• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Anlisis farmer’s share

6.6. Analisis Margin Tataniaga

Kerjasama antara kontraktor tebu dengan pabrik tebu adalah dalam hal pembelian dan penjualan tebu. Kontraktor tebu mendapatkan surat kontrak dari pabrik tebu dan diharuskan untuk menggilingkan tebu miliknya kepada pabrik gula tersebut. Jika kontraktor tebu tersebut secara kontinu atau terus menerus dapat memenuhi kapasitas giling yang tertera dalam surat kontrak maka kontraktor tebu akan mendapatkan surat kontrak lagi. Surat kontrak kontraktor tebu akan bertambah dan ia harus memenuhi kapasitas giling yang disebutkan dalam surat kontrak. Kerjasama ini membuat kontraktor tebu enggan untuk menjual tebu miliknya ke pabrik gula yang lain.

Kerjasama kelompok tani dengan pabrik gula sama halnya dengan kerjasama kontraktor tebu dengan pabrik gula. kelompok tani mendapatkan kepercayaan dari pabrik gula untuk menggilingkan tebu milik anggotanya kepada pabrik gula tersebut. Kelompok tani yang menggilingkan tebu milik anggotanya senantiasa untuk menggilingnya kepada pabrik gula tersebut.

Hubungan kerjasama antara lembaga tataniaga umumnya telah terjalin lama sehingga telah menimbulkan rasa percaya diantara lembaga tataniaga. Kontraktor tebu, kelompok tani, APTRI dan pabrik gula terus menjaga kepercayaan agar saluran tataniaga yang terjadi dapat terus dipertahankan.

6.6. Analisis Margin Tataniaga

Margin tataniaga merupakan selisih harga jual dan harga beli di tingkat petani dan di tingkat pedagang pada lembaga tataniaga. Margin tataniaga meliputi biaya tataniaga yang dikeluarkan dalam setiap lembaga tataniaga dan keuntungan yang didapat oleh lembaga tataniaga dalam menyalurkan produk pertanian dari produsen hingga ke tangan konsumen. Dalam penelitian ini, margin tataniaga yang akan dihitung menggunakan prinsip kesetaraan. Semua satuan dalam perhitungan margin tataniaga tebu ini adalah Rupiah per kuintal tebu. Perhitungan yang digunakan adalah rendemen yang dihasilkan petani 6,84%. Hal ini menunjukkan bahwa satu kuintal tebu menghasilkan 6,84 kilogram gula. Sehingga untuk menghasilkan satu kuintal gula membutuhkan 14 kuintal tebu. Hasil sampingan yang didapatkan petani adalah tetes dan gula natura yang diberikan kepada petani. Jumlah tetes yang diberikan kepada petani adalah 2,5% dari total

70 tebu yang digilingkan di pabrik gula dan harga tetes adalah Rp. 1.000-1.800/ kg tetes. Gula natura yang diberikan petani sebesar 10% dari gula milik petani yang telah melalui proses bagi hasil dengan pabrik gula. Gula natura ini bisa dijual oleh pabrik gula, petani menjual ke warung-warung dekat rumah, dan dikonsumsi oleh petani sendiri. Harga tetes dan natura yang diterimapetani dapat dilihat pada lampiran 2. Kesetaraan ini yang akan digunakan untuk menghitung margin tataniaga tebu.

Pada saluran tataniaga satu, petani mengeluarkan biaya tataniaga yang terdiri dari biaya pemanenan Rp. 6.375/Kuintal tebu, biaya pengangkutan tebu Rp. 5.500/Kuintal tebu, dan biaya administrasi Rp. 326/Kuintal tebu. Total biaya tataniaga yang dikeluarkan petani adalah Rp. 12.201/Kuintal tebu. Sedangkan biaya tataniaga yang dikeluarkan oleh Asosiasi Petani tebu Rakyat Indonesia (APTRI) adalah biaya pengemasan (karung gula) Rp. 328/Kuintal tebu, biaya administrasi Rp.1.200/Kuintal tebu, dan biaya penyimpanan Rp. 1.071/Kuintal tebu. Total biaya tataniaga yang dikeluarkan oleh Asosiasi Petani tebu Rakyat Indonesia (APTRI) adalah Rp. 2.599/Kuintal tebu. Biaya tataniaga paling besar dikeluarkan oleh petani karena petani yang mengeluarkan biaya pemanenan dan pengangkutan yang merupakan biaya tertinggi dalam biaya tataniaga. Biaya tataniaga tebu yang dikeluarkan oleh setiap lembaga pada saluran tataniaga satu dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15. Biaya Tataniaga Tebu Setiap Lembaga Tataniaga pada Saluran Tataniaga 1

Biaya Rata-rata (Rp/Kuintal)

Petani Biaya pemanenan 6.375 Biaya pengangkutan 5.500 Biaya administrasi 326 Jumlah 12.201 APTRI Biaya pengemasan 328 Biaya administrasi 1.200

71 Biaya penyimpanan 1.071

Jumlah 2.599

Pada saluran tataniaga kedua biaya yang dikeluarkan oleh petani adalah biaya pemanenan Rp. 7.000/Kuintal tebu, biaya pengangkutan Rp.6.500/Kuintal tebu, dan biaya administrasi Rp. 350/Kuintal tebu. Total biaya tataniaga yang harus dikeluarkan oleh petani dalam saluran tataniaga kedua sebesar Rp. 13.850/Kuintal tebu. Sedangkan biaya tataniaga yang dikeluarkan oleh kelompok tani adalah biaya administrasi sebesar Rp. 1.000/Kuintal tebu. Biaya tataniaga terbesar dikeluarkan oleh petani karena petani yang melakukan pemanenan dan pengangkutan tebu. Biaya tataniaga tebu yang dikeluarkan oleh setiap lembaga pada saluran tataniaga kedua dapat dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16. Biaya Tataniaga Tebu Setiap Lembaga Tataniaga pada Saluran Tataniaga 2

Pada saluran ketiga, petani tidak mengeluarkan biaya tataniaga karena biaya pemanenan dan biaya pengangkutan yang biasanya ditanggung oleh petani menjadi tanggungan kontraktor tebu yang membeli tebu milik petani. Biaya tataniaga yang dikeluarkan oleh kontraktor tebu adalah biaya pengangkutan Rp.6.600/Kuintal tebu, biaya pemanenan Rp. 8.000/Kuintal tebu, biaya pengemasan (biaya karung) Rp. 328/Kuintal tebu, dan biaya administrasi Rp.

Biaya Rata-rata (Rp/Kuintal)

Petani Biaya pemanenan 7.000 Biaya pengangkutan 6.500 Biaya administrasi 350 Jumlah 13.850 Kelompok Tani Biaya administrasi 1.000 Jumlah 1.000

72 1.500/Kuintal tebu. Biaya tataniaga tebu yang dikeluarkan oleh setiap lembaga pada saluran tataniaga kedua dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17. Biaya Tataniaga Tebu Setiap Lembaga Tataniaga pada Saluran Tataniaga 3

Biaya Rata-rata (Rp/Kuintal)

Petani Jumlah - Kontraktor Tebu Biaya pemanenan 8.000 Biaya pengangkutan 6.600 Biaya pengemasan 328 Biaya administrasi 1.500 Jumlah 16.428

Pada saluran tataniaga keempat biaya tataniaga yang dikeluarkan oleh petani adalah biaya pemanenan Rp.7.500/Kuintal tebu. Biaya tataniaga yang dikeluarkan oleh pedagang sari tebu adalah biaya pengangkutan Rp. 8.000/Kuintal tebu, biaya pengemasan (gelas plastik) Rp. 400.000/Kuintal tebu, biaya pengolahan Rp.8.000/Kuintal tebu, dan biaya penyimpanan Rp. 60.000/Kuintal tebu. Biaya tataniaga tebu yang dikeluarkan oleh setiap lembaga pada saluran tataniaga kedua dapat dilihat pada Tabel 18.

Tabel 18. Biaya Tataniaga Tebu Setiap Lembaga Tataniaga pada Saluran Tataniaga 4

Biaya Rata-rata (Rp/Kuintal)

Petani

Biaya pemanenan 7.500

Jumlah 7.500

Pedagang Sari Tebu

73 Biaya pengemasan 400.000

Biaya pengolahan 8.000

Biaya penyimpanan 60.000

Jumlah 476.000

Saluran tataniaga keempat yang mengeluarkan biaya tataniaga terbesar yaitu Rp. 483.500/Kuintal tebu. Margin di setiap saluran tataniaga berbeda-beda karena perbedaan biaya pemsaran yang dikeluarkan dan keuntungan yang diperoleh untuk setiap lembaga tataniaga. Hal ini juga akan menyebabkan perbedaan harga jual disetiap tingkatan lembaga tataniaga. Nilai margin tataniaga yang kecil menunjukkan bahwa saluran tataniaga tersebut efisien karena perbedaan harga jual di tingkat petani dan harga beli di lembaga tataniaga akhir kecil hal ini akan menguntungkan petani. Nilai margin tataniaga yang besar me

nunjukkan bahwa saluran tataniaga tersebut tidak efisien karena perbedaan harga jual di tingkat petani dan harga beli di tingkat lembaga tataniaga terakhir besar hal ini akan merugikan petani. Berdasarkan analisis margin tataniaga tebu dapat dilihat bahwa saluran tataniaga keempat yang memiliki margin tataniaga yang terbesar dan saluran tataniaga pertama memiliki margin tataniaga terkecil dalam saluran tataniaga tataniaga tebu. Rincian mengenai margin tataniaga dan keuntungan yang diterima oleh setiap lembaga tataniaga setelah pendapatan petani ditambahkan dengan penerimaan harga tetes dan penerimaan gula natura dapat dilihat dari Tabel 19. Margin tataniaga dan keuntungan yang diterima setiap lembaga tataniaga berdasarkan pendapatan petani yang berasal dari harga tebu dapat dilihat di Lampiran 3.

74 Tabel 19. Margin tataniaga tebu setiap saluran tataniaga di Desa Pulorejo tahun

2011 Uraian Saluran Tataniaga 1 2 3 4 Nilai (Rp/K w) % Nilai (Rp/Kw) % Nilai (Rp/K w) % Nilai (Rp/Kw) % Petani Harga jual 48.340 84,60 47.173 73,38 46.240 71,93 200.000 20 B.Tataniaga 12.201 21,35 13.850 21,54 7.500 0,75 APTRI Harga Beli 48.340 84,60 B.Tataniaga 2.599 4,55 Keuntungan 6.203 10,86 Harga Jual 57.142 100 Margin 8.802 15,40 Kontraktor Tebu Harga Beli 46.240 71,93 B.Tataniaga 16.428 25,55 Keuntungan 1.617 2,52 Harga Jual 64.285 100 Margin 18.045 28,07 Kelompok tani Harga Dasar 47.173 73,4 B.Tataniaga 1.000 1,56 Fee 964,275 1,5 Keuntungan 15.148 23,56 Harga Jual 64.285 100 Margin 17.112 26,62 Pedagang Sari Tebu HargaBeli 200.000 20 B.Tataniaga 476.000 47,6 Keuntungan 324.000 32,4 Harga Jual 1.000.000 100 Margin 800.000 80 Total B.tataniaga 14.800 25,90 14.850 23,10 16.428 25,5 483.500 48,4 Total Keuntungan 6.023 10,86 15.148 23,56 1.617 2,52 324.000 32,4 Total Margin 8.802 15,40 17.112 26,62 18.045 28,1 800.000 80 6.7. Farmer’s Share

Farmer’s share adalah selisih antara harga retail dan margin tataniaga. Hal

ini digunakan untuk mengatahui porsi harga di tingkat konsumen yang dinikmati oleh petani. Melalui farmer’s share dapat diketahui efisien atau tidaknya sebuah saluran tataniaga. Nilai farmer’s share yang besar berarti porsi atau bagian yang dinikmati petani besaar dan saluran tataniaga tersebut efisien. Nilai farmer’s share

75 yang kecil berarti porsi atau bagian yang dinikmati oleh petani kecil dan saluran tataniaga tersebut tidak efisien. Analisis farmer’s share dari tataniaga tebu di Desa Pulorejo dapat dilihat dari tabel 20.

Tabel 20. Analisis Farrmer’s Share pada Saluran Tataniaga Tebu di Desa Pulorejo Tahun 2011 Saluran Tataniaga Harga di Tingkat Petani (Rp/Kuintal) Harga di Tingkat Konsumen (Rp/Kuintal) Farmer's Share (%) I 48.340 57.142 84,60 II 47.173 64.285 73,38 III 46.240 64.285 71,93 IV 200.000 1.000.000 20,00

Farmer’s share tertinggi terdapat pada saluran tataniaga satu sebesar

84,60%, hal ini menunjukkan bahwa petani menerima harga sebesar 84,60% dari harga yang dibayarkan oleh konsumen. Pada analisis margin tataniaga saluran tataniaga satu mendapatkan margin terkecil yaitu sebesar 15,40%. Sedangkan

farmer’s share terkecil didapatkan oleh saluran tataniaga empat sebesar 20% dan

mendapatkan margin tataniaga terbesar sebesar 80%.

Pada saluran dua dan tiga harga di tingkat konsumen sama yaitu sebesar Rp. 64.285/Kuintal. Tetapi terdapat perbedaan dalam farmer’s share yang didapatkan oleh peetani. Hal ini dapat disebabkan oleh harga di tingkat petani pada saluran dua lebih besar bila dibandingkan dengan saluran tataniaga tiga. Selain itu hal ini dapat disebabkan oleh total biaya tataniaga pada saluran tataniaga dua lebih kecil daripada saluran tataniaga tiga. Jika dilihat dari analisis margin tataniaga dan farmer’s share maka saluran tataniaga satu dapat dikatakan paling efisien karena nilai margin saluran pemsaran satu terkecil dan farmer’s

share yang didapatkan petani juga paling besar.

6.8. Rasio Keuntungan Terhadap Biaya

Rasio keuntungan terhadap biaya dapat digunakan untuk melihat efisiensi suatu sistem tataniaga. Rasio keuntungan dan biaya tataniaga mendefinisikan besarnya keuntungan yang diterima atas biaya tataniaga yang dikeluarkan. Nilai rasio keuntungan terhadap biaya lebih dari satu hal ini berarti saluran tersebut

76 layak untuk dijalankan dan telah memberikan keuntungan kepada lembaga tataniaga yang terlibat didalamnya. Analisis rasio keuntungan dan biaya tataniaga tebu di Desa Pulorejo dapat dilihat dalam tabel 21.

Tabel 21. Analisis Keuntungan Terhadap Biaya pada Lembaga Tataniaga Tebu di Desa Pulorejo Tahun 2011

Saluran Tataniaga Keuntungan Tataniaga (Rp/Kuintal) Biaya Tataniaga (Rp/Kuintal) Rasio Keuntungan Terhadap Biaya Saluran I Petani 36.139 12.201 2,96 Aptri 6.203 2.599 2,39 Total 42.342 14.800 2,86 Saluran II Petani 33.323 13.850 2,41 Kelompok Tani 15.148 1.000 15.15 Total 48.471 14.850 3,26 Saluran III Petani 46.240 - - Kontraktor Tebu 1.617 16.428 0,10 Total 47.857 16.428 2,91 Saluran IV Petani 192.500 7.500 25,67

Pedagang Sari Tebu 324.000 467.000 0,69

Total 516.500 474.500 1,09

Berdasarkan tabel di atas pada setiap saluran tataniaga memiliki nilai rasio keuntungan dan biaya lebih dari satu, hal ini berarti kegiatan tataniaga yang dilakukan oleh setiap lembaga tataniaga masing-masing memberikan keuntungan. Rasio keuntungan terhadap biaya pada saluran pertama adalah 2,86. Hal ini berarti setiap Rp. 1/kuinal tebu akan menghasilkan keuntungan sebesar Rp. 2,86/kuintal tebu. Nilai rasio keuntungan terhadap biaya terbesar berada pada saluran tataniaga dua yaitu sebesar 3,26. Hal ini berarti setiap Rp. 1/kuintal tebu akan menghasilkan keuntungan sebesar Rp. 3,26/kuintal tebu. Rasio keuntungan terhadap biaya terbesar dalam saluran dua adalah kelompok tani. Rasio keuntungan terhadap biaya pada saluran ketiga sebesar 2,91. Setiap Rp. 1/kuintal tebu akan menghasilkan keuntungan sebesar Rp. 2,91/kuintal tebu. Sedangkan pada saluran

77 keempat memiliki nilai rasio keuntungan terhadap biaya sebesar 1,09. Setiap Rp. 1/kuintal tebu akan menghasilkan keuntungan sebesar Rp. 1,09/kuintal tebu.

Berdasarkan perhitungan rasio keuntungan terhadap biaya maka saluran tataniaga kedua yang relatif lebih efisien karena memiliki nilai rasio keuntungan terhadap biaya paling besar. Sedangkan saluran tataniaga keempat relatif tidak efisien karena memiliki nilai rasio keuntungan terhadap biaya yang paling kecil.

Dokumen terkait