II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KEBIJAKAN
2.2 Tinjauan Kebijakan
2.2.2 Perjanjian dan Kerjasama Indonesia-Malaysia
Kerjasama Indonesia dan Malaysia sebagai negara tetangga sangat strategis dalam mengatur norma dan hubungan kedua negara. Perjanjian tersebut telah mengatur berbagai aspek antara lain batas wilayah negara dan pelintas batas. Beberapa kerjasama yang telah terjalin antar kedua negara tertuang dalam memorandum dan pernyataan bersama diberbagai bidang kerjasama antara lain pertanian, pemuda dan olah raga, pendidikan, pariwisata, sosial dan kesejahteraan, survey dan demarkasi, telekomunikasi, komoditas, tenga kerja dan transportasi.
Selain kerjasama diatas terdapat kerjasama penuntasan permasalahan perbatasan darat RI-Malaysia yang selama ini ditangani oleh tiga lembaga yaitu: (a) General Border Committee (GBC) RI-Malaysia dikoordinasikan oleh Kementerian Pertahanan; (b) Joint CommissionMeeting (JCM) RI-Malaysia, dikoordinasikan oleh Kementerian Luar Negeri; dan (c) Sub Komisi Teknis Survey dan Demarkasi dikoordinasikan oleh Kementerian Dalam Negeri. Adapun Untuk penanganan masalah outstanding border poblems (OBP), telah dibentuk Kelompok Kerja Bersama (Joint Working Group) antara kedua negara. Kerjasama batas RI-Malaysia untuk perbatasan darat dan laut. Tabel 2 menunjukan kerjasama terkait batas wilayah negara dan lintas batas Indonesia dan Malaysia
Tabel 2 Perjanjian batas wilayah negara dan lintas batas Indonesia-Malaysia Jenis
Perjanjian
Perjanjian dan
Kerjasama Arahan Subtansi
Perjanjian Batas Negara (Darat)
Traktat 1891 Ditanda tangani tahun 20 Juni 1891 oleh Duta Besar Penuh Berkuasa Penuh Kerajaan Belansa C. Van Bylandt dan Menteri Luar Negeri Inggris Salys Burry. Kemudia traktat ini di ratifikasi melalui piagam dengan Undang-Undang kemudian Piagam Ratifikasi pada tanggal 11 mei 1892
Traktat 1915 Penegasan bersama dilakukan kedua belah pihak dilakukan dengan melakukan survey dan pengukuran bersama berdasarkan traktat 1891 dan di tanda tangani di Tawao
kemudian dikukuhkan di London 1915 Pemerintah Belanda menindaklanjuti
keputusan tersebut melalui keputusan Gubernur Jendral Nomor 28 tanggal 27 Januari 1969
1928 Ditanda tangani Kerajaan Belanda dan Inggris berkaitan dengan batas wilayah di Pulau Borneo yang ditanda tangani di Den Haag pada tanggal 16 Maret 1928
Traktat mengatur mengenai kawasan perbatasan di Jagoi antara gunung api dan gunung raya
Pada tanggal 6 Agustus 1930 traktat 1928 di ratifikasi oleh masing masing Negara melalui
Jenis Perjanjian
Perjanjian dan
Kerjasama Arahan Subtansi
undang undang Perjanjian Lintas Batas Agreement on Border Trade between the Government Republic of Indonesia and the Government of Malaysia, Jakarta 24 Agustus 1970
Memudahkan masyarakat di kedua Negara di kawasan perbatasan untuk dapat memenuhi kebutuhan pokok
Nilai barang/produk yang dapat
dibawa/diangkut melalui perdagangan lintas batas di kawasan perbatasan darat oleh penduduk kedua Negara tidak melebihi RM 600/orang/bulan, sedangkan melalui kawasan perbatasan laut/pesisir dapat dilakukan dengan menggunakan kapal terdaftar pada pemerintah lokal masing- masing pihak, dengan ukuran tonase kapal 20 m3 (gross), dan nilai barang/produk yang dibawa/diangkut tidak lebih dari RM 600 setiap kali jalan.
Jenis barang/produk yang diperdagangkan, dari pihak Indonesia mencakup hasil pertanian maupun lainnya, tidak termasuk minyak, mineral dan bijih tambang. Sementara, dari pihak Malaysia mencakup barang kebutuhan hidup sehari-hari (pokok) serta peralatan/perlengkapan untuk keperluan industri skala terbatas (sederhana).
Persetujuan Lintas Batas yang ditandatangani di Bukittinggi tanggal 12 Januari 2006
masuknya ke daerah perbatasan Indonesia atau daerah perbatasan Malaysia keperluan tersebut di bawah ini:
a) Kunjungan keluarga; b) Kegiatan sosial/Budaya c) Perdagangan
d) Tugas Pemerintah
e) Untuk keperluan lain yang telah disetujui oleh kedua belah pihak.
Ditetapkan daftar kawasan perbatasan di Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat adalah Kecamatan Badau, Puring Kencana, Embaloh Hulu, Empanang dan Batang Lupar
Ditetapkan Pintu Masuk kedua Negara adalah Indonesia (Badau, Langau, Merakai Panjang) dan Malaysia (Batu Lintang, Lubuk Antu Perjanjian ini menggantikan Perjanjian
kerjasama Lintas Batas tahun 1967 dan 1984 yang dinyatakan tidak berlaku lagi
Indonesia dan Malaysia juga terikat perjanjian dan kerjasama secara regional di Asia Tenggara. Salah satu bentuk kerjasama ekonomi kawasan yang telah dapat kerjasama untuk menciptakan kawasan pertumbuhan ekonomi termasuk perdagangan yang dinamis seperti kerjasama Indonesia Malaysia Singapore Growth Triangle (IMS- GT), Brunei - Indonesia - Malaysia - Philipina; BIMP - EAGA (Brunei, Indonesia, Malaysia and Philippines - East ASEAN Growth Area), Indonesia Malaysia Thailand- Growth Triangle (IMT-GT), Indonesia Malaysia Singapore Triangle (IMS-GT). Berikut adalah kerjasama regional kawasan yang memberikan berdampak terhadap perkembangan Negara Negara di Asia Tengga yaitu ASEAN dan AFTA 2015.
ASEAN adalah organisasi yang bertujuan mengukuhkan kerja sama regional negara-negara di Asia Tenggara. ASEAN didirikan pada tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok oleh lima negara pendiri ASEAN, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Pada perkembangannya, lima negara Asia Tenggara lainnya yaitu Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam ikut bergabung dalam ASEAN. Gambar 13 adalah sebaran anggota ASEAN.
Gambar 13Negara Anggota ASEAN
ASEAN dalam menjalankan tugas-tugasnya dengan melibatkan komite di berbagai bidang. Berikut ini komite-komite yang dilibatkan ASEAN.
1. Committe on Food Agriculture and Forest (Komite Bahan Makanan, Pertanian, dan Kehutanan).
2. Committe on Trade and Tourism (Komite Perdagangan dan Pariwisata). 3. Committe on Finance and Banking (Komite Keuangan dan Perbankan).
4. Committe on Industry, Mining, and Energi (Komite Industri, Pertambangan, dan Energi).
5. Committe on Transportation and Comunication (Komite Transportasi dan Komunikasi).
6. Committe on Cultural and Information (Komite Kebudayaan dan Informasi). 7. Commite on Welfare Society and Development (Komite Kesejahteraan Rakyat
dan Pembangunan).
Pada KTT ke-12 ASEAN di Cebu, Filipina, pada Januari 2007, komitmen untuk mewujudkan Komunitas ASEAN dipercepat dari tahun 2020 menjadi tahun 2015 dengan ditandatanganinya “Cebu Declaration on The Acceleration of The Establishment of an ASEAN Community by 2015”. Tujuan dari pembentukan Komunitas ASEAN adalah untuk lebih mempererat integrasi ASEAN dalam menghadapi perkembangan konstelasi politik internasional. Negara-negara ASEAN memproklamirkan pembentukan komunitas ASEAN (ASEAN Community) yang terdiri atas tiga pilar yaitu:
1. Komunitas Keamanan ASEAN (ASEAN Security Community/ASC), 2. Komunitas Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community/AEC),
3. Komunitas Sosial-Budaya ASEAN (ASEAN Socio-Cultural Community/ASCC). Tiga pilar pendukung tersebut akan menjadi paradigma baru yang akan menggerakkan kerjasama ASEAN ke arah sebuah komunitas dan identitas baru yang lebih mengikat. AFTA atau kawasan perdagangan bebas ASEAN adalah forum kerja sama antarnegara ASEAN yang bertujuan menciptakan wilayah perdagangan bebas di seluruh kawasan ASEAN. Konsep perdagangan bebas ini antara lain meliputi penghapusan atau penurunan tarif perdagangan barang sesama negara ASEAN sehingga menurunkan biaya ekonomi. Pembentukan AFTA berawal dari pertemuan anggota ASEAN pada KTT ASEAN ke-4 di Singapura pada Januari 1992.
Tujuan AFTA antara lain adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan spesialisasi di negara-negara ASEAN,
2. Meningkatkan ekspor dan impor baik bagi ASEAN ataupun di luar ASEAN, 3. Meningkatkan investasi bagi negara ASEAN.
Berdasarkan perjanjian ini maka Indonesia dituntut melakukan persiapan untuk mengahadapi era perdagangan bebas tahun 2015 antar negara peserta. Oleh karena itu Indonesia dituntut untuk mempersiapkan diri. Selain dengan tetangga yang berbatasan, Indonesia juga melakukan kerjasama dengan negara diluar ASEAN yaitu China yang kemudian melahirkan ASEAN - China Free Trade Area (ACFTA). Tingginya perdagangan China ke Indonesia harus diimbangi dengan kesiapan Indonesia untuk juga meningkatkan nilai perdagangan ke negara China. Sehingga Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi negara tetangga namun juga berkonstribusi ekspor kenegara lain.