BAB III METODE PENELITIAN
3.5 Definisi Operasional
3.6.3 Analisis Laju Pertumbuhan
Analisis pertumbuhan pajak daerah bermanfaat untuk mengetahui apakah pemerintah daerah dalam tahun anggaran bersangkutan atau selama beberapa periode anggaran, kinerja anggarannya mengalami pertumbuhan secara positif
45
atau negatif (Mahmudi, 2007 : 124 dalam Oktarina, 2010 : 31). Untuk mengetahui pertumbuhan pajak daerah dari tahun ke tahun digunakan rumus:
Gx = Keterangan :
Gx : Pertumbuhan Pajak Daerah
Xt : Realisasi penerimaan Pajak Daerah tahun tertentu
X(t-1) : Realisasi penerimaan Pajak Daerah pada tahun sebelumnya 3.6.4 Analisis Perbandingan
Analisis ini digunakan untuk membandingkan realisasi penerimaan pajak daerah dan realisasi Pendapatan Asli Daerah, kontribusi pajak daerah, laju pertumbuhan pajak daerah Kabupaten Asahan dengan kabupaten lain. Dalam hal ini, peneliti mengambil sampel Kabupaten Labuhanbatu, di mana Kabupaten Labuhanbatu memiliki jumlah penduduk dan luas wilayah yang tidak jauh berbeda dari Kabupaten Asahan. Kemudian hal lain menjadi pertimbangan peneliti adalah perkembangan pembangunan daerah antara Kabupaten Asahan dan Kabupaten Labuhanbatu yang hampir sama dikarenakan letak wilayah berdampingan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Objek Penelitian
4.1.1 Gambaran Umum Kabupaten Asahan
Kabupaten Asahan (Melayu Jawi: ني تا ڤو با ك نهس ا) adalah sebuah kabupaten yang terletak di Sumatra Utara, Indonesia. Kabupaten ini beribu kotakan Kisaran danmempunyai wilayah seluas 3.732 km². Ibu kota Terdahulu Kabupaten Asahan ialah Tanjung Balai. Kabupaten Asahan, memiliki penduduk berjumlah 774.009 jiwa (Sensus 2017) dengan sebaran 209 jiwa/km². Secara astronomis Kabupaten Asahan berada pada 2°03'- 3°26' Lintang Utara, 99°1'-100°0' Bujur Timur dengan ketinggian 0–1.000 meter di atas permukaan laut. Kabupaten Asahan bersebahan dengan Kabupaten Batubara dan Selat Malaka di sebelah utara, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Selat Malaka dan Kota Tanjungbalai di sebelah Timur, Kabupaten Toba Samosir dan Kabupaten Labuhanbatu Utara di sebelah selatan, dan Kabupaten Simalungun dan Kabupaten Batubara di sebelah barat. Kabupaten Asahan memiliki 25 kecamatan, 27 kelurahan, dan 177 desa.
Sumber: Wikipedia Kabupaten Asahan
Gambar 4.1
47
4.1.2 Gambaran Umum Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Asahan
4.1.2.1 Visi dan Misi A. Visi
Terwujudnya Aparatur yang Profesional dan Berkualitas B. Misi
1. Menjadikan Pajak Daerah Sebagai Penopang Pembangunan Daerah.
2. Meningkatkan Kualitas Pelayanan dan Sistem Pengelolaan Pendapatan Dearah.
4.1.2.2 Tugas Pokok dan Fungsi Bappenda Asahan A. Tugas Pokok
Badan Kepegawaian Daerah mempunyai tugas membantu kepala daerah melalui Sekretariat Daerah dalam melaksanakan manajemen Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Kabupaten Asahan sesuai dengan Peraturan Daerah dan berdasarkan peraturan perundang-undangan di bidang kepegawaian yang berlaku sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan kepala daerah.
B. Fungsi Pokok
Untuk melaksanakan tugas pokok Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Asahan, maka harus mengetahui fungsi pokok Badan Kepegawaian Daerah, yaitu:
• Pelaksana penyiapan penyusunan perundang-undangan Daerah di bidang kepegawaian sesuai norma, standar dan prosedur yang ditetapkan (protap) pemerintah
• Pelaksana perencanaan pengembangan kepegawaian daerah
• Pelaksana penyiapan kebijaksanaan teknis pengembangan kepegawaian Daerah
• Pelaksana penyiapan kegiatan pengangkatan, pemindahan dan pemberhentian Pegawai Negeri Sipil Daerah sesuai dengan norma, standar, dan prosedur yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan
• Pelaksana penyiapan dan penetapan pensiun Pegawai Negeri Sipil Daerah
• Pelaksana penyiapan dan penetapan gaji, tunjangan dan kesejahteraan Pegawai Negeri Sipil Daerah sesuai dengan norma, standar dan prosedur yang ditetapkan perundang-undangan
• Pelaksana penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi Pegawai Negeri Sipil Daerah dengan berkoordinasi dengan instansi terkait
• Pelaksana urusan tata usaha di bidang kepegawaian
• Pengamanan dan pengendalian teknis atas pelaksanaan tugas pokok dan melakukan tugas-tugas lain yang diberikan sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan kepala daerah.
4.2 Analisis Data
4.2.1 Analisis Efektivitas Pajak Daerah
Analisis efektivitas dihitung dengan membandingkan antara besarnya realisasi pajak daerah terhadap target pajak daerah. Pajak daerah dikatakan efektif apabila hasil perhitunganlebih dari 80 persen. Hasil perhitungan disajikan sebagai berikut:
49
4.2.1.1 Pajak Hotel
Tabel 4.1
Efektivitas Pajak Hotel Kabupaten Asahan Tahun 2012-2018
Tahun Target Realisasi Persentase Kriteria
2012 191.750.000,00 159.383.500,00 83,12 Cukup Efektif 2013 236.793.200,00 140.425.000,00 59,30 Tidak Efektif 2014 258.104.500,00 213.165.000,00 82,59 Cukup Efektif 2015 258.104.500,00 204.482.000,00 79,22 Kurang Efektif 2016 956.000.000,00 254.369.512,00 26,61 Tidak Efektif 2017 1.008.000.000,00 359.620.540,00 35,68 Tidak Efektif 2018 1.137.500.000,00 361.635.028,00 31,79 Tidak Efektif
Rata-rata 56,90 Tidak Efektif
Sumber: Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Asahan, Data Diolah, 2019
Berdasarkan tabel 4.1 di atas, dapat dilihat bahwa efektivitas pajak hotel selama 7 tahun terakhir mengalami fluktuasi. Efektivitas pajak hotel tertinggi terjadi pada tahun 2012 yaitu sebesar 83.12%. Kemudian efektivitas pajak hotel terendah terjadi pada tahun 2018 yaitu sebesar 31,79%. Sesuai dengan standar yang ditetapkan Kepmendagri menunjukkan hasil „tidak efektif‟ dengan tingkat efektivitas rata-rata pertahun sebesar 56,90%. Dapat dikatakan pemerintah Kabupaten Asahan belum berhasil dalam memaksimalkan pemungutan pajak hotel.
4.2.1.2 Pajak Restoran
Perhitungan efektivitas pajak restoran tahun 2012-2018 sebagai berikut:
Tabel 4.2
Efektivitas Pajak Restoran Kabupaten Asahan Tahun 2012-2018
Tahun Target Realisasi Persentase Kriteria
2012 392.761.000,00 463.298.563,00 117,96 Sangat Efektif 2013 493.292.410,50 410.085.993,00 83,13 Cukup Efektif
2014 537.688.600,00 511.754.457,00 95,18 Efektif
2015 537.688.600,00 485.295.604,00 90,26 Efektif
2016 1.400.000.000,00 667.570.755,00 47,68 Tidak Efektif 2017 1.475.000.000,00 891.975.385,00 60,47 Kurang Efektif 2018 1.716.800.000,00 1.106.986.725,00 64,48 Kurang Efektif
Rata-rata 79,88 Kurang
Efektif Sumber: Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Asahan, data diolah, 2019
Berdasarkan tabel 4.2 di atas, dapat dilihat bahwa efektivitas pajak restoran
selama 7 tahun terakhir mengalami fluktuasi. Efektivitas pajak restoran tertinggi terjadi pada tahun 2012 yaitu sebesar 117,96%. Kemudian efektivitas pajak restoran terendah terjadi pada tahun 2016 yaitu sebesar 47,68%. Sesuai dengan standar yang ditetapan Kepmendagri, walaupun angka persentase tersebut pernah menujukkan angka mencapai 90-100% bahkan >100% yang mana masuk ke dalam kriteria sangat efektif, namun rata-rata yang didapat masih menujukkan hasil „kurang efektif‟. Dengan tingkat efektivitas rata-rata pertahun sebesar 79,88%. Dapat dikatakan pemerintah Kabupaten Asahan belum cukup berhasil dalam memaksimalkan pemungutan pajak restoran.
4.2.1.3 Pajak Hiburan
Perhitungan efektivitas pajak hiburan tahun 2012-2018 sebagai berikut:
Tabel 4.3
Efektivitas Pajak Hiburan Kabupaten Asahan Tahun 2012-2018
Tahun Target Realisasi Persentase Kriteria
2012 35.337.600,00 37.508.500,00 106,14 Sangat Efektif 2013 40.811.232,00 51.611.200,00 126,46 Sangat Efektif
2014 44.484.200,00 41.194.000,00 92,60 Efektif
2015 50.000.000,00 71.612.500,00 143,23 Sangat Efektif 2016 418.840.000,00 115.949.025,00 27,68 Tidak Efektif
2017 440.000.000,00 407.125.575,00 92,53 Efektif
2018 707.500.000,00 796.093.255,00 112,52 Sangat Efektif
Rata-rata 100,16 Sangat
Efektif Sumber: Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Asahan, Data Diolah, 2019
Berdasarkan tabel 4.2 di atas, dapat dilihat bahwa efektivitas pajak hiburan selama 7 tahun terakhir mengalami fluktuasi. Efektivitas pajak hiburan tertinggi terjadi pada tahun 2015 yaitu sebesar 143,23%. Kemudian efektivitas pajak hiburan terendah terjadi pada tahun 2016 yaitu sebesar 27,68%. Walaupun pada tahun 2016 efektivitas pajak hiburan sangat rendah mencapai angka di bawah 60%, realisasi yang didapat tidak memenuhi target yang diharapkan, namun pada
51
Sesuai dengan standar yang ditetapkan Kepmendagri menunjukkan hasil „sangat efektif‟ dengan tingkat efektivitas rata-rata pertahun sebesar 56,90%. Dapat dikatakan pemerintah Kabupaten Asahan berhasil dalam memaksimalkan pemungutan pajak hiburan.
4.2.1.4 Pajak Reklame
Perhitungan efektivitas pajak reklame tahun 2012-2018 sebagai berikut:
Tabel 4.4
Efektivitas Pajak Reklame Kabupaten Asahan Tahun 2012-2018
Tahun Target Realisasi Persentase Kriteria
2012 535.500.000,00 453.764.874,50 84,74 Cukup Efektif 2013 661.743.200,00 377.033.961,00 56,98 Tidak Efektif 2014 808.065.200,00 532.869.753,50 65,94 Kurang Efektif 2015 900.000.000,00 649.478.803,00 72,16 Kurang Efektif 2016 450.000.000,00 596.948.576,00 132,66 Sangat Efektif 2017 700.000.000,00 701.798.834,00 100,26 Sangat Efektif 2018 1.400.000.000,00 1.011.397.377,00 72,24 Kurang Efektif
Rata-rata 83,57 Cukup Efektif
Sumber: Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Asahan, Data Diolah, 2019
Berdasarkan tabel 4.4 di atas, dapat dilihat bahwa efektivitas pajak reklame selama 7 tahun terakhir mengalami fluktuasi. Efektivitas pajak reklame tertinggi terjadi pada tahun 2016 yaitu sebesar 132,66%. Kemudian efektivitas pajak reklame terendah terjadi pada tahun 2013 yaitu sebesar 56,98%. Sesuai dengan standar yang ditetapkan Kepmendagri menunjukkan hasil „cukup efektif‟
dengan tingkat efektivitas rata-rata pertahun sebesar 83,57%. Dapat dikatakan pemerintah Kabupaten Asahan cukup berhasil dalam memaksimalkan pemungutan pajak reklame.
4.2.1.5 Pajak Penerangan Jalan (PPJ)
Perhitungan efektivitas pajak penerangan jalan tahun 2012-2018 sebagai berikut:
Tabel 4.5
Efektivitas Pajak Penerangan Jalan Kabupaten Asahan Tahun 2012-2018
2012 9.990.261.480,70 10.166.223.162,00 101,76 Sangat Efektif 2013 12.538.877.087,04 10.452.428.763,00 83,36 Cukup Efektif 2014 13.666.598.500,00 11.589.993.021,00 84,81 Cukup Efektif 2015 15.033.258.350,00 13.011.523.907,00 86,55 Cukup Efektif 2016 15.500.000.000,00 13.910.357.174,00 89,74 Cukup Efektif 2017 16.850.000.000,00 17.619.875.586,00 104,57 Sangat Efektif 2018 21.500.000.000,00 20.346.395.916,00 94,63 Efektif
Rata-rata 92,20 Efektif
Sumber: Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Asahan, Data Diolah, 2019
Berdasarkan tabel 4.5 di atas, dapat dilihat bahwa efektivitas pajak penerangan jalan selama 7 tahun terakhir mengalami fluktuasi. Efektivitas pajak penerangan jalan tertinggi terjadi pada tahun 2017 yaitu sebesar 104,57%.
Kemudian efektivitas pajak penerangan jalan terendah terjadi pada tahun 2013 yaitu sebesar 83,36%. Sesuai dengan standar yang ditetapkan Kepmendagri menunjukkan hasil „efektif‟ dengan tingkat efektivitas rata-rata pertahun sebesar 92,20%. Dapat dikatakan pemerintah Kabupaten Asahan berhasil dalam memaksimalkan pemungutan pajak penerangan jalan.
4.2.1.6 Pajak Mineral bukan Logam dan Batuan
Perhitungan efektivitas pajak mineral tahun 2012-2018 sebagai berikut:
Tabel 4.6
Efektivitas Pajak Mineral bukan Logam dan Batuan Kabupaten Asahan Tahun 2012-2018
Tahun Target Realisasi Persentase Kriteria
2012 125.000.000,00 27.662.800,00 22,13 Tidak Efektif
2013 160.500.000,00 19.562.400,00 12,19 Tidak Efektif
2014 171.735.000,00 61.585.000,00 35,86 Tidak Efektif
2015 171.735.000,00 38.788.200,00 22,59 Tidak Efektif
2016 - 6.210.000,00 - -
2017 500.000.000,00 877.654.954,00 175,53 Sangat Efektif
2018 1.200.000.000,00 1.919.763.628,00 159,98 Sangat Efektif
Rata-rata 71,38 Kurang Efektif
Sumber: Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Asahan, Data Diolah, 2019
Berdasarkan tabel 4.6 di atas, dapat dilihat bahwa efektivitas pajak mineral selama 7 tahun terakhir mengalami fluktuasi. Efektivitas pajak mineral tertinggi
53
mineral terendah terjadi pada tahun 2013 yaitu sebesar 12,19%. Pada tahun 2012 sampai dengan 2015, efektivitas pajak mineral sangat rendah dan dikatakan tidak efektif, persentase yang didapat di bawah 60%, kemudian pada tahun 2017 meningkat pesat di atas 100%. Namun, sesuai dengan standar yang ditetapkan Kepmendagri menunjukkan hasil „kurang efektif‟ dengan tingkat efektivitas rata-rata pertahun sebesar 71,38%. Dapat dikatakan pemerintah Kabupaten Asahan belum cukup berhasil dalam memaksimalkan pemungutan pajak mineral.
4.2.1.7 Pajak Parkir
Perhitungan efektivitas pajak parkir tahun 2012-2018 sebagai berikut:
Tabel 4.7
Efektivitas Pajak Parkir Kabupaten Asahan Tahun 2012-2018
Tahun Target Realisasi Persentase Kriteria
2012 50.000.000,00 18.335.000,00 36,67 Tidak Efektif
2013 53.500.000,00 11.855.000,00 22,16 Tidak Efektif
2014 57.245.000,00 25.400.000,00 44,37 Tidak Efektif
2015 57.245.000,00 16.575.000,00 28,95 Tidak Efektif
2016 114.240.000,00 23.920.000,00 20,94 Tidak Efektif
2017 114.240.000,00 22.420.000,00 19,63 Tidak Efektif
2018 148.040.000,00 37.785.000,00 25.52 Tidak Efektif
Rata-rata 28,32 Tidak Efektif
Sumber: Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Asahan, Data Diolah, 2019
Berdasarkan tabel 4.7 di atas, dapat dilihat bahwa efektivitas pajak parkir selama 7 tahun terakhir mengalami fluktuasi. Efektivitas pajak parkir tertinggi terjadi pada tahun 2014 yaitu sebesar 44,37%. Kemudian efektivitas pajak parkir terendah terjadi pada tahun 2017 yaitu sebesar 19,63%. Sesuai dengan standar yang ditetapkan Kepmendagri menunjukkan hasil „tidak efektif‟ dengan tingkat efektivitas rata-rata pertahun sebesar 28,32%. Dapat dikatakan pemerintah Kabupaten Asahan belum berhasil dalam memaksimalkan pemungutan pajak parkir.
4.2.1.8 Pajak Air Tanah
Perhitungan efektivitas pajak air tanah tahun 2012-2018 sebagai berikut:
Tabel 4.8
Efektivitas Pajak Air Tanah Kabupaten Asahan Tahun 2012-2018
Tahun Target Realisasi Persentase Kriteria
2012 945.000.000,00 864.451.034,18 91,48 Efektif
2013 1.147.488.000,00 930.253.253,22 81,07 Cukup Efektif 2014 1.400.762.000,00 1.465.238.551,90 104,60 Sangat Efektif 2015 1.500.000.000,00 1.514.934.728,74 101,00 Sangat Efektif 2016 1.975.681.847,20 1.771.463.554,83 89,66 Cukup Efektif 2017 2.085.000.000,00 1.010.648.264,80 48,47 Tidak Efektif
2018 2.099.801.016,00 - - -
Rata-rata 86,05 Cukup Efektif
Sumber: Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Asahan, Data Diolah, 2019
Berdasarkan tabel 4.8 di atas, dapat dilihat bahwa efektivitas pajak air tanah selama 7 tahun terakhir mengalami fluktuasi. Efektivitas pajak air tanah tertinggi terjadi pada tahun 2014 yaitu sebesar 104,60%. Kemudian efektivitas pajak air tanah terendah terjadi pada tahun 2017 yaitu sebesar 48,47%. Sesuai dengan standar yang ditetapkan Kepmendagri menunjukkan hasil „cukup efektif‟
dengan tingkat efektivitas rata-rata pertahun sebesar 86,05%. Dapat dikatakan pemerintah Kabupaten Asahan cukup berhasil dalam memaksimalkan pemungutan pajak air tanah.
4.2.1.9 Pajak Walet
Perhitungan efektivitas pajak walet tahun 2012-2018 sebagai berikut:
Tabel 4.9
Efektivitas Pajak Walet Kabupaten Asahan Tahun 2012-2018
Tahun Target Realisasi Persentase Kriteria
2012 10.000.000,00 6.000.000,00 60,00 Kurang Efektif
2013 10.700.000,00 8.250.000,00 77,10 Kurang Efektif
2014 11.449.000,00 - - -
Sumber: Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Asahan, Data Diolah, 2019
55
selama 7 terakhir tidak dapat diketahui. Hal ini dikarenakan sejak tahun 2014 para pengusaha walet di Kabupaten Asahan sudah tidak melaporkan pajaknya kepada Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Asahan. Dan diketahui bahwa usaha burung walet tidak ada lagi sejak tahun 2014. Maka peneliti tidak dapat menyimpulkan seberapa besar efektivitas pajak walet di Kabupaten Asahan karena keterbatasan data.
4.2.1.10 Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan
Perhitungan efektivitas PBB Perdesaan dan Perkotaan tahun 2012-2018 sebagai berikut:
Tabel 4.10
Efektivitas Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan Kabupaten Asahan Tahun 2012-2018
Tahun Target Realisasi Persentase Kriteria
2012 - - - -
2013 7.500.000.000,00 5.737.264.044,00 76,50 Kurang Efektif 2014 8.250.000.000,00 6.692.342.932,00 81,12 Cukup Efektif 2015 9.075.000.000,00 8.151.589.697,00 89,82 Cukup Efektif 2016 11.975.000.000,00 8.238.076.191,00 68,79 Kurang Efektif 2017 12.600.000.000,00 12.394.188.287,00 98,37 Efektif 2018 13.100.000.000,00 11.020.879.913,00 84,13 Cukup Efektif
Rata-rata 83,12 Cukup Efektif
Sumber: Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Asahan, Data Diolah, 2019
Berdasarkan tabel 4.10 di atas, dapat dilihat bahwa efektivitas pajak PBB Perdesaan dan Perkotaan selama 7 tahun terakhir mengalami fluktuasi. Efektivitas pajak PBB Perdesaan dan Perkotaan tertinggi terjadi pada tahun 2017 yaitu sebesar 98,37%. Kemudian efektivitas pajak PBB Perdesaan dan Perkotaan terendah terjadi pada tahun 2016 yaitu sebesar 68,79%. Sesuai dengan standar yang ditetapkan Kepmendagri menunjukkan hasil „cukup efektif‟ dengan tingkat efektivitas rata-rata pertahun sebesar 83,12%. Dapat dikatakan pemerintah Kabupaten Asahan cukup berhasil dalam memaksimalkan pemungutan pajak PBB Perdesaan dan Perkotaan.
4.2.1.11 Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)
Perhitungan efektivitas Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) tahun 2012-2018 sebagai berikut:
Tabel 4.11
Efektivitas Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kabupaten Asahan Tahun 2012-2018
Tahun Target Realisasi Persentase Kriteria
2012 2.800.000.000,00 2.678.689.683,25 95,67 Efektif 2013 3.235.680.000,00 2.158.008.141,00 66,69 Kurang Efektif 2014 3.583.353.000,00 3.289.931.391,50 91,81 Efektif 2015 3.800.000.000,00 2.142.084.208,70 56,37 Tidak Efektif 2016 4.300.000.000,00 3.021.162.263,00 70,26 Kurang Efektif 2017 4.521.048.319,00 3.645.344.399,00 80,63 Cukup Efektif 2018 5.800.000.000,00 6.251.944.445,00 107,79 Sangat Efektif
Rata-rata 81,32 Cukup Efektif
Sumber: Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Asahan, Data Diolah, 2019
Berdasarkan tabel 4.11 di atas, dapat dilihat bahwa efektivitas pajak BPHTB selama 7 tahun terakhir mengalami fluktuasi. Efektivitas pajak BPHTB tertinggi terjadi pada tahun 2018 yaitu sebesar 107,79%. Kemudian efektivitas pajak BPHTB terendah terjadi pada tahun 2015 yaitu sebesar 56,37%. Sesuai dengan standar yang ditetapkan Kepmendagri menunjukkan hasil „cukup efektif‟ dengan tingkat efektivitas rata-rata pertahun sebesar 81,32%. Dapat dikatakan pemerintah Kabupaten Asahan cukup berhasil dalam memaksimalkan pemungutan pajak BPHTB. Walaupun keberhasilan efektivitas sempat turun di bawah 60% pada tahun 2015.
4.2.1.12 Pajak Daerah
Tabel 4.12
Efektivitas Pajak Daerah Kabupaten Asahan Tahun 2012-2018
Tahun Target Realisasi Persentase Kriteria
2012 15.075.610.080,00 14.875.317.116,93 98,67 Efektif
2013 26.079.385.129,54 20.296.777.755,22 77,83 Kurang Efektif 2014 28.789.485.000,00 24.423.474.106,90 84,83 Cukup Efektif 2015 31.394.480.450,00 26.286.364.648,44 83,73 Cukup Efektif 2016 37.101.210.847,20 28.606.027.050,83 77,10 Kurang Efektif
2017 40.304.737.319,00 37.930.651.824,80 94,11 Efektif
2018 48.809.641.016,00 42.852.881.287,00 87,80 Cukup Efektif
Rata-rata 86,30 Cukup Efektif
Sumber: Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Asahan, Data Diolah, 2019
57
Berdasarkan tabel 4.12 di atas, dapat dilihat bahwa efektivitas total pajak daerah di Kabupaten Asahan selama 7 tahun terakhir mengalami fluktuasi.
Efektivitas pajak daerah tertinggi terjadi pada tahun 2012 yaitu sebesar 98,67%.
Kemudian efektivitas pajak daerah terendah terjadi pada tahun 2016 yaitu sebesar 77,10%. Sesuai dengan standar yang ditetapkan Kepmendagri menunjukkan hasil
„cukup efektif‟ dengan tingkat efektivitas rata-rata pertahun sebesar 86,30%.
Dapat dikatakan pemerintah Kabupaten Asahan cukup berhasil dalam memaksimalkan pemungutan pajak daerah secara keseluruhan.
4.2.2 Analisis Kontribusi Pajak Daerah Terhadap PAD Kabupaten Asahan Analisis kontribusi dihitung dengan membandingkan antara besarnya realisasi pajak daerah terhadap PAD. Pajak daerah dikatakan memiliki kontribusi besar apabila hasil perhitungan lebih dari 50 persen. Hasil perhitungan disajikan sebagai berikut:
4.2.2.1 Pajak Hotel
Perhitungan kontribusi total pajak hotel terhadap PAD tahun 2012-2018 sebagai berikut:
Tabel 4.13
Kontribusi Pajak Hotel Terhadap PAD Kabupaten Asahan Tahun 2012-2018
Tahun Pajak Hotel (Rp) PAD (Rp) Persentase Kriteria
2012 159.383.500,00 37.894.587.647,36 0,42 Sangat Kurang
2013 140.425.000,00 55.004.189.004,57 0,26 Sangat Kurang
2014 213.165.000,00 91.467.858.558,86 0,23 Sangat Kurang
2015 204.482.000,00 98.279.308.428,18 0,21 Sangat Kurang
2016 254.369.512,00 119.498.541.230,48 0,21 Sangat Kurang
2017 359.620.540,00 123.687.304.878,59 0,29 Sangat Kurang
2018 361.635.028,00 142.974.081.720,99 0,25 Sangat Kurang
Rata-rata 0,27 Sangat Kurang
Sumber: Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Asahan, Data Diolah, 2019
Berdasarkan tabel 4.13 di atas, dapat diketahui bahwa kontribusi pajak hotel terhadap PAD berfluktuasi. Kontribusi terbesar terjadi pada tahun 2012
sebesar 0,42% dan terendah terjadi pada tahun 2015 2016 yaitu sebesar 0,21%. Rata-rata kontribusi pajak hotel sebesar 0,27% per tahun. Sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam Tim Litbang Depdagri menunjukkan hasil „sangat kurang‟ memberikan kontribusi. Dapat dikatakan pajak hotel tidak berkontribusi besar terhadap PAD dengan keseluruhan angka jauh di bawah 10%.
4.2.2.2 Pajak Restoran
Perhitungan kontribusi total pajak restoran terhadap PAD tahun 2012-2018 sebagai berikut:
Tabel 4.14
Kontribusi Pajak Restoran Terhadap PAD Kabupaten Asahan Tahun 2012-2018
Tahun Pajak Restoran (Rp) PAD (Rp) Persentase Kriteria 2012 463.298.563,00 37.894.587.647,36 1,22 Sangat Kurang 2013 410.085.993,00 55.004.189.004,57 0,75 Sangat Kurang 2014 511.754.457,00 91.467.858.558,86 0,56 Sangat Kurang 2015 485.295.604,00 98.279.308.428,18 0,49 Sangat Kurang 2016 667.570.755,00 119.498.541.230,48 0,56 Sangat Kurang 2017 891.975.385,00 123.687.304.878,59 0,72 Sangat Kurang 2018 1.106.986.725,00 142.974.081.720,99 0,77 Sangat Kurang
Rata-rata 0,72 Sangat
Kurang Sumber: Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Asahan, Data Diolah, 2019
Berdasarkan tabel 4.14 di atas, dapat diketahui bahwa kontribusi pajak restoran terhadap PAD berfluktuasi. Kontribusi terbesar terjadi pada tahun 2012 sebesar 1,22% dan terendah terjadi pada tahun 2015 yaitu sebesar 0,49%. Rata-rata kontribusi pajak restoran sebesar 0,72% per tahun. Sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam Tim Litbang Depdagri menunjukkan hasil „sangat kurang‟ memberikan kontribusi. Dapat dikatakan pajak restoran tidak berkontribusi besarterhadap PAD dengan keseluruhan angka jauh di bawah 10%.
59
4.2.2.3 Pajak Hiburan
Perhitungan kontribusi total pajak hiburan terhadap PAD tahun 2012-2018 sebagai berikut:
Tabel 4.15
Kontribusi Pajak Hiburan Terhadap PAD Kabupaten Asahan Tahun 2012-2018
Tahun Pajak Hiburan (Rp) PAD (Rp) Persentase Kriteria
2012 37.508.500,00 37.894.587.647,36 0,10 Sangat Kurang
2013 51.611.200,00 55.004.189.004,57 0,09 Sangat Kurang
2014 41.194.000,00 91.467.858.558,86 0,05 Sangat Kurang
2015 71.612.500,00 98.279.308.428,18 0,07 Sangat Kurang
2016 115.949.025,00 119.498.541.230,48 0,10 Sangat Kurang
2017 407.125.575,00 123.687.304.878,59 0,32 Sangat Kurang
2018 796.093.255,00 142.974.081.720,99 0,56 Sangat Kurang
Rata-rata 0,18 Sangat Kurang
Sumber: Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Asahan, Data Diolah, 2019
Berdasarkan tabel 4.15 di atas, dapat diketahui bahwa kontribusi pajak hiburan terhadap PAD berfluktuasi. Kontribusi terbesar terjadi pada tahun 2018 sebesar 0,56% dan terendah terjadi pada tahun 2014 yaitu sebesar 0,05%. Rata-rata kontribusi pajak hiburan sebesar 0,18% per tahun. Pada tahun 2017 pajak hiburan meningkat cukup tinggi, namun persentase kontribusi yang didapatkan tidak terlalu menunjukkan perbedaan peningkatan yang signifikan. Persentase kontribusi pajak hiburan pada tahun 2017 meningkat namun tetap dibawah 1%. Diikuti dengan tahun berikutnya 2018, yang juga mengalami peningkatan. Secara keseluruhan realisasi pajak hiburan mengalami peningkatan setiap tahunnya. Sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam Tim Litbang Depdagri menunjukkan hasil „sangat kurang‟
memberikan kontribusi. Dapat dikatakan pajak hiburan tidak berkontribusi besar terhadap PAD dengan keseluruhan angka jauh di bawah 10%.
4.2.2.4 Pajak Reklame
Perhitungan kontribusi total pajak reklame terhadap PAD tahun 2012-2018 sebagai berikut:
Tabel 4.16
Kontribusi Pajak Reklame Terhadap PAD Kabupaten Asahan Tahun 2012-2018
Tahun Pajak Reklame (Rp) PAD (Rp) Persentase Kriteria 2012 453.764.874,50 37.894.587.647,36 1,20 Sangat Kurang 2013 377.033.961,00 55.004.189.004,57 0,69 Sangat Kurang 2014 532.869.753,50 91.467.858.558,86 0,58 Sangat Kurang 2015 649.478.803,00 98.279.308.428,18 0,66 Sangat Kurang 2016 596.948.576,00 119.498.541.230,48 0,50 Sangat Kurang 2017 701.798.834,00 123.687.304.878,59 0,57 Sangat Kurang 2018 1.011.397.377,00 142.974.081.720,99 0,71 Sangat Kurang
Rata-rata 0,70 Sangat Kurang
Sumber: Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Asahan, Data Diolah, 2019
Berdasarkan tabel 4.16 di atas, dapat diketahui bahwa kontribusi pajak reklame terhadap PAD berfluktuasi. Kontribusi terbesar terjadi pada tahun 2012 sebesar 1,20% dan terendah terjadi pada tahun 2016 yaitu sebesar 0,50%. Rata-rata kontribusi pajak reklame 0,70% per tahun. Sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam Tim Litbang Depdagri menunjukkan hasil „sangat kurang‟
memberikan kontribusi. Dapat dikatakan pajak reklame tidak berkontribusi besar terhadap PAD dengan keseluruhan angka jauh di bawah 10%.
4.2.2.5 Pajak Penerangan Jalan
Perhitungan kontribusi total pajak penerangan jalan (PPJ) terhadap PAD tahun 2012-2018 sebagai berikut:
Tabel 4.17
Kontribusi Pajak Penerangan Jalan Terhadap PAD Kabupaten Asahan Tahun 2012-2018
Tahun Pajak Penerangan
Jalan (Rp) PAD (Rp) Persentase Kriteria 2012 10.166.223.162,00 37.894.587.647,36 26,83 Sedang 2013 10.452.428.763,00 55.004.189.004,57 19,02 Kurang 2014 11.589.993.021,00 91.467.858.558,86 12,67 Kurang 2015 13.011.523.907,00 98.279.308.428,18 13,24 Kurang 2016 13.910.357.174,00 119.498.541.230,48 11,64 Kurang 2017 17.619.875.586,00 123.687.304.878,59 14,25 Kurang 2018 20.346.395.916,00 142.974.081.720,99 14,23 Kurang
Rata-rata 15,98 Kurang
Sumber: Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Asahan, Data Diolah, 2019
Berdasarkan tabel 4.17 di atas, dapat diketahui bahwa kontribusi pajak
61
penerangan jalan terhadap PAD berfluktuasi. Kontribusi terbesar terjadi pada tahun 2012 sebesar 26,83% dan terendah terjadi pada tahun 2016 yaitu sebesar 0,50%. Rata-rata kontribusi pajak penerangan jalan sebesar 11,64% per tahun. Sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam Tim Litbang Depdagri menunjukkan hasil „kurang‟ memberikan kontribusi. Dapat dikatakan pajak penerangan jalan masih kurang berkontribusi terhadap PAD, namun dengan rata-rata keseluruhan angka di atas 10%.
4.2.2.6 Pajak Mineral bukan Logam dan Batuan
Perhitungan kontribusi total pajak mineral terhadap PAD tahun 2012-2018 sebagai berikut:
Tabel 4.18
Kontribusi Pajak Mineral bukan Logam dan Batuan Terhadap PAD Kabupaten Asahan Tahun 2012-2018
Tahun Pajak Mineral (Rp) PAD (Rp) Persentase Kriteria 2012 27.662.800,00 37.894.587.647,36 0,073 Sangat Kurang 2013 19.562.400,00 55.004.189.004,57 0,036 Sangat Kurang 2014 61.585.000,00 91.467.858.558,86 0,067 Sangat Kurang 2015 38.788.200,00 98.279.308.428,18 0,039 Sangat Kurang 2016 6.210.000,00 119.498.541.230,48 0,005 Sangat Kurang 2017 877.654.954,00 123.687.304.878,59 0,710 Sangat Kurang 2018 1.919.763.628,00 142.974.081.720,99 1,343 Sangat Kurang
Rata-rata 0,325 Sangat Kurang
Sumber: Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Asahan, Data Diolah, 2019
Berdasarkan tabel 4.18 di atas, dapat diketahui bahwa kontribusi pajak mineral bukan logam dan batuan terhadap PAD berfluktuasi. Kontribusi terbesar terjadi pada tahun 2018 sebesar 1,343% dan terendah terjadi pada tahun 2016 yaitu sebesar 0,005%. Sejak tahun 2012 kontribusi pajak mineral bukan logam dan batuan terhadap PAD sangat rendah yaitu di bawah 1%. Kemudian pada tahun 2017 persentase kontribusinya meningkat cukup tinggi dan pada tahun 2018 menyentuh angka >1%. Rata-rata kontribusi pajak mineral bukan logam dan
batuan sebesar 0,325% per tahun. Sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam Tim Litbang Depdagri menunjukkan hasil „sangat kurang‟ memberikan kontribusi. Dapat dikatakan pajak mineral bukan logam dan batuan tidak berkontribusi besar terhadap PAD dengan keseluruhan angka jauh di bawah 10%.
4.2.2.7 Pajak Parkir
Perhitungan kontribusi total pajak parkir terhadap PAD tahun 2012-2018 sebagai berikut:
Tabel 4.19
Kontribusi Pajak Parkir Terhadap PAD Kabupaten Asahan Tahun 2012-2018
Tahun Pajak Parkir (Rp) PAD (Rp) Persentase Kriteria
2012 18.335.000,00 37.894.587.647,36 0,048 Sangat Kurang
2013 11.855.000,00 55.004.189.004,57 0,022 Sangat Kurang
2014 25.400.000,00 91.467.858.558,86 0,028 Sangat Kurang
2015 16.575.000,00 98.279.308.428,18 0,017 Sangat Kurang
2016 23.920.000,00 119.498.541.230,48 0,020 Sangat Kurang
2017 22.420.000,00 123.687.304.878,59 0,018 Sangat Kurang
2018 37.785.000,00 142.974.081.720,99 0,026 Sangat Kurang
Rata-rata 0,026 Sangat Kurang
Sumber: Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Asahan, Data Diolah, 2019
Berdasarkan tabel 4.19 di atas, dapat diketahui bahwa kontribusi pajak reklame terhadap PAD berfluktuasi. Kontribusi terbesar terjadi pada tahun 2012 sebesar 0,048% dan terendah terjadi pada tahun 2015 yaitu sebesar 0,017%. Rata-rata kontribusi pajak reklame sebesar 0,026% per tahun. Sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam Tim Litbang Depdagri menunjukkan hasil „sangat kurang‟
memberikan kontribusi. Dapat dikatakan pajak reklame tidak berkontribusi besar terhadap PAD dengan keseluruhan angka jauh di bawah 10% dan tidak melebihi angka 1%.
63
4.2.2.8 Pajak Air Tanah
Perhitungan kontribusi total pajak air tanah terhadap PAD tahun 2012-2018 sebagai berikut:
Tabel 4.20
Kontribusi Pajak Air Tanah Terhadap PAD Kabupaten Asahan Tahun 2012-2018
Tahun Pajak Air Tanah (Rp) PAD (Rp) Persentase Kriteria 2012 864.451.034,18 37.894.587.647,36 2,28 Sangat Kurang 2013 930.253.253,22 55.004.189.004,57 1,69 Sangat Kurang 2014 1.465.238.551,90 91.467.858.558,86 1,60 Sangat Kurang 2015 1.514.934.728,74 98.279.308.428,18 1,54 Sangat Kurang 2016 1.771.463.554,83 119.498.541.230,48 1,48 Sangat Kurang 2017 1.010.648.264,80 123.687.304.878,59 0,82 Sangat Kurang
2018 - 142.974.081.720,99 - -
Rata-rata 1,57 Sangat Kurang
Sumber: Badan Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Asahan, Data Diolah, 2019
Berdasarkan tabel 4.20 di atas, dapat diketahui bahwa kontribusi pajak air tanah terhadap PAD berfluktuasi. Kontribusi terbesar terjadi pada tahun 2012 sebesar 2,28% dan terendah terjadi pada tahun 2017 yaitu sebesar 0,82%. Rata-rata kontribusi pajak air tanah sebesar 1,57% per tahun. Sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam Tim Litbang Depdagri menunjukkan hasil „sangat kurang‟
memberikan kontribusi. Dapat dikatakan pajak air tanah tidak berkontribusi besar
memberikan kontribusi. Dapat dikatakan pajak air tanah tidak berkontribusi besar