V. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
6.1 Analisis Lingkungan Eksternal
6.1.1 Analisis Lingkungan Jauh
1. Tingkat Inflasi
Kondisi ekonomi tentunya sangat mempengaruhi berlangsungnya suatu usaha. Salah satunya adalah dampak inflasi yang menyebabkan kondisi internal perusahaan dan eksternal perusahaan berubah. Dapat dilihat pada Gambar 8 tingkat inflasi mengalami fluktuasi dan cenderung meningkat dari bulan Februari 2010. Tingkat inflasi yang semakin tinggi menyebabkan perusahaan mengalami kenaikkan biaya produksi yang mempengaruhi harga jual ataupun keuntungan perusahaan. Tingkat kenaikkan inflasi dari Februari 2010 sampai dengan Februari 2011 adalah sebesar 79,5 persen tentunya persentase tersebut dampaknya sangat dirasakan oleh perusahaan terutama dalam hal biaya usaha.
Gambar 8. Grafik Tingkat Inflasi Indonesia Februari 2010 hingga Februari 2011 Sumber: Bank Indonesia ( 2011)
Pada bulan Februari 2010 tingkat inflasi sebesar 3,81persen, kemudian inflasi sempat menurun di bulan Maret 2010 namun kembali meningkat di bulan-
46 bulan berikutnya hingga titik tertinggi di tahun 2010 pada bulan Agustus 2010 yaitu sebesar 6,44 persen. Ternyata pada bulan berikutnya inflasi menurun hingga bulan Oktober 2010 dan meningkat kembali dibulan November 2010 dan pada bulan Januari 2011 merupakan bulan dimana inflasi tertinggi yaitu mencapai 7,02 persen. Pada bulan Februari 2011 memang menurun namun hanya sedikit yaitu 6,84 persen. Secara lengkap tingkat inflasi dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Tingkat Inflasi Indonesia pada Februari 2010 - Februari 2011
Tahun Bulan Tahun Tingkat Inflasi (%)
2010 Februari 3,81 Maret 3,43 April 3,91 Mei 4,16 Juni 5,05 Juli 6,22 Agustus 6,44 September 5,80 Oktober 5,67 November 6,33 Desember 6,96 2011 Januari 7,02 Februari 6,84
Sumber: Bank Indonesia (2011)
Dampak inflasi yang paling dirasakan yaitu ketika terjadi kenaikkan bahan-bahan produksi seperti terigu dan telur. Kedua bahan ini paling dirasakan perubahan harganya. Ketika harga bahan-bahan tersebut meningkat maka biaya produksi perusahaan akan meningkat pula. Hal tersebut membuat perusahaan yang saat ini sedang mengalami penurunan penjualan, mengalami penurunan keuntungan juga akibat perusahaan tidak dapat meningkatkan harga produk.
2. Peningkatan Produk Domestik Regional Bruto per Kapita atas Harga Dasar Konstan 2000
Selain tingkat inflasi, PDRB per kapita provinsi yang menjadi daerah pemasaran produk juga sangat mempengaruhi berjalannya usaha. Pada Tabel 10. terlihat bahwa terjadi peningkatan nilai PDRB per kapita DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa perekonomian pada provinsi tersebut semakin membaik. Ketika perekonomian suatu wilayah mengalami peningkatan maka dapat dikatakan bahwa masyarakat semakin
47 sejahtera. Peningkatan kesejahteraan masyarakat berimplikasi pada peningkatan daya beli masyarakat dan ini mengartikan bahwa besar peluang untuk memasarkan ke daerah tersebut.
Tabel 10. Pertumbuhan PDRB per Kapita atas Harga Konstan 2000 di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten Tahun 2006-2008.
*) Angka Sementara
**) Angka Sangat Sementara
Sumber: Bps.go.id (2011)
Salah satu indikator terjadinya peningkatan daya beli dapat terlihat pada pengeluaran rata-rata konsumsi per kapita per bulan wilayah tersebut. Pada Tabel 11 terlihat bahwa pengeluaran rata-rata masyarakat mengalami peningkatan dari tahun 2008 sampai 2009.
Tabel 11. Pengeluaran Rata-rata Konsumsi per Kapita per Bulan di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten Tahun 2008-2009
Provinsi 2008 (Rp) 2009 (Rp)
DKI Jakarta 863.383 938.383
Jawa Barat 396.929 444.186
Banten 454.453 518.970
Sumber: BPS Indonesia (2009)
b. Kekuatan Sosial, Budaya, Demografi, dan Lingkungan
Faktor sosial dan budaya sangat mempengaruhi perusahaan. Saat ini perubahan gaya hidup yang serba ingin cepat, praktis dan sesuai selera serta semakin banyaknya perubahan gaya hidup sehat membuat perusahaan berlomba- lomba untuk membuat produk yang diinginkan masyarakat tersebut. Masyarakat saat ini dengan peningkatan kesejahteraannya semakin memahami pentingnya kesehatan. Tentunya makanan yang sehat akan membawa jiwa yang sehat pula. Masyarakat semakin memahami bahwa salah satu makanan yang menyehatkan adalah ikan. Manfaat ikan kini mulai disebarluaskan sehingga masyarakat mulai menyukai ikan. Hal ini terlihat dari pengeluaran konsumsi ikan yang semakin
Provinsi 2006 2007* 2008**
DKI Jakarta 312.826.712,74 332.971.253,84 353.539.057,43 Jawa Barat 257.499.445,75 274.180.307,83 290.171.128,80
48 meningkat dari tahun 2008 hingga 2009. Pengeluaran rata-rata konsumsi ikan per kapita dapat terlihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Pengeluaran Rata-rata Konsumsi Ikan Nasional Tahun 2008-2009
Tahun Jumlah (Rp) Pertumbuhan (%)
2008 15. 315 -
2009 18. 454 20, 49
Sumber: Badan Pusat Statistik (2009)
Peningkatan konsumsi ikan dapat diindikasikan terjadi karena adanya peningkatan jumlah penduduk Indonesia. Peningkatan tersebut dapat dijadikan aspek penting terkait kesempatan untuk memasarkan produk olahannya. Tren jumlah penduduk Indonesia dapat dilihat pada Gambar 9 .
0 50 100 150 200 250 1961 1971 1980 1990 2000 2010 Tahun
Gambar 9. Tren Jumlah Penduduk Indonesia Tahun 1961-2010 Sumber: Badan Pusat Statistik (2010)
c. Kekuatan Politik, Pemerintahan, dan Hukum
Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad membuat sebuah kebijakan tentang kelautan dan perikanan yaitu kebijakan pengadaan daerah minapolitan secara nasional. Hal ini bertujuan untuk memfokuskan beberapa wilayah untuk dijadikan daerah sentra industri perikanan sehingga dengan fokus pada beberapa wilayah maka pelaksanaan akan terkontrol dengan baik. Selain itu dengan adanya kebijakan minapolitan, diharapkan Indonesia menjadi penghasil ikan terbesar di dunia menggantikan negara China.
Persentase jumlah UMKM pada tahun 2007 mencapai 49,8 juta unit usaha atau sebesar 99,9 persen terhadap seluruh unit usaha di Indonesia yaitu 49,845
49 juta unit22. Kebanyakan UMKM tersebut bermasalah dalam hal permodalan, kurangnya permodalan tersebut karena umumnya usaha mikro, kecil menengah merupakan usaha perorangan atau perusahaan yang sifatnya tertutup yang hanya mengandalkan modal dari pemilik yang jumlahnya terbatas23. Mengatasi masalah tersebut pemerintah telah membuat program dalam hal pendanaan yaitu KUR yang telah diluncurkan oleh Bapak Presiden RI pada tanggal 5 November 2007. KUR merupakan upaya pemerintah dalam mendorong perbankan untuk melakukan penyaluran kredit pembiayaan kepada UMKM dan Koperasi.
Pemerintah dengan beberapa pihak bekerjasama tentang penjaminan kredit atau pembiayaan kepada UMKM dan Koperasi yaitu antara Pemerintah (Menteri Negara Koperasi dan UKM, Menteri Keuangan, Menteri Pertanian, Menteri Kehutanan, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Perindustrian), Perusahaan Penjamin (Perum Sarana Pengembangan Usaha dan PT Asuransi Kredit Indonesia) dan Perbankan (Bank BRI, Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BTN, Bank Bukopin, dan Bank Syariah Mandiri). KUR juga didukung oleh Kementerian Negara BUMN, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian serta Bank Indonesia24.
Tidak hanya bantuan material namun bantuan juga bisa berupa non material yang dibutuhkan perusahaan. Bantuan non material seperti peralatan CV Bening pernah mendapatkannya karena perusahaan sering mendapatkan juara ketika melaksananakan perlombaan. Adanya bantuan dari pemerintah tersebut tentunya dapat dijadikan peluang perusahaan agar usaha tersebut tidak terkendala
lagi dengan modal terutama modal material. d. Kekuatan Teknologi
Adanya perkembangan teknologi tentunya akan membantu dan mempermudah setiap pengusaha dalam menjalankan bisnisnya. Teknologi yang digunakan perusahaan CV Bening, yaitu teknologi di bidang produksi. Perusahaan
22.
Berita Resmi Statistik. 2008. Perkembangan Indikator Makro UKM Tahun 2008. http://www.scribd.com/doc/16888581/Berita-Resmi-Statistik-Ukm-Bps-2008 [Diakses 21 Maret 2011]
23.
Rosid Abdul. Modul manajemen UKM dan Koperasi. Universitas Marcu Buana. http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=1&ved=0CBQQFjAA&url=http%3A%2F %2Fpksm.mercubuana.ac.id [Diakses 21 Maret 2011]
24.
Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia. http://www.depkop.go.id [Diakses 21 Maret 2011]
50 menggunakan mesin penghancur daging ikan (chopper) dan mesin pengadon (silent cutter) dan mesin cetak bakso yang mempermudah kegiatan produksi perusahaan, selain itu perusahaan juga menggunakan frezer untuk menyimpan hasil olahan yang telah dikemas. Peralatan produksi yang dimiliki CV Bening masih tertinggal dengan pesaing utamanya. CV Sakana telah memiliki peralatan yang lebih canggih terutama di alat perebusan yang dimiliki.
Teknologi komunikasi untuk mendapatkan informasi seperti telepon,
handphone juga digunakan perusahaan dalam melakukan hubungan dengan agen ataupun pemasok, sehingga mempermudah komunikasi dengan pihak-pihak yang berhubungan dengan perusahaan. Adanya perkembangan teknologi tersebut dapat dijadikan suatu peluang untuk memperlancar usaha.