B. Analisis SWOT
2) Analisis Lingkungan Eksternal
2) Analisis Lingkungan Eksternal
Lingkungan eksternal meliputi variabel-variabel diluar organisasi yang dapat berupa tekanan umum dan tren di dalam lingkungan sosial ataupun faktor- faktor spesifik yang beroperasi di dalam lingkungan kerja organisasi.
Variabel- variabel eksternal ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu ancaman (threats)dan peluang (opportunities), yang keduanya memerlukan pengendalian jangka panjang dari manajemen puncak organisasi.
Berdasarkan hasil analisa diketahui yang faktor lingkungan eksternal adalah sebagai berikut:
a. Faktor peluang(opportunity)
1. Adanya kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berdasarkan PP. No. 6 Tahun 2007 Jo. PP. No. 3 Tahun 2008 yang berisi tentang pengelolaan KPH
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan disebutkan bahwa Perencanaan Hutan meliputi : inventarisasi hutan, pengukuhan kawasan hutan, penatagunaan kawasan hutan, pembentukan wilayah pengelolaan hutan, dan penyusunan rencana kehutanan. Posisi KPH termasuk dalam pembentukan wilayah pengelolaan hutan. Hingga saat ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sudah memfasilitasi pembentukan KPH sebanyak 120 KPH di seluruh Indonesia dan untuk tahun 2015 ini ditambah sebanyak 140 KPH.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 jo. PP Nomor 3 tahun 2008 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan serta Pemanfaatan Hutan dijelaskan bahwa Kesatuan Pengelolaan Hutan selanjutnya disingkat KPH adalah wilayah unit terkecil pengelolaan hutan sesuai fungsi pokok dan peruntukannya, yang dapat dikelola secara efisien dan lestari.
Kebijakan adanya KPH tersebut merupakan peluang bagi daerah utuk mengelola hutan sesuai fungsinya di tingkat tapak, sehingga degradasi hutan dan lahan dapat dikurangi dan hutan dapat dikembalikan sesuai dengan fungsinya dengan pengelolaan hutan berbasis masyarakat.
RPHJP KPHL Gunung Balak Tahun 2016 – 2025 44
2. Sebagai cathment area bendungan Way Jepara dan sebagai penangkis abrasi air laut pada hutan mangrove pantai timur
Dengan pengelolaan hutan yang baik maka fungsi Hutan Lindung sebagai cathment area bendungan Way Jepara dan sebagai penangkis abrasi air laut pada hutan mangrove pantai timur akan optimal.
3. Adanya prioritas program rehabilitasi pada DAS Prioritas, yaitu DAS Way Sekampung
Wilayah KPHL Unit XV Gunung Balak termasuk dalam DAS Way Sekampung dan merupakan DAS prioritas dalam upaya rehabilitasi hutan dan lahan di Provinsi Lampung. Artinya, akan banyak program kegiatan yang akan dilaksanakan pada wilayah kelola KPHL Unit XV Gunung Balak.
4. Adanya potensi kerjasama dengan para pihak untuk operasionalisasi dalam rangka kemandirian KPH, misalnya pengembangan HHBK dan Jasa Lingkungan.
Para Pihak yang diharapkan akan melakukan kerjasama dengan KPHL Unit XV Gunung Balak adalah dari:
- Unsur Pemerintah yaitu Pemerintah Daerah Kabupaten/Provinsi, Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH), Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS), Balai Pembibitan Tanaman Hutan (BPTH), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Polri dan instansi terkait lainnya.
- Unsur Perguruan Tinggi
- Unsur Swasta / Masyarakat yaitu Kelompok Tani di dalam / sekitar kawasan hutan, NGO, Lembaga lain yang mendukung pembangunan KPH.
b. Faktor ancaman (threats)
1. Belum mantapnya wilayah kerja KPH
Wilayah kerja KPH yang belum tertata dengan baik akan menimbulkan permasalahan baru apabila tidak ditangani secara komprehensip. Penataan Batas pada Blok dan Petak harus dilakukan secepatnya agar wilayah kerja pada KPH dapat dikelola dengan sebaik-baiknya.
RPHJP KPHL Gunung Balak Tahun 2016 – 2025 45
2. Tingginya Gangguan Hutan
Gangguan hutan yang terjadi pada saat ini adalah banyaknya perambahan, atau pun okupasi lahan. Adanya pemukiman di dalam kawasan hutan merupakan ancaman serius dalam pengelolaan hutan lindung di KPHL Unit XV Gunung Balak.
3. Adanya Konflik dalam pengelolaan Kawasan Hutan
Tingginya ganguan hutan di dalam kawasan KPHL Unit XV Gunung Balak berpotensi menimbulkan konflik pengelolaan. Konflik merupakan situasi karena adanya perbedaan nilai atau norma dalam masyarakat, misalnya konflik yang terjadi di KPHL Unit XV Gunung Balak adalah antara petugas kehutanan dengan perangkat desa di dalam kawasan hutan yaitu dalam hal pengajuan rekomendasi pembangunan fasilitas umum seperti sekolah dan jaringan listrik, selama ini pihak kehutanan tidak pernah memberikan rekomendasi atau mengijinkan pembangunan fasilitas umum tersebut karena tidak mempunyai dasar hukum, tetapi pada kenyataannya fasilitas umum tersebut tetap dibangun karena sudah mendapat persetujuan dari pemerintah setempat. Ada anggapan bahwa kehutanan tidak mendukung pembangunan, dalam hal ini posisi kehutanan seolah-olah menjadi penghambat dalam pembangunan, tetapi kita tetap berpegang teguh terhadap aturan-aturan yang ada.
Dalam banyak kasus konflik bisa diselesaikan dengan jalan mengintensifkan komunikasi dan kolaborasi antara pengelola KPHL dan para pihak yang berkepentingan. Akan tetapi konflik bisa mengarah kepada hal-hal yang sifat destruktif misalnya perusakan kawasan hutan.
Ketidakjelasan hak dalam pengelolaan KPHL merupakan salah satu pemicu terjadinya konflik pengelolaan hutan.
4. Tingginya Degradasi Sumber Daya Hutan
Menurunnya kualitas sumber daya hutan pada areal KPHL Unit XV Gunung Balak memicu menurunnya produktivitas lahan. Hal ini terjadi karena masyarakat di sekitar kawasan hutan bermata pencaharian mengambil hasil hutan dari dalam kawasan hutan KPHL Gunung Balak sehingga ketergantungan masyarakat terhadap hutan masih sangat tinggi.
RPHJP KPHL Gunung Balak Tahun 2016 – 2025 46
5. Rendahnya pendidikan dan taraf hidup masyarakat di dalam / sekitar kawasan hutan (± 46 % pendidikannya hanya sampai tingkat Sekolah Dasar)
Sarana pendidikan masyarakat lokal di sekitar KPHL Unit XV Gunung Balak, umumnya hanya ada pada tingkat Sekolah Dasar (SD) saja dan ini pun tidak terdapat di setiap desa. Untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya masyarakat harus keluar dari desa dan biasanya hanya terdapat di ibukota kecamatan. Hal ini cukup sulit untuk dilaksanakan terkait dengan biaya pendidikan yang cukup tinggi bagi masyarakat setempat. Rendahnya taraf pendidikan juga ikut menyumbang dan sangat berpengaruh kepada pemahaman dan persepsi masyarakat terhadap KPH, disamping kurangnya penyuluhan untuk masyarakat.
Rendahnya tingkat pendidikan berkolerasi kepada taraf hidup masyarakat sekitar kawasan, sehingga dapat menjadi ancaman terhadap kelestarian dan upaya-upaya pelestarian KPH. Taraf hidup dan tingkat pendapatan rendah (rata-rata < Rp. 1 Juta per bulan) berakibat pada tingkat ketergantungan dan ancaman terhadap hutan menjadi tinggi.
Untuk menyusun perencanaan strategis masa depan, dilakukan kombinasi diantara dua faktor sehingga menghasilkan empat macam strategi sebagai berikut:
1. Strategi Strength Opportunity (SO) yaitu strategi dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya.
2. Strategi Strength Threat (ST) adalah strategi dengan menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi ancaman.
3. Strategi Weakness Opportunity (WO) adalah meminimalkan kelemahan untuk meraih peluang atau strategi yang memanfaatkan peluang yang ada dengan meminimalkan kelemahan yang dimiliki.
4. Strategi Weakness Threat (WT) adalah strategi yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman.
RPHJP KPHL Gunung Balak Tahun 2016 – 2025 47
Kombinasi dari faktor-faktor lingkungan internal dan lingkungan eksternal dalam analisis SWOT akan menghasilkan strategi-strategi.
Model kombinasi tersebut disajikan pada tabulasi sebagai berikut :
Tabel 15. Kombinasi Faktor Internal dan Eksternal
Internal Eksternal
Peluang (Opportunity)
Ancaman (Threath) Kekuatan
(Strength)
Kelemahan
(Weakness)
RPHJP KPHL Gunung Balak Tahun 2016 – 2025 48
Tabel 16. Strategi Kombinasi Strength (Kekuatan) dan Opportunity (Peluang) dalam Analisis SWOT
Opportunity (Peluang)
Strength (Kekuatan)
Adanya kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berdasarkan PP. No.6 Tahun 2007 Jo. PP No. 3 Tahun 2008 yang berisi tentang pengelolaan KPH
Sebagai cathment area bendungan Way Jepara dan sebagai penangkis abrasi air laut pada hutan mangrove pantai timur
Adanya prioritas program rehabilitasi pada DAS Prioritas, yaitu DAS Way Sekampung
Adanya potensi kerjasama dengan para pihak untuk operasionalisasi dalam rangka kemandirian KPH, misalnya pengembangan HHBK dan Jasa meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) lahan pada cathment area dan pada hutan mangrove belum dimanfaatkan oleh masyarakat pada cathment area dan pada hutan mangrove tani, namun masih dalam proses mendapatkan Ijin Usaha Pemanfaatan HKm (IUPHKm) dan masih ada yang dalam proses pengajuan dan memiliki
RPHJP KPHL Gunung Balak Tahun 2016 – 2025 49
Tabel 17. Strategi Kombinasi Weakness (Kelemahan) dan Opportunity (Peluang) dalam Analisis SWOT
Opportunity (Peluang)
Weakness (Kelemahan)
Adanya kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berdasarkan PP. No.6 Tahun 2007 Jo. PP No. 3 Tahun 2008 yang berisi tentang pengelolaan KPH
Sebagai cathment area bendungan Way Jepara dan sebagai penangkis abrasi air laut pada hutan mangrove pantai timur
Adanya prioritas program rehabilitasi pada DAS Prioritas, yaitu DAS Way Sekampung
Adanya potensi kerjasama dengan para pihak untuk operasionalisasi dalam rangka kemandirian KPH, misalnya pengembangan HHBK dan Jasa ada dalam kegiatan rehabilitasi
Kolaborasi dengan para pihak dalam pemenuhan Data
Petani penggarap belum memiliki pengetahuan dan kesadaran untuk
konservasi tanah dan air dapat meingkat
RPHJP KPHL Gunung Balak Tahun 2016 – 2025 50
Tabel 18. Strategi Kombinasi Strength (Kekuatan) dan Threat (Ancaman) dalam Analisis SWOT
Threat (Ancaman) Masih ada lahan hutan yang
belum dimanfaatkan oleh
RPHJP KPHL Gunung Balak Tahun 2016 – 2025 51
Tabel 19. Strategi Kombinasi Weakness (Kelemahan) dan Threat (Ancaman) dalam Analisis SWOT
Threat (Ancaman)
Data dasar tentang kondisi Biogiofisik dalam wilayah
Petani penggarap belum memiliki pengetahuan
Penyusunan program 10 tahun ke depan pada KPHL Unit XV Gunung Balak diarahkan untuk mencapai tujuan sebagai berikut :
1. Terwujudnya wilayah pengelolaan KPHL Unit XV Gunung Balak yang mantap berbasis Masyarakat.
2. Terwujudnya kelestarian fungsi lindung daerah tangkapan air dan meningkatnya daya dukung DAS dan fungsi penangkis abrasi air laut.
3. Terwujudnya kelembagaan masyarakat yang kuat dan berdaya saing.
4. Terselenggaranya kerjasama para pihak dan meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan pengelolaan hutan yang meliputi perlindungan, dan pengamanan hutan, serta pemasaran hasil hutan.
5. Terselenggaranya pemanfaatan hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan dalam mendukung revitalisasi hutan dan optimalisasi pemanfaatan hutan.
C. Proyeksi Kondisi Wilayah KPHL Unit XV Gunung Balak pada 10 Tahun