BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
2. Kelompok Eksperimen
4.1.2.2 Analisis Lebih Lanjut
1. Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I
Perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui persentase peningkatan kemampuan mengevaluasi dilihat dari rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Penghitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan dengan penghitungan secara manual dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Gunawan, 2006: 575).
77
Gambar 4.2 Rumus Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I
Berikut merupakan tabel hasil penghitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kemampuan mengevaluasi (lihat Lampiran 4.8).
Tabel 4.7 Hasil Penghitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I
Mengevaluasi
Kelompok Mean Persentase
Pretest Posttest I
Kontrol 1,30 2,69 106,92%
Eksperimen 1,04 3,57 243,27%
Pada kelompok kontrol nilai mean pretest 1,30 sedangkan nilai mean
posttest I adalah 2,69. Persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I
kelompok kontrol sebesar 106,92%. Kelompok eksperimen dengan nilai mean
pretest 1,04 dan nilai mean posttest I adalah 3,57, maka penghitungan persentase
peningkatan rerata pretest ke posttest I kelompok eksperimen sebesar 243,27%. Seperti yang telah dijelaskan pada tabel 4.5 bahwa ada peningkatan rerata antara pretest ke posttest I baik di kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Jumlah siswa yang mengalami peningkatan skor rerata dapat diketahui dengan menggunakan gain score. Uji gain score dilakukan dengan menggunakan selisih skor posttest I dan pretest. Kemudian dihitung frekuensi banyaknya siswa yang mendapatkan nilai di atas gain score yang telah ditentukan. Frekuensi gain score diambil kurang lebih 50% dari skor tertinggi dari selisih
posttest I-pretest kedua kelompok yaitu dari kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol. Peneliti menggunakan gain score ≥ 2 untuk menentukan persentase siswa yang memperoleh kenaikan skor secara signifikan. Kemudian dilakukan penghitungan dengan rumus yang terdapat di bab III, halaman 58.
Pembuatan grafik poligon yang menunjukkan gain score kemampuan
mengevaluasi. Dominasi skor selisih posttest I-pretest dari kelompok kontrol lebih
kecil daripada kelompok eksperimen. Hal ini ditunjukkan pada grafik di bawah ini.
78
Gambar 4.3 Grafik Gain Score Kemampuan Mengevaluasi
Berdasarkan grafik di atas, gain score dengan frekuensi yang paling besar pada kelompok kontrol yaitu 1,67 dengan frekuensi 4 siswa dan gain score dengan yang paling besar kelompok eksperimen yaitu 3,33 dengan frekuensi 7 siswa. Disimpulkan bahwa gain score kelompok kontrol lebih kecil dari kelompok eksperimen. Hal tersebut berarti selisih posttest I-pretest kelompok eksperimen lebih dominan karena nilainya lebih besar daripada selisih posttest I-
pretest kelompok kontrol (lihat Lampiran 4.8).
Tabel 4.8 Penghitungan Persentase Gain Score Kemampuan Mengevaluasi Kelompok f skor ≥ 2 Persentase (%)
Kontrol 12 33,33
Eksperimen 23 63,89
Berdasarkan penghitungan manual diperoleh persentase gain score ≥ 2 pada kelompok kontrol sebesar 33,33%, sedangkan persentase gain score ≥ 2 pada kelompok eksperimen sebesar 63,89%, sehingga siswa dengan gain score ≥ 2 di kelompok eksperimen lebih banyak daripada kelompok kontrol. Dengan perhitungan 50% gain score tersebut, metode inkuiri memberi manfaat untuk 63,89% siswa, sementara metode ceramah 33,33% siswa.
0 1 2 3 4 5 6 7 8 -2 -1 0 1 2 3 4 5 Fr e k u e n si Gain Kontrol Eksperimen
79 2. Uji Signifikansi Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I
Uji signifikansi peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui apakah terjadi peningkatan skor yang signifikan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Uji signifikansi peningkatan rerata pretest ke
posttest I dihitung dengan menggunakan rerata hasil pretest dan posttest I pada
kelompok kontrol dan eksperimen. Uji statistik yang digunakan yaitu uji statistik nonparametrik dalam hal ini menggunakan Wilcoxon Signed Ranks Test (Priyatno, 2009: 345). Analisis statistik menggunakan uji statistik nonparametrik karena hasil pretest kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen menunjukkan bahwa Sig. (2-tailed) < 0,05 sehingga data tidak berdistribusi normal (Field, 2009: 53).
Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull dari hasil uji statistik Wilcoxon Signed Ranks Test jika harga Sig. (2-tailed) < 0,05, dengan demikian
ada peningkatan skor yang signifikan antara skor rerata pretest dan posttest I baik itu untuk kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Berikut merupakan tabel hasil uji signifikansi peningkatan rerata pretest-posttest I mengevaluasi (lihat Lampiran 4.9).
Tabel 4.9 Uji Signifikansi Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Variabel Mengevaluasi Kelompok Sig. (2-tailed) Keterangan
Kontrol 0,000 Ada perbedaan
Eksperimen 0,000 Ada perbedaan
Hasil analisis Wilcoxon Signed Ranks Test menunjukkan peningkatan rerata pretest ke posttest I kelompok kontrol dengan harga Mdn pretest = 1 dan
Mdn posttest I = 2,67, sedangkan hasil uji statistik menunjukkan harga z = (-4,79).
Analisis Wilcoxon Signed Ranks Test menunjukkan peningkatan rerata pretest-
posttest I kelompok eksperimen dengan harga pretest = 1 dan Mdn posttest I = 4,
sedangkan hasil uji statistik menunjukkan harga z = (-5,24). Harga Sig (2-tailed) kelompok kontrol dan kelompok ekperimen yaitu 0,000 atau p < 0,05 sehingga Hnull ditolak dan Hi diterima. Artinya ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan
kata lain terdapat peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I kemampuan mengevaluasi pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
80 Untuk mengetahui persentase peningkatan skor rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan eksperimen, dilakukan penghitungan manual dengan menggunakan rumus sebagaimana yang sudah disebutkan pada bab III, halaman 57. Berikut merupakan tabel hasil penghitungan persentase peningkatan rerata
pretest ke posttest I kemampuan mengevaluasi pada kelompok kontrol dan
kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.9).
Tabel 4.10 Hasil Penghitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I
Mengevaluasi
Kelompok Z N r (effect size) R2 % Keterangan
Kontrol (-4,79) 72 (-0,56) 0,31 31 Cukup Besar Eksperimen (-5,24) 72 (-0,62) 0,38 38 Sangat Besar
Dari data yang diperoleh, dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan kemampuan mengevaluasi pada kelompok kontrol yaitu sebesar 31% dengan
effect size (r) bernilai (-0,56) yang termasuk kategori “cukup besar”. Besar pengaruh perlakuan terhadap kemampuan mengevaluasi di kelompok eksperimen yaitu 38% dengan effect size (r) bernilai (-0,62) yang termasuk pada kategori
“sangat besar”.
3. Uji Korelasi Rerata Pretest dan Posttest I
Uji korelasi rerata pretest dan posttest I untuk mengetahui korelasi atau hubungan hasil rerata pretest dan posttest I untuk kemampuan mengevaluasi. Uji korelasi rerata pretest dan posttest I menggunakan uji pearman’s correlation
coefficient (Field, 2009: 179). Hal tersebut dikarenakan data tidak terdistribusi
normal. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull dari hasil uji statistik pearman’s correlation jika harga Sig. (2-tailed) < 0,05 (Field, 2009: 181). Dengan demikian, ada hubungan yang positif dan signifikan antara hasil rerata
pretest dan posttest I untuk kemampuan mengevaluasi. Apabila data terdistribusi
tidak normal digunakan analisis statistik non-parametrik yaitu rumus pearman’s
correlation coefficient. Tabel dibawah ini merupakan interpretasi koefisien
korelasi untuk menguji hipotesis (Fraenkel, 2012: 253). Tabel 4.11 Tabel Interpretasi Koefisien Korelasi
Correlation Coefficient Interpretasi
0,00 – 0,40 Rendah 0,41 – 0,60 Cukup besar
0,61 – 0,80 Sangat besar, akan tetapi jarang di penelitian pendidikan.
0,81 atau lebih Kemungkinan kesalahan penghitungan atau sangat besar hubungaannya.
81 Berikut merupakan tabel hasil uji korelasi rerata pretest dan posttest I kemampuan
mengevaluasi (lihat Lampiran 4.10).
Tabel 4.12 Hasil Uji Korelasi Kemampuan Mengevaluasi
No Kelompok Correlation Coefficient Sig. (2-tailed) Keterangan
1 Kontrol 0,148 0,388 Tidak ada hubungan
2 Eksperimen 0,271 0,110 Tidak ada hubungan
Berdasarkan hasil uji korelasi rerata pretest dan postest I, harga Sig. (2-
tailed) pada kelompok kontrol adalah 0,388 atau p > 0,05, berarti Hnull diterima
dan Hi ditolak. Maka, tidak ada hubungan yang signifikan antara hasil rerata pretest dan hasil rerata posttest I pada kemampuan mengevaluasi kelompok
kontrol. Hasil Correlation coefficient kelompok kontrol menunjukkan 0,148, maka korelasi hasil rerata pretest dan hasil rerata posttest I termasuk pada kategori rendah. Harga Correlation coefficient menunjukkan nilai positif artinya apabila rerata skor siswa di pretest rendah maka hasil rerata skor siswa di posttest I rendah, begitu pula sebaliknya apabila rerata skor siswa di pretest tinggi maka hasil rerata skor siswa di posttest I akan tinggi pada kelompok kontrol. Meskipun demikian data menunjukkan bahwa korelasi ini tidak signifikan.
Data kelompok eksperimen Correlation coefficient menunjukkan 0,271 dan harga Sig. (2-tailed) adalah 0,110. Hal tersebut menunjukkan bahwa Sig. (2-
tailed) > 0,05 yang berarti bahwa Hi ditolak dan Hnull diterima. Maka, tidak ada
hubungan yang signifikan antara hasil rerata pretest dan hasil rerata posttest I kemampuan mencipta kelompok eksperimen. Hasil Correlation coefficient menunjukkan 0,271, maka korelasi hasil rerata pretest dan hasil rerata posttest I termasuk pada kategori rendah. Harga Correlation coefficient menunjukkan nilai positif artinya apabila rerata skor siswa di pretest rendah maka hasil rerata skor siswa di posttest I rendah, begitu pula sebaliknya apabila rerata skor siswa di
pretest tinggi maka hasil rerata skor siswa di posttest I tinggi pada kelompok
eksperimen. Meskipun demikian data menunjukkan bahwa korelasi tersebut tidak signifikan.
82 4. Uji Retensi Pengaruh Perlakuan
Uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui pengaruh metode inkuiri terhadap kemampuan mengevaluasi siswa setelah dua minggu sejak
posttest I. Hal tersebut untuk mengetahui apakah pengaruh perlakuan masih
sebesar pengaruh pada posttest I (Krathwohl, 2004:546). Uji statistik yang digunakan untuk uji retensi pengaruh perlakuan adalah uji statistik parametrik, dalam hal ini menggunakan Paired Samples T-test (Field, 2009: 325) karena data
posttest I dan posttest II berdistribusi normal. Kriteria yang digunakan untuk
menolak Hnull adalah jika harga Sig. (2-tailed) < 0.05 (Priyatno, 2010: 102).
Perhitungan persentase secara manual dilakukan menggunakan rumus yang sudah disebutkan pada bab III, halaman 61. Berikut adalah tabel hasil uji retensi pengaruh perlakuan skor posttest I ke posttest II kemampuan mengevaluasi (lihat lampiran 4.11).
Tabel 4.13 Hasil Uji Pengaruh Perlakuan Skor Posttest I ke Posttest II Kemampuan
Mengevaluasi
No Kelompok Rerata Peningkatan (%)
Sig.
(2-tailed) Keterangan Posttest I Posttest II
1 Kontrol 2,69 2,84 5,58 0,346 Tidak ada perbedaan
2 Eksperimen 3,57 3,59 0,56 0,922 Tidak ada perbedaan
Berdasarkan hasil analisis, rerata posttest II kelompok kontrol dan kelompok eksperimen lebih tinggi daripada rerata posttest I. Hasil uji Paired
Samples T-test skor posttest I ke posttest II kelompok kontrol menunjukkan harga Sig.(2-tailed) sebesar 0,346 atau p > 0,05, maka Hnull diterima dan Hi ditolak.
Artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I dan posttest II pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain tidak terjadi peningatan skor yang signifikan dari rerata posttest I ke posttest II kemampuan
mengevaluasi pada kelompok kontrol. Persentase peningkatan skor pada
kelompok kontrol sebesar 5,58%. Pada kelompok kontrol diperoleh M = (0,15), n = 36, SD = 0,93, SE = 0,16, t = 0,96, dan df = 35.
Paired Samples T-test skor posttest I ke posttest II kelompok eksperimen
sebesar 0,922 atau p > 0,05 maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Artinya tidak ada
perbedaan yang signifikan antara skor posttest I dan posttest II pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain tidak terjadi peningatan skor yang signifikan dari rerata posttest I ke posttest II kemampuan mengevaluasi pada
83 kelompok eksperimen. Persentase peningkatan skor pada kelompok eksperimen sebesar 2,80 %. Pada kelompok eksperimen diperoleh M = 0,02, n = 36, SD= 1,13, SE= 0,19, t = 0,098, dan df = 35. Berikut adalah grafik retensi pengaruh perlakuan terhadap kemampuan mengevaluasi.
Gambar 4.4 Grafik Retensi Pengaruh Perlakuan Kemampuan Mengevaluasi
4.1.3 Uji Hipotesis Penelitian II 4.1.3.1Analisis Pengaruh Perlakuan
Pada uji hipotesis penelitian II dibahas mengenai pengaruh metode inkuiri terhadap kemampuan mencipta. Variabel dependen penelitian ini adalah kemampuan mencipta dan variabel independennya adalah metode inkuiri. Instrumen soal yang digunakan untuk mengukur variabel ini adalah tiga soal essay pada nomor 6a, dan 6b yang masing-masing nomor mengandung tiga aspek yaitu merumuskan hipotesis, merencanakan dan mendesain. Analisis statistik ini menggunakan program komputer IBM SPSS Statistic 20 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95% (Ghozali, 2009: 46).
1. Uji Normalitas Distribusi Data
Uji Normalitas distribusi data dilakukan untuk mengetahui apakah data terdistribusi secara normal atau tidak yang nantinya akan menentukan jenis analisis statistik selanjutnya (Field, 2009: 144). Data dari ke dua kelompok diuji
1.3 2.7 2.84 1.04 3.57 3.59 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4
Pretest Posttest I Posttest II
R
e
ra
ta
Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Mengevaluasi
Kontrol Eksperimen
84 normalitas menggunakan uji Nonparametrics Test yaitu One-Samples
Kolmogorov-Smirnov Test untuk menentukan jenis statistik yang akan digunakan
untuk langkah selanjutnya. Kriteria pengambilan keputusan uji normalitas yaitu jika Sig. (2-tailed) > 0,05 maka data berdistribusi normal (Field, 2009: 147). Berdasarkan kriteria di atas diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut (lihat Lampiran 4.3).
Tabel 4.14 Hasil Uji Normalitas Kemampuan Mencipta
No Aspek Sig. (2-tailed) Keterangan
1 Skor pretest kelompok kontrol mencipta 0,002 Tidak Normal 2 Skor posttest I kelompok kontrol mencipta 0,585 Normal 3 Skor posttest II kelompok kontrol mencipta 0,490 Normal 4 Selisih skor pretest-posttest I kelompok kontrol
mencipta 0.564 Normal
5 Skor pretest kelompok eksperimen mencipta 0,000 Tidak Normal 6 Skor posttest I kelompok eksperimen mencipta 0,429 Normal 7 Skor posttest II kelompok eksperimen mencipta 0,514 Normal 8 Selisih skor pretest-posttest I kelompok eksperimen
mencipta 0,231 Normal
Dari data pada tabel di atas, diperoleh skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen kemampuan mencipta menunjukkan bahwa Sig. (2-tailed) < 0.05. Maka diambil kesimpulan bahwa Hnull diterima dan Hi ditolak artinya data
tidak berdistribusi normal pada skor pretest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Sedangkan skor posttest I, posttest II, dan selisih skor pretest-posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen kemampuan mencipta menunjukkan bahwa Sig. (2-tailed) > 0,05. Dari hasil analisis tersebut diambil kesimpulan bahwa Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya data berdistribusi normal
pada skor posttest I, posttest II, dan selisih skor pretest-posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen kemampuan mencipta. Berdasarkan hasil uji normalitas tersebut, maka uji statistik selanjutnya menggunakan 2 uji statistik yaitu uji statistik parametrik dan uji statistik nonparametrik. Uji statistik parametrik yang digunakan untuk analisis data dari kelompok yang berbeda adalah Independent Samples T-test sedangkan untuk analisis data dari satu kelompok menggunakan Paired Samples T-test. Uji statistik nonparametrik yang digunakan untuk analisis data dari kelompok yang berbeda adalah Mann Whitney
85 kelompok yang sama menggunakan Wilcoxon Sign Rank (Two-Related Samples
Test).
2. Uji Perbedaan Kemampuan Awal
Uji perbedaan kemampuan awal ini digunakan untuk mengetahui kemampuan awal kedua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan awal yang sama atau berbeda. Uji perbedaan rerata pretest disebut juga uji perbedaan kemampuan awal. Langkah ini dilakukan karena teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini tidak dilakukan secara
random. Uji perbedaan rerata kemampuan awal menggunakan uji statistik nonparametric test karena hasil uji normalitas skor pretest kelompok kontrol dan
kelompok eksperimen tidak berdistribusi normal yang memiliki harga Sig. (2-
tailed) < 0.05. Uji nonparametrik yang digunakan adalah uji statistik Mann Whitney U-test (Field, 2009: 345). Analisis data dilakukan dengan tingkat
kepercayaan 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika harga Sig.(2-tailed) < 0,05. Berikut adalah tabel hasil uji perbandingan rerata pretest
kemampuan mencipta (lihat Lampiran 4.4).
Tabel 4.15 Hasil Uji Perbedaan Kemampuan Awal
Hasil Pretest Sig. (2-tailed) Keterangan
Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen 0.014 Ada Perbedaan
Rerata skor pretest pada kelompok kontrol lebih tinggi daripada kelompok eksperimen. Berdasarkan analisis perbandingan skor pretest, pada kelompok kontrol diperoleh Mdn = 1, sedangkan pada kelompok eksperimen diperoleh Mdn = 1. Hasil uji perbandingan skor pretest kemampuan mencipta menunjukkan bahwa hasil U = 470,5, z = (-2.453), dan Sig. (2-tailed) = 0.14 atau p < 0,05, maka Hnull ditolak dan Hi diterima (Priyatno, 2010: 99). Artinya ada perbedaan yang
signifikan antara pretest kelompok eksperimen dan pretest kelompok kontrol kemampuan mencipta, dengan kata lain keduanya memiliki kemampuan awal yang tidak sama.
86 3. Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan
Uji signifikansi pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui pengaruh penerapan metode inkuiri terhadap kemampuan mencipta. Secara prinsip, untuk mengetahui pengaruh perlakuan menggunakan digunakan rumus: (O2 - O1) – (O4 -
O3) yaitu dengan mengurangkan selisih skor posttest I – pretest pada kelompok
kontrol dengan selisih skor posttest I – pretest pada kelompok eksperimen (Cohen, 2007: 277). Uji ini dilakukan dengan membandingkan selisih rerata skor
posttest I-pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hasil
penghitungan pengaruh perlakuan adalah sebagai berikut (lihat Lampiran 4.5). Tabel 4.16 Pengaruh Perlakuan terhadap Kemampuan Mencipta
O1 O2 O3 O4 Pengaruh Perlakuan Keterangan
1,10 4,06 1,26 2,79 1,43 Ada Pengaruh
Berdasarkan penghitungan besar pengaruh perlakuan maka didapat hasil 1,43 atau kausal positif, dengan demikian ada pengaruh perlakuan terhadap kemampuan
mencipta.
Untuk mengetahui signifikansi pengarhu perlakuan dilakuakan uji statistik. Uji statistik yang digunakan adalah uji statistik parametrik Independent Samples
T-test karena data berasal dari kelompok yang berbeda dan hasil skor selisih
rerata skor posttest I-pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen berdistribusi normal yaitu dengan Sig. (2-tailed) > 0.05 (Santoso, 2012: 100).
Untuk melaksanakan analisis uji statistik parametrik Independent Samples
T-test, terlebih dahulu diperlukan uji asumsi untuk memeriksa homogenitas
varians (Levene’s test) pada kedua data yang dibandingkan. Apabila harga Sig. < 0,05 maka dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ada homogenitas varians pada kedua data yang dibandingkan (Field, 2009: 150), (lihat Lampiran 4.6)
Tabel 4.17 Hasil Uji Homogenitas Varians (Levene Test)
Hasil F Sig. Keterangan
Homogenitas varians 0,83 0.366 Homogen
Hasil uji statistik Levene’s test dengan tingkat signifikansi 95% menunjukkan bahwa harga F = 0,83 dan harga Sig. = 0,366. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa harga Sig. > 0,05, dengan demikian data tersebut homogen sehingga bisa dilakukan uji statistik Independent Samples
87 Uji signifikansi pengaruh perlakuan terhadap kemampuan mencipta menggunakan kriteria untuk menolak Hnull yaitu harga Sig. (2-tailed) < 0.05 pada
hasil uji statistik. Berikut adalah tabel hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan kemampuan mengevaluasi (lihat Lampiran 4.6).
Tabel 4.18 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Kemampuan Mencipta
Hasil Sig. (2-tailed) Keterangan
Selisih skor kelompok kontrol dan kelompok
eksperimen 0.000 Ada Perbedaan
Rerata selisih skor kelompok eksperimen lebih tinggi dari rerata selisih skor kelompok kontrol. Siswa pada kelompok eksperimen memiliki rerata selisih skor (M) = 2,96, n = 36, SD = 0,84 dan SE = 0,14, sedangkan kelompok kontrol memiliki rerata selisih skor (M) = 1,5, n = 36, SD = 0,94 dan SE = 0,16. Berdasarkan hasil uji statistik pengaruh perlakuan menunjukkan bahwa uji selisih skor kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menunjukkan Sig. (2-tailed) = 0,000, df = 70 dan t = (-6,798).
Berdasarkan uji signifikansi pengaruh perlakuan kemampuan mencipta kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diperoleh Sig. (2-tailed) < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Hnull ditolak dan Hi diterima (Priyatno, 2010: 93).
Artinya ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor posttest I-pretest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, dengan kata lain penggunaan metode inkuiri berpengaruh terhadap kemampuan mencipta. Dengan demikian temuan pada data ini mengafirmasi hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa penerapan metode inkuiri berpengaruh terhadap kemampuan mencipta pada mata pelajaran IPA Kelas V SD Negeri Cebongan semester gasal tahun ajaran 2015/2016. Diagram berikut menunjukkan hasil perbandingan rerata selisih skor
posttest I-pretest kemampuan mencipta pada kelompok kontrol dan kelompok
88
Gambar 4.5 Diagram Rerata Selisih Skor Posttest I-Pretest Kemampuan Mencipta
4. Uji Besar Pengaruh Perlakuan
Uji besar pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui besar pengaruh penerapan metode inkuiri terhadap kemampuan mencipta. Uji besar pengaruh perlakuan sering disebut sebagai effect size. Kriteria yang digunakan untuk menentukan besar efek terdapat pada bab III, halaman 57. Untuk menghitung persentase pengaruh terlebih dahulu dihitung koefisien determinasi (R2) dengan cara mengkuadratkan hasil r kemudian dikalikan 100% (Field, 2009: 179).
Berdasarkan hasil uji signifikansi perlakuan kemampuan mencipta yang telah dibahas sebelumnya, didapatkan hasil Sig. (2-tailed) = 0,000, df = 70 dan t = (-6,798). Maka dapat dilakukan penghitungan secara manual untuk mengetahui
effect size penerapan metode inkuiri terhadap kemampuan mencipta menggunakan
rumus sebagaimana yang sudah disebutkan pada bab III, halaman 57. Berikut merupakan tabel hasil uji besar pengaruh perlakuan pada kemampuan
mengevaluasi (lihat lampiran 4.7).
Tabel 4.19 Hasil Uji Besar Pengaruh Perlakuan pada Kemampuan Mencipta Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen
Variabel t t2 df r (effect size) R2 % Keterangan
89 Dari data yang diperoleh dapat diketahui pengaruh perlakuan terhadap kemampuan mencipta memiliki harga r sebesar 0,63 atau 40% dengan koefisien korelasi termasuk “sangat besar” sehingga mempunyai efek teoritis dan praktis.
4.1.3.2Analisis Lebih Lanjut
1. Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I
Perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui persentase peningkatan kemampuan mencipta dilihat dari rerata
pretest ke posttest I pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen.
Penghitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan dengan penghitungan secara manual dengan menggunakan rumus sebagaimana yang sudah disebutkan pada bab III, halaman 58. Berikut merupakan tabel hasil penghitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kemampuan
mencipta (lihat lampiran 4.8).
Tabel 4.20 Hasil Penghitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest-Posttest I Mencipta
Kelompok Mean Persentase
Pretest Posttest I
Kontrol 1,26 2,79 121,43%
Eksperimen 1,10 4,06 269,09%
Pada kelompok kontrol nilai mean pretest 1,26 sedangkan nilai mean
posttest I adalah 2,79. Persentase peningkatan rerata pretest-posttest I kelompok
kontrol sebesar 121,43%. Kelompok eksperimen dengan nilai mean pretest 1,10 dan nilai mean posttest I adalah 4,06, maka penghitungan persentase peningkatan rerata pretest-posttest I kelompok eksperimen sebesar 269,09%.
Seperti yang telah dijelaskan pada tabel 4.20 bahwa ada peningkatan rerata antara pretest ke posttest I baik di kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Jumlah siswa yang mengalami peningkatan rerata skor yang signifikan dapat diketahui dengan menggunakan selisih skor gain score. Uji gain
score dilakukan dengan menggunakan selisih skor posttest I dan pretest.
Kemudian dihitung frekuensi banyaknya siswa yang mendapatkan nilai di atas
90 dari skor tertinggi dari selisih posttest I-pretest kedua kelompok yaitu dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Peneliti menggunakan gain score ≥ 2 untuk menentukan persentase siswa yang memperoleh kenaikan skor secara signifikan. Kemudian dilakukan penghitungan dengan rumus sebagai berikut:
Gambar 4.6 Rumus Gain Score
Pembuatan grafik poligon menunjukkan perbandingan yang tepat pada rerata antara kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol (Fraenkel, 2012: 250). Dominasi skor selisih posttest I-pretest dari kelompok kontrol lebih kecil daripada kelompok eksperimen, hal tersebut ditunjukkan pada grafik gain score sebagai berikut.
Gambar 4.7 Grafik Gain Score Kemampuan Mencipta
Berdasarkan grafik di atas, gain score dengan frekuensi yang paling besar pada kelompok kontrol yaitu 3 dengan frekuensi 4 siswa dan gain score yang paling besar kelompok eksperimen yaitu 4 dengan frekuensi 7 siswa. Disimpulkan bahwa gain score kelompok kontrol lebih kecil dari kelompok eksperimen. Hal tersebut berarti selisih posttest I-pretest kelompok eksperimen lebih dominan