BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Perhitungan Persentase Peningkatan rerata Pretest ke Posttest I
untuk mengetahui persentase peningkatan rerata dari pretest ke posttest I. Cara menghitung persentase yaitu skor rerata posttest I dikurangi skor rerata pretest kemudian hasil pengurangan di bagi skor rerata pretest dan dikali seratus persen. Untuk mengetahui persentase peningkatan skor pretest ke posttest I digunakan rumus sebagai berikut (Gunawan, 2006: 575).
Gambar 3.6 Rumus Persentase Peningkatan Pretest ke Posttest I
Untuk mengetahui persentase selisih skor posttest I-pretest (gain score) dapat dilakukan penghitungan manual sebagai berikut:
Gambar 3.7 Rumus Gain Score
Frekuensi gain score yang diambil kurang lebih 50% dari skor tertinggi selisih posttest I-pretest kedua kelompok yaitu dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Grafik poligon pada gain score menunjukkan perbandingan yang tepat pada rerata antara kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol (Fraenkel, 2012: 250).
3.8.2.2Uji Signifikansi Peningkatan Rerata Skor Pretest ke Posttest I
Uji peningkatan skor pretest ke posttest dilakukan untuk mengetahui apakah ada peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I baik dari
Peningkatan posttest pretest pretest 100
59 kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Analisis statistik dengan menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 20 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika data terdistribusi normal digunakan statistik parametrik yaitu Paired samples t-test atau jika data terdistribusi tidak normal digunakan statistik non parametrik yaitu Wilcoxon Signed Ranks test (Priyatno, 2009: 345). Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika harga Sig. (2-tailed) < 0,05 (Field, 2009: 53). Hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut.
Hi : Ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest I pada
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Hnull : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest I pada
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulannya adalah sebagai berikut: 1. Jika harga sig. (2-tailed) < 0,05, Hnull ditolak dan Hi diterima, berarti ada
perbedaan yang signifikan antara skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain, terdapat peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I.
2. Jika harga sig. (2-tailed) > 0,05,Hnull diterima dan Hi ditolak, berarti tidak ada
perbedaan yang signifikan antara skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain, tidak terdapat peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I.
3.8.2.3Uji Korelasi Rerata Pretest dan Posttest I
Uji korelasi ini dilakukan untuk mengetahui apakah korelasi antara rerata
pretest dan posttest I positif dan signifikan. Positif berarti semakin tinggi skor pretest, semakin tinggi pula posttest I. Signifikan berarti hasil skor korelasi
tersebut bisa digeneralisasi pada populasi. Uji korelasi skor pretest dan posttest menggunakan rumus bivariate correlations yaitu untuk mengetahui korelasi antara dua variabel. Apabila data terdistribusi normal maka uji korelasi ini menggunakan rumus bivariate correlation coefficients yaitu Pearson’s
correlation coefficient (Field, 2009: 177). Apabila data tidak terdistribusi normal
60
correlation coefficient (Field, 2009: 179). Tabel dibawah ini merupakan
interpretasi koefisien korelasi untuk menguji hipotesis (Fraenkel, 2012: 253). Tabel 3.9 Tabel Interpretasi Koefisien Korelasi
Correlation Coefficient Interpretasi
0,00 – 0,40 Rendah 0,41 – 0,60 Cukup besar
0,61 – 0,80 Sangat besar, akan tetapi jarang di penelitian pendidikan.
0,81 atau lebih Kemungkinan kesalahan penghitungan atau sangat besar hubungaannya.
Hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut (Field, 2009: 181).
Hi : Ada korelasi yang signifikan antara skor pretest dan posttest I pada
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Hnull : Tidak ada korelasi yang signifikan antara skor pretest dan posttest I pada
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulanya adalah sebagai berikut: 1. Jika harga Sig. (2-tailed) < 0,05 Hnull ditolak dan Hi diterima, berarti ada
korelasi yang signifikan antara skor pretest dan posttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
2. Jika harga Sig. (2-tailed) > 0,05 maka Hnull diterima dan Hi ditolak, berarti
tidak ada korelasi yang signifikan antara skor pretest dan posttest I pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
3.8.2.4Uji Retensi Pengaruh Perlakuan
Uji retensi dilakukan untuk mengetahui apakah pengaruh perlakuan masih kuat seperti pada hasil posttest I. Posttest II digunakan untuk mengetahui pengaruh perlakuan yang lebih sensitif daripada posttest I (Krathwohl, 2004: 546).
Posttest II dapat dilakukan 2 minggu setelah posttest I. Pada hasil skor posttest II
dilakukan uji normalitas dengan menggunakan rumus Kolmogorov-Smirnov. Jika harga Sig. (2-tailed) < 0,05 maka data tidak terdisitribusi normal dan jika harga
Sig. (2-tailed) > 0,05 maka data terdistribusi normal. Selanjutnya data hasil posttest II dibandingkan dengan data posttest I menggunakan program IBM SPSS statistics versi 20 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Data normal
dihitung menggunakan statistik parametrik yaitu Paired samples t-test, dan data terdistribusi tidak normal menggunakan statistik non parametrik yaitu Wilcoxon
61
signed ranks test (Field, 2009: 354). Analisis data menggunakan hipotesis statistik
sebagai berikut:
Hi : Ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I dan posttest II pada
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Hnull : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I dan posttest II
pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan (Priyatno, 2010: 102) adalah sebagai berikut:
1. Jika harga sig. (2-tailed) > 0,05 maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Artinya
tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I dan posttest II pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain, tidak terjadi penurunan/peningkatan skor yang signifikan dari skor posttest I ke posttest II. 2. Jika harga sig. (2-tailed) < 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Artinya
ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I dan posttest II pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan kata lain terjadi penurunan/peningkatan yang signifikan dari posttest I ke posttest II.
Untuk mengetahui persentase penurunan/peningkatan skor posttest I dan posttest
II digunakan rumus sebagai berikut (Gunawan, 2006: 575):
Gambar 3.8 Rumus Persentase Uji Retensi
3.8.2.5Elemen Kualitatif
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yaitu kuasi eksperimental. Meskipun demikian, diperlukan elemen penelitian kualitatif untuk menyingkap penilaian atau persepsi subjek yang terlibat dalam penelitian terhadap proses pembelajaran yang dilakukan (Krathwohl, 2004: 546). Elemen kualitatif yang digunakan yaitu dengan teknik triangulasi. Triangulasi dilakukan untuk mendapatkan data, teknik tersebut yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi.
Teknik observasi yang digunakan yaitu observasi partisipatif. Dalam observasi ini, peneliti terlibat dalam kegiatan pembelajaran yang sedang diamati. Ketika melakukan pengamatan, peneliti juga ikut melakukan apa yang dikerjakan
62 subjek, yaitu peneliti ikut mempersiapkan bahan ajar dan media pembelajaran. Melalui observasi partisipatif ini, data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang tampak (Sugiyono, 2011: 227). Hasil observasi diperoleh dengan membuat catatan aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran baik di kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Peneliti hanya fokus pada kegiatan siswa yang termasuk variabel mengevaluasi dan mencipta.
Wawancara yang dilakukan yaitu wawancara semiterstruktur (semistructure interview). Wawancara ini dilakukan untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, di mana pihak yang diwawancarai diminta pendapat dan ide-idenya (Sugiyono, 2011: 233). Wawancara dilakukan kepada guru kelas VA dan 6 siswa kelas V, yaitu 3 siswa dari kelompok kontrol dan 3 siswa dari kelompok eksperimen. Tiga siswa dari masing-masing kelompok yang akan diwawancarai terdiri dari siswa yang memiliki kemampuan kognitif rendah menengah, dan tinggi.
Dokumentasi adalah catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berupa tulisan, gambar, dan karya monumental dari seseorang (Sugiyono, 2011: 240). Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa hasil pengerjaan soal test, nilai siswa, dan foto-foto kegiatan siswa saat pembelajaran berlangsung. Nilai siswa diperoleh dari hasil pretest, posttest I dan posttest II. Tabel berikut merupakan pedoman wawancara siswa kelompok kontrol, siswa kelompok eksperimen, dan wawancara guru sebelum dan sesudah perlakuan.
Tabel 3.10 Pedoman Wawancara Siswa Kelompok Kontrol
No Wawancara Sebelum Perlakuan
1 Apakah kamu senang belajar IPA? Apa alasanmu?
2 Bagaimana cara guru kelasmu mengajarkan materi IPA selama ini?
3 Apakah guru kelasmu pernah menggunakan media saat belajar IPA? Sebutkan!
4 Apakah kegiatan IPA selama ini berlangsung menarik dan menyenangkan? Apa alasanmu?
5 Materi apa yang paling kamu sukai di pelajaaran IPA? Apa alasanmu?
No Wawancara Setelah Perlakuan
1 Apakah kamu mengalami kesulitan setelah belajar mengenai materi rangkaian listrik? 2 Bagaimana pendapatmu mengenai pembelajaran IPA mengenai listrik?
3 Apakah kamu dapat mengerjakan soal nomor 5 dengan mudah? Apa alasanmu? 4 Apakah kamu dapat mengerjakan soal nomor 6 dengan mudah? Apa alasanmu? 5 Bagaimana pendapatmu mengenai pelaksanaan posttest I?
63 Tabel 3.11 Pedoman Wawancara Siswa Kelompok Eksperimen
No Wawancara Sebelum Perlakuan
1 Apakah kamu senang belajar IPA? Apa alasanmu?
2 Bagaimana cara guru kelasmu mengajarkan materi IPA selama ini?
3 Apakah guru kelasmu pernah menggunakan media saat belajar IPA? Sebutkan!
4 Apakah kegiatan IPA selama ini berlangsung menarik dan menyenangkan? Apa alasanmu?
5 Materi apa yang paling kamu sukai di pelajaaran IPA? Apa alasanmu?
No Wawancara Setelah Perlakuan
1 Apakah dengan menggunakan metode inkuiri/percobaan dapat membantu kamu dalam belajar IPA? Apa alasanmu?
2 Apakah kamu merasa bosan ketika melakukan percobaan membuat rangkaian listrik? Apa alasanmu?
3 Apakah kamu merasa mendapatkan pengetahuan baru dalam membuat rangkaian listrik dengan menggunakan metode inkuiri/percobaan?
4 Bagaimana pendapatmu ketika pembelajaran menggunakan metode inkuiri/percobaan? 5 Apakah kamu dapat mengerjakan soal nomor 5 dengan mudah? Apa alasanmu? 6 Apakah kamu dapat mengerjakan soal nomor 6 dengan mudah? Apa alasanmu? 7 Bagaimana pendapatmu mengenai pelaksanaan posttest I?
8 Bagaimana pendapatmu mengenai pelaksanaan posttest II?
Tabel 3.12 Pedoman Wawancara Guru
No Wawancara Sebelum Perlakuan
1 Metode apakah yang sering Anda gunakan dalam pembelajaran IPA sebelum penerapan metode inkuiri?
2 Bagaimana sikap/respon siswa selama pembelajaran?
3 Apakah Ibu pernah menerapkan atau mengamati pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri?
4 Bagaimana Pendapat Ibu mengenai pembelajaran dengan menerapkan metode inkuiri? 5 Apakah dalam pembelajaran, siswa kelas V tahun ajaran ini pernah melakukan evaluasi
terhadap suatu objek atau permasalahan muatan IPA?
6 Apakah sebelumnya, siswa kelas V tahun ajaran ini pernah membuat suatu produk atau karya muatan IPA?
No Wawancara Setelah Perlakuan
1 Bagaimana pendapat ibu mengenai pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri di kelas eksperimen?
2 Bagaimana pendapat Ibu mengenai pembelajaran di kelas kontrol yang menggunakan metode ceramah?
3 Apa saran Ibu untuk pembelajaran menggunakan metode inkuiri?
4 Menurut Ibu bagaimana kemampuan siswa dalam mengevaluasi kegiatan percobaan maupun produk rangkaian listrik?
5 Bagaimana dengan kemampuan siswa dalam membuat percobaan atau produk rangkaian listrik (mencipta) ?
3.8.3 Pembahasan
Pembahasan dilakukan dengan tujuan untuk melihat seberapa besar efek pengaruh penerapan metode inkuiri terhadap kemampuan mengevaluasi dan
mencipta. Selain itu pembahasan dilakukan untuk melihat apakah hasil penelitian
64 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini akan membahas hasil penelitian dan pembahasan tentang penerapan metode inkuiri terhadap kemampuan mengevaluasi dan mencipta pada mata pelajaran IPA materi listrik.
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Implementasi Penelitian
Peneliti melaksanakan penelitian di dua kelas yaitu kelas VB sebagai kelompok kontrol sedangkan kelas VA sebagai kelompok eksperimen. Pengambilan data dilakukan sebanyak 3 kali. Pengambilan data tersebut berupa
pretest, posttest I dan posttest II. Pembelajaran di kelas kontrol dan kelas
eksperimen dilakukan oleh guru yang sama yaitu guru kelas VA Ibu Temu Sartiwi, S.Pd. yang mengajarkan materi listrik. Guru melakukan pembelajaran di kelas kontrol menggunakan metode ceramah dan tanya jawab, sedangkan di kelas eksperimen guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran yang menerapkan metode inkuiri. Semua kegiatan di kelas eksperimen dilakukan oleh siswa sendiri. Peneliti hanya berperan sebagai observer pembelajaran di kelas kontrol dan kelas eksperimen, serta membantu guru menyiapkan alat dan bahan serta mendokumentasikan kegiatan pebelajaran di kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
4.1.1.1Deskripsi Populasi Penelitian
Kelompok kontrol terdiri dari 36 siswa dengan jumlah siswa laki-laki sebanyak 14 siswa dan siswa perempuan sebanyak 22 siswa. Siswa di kelompok kontrol memiliki bentuk fisik yang normal dan sehat. Berdasarkan informasi dari guru kelas VB, latar belakang ekonomi keluarga siswa di kelompok kontrol termasuk golongan menengah ke bawah. Orang tua siswa dari kelas kontrol 33,33% bekerja sebagai buruh, 41,67% bekerja sebagai karyawan swasta, 11,11% bekerja sebagai wiraswasta, 11,11% bekerja sebagai PNS, dan 2,78% bekerja sebagai pendeta.
65 Berdasarkan wawancara dengan guru kelas VB, siswa kelompok kontrol belum pernah mendapatkan materi listrik sebelumnya. Hasil pretest menunjukkan kemampuan mengevaluasi dan mencipta kelompok kontrol lebih tinggi daripada kelompok eksperimen dengan rerata kemampuan mengevaluasi sebesar 1,30 dan kemampuan mencipta sebesar 1,26. Hasil posttest I dan posttest II kelompok kontrol lebih rendah dibandingkan dengan kelompok eksperimen. Hal tersebut menunjukkan bahwa kemampuan mengevaluasi dan mencipta siswa kelompok kontrol berada di bawah siswa kelas eksperimen. Karakter siswa di kelas VB lebih aktif menjawab pertanyaan guru dan siswa kelompok kontrol senang menulis, apa yang diucapkan guru maka akan dicatat oleh beberapa siswa, walaupun demikian, siswa kelompok kontrol tidak melakukan kegiatan percobaan.
Kelompok eksperimen terdiri dari 36 siswa dengan jumlah siswa perempuan yaitu 14 siswa dan jumlah siswa laki-laki adalah 22 siswa. Semua siswa di kelompok eksperimen memiliki keadaan fisik yang normal dan sehat. Berdasarkan informasi dari guru kelas VA, keadaan ekonomi siswa kelas eksperimen termasuk golongan ekonomi keluarga menengah ke bawah hampir mirip dengan keadaan ekonomi kelompok kontrol. Orangtua siswa kelompok eksperimen 16,67% bekerja sebagai buruh, 30,56% bekerja sebagai karyawan swasta, 30,56% bekerja sebagai wiraswasta dan 22,22% bekerja sebagai PNS.
Berdasarkan wawancara dengan guru kelas VA, siswa kelompok eksperimen belum pernah mendapatkan materi listrik sebelumnya. Hasil pretest menunjukkan kemampuan mengevaluasi dan mencipta kelompok eksperimen lebih rendah daripada kelompok kontrol. Rerata skor kemampuan mengevaluasi kelompok eksperimen yaitu 1,04 sedangkan rerata skor kemampuan mencipta sebesar 1,10. Posttest I dan posttest II menunjukkan bahwa kemampuan
mengevaluasi dan mencipta siswa kelompok eksperimen lebih tinggi daripada
kelompok kontrol. Karakter siswa kelompok eksperimen sangat aktif dan kreatif. Siswa menyusun sendiri rangkaian alat listrik, mulai dari alat dan bahan kemudian mereka rangkai menjadi rangkaian listrik yang diinginkan. Siswa kelas eksperimen aktif dalam melakukan percobaan. Mereka lebih senang melakukan percobaan daripada duduk, menulis dan mendengarkan penjelasan guru. Siswa kelompok eksperimen juga cepat merasa bosan dan malas apabila melaksanakan
66 pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan mencatat saja.
4.1.1.2Deskripsi Implementasi Pembelajaran
Pada penelitian ini, pembelajaran dilaksanakan oleh dua kelompok yaitu kelas VB sebagai kelompok kontrol dan kelas VA sebagai kelompok eksperimen. Penentuan kelompok dilakukan dengan cara diundi. Pembelajaran di kelompok kontrol dan eksperimen dilakukan oleh guru yang sama dengan menerapkan metode ceramah di kelompok kontrol dan menggunakan metode inkuiri (treatment) di kelompok eksperimen.
1. Kelompok Kontrol
Pembelajaran di keplompok kontrol yaitu kelas VB menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Pada kegiatan dilaksanakan dalam 3 bagian yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Pada kegiatan pembelajaran tersebut guru sepenuhnya menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Guru menjelaskan materi mengenai listrik yang terdapat di buku siswa tema 3, subtema 1, pembelajaran 2, kemudian siswa mencatat apa yang telah dijelaskan oleh guru, di akhir pembelajaran guru akan melakukan tanya jawab. Kegiatan evaluasi dilakukan hanya sebatas tanya jawab secara lisan kepada siswa. Guru tidak menyiapkan soal evaluasi tertulis. Guru berperan sebagai subjek karena dalam hal ini gurulah yang aktif menjelaskan sedangkan siswa hanya mencatat dan tidak melakukan aktivitas lain dalam belajar. Kegiatan penelitian di kelas kontrol dilakukan sebanyak 4 pertemuan. Tiga pertemuan untuk pretest, posttest I, dan
posttest II sedangkan 1 pertemuan untuk pembelajaran dengan metode ceramah.
Pertemuan pertama dilaksanakan tanggal 13 Agustus 2015, siswa kelas kontrol mengerjakan soal pretest selama dua jam pelajaran (2 x 35 menit). Selama siswa mengerjakan soal, banyak siswa yang mengeluh karena soal terlalu sulit dan semua siswa di kelas kontrol belum pernah mempelajari materi listrik. Meskipun demikian, semua siswa mampu menyelesaikan soal dengan baik dan tepat waktu. Mereka mengerjakan sesuai pengetahuan yang telah mereka miliki.
67 Pertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 14 September 2015. Pertemuan ini dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah. Guru menyampaikan materi pelajaran mengenai listrik selama 7 jam pelajaran (7 x 35 menit). Kegiatan apersepsi diawali dengan tanya jawab bersama siswa. Kemudian, guru menjelaskan materi listrik dengan metode ceramah, tanpa menggunakan media pembelajaran maupun praktik percobaan. Guru menjelaskan secara hati-hati kemudian siswa mencatat materi yang dijelaskan oleh guru. Setelah selesai menjelaskan materi pembelajaran, guru mengajukan beberapa pertanyaan, kemudian siswa menjawab pertanyaan yang diajukan guru secara lisan. Pada akhir kegiatan, siswa dan guru membuat kesimpulan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran dengan melakukan test secara lisan. Pembelajaran diakhiri dengan doa dan salam penutup dari guru.
Pertemuan ketiga dilaksanaan pada tanggal 15 September 2015. Siswa mengerjakan soal posttest I selama 2 jam pelajaran. Siswa dapat mengerjakan soal dengan baik karena mereka sudah mendapatkan materi pembelajaran listrik dengan metode ceramah. Siswa sudah tidak mengeluh lagi, meskipun demikian dilihat dari jawaban siswa, banyak siswa yang masih belum paham jawaban dari soal yang diberikan.
Pertemuan keempat dilaksanakan pada tanggal 29 September 2015, siswa mengerjakan posttest II selama 2 jam pelajaran. Ketika siswa mendapatkan soal yang sama lagi, banyak siswa yang mengeluh dan malas untuk mengerjakan soal tersebut. Siswa juga mengeluh karena sudah lupa dengan materi listrik. Walaupun demikian, semua siswa dapat mengerjakan dan mengumpulkan jawaban tepat waktu.
2. Kelompok Eksperimen
Pembelajaran di kelompok eksperimen dilakukan di kelas VA dengan menggunakan metode inkuiri. Kegiatan dilaksanakan dalam 3 bagian yaitu kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir. Dalam kegiatan pembelajaran tersebut guru sepenuhnya menggunakan metode inkuiri dan siswa menjadi subjek pembelajaran. Siswa mempelajari materi mengenai listrik yang terdapat di buku siswa tema 3, subtema 1, pembelajaran 2, siswa melakukan percobaan rangkaian
68 listrik seri dan rangkaian listrik paralel. Guru membebaskan siswa untuk menggali kemampuan dan kreativitas siswa. Siswa secara berkelompok menyusun rangkaian listrik dengan cara mereka sendiri. Kegiatan evaluasi dilakukan dengan memberikan LKS kepada siswa di akhir pembelajaran. Guru berperan sebagai fasilitator karena dalam hal ini guru hanya sebagai pendamping dalam kegiatan belajar siswa. Siswa lebih aktif menggali pengetahuan melalui percobaan. Kegiatan penelitian di kelas eksperimen dilakukan sebanyak 5 pertemuan. Tiga pertemuan untuk pretest, posttest I, dan posttest II sedangkan dua pertemuan untuk pembelajaran dengan metode inkuiri.
Pertemuan pertama dilaksanakan tanggal 13 Agustus 2015, siswa kelas eksperimen mengerjakan soal pretest selama dua jam pelajaran (2 x 35 menit). Selama siswa mengerjakan soal, sama halnya dengan siswa kelompok kontrol, siswa kelompok eksperimen banyak yang mengeluh karena soal terlalu sulit dan semua siswa di kelas eksperimen belum pernah mempelajari materi listrik. Walaupun demikian, semua siswa mampu menyelesaikan soal dengan tepat waktu. Mereka mengerjakan sesuai pengetahuan yang telah mereka miliki.
Pertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 16 September 2015. Pertemuan ini dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri dengan materi sumber-sumber energi listrik dan rangkaian listrik seri. Guru menyampaikan materi pelajaran mengenai listrik selama 8 jam pelajaran (8 x 35 menit). Kegiatan apersepsi diawali dengan salah satu siswa praktik mematikan dan menyalakan lampu dengan menekan saklar. Kemudian guru mengaitkan kegiatan tersebut dengan materi pembelajaran yang akan dipelajari siswa.
Guru dan siswa melakukan tanya jawab mengenai materi rangkaian listrik seri dan sumber-sumber listrik. Guru menekankan pertanyaan dengan menggunakan kata tanya mengapa dan bagaimana. Contohnya, “Mengapa lampu
tersebut menyala apabila saklar ditekan disambungkan ?”. Siswa menjawab pertanyaan sesuai pengetahuan awal yang mereka miliki mengenai materi listrik.
Siswa diminta untuk mempelajari materi di buku siswa tema 3, subtema 1, pembelajaran 2. Siswa melakukan praktik percobaan rangkaian listrik seri secara berkelompok. Siswa menemukan sendiri cara menyusun rangkaian listrik seri dengan bimbingan dari guru. Setelah semua kelompok selesai menyusun
69 rangkaian listrik, kemudian siswa mempresentasikan hasil percobaan rangkaian listrik seri di depan kelas. Siswa menjelaskan alat dan bahan percobaan serta menjelaskan langkah percobaan rangkaian listrik seri. Setelah kegiatan percobaan dan presentasi, siswa menyaksikan video-video pembelajaran mengenai rangkaian listrik dan sumber-sumber energi listrik. Pada akhir kegiatan, siswa dan guru membuat kesimpulan pembelajaran, guru memberikan penguatan mengenai cara membuat rumusan masalah, hipotesis, alat dan bahan percobaan serta langkah- langkah percobaan. Rumusan masalah yang digunakan oleh guru mengacu pada pembelajaran menggunakan Kurikulum 2013, yang lebih menekankan pada kata
tanya “mengapa” dan “bagaimana”, tetapi guru juga memperbolehkan siswa
menggunakan kata tanya apakah, misalnya “Apakah yang terjadi apabila salah
satu lampu di rangkaian listrik padam?”. Siswa dibimbing untuk menjawab rumusan masalah yang sudah dibuat sesuai dengan pengetahuannya.
Kemampuan siswa lebih dioptimalkan pada kemampuan mencipta dalam membuat laporan percobaan. Setelah kegiatan percobaan, siswa menyaksikan video pembelajaran mengenai listrik. Guru dan siswa juga melakukan tanya jawab mengenai sumber-sumber energi listrik. Evaluasi pembelajaran dilakukan dengan mengerjakan soal LKS. Pembelajaran diakhiri dengan berdoa kemudian menyanyikan lagu wajib nasional, dan salam penutup.