PENGELOLAAN SERASAH TEBU
PADA PERKEBUNAN TEBU LAHAN KERING
(The Benefit and Feasibility Analysis of Sugarcane Litter Management on Dry
Land Sugarcane Plantation)
Abstrak
Limbah pertanian dalam bentuk serasah tebu merupakan sumber bahan organik yang dapat diolah menjadi kompos. Pengelolaan serasah tebu dilakukan oleh unit pengelolaan limbah pabrik gula yang memerlukan biaya investasi dan operasional untuk tempat dan beberapa alat dan mesin. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis manfaat dan kelayakan pengelolaan serasah tebu di lahan kering. Pemanfaatan kompos untuk lahan perkebunan tebu akan mengurangi biaya produksi di lahan. Penggunaan kompos serasah tebu dengan dosis 15 ton/ha setara dengan 48 kg N. Dengan dosis pemupukan 600 kg/ha urea, maka pemberian kompos 15 ton/ha dapat mengurangi penggunaan urea hingga 17.8%. Hasil analisis kelayakan menunjukkan bahwa mekanisasi pengelolaan serasah tebu layak untuk dikembangkan dengan unit pengelolaan serasah tebu di tiap rayon.
Kata kunci : tebu, serasah tebu, mekanisasi, analisis manfaat dan kelayakan, kompos
Abstract
Agricultural waste in form of sugarcane litter is an organic material that can be reused as compost. The sugarcane litter management is done in Sugar Factory Waste Management Unit which requires investment and operational cost for building and several machineries. The research objective was to analyze the benefit and feasibility of sugarcane litter management on dry land. The compost application in the sugarcane plantation will reduce production cost. The use of sugarcane litter compost in 15 ton/ha dosage was equivalent with 48 kg of N. Thus, compare with urea fertilizing dosage of 600 kg/ha, the use of 15 ton/ha of compost will reduce urea fertilizer up to 17.8%. The feasibility analyze showed that the mechanization of sugarcane litter management through sugarcane litter processing unit in each district was feasible to be developed.
Keywords: sugarcane, sugarcane litter, mechanization, benefit and feasibility analysis, compost
Pendahuluan
Pengelolaan serasah tebu yang dilakukan oleh perkebunan tebu lahan kering masih belum optimal. Setelah beberapa hari pemanenan tebu, perkebunan melakukan pembakaran terhadap serasah tebu karena serasah tebu dapat mengganggu pekerjaan pengeprasan untuk tanaman ratoon. Serasah tebu merupakan sumber bahan organik yang dapat dikelola menjadi pupuk dan mulsa organik. Dalam usaha pengelolaan serasah tebu menjadi pupuk organik dibutuhkan beberapa tahap kegiatan. Tahapan kegiatan ini membutuhkan tempat dan teknologi berupa alat dan mesin yang merupakan investasi awal dari kegiatan usaha pengelolaan serasah tebu. Usaha pengelolaan serasah tebu membutuhhkan biaya yang besar sehingga perlu dilakukan analisis biaya dan kelayakan untuk mengetahui layak atau tidak layak kegiatan ini dilakukan.
Biaya kegiatan adalah apa saja yang mengurangi persediaan barang-barang atau jasa-jasa konsumsi baik secara langsung maupun tidak langsung sehubungan dengan kegiatan usaha. Menurut Boediono (2003), biaya mencakup suatu pengukuran nilai sumberdaya yang harus dikorbankan sebagai akibat dari aktivitas yang bertujuan mencari keuntungan. Biaya kegiatan usaha terdiri dari biaya investasi dan biaya operasional. Biaya investasi adalah biaya yang umumnya dikeluarkan pada awal kegiatan dalam jumlah yang cukup besar. Biaya operasional merupakan biaya yang dikeluarkan secara rutin dalam setiap tahun selama umur kegiatan usaha. Biaya operasional terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap (fixed cost) adalah banyaknya biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan produksi yang jumlah totalnya tetap pada volume kegaiatan tertentu. Komponen biaya tetap meliputi sewa, peyusutan, pajak dan sebagainya. Biaya jenis ini selamanya sama atau tidak berubah dalam hubungannya dengan jumlah satuan yang diproduksi. Komponen biaya variabel meliputi biaya-biaya sepeti bahan baku, tenaga kerja langsung dan sebaga inya. Jenis b iaya ini jumlahnya bertambah sesuai dengan bertambahnya volume produksi sehingga biaya-biaya persatuannya cenderung berubah pula.
Analisis kelayakan usaha ditinjau dari aspek ekonomi dan keuangan adalah dengan memperlihatkan jumlah dana yang dibutuhkan untuk membangun dan mengoperasikan usaha. Dibutuhkan modal tetap untuk investasi tempat dan
teknologi usaha dan modal kerja untuk mengoperasikan teknologi tersebut. Langkah selanjutnya adalah melakukan analisis biaya-biaya untuk menentukan pendapatan yang diharapkan dan melakukan analisis kelayakan usaha dengan menentukan net present value (NPV), internal rate return (IRR), payback period
(PBP) dan jangka waktu balik modal atau titik impas (break even point/BEP). Tujuan penelitian ini adalah menganalisis manfaat dan kelayakan kegiatan pengelolaan serasah tebu secara mekanis pada perkebunan tebu lahan kering.
Tinjauan Pustaka
Analisis Biaya dan Kelayakan Pengelolaan Serasah Tebu Analisis Biaya Manfaat
Tujuan dari analisis biaya manfaat adalah untuk memilih kegiatan atau usaha yang memberikan nilai tambah terhadap kebutuhan masyarakat luas, dengan meningkatkan kemampuan untuk mengkonsumsi dan memberikan pandangan yang lebih baik dari sebelumnya dalam menilai kegunaan suatu barang. Analisa biaya manfaat memilih yang terbaik (lebih efisien) suatu kegiatan dari beberapa alternatif yang ada (Hanley 1993). Tujuan analisis dalam analisis ini harus disertai dengan definisi-definisi mengenai biaya dan manfaat. Secara sederhana biaya adalah sesuatu yang membantu tujuan (Gittinger 1986). Biaya yang umumnya dimasukkan dalam analisis usaha pertanian adalah biaya-biaya yang langsung berpengaruh langsung terhadap suatu investasi, antara lain seperti biaya investasi dan biaya operasional. Biaya investasi berupa pengeluaran untuk bangunan, kendaraan operasional, pembelian mesin, peralatan dan biaya untuk menggantikannya. Biaya operasional merupakan biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan kegiatan meliputi biaya bahan baku, upah tenaga kerja langsung, pemeliharaan, serta pajak.
Dasar persetujuan atau penolakan suatu kegiatan yang dilaksanakan digunakan kriteria investasi. Dasar penilain investasi adalah perbandingan antara jumlah nilai yang akan diterima sebagai manfaat dari investasi tersebut dengan manfaat-manfaat dalam situasi tanpa kegiatan. Nilai perbedaannya adalah berupa tambahan manfaat bersih yang akan muncul dari investasi dengan adanya kegiatan (Gittinger 1986).
Menurut Gittinger (1986) analisis biaya manfaat merupakan suatu analisis yang ditujukan untuk melihat besarnya biaya yang dikeluarkan dan manfaat yang akan diterima pada suatu kegiatan ekonomi. Analisis ini dapat membantu dalam pengambilan keputusan mengenai pengalokasian sumberdaya yang langka. Manfaat suatu program adalah nilai tambah hasil dari barang-barang ataupun jasa dan biaya kegiatan adalah nilai tambah sumberdaya riil yang dimanfaatkan oleh kegiatan tersebut. Secara sederhana suatu biaya diartikan sebagai segala sesuatu yang mengurangi suatu tujuan sedangkan manfaat adalah segala sesuatu membantu tujuan.
Biaya (Cost)
Biaya kegiatan adalah apa saja yang mengurangi persediaan barang-barang atau jasa-jasa konsumsi baik secara langsung maupun tidak langsung sehubungan dengan kegiatan tersebut. Biaya yang dimasukkan dalam perhitungan umumnya biaya-biaya yang dapat dikuantifikasi. Biaya tersebut terdiri dari biaya investasi dan biaya operasional. Biaya investasi adalah biaya yang umumnya dikeluarkan pada awal kegiatan usaha dalam jumlah yang cukup besar. Biaya operasional merupakan biaya yang dikeluarkan secara rutin dalam setiap tahun selama umur usaha. Biaya operasional terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel.
Menurut Boediono (2003) biaya mencakup suatu pengukuran nilai sumberdaya yang harus dikorbankan sebagai akibat dari aktivitas yang bertujuan mencari keuntungan. Berdasarkan volume kegiatan biaya dibedakan atas biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap (fixed cost) adalah banyaknya biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan produksi yang jumlah totalnya tetap pada volume kegaiatan tertentu. Komponen biaya tetap meliputi sewa, peyusutan, pajak dan sebagainya. Biaya jenis ini selamanya sama atau tidak berubah dalam hubungannya dengan jumlah satuan yang diproduksi. Komponen biaya variabel meliputi biaya-biaya sepeti bahan baku, tenaga kerja langsung dan sebagainya. Jenis biaya ini jumlahnya bertambah sesuai dengan bertambahnya volume produksi sehingga biaya-biaya persatuannya cenderung berubah pula.
Secara ekonomis, manfaat atau benefit diartikan sebagai hasil kali total kualitas output dari suatu proses produksi dengan harga yang dibentuk di pasar yang dinyatakan dalam satuan mata uang tertentu (Sukirno 2003). Menurut Gittinger dalam Maryanto (2006) manfaat kegiatan dapat dibagi ke dalam tiga bagian yaitu:
1. Direct benefit, dapat berupa kenaikan dalam output fisik atau kenaikan nilai output yang disebabkan diantaranya oleh adanya perbaikan kualitas, perubahan lokasi, perubahan dalam waktu penjualan, dan penurunan kerugian, selain itu juga berupa penurunan biaya.
2. Indirect benefits atau secondary benefits suatu usaha adalah benefit yang timbul atau dirasakan di luar kegiatan usaha karena adanya realisasi suatu usaha. 3. Intangible benefits, yaitu manfaat yang sulit d inilai dengan uang, diantaranya
adalah seperti perbaikan hidup, perbaikan pemandangan karena adanya suatu taman, perbaikan distribusi pendapatan, integrasi nasional, dan pertahanan nasional.
Analisis Kelayakan Finansial
Analisis kelayakan finansial adalah suatu analisis yang membandingkan antara biaya-biaya dengan manfaat (benefit) untuk menentukan apakah suatu usaha akan menguntungkan selama umur usaha tersebut. Mengingat waktu mempengaruhi nilai uang, maka untuk membandingkan nilai uang yang berbeda waktu keluarannya dan penerimaannya perlu dilakukan penyamaan nilai uang melalui pemotongan (discounting), metode ini disebut metode arus tunai terpotong atau discount cash flow, menurut Gittinger (1986) diskonto merupakan suatu teknik yang dapat “menurunkan” manfaat yang diperoleh di masa yang akan datang dan arus biaya menjadi “ nilai biaya pada masa sekarang”.
Sehubungan dengan metode discounted cash flow, terdapat beberapa kriteria penilaian suatu investasi yaitu:
Net Present Value (NPV) merupakan nilai sekarang dari arus tambahan manfaat bagi pelaksanaan kegiatan usaha, dihitung berdasarkan tingkat diskonto.
NPV dari suatu usaha merupakan nilai bersih sekarang arus kas tahunan setelah pajak dikurangi dengan pengeluaran awal. Suatu kegiatan usaha dikatakan layak atau bermanfaat untuk dilaksanakan jika NPV kegiatan usaha tersebut lebih besar
atau sama dengan nol (NPV > 0). Jika nilai NPV sama dengan nol, berarti usaha tidak untung tetapi juga tidak merugi (manfaat hanya cukup untuk menutupi biaya yang dikeluarkan). Jika nilai NPV lebih kecil daripada nol (NPV < 0 ), maka kegiatan usaha tersebut tidak dapat menghasilkan senilai biaya yang dipergunakan hal tersebut menunjukkan bahwa kegiatan usaha tersebut tidak layak untuk dijalankan. Oleh karena itu, sumberdaya yang digunakan dalam kegiatan usaha tersebut sebaiknya dialokasikan pada kegiatan lain yang lebih menguntungkan.
Internal rate of return (IRR) merupakan tingkat suku bunga yang menjadikan manfaat bersih sekarang sama dengan nol. Tingkat suku bunga tersebut merupakan tingkat suku bunga maksimum yang dapat dibayar oleh kegiatan usaha untuk sumber daya yang digunakan. Tujuan perhitungan IRR
adalah untuk mengetahui persentase keuntungan dari suatu usaha tiap tahunnya dan menunjukkan kemampuan usaha dalam mengembalikan bunga pinjaman. Suatu kegiatan usaha dikatakan layak jika nilai IRR yang diperoleh lebih besar dari tingkat diskonto. Sedangkan jika nilai IRR yang diperoleh lebih kecil dari tingkat diskonto, maka kegiatan usaha tersebut tidak layak untuk dilaksanakan. Penerapan metode ini lebih sulit dilakukan dibandingkan dengan penerapan metode NPV, karena dalam hal tertentu terdapat kemungkinan dihasilkannnya nilai IRR yang lebih dari satu yang dapat membuat nilai NPV sama dengan nol.
Net Benefit Cost Ratio (Net B/C ratio) merupakan angka perbandingan nilai sekarang arus manfaat dibagi dengan nilai sekarang arus biaya. Perhitungan ini digunakan untuk melihat berapa kali lipat manfaat yang akan diperoleh dari biaya yang dikeluarkan. Nilai Net B/C yang lebih kecil dari satu (Net B/C < 1), menunjukkan bahwa manfaat yang akan diperoleh dari suatu kegiatan usaha lebih kecil dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan. Usaha semacam ini tidak layak untuk dilaksanakan. Sebaliknya jika nilai Net B/C lebih besar atau sama dengan satu (Net B/C > 1) berarti kegiatan usaha tersebut layak untuk dijalankan atau menguntungkan untuk diusahakan.
Payback Period (PBP) merupakan kriteria tambahan dalam analisis kelayakan untuk melihat periode waktu yang diperlukan dalam melunasi seluruh pengeluaran investasi. Masa pengembalian investasi diartikan sebagai waktu yang dibutuhkan agar jumlah penerimaan sama dengan jumlah investasi atau biaya.
Awal pelaksanaan kegiatan usaha, umumnya pendapatan yang diterima oleh pelaksana masih menunjukkan nilai yang negatif, karena pada awal pelaksanaan, biasanya dilakukan investasi yang memerlukan biaya yang cukup besar. Maka, perlu dilakukan suatu analisis untuk melihat jangka waktu dalam pelaksanaan usaha yang dapat menutupi nilai negatif pada awal kegiatan usaha tersebut.
Cashflow adalah susunan arus manfaat bersih tambahan sebagai hasil pengurangan arus biaya tambahan terhadap arus manfaat. Arus tersebut menggambarkan keadaan dari tahun ke tahun selama jangka hidup dari suatu proyek (Kuntjoro 2002).
Inflow atau arus penerimaan dimasukkan setiap komponen yang merupakan pemasukan bagi perusahaan selama kegiatan berjalan. Komponen-komponen yang termasuk dalam inflow terdiri atas; 1). Nilai produksi total. Ini berasal dari produksi total yang dihasilkan dikalikan dengan harga per satuan produk tersebut ke dalam komponen ini termasuk semua produksi baik yang dijual maupun tidak dijual dan 2). Nilai Sisa (Salvage Value) adalah nilai dari barang modal yang tidak habis terpakai. Pada akhir kegiatan sering terjadi masih ada barang modal yang tidak habis terpakai, terhadap barang-barang tersebut harus dinilai harganya pada saat kegiatan selesai. Penaksiran nilai tersebut dilakukan pada saat menyusun
cashflow. Penentuan besarnya nilai sisa ditaksir berdasarkan harga barang pada keadaan atau kondisi setelah kegiatan berakhir.
Outflow. Analisis finansial komponen outflow yang diperhitungkan dalam
cashflow terdiri atas biaya investasi, biaya tenaga kerja, pajak, dan lain-lain. Biaya operasional yang terdiri atas biaya tetap dan biaya variabel juga sebagai komponen outflow.
Bahan dan Metode
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah satu unit komputer dan software microsoft excel. Bahan yang digunakan adalah data-data sekunder yang diperoleh dari bagian Risbang PG Takalar.
Lokasi dan Waktu
Lokasi penelitian berada di provinsi Sulawesi Selatan, tepatnya di kabupaten Takalar. Pemilihan tempat ini didasari oleh pertimbangan bahwa di tempat ini terdapat pabrik gula (PG) Takalar yang memiliki lahan perkebunan yang cukup luas di sekitar pabrik. Penelitian ini dilakukan selama 10 bulan yang berlangsung sejak bulan April 2011 sampai dengan bulan Januari 2012.
Metode Rancangan Penelitian
Metode Pengumpulan Data
Metode yang diterapkan pada penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data primer dilakukan melalui pengukuran langsung di lapang. Data sekunder diperoleh dari bagian Riset dan Pengembangan PG Takalar dan dari berbagai pihak yang menyangkut masalah penelitian melalui studi pustaka.
Metode Analisis Data
Penelitian ini diawali dengan analisis atau mempelajari keadaan umum lokasi meliputi sistem budidaya tanaman tebu lahan kering, kegiatan mekanisasi budidaya tebu lahan kering, sistem pengelolaan serasah tebu yang dilakukan saat ini, kebutuhan alat dan mesin dalam pengelolaan serasah tebu dan analisis kelayakan ekonomi kegiatan pengelolaan serasah tebu.
Analisis data pengelolaan serasah tebu dilakukan dengan dua model alternatif pengelolaan serasah tebu. 1) Model alternatif satu, analisis data pengelolaan serasah tebu dengan unit pengelolaan serasah tebu dilakukan secara terpusat pada satu tempat dan 2) model alternatif dua, analisis data dengan unit pengelolaan serasah tebu dibangun di tiga tempat berbeda pada setiap rayon. Analisis Ekonomi
Tujuan dari analisis biaya manfaat dan kelayakan ini untuk mengetahui kebutuhan biaya dan pendapatan yang akan diperoleh dari kegiatan usaha pengelolaan serasah tebu di PG Takalar . Analisa biaya manfaat memilih yang terbaik (lebih efisien) suatu usaha dari beberapa alternatif yang ada. Secara sederhana biaya adalah sesuatu yang membantu tujuan. Biaya yang umumnya dimasukkan dalam analisis usaha pertanian adalah biaya-biaya yang langsung berpengaruh langsung terhadap suatu investasi, antara lain seperti biaya investasi
dan biaya operasional. Biaya investasi berupa untuk pengeluaran untuk pembangunan tempat kegiatan, pembelian alat dan mesin dan biaya untuk menggantikannya. Biaya operasional merupakan biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan kegiatan meliputi biaya bahan baku, upah tenaga kerja langsung, pemeliharaan, dan pajak.
Biaya pengelolaan serasah tebu (BPST) merupakan fungsi dari biaya pada
kegiatan pengumpulan serasah tebu (BKS), transportasi serasah tebu (BTS), biaya
pada proses pengomposan (BPS), dan aplikasi kompos (BAK).
BPST = BKS + BTS +BPS +BAK……….(5.1)
Komponen biaya pengumpulan serasah tebu (BKS) terdiri dari biaya tetap
yaitu biaya penyusutan, biaya garasi, biaya bunga modal dan asuransi, serta biaya pajak. Komponen biaya tidak tetap antara lain biaya bahan bakar, biaya tenaga kerja, biaya pelumas, biaya ban, biaya gemuk, biaya perbaikan mesin dan alat.
Komponen biaya transportasi serasah tebu (BTS) terdiri dari biaya tetap yaitu
biaya penyusutan, biaya garasi, biaya bunga modal dan asuransi, serta biaya pajak. Komponen biaya tidak tetap antara lain biaya bahan bakar, biaya tenaga kerja, biaya pelumas, biaya ban, biaya gemuk, biaya perbaikan mesin dan alat.
Komponen biaya pada proses pengomposan serasah tebu (BPS) terdiri dari
biaya pada proses pencacahan, proses pencampuran dan penyusunan, proses pengadukan. Biaya pada proses-proses ini terdiri atas biaya tetap yaitu biaya penyusutan, biaya garasi, biaya bunga modal dan asuransi, serta biaya pajak. Komponen biaya tidak tetap antara lain biaya bahan bakar, biaya tenaga kerja, biaya pelumas, biaya gemuk, biaya ban (loader, composting turner, dan truk), biaya perbaikan mesin dan alat. Biaya bahan campuran untuk pengomposan (kotoran ternak dan bioaktivator).
Komponen biaya aplikasi kompos (BAK) terdiri dari biaya tetap yaitu biaya
penyusutan, biaya garasi, biaya bunga modal dan asuransi, serta biaya pajak. Komponen biaya tidak tetap antara lain biaya bahan bakar, biaya tenaga kerja, biaya pelumas, biaya ban, biaya gemuk, biaya perbaikan mesin dan alat.
Analisis biaya pokok pengelolaan serasah tebu dilakukan dengan menghitung komponen biaya tetap dan biaya operasi (biaya tidak tetap). Biaya pokok dihitung dengan persamaan berikut (Irwanto 1982 dan Daywin et al. 1993):
) ( Bv X Bt Bp ………(5.2) Keterangan :
Bp = Biaya pokok (Rp/jam); Bt = Biaya tetap (Rp/tahun); X = Jam kerja per tahun (jam/tahun); Bv = Biaya tidak tetap (Rp/jam)
Analisis kelayakan ekonomi dilakukan dengan menghitung NPV (Net Present Value), IRR (Internal Rate of Return) dan BEP (Break Event Point) serta
PBP(Payback Period). Metode NPV adalah metode yang dilakukan dengan cara
membandingkan nilai sekarang dari aliran kas masuk bersih atau laba bersih dengan nilai sekarang dari biaya pengeluaran suatu investasi. Apabila NPV > 0 maka investasi usaha diterima. IRR adalah besarnya tingkat pengembalian modal sendiri yang dipergunakan untuk menjalankan usaha. Jika IRR > bunga bank = usaha layak diberi kredit bank dan jika IRR < bunga bank berarti usaha tidak layak. Kemudian dilakukan analisis BEP yang merupakan suatu keadaan dimana dalam suatu operasi perusahaan tidak untung maupun rugi atau impas (penghasilan = total biaya).
Net Present Value (NPV), dapat diketahui dengan menggunakan persamaan:
t n i t t t t i C B NPV ) 1 ( ) ( ……….(5.3) Keterangan :Bt = Manfaat penerimaan tiap tahun
Ct = Manfaat biaya yang dikeluarkan tiap tahun
t = Tahun kegiatan usaha (t = 1,2,...n) i = Tingkat bunga yang berlaku
Kriteria NPV yaitu NPV > 0, berarti usaha yang telah dilaksanakan menguntungkan; NPV < 0, berarti sampai dengan t tahun investasi usaha tidak menguntungkan; NPV = 0, berarti tambahan manfaat sama dengan tambahan biaya yang dikeluarkan.
Internal Rate of Returns (IRR), dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut.
t n t t t t i C B IRR 1 0 ) 1 ( ) ( …………..(5.4)Kriteria IRR yaitu IRR > Discount Rate berarti usaha layak dilaksanakan dan IRR < Discount Rate berarti usaha tidak layak dilaksanakan.
Adapun asumsi yang digunakan dalam analisis manfaat dan kelayakan pengelolaan serasah tebu antara lain :
1. Dilakukan dua skenario atau model alternatif pengelolaan serasah tebu, yaitu model alternatif satu dengan pengelolaan serasah tebu terpusat pada satu tempat dan model alternatif dua dengan pengelolaan serasah tebu yang dilakukan pada tiga tempat atau disetiap rayon.
2. Umur proyek 12 tahun berdasarkan pada umur ekonomis dari alat dan mesin yang digunakan. Hal ini dengan pertimbangan bahwa alat dan mesin merupakan aset penting dalam pengelolaan serasah tebu dan merupakan komponen terbesar dari biaya investasi yang dikeluarkan.
3. Harga yang digunakan adalah harga input dan output yang berlaku pada tahun 2011.
4. Biaya yang akan dikeluarkan untuk pengelolaan serasah tebu terdiri atas biaya investasi dan biaya operasional. Biaya investasi terdiri atas biaya tempat fermentasi, ruang pencacahan, ruang pencampuran, gudang penyimpanan, tempat bahan baku, pembelian alat dan mesin, perlengkapan, instalasi listrik, air dan belt conveyor. Sedangkan pengeluaran untuk biaya operasional tiap tahun terdiri dari biaya tetap dan tidak tetap.
5. Penyusutan investasi dihitung dengan menggunakan metode garis lurus. Nilai sisa ditetapkan untuk aset-aset yang masih memilik i umur ekonomis ketika umur proyek telah berakhir.
6. Tingkat diskonto (discount rate) yang digunakan merupakan tingkat suku bunga Bank Indonesia periode Agustus 2011 yaitu sebesar 6.75% dan dibulatkan menjadi 7%. Beberapa asumsi lainnya terdapat pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1. Beberapa Asumsi yang digunakan dalam analisis ekonomi
Uraian Asumsi
Umur ekonomis (trash rake, trailer, aplikator chopper, truk, turner & loader)
12 tahun
Bunga modal 12%
Asuransi 1.24%
Jam kerja (trash rake, trailer & aplikator) 800 jam/tahun Jam kerja (chopper, truk, turner & loader) 2 080 jam/tahun
Harga solar Rp 9 115.00/liter
Harga Oli Mesin Rp 20 000.00/liter
Umur ban 2 500 jam
Upah tenaga kerja Rp 6 250.00/jam
Hasil dan Pembahasan
Unit Pengelolah Limbah Pabrik Gula
PG Takalar sebaiknya membentuk sebuah organisasi tersendiri dalam kegiatan pengelolaan limbah perkebunan tebu yaitu unit pengelolah yang dipimpin oleh seorang manajer atau kepala unit yang dibantu oleh beberapa staf.