• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Lingkungan Internal dan Eksternal Perusahaan A. Analisis Lingkungan Internal

HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil

5.2.1 Analisis Lingkungan Perusahaan

5.2.1.1 Analisis Lingkungan Internal dan Eksternal Perusahaan A. Analisis Lingkungan Internal

Analisis lingkungan internal merupakan proses perencanaan strategi yang menentukan kekuatan dan kelemahan suatu perusahaan. Identifikasi faktor internal harus dilakukan seiring dengan identifikasi fakor eksternal. Lingkungan internal memiliki kemampuan untuk merubah suatu perusahaan menjadi apa yang dicita-citakan oleh manajemen. Analisis lingkungan internal usaha sayuran Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq meliputi manajemen, pemasaran,

64 keuangan, produksi dan operasi, penelitian dan pengembangan serta sistem informasi.

1. Manajemen

Kegiatan suatu perusahaan memerlukan manajemen yang baik untuk keberlangsungan perusahaan yang akan datang. Sumber daya manusia merupakan bagian terpenting dalam suatu usaha. Karyawan merupakan orang yang terlibat dalam pemberian jasa dan merupakan faktor internal yang memiliki peran cukup penting dalam mewujudkan jasa yang dikehendaki oleh konsumen. Penggunaan karyawan yang memiliki keahlian sesuai dengan yang dibutuhkan adalah sesuatu yang membantu keberhasilan suatu usaha. Karyawan di Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq yaitu santrinya sendiri. Hal ini menjadi kekuatan karena hubungan yang terjalin antara atasan dan karyawan yang tejalin ialah hubungan antara murid dengan gurunya, sehingga ikatan emosional yang dibangun dirasa cukup kuat. Namun ketersediaan tenaga ahli di pondok pesantren menjadi permasalahan tersendiri. Belum adanya tenaga profesional yang dibayar pesantren untuk mengelola usaha sayurannya menjadi kendala yang dimiliki pesantren. Belum lagi adanya regenerasi santri menyebabkan pondok pesantren membutuhkan proses yang lebih lama untuk mendapatkan karyawan yang terampil.

2. Pemasaran

Ada tujuh fungsi dasar pemasaran, yaitu

a. Analisis pelanggan, informasi yang dihasilkan oleh analisis pelanggan menjadi penting dalam pengembangan pernyataan visi dan misi yang

65 efektif. Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq selalu berusaha memenuhi apa yang menjadi keinginan-keinginan dari konsumennya seperti ukuran produk sayuran yang tidak terlalu tua, serta menjaga terus kualitas produk sayuran melalui qualty control, sehingga loyalitas konsumen tetap terjaga. b. Penjualan produk/jasa, implementasi strategi yang berhasil biasanya bergantung pada kemampuan organisasi untuk menjual beberapa produk atau jasa. Saat ini Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq melakukan penjualan kebeberapa supermarket di daerah Bandung dan Jakarta. Di daerah Bandung pondok pesantren memasarkan produknya ke Yogya, Griya, Super Indo dan RS. Al-Islam. Sedangkan untuk daerah Jakarta pondok pesantren memasarkan produknya ke Lotte Mart. Kekuatan pondok pesantren dalam penjualan produknya ialah pesantren selalu menanamkan prinsip 3K yaitu, kualitas, kuantitas serta kotinuitas. Hal ini merupakan salah satu faktor penting yang menjadikan pondok pesantren masih bertahan di tengah persaingan.

c. Perencanaan produk dan jasa penting khususnya ketika Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq melakukan pengembangan produk atau diversifikasi. Perencanaan produk belum dapat dilaksanakan sepenuhnya oleh pondok pesantren, hal ini dikarenakan keterbatasan sumberdaya. Ketersediaan tenaga ahli professional di Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq masih sedikit.

d. Penetapan harga, pembuat strategi harus memandang harga dari perspektif jangka pendek dan jangka panjang, karena pesaing dapat meniru

66 perubahan harga dengan relatif mudah. Penetapan harga jual produk sayuran di Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq dipengaruhi biaya produksi, biaya pemasaran dan tingkat harga di pasar.

e. Distribusi mencangkup pergudangan, saluran distribusi, cakupan distribusi, tingkat dan lokasi persedian, alat transportasi dan penjual partai besar. Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq telah menjalankan sistem pendistribusian yang cukup baik yaitu distribusi langsung kepada konsumen ataupun distribusi melalui perantara yaitu agen/distributor. Pondok pesantren menetapkan wilayah Bandung dan Jakarta sebagai wilayah pemasaran produknya, karena kedua wilayah tersebut memiliki jarak yang cukup dekat dan masih dapat dijangkau, dalam hal ini perusahaan memperhitungkan efisiensi waktu dan biaya, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk transportasi tidak terlalu besar, serta dapat mengurangi resiko kerusakan pada sayuran. Adapun pendistribusisan mengunakan alat transportasi berupa mobil pic up.

f. Riset pemasaran adalah pengumpulan, pencatatan, analisis data secara sistematis tentang masalah yang berkaitan dengan pemasaran barang dan jasa. Riset pemasaran belum dapat dilakukan sepenuhnya oleh pondok pesantren karena pencatatan data masih belum tertata dengan rapi, terutama pembukuan usaha tani sehingga data tidak dapat dianalisis. g. Analisis peluang melibatkan evaluasi terhadap biaya, manfaat, dan resiko

yang berhubungan dengan keputusan pemasaran. Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq sudah mampu memanfaatkan peluang terutama dalam

67 hal penjualan. Penjualan produk selain dilakukan kepada pelanggan-pelanggan tetap, akan tetapi pondok pesantren belum mampu memanfaatkan media internet sebagai sarana promosi produknya.

3. Keuangan

Usaha sayuran di Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq sejak awal berdiri telah menggunakan modal pribadi dari pemilikya yaitu KH. Fuad Afandi tanpa dibantu oleh modal pinjaman dari bank ataupun lembaga keuangan lainnya, hal tersebut mengakibatkan perusahaan mengalami keterbatasan modal. Akan tetapi seiring berjalannya waktu dan berkembangnya usaha sayuran di Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq keterbatasan modal yang di awal dirasa sebagai kendala, saat ini pondok pesantren memiliki kecukupan modal untuk usahanya.

Administrasi dan sitem akuntansi perusahaan masih belum tertata rapi dengan baik. Hal ini terlihat dari masih adanya data-data yang belum masuk kepada pembukuan perusahaan terutama pembukuan usaha tani. Laporan keuangan perusahaan dilengkapi dengan analisis rasio yang dapat menggambarkan kepada pemilik dan manajemen perusahaan.

4. Produksi dan Operasi

Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq memiliki luas lahan kurang lebih sekitar 8 Ha. Lahan tersebut dibudidayakan untuk komoditi sayuran dengan sistem pertanian konvensional dimulai dari persiapan media tanam hingga panen. Proses produksi yang dilakukan berawal dari sebuah perencanaan tanam yang disusun secara matang berdasarkan panen. Setelah perencanaan tanam dibuat, kemudian mandor kebun meminta persetujuan manajer produksi terlebih dahulu sebelum

68 mensosialisasikan perencanaan tanam tersebut kepada para pekerja di kebun. Jika perencanaan tanam tersebut telah disetujui dan para pekerja telah memahaminya, maka proses produksi pun dimulai.

Kegiatan pembudidayaan sayuran di Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq meliputi persiapan lahan, penanaman, persemaian, pemupukan, perawatan, penanggulangan hama dan penyakit, pemanenan, pasca panen. Peralatan yang digunakan dalam pengololahan secara umum masih sangat sederhana yaitu masih menggunakan cangkul, kored, pisau, gunting, dan sprayer.

a. Persiapan Lahan

Pesiapan lahan meliputi pembersihan lahan, pengolahan tanah, pemberian dolomit (kapur), pemupukan dan pembuatan bedengan serta pemberian jarak tanam. Fungsi pembersihan lahan adalah menghilangkan gulma yang mengganggu pertumbuhan dan biasanya dibersihkan dengan menggunakan cangkul. Pengolahan tanah dilakukan agar terjadi pertukaran unsur hara setelah digunakan dalam proses produksi sebelumnya dengan unsur hara baru yang terkandung didalam lapisan tanah. Kemudian pengapuran dilakukan untuk menetralkan kadar keasaman tanah. Tahap terakhir dalam proses penyiapan lahan adalah membuat bedengan dengan memperhatikan lebar bedengan, dan jarak antar bedengan. Setelah bedengan terbentuk, dilakukan pemupukan dengan menebarkan pupuk kompos secara merata pada alur dalam bedengan, kemudian ditutup rata dengan tanah yang membentuk bedengan.

69 b. Penanaman

Kegiatan penanaman sayuran dilahan dilakukan setiap pagi hari sekitar pukul 06.00 - 07.30 dan sore hari setelah pukul 15.00 sampai dengan matahari tenggelam. Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko kematian pada tanaman pada saat dipindahkan ke lahan pertanian serta menjaga keberlanjutan produksinya. Penanaman dilakukan oleh para santri dengan diawasi oleh mandor masing-masing kebun.

Dalam proses penanamannya, ada benih sayuran yang dapat ditanam langsung di bedengan dan ada juga benih yang melalui proses persemaian terlebih dahulu sebelum ditanam. Jenis-jenis sayuran yang harus melalui proses persemaian antara lain tomat, brokoli, kubis bunga, kubis putih, petsay, terong ungu, timun lokal, caysim, kailan, pakcoy, selada, bawang daun dan wortel sedangkan benih sayuran yang dapat langsung ditanam dibedengan/ dilahan antara lain jagung manis, kapri polong, kacang merah, dan buncis.

c. Pemupukan

Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq menggunakan pupuk kandang yang berasal dari peternakanya sendiri. Pupuk kandang tersebut diantaranya yaitu pupuk yang berasal dari kotoran ayam, kelinci dan sapi. Selain itu pondok pesantren juga menggunakan pupuk kompos yang berasal dari sisa sortiran sayuran yang tidak masuk ke pasar serta limbah makanan santri. Pemupukan ini bertujuan untuk meningkatkan kegemburan dan kesuburan tanah agar tidak menjadi padat dan menyeimbangkan kebutuhan hara terhadap tanaman.

70 d. Pemeliharaan tanaman

Pemeliharaan merupakan aspek utama dalam kontrol keberhasilan produksi. Pemeliharaan tanaman bertujuan untuk mempertahankan tanaman agar dapat bertahan hidup sampai panen dengan hasil yang bagus dan memuaskan. Kegiatan dalam pemeliharaan tanaman terdiri dari penyiraman, penyiangan/perompesan dan penyulaman serta pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) secara cepat.

Penanggulangan hama penyakit pada sayuran dilakukan dengan menyemprotkan pestisida yang telah tersedia dalam bentuk kemasan botol. Penggunaan pestisida ini di lakukan pondok pesntren dengan sangat hatihati dan sesuai denga takaran yang bias digunakan. Pengendalian hama juga dapat dilakukan dengan membunuhnya langsung dengan tangan seperti memijat ulat trip pada tanaman caisin.

e. Pemanenan

Penentuan jadwal panen ditentukan oleh mandor kebun, panen dilakukan setelah tanaman masak dengan kriteria ketingian tanaman, umur tanaman, berat rata-rata, tidak cacat dan warna buah sesuai dengan jenis tanaman. Pemanenan dilakukan pada pagi hari yaitu mulai pukul 07.00 WIB sampai 09.00 WIB. Panen dilakukan dengan cara memetik langsung atau dengan menggunakan gunting dan pisau Pengangkutan sayuran ke tempat pasca panen pun masih sederhana dengan mengugunakan panggulan kemudian diangkut dengan mobil pick up atau motor. Semua hasil panen perkomoditi biasanya dikumpulkan di tempat yang telah disediakan.

71 f. Pasca panen

Setelah dipanen, hasil panen disusun dan diletakkan secara hati-hati dalam keranjang. Pembersihan dilakukan dengan mencuci hasil panen sampai bersih kemudian dilakukan penyortiran sayuran sesuai dengan kualitasnya. Setelah melalui proses pencucian sayuran selesai, barulah dilakukan proses pengemasan. Pengemasan sayuran dilakukan dengan mengunakan plastik dan juga styrofoam. Kemasan disesuaikan dengan permintaan konsumen. Setelah dikemas sayuran akan langsung diantar ke distributor yang telah memesan 1-2 hari sebelum pengiriman melalui telefon dan email.

5. Penelitian dan Pengembangan

Penelitian dan pengembangan/Litbang dalam suatu perusahaan sangat diperlukan dalam mendukung usaha yang ada, membantu meluncurkan usaha baru, mengembangkan produk baru, meningkatkan mutu produk memperbaiki efisiensi proses manufaktur dan memperdalam atau memperluas kemampuan teknologi perusahaan. Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq belum memiliki bagian khusus dalam hal penelitian dan pengembangan. Informasi mengenai perkembangan teknologi dan informasi dalam dunia pertanian didapatkan dengan cara mengikuti pelatihan dan perkembanganberita melalui media massa.

B. Analisis Lingkungan Eksternal

Lingkungan eksternal merupakan lingkungan yang berada di luar organisasi perusahaan yang sangat penting bagi perusahaan untuk mengetahui dengan menganalisisnya. Dalam analisis lingkungan eksternal dapat dicari apa saja yang menjadi peluang dan ancaman yang mungkin menjadi pertimbangan

72 perusahan dalam menentukan strategi usaha ke depan. Analisis lingkungan eksternal usaha sayuran Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq meliputi lingkungan umum seperti, ekonomi, sosial dan budaya, politik, teknologi serta ekologi atau alam dan juga lingkungan industri (lima kekuatan porter) yaitu ancaman pendatang baru, kekuatan tawar menawar pembeli, kekuatan tawar menawar pemasok, ancaman produk substitusi serta persaingan anggota industri. 1. Lingkungan Umum

a. Ekonomi

Keadaan perekonomian secara agregat berimplikasi terhadap perkembangan suatu kelompok usaha yang sedang beroperasi di suatu negara dan juga berimplikasi terhadap daya beli masyarakat. Jika perekonomian suatu negara relatif stabil maka akan mendukung kelancaran dan kinerja kelompok-kelompok usaha tersebut, begitu pula sebaiknya faktor ekonomi mempunyai dampak langsung terhadap potensi daya tarik berbagai strategi. Dengan melihat indikator-indikator ekonomi diharapkan Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq dapat menentukan kebijakan yang tepat bagi perkembangan usahanya.

b. Politik

Faktor politik berkenaan dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. yang dapat mendukung pengembangan pertanian. Kebijakan pemerintah yang sedang digalakkan sekarang ini adalah program ”Go Organic” yang bertujuan untuk mewujudkan Indonesia sebagai salah satu produsen dan pengekspor pangan organik utama di dunia pada tahun 2010. Misi yang di emban dalam program “GO Organic” adalah : ”Meningkatkan kualitas hidup masyarakat

73 dan kelestarian lingkungan alam Indonesia dengan mendorong berkembangnya pertanian organik yang berdaya saing dan berkelanjutan”.

Adapun tujuan dan keuntungan dari program tersebut adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan pendapatan petani karena adanya efisiensi pemanfaatan sumberdaya dan produk.

2. Menghasilkan pangan yang cukup, aman dan berkualitas sehingga meningkatkan kesehatan masyarakat dan sekaligus daya saing produk agribisnis.

3. Menciptakan lingkungan kerja aman dan sehat bagi petani.

4. Meminimalkan semua bentuk polusi yang dihasilkan dari kegiatan pertanian.

5. Meningkatkan dan menjaga produktifitas lahan pertanian dalam jangka panjang, serta memelihara kelestarian sumber daya alam dan lingkungan. Kebijakan tersebut dapat menjadi peluang bagi pengembangan usaha sayuran Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq untuk mengembangkan usahanya ke sayuran organik, karena pemerintah sangat mendukung setiap usaha yang bergerak dibidang pertanian organik.

c. Sosial dan Budaya

Faktor-faktor sosial dan budaya yang mempengaruhi suatu perusahaan mencakup keyakinan, nilai, sikap, opini yang berkembang dan gaya hidup dari orang-orang di lingkungan eksternal perusahaan. Faktor-faktor ini biasanya dikembangkan dari kondisi kultural, ekologis, pendidikan dan kondisi etnis.

74 Seandainya faktor sosial berubah maka permintaan untuk berbagai produk dan aktivitas juga turut mengalami perubahan.

Pulihnya perekonomian dan peningkatan pendapatan serta pendidikan mempengaruhi pola konsumsi masyarakat akan pemenuhan pangan sehat. Tren back to nature yang menghantarkan kesadaran masyarakat akan bahaya yang ditimbulkan bahan sintetik sehingga mengakibatkan perubahan gaya hidup masyarakat menjadi lebih sehat. Selain aspek sosial, budaya, lingkungan sekitar pondok pesantren juga menjadi faktor pendukung kegiatan usaha sayuran ini. Lingkungan masyarakat disekitar pondok pesantren memberi dukungan yang cukup besar bagi pondok pesantren. Masyarakat sekitar ikut menjaga dan mengawasi kantor dan kebun, selain itu masyarakat juga ikut menjaga kualitas lingkungan di sekitar perkebunan dengan tidak melakukan pencemaran terhadap air, tanah, dan udara sekitar perkebunan, sehingga kualitas produk yang dihasilkan pondok pesantren dapat terjaga dengan baik.

d. Teknologi

Faktor teknologi dapat memberikan peluang bagi pondok pesantren. Teknologi yang terus berkembang dapat mempengaruhi strategi perusahaan dalam memproduksi dan memasarkan produknya. Kemajuan teknologi yang semakin berkembang antara lain teknologi di bidang produksi, dan komunikasi.

Budidaya sayuran secara organik merupakan suatu bentuk teknologi yang pernah dijalankan oleh pondok pesantren dengan penggunaan pupuk organik tanpa menggunakan pestisida sehingga dapat mengefisienkan biaya produksi dan mendapatkan hasil yang lebih bermutu. Adanya asosiasi pertanian organik di

75 dalam maupun di luar negeri membuka peluang bagi pondok pesantren untuk memperoleh informasi tentang pertanian organik dan teknologinya. Kemajuan teknologi komunikasi di Indonesia juga semakin berkembang dan mempengaruhi kegiatan bisnis masyarakat diantaranya penggunaan jaringan komputer dan internet. Pelaku bisnis memanfaatkan jasa internet untuk melakukan aktivitas bisnisnya. Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq sudah mampu memanfaatkan teknologi internet atau email untuk memasarkan produknya, hal ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi informasi dapat menjadikan peluang bagi perusahaan untuk mengembangkan usahanya.

e. Ekologi

Pondok Pesantran Agribisnis Al-Ittifaq berlokasi di Kampung Ciburial Desa Alam Endah Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Secara geografis tanah di Desa Alam Endah pada umumnya merupakan tanah dataran dengan ketinggian 1.200-1.500 m dpl dan kemiringan sekitar 45 derajat. Curah hujan rata pertahun yaitu 2.150 mm dengan 6 bulan hujan. Suhu udara rata-rata berkisar 19-200 C (Profil Desa Alam Endah, 2012). Jenis dan tekstur tanah di desa tersebut adalah andosol dan berpasir sehingga cocok untuk memproduksi dan membudidayakan sayuran karena tanah tersebut cukup subur. Perubahan iklim dan gejala alam di desa Alam Endah sering tidak dapat diperkirakan. Dengan intensitas hujan yang cukup tinggi ditambah lagi dengan angin yang cukup kencang menyebabkan terhambatnya proses produksi yang dilakukan pondok pesantren. Kondisi ini merupakan salah satu ancaman bagi proses produksi sayuran yang dilakukan oleh pondok pesantren.

76 2. Lingkungan Industri (Model Lima Kekuatan Porter)

a. Produk Substitusi

Pada industri sayuran yang dapat digolongkan menjadi produk subsitusi adalah sayuran yang dibudidayakan secara organik. Kelebihan dari produk subsitusi tersebut antara lain adalah memiliki tekstur dan penampilan yang lebih bagus, memiliki sertifikasi dari lembaga terkait, serta memiliki kandungan lebih tinggi dan lebih aman dikonsumsi. Kelebihan yang dimiliki produk subsitusi tersebut dapat mendorong konsumen untuk beralih ke produk subsitusi, namun produk sayuran yang diproduksi secara konvensional juga memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki produk subistusi, seperti harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan produk organik, lebih mudah diperoleh, serta volume produksi yang lebih banyak. Meskipun demikian, produk subsitusi menjadi ancaman sekaligus peluang bagi perkembangan industri sayuran konvensional. b. Kekuatan Tawar Menawar Pemasok

Keberadaan pemasok mempunyai peranan yang penting dalam kelancaran proses produksi suatu perusahaan. Para pemasok dan produsen seringkali bekerjasama dengan menetapkan harga yang terjangkau, mutu barang yang lebih baik, dan penyerahan barang tepat waktu. Adapun bentuk lain yaitu tanpa adanya perjanjian kerjasama terlebih dahulu sehingga memberikan kebebasan pada pihak perusahaan untuk memilih pemasoknya.

Meskipun hubungan Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq dengan pemasok telah terjalin dengan baik, namun pondok pesantren tidak terikat hanya pada satu pemasok saja, hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menjaga

77 ketersediannya bahan baku. Dalam hal memenuhi kebutuhan produksinya sendiri pondok pesantren memperoleh bahan baku berupa bibit sayuran dari perusahaan pengadaan bibit dan input pertanian bernama Mitra Tani yang terletak di Ciwidey. Sistem pembelian yang dilakukan adalah beli putus, jadi tidak ada kontrak yang mengikat pondok pesantren dengan organisasi pengadaan input ini. Selain membeli bibit dari pemasok, pondok pesantren juga mengusahakan bibit tanaman sendiri walaupun masih dalam jumlah yang sedikit sehingga diharapkan tidak terlalu tergantung dengan suplai bibit dari pemasok.

c. Ancaman Pendatang Baru

Pendatang baru dalam industri dapat menunjukkan tingkat persaingan yang akan dihadapi oleh suatu usaha dalam industri tersebut. Jika semakin banyak pendatang baru yang memasuki wilayah industri maka akan menimbulkan sejumlah implikasi bagi perusahan yang ada, misalnya terjadi perebutan sumberdaya produksi yang terbatas. Sebaliknya dengan rendahnya ancaman pendatang baru dapat mengimpikasikan kesulitan untuk memasuki pasar cukup tinggi. Hambatan yang dirasakan oleh Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq dalam menjalankan usahatani sayuran bukanlah berasal dari pendatang baru pada industri ini, akan tetapi permasalahan yang dihadapi pondok pesantren saat ini adalah permasalah manajemen yang kurang professional sehingga menyebabkan volume produksi sayuran yang mengalami penurunan sehingga belum bisa memenuhi seluruh permintaan konsumen.

78 d. Kekuatan Tawar Menawar Pembeli

Konsumen sayuran adalah berasal dari berbagai golongan, karena sayuran merupakan salah satu kebutuhan kebutuhan pokok bagi manusia. Terlebih lagi konsumen yang sudah mengerti akan pentingnya mengkonsumsi makanan sehat dan mempunyai keinginan untuk mengkonsumsinya. Konsumen dari produk yang ditawarkan oleh Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq rata-rata adalah distributor (pasar induk, supermarket dan rumah sakit). Preferensi dan permintaan konsumen juga sangat beragam baik dari ukuran, penampilan (kualitas), dan kuantitas, sehingga perencanaan tanam dan panen harus dilakukan dengan teliti agar tidak mengecewakan konsumen karena sayuran yang diterima tidak sesuai dengan permintaan. Selama ini loyalitas konsumen dan distributor cukup tinggi karena pondok pesantren selalu menjaga hubungan baik dengan konsumen yakni memberikan pelayanan yang memuaskan seperti meningkatkan kualitas produk, keramahan kepada pelanggan, dan penyedian produk secara berkesinambungan. e. Persaingan antar Kompetitor

Tingkat persaingan diantara para produsen sayuran dapat diminimalisir oleh perusahan jika strategi yang dijalankan memiliki keunggulan kompetitif (competitive advantage). Pada umumnya persaingan yang diperebutkan adalah posisi tawar market share, pengusahaan saluran distribusi dan pemasok.

Banyaknya produsen yang mengusahakan sayuran, mengimplikasikan tingginya tingkat persaingan. Hal ini merupakan ancaman bagi pondok pesantren dan peluang bagi pesaing dalam memperluas pasarnya. Pesaing yang cukup potensial bagi Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq yaitu produsen yang lebih

79 dahulu menjalankan usaha sayuran organik dan telah menjadi leader di daerah Jawa Barat diantaranya PT Amani Mastra, Parung Farm dan RR Organic. Pangsa pasar produk sayura perusahaan tersebut sudah memasuki swalayan ataupun pasar internasional. Untuk menghadapi persaingan di dalam industri yang semakin kompetitif maka setiap produsen sayuran dapat menonjolkan keunggulan produknya dibandingkan dengan produk pesaing melalui penciptaan inovasi-inovasi baru.

5.2.2 Formulasi Strategi Pengembangan Usaha