• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS LINGKUNGAN PERUSAHAAN

6.2. Analisis Lingkungan Eksternal

 

ahli dalam mengelola badan litbang. Namun disamping itu, faktor keterbatasan modal juga menjadi penyebab utama sebuah perusahaan tidak memiliki bidang ini.

Saat ini Tyas Orchid termasuk salah satu perusahaan tanaman hias berskala kecil menengah yang tidak memiliki bidang litbang. Hal ini karena usaha yang masih berskala kecil sampai menegah hanya berorientasinya terbatas pada bagaimana modal yang digunakan untuk menjalankan usaha dapat kembali dan memperoleh keuntungan dari penjualan produknya. Ketiadaan bidang penelitian dan pengembangan (litbang) dalam perusahaan merupakan kelemahan bagi Tyas Orchid.

6.2. Analisis Lingkungan Eksternal

Lingkungan eksternal merupakan situasi dan kondisi yang berada di luar perusahaan yang secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi kinerja perusahaan. Lingkungan eksternal terdiri dari lingkungan makro dan lingkungan mikro. Lingkungan eksternal bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang menjadi peluang dan ancaman bagi usaha Tyas Orchid.

6. 2. 1. Lingkungan Makro

Lingkungan makro perusahaan terdiri dari faktor-faktor yang bersumber dari luar dan biasanya tidak berhubungan dengan situasi operasional suatu perusahaan tertentu. Faktor-faktor utama yang dianalisis dalam lingkungan makro yaitu faktor politik, ekonomi, sosial dan faktor teknologi. Selain faktor-faktor tersebut yang menjadi faktor eksternal faktor alam juga merupakan salah satu faktor eksternal yang dapat mempengaruhi strategi yang akan ditetapkan oleh perusahaan. Berikut ini merupakan penjelasan mengenai lingkungan makro, yaitu: 1) Politik

Stabilitas politik dan keamanan merupakan aspek penting yang mempengaruhi iklim usaha disuatu negara. Keadaan politik dan keamanan yang tidak stabil akan memberikan dampak negatif terhadap keberlangsungan suatu usaha karena para pelaku usaha merasa tidak nyaman terhadap usaha yang dijalankannya. Kondisi ini juga berlaku sebaliknya. Oleh karena itu, pemerintah sebagai pengambil kebijakan harus mempertimbangkan secara

hati-hati terhadap setiap keputusan yang diambilnya. Berikut ini merupakan beberapa kebijakan pemerintah yang memiliki pengaruh terhadap perkembangan usaha tanaman hias :

a) Adanya Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2007 Pasal 2 ayat 1 tentang penghapusan PPN impor barang modal yang termasuk didalamnya bibit dan benih tanaman hias merupakan ancaman bagi usaha tanaman hias. Dengan adanya peraturan ini mengakibatkan harga bibit dan benih tanaman hias impor yang lebih murah. Hal ini menyebabkan membanjirnya produk-produk tanaman hias impor di Indonesia sehingga harga pasar dalam negeri menjadi jatuh.

b) Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2007 Pasal 8 ayat 3 yang menyatakan bahwa penerbitan Surat Izin Usaha Perdagangan dilakukan dengan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP). PTSP dibentuk oleh pemerintah guna menghindari pungutan-pungutan liar yang tidak resmi. Dengan adanya PTSP ini diharapkan pengurusan SIUP dapat lebih mudah.

2) Ekonomi

Pada umumnya kondisi ekonomi memiliki pengaruh secara tidak langsung terhadap perkembangan suatu pelaku usaha yang terdapat pada suatu daerah tertentu. Jika kondisi ekonomi cenderung stabil bahkan menunjukkan pertumbuhan ke arah positif maka kondisi tersebut dapat mendukung kelancaran usaha yang berkembang di suatu daerah tertentu dan dapat pula mendorong tumbuhnya kelompok-kelompok usaha yang baru. Akan tetapi, jika perekonomian cenderung menunjukkan ke arah negatif maka dapat terjadi sebaliknya, dimana kondisi ini dapat menghambat kelancaran suatu usaha bahkan dapat melumpuhkan kelompok usaha tertentu. Adapun beberapa faktor yang berkaitan dengan kondisi ekonomi suatu daerah, antara lain :

a) Pertumbuhan Sektor Ekonomi

Kondisi perkonomian kota Bogor dapat dilihat dengan menggunakan indikator Produk Domestik Regional atas dasar harga konstan. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada

67   

tahun tertentu sebagai dasar, dimana dalam perhitungan ini digunakan harga tahun 2000. Berikut ini merupakan Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan Kota Bogor pada tahun 2004 sampai tahun 2008 (Tabel 15)

Tabel 15. Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan Kota Bogor pada Tahun 2004 – 2008 ( Jutaan Rupiah )

Tahun Nilai PDRB atas Dasar Harga Konstan

2004 3.361.438,93 2005 3.567.230,91 2006 3.782.273,71

2007* 4.012.743,17

2008** 4.252.821,78

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Bogor (2009) *

) Angka Perbaikan **

) Angka Sementara

Berdasarkan Tabel 15 dapat diketahui bahwa nilai PDRB atas dasar harga konstan yang dihasilkan oleh kota Bogor mengalami peningkatan dari tahun ke tahun sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa keadaan perekonomian di kota Bogor pada tahun 2008 semakin baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

b) Pengeluaran Rumah Tangga

Pengeluaran rumah tangga adalah rata-rata biaya yang dikeluarkan rumah tangga untuk konsumsi rumah tangga. Konsumsi rumah tangga dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu konsumsi makanan dan komsumsi non makanan (perumahan, pakaian, pendidikan, kesehatan, pajak, asuransi, dan lain-lain). Persentase pengeluaran makanan dan non makanan ini dapat digunakan sebagai salah satu indikator tingkat kesejahteraan penduduk. Hal ini dapat dilihat dari distribusi pengeluaran menurut kelompok pendapatan. Berikut ini merupakan data tentang pengeluaran rat-rata penduduk Kota Bogor per kapita sebulan (Tabel 17)

Tabel 16. Pengeluaran Rata-Rata Penduduk Kota Bogor per Kapita Sebulan pada Tahun 2004 – 2007

Tahun

Pengeluaran Rata-rata per Kapita Sebulan untuk

Kelompok Makanan (Rp)

Pengeluaran Rata-rata per Kapita Sebulan untuk Kelompok non Makanan

(Rp)

2004 203.033 161.345

2005 176.518 181.098

2006 202.248 250.390

2007 249.624 412.983

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Bogor (2010)

Berdasarkan Tabel 16 terlihat bahwa selama kurun waktu lima tahun terakhir sebagian besar pengeluaran penduduk kota Bogor relatif lebih banyak digunakan untuk kebutuhan non/bukan makanan daripada kebutuhan makanan. Besarnya pengeluaran kebutuhan non/bukan makanan menunjukkan bahwa masyarakat kota Bogor telah dapat memenuhi kebutuhan akan makanannya sehingga setelah mereka dapat memenuhi kebutuhan pokoknya maka masyarakat Kota Bogor menghabiskan sebagian pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan non/bukan makanan. Produk-produk yang dihasilkan Tyas Orchid merupakan salah satu dari berbagai macam produk non/bukan makanan. Oleh karena itu, kondisi ini dapat menjadi peluang bagi kelompok usaha produk non/bukan makanan untuk mengembangkan usahanya.

c) Ketersediaan Kredit secara Umum

Masalah keterbatasan modal sering dihadapi oleh para pelaku usaha kecil menengah dalam mengembangkan usahanya. Untuk mengatasi masalah permodalan bagi pelaku usaha telah dilakukan beberapa upaya oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah yang berkerjasama dengan lembaga keuangan, diantaranya skim kredit yang ditawarkan oleh BRI (Bank Rakyat Indonesia) melalui program KUR (Kredit Usaha Rakyat). Kerjasama tersebut dapat menjadi peluang bagi banyak usaha kecil dan menengah dalam hal pembiayaan untuk pengembangan usaha.

3) Sosial, Budaya, Demografi dan lingkungan

Faktor alam berkaitan erat dengan kegiatan produksi agribisnis tanaman hias. Tyas Orchid perlu mengantisipasi ancaman maupun peluang yang mungkin

69   

timbul dan kecenderungan lingkungan alam. Sebagai ancaman yang dihadapi perusahaan, kecenderungan perubahan lingkungan mempengaruhi kualitas produk perusahaan. Adanya perubahan suhu yang tidak stabil sebagai contoh pergantian antara musim hujan dan musim panas yang berlangsung dengan cepat. Perubahan faktor lingkungan yang kurang stabil akibat perubahan cuaca yang berlangsung cepat seperti perubahan suhu, kelembapan dan intensitas cahaya mempengaruhi kualitas tanaman. Hal ini menyebabkan beberapa tanaman mengalami pertumbuhan yang kurang bagus yang pada akhirnya akan mempengaruhi segi kualitas tanaman yang dihasilkan perusahaan. Hal ini menjadi ancaman bagi perusahaan, sehingga dibutuhkan perhatian yang serius untuk mampu menjaga kualitas produk yang telah ada. Ancaman lain yang harus diantisipasi pihak perusahaan adalah tren pasar yang mengalami perubahan pasar sangat cepat. Tren tanaman hias adalah sesuatu yang sangat sulit untuk diperkirakan. Tren tanaman pada tahun 2004 yaitu aglonema tergeser oleh tren tanaman anthurium pada tahun 2006. Hingga saat ini belum ada lagi tren tanaman hias yang fenomenal seperti kedua jenis tanaman hias tersebut. Keberadaan jenis tanaman baru yang mulai menjadi tren akan berdampak pada penjualan tanaman hias yang menjadi tren sebelumnya juga akan menurunkan penjualan tanaman hias lainnya

4) Teknologi

Perkembangan teknologi yang sangat cepat dapat memberikan kemudahan-kemudahan bagi siapa saja termasuk para pelaku usaha dalam upaya mengembangkan bisnisnya. Kemudahan-kemudahan tersebut dapat dilihat dari dua aspek yaitu aspek produksi dan aspek pemasaran.

Dalam aspek produksi, perkembangan teknologi dibidang tanaman hias dilihat dari banyaknya teknologi-teknologi yang ditemukan dalam memperbanyak tanaman hias misalnya teknik kultur jaringan. Perbanyakan tanaman hias dengan teknologi ini dapat menghasilkan tanaman hias dengan kualitas unggul dan memiliki nilai estetika yang cukup tinggi. Namun teknik ini tidak dapat dilakukan oleh ahli yang tidak berpengalaman dibidang tanaman hias. Selain itu teknik ini harus dilakukan dengan alat-alat dan prasarana yang memadai. Saat ini Tyas Orchid hanya melakukan perbanyakan tanaman hias dengan cara

sederhana yaitu dengan memanfaatkan bagian tanaman berupa akar, batang maupun biji. Selain itu perusahaan dalam melakukan penyiraman tanaman masih menggunakan selang air dan tidak menggunakan sprayer. Teknologi yang digunakan Tyas Orchid masih sederhana dalam melakukan proses produksi.

Perkembangan teknologi tidak hanya terjadi pada aspek produksi saja melainkan juga pada aspek pemasaran. Hal ini karena adanya perkembangan teknologi dibidang telekomunikasi dan transportasi. Dengan adanya perkembangan teknologi dibidang telekomunikasi seperti telepon atau

handphone maka mempermudah komunikasi antara perusahaan dengan

pelanggan ketika melakukan pemesanan produk. Selain itu saat ini telah banyak perusahaan tanaman hias telah memasarkan produknya melalui

website. Namun hal ini belum dilakukan oleh Tyas Orchid dikarenakan

keterbatasan tenaga kerja pemasaran.

6. 2. 2. Lingkungan Mikro

Lingkungan mikro adalah yang langsung terkait dengan perusahaan dan langsung mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk melayani pasarnya yaitu pemasok, perantara pasar, pelanggan dan pesaing. Analisis lingkungan mikro dilakukan berdasarkan konsep Competitive Strategy Porter’s. Lima kekuatan bersaing ini terdiri dari ancaman pendatang baru, ancaman produk pengganti, kekuatan tawar menawar pembeli, kekuatan tawar menawar pemasok dan persaingan antar perusahaan industri.

1) Ancaman Pendatang Baru

Keberadaan suatu industri pasti tidak akan terlepas dari ancaman masuknya pendatang baru, sehingga masuknya perusahaan pendatang baru dapat berimplikasi terhadap perusahaan yang telah ada, misalnya perebutan pasar atau perebutan sumber daya produksi. Akan tetapi ancaman masuknya perusahaan pendatang baru tergantung dari hambatan masuk dan kemampuan para pendatang baru tersebut dalam merespon hambatan masuk yang ada. Menurut Porter (1997), terdapat enam faktor hambatan masuk bagi pendatang

71   

baru ke dalam suatu industri yaitu skala ekonomis, diferensiasi produk, kebutuhan modal, biaya peralihan pemasok, akses ke saluran distribusi dan biaya tidak menguntungkan terlepas dari skala.

a) Skala ekonomis

Pendatang baru dalam usaha tanaman hias masuk dengan skala ekonomis yang beragam. Pendatang baru datang dengan skala ekonomis yang lebih besar, lebih kecil bahkan sama dengan pesaing. Pendatang baru yang masuk dengan skala ekonomis yang lebih besar tentu memiliki target konsumen yang lebih banyak. Namun resiko yang dihadapi juga lebih tinggi bagi pesaing yang masuk dengan skala ekonomis yang lebih besar. Pesaing yang memasuki usaha dengan skala ekonomis yang lebih kecil mungkin akan mengalami beban biaya yang tidak efisien. Ancaman akan datang lebih besar dari pesaing yang masuk usaha tersebut dengan skala ekonomis yang sama. Saat ini Tyas Orchid memiliki cukup banyak pesaing yang berada di sekitar daerah Kota Bogor. Perusahaan-perusahaan tersebut memiliki skala ekonomis yang beragam dan menghasilkan beragam produk tanaman hias.

b) Diferensiasi produk

Pada umumnya produk yang dihasilkan oleh perusahaan tanaman hias hampir sama secara fisik. Perbedaan yang terjadi antara perusahaan tanaman hias dapat dilihat dari mutu produk termasuk kualitas produk, variasi jenis, bentuk, warna dan ukuran, harga jual produk serta pelayananan perusahaan terhadap pembeli. Pelayanan yang baik terhadap konsumen dalam usaha tanaman hias merupakan bagian dalam menghasilkan produk. Selama menjalankan usahanya, memberikan pelayanan yang memuaskan kepada konsumen merupakan keharusan dalam kegiatan Tyas Orchid. Perusahaan tidak hanya berorientasi keuntungan namun orientasi perusahaan juga mengarah kepada kepuasan kepada konsumennya.

c) Kebutuhan modal

Permodalan yang dibutuhkan dalam usaha tanaman hias tidak terlalu besar. Pesaing baru dapat memasuki usaha ini dengan modal kecil terlebih

dahulu. Kebutuhan modal yang relatif kecil tersebut menjadi pedorong bagi pendatang baru untuk memasuki usaha tersebut dengan menggunakan modal yang sepenuhnya milik sendiri. Hal ini menegaskan bahwa modal yang terbatas tidak menjadi penghalang dalam memasuki usaha tanaman hias. Kondisi ini terlihat dari banyaknya perusahaan hias yang berdiri berawal dari kesukaan pemiliknya mengkoleksi tanaman hias.

d) Biaya peralihan pemasok

Konsumen yang ingin berpindah dari Tyas Orchid ke perusahaan pesaing tidak memiliki hambatan yang besar. Tidak terdapat biaya pengalihan yang besar bagi konsumen yang berpindah kepada pesaing. Kemudahan konsumen untuk berpindah kepada pesaing menjadi ancaman yang cukup besar bagi perusahaan dan untuk mengatasi hal tersebut pihak perusahaan harus membangun dan menanamkan loyalitas pada konsumennya.

e) Akses ke saluran distribusi

Pada industri tertentu, perusahaan-perusahaan yang telah mapan biasanya telah memiliki saluran distribusi sendiri untuk pemasaran produknya sehingga perusahaan pendatang baru mungkin sulit memasuki saluran yang ada dan harus mengeluarkan biaya yang besar untuk membangun saluran sendiri. Distribusi produk pada tanaman hias pada umumnya merupakan distribusi langsung dimana konsumen mendatangi perusahaan untuk mendapatkan produk maupun perusahaan datang menawarkan produk kepada konsumennya. Pemesanan produk dapat dilakukan melalui telepon langsung kepada pemilik perusahaan. Saat ini Tyas Orchid belum memiliki armada pengangkutan sendiri. Namun berdasarkan wawancara dengan pemilik Tyas Orchid, hal tersebut tidak menjadi masalah karena Tyas Orchid dapat menggunakan jasa penyewaan mobil pick up untuk mengantarkan tanaman hias ke konsumen dan jasa penyewaan mobil pick

up tersebut mudah untuk didapatkan.

f) Biaya tidak menguntungkan terlepas dari skala

Perusahaan tanaman hias yang telah mapan mungkin mempunyai keunggulan biaya yang tidak dapat ditiru oleh perusahaan pendatang baru yang akan masuk ke dalam bisnis tanaman hias, misalnya dalam hal

73   

pengalaman, teknologi penguasaan terhadap sumber daya produksi, atau lokasi yang menguntungkan. Meskipun demikian, para pendatang baru masih berpotensi untuk masuk ke dalam bisnis tanaman hias karena bahan baku maupun peralatan yang digunakan untuk memulai bisnis tanaman hias cukup banyak tersedia.

2) Produk Pengganti (subsitusi)

Faktor-faktor penyebab meningkatnya permintaan tanaman hias antara lain meningkatkan kesejahteraan masyarakat, meningkatnya jumlah penduduk, berkembangnya industri pariwisata dan perkembangan pembangunan perkotaan yang memerlukan tanaman hias. Sampai saat ini berbagai jenis tanaman hias telah dinikmati oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Fungsi tanaman hias telah berkembang yang mulanya hanya sebagai hiasan namun saat ini telah memiliki banyak fungsi seperti penghargaan, penghormatan dan sebagai penyaring udara kotor secara alami (polusi). Fungsi tanaman hias yang demikian berkembang tidak dapat digantikan oleh produk manapun.

3) Kekuatan Tawar-Menawar Pembeli

Kekuatan tawar-menawar pembeli atau konsumen dikatakan cukup kuat jika konsumen terkosentrasi atau besar jumlahnya, kosumen membeli dalam jumlah banyak, produk yang dibeli standar atau tidak terdiferensiasi dan pembeli menghadapi biaya perlaihan yang kecil. Untuk konsumen Tyas Orchid dapat dikatakan memiliki kekuatan tawar-menawar yang cukup kuat dan kondisi ini dapat menjadi ancaman bagi Tyas Orchid. Hal ini dikarenakan pembeli atau konsumen Tyas Orchid memiliki alternatif pilihan yang sangat beragam sehingga pembeli dapat memilih produk mana yang terbaik dengan harga yang relatif murah. Hal ini disebabkan banyaknya perusahaan pesaing yang ada di Kota Bogor, dimana masing-masing perusahaan menawarkan produk tanaman hias dengan kualitas dan mutu baik dan harga jual produk yang bervariasi. Selanjutnya pembeli juga menghadapi biaya peralihan yang relatif kecil karena pembeli dapat dengan mudahnya berpindah dari suatu perusahaan tanaman hias ke perusahaan tanaman hias yang lain dan pembeli juga memiliki informasi yang lengkap tentang pasar karena pembeli mengetahui lokasi produksi, produk-produk yang dihasilkan dan harga jual

produk dari masing-masing perusahaan tanaman hias. Meskipun saat ini Tyas Orchid memiliki beberapa langganan tetap akan tetapi Tyas Orchid harus tetap waspada terhadap kondisi seperti ini dimana pembeli memiliki kekuatan tawar-menawar yang cukup kuat terhadap produk tanaman hias. Oleh karena itu, diferensiasi produk mungkin dapat menjadi alternatif perusahaan dalam memenuhi kebutuhan pelanggannya sehingga Tyas Orchid mampu menciptakan kesetiaan pelanggan atau loyalitas pembeli terhadap produk-produk yang dihasilkan Tyas Orchid.

4) Kekuatan Tawar-Menawar Pemasok

Kekuatan tawar menawar pemasok dapat mempengaruhi intensitas persaingan dalam suatu bisnis ketika terdapat sejumlah pemasok tetapi hanya sedikit barang subsitusi yang cukup bagus dan biaya untuk mengganti bahan baku sangat tinggi. Bagi Tyas Orchid, keberadaan pemasok bahan baku seperti bibit, pupuk, media tanam dan pestisida memiliki peranan yang sangat penting terhadap keberlangsungan proses produksi. Oleh karena itu, guna menjaga kontinuitas persediaan bahan bakunya, Tyas Orchid tidak hanya terikat dengan satu pemasok saja. Saat ini Tyas Orchid telah memiliki beberapa pemasok untuk masing-masing bahan baku. Pada umumnya para pemasok tersebut berada disekitar wilayah kota Bogor sehingga Tyas Orchid tidak menghadapi biaya peralihan yang tinggi pada saat berganti pemasok jika seandainya salah satu pemasok tidak mampu mencukupi kebutuhan bahan baku pada Tyas Orchid atau jika bahan baku yang dibeli tersebut kurang memenuhi standar baik dari segi harga, kualitas, maupun kuantitas. Berdasarkan penjelasan diatas, kekuatan tawar-menawar pemasok terhadap Tyas Orchid dapat dikatakan tidak terlalu kuat, karena Tyas Orchid tidak terlalu sulit untuk berganti dari satu pemasok ke pemasok yang lain.

5) Persaingan antar Perusahaan Sejenis

Faktor-faktor yang mempengaruhi daya saing suatu usaha maupun produk antara lain adalah harga, mutu, kemudahan akses terhadap sumberdaya yang ada dan keunggulan komparatif yang dimiliki. Tyas Orchid harus mengetahui siapa yang menjadi pesaing dalam memasarkan produknya. Pesaing adalah perusahaan lain yang menawarkan produk yang sama dengan produk

75   

perusahaan dan pasti setiap perusahaan menghadapi sejumlah pesaing. Menilai posisi bersaing dapat meningkatkan kesempatan Tyas Orchid untuk merancang strategi yang mengoptimalkan peluang yang muncul dari lingkungan. Kriteria yang digunakan dalam menyususn profil pesaing ditentukan oleh faktor-faktor situasional seperti kualitas produk, citra perusahaan dan lain sebagainya.

Perkembangan bisnis tanaman hias di Kota Bogor beberapa tahun terakhir ini mengalami peningkatan. Data Dinas Pertanian Kota Bogor terdapat 11 perusahaan dibidang tanaman hias. Oleh sebab itu, untuk menghadapi persaingan didalam lingkungan usaha yang semakin kompetitif maka Tyas Orchid harus dapat menonjolkan keunggulan produknya dibandingkan dengan produk pesaing.

BAB VII