udang Windu
Usaha pembesaran udang windu di desa Lamaran Tarung masih dalam tingkat tambak tradisional karena sentuhan teknologi dan kepadatan yang digunakan masih sangat rendah. Ciri-ciri dari tambak yang masih menggunakan tingkat budidaya tradisional adalah bentuk dan petakan tambak berukuran tidak
18 teratur, luasnya antara 3-10 ha/petak, biasanya setiap petakan mempunyai saluran keliling (caren) selebar 5-10 m di sepanjang keliling petakan sebelah dalam. Pada tambak tradisional kebanyakan udang dipelihara dengan kepadatan rendah, antara 1-5 ekor/m2. Selain itu keterampilan petambak masih terbatas, karena pengetahuan tentang teknik budidaya masih diperoleh secara otodidak.
3.3.1 Kegiatan Budidaya
Kegiatan yang dilakukan petambak dalam proses budidaya pembesaran udang windu meliputi tahap persiapan tambak, pembelian benur, penebaran benur, pemeliharaan benur, panen dan pemasaran.
1) Persiapan Tambak
Persiapan tambak yang dilakukan oleh petambak ada yang bersifat cukup baik dan ada yang bersifat kurang baik. Persiapan yang cukup baik adalah dari petambak yang memiliki produktivitas yang cukup tinggi. Cara persiapan tambaknya adalah sebagai berikut. Semua air di dalam tambak dikeluarkan menuju outlet di sekitar tambak dengan menggunakan pompa namun masih ada air tersisa di caren sehingga hanya pelataran tambak saja yang kering (Gambar 2).
Bagian caren kemudian digali lebih dalam (sekitar 20–30 cm) dan lumpur-lumpur bekas proses budidaya dibuang keluar area tambak. Setelah proses tersebut tambak kemudian dibiarkan selama ± 3 hari. Setelah 3 hari, air tambak diisi kembali dengan menggunakan pompa. Sumber air adalah dari sungai yang sedang terjadi proses pasang dari laut sehingga air sungai menjadi payau. Jika air sungai sedang tidak payau tetapi proses pengisian air ingin tetap dilanjutkan oleh petambak, maka petambak menggambil air dari saluran outlet yang terdapat air bekas proses produksi. Jika tambak terletak dekat dengan sumber air maka petambak menggunakan pipa untuk proses masuknya air, begitu pula dengan saluran outlet. Pipa inlet, maupun outlet, dan selang untuk memasukan air dan untuk mengeluarkan air diberi kain strimin halus agar udang maupun ikan dari luar tidak masuk ke dalam tambak begitu pula jika ketika panen udang tidak keluar dari tambak. Petambak menggunakan saponin dengan dosis 25 kg per Ha
19 tambak dengan kedalaman 50 cm (5 ppm) apabila pada saat pengisian air terdapat ikan kompetitor yang ikut masuk ke dalam tambak
Gambar 2. Proses Pengeringan Tambak
Persiapan petambak yang kurang baik adalah sebagai berikut. Sisa air dari panen siklus sebelumnya langsung dipakai kembali karena jika air dikeluarkan secara total maka air baru harus diambil lagi dari sungai menggunakan pompa.
Penggunaan pompa menjadi mahal karena tidak memiliki pompa sendiri sehingga mereka harus menyewa pompa kepada petambak lain. Selain hal tersebut penggunaan solar juga cukup mahal karena penggunaan pompa yang cukup lama sehingga mereka lebih memilih tidak mengeluarkan air ketika panen dan air sisa siklus sebelumnya langsung digunakan kembali. Pipa inlet dan selang untuk memasukkan air dan untuk mengeluarkan air tidak diberi kain strimin, sehingga banyak ikan kompetitor masuk kedalam tambak. Jika pada saat pengisian air terdapat ikan yang kecil-kecil, tambak tersebut dibiarkan begitu saja karena mereka tidak mau mengeluarkan uang ekstra untuk membeli saponin.
Pompa yang digunakan oleh petambak adalah pompa dengan kekuatan 5,5 PK dengan rata-rata konsumsi solar perjamnya adalah 1,5 Liter (Gambar 3).
Pengapuran dan penggunaan pupuk pada saat persiapan tambak tidak dilakukan karena para petambak tidak memiliki pengetahuan dalam hal tersebut.
Gambar 3. Pompa
20 2) Pembelian Benur
Pembelian benur merupakan salah satu aspek yang penting, karena benur yang sehat adalah awal dari kesuksesan petambak dalam kegiatan budidaya tambak. Udang yang digunakan adalah jenis Penaeus monodon atau Udang windu dengan stadia PL 17 seharga Rp 25,00/ekor. Udang dibeli dari petambak tongkolan di daerah Karangsong yang berjarak sekitar 10 Km dari Desa Lamaran Tarung. Akses perjalanan dari Desa Lamaran Tarung menuju desa Karangsong tidak terlalu sulit karena jalan sudah diaspal sehingga memudahkan dalam transportasi. Pemilihan jenis udang ini berdasarkan harga udang windu yang relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan udang vaname, sehingga rata-rata petambak membudidayakan udang ini dibandingkan dengan udang vaname.
Petambak tongkolan membeli udang dari hatchery di daerah Pangandaran, Pelabuhan Ratu dan sekitar pantai selatan Jawa.
Petambak yang ingin membeli benur datang langsung ke penjual tongkolan udang windu pada pagi hari, sehingga pada siang hari proses pembelian udang sudah dapat selesai. Petambak datang melihat kondisi udang yang berada di beberapa tambak petongkolan. Setelah petambak yakin, dia akan memilih tambak mana yang akan dipilih untuk dipanen. Pemanenan udang dilakukan dengan cara membuka saluran outlet sehingga udang terbawa air outlet keluar. Pada ujung pipa outlet telah dipasang kain strimin agar udang tidak keluar. Selang beberapa saat penjual mengambil benur dengan menggunakan plankton net lalu dimasukkan ke dalam sebuah baskom yang telah terisi air tambak tersebut (Gambar 4). Setelah jumlah udang dirasa cukup baru kemudian di pindahkan ke tempat pengumpulan untuk dihitung (Gambar 5). Udang yang telah terkumpul kemudian dimasukkan ke dalam baskom yang berisi air tawar, petambak petongkolan menggunakan air hujan untuk melakukan hal ini (Gambar 6). Udang didiamkan selama sekitar 5 menit kemudian udang yang mati di siphon dan udang yang hidup dihitung.
Bentuk tambak pendederan untuk udang windu berbentuk persegi panjang dengan panjang dan lebar yang bervariasi, ada yang 8x3 m2, 4x3 m2, dan 3x3 m2 (Gambar 7).
21 Gambar 4. Pemanenan Benur Windu Gambar 5. Baskom Berisi Benur
Gambar 6. Perendaman Air Tawar Gambar 7. Bentuk Tambak Pendederan Ada beberapa metode perhitungan yang biasanya dilakukan. Metode tersebut dipilih oleh pembeli sehingga terjalin rasa kepercayaan antara pembeli dan penjual benur. Pendeder udang windu menghitung udang windu dengan menggunakan takaran berupa tutup botol minuman mineral dengan diameter 3 cm dengan kedalaman 1 cm dengan volume 7,1 cm3 (7,1 ml) yang pada bagian bawahnya sudah diberi lubang agar tidak ada air yang tersisa ketika terjadi perhitungan (Gambar 8). Menurut pendeder 1 tutup botol berisi 1.135 ekor.
Gambar 8. Tutup Botol Mineral yang Telah Diberi Lubang
Metode yang pertama adalah petambak tongkolan melakukan perhitungan kedalam plastik packing. Plastik yang digunakan berukuran volume 3 liter dan diberi 1 tutup botol berisi benur windu, kemudian setelah selesai pembeli memilih salah satu dari kantong yang dibeli untuk dihitung. Petambak tongkolan melakukan perhitungan benur dari plastik tersebut yang disaksikan oleh pembeli
22 sehingga tidak terjadi kecurangan, hasil dari perhitungan tersebut kemudian menjadi acuan untuk semua kantong yang dibeli.
Metode yang kedua adalah dua tutup botol yang berisi benur windu dimasukkan ke dalam 2 baskom yang berbeda. Satu baskom diberikan kepada pembeli, satu baskom tetap dipegang oleh petambak tongkolan. Kemudian petambak tongkolan dan pembeli melakukan perhitungan bersama-sama, hasil dari keduanya di rata-ratakan. Hasil dari rata-rata tersebut kemudian menjadi acuan untuk perhitungan tiap tutup botol lainnya.
Petambak tongkolan biasanya tidak memberikan garansi kepada pembeli dan benur yang dibeli biasanya relatif seragam karena benur yang didapat berasal dari hatchery. Petambak biasanya mengangkut benur windu menggunakan motor, hal ini dikarenakan jumlah yang biasanya dibeli relatif sedikit biasanya sekitar 10.000 – 20.000 ekor setiap kali pembelian (Gambar 9)
Gambar 9. Pengangkutan Benur Menggunakan Motor 3) Aklimatisasi Benur
Aklimatisasi benur sangat penting dilakukan secara benar. Aklimatisasi adalah penyesuaian terhadap keadaan lingkungan yang berbeda. Aklimatisasi berguna untuk mencegah terjadinya shock pada suatu organisme bila dipindahkan dari sesuatu lingkungan ke dalam lingkungan lain yang berbeda sifatnya (Suyanto dan Takarina, 2009).
Cara petambak di Desa Lamaran Tarung melakukan aklimatisasi adalah sebagai berikut plastik udang diapungkan di air tambak selama 10-15 menit, kemudian plastik packing di buka dan air tambak dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam plastik. Setelah itu udang langsung di tebar ke dalam tambak. Jumlah udang yang di tebar dalam satu petakan tambak berkisar antara 1-3 ekor/m2.
23 4) Pemeliharaan Udang
Pemeliharaan udang biasanya dilakukan selama 4 bulan agar panen yang diharapkan adalah udang dengan size 40. Selama masa pemeliharaan, kegiatan utama yang dilakukan petambak adalah pemberian pakan buatan. Pemberian pakan buatan biasanya dilakukan 2 kali sehari, yaitu pada pagi hari pukul 08.00 WIB dan sore hari pukul 16.00 WIB (Gambar 10). Namun terdapat perbedaan antara petambak yang hasil panennya baik dengan yang kurang. Perbedaannya terdapat pada proses pemeliharaan udang.
Petambak yang hasil panennya baik cara pemeliharaannya adalah sebagai berikut, udang dipelihara selama 1 bulan tanpa diberi makanan tambahan sama sekali. Penambahan air dilakukan jika air surut terlalu banyak. Proses pemasukan air melalui air sungai atau air outlet tanpa melakukan sterillisasi terlebih dahulu, atau melalui proses pengendapan. Petambak juga tidak memiliki tandon sebagai tempat penampungan air. Udang biasanya dipelihara secara monokultur, jarang yang melakukan polikultur bersama bandeng ataupun rumput laut. Udang diberi pakan tambahan berupa pelet komersil dengan merek bintang atau mlandingan dengan harga Rp 185.000,00/karung. Pemberian pakan udang dilakukan 2 kali sehari yaitu pada jam 08.00 WIB dan 16.00 WIB. Sedangkan petambak yang kurang bagus hasil panennya, pemberian pakan dilakukan setelah udang berumur 45 hari. Udang diberi pakan tambahan berupa pelet komersil dengan merek kendimas yang berharga Rp 85.000,00/karung. Pemberian pakan udang dilakukan 1 kali sehari yaitu pada pukul 16.00 WIB.
Gambar 10. Proses Pemberian Pakan 5) Sampling dan Pencegahan Penyakit
Petambak melakukan sampling setelah udang berumur 40 hari. Sampling dilakukan dengan menggunakan jala, titik sampling yang diambil biasanya 3-6
24 titik tergantung luasan dari tambak tersebut. Petambak yang melakukan sampling tidak menimbang udang yang ditangkap namun hanya dilakukan perhitungan saja untuk mengestimasi jumlah udang yang terdapat di tambak tersebut. Sampling dilakukan secara berkala setiap 1 minggu sekali. Petambak yang kurang baik hasil panennya jarang melakukan sampling, mereka melakukan sampling jika tetangga mereka sedang melakukan sampling, dengan meminjam jala yang sedang digunakan tersebut. Hal ini bisa menyebabkan penyakit cepat menyebar dari tambak yang satu ke tambak yang lain. Pencegahan penyakit dengan menggunakan antibiotik, probiotik maupun dengan menggunakan bawang putih sebagai penambah sistem imunitas udang tidak dilakukan, namun mereka hanya membunuh carrier yang berupa ikan kecil maupun udang-udang lain selain udang windu yang berpotensi membawa penyakit dari laut.
6) Manajemen Pakan
Petambak di Desa Lamaran Tarung masih bersifat tradisional namun mereka selain mengharapkan pakan alami, mereka juga memberikan pakan buatan sebagai pakan tambahan. Manajemen pakan yang baik selain mengurangi pakan yang terbuang juga mempercepat pertumbuhan karena suplai pakan cukup untuk udang untuk bertumbuh. Petambak di Desa Lamaran Tarung belum menguasai tentang pakan alami yang ditumbuhkan dengan menggunakan pupuk seperti kotoran ayam dan urea, sehingga mereka masih mengharapkan pakan alami tumbuh dari feses udang dan pakan yang diberikan.
Banyaknya pakan buatan yang diberikan tidak tergantung dari Feeding Rate (FR) namun berdasarkan pengalaman dari petambak tersebut. Pengecekan pakan dilakukan dengan menggunakan anco yang dilihat setiap 2 jam setelah pemberian pakan. Mereka jarang menggunakan anco sebagai acuan penambahan jumlah pakan tiap harinya, mereka lebih menggunakan pengamatan secara visual, yaitu jika udang windu sudah berada di permukaan dan bergerak mengitari tambak maka udang tersebut kekurangan makanan dan pakan yang diberikan akan lebih banyak pada pemberian pakan selanjutnya. Penambahan pakan tergantung dari umur udang tersebut, namun penambahan yang biasanya terjadi hanya sekitar 200-1000 g. Pakan perhari yang dihabiskan untuk tambak dengan kepadatan
25 10.000 ekor adalah sekitar 1,5-4 kg sehingga jika dihitung persiklus adalah sekitar 4-5 karung (@25 Kg).
7) Panen
Panen dilakukan jika udang sudah berumur 4 bulan atau telah mencapai size 40. Pemanenan dilakukan biasanya pada jam 01.00 WIB sampai 07.00 WIB atau dilakukan sore hari pada pukul 16.00 WIB – 22.00 WIB. Pemilihan waktu ini berdasarkan suhu yang lebih dingin sehingga udang lebih awet dan tidak cepat rusak. Proses pemanenan di Desa Lamaran Tarung adalah sebagai berikut:
a) Petambak yang hasil panennya bagus
Panen dilakukan dengan beberapa tahap. Tahap yang pertama adalah air tambak dikeluarkan menuju saluran outlet dengan menggunakan pompa yang diberi pipa yang pada ujungnya terdapat jaring kantung yang cukup panjang sekitar 2-3 m untuk mencegah udang terhimpit satu dengan yang lainnya. Sambil menunggu air surut, pekerja-pekerja mencari udang dengan menggunakan seser.
Setelah air surut, pekerja mengambil udang satu persatu di area pelataran dan caren hingga semua udang di tambak habis. Biasanya di daerah Lamaran Tarung pekerja yang memanen adalah petambak tetangganya dan beberapa masyarakat disekitar tambak tersebut. Gaji yang diberikan untuk pekerja untuk panen adalah Rp 50.000/orang dan diberi tambahan berupa rokok dan dan makan siang.
Hasil dari tambak dengan jumlah 10.000 ekor biasanya menghasilkan 200 kg jika hasil panen sedang baik dengan size 40-80. Survival Rate (SR) yang didapat petambak jika sedang panen bagus berkisar antara 40-60% sedangkan jika sedang tidak baik biasanya hanya berkisar 30-40% saja.
b) Petambak yang hasil panennya kurang baik
Panen dilakukan dengan menseser tambak dengan beberapa orang pekerja untuk mengambil udang. Air yang dipompa keluar relatif sedikit untuk menghemat air. Karena tambak yang telah dipanen akan langsung digunakan kembali untuk masa budidaya berikutnya. Proses pemanenan ini lebih lama karena udang lebih sulit untuk ditangkap. Udang yang dipanen juga tidak menyeluruh sehingga pada saat siklus berikutnya terkadang terdapat udang-udang yang memiliki ukuran size 20.
26 Hasil dari tambak dengan jumlah 10.000 ekor biasanya menghasilkan 150 kg jika hasil panen sedang baik dengan size 40-100. SR yang didapat petambak jika sedang panen bagus berkisar antara 30-50% sedangkan jika sedang tidak baik biasanya hanya berkisar 20-30% saja.
8) Pemasaran
Proses pemasaran udang yang telah dipanen biasanya dimulai dengan penyortiran karena ukuran udang yang dipanen berbeda-beda. Pembeli udang biasanya pengumpul yang berasal dari daerah disekitar desa Lamaran Tarung.
Pengumpul membeli udang dengan berbagai harga sesuai dengan ukuran udang.
Ukuran 70 ekor per kg biasanya diberi harga Rp 45.000,00/kg, untuk ukuran 50 ekor per kg diberi harga Rp 55.000,00/kg dan untuk ukuran 40 ekor per kg diberi harga Rp 65.000,00/kg. Pengumpul kemudian menjualnya kembali kepada pengumpul yang lebih besar maupun kepada eksportir.
3.3.2 Faktor Produksi Usaha Pembesaran Udang Windu
Produksi merupakan rangkaian kegiatan untuk menghasilkan suatu barang atau jasa. Faktor produksi yang digunakan dalam suatu usaha pembesaran udang windu ini terdiri atas faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal dalam kegiatan usaha pembesaran udang windu ini meliputi luas tambak, jumlah benur, pakan, pompa, saponin dan tenaga kerja. Faktor produksi tenaga kerja dalam usaha pembesaran udang windu ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu tenaga kerja untuk persiapan, tenaga kerja untuk pemeliharaan dan tenaga kerja untuk masa panen. Faktor eksternal dalam usaha pembesaran udang windu ini diantaranya adalah cuaca, suhu dan musim. Dalam penelitian ini yang akan dibahas hanya faktor produksi internal, hal ini dikarenakan faktor eksternal merupakan faktor produksi yang tidak dapat dikendalikan.
Tambak yang digunakan untuk usaha pembesaran udang windu di Desa Lamaran Tarung ini rata-rata memiliki luas 12.363,64 m2 dengan kisaran luas tambak antara 3.000 m2 sampai dengan 50.000 m2. Luas tambak tersebut merupakan hasil penjumlahan dari keseluruhan luas tambak yang dimiliki petambak yang digunakan untuk usaha pembesaran udang windu. Banyaknya
27 petakan yang dimiliki responden petambak udang windu di Desa Lamaran Tarung berkisar antara 1-6 petak tambak. Jumlah benur yang ditebar pada usaha pembesaran udang windu di Desa Lamaran Tarung rata-rata sebanyak 23.622 benur per musim tanam, dengan rata-rata input sebanyak 2 ekor per m2. Menurut Suyanto dan Takarina (2009) padat penebaran yang dapat dilakukan pada budidaya tradisional berkisar antara 1-5 ekor/m2. Yang berarti bahwa padat penebaran yang dilakukan petambak masih dapat ditingkatkan lagi. Data rata-rata penggunaan faktor produksi pada usaha pembesaran udang windu pada kondisi aktual di Desa Lamaran Tarung dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Rata-rata Input dan Output per Musim Tanam dari Usaha Pembesaran Udang Windu pada Kondisi Aktual di Desa Lamaran Tarung tahun 2010
No Keterangan
Penggunaan Input Rata-rata input per m2
luas lahan Minimum Maksimum Rata-rata
1 Luas Lahan (m2) 3.000,00 50.000,00 12.363,64 1,000 2 Benur (ekor) 6.000,00 100.000,00 23.621,21 2,000
3 Pakan (kg) 55,00 1.000,00 256,36 0,021
4 Pompa (jam) 4,80 80,00 19,21 0,002
5 Tenaga kerja Persiapan (jam) 8,00 80,00 19,88 0,002 6 Tenaga Kerja Pemeliharaan (jam) 120,00 500,00 175,76 0,014 7 Tenaga Kerja Pemanenan (jam) 18,00 180,00 60,21 0,005
8 Saponin (kg) 15,00 150,00 38,11 0,003
9 Output (kg) 2.000,00 35.000,00 8.939,39 0,723
Sumber : Data Primer tahun 2010
Kapur dan pupuk tidak digunakan dalam budidaya udang windu di Desa Lamaran Tarung dikarenakan petambak tidak mengerti kegunaan dan cara pemberiannya di dalam budidaya tambak. Pada kondisi yang baik, pemberian pupuk dapat diberikan berupa pupuk urea, TSP dan ZA sebanyak 50 – 100 kg/ha, yaitu campuran urea, TSP dan ZA dengan perbandingan 2:1:1, jika dosis pemberian 100 kg maka urea yang digunakan adalah 50 kg, TSP 25 kg dan ZA 25 kg (Suyanto dan Takarina, 2009). Sedangkan pemberian kapur didasarkan kepada keadaan tanah yang menjadi asam akibat dekomposisi bahan-bahan organik seperti pakan dan feses dari udang tersebut.
Pakan pada usaha pembesaran udang windu ini adalah berjenis pelet komersil dengan jumlah pakan yang diberikan rata-rata sebesar 256,36 kg per musim tanam dengan rata-rata pakan perluas lahan sebesar 0,021 kg/m2 per