RATOON
(TheEffect of Sugarcane Litter Compost to Soil Chemical and Physical Mechanical Properties and Ratoon Sugarcane Performance)
Abstrak
Pemanfaatan kompos serasah tebu sebagai pupuk organik pada lahan perkebunan diharapkan mampu memberi kontribusi dalam memperbaiki struktur tanah dan peningkatan produksi tebu. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kualitas kompos serasah tebu dan menganalisis pengaruh kompos terhadap sifat kimia, fisik dan mekanik tanah, kesuburan tanah, dan pertumbuhan tanaman tebu
ratoon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas kompos yang dihasilkan
sesuai SNI 2004, Permentan nomor 2 tahun 2006 dan nomor 28 tahun 2009 dari aspek nisbah C/N. Pemanfaatan kompos untuk lahan perkebunan sendiri akan mengurangi biaya produksi di lahan dan akan meningkatkan kadar C dan N organik masing-masing sebesar 8% dan 21% dalam kurun waktu 4 bulan penggunaan kompos. Penggunaan kompos serasah tebu berpengaruh positif terhadap sifat kimia, fisik dan mekanik tanah. Rata-rata pertumbuhan tanaman tebu yang diberi kompos serasah tebu lebih baik daripada yang tidak diberi kompos dari aspek pertumbuhan tinggi dan diameter batang.
Kata kunci : Serasah tebu, kompos, kualitas, sifat kimia tanah, sifat fisik dan mekanik tanah
Abstract
It is expected that the use of sugarcane litter compost as organic fertilizer in the field will contribute in improving soil structure and increased sugarcane production. The objectives of this study were to identify the quality of sugarcane litter compost and to analyze the influence of the compost to soil chemical, physical and mechanical properties, soil fertility, and ratoon crop growth. The results showed that, based on C/N ratio, the quality of compost produced was appropriate with SNI 2001, Agriculture Ministry Regulation No. 2/2006 and No. 28/2009. The application of compost will reduce production cost and will increase the level of C and N organics, respectively by 8% and 21% within 4 months used of compost. It is also found that, compost positively affect the soil chemical, physical and mechanical properties. Based on the growth of high and diameter stem, the average growth of sugarcane plant with compost application was better than those without compost application.
Keywords : sugarcane litter, compost, quality, sugarcane, soil chemical, physical and mechanical properties
Pendahuluan
Perkebunan tebu selain menghasilkan gula, juga memiliki potensi untuk menghasilkan pupuk organik berupa kompos yang berasal dari limbah organik serasah tebu. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Toharisman (1991), berat serasah tebu hasil tebangan di lahan dapat mencapai 20-25 ton/ha. Serasah merupakan sisa tebangan atas terdiri atas daun, pucuk, dan batang tebu yang tidak terangkut ke pabrik. Potensi ini belum dimanfaatkan oleh perkebunan tebu dalam upaya peningkatan produksi gula. Hal tersebut terlihat dengan masih dilakukannya pembakaran serasah setelah beberapa hari penebangan, karena serasah dapat mengganggu pengoperasian alat dan mesin pada saat pengolahan lahan. Pembakaran dilakukan karena pada perusahaan perkebunan tidak terdapat unit yang mengelola serasah tebu.
Teknologi pengelolaan serasah tebu yang berupa peralatan mekanis akan sangat membantu pihak perkebunan dalam usahanya untuk memanfaatkan potensi limbah organik menjadi kompos. Pengelolaan serasah tebu menjadi kompos membutuhkan beberapa tahap kegiatan dan peralatan mekanis yang memudahkan proses tersebut. Tahapan kegitan tersebut meliputi pengumpulan serasah tebu dengan menggunakan traktor, trash rake, pengangkutan serasah tebu menggunakan trailer atau menggunakan truk, pencacahan menggunakan chopper, proses fermentasi atau pengomposan, pencampuran bahan kompos dengan loader, dan pengadukan kompos menggunakan composting turner. Selanjutnya untuk aplikasi di lahan digunakan aplikator kompos.
Komponen biaya produksi yang cukup besar dalam budidaya tanaman tebu adalah pemupukan. Pemupukan dapat meningkatkan produktivitas sampai tingkat tertentu, sehingga biaya produksi secara keseluruhan lebih efektif. Efektivitas biaya produksi yang terkait dengan aspek pupuk sangat ditentukan oleh praktek pemupukan yang efisien. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa penggunaan pupuk kimia buatan seperti urea, SP-36, dan kalium klorida, sudah mulai dianggap tidak efisien. Ini disebabkan antara lain oleh sifat pupuk yang cepat terurai sehingga hanya sebagian kecil yang diserap dan dimanfaatkan oleh tanaman tebu. Cepatnya hara pupuk terurai juga menimbulkan masa lah pencemaran air tanah. Untuk mengatasi hal-hal tersebut di atas salah satu
alternatifnya adalah dengan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk. Aplikasi pupuk dengan efisiensi tinggi dapat diperoleh melalui peningkatan daya dukung tanah dan efisiensi pelepasan hara pupuk (Herman dan Goenadi 1999; Goenadi 2006). Selain itu salah satu cara untuk mengefisienkan penggunaan pupuk adalah dengan penggunaan bahan organik.
Penggunaan kompos sangat baik karena dapat memberikan manfaat baik bagi tanah maupun tanaman. Kompos dapat menggemburkan tanah, memperbaiki struktur dan porositas tanah, serta komposisi mikroorganisme tanah, meningkatkan daya ikat tanah terhadap air, menyimpan air tanah lebih lama, dan mencegah lapisan kering pada tanah. Kompos juga menyediakan unsur hara makro dan mikro bagi tanaman, memudahkan pertumbuhan akar tanaman, mencegah beberapa penyakit akar, dan dapat menghemat pemakaian pupuk kimia dan atau pupuk buatan, sehingga dapat meningkatkan efisiensi pemakaian pupuk kimia. Karena keunggulannya tersebut, kompos menjadi salah satu alternatif pengganti pupuk kimia karena berkualitas dan akrab lingkungan.
Pengeprasan merupakan pekerjaan memotong sisa-sisa tunggul tebu yang dilakukan secara tepat atau lebih rendah dari permukaan guludan (Koswara 1989). Sedangkan tanaman keprasan merupakan hasil tanaman tebu yang tumbuh kembali dari jaringan batang yang masih tertinggal dalam tanah setelah tebu ditebang (Barnes 1964).
Keprasan pada budidaya tebu memiliki beberapa keuntungan. Djojosoewardho (1988) menyatakan bahwa melalui pengeprasan kegiatan pengolahan tanah semakin berkurang, kelestarian tanah dapat dipertahankan, dan biaya produksi pada tiap satuan hasil menjadi lebih rendah. Di samping itu, Widodo (1991) mengemukakan bahwa, dengan keprasan pemakaian bibit semakin hemat, tebu yang tumbuh sudah beradaptasi dengan lingkungan, dan kelestarian alam dapat terjaga.
Kerugian dari tebu keprasan adalah memiliki produktivitas yang lebih rendah dibandingkan dengan tanaman pertamanya. Arifin (1989) melaporkan bahwa hasil tebu keprasan di lahan kering Sumber Lumbu, Kediri hanya mencapai 67% dari hasil tanaman pertamanya. Pada tahun giling 1992 hasil tanaman tebu
keprasan satu (R1) di lahan sawah hak guna usaha (HGU) PG. Jatiroto mengalami
penurunan 19.3%, sedangkan pada keprasan kedua (R2) sebesar 27.1%.
Pemanfaatan kompos serasah tebu sebagai pupuk organik pada lahan perkebunan diharapkan mampu memberi kontribusi dalam memperbaiki sifat fisik dan mekanik tanah serta peningkatan produksi tebu.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kualitas kompos serasah tebu dan menganalisis pengaruh kompos terhadap sifat kimia, fisik dan mekanik tanah, kesuburan tanah, dan pertumbuhan tanaman tebu ratoon.
Tinjauan Pustaka
Bahan Organik
Menurut Stevenson (1994), bahan organik tanah adalah semua jenis senyawa organik yang terdapat di dalam tanah, termasuk serasah, fraksi bahan organik ringan, biomassa mikroorganisme, bahan organik terlarut di dalam air, dan bahan organik yang stabil atau humus. Bahan organik memiliki peran penting dalam menentukan kemampuan tanah untuk mendukung tanaman, sehingga jika kadar bahan organik tanah menurun, kemampuan tanah dalam mendukung produktivitas tanaman juga menurun. Menurunnya kadar bahan organik merupakan salah satu bentuk kerusakan tanah yang umum terjadi. Kerusakan tanah merupakan masalah penting bagi negara berkembang karena intensitasnya yang cenderung meningkat sehingga tercipta tanah-tanah rusak yang jumlah maupun intensitasnya meningkat. Kerusakan tanah secara fisik dapat diakibatkan karena kerusakan struktur tanah yang dapat menimbulkan pemadatan tanah. Kerusakan struktur tanah ini dapat terjadi akibat pengolahan tanah yang salah atau penggunaan pupuk kimia secara terus menerus.
Bahan organik tanah berpengaruh terhadap sifat-sifat kimia, fisik, maupun biologi tanah. Fungsi bahan organik di dalam tanah sangat banyak, baik terhadap sifat fisik, kimia maupun biologi tanah, antara lain sebaga i ber ikut (Stevenson 1994) :
a) Berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap ketersediaan hara. Bahan organik secara langsung merupakan sumber hara N, P, K, S, unsur mikro maupun unsur hara esensial lainnya. Secara tidak langsung bahan
organik membantu menyediakan unsur hara N melalui fiksasi N2 dengan cara
menyediakan energi bagi bakteri penambat N2, membebaskan fosfat yang
difiksasi secara kimiawi maupun biologi dan menyebabkan pengkhelatan unsur mikro sehingga tidak mudah hilang dari zona perakaran.
b) Membentuk agregat tanah yang lebih baik dan memantapkan agregat yang telah terbentuk sehingga aerasi, permeabilitas dan infiltrasi menjadi lebih baik. Akibatnya adalah daya tahan tanah terhadap erosi akan meningkat.
c) Meningkatkan retensi air yang dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman. d) Meningkatkan retensi unsur hara melalui peningkatan muatan di dalam tanah. e) Mengimmobilisasi senyawa antropogenik maupun logam berat yang masuk ke
dalam tanah.
f) Meningkatkan kapasitas sangga tanah. g) Meningkatkan suhu tanah.
h) Mensuplai energi bagi organisme tanah.
i) Meningkatkan organisme saprofit dan menekan organisme parasit bagi tanaman.
Pemberian bahan organik ke dalam tanah memberikan dampak yang baik terhadap tanah, tempat tumbuh tanaman. Tanaman akan memberikan respon yang positif apabila tempat tanaman tersebut tumbuh memberikan kondisi yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangannya.
Pemberian pupuk organik dengan cara pengadukan bersama pengolahan tanah mampu memperbaiki struktur tanah dan sifat fisik lain yang berkaitan, juga mampu menurunkan fluktuasi suhu harian tanah (Suwardjo et al. 1984 dalam Surawijaya 1995). Keterolahan tanah pada tanah bertekstur halus dipengaruhi oleh kadar bahan organik. Jumlah bahan organik tanah yang cukup akan mengurangi pengaruh buruk pengolahan tanah dan akan memperlebar selang kadar air optimum untuk pengolahan tanah. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Mastur et al (1993) yang menyatakan bahwa tanah yang diberi bahan organik akan lebih mudah diolah atau dengan kata lain kebutuhan draft
pengolahan tanah cenderung lebih rendah, ini terlihat dari lebar tanah terolah pada perlakuan bahan organik yang cenderung lebih tinggi dibanding perlakuan pupuk anorganik.
Kompos
Kompos merupakan pupuk organik dari hasil pelapukan jaringan atau bahan-bahan tanaman atau limbah organik. Kompos diperoleh karena ada campur tangan manusia dalam proses pembuatannya berupa penciptaan lingkungan mikro yang dikondisikan untuk pertumbuhan mikroorganisme. Kompos adalah hasil pembusukan sisa-sasa tanaman yang disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme pengurai. Kualitas kompos sangat ditentukan oleh besarnya perbandingan antara nisbah karbon dan nitrogen (C/N). Jika C/N tinggi, berarti bahan penyusun kompos belum terurai secara sempurna. Bahan kompos dengan nisbah C/N tinggi akan terurai atau membusuk lebih lama dibandingkan dengan bahan bernisbah C/N rendah. Kualitas kompos dianggap baik jika memiliki nisbah C/N antara 12- 15 (Musnamar 2003).
Beberapa tahun terakhir ini, kompos telah dianggap sebagai jantung dari sistem pertanian organik (Hoitink dan Keener 1993). Kompos berdasarkan fungsinya dikelompokkan sebagai bahan pembenah tanah (soil conditioner). Dalam hal peningkatan daya dukung tanah, kompos jelas lebih unggul dan bersifat ramah lingkungan daripada pupuk kimia sintetik karena dapat meningkatkan kandungan bahan organik di da lam tanah. Kandungan bahan organik di dalam tanah memiliki peranan yang sangat penting dan jumlah bahan organik tersebut sering digunakan secara langsung untuk mengukur indeks kesuburan tanah.
Dalam budidaya tebu selain dihasilkan gula terdapat pula limbah padat organik (LPO) yang kuantitasnya sangat besar. Hutasoit dan Toharisman ( 1993) menyebutkan bahwa saat tebu dipanen dihasilkan pucuk (cane tops) dan serasah (trash) dengan jumlah rata-rata per hektar sekitar 20–25 ton.
Proses pembuatan gula lebih lanjut di dalam pabrik mengeluarkan 4% tetes (molase), 32% ampas (bagasse), 3.5% blotong (filter mud) pada PG sulfitasi dan 7.5% pada PG karbonasi, serta 0.3% abu ketel (boiler ash). Limbah padat organik tidak hanya digunakan sebagai sumber energi (khususnya ampas tebu) tetapi juga sebagai sumber nutrisi dan bahan ameliorasi tanah, sehingga berpotensi untuk meningkatkan produktivitas lahan (Qureshi et al. 2000).
Berdasarkan hasil pengomposan serasah tebu yang dilakukan di pabrik gula Tasikmadu karanganyar Solo diperoleh kandungan bahan organik kompos; 1.7%
unsur N, 1.7% unsur P, 1.91% unsur K dan 0.3% unsur Ca (Musnamar 2003). Ciri fisik kompos yang baik adalah berwarna cokelat kehitaman, agak lembab, gembur, dan bahan pembentuknya sudah tidak tampak lagi. Produsen kompos yang baik akan mencantumkan besarnya kandungan unsur hara pada kemasan. Meskipun demikian, dosis pemakaian pupuk organik tidak seketat pada pupuk buatan karena kelebihan dosis pupuk organik tidak akan merusak tanaman. Penggunaan dosis tertentu pada pupuk kompos lebih berorientasi untuk memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah daripada untuk menyediakan unsur hara. Tabel 4.1. Sifat dan kandungan kimia beberapa jenis bahan organik
Unsur Kompos Blotong Daun Tebu
pH 7.71 7.65 na B–organik (%) 39.3 57.0 84.4 N (g/kg) 14 20 15 P (g/kg) 10 11 3 K (g/kg) 7 3 13 Ca (g/kg) 29 34 24 Mg (g/kg) 3 3 1.5 S (g/kg) 5 2 na Fe (g/kg) na* 0.6 0.14 Mn (g/kg) 4.4 0.3 0.20
Keterangan : *) non analisa
sumber: Lab. Tanah Tanaman P3GI
Kandungan kimia kompos sangat bervariasi tergantung bahan dan cara pembuatannya. Salah satu contoh komposisi hara pupuk kompos dan jenis bahan organik lainnya disajikan pada Tabel 4.1. Berdasarkan kadar tersebut maka pada setiap 10 ton pupuk kandang akan setara dengan 130 kg N, 330 kg P dan 50 kg K atau setara dengan 591 kg ZA, dan 100 kg KCl. Apabila bahan itu diberikan ke dalam tanah paling tidak akan mengurangi biaya pemupukan. Pembuatan pupuk kompos di industri gula akan lebih mudah direalisasi. Disamping teknologinya telah tersedia dari hasil penelitian P3GI, juga bahan mentah relatif cukup banyak.
Bahan dan Metode
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah : Traktor 4 roda dan imp lemennya, seperangkat teknologi pengelola serasah tebu, penetrometer, ring
sampel, cangkul, meteran, patok, label, dan tali rapia. Adapun bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah serasah tebu, kompos dari serasah tebu dan tanaman tebu ratoon 4 (R4) varietas TK 186.
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei - Oktober 2011, bertempat di perkebunan tebu PG Takalar kabupaten Takalar dan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku kabupaten Gowa provinsi Sulawesi Selatan. Metode Penelitian
Penelitian diawali dengan kegiatan survei lapangan untuk mengidentifikasi peralatan mekanis yang tersedia di perkebunan yang dapat menunjang sistem pengelolaan serasah tebu. Setelah itu dilakukan tahapan kegiatan lapangan yaitu : 1. Mengumpulkan serasah di lahan dengan menggunakan trash rake yang
digandeng oleh traktor sebagai tenaga penarik.
2. Mengangkut serasah yang telah dikumpulkan menggunakan truk atau trailer
yang ditarik oleh traktor ke rumah kompos tempat pengolahan serasah menjadi kompos.
3. Mencacah serasah tebu menggunakan chopper, sehingga menjadi potongan- potongan kecil (1-5 cm) guna mempermudah proses pengomposan.
4. Mencampur bahan baku serasah tebu dengan bahan lain seperti pupuk kandang dan bioaktivator. Komposisi bahan serasah 2 000 kg, 500 kg pupuk kandang, dan 3 kg bioaktivator.
5. Selanjutnya melakukan fermentasi selama 2 bulan dan melakukan pembalikan 1-2 kali/minggu.
6. Kompos digiling untuk memperkecil ukuran partikelnya. 7. Melakukan pengayakan untuk menyeragamkan ukuran partikel.
8. Kompos siap untuk digunakan atau diaplikasikan pada tanaman ratoon.
Sebelum melakukan uji lapang untuk aplikasi kompos, terlebih dahulu membuat plot petak percobaan dengan ukuran 24 m x 25 m. Selanjutnya ada beberapa parameter yang diamati dan diukur antara lain adalah sifat kimia, fisik dan mekanik tanah, pertumbuhan tebu setelah aplikasi pupuk organik yang berasal dari serasah tebu, dan analisis kesuburan tanah sebelum dan setelah aplikasi kompos.
Metode pengomposan yang digunakan adalah motode yang telah dikembangkan oleh bagian Pengomposan dan Pengelolaan Bahan Organik Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku kabupaten Gowa provinsi Sulawesi Selatan. Pengomposan dilakukan dengan meletakkan bahan dasar (serasah tebu) bagian paling bawah dengan ketebalan 15 cm, kemudian kotoran hewan setebal 10 cm untuk setiap lapisan. Maksimal jumlah lapisan adalah lima lapisan untuk setiap baris.
Rancangan Perlakuan
Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan perlakuan yang menggunakan faktor dosis kompos/pupuk organik dengan tiga ulangan. Faktor dosis kompos/pupuk organik terdiri atas 2 taraf yaitu : K0 (tanpa pupuk organik) dan K15 (pupuk organik 15 ton/ha). Dengan demikian akan terdapat 2 x 3 = 6 petak percobaan. Setelah lahan percobaan dibersihkan, lalu membuat petakan dengan ukuran 24 m x 25 m dan dibagi menjadi 6 petakan dengan masing-masing ukuran 4 m x 25 m. Selanjutnya pupuk organik yang berasal dari kompos serasah tebu dibenamkan di bawah permukaan tanah yang terdapat tebu ratoon sesuai dengan perlakuan.
Pengukuran sifat kimia, fisik dan mekanik tanah dilakukan sebelum perlakuan dan setelah perlakuan meliputi parameter : kandungan bahan organik, kadar air tanah, bulk density, dan tahanan penetrasi. Pengumpulan data pertumbuhan tanaman tebu dan kesuburan tanah dilakukan setelah tebu ratoon
berumur 4 bulan.
Pengukuran sifat kimia, fisik dan mekanik tanah dilakukan pada awal penelitian dan setelah tanaman berumur 4 bulan meliputi parameter sebagai berikut :
- Kandungan bahan organik (C dan N)
Pengukuran kandungan C dan N organik dilakuakan di Laboratorium Ilmu Tanah UNHAS. Sampel tanah dari lokasi penelitian dianalisis di Laboratorium. - Perhitungan Kadar Air Tanah
Perhitungan kadar air tanah dapat dilakukan dengan mengambil sampel tanah pada setiap perlakuan, kemudian ditimbang dan dikeringkan dalam oven
selama 24 jam dengan suhu 105o . perhitungan kadar air dilakukan pada kedalaman 5, 15, dan 25 cm. Kadar air tanah dihitung dengan persamaan :
% 100 Wb Wb Wa KA ...(4.1)
Dimana : KA = kadar air tanah (%), Wa = berat sampel tanah basah (g) Wb = berat sampel tanah kering (g)
- Perhitungan bulk density tanah
Bulk density atau bobot isi tanah dapat dihitung dengan mengambil sampel tanah pada setiap perlakuan yang dihitung dengan persamaan :
Vt Bk
BD ... (4.2) Dimana : BD = bulk density (g/cm3), Bk = berat kering (g)
Vt = volume total (cm3)
Perhitungan nilai bulk density dilakukan pada kedalaman 5 cm, 15 cm, dan 25 cm.
- Perhitungan tahanan penetrasi tanah
Pengukuran tahanan penetrasi tanah dilakukan sesudah perlakuan (4 bulan setelah aplikasi kompos) dengan menggunakan penetrometer SR-2 pada kedalaman 5 cm, 15 cm, dan 25 cm. Perhitungan tahanan penetrasi untuk tiap tekanan menggunakan persamaan:
Ak Fp
Tp ... (4.3)
Dimana : Tp = tahanan penetrasi (kN/cm2), Ak = luas penampang kerucut (cm2) Fp = gaya penetrasi terukur pada penetrometer (kN)
Aplikasi Serasah Tebu Sebagai Pupuk Organik pada Tebu Ratoon
Pengaplikasian serasah tebu sebagai pupuk organik di lahan perkebunan tebu dilakukan setelah serasah tebu diolah menjadi kompos melalui proses pengomposan. Proses pembuatan kompos dapat dilakukan secara konvensional dimana kompos yang dihasilkan berupa kompos yang siap pakai. Setelah kompos matang (C/N 10-20) selanjutnya kompos diayak untuk memperoleh ukuran yang seragam dan siap untuk diaplikasikan di lahan dengan prosedur sebagai berikut : 1) membersihkan lahan perkebunan dari sisa-sisa tanaman dan semak belukar, 2) membuat petak percobaan dengan ukuran 4 m x 25 m sebanyak 6 petak, 3)
melakukan pengeprasan pada tanaman tebu ratoon, 4) melakukan pencampuran bahan organik (kompos) dengan cara membenamkan pupuk organik di antara tanaman ratoon sesuai dosis perlakuan.
Gambar 4.1. Bagan alir penelitian pemanfaatan serasah sebagai kompos
Mulai
Bahan Campuran - Pupuk Kandang - Mikroba Dekomposer
Kompos Matang Proses Ferme ntasi - Suhu (40o-50o C) - Kelembaban (40-60 %) - Pembalikan/pengadukan (1-2 kali/minggu) Proses Pencampuran (Pengadukan) Pencacahan Se rasah Te bu Serasah Te bu Aplikasi Kompos Analisis Kematangan Kompos Tanaman Ratoon Pengukuran Awal Pengukuran Akhir
Peme liharaan Tanaman Pengumpulan Serasah Tebu
Aplikator
Ratoon 4 Bulan
Tidak
Analisis Dampak Aplikasi Serasah Tebu 1. Sifat Kimia, Fisik dan Mekanik Tanah
Sifat kimia, fisik dan mekanik tanah diukur 2 kali. Pertama, setelah pembersihan lahan dan kedua, setelah 4 bulan aplikasi pupuk organik. Adapun parameter yang diukur adalah kandungan bahan organik, kadar air tanah, tahanan penetrasi tanah, dan bulk density.
2. Kesuburan Tanah
Analisis kesuburan tanah meliputi kandungan hara dan derajat keasaman (pH). 3. Pertumbuhan Tanaman Tebu
Pertumbuhan tanaman tebu diamati setiap bulannya, dengan mengukur tinggi tanaman dan diameter tanaman.
Hasil dan Pembahasan
Analisis Kualitas Kompos
Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari sisa tanaman dan/atau kotoran hewan yang telah melalui proses rekayasa, berbentuk padat atau cair dan dapat diperkaya dengan bahan mineral alami dan/atau mikroba yang bermanfaat memperkaya hara, bahan organik tanah, dan memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Pupuk organik dan pembenah tanah sangat berperan dalam mendukung keberhasilan pengembangan budidaya tanaman (Permentan 2009).
Kompos serasah tebu merupakan kompos yang berasal dari sisa panen tanaman tebu berupa daun dan pucuk tebu serta batang tebu yang tidak sempat dipanen. Sebelum dilakukan fermentasi atau pengomposan, serasah tebu dicacah terlebih dahulu hingga menjadi potongan-potongan kecil dengan ukuran panjang antara 1-5 cm. Setelah fermentasi selesai, kompos selanjutnya digiling dan diayak sehingga ukuran partikel kompos menjadi seragam dengan ukuran diameter kurang dari 5 mm.
Ukuran partikel yang kecil in i memudahkan terjadinya dekomposisi lanjut saat aplikasi di lapang. Gambar 4.2 menunjukkan perbedaan ukuran partikel kompos sebelum digiling dan kompos setelah digiling dan diayak. Berat jenis kompos serasah tebu adalah 340 kg/m3 menjadikannya bersifat bulki atau memiliki volume besar dengan berat yang ringan.
Gambar 4.2. Kompos sebelum dan setelah digiling dan diayak Tabel 4.2. Hasil analisis kandungan hara kompos serasah tebu
Parameter Jumlah kandungan hara SD
C-organik (%) 4.11 1.85
N-organik (%) 0.32 0.24
C/N 13.16 4.03
Proses pengomposan yang dilakukan selama 50 hari menghasilkan kompos matang yang memiliki C/N rasio 13.16 (Tabel 4.2). Hal ini menunjukkan bahwa kompos yang dihasilkan telah memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah melalui peraturan yang tertuang dalam SNI-19-7030-2004 tentang persyaratan kompos yang harus memiliki C/N rasio antara 10-20 dan Permentan Nomor 2 tahun 2006 serta Nomor 28 tahun 2009. Akan tetapi untuk kandungan C organik masih relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan standar SNI yaitu 9.8-32% atau Permentan yaitu >12%. Nilai C/N rasio untuk serasah tebu adalah 110 (Musnamar 2003) dan setelah men galami pengo mposan C/N rasionya turun menjadi 13.16, hal ini disebabkan karena bahan mengalami