• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.3 Usaha Pembesaran Udang Windu

3.3.1 Kegiatan Budidaya

Kegiatan yang dilakukan petambak dalam proses budidaya pembesaran udang windu meliputi tahap persiapan tambak, pembelian benur, penebaran benur, pemeliharaan benur, panen dan pemasaran.

1) Persiapan Tambak

Persiapan tambak yang dilakukan oleh petambak ada yang bersifat cukup baik dan ada yang bersifat kurang baik. Persiapan yang cukup baik adalah dari petambak yang memiliki produktivitas yang cukup tinggi. Cara persiapan tambaknya adalah sebagai berikut. Semua air di dalam tambak dikeluarkan menuju outlet di sekitar tambak dengan menggunakan pompa namun masih ada air tersisa di caren sehingga hanya pelataran tambak saja yang kering (Gambar 2).

Bagian caren kemudian digali lebih dalam (sekitar 20–30 cm) dan lumpur-lumpur bekas proses budidaya dibuang keluar area tambak. Setelah proses tersebut tambak kemudian dibiarkan selama ± 3 hari. Setelah 3 hari, air tambak diisi kembali dengan menggunakan pompa. Sumber air adalah dari sungai yang sedang terjadi proses pasang dari laut sehingga air sungai menjadi payau. Jika air sungai sedang tidak payau tetapi proses pengisian air ingin tetap dilanjutkan oleh petambak, maka petambak menggambil air dari saluran outlet yang terdapat air bekas proses produksi. Jika tambak terletak dekat dengan sumber air maka petambak menggunakan pipa untuk proses masuknya air, begitu pula dengan saluran outlet. Pipa inlet, maupun outlet, dan selang untuk memasukan air dan untuk mengeluarkan air diberi kain strimin halus agar udang maupun ikan dari luar tidak masuk ke dalam tambak begitu pula jika ketika panen udang tidak keluar dari tambak. Petambak menggunakan saponin dengan dosis 25 kg per Ha

19 tambak dengan kedalaman 50 cm (5 ppm) apabila pada saat pengisian air terdapat ikan kompetitor yang ikut masuk ke dalam tambak

Gambar 2. Proses Pengeringan Tambak

Persiapan petambak yang kurang baik adalah sebagai berikut. Sisa air dari panen siklus sebelumnya langsung dipakai kembali karena jika air dikeluarkan secara total maka air baru harus diambil lagi dari sungai menggunakan pompa.

Penggunaan pompa menjadi mahal karena tidak memiliki pompa sendiri sehingga mereka harus menyewa pompa kepada petambak lain. Selain hal tersebut penggunaan solar juga cukup mahal karena penggunaan pompa yang cukup lama sehingga mereka lebih memilih tidak mengeluarkan air ketika panen dan air sisa siklus sebelumnya langsung digunakan kembali. Pipa inlet dan selang untuk memasukkan air dan untuk mengeluarkan air tidak diberi kain strimin, sehingga banyak ikan kompetitor masuk kedalam tambak. Jika pada saat pengisian air terdapat ikan yang kecil-kecil, tambak tersebut dibiarkan begitu saja karena mereka tidak mau mengeluarkan uang ekstra untuk membeli saponin.

Pompa yang digunakan oleh petambak adalah pompa dengan kekuatan 5,5 PK dengan rata-rata konsumsi solar perjamnya adalah 1,5 Liter (Gambar 3).

Pengapuran dan penggunaan pupuk pada saat persiapan tambak tidak dilakukan karena para petambak tidak memiliki pengetahuan dalam hal tersebut.

Gambar 3. Pompa

20 2) Pembelian Benur

Pembelian benur merupakan salah satu aspek yang penting, karena benur yang sehat adalah awal dari kesuksesan petambak dalam kegiatan budidaya tambak. Udang yang digunakan adalah jenis Penaeus monodon atau Udang windu dengan stadia PL 17 seharga Rp 25,00/ekor. Udang dibeli dari petambak tongkolan di daerah Karangsong yang berjarak sekitar 10 Km dari Desa Lamaran Tarung. Akses perjalanan dari Desa Lamaran Tarung menuju desa Karangsong tidak terlalu sulit karena jalan sudah diaspal sehingga memudahkan dalam transportasi. Pemilihan jenis udang ini berdasarkan harga udang windu yang relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan udang vaname, sehingga rata-rata petambak membudidayakan udang ini dibandingkan dengan udang vaname.

Petambak tongkolan membeli udang dari hatchery di daerah Pangandaran, Pelabuhan Ratu dan sekitar pantai selatan Jawa.

Petambak yang ingin membeli benur datang langsung ke penjual tongkolan udang windu pada pagi hari, sehingga pada siang hari proses pembelian udang sudah dapat selesai. Petambak datang melihat kondisi udang yang berada di beberapa tambak petongkolan. Setelah petambak yakin, dia akan memilih tambak mana yang akan dipilih untuk dipanen. Pemanenan udang dilakukan dengan cara membuka saluran outlet sehingga udang terbawa air outlet keluar. Pada ujung pipa outlet telah dipasang kain strimin agar udang tidak keluar. Selang beberapa saat penjual mengambil benur dengan menggunakan plankton net lalu dimasukkan ke dalam sebuah baskom yang telah terisi air tambak tersebut (Gambar 4). Setelah jumlah udang dirasa cukup baru kemudian di pindahkan ke tempat pengumpulan untuk dihitung (Gambar 5). Udang yang telah terkumpul kemudian dimasukkan ke dalam baskom yang berisi air tawar, petambak petongkolan menggunakan air hujan untuk melakukan hal ini (Gambar 6). Udang didiamkan selama sekitar 5 menit kemudian udang yang mati di siphon dan udang yang hidup dihitung.

Bentuk tambak pendederan untuk udang windu berbentuk persegi panjang dengan panjang dan lebar yang bervariasi, ada yang 8x3 m2, 4x3 m2, dan 3x3 m2 (Gambar 7).

21 Gambar 4. Pemanenan Benur Windu Gambar 5. Baskom Berisi Benur

Gambar 6. Perendaman Air Tawar Gambar 7. Bentuk Tambak Pendederan Ada beberapa metode perhitungan yang biasanya dilakukan. Metode tersebut dipilih oleh pembeli sehingga terjalin rasa kepercayaan antara pembeli dan penjual benur. Pendeder udang windu menghitung udang windu dengan menggunakan takaran berupa tutup botol minuman mineral dengan diameter 3 cm dengan kedalaman 1 cm dengan volume 7,1 cm3 (7,1 ml) yang pada bagian bawahnya sudah diberi lubang agar tidak ada air yang tersisa ketika terjadi perhitungan (Gambar 8). Menurut pendeder 1 tutup botol berisi 1.135 ekor.

Gambar 8. Tutup Botol Mineral yang Telah Diberi Lubang

Metode yang pertama adalah petambak tongkolan melakukan perhitungan kedalam plastik packing. Plastik yang digunakan berukuran volume 3 liter dan diberi 1 tutup botol berisi benur windu, kemudian setelah selesai pembeli memilih salah satu dari kantong yang dibeli untuk dihitung. Petambak tongkolan melakukan perhitungan benur dari plastik tersebut yang disaksikan oleh pembeli

22 sehingga tidak terjadi kecurangan, hasil dari perhitungan tersebut kemudian menjadi acuan untuk semua kantong yang dibeli.

Metode yang kedua adalah dua tutup botol yang berisi benur windu dimasukkan ke dalam 2 baskom yang berbeda. Satu baskom diberikan kepada pembeli, satu baskom tetap dipegang oleh petambak tongkolan. Kemudian petambak tongkolan dan pembeli melakukan perhitungan bersama-sama, hasil dari keduanya di rata-ratakan. Hasil dari rata-rata tersebut kemudian menjadi acuan untuk perhitungan tiap tutup botol lainnya.

Petambak tongkolan biasanya tidak memberikan garansi kepada pembeli dan benur yang dibeli biasanya relatif seragam karena benur yang didapat berasal dari hatchery. Petambak biasanya mengangkut benur windu menggunakan motor, hal ini dikarenakan jumlah yang biasanya dibeli relatif sedikit biasanya sekitar 10.000 – 20.000 ekor setiap kali pembelian (Gambar 9)

Gambar 9. Pengangkutan Benur Menggunakan Motor 3) Aklimatisasi Benur

Aklimatisasi benur sangat penting dilakukan secara benar. Aklimatisasi adalah penyesuaian terhadap keadaan lingkungan yang berbeda. Aklimatisasi berguna untuk mencegah terjadinya shock pada suatu organisme bila dipindahkan dari sesuatu lingkungan ke dalam lingkungan lain yang berbeda sifatnya (Suyanto dan Takarina, 2009).

Cara petambak di Desa Lamaran Tarung melakukan aklimatisasi adalah sebagai berikut plastik udang diapungkan di air tambak selama 10-15 menit, kemudian plastik packing di buka dan air tambak dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam plastik. Setelah itu udang langsung di tebar ke dalam tambak. Jumlah udang yang di tebar dalam satu petakan tambak berkisar antara 1-3 ekor/m2.

23 4) Pemeliharaan Udang

Pemeliharaan udang biasanya dilakukan selama 4 bulan agar panen yang diharapkan adalah udang dengan size 40. Selama masa pemeliharaan, kegiatan utama yang dilakukan petambak adalah pemberian pakan buatan. Pemberian pakan buatan biasanya dilakukan 2 kali sehari, yaitu pada pagi hari pukul 08.00 WIB dan sore hari pukul 16.00 WIB (Gambar 10). Namun terdapat perbedaan antara petambak yang hasil panennya baik dengan yang kurang. Perbedaannya terdapat pada proses pemeliharaan udang.

Petambak yang hasil panennya baik cara pemeliharaannya adalah sebagai berikut, udang dipelihara selama 1 bulan tanpa diberi makanan tambahan sama sekali. Penambahan air dilakukan jika air surut terlalu banyak. Proses pemasukan air melalui air sungai atau air outlet tanpa melakukan sterillisasi terlebih dahulu, atau melalui proses pengendapan. Petambak juga tidak memiliki tandon sebagai tempat penampungan air. Udang biasanya dipelihara secara monokultur, jarang yang melakukan polikultur bersama bandeng ataupun rumput laut. Udang diberi pakan tambahan berupa pelet komersil dengan merek bintang atau mlandingan dengan harga Rp 185.000,00/karung. Pemberian pakan udang dilakukan 2 kali sehari yaitu pada jam 08.00 WIB dan 16.00 WIB. Sedangkan petambak yang kurang bagus hasil panennya, pemberian pakan dilakukan setelah udang berumur 45 hari. Udang diberi pakan tambahan berupa pelet komersil dengan merek kendimas yang berharga Rp 85.000,00/karung. Pemberian pakan udang dilakukan 1 kali sehari yaitu pada pukul 16.00 WIB.

Gambar 10. Proses Pemberian Pakan 5) Sampling dan Pencegahan Penyakit

Petambak melakukan sampling setelah udang berumur 40 hari. Sampling dilakukan dengan menggunakan jala, titik sampling yang diambil biasanya 3-6

24 titik tergantung luasan dari tambak tersebut. Petambak yang melakukan sampling tidak menimbang udang yang ditangkap namun hanya dilakukan perhitungan saja untuk mengestimasi jumlah udang yang terdapat di tambak tersebut. Sampling dilakukan secara berkala setiap 1 minggu sekali. Petambak yang kurang baik hasil panennya jarang melakukan sampling, mereka melakukan sampling jika tetangga mereka sedang melakukan sampling, dengan meminjam jala yang sedang digunakan tersebut. Hal ini bisa menyebabkan penyakit cepat menyebar dari tambak yang satu ke tambak yang lain. Pencegahan penyakit dengan menggunakan antibiotik, probiotik maupun dengan menggunakan bawang putih sebagai penambah sistem imunitas udang tidak dilakukan, namun mereka hanya membunuh carrier yang berupa ikan kecil maupun udang-udang lain selain udang windu yang berpotensi membawa penyakit dari laut.

6) Manajemen Pakan

Petambak di Desa Lamaran Tarung masih bersifat tradisional namun mereka selain mengharapkan pakan alami, mereka juga memberikan pakan buatan sebagai pakan tambahan. Manajemen pakan yang baik selain mengurangi pakan yang terbuang juga mempercepat pertumbuhan karena suplai pakan cukup untuk udang untuk bertumbuh. Petambak di Desa Lamaran Tarung belum menguasai tentang pakan alami yang ditumbuhkan dengan menggunakan pupuk seperti kotoran ayam dan urea, sehingga mereka masih mengharapkan pakan alami tumbuh dari feses udang dan pakan yang diberikan.

Banyaknya pakan buatan yang diberikan tidak tergantung dari Feeding Rate (FR) namun berdasarkan pengalaman dari petambak tersebut. Pengecekan pakan dilakukan dengan menggunakan anco yang dilihat setiap 2 jam setelah pemberian pakan. Mereka jarang menggunakan anco sebagai acuan penambahan jumlah pakan tiap harinya, mereka lebih menggunakan pengamatan secara visual, yaitu jika udang windu sudah berada di permukaan dan bergerak mengitari tambak maka udang tersebut kekurangan makanan dan pakan yang diberikan akan lebih banyak pada pemberian pakan selanjutnya. Penambahan pakan tergantung dari umur udang tersebut, namun penambahan yang biasanya terjadi hanya sekitar 200-1000 g. Pakan perhari yang dihabiskan untuk tambak dengan kepadatan

25 10.000 ekor adalah sekitar 1,5-4 kg sehingga jika dihitung persiklus adalah sekitar 4-5 karung (@25 Kg).

7) Panen

Panen dilakukan jika udang sudah berumur 4 bulan atau telah mencapai size 40. Pemanenan dilakukan biasanya pada jam 01.00 WIB sampai 07.00 WIB atau dilakukan sore hari pada pukul 16.00 WIB – 22.00 WIB. Pemilihan waktu ini berdasarkan suhu yang lebih dingin sehingga udang lebih awet dan tidak cepat rusak. Proses pemanenan di Desa Lamaran Tarung adalah sebagai berikut:

a) Petambak yang hasil panennya bagus

Panen dilakukan dengan beberapa tahap. Tahap yang pertama adalah air tambak dikeluarkan menuju saluran outlet dengan menggunakan pompa yang diberi pipa yang pada ujungnya terdapat jaring kantung yang cukup panjang sekitar 2-3 m untuk mencegah udang terhimpit satu dengan yang lainnya. Sambil menunggu air surut, pekerja-pekerja mencari udang dengan menggunakan seser.

Setelah air surut, pekerja mengambil udang satu persatu di area pelataran dan caren hingga semua udang di tambak habis. Biasanya di daerah Lamaran Tarung pekerja yang memanen adalah petambak tetangganya dan beberapa masyarakat disekitar tambak tersebut. Gaji yang diberikan untuk pekerja untuk panen adalah Rp 50.000/orang dan diberi tambahan berupa rokok dan dan makan siang.

Hasil dari tambak dengan jumlah 10.000 ekor biasanya menghasilkan 200 kg jika hasil panen sedang baik dengan size 40-80. Survival Rate (SR) yang didapat petambak jika sedang panen bagus berkisar antara 40-60% sedangkan jika sedang tidak baik biasanya hanya berkisar 30-40% saja.

b) Petambak yang hasil panennya kurang baik

Panen dilakukan dengan menseser tambak dengan beberapa orang pekerja untuk mengambil udang. Air yang dipompa keluar relatif sedikit untuk menghemat air. Karena tambak yang telah dipanen akan langsung digunakan kembali untuk masa budidaya berikutnya. Proses pemanenan ini lebih lama karena udang lebih sulit untuk ditangkap. Udang yang dipanen juga tidak menyeluruh sehingga pada saat siklus berikutnya terkadang terdapat udang-udang yang memiliki ukuran size 20.

26 Hasil dari tambak dengan jumlah 10.000 ekor biasanya menghasilkan 150 kg jika hasil panen sedang baik dengan size 40-100. SR yang didapat petambak jika sedang panen bagus berkisar antara 30-50% sedangkan jika sedang tidak baik biasanya hanya berkisar 20-30% saja.

8) Pemasaran

Proses pemasaran udang yang telah dipanen biasanya dimulai dengan penyortiran karena ukuran udang yang dipanen berbeda-beda. Pembeli udang biasanya pengumpul yang berasal dari daerah disekitar desa Lamaran Tarung.

Pengumpul membeli udang dengan berbagai harga sesuai dengan ukuran udang.

Ukuran 70 ekor per kg biasanya diberi harga Rp 45.000,00/kg, untuk ukuran 50 ekor per kg diberi harga Rp 55.000,00/kg dan untuk ukuran 40 ekor per kg diberi harga Rp 65.000,00/kg. Pengumpul kemudian menjualnya kembali kepada pengumpul yang lebih besar maupun kepada eksportir.

Dokumen terkait