HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil
5.1.1 Faktor Internal dan Eksternal Ponpes Agribisnis Al-Ittifaq .1 Faktor Internal .1 Faktor Internal
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil
5.1.1 Faktor Internal dan Eksternal Ponpes Agribisnis Al-Ittifaq 5.1.1.1 Faktor Internal
Analisis lingkungan merupakan proses perencanaan strategi yang menentukan kekuatan dan kelemahan suatu perusahaan. Adapun kajian dan identifikasi lingkungan internal Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq adalah sebagai berikut :
A. Kekuatan
1. Shalat Awal Waktu Berjamaah di Masjid
KH. Fuad Afandi meyakini bahwa shalat merupakan amal tertinggi setelah bersaksi (syahadat). Dengan shalat rezeki manusia akan datang karena shalat adalah laku yang mengajak kepada takwa. Shalat adalah gerak, laku, amal, atau perbuatan. Secara simbolis shalat adalah manifestasi kehidupan itu sendiri. Melalui shalat awal waktu berjamaah di masjid KH. Fuad Afandi mengajarkan santri serta seluruh warga pondok pesantren untuk berlaku tepat waktu, disiplin terhadap tugas serta meyakini kekuasaan yang tertinggi setelah segala upaya yang telah dilakukan.
Shalat merupakan hal pertama yang harus dipertanggung jawabkan oleh seorang hamba. Dalam hadist Qudsi Rasulullah SAW bersabda :
55 “Hal Pertama yang akan dihisab (dimintai pertanggung jawaban) dari sseorang hamba adalah sholat. Jika ia baik, maka baiklah seluruh amalannya; dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh amalannya, “ (HR. Thabrani)
Selain itu manfaat dari shalat yang dapat ditinjau dari segi moral (rohani) yaitu dapat mendidik jiwa kita agar terhindar dari sifat-sifat sombong, tinggi hati, dengki dan sebagainya, serta mengarahkan kita agar selalu tawakal dan berserah diri kepada Allah SWT. Selain itu shalat juga dapat menjadi penghalang dari mengerjakan kemungkaran dan keburukan.
Firman Allah SWT dalam QS. Alankabut ayat 45:
Artinya : “Dan tegakkanlah shalat karena shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar.
2. Hubungan Atasan dengan Karyawan
Di Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq santri tidak menganggap dirinya sebagai karyawan. Santripun menganggap dirinya bukan bekerja pada usaha yang dijalankan oleh pondok pesantren. Santri menganggap bahwa mereka berada disana untuk menjalankan pendidikan. Secara struktural memang santri berada pada posisi dibawah, akan tetapi santri merasa mereka ialah pemilik dari usaha yang dijalankan oleh pondok pesantren. Sehingga hubungan yang terjadi ialah hubungan keeratan antara murid dengan gurunya.
3. Lokasi Usaha
Lokasi pondok pesantren yang berada di dataran tinggi yang lahannya subur dan cocok untuk komoditas sayuran menjadi salah satu kekuatan yang dimiliki pondok pesantren. Selain itu lokasi pondok pesantren yang berada di topografi dataran tinggi yang merupakan salah satu sentra sayuran di wilayah
56 Kabupaten Bandung membuat pondok pesantren dapat lebih dekat dengan pemasok dan pasar. Jarak pondok pesantren ke Kota Kecamatan ± 7 KM, dan ke kota Kabupaten ± 29 KM, sedangkan ke Kota Provinsi (Bandung) ± 40 KM. Hal ini memudahkan pondok pesantren dalam memperoleh sarana produksi serta memasarkan produknya ke Bandung dan Jakarta karena lokasi pondok pesantren yang dekat dengan sumberdaya produksi dan pasar sehingga dapat mengurangi biaya transportasi.
4. Ketersediaan Sarana dan Prasarana
Kepemilikan tempat dan alat-alat produksi serta sarana transportasi menjadi penunjang dalam kegiatan produksi operasi yang dilakukan Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq. Ketersedian sarana dan prasarana seperti gudang pasca panen yang mampu menampung dalam jumlah yang cukup besar, sarana dan prasarana yang berstatus kepemilikan pribadi, serta kendaraan operasional merupakan salah satu kekuatan yang dimiliki pondok pesantren.
Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq memiliki luas lahan sekitar 8 Ha. Lahan tersebut dibudidayakan untuk komoditi sayuran di mulai dari persiapan media tanam hingga panen. Selain lahan yang dimiliki, pondok pesantren juga bekerja sama dengan beberapa kelompok tani binaan yang luas lahannya sekitar 50 Ha. Hal ini dilakukan untuk memenuhi kapasitas permintaan sayuran sekitar 10 ton yang diterima oleh pondok pesantren setiap harinya.
5. Kualitas Produk
Pondok pesanten menjaga kualitas produknya dan menggunakan standar yang telah ditetapkan oleh supermarket. Hal ini dilakukan untuk menjaga
57 kepercayaan para pelanggan tetap pondok pesantren. Hal ini dilakukan sejak usaha sayuran dilaksanakan. Dalam menjaga kualitas produknya pondok pesantren menerapkan kegiatan pasca panen yaitu pengklasifikasian produk berdasarkan standar dan ukuran, pemilahan produk, pengemasan produk untuk menjaga kesegaran, serta pemberian tanda sebagai identitas produk yang dipasarkan. Untuk pasokan sayuran yang masuk kedalam pondok pesantren yang berasal dari petani sekitar juga harus memenuhi standar yang ada di pondok pesantren. Kualitas produk juga menjadi salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pondok pesantren dalam menetapkan harga produknya.
6. Kecukupan Modal
Sebagian besar modal yang digunakan oleh pondok pesantren berasal dari modal sendiri, dimana modal itu didapat dari perputaran uang yang dilakukan dalam usaha sayurannya. Selain itu pondok pesantren juga mendapat dana hibah dari beberapa institusi pemerintah misalnya dana yang didapatkan dari program Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3) yang dilakukan oleh Kementrian Pertanian misalnya Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq mendapatkan dana hibah sebesar 80 juta rupiah pada tahun 1997 dan 150 juta rupiah di tahun 2004. Selain itu, untuk akses modal pinjaman pondok pesantren bisa dengan mudah mendapat dana pinjaman dari Koperasi Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq yang bekerja sama dengan Bank Syariah Mandiri.
7. Pelanggan Tetap Perusahaan
Saluran distribusi yang digunakan oleh perusahaan adalah melalui pengiriman langsung kepada supermarket dan rumah sakit di wilayah Jakarta dan
58 Bandung. Konsumen sayuran pondok pesantren merupakan pelanggan tetap, dimana hubungan yang terjalin sudah cukup lama dan memiliki kontrak. Bahkan untuk Lotte Mart (Jakarta), Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq telah menjalin hubungan bisnis selama 19 tahun. Pelanggan tetap dari pondok pesantren yaitu Lotte Mart (Jakarta), SuperIndo, Griya, Yogya serta RS. Al-Islam (Bandung). B. Kelemahan
1. Manajemen Masih Sederhana
Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq memiliki struktur organisasi yang sudah jelas, namun masih bersifat fungsional. Manajemen sumberdaya manusia yang dijalankan belum berjalan dengan ideal, walaupun sudah terdapat pembagian tugas dan wewenag yang telah disepakati, tetapi dalam pelaksanaannya masih tumpang tindih. Hal ini dapat dilihat dari masih terdapatnya karyawan yang rangkap jabatan/tugas. Karyawan di bagian pemasaran masih diperbantukan dalam kegiatan produksi. Oleh sebab itu dibutuhkan sistem manajemen yang lebih baik. Selain itu pondok pesantren belum memiliki bagian khusus yang bergerak di bidang penelitian dan pengembangan (litbang).
2. Keterampilan Tenaga Kerja
Pada dasarnya dari segi kuantitas Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq memiliki sumberdaya manusia yang cukup, akan tetapi dari segi kemampuan tenaga kerja atau santri yang terampil yang dimiliki oleh pondok pesantren sangatlah terbatas. Rata-rata santri yang sudah terampil keluar dari pondok pesantren untuk melanjutkan kehidupannya di luar pesantren. Hal ini yang menyebabkan turn over sumberdaya manusia di Pondok Pesantren Agribisnis
Al-59 Ittifaq cukup tinggi. Pondok pesantren perlu melakukan pelatihan kembali kepada setiap santri barunya untuk mengisi kekosongan yang ada.
3. Ketersediaan Tenaga Profesional
Jumlah tenaga professional yang ada di Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq sangatlah terbatas. Hal ini dapat dilihat dari tumpang tindihnya tugas yang dilaksanaakan oleh masing-masing santri. Meskipun pembagian kerja sudah dilakukan, akan tetapi masih terjadi rangkap tugas. Sampai saat ini belum ada tenaga ahli yang berasal dari luar pondok pesantren yang dibayar secara profesional yang bertugas untuk mengurus persoalan manajerial yang berada pada manajemen usaha sayuran yang dilakukan Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq. 5.1.1.2 Faktor Eksternal
Dari hasil identifikasi faktor eksternal, didapatkan beberapa hal yang menjadi peluang serta ancaman yang dimiliki oleh Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq. Faktor-faktor tersebut diantaranya, yaitu:
A. Peluang
1. Program “Go Organic”
Kebijakan pemerintah yang sedang digalakkan saat ini adalah program “Go Organic” yang bertujuan untuk mewujudkan Indonesia sebagai salah satu produsen dan pengekspor pangan organik utama di dunia pada tahun 2010. Misi yang di emban dalam program ini adalah : “Meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan kelestarian alam Indonesia dengan mendorong berkembangnya pertanian organik yang berdaya saing dan berkelanjutan”.
60 Sementara itu pangsa pasar produk organik di Indonesia setiap tahunnya cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 2006, pertumbuhan permintaan dari dalam negeri mencapai 600 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Permintaan ini setara dengan 5-6 juta USD (United State Dollar) atau sekitar 45-56 Milyar rupiah. Jika pada tahun 2005 jumlah outlet atau retailer organik hanya sekitar 10 buah maka pada tahun 2007 angka itu sudah lebih dari 20 buah, bahkan beberapa restoran organik sudah berdiri di Jakarta dan Yogyakarta. Penyebaran outlet atau took organik ini sudah menyebar ke Bogor, Bandung, Medan, Surabaya dan kota-kota lainnya (Kementan, 2008).
2. Perkembangan Teknologi Informasi
Dengan makin mudah dan maraknya penggunaan internet serta makin banyaknya situs-situs komunitas yang ada di Indonesia, hal ini menjadikan peluang dalam perluasan pasar sayuran Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq. Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkapkan bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 63 juta pengguna dan sekitar 14 juta pengguna melakukan pembelian barang dan jasa dalam jaringan (on line). Dengan kondisi seperti ini tentunya Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq dapat mempromosikan usaha sayurannya dengan lebih mudah dan murah.
3. Akses Jalan dan Transportasi
Akses jalan yang menghubungkan pondok pesantren dengan pasar cukup memadai. Hal ini ditandai oleh jalan yang sudah diaspal dengan kondisi yang cukup baik dan juga bisa dilalui oleh kendaraan roda empat bahkan angkutan
61 besar (bus dan truk). Angkutan transportasi yang menghubungkan pondok pesantren juga dapat dengan mudah dijumpai. Berbagai macam angkutan umum mulai dari bis, elf, angkot serta ojek merupakan sarana transportasi yang bisa digunakan untuk mencapai pondok pesantren.
B. Ancaman
1. Kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) dan Rencana Kenaikan BBM
Kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) pada kuartal II sebesar 4,3 persen yang bergulir sejak awal Mei 2013 akan berdampak pada dunia usaha khususnya production cost yang akan meningkat (Sapta, 2013). Selain itu Menteri Keuangan Muhammad Chatib Basri memastikan pemerintah akan menaikan harga bahan bakan minyak bersubsidi (Tempo, 2013).
Dengan kenaikan TDL dan rencana kenaikan BBM tentunya akan menambah beban produksi pondok pesantren, dengan rencana kenaikan harga BBM pesantren harus mengurangi margin penjualan untuk menghindari kenaikan harga yang disebabkan bertambahnya biaya distribusi produksi yang dilakukan oleh pondok pesantren.
2. Impor Sayuran
Menurut data Direktorat Jendral Hortikultura Kementrian Pertanian Republik Indonesia volume impor sayuran Indonesia di tahun 2012 sebesar 1,36 juta ton. Ditambah lagi dengan perjanjian perdagangan bebas antara enam negara anggota ASEAN yang salah satunya adalah Indonesia dengan Cina yang disebut dengan ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) yang berdampak semakin marak dan mudahnya produk Cina masuk ke dalam Indonesia. Hal ini
62 dirasakan cukup mempengaruhi persaingan harga antara sayuran yang diproduksi oleh pondok pesantren dengan sayuran impor.
3. Produk Substitusi
Pada industri sayuran yang dapat digolongkan menjadi produk substitusi adalah sayuran yang dibudidayakan secara organik. Kelebihan dari produk substitusi tersebut antara lain ialah produk sayuran organik memiliki kandungan nutrisi yang lebih tingggi dibandingkan anorganik, jauh lebih aman dikonsumsi dan sistem pertanian yang aman bagi kelestarian lingkungan. Ditambah lagi kesadaran konsumen akan kesehatan yang semakin meningkat terhadap produk yang dikonsumsinya menyebabkan sayuran organik menjadi salah satu ancaman bagi kegiatan usaha sayuran pondok pesantren yang masih diproduksi secara konvensional.
4. Perubahan Iklim
Perubahan iklim yang sering tidak menentu membuat terganggunya proses produksi yang terjadi di Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq. Seperti yang kita ketahui lokasi pondok pesantren yang berada di dataran tinggi sebenarnya adalah lokasi yang mendukung proses produksi sayuran, akan tetapi intensitas hujan yang tinggi yang terkadang tidak menentu atau sulit diprediksi menjadikan sulitnya pondok pesantren dalam mengorganisir jadwal tanamnya. Selain itu hal ini juga berdampak pada sulitnya penanganan hama dan penyakit yang ada pada sayuran. 5. Alih Fungsi Lahan Pertanian
Lahan milik Pondok Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq yang dikelola dalam kegiatan usaha sayurannya adalah sekitar 8 hektar ditambah lahan kelompok tani
63 binaan pondok pesantren yang mencapai 50 hektar. Desa Alamendah merupakan salah satu sentra produksi pertanian khususnya komoditas sayuran dan buah-buahan (stroberi) (Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, 2010). Akan tetapi desa Alamendah juga merupakan obyek pariwisata unggulan dari Kabupaten Bandung yang diamana terdapat obyek pariwisata kawah putih yang cukup dikenal di Indonesia. Saat ini banyak bermunculan hotel, penginapan dan villa di Alamendah. Selain itu munculnya kawasan agrowisata stroberi petik sendiri juga banyak bermunculan di Desa Alamendah. Hal ini yang menjadi salah satu penyebab alih fungsi lahan pertanian yang ada di Desa Alamendah. Dari luas wilayah Desa Alamendah yang sebesar 505,6 saat ini lahan produksi sayuran hanya sekitar 51 hektar, hal ini terjadi penurunan dari 80 hektar di tahun 2002 (RKP Desa Alamendah, 2012).
5.2 Pembahasan