• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. ANALISIS KAWASAN PERBATASAN DAN LINTAS BATAS

5.2 Analisis Lintas Batas Kabupaten Kapuas Hulu Sarawak (Malaysia)

5.2.1.1 Analisis Tingkat Interaksi dan Aktifitas Lintas Batas

Analisis interaksi dilakukan untuk melihat hubungan interaksi yang terjadi antar kecamatan diperbatasan dengan distrik terdekat diwilayah Malaysia. Untuk mengukur kekuatan nteraksi antar kawasan digunakan model interaksi W.J. Reilly Adapun persyaratan tersebut antara lain.(a). Kondisi sosial-ekonomi, tingkat pendidikan, mata pencarian, mobilitas, dan kondisi sosial-budaya penduduk relatif memiliki kesamaan, (b) Kondisi alam setiap wilayah relatif sama, (c) Keadaan sarana dan prasarana transportasi yang menghubungkan wilayah-wilayah yang dibandingkan relatif sama. Kekuatan interaksi di ukur dengan melihat faktor jumlah penduduk dan jarak antara kedua wilayahpersyaratan tertentu. Hasil analisis kekuatan interaksi antar kecamatan diperbatasan Indonesia dengan Lubuk Antu (Malaysia) tertera pada Tabel 27.

Tabel 27 Indeks interaksi kecamatan di kawasan perbatasan dengan Malaysia

No Nama Kecamatan 1 2 3 4 5 6 7 8 1 Putussibau Selatan 0.9 0.6 1.4 2.1 3.1 447.5 5.1 2 Empanang 0.9 81.7 31.4 6.7 2.8 1.0 80.3 3 Puring Kencana 0.6 81.7 12.7 3.2 1.7 0.7 36.8 4 Badau 1.4 31.4 12.7 26.2 6.3 1.6 1589.7 5 Batang Lupar 2.1 6.7 3.6 26.2 23.5 2.4 66.4 6 Embaloh Hulu 3.1 2.8 1.7 6.3 23.5 3.3 20.0 7 Putussibau Utara 447.5 1.0 0.7 6.6 2.4 19.0 5.7 8 Lubuk Antu (Malaysia) 5.1 80.3 36.8 1589.7 66.4 20.0 5.7

5.2.1.2Analisis Aktifitas Lintas Batas

Untuk mengetahui jenis hubungan interaksi yang terjadi dilakukan pengamatan dan wawancara mendalam (In-depth Interview). Tujuan dari wawancara mendalam adalah memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman wawancara dimana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama (Sutopo, 2006).

Informan atau nara sumber dalam wawancara ini camat ditujuh kecamatan perbatasan, petugas imigrasi PLB Badau, Petugas Bea Cukai PLB Badau, Petugas Dinas Perhubungan PLB Badau, Temenggung (ketua adat) dayak iban lanjak, tokoh masyarakat serta warga negara malaysia. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara maka diketahui terdapat interaksi yang telah terjadi interaksi antara kecamatan di perbatasan dengan kawasan di Malaysia. Interaksi tersebut tercermin dalam kegiatan lintas batas yang dilakukan yaitu interaksi secara sosial-budaya, ekonomi (perdagangan lintas batas), penyediaan infrastruktur/sarana dan prasarana serta transportasi. Interaksi yang terjadi telah berlangsung cukup lama dan ditunjang oleh hubungan kekerabatan yang kuat antar penduduk dikedua negara. Gambar 28 dan Tabel 28 menjelaskan mengenai analisi hubungan interaksi yang terjadi di kawasan perbatasan.

Gambar 28 Analisis bentuk interaksi lintas batas Indonesia-Malaysia

Tabel 28 Analisis aktvitas lintas batas indonesia-malaysia di Kabupaten Kapuas Hulu

No Kecamatan Analisis bentuk Aktivitas Lintas Batas

Putussibau Selatan

Kecamatan Putussibau Selatan merupakan kecamatan dengan jarak terjauh dari Pos Lintas Batas Badau yaitu ±155 Km dengan waktu tempuh ±4-5jam. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara diketahui interaksi yang terjadi antara Kecamatan Putussibau Selatan dengan wilayah Malaysia cukup rendah. Interaksi terjadi tidak cukup kuat karena jarak yang cukup jauh. Masyarakat kawasan perbatasan merupakan satu rumpun dengan Malaysia dengan suku utama dayak dan melayu. Interaksi sosial-

No Kecamatan Analisis bentuk Aktivitas Lintas Batas

budaya dikecamatan Putussibau Selatan tidak terlalu kuat dibandingkan dengan kecamatan lain diperbatsa. Hal ini dikarenaka suku yang mendiami kecamatan putussibau selatan mayoritas suku melayu, suku yang mendominasi wilayah pintu lintas batas dan Malaysia adalah suku dayak. Interaksi dalam pemenuhan pelayanan sarana dan prasaranan seperti pendidikan dan kesehatan juga tidak terlalu kuat. Pemenuhan pelayanan kesehatan berupa rujukan pengobatan ke wilayah Malaysia. Interaksi perdagangan lintas batas juga tidak cukup kuat karena aspek legal hukum perdagangan antara negara terbatas sehingga barang dagangan dari Malaysia tidak terlalu bebas di pasaran kecamatan putussibau selatan. Saat ini interaksi yang mulai tumbuh adalah aktifitas wisata ke wilayah Malaysia. Seiring akses jalan yang semakin membaik maka terjadi peningkatan wisatawan ke wilayah Malaysia. Hubungan interaksi ditunjang dengan adanya moda transportasi yang terkoneksi dengan wilayah Malaysia. Moda ini menggunakan kendaraan pribadi yang dijadikan mobil rental/taxi untuk menjangkau wilayah Malaysia.

Bentuk interaksi : Sosial –Budaya (Budaya,Kesehatan, Wisata), Transportasi,Telekomunikasi

Putussibau Utara

Kecamatan Putussibau Utara adalah ibukota Kabupatan Kapuas Hulu. Kecamatan Putussibau utara memiliki jarak yang cukup jauh ke pintu lintas batas (PLB) di kecamatan Badau yaitu ±144km dengan waktu tempuh ±4-5 Jam. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara maka diketahui interaksi yang terjadi antara Kecamatan Putussibau Utara dengan wilayah Malaysia hampir sama dengan kecamatan putussibau selatan yaitu interaksi yang terjadi cukup rendah. Interaksi terjadi rendah karena jarak yang cukup jauh. Interaksi sosial yang terjadi tidak cukup kuat karena kecamatan putussibau selatan didominasi suku melayu, sedangkan suku yang mendominasi wilayah pintu lintas batas dan Malaysia adalah suku Dayak. Kegiatan perdagangan lintas batas dikecamatan Putussibau Utara juga tidak kuat dikarenakan pasokan kebutuhan pokok berasal dari Pontianak (Ibukota Provinsi). Peredaran produk malaysia di Kecamatan Putussibau Utara dibatasi oleh aspek legal hukum perdagangan antara negara sehingga barang dagangan dari Malaysia tidak bebas dipasarkan di Kecamatan Putussibau Utara. Hubungan interaksi ditunjang dengan adanya moda transportasi yang terkoneksi dengan wilayah Malaysia. Moda ini menggunakan kendaraan pribadi yang dijadikan mobil rental/taxi untuk menjangkau wilayah Malaysia. Seiring aksessibilitas yang semakin membaik maka terjadi peningkatan kunjungan wisatawan ke wilayah Malaysia.

Bentuk interaksi : Sosial –Budaya (Budaya,Kesehatan, Wisata), Transportasi, Telekomunikasi

No Kecamatan Analisis bentuk Aktivitas Lintas Batas

Embaloh Hulu

Kecamatan Embaloh Hulu memiliki interaksi yang cukup kuat dengan distrik yang berada di wilayah Malaysia. Interaksi terjadi karena faktor jarak yang cukup dekat dan adanya kesamaan rumpun suku dayak yang mendiami Kecamatan Embaloh Hulu. Interaksi terjadi pada sektor ekonomi melalui adanya produk produk yang berasal dari Malaysia.Hal ini terjadi akibat lemahnya pengawasan di kawasan perbatasan sehingga produk produk Malaysia bisa masuk dipasaran Indonesia secara illegal. Interaksi antar kawasan diperbatasan didukung adanya mobilitas dengan menggunakan kendaraan pribadi (roda dua/roda empat) yang dijadikan mobil rental/taxi untuk menjangkau wilayah Malaysia. Pemanfaatan peluang dalam hubungan interaksi adalah peningkatan hubungan kerjasama secara social-budaya serta perdagangan lintas batas melalui ekspor produk Indonesia ke Malaysia berupa hasil Sumber Daya Alam (SDM) contoh produk perkebunan (lada), Perikanan serta hasil kerajinan.

Bentuk interaksi : Sosial –Budaya (Budaya,Kesehatan, Wisata), Transportai, Telekomunikasi, Perdagangan Lintas Batas

Puring Kencana

Kecamatan Puring Kencana memiliki kedekatan geografis dan sosial budaya yang cukup kuat melalui kesamaan rumpun suku “Dayak” dengan wilayah Malaysia. Kedekatan tersebut mempengaruhi tingkat interaksi dan aktifitas yang terjadi di kawasan diperbatasan. Interaksi yang terjadi cukup beragam dan kuat yaitu interaksi sosial budaya, ekonomi, sarana dan prasarana, transportasi. Interaksi ekonomi cukup kuat berupa beradarnya produk kebutuhan pokok yang berasal dari Malaysia. Komoditas tersebut di impor secara ilegal ke wilayah Indonesia melalui jalur tikus. Dalam menujang konektifitas antara kawasan digunakan kendaraan roda dua dan roda empat. Berdasarkan wawancara diketahui bahwa terdapat anak usia sekolah, terutama sekolah dasar yang bersekolah di Malaysia. Kegiatan ini akhirnya menimbulkan persoalahan administrasi dan pengakuan izasah sehingga menghambat anak untuk melanjutkan pendidikanya di wilayah Indonesia maupun Malaysia. Pada sektor pelayanan kesehatan beberapa masyarakat hingga saat ini masih menjadikan Malaysia sebagai rujukan bagi penanganan kesehatan dan pengobatan. Namun demikian hal tersebut sudah semakin berkurang dengan adanya pelayanan kesehatan melalui Rumah Sakit Bergerak. Ketersediaan pos lintas batas tradisional di Puring Kencana mendukung aktifitas lintas batas namun demikian belum secara resmi dibangun dan dibuka sebagai Pos lintas Batas yang memiliki fasilitas CIQS. Sehinga pelayanan lintas batas dilakukan secara tradisional serta melalui jalur jalur tidak resmi “jalur tikus”.

No Kecamatan Analisis bentuk Aktivitas Lintas Batas

Bentuk interaksi: Sosial –Budaya (Budaya,Kesehatan, Wisata), Transportasi (Kendaraan Roda Dua-Empat), Sarana dan Prasarana(telekomunikasi), Perdagangan Lintas Batas

Batang Lupar

Kecamatan Batang Lupar memiliki interaksi dengan distrik yang berada di wilayah Malaysia. Interaksi terjadi cukup kuat karena faktor jarak yang cukup dekat yaitu ±38 km ke pintu gerbang perbatasan di kecamatan Badau. Interaksi terjadi pada sektor ekonomi melalui pemenuhan kebutuhan barang atau produk dari yang berasal dari Malaysia.Hal ini terjadi akibat lemahnya pengawasan di kawasan perbatasan sehingga produk produk Malaysia masuk dipasaran Indonesia secara illegal. Interaksi antar kawasan diperbatasan didukung adanya mobilitas dengan menggunakan kendaraan pribadi (roda dua atau roda empat) serta mobil rental/taxi dengan intensitas yang terbatas. Aktifitas wisata alam di kecamatan Batang Lupar sudah mulai terbuka dengan adanya potensi Danau Sentarum sebagai embrio bagi pengembangan wisata alam yang menarik bagi wisatawan asal Malaysia.

Bentuk interaksi : Sosial –Budaya (Budaya,Kesehatan, Wisata), Transportasi (Kendaraan Roda Dua-Empat), Sarana dan Prasarana (telekomunikasi), Perdagangan Lintas Batas.

Empanang Kecamatan Empanang tidak mempunyai garis batas secara langsung dengan Malaysia namun secara geografi berada dekat dengan wilayah Malaysia yaitu ± 39 km dari PLB Badau. Interaksi yang terjadi cukup beragam antara lain interaksi sosial budaya, ekonomi, sarana dan prasarana, transportasi. Interaksi ekonomi cukup kuat berupa pemenuhan kebutuhan atau barang yang berasal dari Malaysia. Komoditas di impor secara ilegal ke wilayah Indonesia melalui jalur tikus. Komoditas ekspor ke Malaysia berupa hasil Sumber Daya Alam dengan nilai ekspor yang rendah. Dalam menujang konektifitas antara kawasan menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat.hal ini terlihat dengan banyaknya kendaraan Malaysia yang melewati kecamatan empanang. Pada sector pelayanan pendidikan dan kesehatan juga terjadi interaksi yaitu adanya pemenuhan fasilitas kesehatan dan pendidikan ke wilayah Malaysia. Anak usia sekolah terutama sekolah dasar ada yang bersekolah di Malaysia namun saat ini sudah jauh berkurang dikarenakan faktor legalisasi izasah. Pada sektor pelayanan kesehatan beberapa masyarakat hingga saat ini masih menjadikan Malaysia sebagai rujukan bagi penanganan kesehatan dan pengobatan yang lebih baik namun saat ini jauh berkurang dengan keberadaan puskesmas dan pelayanan Rumah Sakit Bergerak di kecamatan Badau.

No Kecamatan Analisis bentuk Aktivitas Lintas Batas

Bentuk interaksi : Sosial –Budaya (Budaya,Kesehatan, Wisata), Transportasi (Kendaraan Roda Dua-Empat), Sarana dan Prasarana(telekomunikasi), Perdagangan Lintas Batas.

Badau Kecamatan Badau merupakan pintu gerbang perbatasan Indonesia dan Malaysia. Secara geografis letak kecamatan Badau sangat dekat wilayah Malaysia yaitu Lubuk Antu. Interaksi antara kecamatan Badau dengan wilayah Malaysia cukup kuat yang ditunjang keberadaan Pos Lintas Batas (PLB) yang memiliki pelayan CIQS. Setiap harinya terjadi aktifitas pelintas batas yang melewati pos ini. Keterakaitan Badau dengan wilayah Malaysia terlihat dengan hubungan social dan kekerabatan yang cukup erat. Interaksi perdagangan juga juga berlangsung cukup kuat, salah satunya melalui pemenuhan kebutuhan produk-produk yang berasal dari Malaysia. Pada pasar pasar dan toko di Kecamatan Badau banyak terdapat produk produk Malaysia yang dipasok secara legal maupun illegal kewilayah Indonesia. Ketergantungan kecamatan badau dengan wilayah Malaysia adalah pasokan energy listrik dari Perusahaan Listrik Malaysia.

Bentuk interaksi : Sosial –Budaya (Budaya,Kesehatan, Wisata), Transportasi (Kendaraan Roda Dua-Empat), Sarana dan Prasarana (listrik telekomunikasi), Perdagangan Lintas Batas.

5.2.2 Persepsi Hubungan Kerjasama Dalam Pengelolaan Lintas Batas

Untuk mengetahui prioritas hubungan kerjasama dalam pengelolaan litas batas diketahui dengan cara melakukan penilaian dengan penentuan skoring atas jawaban yang didapatkan melalui Analytic Hierarchy Process (AHP). Semakin tinggi nilai yang diperoleh menandakan bahwa faktor tersebut lebih diprioritas dibandingkan dengan faktor lain yang memiliki nilai lebih rendah. Nilai dari tiap jawaban responden kemudian dirata-ratakan sehingga diperoleh nilai persepsi hubungan kerjasama dalam pengelolaan lintas batas. Pengumpulkan informasi dilakukan dengan wawancara mendalam kepada stakeholder terkait, antara lain: pemerintah daerah: BAPPEDA Kabupaten Kapuas Hulu, Badan Pengelola Perbatasan Daerah (BPPD) Kabupaten Kapuas Hulu, Unsur NGO: WWF Indonesia-Kabupaten Kapuas Hulu, Masyarakat: Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Kapuas Hulu, Temenggung Adat (Ketua Adat ) Dayak Iban Lanjak”. Berdasarkan perspektif responden yang dianalisa dengan metode AHP maka diketahui persepsi kerjasama lintas batas yang menjadi prioritas stakholder terlihat pada Gambar 29 dan Gambar 30.

Gambar 29 Analisis AHP untuk Persepsi pengembangan lintas batas di Kabupaten Kapuas Hulu

Gambar 30 Proses Wawancara Expert

Persepsi Hubungan Kerjasama dalam pengelolaan lintas batas di Kabupaten Kapuas Hulu memberikan gambaran mengenai prioritas hubungan dan kerjasama di kawasan Perbatasan Kabupate Kapuas Hulu. Prioritas hubungan kerjsama pengelolaan berdasarkan aspek kelembagaan dan kebijakan adalah prosedur lintas batas (0,98), perdagangan lintas batas (0,96), Badan Pengelola perbatasan (0,85), Investasi dan pelayanan fasilitas (0,82), transportasi regional (0,71), pengelolaan SDA (0,66).

Hubungan kerjsama dan dalam prosedur lintas batas dan perdagangan lintas batas menjadi penting karena terkait kondisi perdagangan di kawasan perbatsan saat ini. Belum ada prosedur yang baru dalam mengatur perdagangan lintas batas yaitu adanya pembatasan nilai barang yang diperjualbelikan. Hal ini memunculkan adanya perdagangan gelap melalui pintu tikus. Oleh karena itu perlu segera diatur mengenai prosedur lintas batas dan perdagangan lintas batas.

Prioritas pada aspek batas wilayah negara adalah penegakan hukum (1,87), peningkatan pertahanan dan keamanan (1,61), penetapan dan penegasan garis batas (1,51), penegakan hokum menjadi prioritas dikarenakan masih terdapat pelanggaran humum di lintas batas, sedangkan aspek pertahanan dan keamanan dan penetapan dan penegasan garis batas dipandang belum menjadi prioritas utama di daerah. Sebaliknya yang terjadi di level pemerintah pusat hal ini menjadi isu utama dalam aspek batas wilayah negara. Prioritas pada aspek infrastruktur adalah pos lintas batas (1,82), transportasi (1,39), energi (1,15), teknologi informasi dan komunikasi (0,62). Pos Lintas menjadi prioritas utama karena menjadi pintu gerbang tempat keluar masuknya masyarakat dikedua negara. Saat ini Pos Lintas Batas yang memiliki pelayan CIQS hanya tersedia di Kecamatan Badau. Berdasarkan kesepakatan kedua negara beberapa pos lintas batas salah satunya di Kecamatan Puring Kencana. Adanya pos lintas batas akan lebih mengefektifikan interaksi dan hubungan lintas batas kedua negara.

Prioritas berdasarkan aspek konektifitas manusia (people conectivity) adalah Sosial Budaya (1,53), Wisata (1,34), Kesehatan (1,23) dan pendidikan(0,90). Hubungan kerjasama Sosial daan Budaya telah terjalin sejak lama bai secara formal maupun non formal. Masyarakat dikedua negara merupakan rumpun yang sama sehingga mempunyai kondisi social budata dan adat istiadat yang tidak jauh berbeda. Hubungan kerjasam social budaya di pandang menjadi prioritas untuk mempererat hubungan kedua negara. Dengan membuka hubungan secara sosial budaya maka akan dengan mudah membuka hubungan formal antar kedua negara.Selanjutnya hubungan kedua negara yang menjadi prioritas adalah kesehatan dan pendidikan. Secara non formal kedua hubungan ini sudah sejak lama dilakukan. Agar hubungan ini memberikan manfaat dan tidak merugikan masyarakat dikedua negara maka perlu adannya peningkatan hubungan kerjasama secara formal yang dapat mengatur sektor pendidikan dan kesehatan dikedua negara.

Dokumen terkait