• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

6.1 Analisis Lingkungan Eksternal

6.1.2 Analisis Lingkungan Industri

Menurut Porter (1980), kekuatan kompetitif perusahaan antara industri dapat dilihat dengan menganalisis lima kekuatan, yaitu ancaman masuknya pendatang baru, persaingan antar perusahaan dalam industri, ancaman masuknya produk substitusi, kekuatan tawar menawar pemasok dan kekuatan tawar menawar konsumen.

1. Ancaman Masuknya Pendatang Baru

Masuknya pendatang baru tentu sangat mempengaruhi berlangsungan usaha dalam suatu industri, adanya pendatang baru membuat persaingan semakin ketat. Ada tidaknya ancaman pendatang baru tergantung dari hambatan masuk perusahaan ke dalam suatu industri. Menurut porter terdapat enam hambatan masuk perusahaan, yaitu dilihat dari skala ekonomis, diferensiasi produk, kebutuhan modal, biaya beralih pemasok, akses ke saluran distribusi dan biaya tidak menguntungkan terlepas dari skala. Adapun penjabaran dari keenam faktor tersebut yaitu:

1. Skala ekonomis

Perusahaan pengolahan ikan seperti yang dilakukan perusahaan CV Bening yaitu pembuatan bakso ikan, siomay dan sebagainya dapat dilakukan oleh siapa saja mulai dari skala usaha rumah tangga hingga besar. Hal ini tergantung daripada kemampuan tiap perusahaan melakukan produksi dan tergantung

51 kapasitas produksinya, sehingga perusahaan baru dapat dengan mudah masuk ke dalam industri untuk bersaing dengan perusahaan.

2. Diferensiasi produk

Produk olahan ikan yang dilakukan CV Bening sama dengan produk olahan yang ada yang dilakukan oleh perusahaan lainnya, tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap produk tersebut. Perbedaan terlihat hanya pada kualitas produk. Sehingga perusahaan baru akan mudah masuk dan bersaing karena produk perusahaan tidak memiliki suatu keunikan terhadap produk yang lainnya. 3. Kebutuhan modal

Usaha dalam pengolahan ikan membutuhkan modal yang beragam. Untuk skala usaha rumah tangga yang tanpa harus memiliki peralatan sendiri, tentulah tidak membutuhkan modal yang besar. Namun lain halnya dengan skala usaha yang sudah besar, tentunya harus memiliki modal yang cukup besar karena tidak mungkin perusahaan tersebut tidak memiliki peralatan sendiri, karena jumlah produksi yang sudah besar mengharuskan perusahaan melakukan pengadaan peralatan penggiling daging, dan alat adon yang harganya sekitar tujuh jutaan. Selain itu untuk masalah permodalan perusahaan bisa mengajukan pinjaman modal karena adanya bantuan untuk UMKM. Dapat disimpulkan, kebutuhan modal dalam menjalankan usaha pengolahan ikan bukan suatu hambatan yang besar karena bergantung pada skala.

4. Biaya beralih pemasok

Kebutuhan akan bahan baku produk olahan ikan dapat terpenuhi dari berbagai pemasok yang ada. Jumlah pemasok ikan cukup banyak tersebar di beberapa daerah di Indonesia sehingga biaya beralih pemasok cukup rendah. 5. Akses ke saluran distribusi

Saluran distribusi pada suatu perusahaan tentunya berbeda-beda. Pada usaha olahan ikan CV Bening perusahaan telah mempunyai konsumen berupa agen dan pedangan keliling tetap yang telah berlangganan cukup lama. Tentunya untuk perusahaan yang baru akan mudah mencari jalur distribusi produk ikan olahannya, karena permintaan ikan masih cukup banyak. Hal ini terlihat dari tingkat konsumsi ikan yang terus meningkat.

52 6. Biaya tidak menguntungkan

Biaya tidak menguntungkan biasanya dialami oleh pendatang baru, karena mereka masih mencoba masuk dalam industri yang baru. Ketika mereka belum mampu bersaing dan gagal, akan menjadi beban perusahaan karena mengeluarkan banyak biaya untuk menjalankan usaha barunya.

2. Persaingan antar Perusahaan dalam Industri

Menjalankan suatu usaha tentunya tidak lepas dari persaingan. Persaingan perusahaan dalam industri merupakan hal yang biasa terjadi. Hal tersebut terjadi karena perusahaan tersebut sama-sama ingin mendapatkan keuntungan dengan peluang usaha yang ada. CV Bening pun menghadapi persaingan dalam industri pengolahan ikan. Dari Kabupaten Bogor saja, perusahaan yang sama dengan CV Bening ada empat perusahaan. Keempat perusahaan tersebut memiliki tujuan pasar yang sama yaitu setidaknya wilayah Jabodetabek. Jika dibandingkan dengan perusahaan pesaingnya unggul dalam hal kualitas, sehingga perusahaan mendapatkan penghargaan dan prestasi. Disisi lain CV Sakana memiliki produk yang lebih beragam. Produk yang tidak dimiliki Bening, antara lain: scallop, salmon roll, tuna roll, udang roti, dan bakwan. Sehingga dapat dikatakan Sakana memiliki produk yang inovatif dan mampu menawarkan banyak pilihan produk olahan ikan bagi masyarakat. Adanya perusahaan sejenis dapat menjadi ancaman perusahaan yang cukup kuat karena bisa saja peluang pasar yang masih terbuka luas diambil seluruhnya oleh perusahaan pesaingnya.

3. Ancaman Masuknya Produk Pengganti

Produk pengganti atau substitusi merupakan ancaman, karena keberadaannya memiliki dampak cukup besar bagi perusahaan. Suatu barang yang memiliki barang substitusi dalam jumlah yang banyak akan memiliki permintaan yang elastis, ini artinya jika harga dinaikkan oleh perusahaan, maka permintaan terhadap produk tersebut akan menurun. Hal ini terjadi karena konsumen akan beralih membeli barang substitusinya. Adanya produk substitusi dalam jumlah banyak akan membatasi keleluasaan perusahaan dalam industri untuk menentukan harga jual produk.

Produk substitusi dari produk olahan ikan yaitu bakso daging, nugget

53 berbeda dengan CV Bening. Produk substitusi tersebut sudah cukup terkenal di kalangan masyarakat sehingga produk substitusi merupakan ancaman bagi CV Bening.

4. Kekuatan Tawar – menawar Pemasok

Analisis kekuatan tawar – menawar pemasok akan memperlihatkan sejauhmana pemasok berpengaruh dalam suatu industri untuk mengatur harga ataupun kualitas produk. Pada CV Bening, bahan utama yang digunakan adalah ikan dan udang. Bahan baku tersebut didapatkan dari tujuh pedagang langganannya antara lain: Bapak Along, Bapak Rudi, Bapak Joni, Bapak Tely, Bapak Sopyan, Bapak Hadi, dan Bapak Dadang. Seluruh pemasok tersebut berasal dari Muara Baru, Kemang Bogor, Muara Angke, dan Pondok Gede. Hal ini dilakukan agar perusahaan memiliki beberapa alternatif pembelian bahan baku, sehingga ketika harga ataupun kualitas di pemasok yang satu kurang sesuai maka perusahaan menggunakan pemasok yang lainnya. Namun ternyata dengan jumlah pemasok tersebut tetap saja ketika musim paceklik, ikan sulit didapatkan. Sebenarnya dengan potensi perikanan Indonesia, perusahaan dapat menggunakan pemasok ikan di seluruh Indonesia, sehingga pengadaan bahan baku dapat terpenuhi meskipun musim paceklik datang.

Bahan baku es batu didapatkan dari satu perusahaan langganannya, karena perusahaan menganggap harga yang diberikan telah sesuai dengan keinginan perusahaan. Namun, ketika harga ataupun kualitas dan kuantitasnya sudah tidak sesuai, maka perusahaan dapat dengan mudah mencari pengganti pemasok es balok. Selain bahan baku ikan, udang, dan es, perusahaan membelinya di pasar terdekat. Sehingga dari penjabaran tersebut dapat terlihat bahwa tawar-menawar pemasok tergolong rendah dan tidak terlalu mengancam keberlangsungan usaha. Hal ini dapat terjadi jika perusahaan dapat menjalin hubungan baik dengan para pemasok yang cukup tersedia di beberapa daerah penghasil ikan di Indonesia . 5. Kekuatan Tawar – menawar Konsumen

Usaha pengolahan ikan terdapat di berbagai tempat, sehingga pelaku usaha harus mampu bersaing dalam mempertahankan konsumen yang ada. Konsumen produk olahan ikan ini memiliki posisi tawar menawar yang kuat, karena mereka dapat segera berpindah ke perusahaan lain yang menawarkan produk yang lebih

54 baik, serta harga yang sesuai dengan keinginan konsumen tersebut. Namun pada produk yang dijual Bening, harga tidak terlalu menjadi faktor pindahnya konsumen. Hal ini dikarenakan harga produk sejenis antara perusahaan yang satu dengan yang lainnya tidak berbeda. Sehingga dapat dikatakan bahwa kekuatan konsumen tidak terlalu mengancam keberadaan perusahaan.

Dokumen terkait