• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejalan dengan analisis kelayakan yang dilakukan, rencana pembangunan ruas jalan (jalur) Pontolo-Ombulodata-Molingkapoto (Segmen 1) dan ruas jalan (jalur) Molingkapoto-Moluo (Segmen 2) Kabupaten Gorontalo Utara. Dasar hukum pelaksanaan analisis lingkungan ini adalah Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 05 Tahun 2012 Tentang Jenis Rencana Usaha Dan/Atau Kegiatan Yang Wajib Memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.

Pada studi kelayakan ini, analisis lingkungan yang dilakukan pada daerah studi meliputi identifikasi dampak-dampak potensial secara umum (langsung atau tidak langsung) yang mungkin akan timbul akibat adanya Pembanguanan jalan yang direncanakan. Identifikasi ini akan difokuskan pada komponen lingkungan yang terkena dampak dan apabila diperlukan maka akan direkomendasikan

kajian AMDAL yang lebih mendalam pada tahapan pekerjaan berikutnya.

Pada Tabel 6.23., berikut disajikan jenis kegiatan yang wajib dilengkapi dengan AMDAL serta UKL/UPL.

Tabel 6.23. Jenis Rencana Kegiatan Proyek Jalan yang Wajib dilengkapi dengan AMDAL

- luas pengadaan lahan ≥ 30 ha b di kota sedang

- luas pengadaan lahan pengadaan lahan ≥ 40 ha

- luas pengadaan lahan ≥ 50 ha Pembangunan dan/atau peningkatan jalan dengan pelebaran yang membutuhkan pengadaan lahan (di luar rumija):

Jenis Kegiatan

Sumber: Lampiran I, Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 05 Tahun 2012 Tentang Jenis Rencana Usaha Dan/Atau Kegiatan Yang Wajib Memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup

Tabel 6.24. Jenis-jenis kegiatan yang wajib dilengkapi UKL dan UPL

No. Jenis Usaha/Kegiatan Satuan Skala /besaran

1. Pembangunan/Peningkatan Jalan (termasuk Jalan Tol) yang membutuhkan pengadaan tanah di luar rumija (ruang milik jalan)

a. Di kota metropolitan/besar - Panjang; atau Sumber: Permen No. 13 thn 2010-UKL-UP

Dampak lingkungan yang diidentifikasi akan timbul pada pelaksanaan konstruksi jalan antara lain:

A. Perubahan Drainase Alami

Perubahan drainase alami terjadi karena kegiatan penimbunan dan urugan jalan. Perubahan drainase alam akan berdampak kepada vegetasi tanah

pertanian yang mengalami perendaman secara periodik. Sebagai akibatnya akan terbentuk dan terbentuk wilayah banjir (terendam) yang baru. Apabila wilayah rendaman baru akan bagian pertanian, maka akan menimbulkan kerusakan pada vegetasi tanah pertanian yang terendam. Pada tahap awal akan mengganggu ekosistem yang terdapat di lahan pertanian tersebut. Luas dampak terhadap perubahan drainase alami belum diketahui saat ini.

B. Pembersihan Lahan

Pembanguanan jalan akan memerlukan pembersihan lahan (land clearing), sekurang- kurangnya sepanjang ROW koridor jalan. Vegetasi yang akan terkena adalah tanah pertanian, tanah ladang, semak belukar dan hutan.

Pembukaan hutan pada tahap awal kemungkinan akan berkembangnya populasi nyamuk .

C. Perubahan Aksesibilitas

Pembangunan ruas jalan (jalur) Pontolo-Ombulodata-Molingkapoto (Segmen 1) dan ruas jalan (jalur) Molingkapoto-Moluo (Segmen 2) Kabupaten Gorontalo Utara akan meningkatkan aksesibilitas disekitar koridor pada khususnya dan pergerakan penumpang/barang di Provinsi Nanggroe aceh Darussalam pada umunya. Peningkatan aksesibilitas ini akan merangsang pertumbuhan ekonomi yang terdapat di wilayah tersebut.

D. Perubahan Gaya Hidup

Pada umumnya adanya kehadiran pekerja pendatang dengan latar belakang budaya yang berbeda ke suatu wilayah akan mengubah gaya hidup masyarakat tempatan. Dampak yang ditimbulkan adalah kemungkinan masyarakat menjadi lebih konsumtif dari pada sebelumnya. Akan tetapi di wilayah ini dampak yang ditimbulkan adanya kehadiran pendatang kemungkinan tidak akan menimbulkan persoalan-persoalan sosial. Karena masyarakat di wilayah ini di sebagian besar wilayah yang akan terhubungi melalui transportasi darat tersebut telah biasa dengan kahadiran pendatang dari luar, dengan latar belakang budaya yang berbeda.

Selain-selain dampak-dampak yang telah disebutkan di atas, beberapa kegiatan pendukung yang berkaitan dengan Pembanguanan jalan tersebut yang diperkirakan akan menimbulkan dampak adalah sebagai berikut:

1. Penyediaan batuan/tanah timbunan untuk badan jalan, 2. Pengangkutan batuan/tanah timbunan untuk badan jalan,

3. Beberapa dampak lain yang akan timbul pada saat kegiatan kegiatan pasca konstruksi atau pada saat pengoperasian jalan yang terjadi di antaranya adalah peningkatan kandungan hidrokarbon/debu pada saat pelaksanaan konstruksi dilaksanakan.

Secara umum, potensi dampak yang kemungkinan akan timbul sebagai

akibat rencana kegiatan Pembanguanan jalan lintas ini masih terindentifikasi secara kualitatif. Secara spesifik, kuantifikasi dampak yang kemungkinan akan timbul belum dikaji, terutama berkaitan dengan besarnya dampak, lamanya dampak, dan sifat dampak. Atas pertimbangan tersebut pada bagian kajian dampak lingkungan untuk pelaksanaan Pembanguanan jalan lintas ini diarahkan untuk menentukan komponen lingkungan yang memerlukan pengkajian lebih lanjut pada tahap studi AMDAL.

E. Pengembangan Quarry

Pengembangan quarry merupakan kegiatan pendukung dalam rangka Pembanguanan jalan tersebut. Lokasi quarry yang direncanakan berada pada daerah-daerah yang memiliki kandungan material yang cukup besar yang terdekat dengan ruas jalan akan ditingkatkan tersebut. Dampak pengembangan quarry ini, adalah peningkatan tingkat erosi yang akan terjadi pada lokasi quarry.

Dalam hal ini perlu diketahui tingkat erosi atau erodibilitas lahan lokasi quarry yang direncanakan, mengingat curah hujan yang tinggi. Dalam hal ini perlu dilakukan pengkajian yang lebih khsus mengenai karakterisktik geologi lokasi quarry, dan kefungsian lokasi quarry tersebut secara kawasan.

Ringkasan kajian dampak dan komponen lingkungan yang perlu mendapatkan kajian lebih lanjut dapat dilihat pada Tabel 6.25 berikut.

Tabel 6.25. Ringkasan Kajian Awal Dampak Lingkungan Pada Pembanguanan ruas jalan (jalur) Pontolo-Ombulodata-Molingkapoto

(Segmen 1) dan ruas jalan (jalur) Molingkapoto-Moluo (Segmen 2) Kabupaten Gorontalo Utara

koridor jalan kajian 1. Penyelarasan rancangan teknik dengan drainase alami

1. Pusat-pusat pertumbuhan atau kegiatan yang memungkinkan penyebab terjadi perubahan

2. Jenis vegetasi hutan dan pertanian yang terdapat sepanjang jalur koridor

1. Menciptakan pusat-pusat pertumbuhan untuk peningkatan mobilitas

2. Mendorong pertumbuhan pada kegiatan sektor pertanian/perkebunan

Perubahan gaya

hidup Mobilitas dan perilaku penduduk yang berdiam di sekitar rute jalan yang akan dibangun

Menciptakan pusat-pusat pertum-buhan untuk peningkatan mobilitas Pengembangan

quary 1. Karakteristik geologi lokasi quary yang direncanakan

2. Keanekaragaman hayati quary yang direncanakan

Merencanakan pemanfaatan lokasi quary, pada tahap pasca penambangan

Bagian Penutup

Kesimpulan Dan Rekomendasi

8.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil studi kelayakan pembangunan infrastruktur jalan ini maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Dari aspek pengembangan wilayah manfaat yang diperoleh dari Pembangunan infrastruktur jalan Pontolo-Ombulodata-Molingapoto (Segmen 1) dan ruas jalan (jalur) Molingkapoto-Moluo (Segmen 2) Gorontalo Utara adalah

a) Dapat menjadi jaringan Utama yang menghubungkan wilayah-wilayah pengembangan (PKL) seperti Kwandang, Angrek, Tomilito, Gentuma Raya dan Isimu (Kabupaten Gorontalo).Meningkatkan aksesibilitas dari/ke dari wilayah bagian utara ke bagian selatan maupun sebaliknya.

b) Dapat Meningkatkan aksesibilitas hubungan antar wilayah yaitu serta pemicu pengembangan wilayah khususnya pada wilayah-wilayah yang berlum berkembang seperti di wilayah pelabuhan anggrek, pelabuhan kwandang, pesisir barat dan wilayah tengah.

c) Ketersediaan jaringan jalan akan serta merta berimplikasi pada peningkatan produksi, pertumbuhan ekonomi yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan perkapita.

d) Pembangunan jalan baru ini akan dapat memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap penghematan waktu dari kondisi.

2. Dari segi teknis trase rencana ruas jalan (jalur) Pontolo-Ombulodata-Molingapoto alternatif 1 (Segmen 1) dan ruas jalan (jalur) Molingkapoto-Moluo (Segmen 2) lebih layak untuk dilakukan.

3. Dari hasil analisis kelayakan ekonomi diatas terlihat bahwa ruas jalan (jalur) Pontolo-Ombulodata-Molingapoto (Segmen 1) - Molingkapoto-Moluo (Segmen 2) memberikan nilai IRR yakni 21,45%. Tetapi penanganan tersebut tidak hanya mengacu terhadap variabel-variabel ekonomi saja tetapi bisa juga ditinjau dari sisi lain seperti meningkatkan aksesibilitas dan mobilitas di wilayah-wilayah yang selama ini terisolasi.

4. Berdasarkan analisis ekonomi dengan perhitungan nilai investasi, nilai NPV, nilai IRR dan nilai Net B/C disertai pay back period selama 15 tahun pada nilai DS 10%, dan 15% disimpulkan pembangunan infrastruktur jalan

segmen 1 dan segmen 2 layak dilaksanakan.

5. Biaya pembangunan awal non konstruksi (tahun 2016-2017) ruas Pontolo-Ombulodata-Molingkapoto-Moluo (Segmen 1 alternatif 1 + segmen 2) dengan panjang jalan ±11.950m (11,950KM), diperoleh estimasi biaya sebesar Rp 166.380.351.824,27.

6. Berdasarkan analisis lingkungan, sosial dan budaya dengan berbagai pertimbangan dan usulan mengenai dampak lingkungan yang berpotensi muncul dengan pembangunan infrastruktur ruas jalan (jalur) Pontolo-Ombulodata-Molingapoto (Segmen 1) dan ruas jalan (jalur) Molingkapoto-Moluo (Segmen 2) layak untuk dilaksanakan.

7. Berdasarkan berbagai kajian baik dari aspek teknis, aspek ekonomi dan lingkungan, social-budaya tersebut maka dapat disimpulkan pembangunan ruas jalan (jalur) Pontolo-Ombulodata-Molingapoto (Segmen 1) dan ruas jalan (jalur) Molingkapoto-Moluo (Segmen 2) di Kabupaten Gorontalo Utara layak untuk dilaksanakan.

8.2 Rekomendasi

Berdasarkan hasil kajian, analisis dan kesimpulan tersebut di atas, beberapa program yang dapat diusulkan berkaitan dengan pembangunan ruas jalan (jalur) Pontolo-Ombulodata-Molingapoto (Segmen 1) dan ruas jalan (jalur) Molingkapoto-Moluo (Segmen 2) di Kabupaten Gorontalo Utara antara lain:

1. Bila ditinjau dari segi manfaat, baik langsung maupun tidak langsung, maka p e m b a n gun a n ruas jalan (jalur) Pontolo-Ombulodata-Molingapoto (Segmen 1) dan ruas jalan (jalur) Molingkapoto-Moluo (Segmen 2) di Kabupaten Gorontalo Utara ini sangat layak untuk dilaksanakan. Komponen manfaat langsung antara lain penghematan biaya operasi kendaraan (BOK), penghematan waktu tempuh perjalanan yang dikonversi dengan nilai waktu serta peningkatan jumlah komoditas yang dihasilkan daerah tersebut dan dijual keluar daerah maupun komoditas yang didatangkan ke daerah tersebut dari luar daerah. Direkomendasikan adanya penanganan jalan lintas tersebut agar terjadi perbaikan dalam kinerja operasi angkutan yang antara lain ditunjukkan dengan peningkatan kecepatan atau penurunan waktu perjalanan yang selanjutnya akan mengurangi biaya transportasi komoditas. Sedangkan komponen manfaat tidak langsung yang juga perlu diperhitungkan adalah komponen manfaat yang sifatnya kualitatif seperti peningkatan pelayanan umum dan aktivitas sosial lainnya.

Peningkatan pelayanan tersebut sejalan dengan peningkatan aksesibilitas daerah yang ditimbulkan akibat penanganan ruas jalan sehingga secara umum akan meningkatkan taraf hidup masyarakat yang berada disepanjang

ruas jalan (jalur) Pontolo-Ombulodata-Molingapoto (Segmen 1) dan ruas jalan (jalur) Molingkapoto-Moluo (Segmen 2).

2. Penyusunan Detail Engineering Design (DED) p e m b a n gu n an ruas jalan (jalur) Pontolo-Ombulodata-Molingapoto (Segmen 1) dan ruas jalan (jalur) Molingkapoto-Moluo (Segmen 2) di Kabupaten Gorontalo Utara

3. Sosialisasi pada masyarakat sekitar.

Daftar Pustaka

AASHTO, 1993 Guide for Design of Pavement Structure

AASHTO, 2004, A Policy on Geometric Design of Highways and Streets

Badan Pusat Statistik, 2014, Kabupaten Gorontalo Utara Dalam Angka, Kabupaten Gorontalo Utara

Banks, J. H., 2011, Introduction to Transportation Engineering, McGrawHill, New York

Departemen Pekerjaan Umum, 1970, Pedoman Perencanaan Geometrik Jalan, tahun, 1970, Ditjen Bina Marga, Jakarta

Departemen Pekerjaan Umum, 1997, Spesifikasi Standar untuk Perencanaan Geometrik Jalan Luar Kota (Rancangan Akhir) Bina Marga, Tahun 1997, Ditjen Bina Marga, Jakarta.

Departemen Pekerjaan Umum, 1997, Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota, Tahun 1997, Ditjen Bina Marga, Jakarta.

Departemen Pekerjaan Umum, 2004, Pedoman Perencanaan Geometrik Jalan Perkotaan No. RSNI T-14-2004, Ditjen Bina Marga, Jakarta.

Pemerintah Daerah Provinsi Gorontalo, 2009, Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Gorontalo a Tahun 2009-2029, Provinsi Gorontalo: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA)

Pemerintah Daerah Kabupaten Gorontalo Utara, 2011, Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Gorontalo Utara Tahun 2011-2031, Kabupaten Gorontalo Utara: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Republik Indonesia, 2004, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun

2004, tentang Jalan, Jakarta

Republik Indonesia, 2006, Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor km 14 Tahun 2006, tentang Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas di Jalan, Jakarta

Republik Indonesia, 2006, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2006, tentang Jalan, Jakarta

Republik Indonesia, 2007, Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2007, tentang Kendaraan Pengangkut Peti Kemas Di Jalan, Jakarta

Republik Indonesia, 2009, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009, tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Jakarta

Republik Indonesia, 2010, Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 14 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimum Jalan, Jakarta

Republik Indonesia, 2010, Jalan Berkeselamatan di Indonesia, Kemitraan Australia-Indonesia dalam Rekayasa Keselamatan Jalan, 2010, Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta

Republik Indonesia, 2011, Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor 19/PRT//M/Tahun 2011, tentang Persyaratan Teknis Jalan dan Kriteria Perencanaan Teknis Jalan, Jakarta

Republik Indonesia, 2012, Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor 03/PRT//M/Tahun 2012 tentang Pedoman Penetapan Fungsi Jalan dan Status Jalan, Jakarta

Republik Indonesia, 2015, Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2015 tentang Ruang Bebas Minimum Pada Saluran Udara Tegangan Tinggi, Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi, dan Saluran Udara Tegangan Tinggi Arus Searah Untuk Penyaluran Tenaga Listrik, Jakarta

Tuloli, M.Y., Kaharu, A., 2016, Analisis Kelayakan Ekonomi Pembangunan Jalan Pontolo – Ombulodata – Molingkapoto – Moluo Di Kabupeten Gorontalo Utara, Prosiding Seminar Nasional ART, Sains, dan Teknologi, Gorontalo 23 Nopember 2016, ISBN: 978-602-6204-06-6, ha.l:123-134