B. Anlisis farmer’s share
6.9. Efisiensi Saluran Tataniaga
Tujuan akhir yang ingin dicapai dari suatu sistem tataniaga adalah saluran yang efisien. Efisiensi tataniaga dapat dilihat berdasarkan efisiensi operasional dan efisiensi harga. Efisiensi operasional meliputi efisiensi dalam pengolahan, pengemasan, pengangkutan, dan fungsi lain dari sistem tataniaga. Efisiensi harga meliputi kegiatan pembelian, penjualan, dan aspek harga. Analisis yang digunakan untuk mengetahui efisiensi operasional adalah analisis margin tataniaga, farmer’s share, dan rasio keuntungan terhadap biaya.
Berdasarkan analisis margin tataniaga pada saluran tataniaga tebu yang paling efisien adalah saluran tataniaga pertama sebesar 15,40%. Saluran tataniaga pertama ini memiliki volume penjualan 73.000 kuintal dan memiliki presentase sebesar 20,5% dari total volume penjualan tebu. Analisis farmer’s share menunjukan bahwa saluran tataniaga pertama yang paling efisien. Nilai farmer’s
share pada saluran pertama adalah 84,60%. Sedangkan analisis rasio keuntungan
terhadap biaya menunjukkan bahwa saluran tataniaga pertama telah memberikan keuntungan pada setiap lembaga tataniaga yang terlibat didalamnya. Nilai rasio keuntungan terhadap biaya sebesar 2,86 yang artinya setiap Rp. 1/kuintal tebu akan memberikan keuntungan sebesar Rp. 2,86/kuintal tebu.
Keadaan yang sebenarnya terjadi adalah petani lebih banyak menjual tebunya kepada kontraktor tebu, hal ini disebabkan oleh petani tidak mengeluarkan biaya pemanenan dan biaya pengangkutan karena semua biaya tersebut ditanggung oleh kontraktor tebu. Selain itu, petani menganggap bahwa jika tebu miliknya dijual kepada kontraktor tebu petani akan lebih mudah dan lebih cepat mendapatkan hasil karena kontraktor tebu akan membayar 50% di awal sebagai DP dan sisanya akan dilunasi jika telah mendapatkan hasil dari
78 pabrik tebu. Petani tidak akan susah untuk mencari lembaga tataniaga karena kontraktor tebu akan mencari petani. Volume penjualan tebu pada saluran tiga paling besar dalam saluran tataniaga tebu. Volume penjualan pada saluran ketiga sebesar 227.000 kuintal atau sebesar 63,7% dari total volume penjualan tebu.
Potensi petani untuk menjual tebu kepada Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia dan kelompok tani terbuka luas. Kelompok tani berada di masing-masing daerah petani tinggal. Kelompok tani akan menjadi perantara petani dengan pabrik gula. kelompok tani akan mengurus tebu milik petani di pabrik gula hingga uang hasil gilingan tebu diberikan. Namun ada keenganan dari petani untuk memberikan komisi kepada kelompok tani. Komisi yang dibayarkan petani kepada kelompok tani sebesar 1,5% dari hasil milik petani. Sedikitnya petani yang bergabung pada Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia disebabkan oleh jauhnya letak Asosasi Petani tebu Rakyat Indonesia. Pendaftaran dan pengambilan uang hasil petani dilakukan di Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia. Petani yang bergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia bisa mendapatkan kredit untuk memberikan modal kepada petani. Ada beberapa petani yang memiliki modal sendiri untuk membiayai biaya usahatani tebu. Petani yang memiliki modal sendiri enggan untuk masuk ke dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia.
79
VII. KESIMPULAN DAN SARAN
7.1. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari analisis sistem tataniaga Tebu di Desa Pulorejo adalah sebagai berikut:
1. Saluran tataniaga tebu yang terbentuk di Desa Pulorejo ada empat saluran yaitu: saluran tataniaga 1) Petani – Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) – Pabrik Gula. Saluran tataniaga 2) Petani – Kelompok Tani – Pabrik Gula. Saluran tataniaga 3) Petani – Kontraktor Tebu – Pabrik Gula. Saluran tataniaga 4) Petani – Pedagang Sari Tebu – Konsumen.
2. Fungsi pemasaran yang dilakukan oleh masing-masing lembaga tataniaga adalah fungsi pertukaran berupa pembelian dan penjualan, fungsi fisik berupa pengangkutan, pengemasan, penyimpanan, fungsi fasilitas berupa penanggungan risiko, sortasi, pembiayaan, pengolahan dan informasi pasar. Struktur pasar yang yang dihadapi oleh petani mengarah ke pasar persaingan sempurna. Pasar yang dihadapi oleh Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) adalah pasar oligopoli. Struktur pasar yang dilihat dari kelompok tani mengarah kepada pasar oligopoli. Struktur pasar yang dihadapi oleh kontrkator tebu dan pedagang sari tebu adalah pasar persaingan sempurna. Perilaku pasar dapat diamati dari praktek pembelian dan penjualan, sistem penentuan harga, dan kerjasama antar lembaga tataniaga.
3. Berdasarkan margin tataniaga, farmer’s share, dan rasio keuntungan terhadap biaya menunjukkan saluran tataniaga satu merupakan saluran yang paling efisien. Hal ini dapat dilihat dari margin tataniaga yang terendah, farmer’s share yang tertinggi dan saluran tataniaga ini juga memberikan keuntungan kepada setiap lembaga tataniaga yang terlibat. Volume penjualan dalam saluran tataniaga kesatu sebesar 73.000 kuintal atau sebesar 20,5% dari total volume penjualan tebu.
80 7.2. Saran
1. Petani lebih mempertimbangkan nilai margin tataniaga, farmer’s share dan rasio keuntungan terhadap biaya dalam memilih saluran tataniaga. Diharapkan petani tidak lagi memilih saluran tataniaga berdasarkan kebutuhan petani tetapi berdasarkan saluran tataniaga yanglebih efisien. 2. Petani tebu dapat memilih saluran tataniaga yang efisien yang akan
memberikan keuntungan kepada petani sehingga petani memperoleh bagian yang tinggi dalam sistem tataniaga. Dalam penelitian ini saluran tataniaga melalui Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI). APTRI dapat berperan dalam pembinaan budidaya, penyediaan modal, penjualan tebu, dan penyediaan informasi kepada petani.
3. APTRI dapat membuka sekretariat atau cabang yang akan membantu petani dalam saluran tataniaga. Sekretariat atau cabang dibuka dekat dengan lokasi petani sehingga petani tidak perlu datang ke kantor APTRI pusat untuk mengurus tebu dan uang milik petani.
4. Pabrik gula dapat lebih mempermudah pengurusan surat kontrak yang digunakan petani untuk menggilingkan tebu ke pabrik gula sehingga lebih banyak lagi petani yang memiliki surat kontrak.
5. Perluasan informasi diperlukan petani untuk mengetahui budidaya yang baik,perhitungan rendemen dan harga yang berlaku untuk setiap masa panen.
81
DAFTAR PUSTAKA
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2010. Luas Areal Tanaman Perkebunan. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2010. Produksi Tanaman Perkebunan. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
Asmarantaka, Ratna W. 2009. Pemasaran Produk-Produk Pertanian dalam
Bunga Rampai Agribisnis Seri Pemasaran. Editor Nunung Kusnadi,dkk.
Bogor: IPB press.
Dahl. D.C. dan I.Hammond. 1977. Market and Price Analysis The Agricultural
Industry. United State: Mc. Graw-Hill, Inc.
Direktorat Jendral Perkebunan. 2009. Data Statistik Tebu Provinsi Jawa Timur
Tahun 2008. Jakarta: Direktorat Jendral Perkebunan.
Direktorat Jendral Perkebunan. 2009. Produksi Tebu Berdasarkan Provinsi di
Indonesia. Jakarta: Direktorat Jendral Perkebunan.
Kementrian Pertanian. 2004. Varietas dan Karakteristik Tebu di Indonesia. Jakarta: Kementrian Pertanian.
Kotler, P. 2002. Manajemen Pemasaran. Edisi Ksepuluh. Jakarta: PT. Prenhalindo.
Kohls, R.L dan J.N Uhl. 1985. Marketing of Agricultural Products. New York: The Macmillan Company.
Kohls, R..L. dan J.N Uhl. 2002. Marketing of Agricultural Products. London: New York an Coller Macmillan Publishing.
Limbong, W.H dan P. Sitorus. 1985. Pengantar Tataniaga Pertanian. Program
Studi Manajer Koperasi Unit Desa (KUD). Bogor: Fakultas Politeknik
82 Limbong, W.M. dan P. Sitorus. 1987. Pengantar Tataniaga Pertanian. Bahan
Kuliah Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor: IPB.
Pemerintah Kabupaten Jombang. 2008. Jombang Dalam Angka 2008. Jombang: Pemerintah Kabupaten Jombang.
Rahim A, Hastuti Drd. 2008. Pengantar, Teori dan Kasus Ekonometrika
Pertanian. Jakarta: Penebar Swadaya.
Slamet. 2004. Tebu (Saccharum officinarum)
http://warintek.progressio.or.id/tebu/perkebunan/warintek/merintibisnis/pro gressio.html. [29 November 2010]
Soekartawi. 2002. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
83
84
Lampiran 1. Data Petani tebu di Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang
No Nama Luas
Lahan Usia Pendidikan
Tebu Yang Di Hasilkan (kuintal) 1 Sunendro W. S.Sos 40 ha 36 tahun S1 30.000
2 Sawung AB 12 ha 46 tahun SMA 16.000
3 H. Agus Salim Cokro 60 ha 66 tahun SMA 60.000 4 H. Widarto Abdul 23 ha 53 tahun S1 25.000 5 H. Sudarno Waluyo 20 ha 55 tahun S1 18.000 6 Sri Mulyati W. SE 10 ha 40 tahun S1 10.000 7 Drs. H. Zainal Arifin,
MM 3 ha 63 tahun S2 7.000
8 M.Zamroni 10 ha 32 tahun S1 10.000
9 Ibu Sus 2 ha 65 tahun SMA 5.000
10 Yatimin 15 ha 70 tahun SMA 15.000
11 Abdul Majid 20 ha 65 tahun D3 20.000
12 M. Aldi Nugraha 10 ha 60 tahun SMA 10.000 13 Dra. Dewi Mukti 15 ha 63 tahun S1 13.000 14 Anggar Romansyah 25 ha 47 tahun STM 20.000 15 Ir. Samsul Huda 20 ha 47 tahun S1 18.000
16 H. Suratman 23 ha 50 tahun D3 25.000
17 H. Abdul Sulton 30 ha 40 tahun SMK 28.000
18 Jalal 8 ha 36 tahun SMA 8.000
19 Robert 7 ha 40 tahun D3 8.000
85
Lampiran 2. Harga Tebu, Tetes dan Natura yang Diterima Petani di Desa Pulorejo Tahun 2011. Saluran Tataniaga Harga Tebu (Rp/Kuintal Tebu) Harga Tetes (Rp/Kuintal Tebu) Harga Natura (Rp/Kuintal Tebu) 1 37.000 4.500 6.840 2 37.833 2.500 6.840 3 36.900 2.500 6.840 4 200.000 - -
86
Lampiran 3. Margin Tataniaga Berdasarkan Pendapatan Petani yang Berasal dari Harga Tebu Uraian Saluran Tataniaga 1 2 3 4 Nilai (Rp/K w) % Nilai (Rp/Kw) % Nilai (Rp/K w) % Nilai (Rp/Kw) % Petani Harga jual 37.000 64,75 37.833 58,85 36.900 57.40 200.000 20 B.Tataniaga 12.201 21,35 13.850 21,54 7.500 0,75 APTRI Harga Beli 37.000 64,75 B.Tataniaga 2.599 4,55 Keuntungan 17.543 30,70 Harga Jual 57.142 100 Margin 20.142 35,25 Kontraktor Tebu Harga Beli 36.900 57,40 B.Tataniaga 16.428 25,55 Keuntungan 10.957 17,04 Harga Jual 64.285 100 Margin 27.385 42,60 Kelompok tani Harga Dasar 37.833 58,85 B.Tataniaga 1.000 1,56 Fee 964,275 1,5 Keuntungan 24.488 38,09 Harga Jual 64.285 100 Margin 26.452 41,15 Pedagang Sari Tebu HargaBeli 200.000 20 B.Tataniaga 476.000 47,6 Keuntungan 324.000 32,4 Harga Jual 1.000.000 100 Margin 800.000 80 Total B.tataniaga 14.800 25,90 14.850 23,10 16.428 25,5 483.500 48,4 Total Keuntungan 17.452 30,70 24.488 38,90 10.957 17,04 324.000 32,4 Total Margin 20.142 35,25 26.452 41,15 27.835 42,6 800.000 80
84
Lampiran 4. Kuisioner Petani Tebu
Kuisioner Penelitian Analisis Tataniaga Tebu Di Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro
Kabupaten Jombang, Jawa Timur Oleh : Anggriani Putri S (H34070117)
Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor 2011
Kuisioner untuk Petani Tebu
1. Nama : ... 2. Jenis Kelamin : perempuan / laki-laki
3. Umur : ... tahun
4. Alamat rumah : ... 5. Status : menikah / belum menikah
6. Pendidikan terakhir : ... 7. Status lahan : a. Milik sendiri b. Menyewa
c. lainnya ... 8. Luas lahan : ...
9. Berapa lama Anda melakukan kegiatan usahatani tebu? ...
10. Alasan menjadi petani
tebu?... 11. Apakah usahatani tebu menjadi pekerjaan utama Anda? Ya / Tidak
12. Pola bertani ? ...monokultur / tumpang sari 13. Apakah Anda tergabung ke dalam kelompok tani? Ya / Tidak.
Jika ya, sebutkan ... 14. Jumlah produksi / panen? ... 15. Berapa kali panen dalam setahun? ... 16. Apakah kegiatan pemanenan dilakukan sendiri? Ya / Tidak
Jika ya, siapa yang melakukan pemanenan? ... Biaya yang dikeluarkan untuk pemanenan ... 17. Apakah Anda melakukan pengelompokan tebu yang sudah di panen? Ya / Tidak 18. Hasil pengelompokan tebu yang kurang baik untuk apa? ... 19. Apakah Anda melakukan penyimpanan tebu sebelum di jual? Ya / Tidak
20. Apakah jika harga tebu di pasar turun, Anda tetap melakukan budidaya tebu? Ya / Tidak
Jika ya, sebutkan alasannya ...
21. Berapa harga tebu per kuintal yang Anda terima? ... 22. Kemana biasanya Anda menjual hasil panen? ...
Lembaga pemasaran Kuantitas (kuintal) Harga (Rp/kuintal)
85 24. Bagaimana teknik menjualnya? Kontrak / Langganan / Langsung /
lainnya...
25. Bagaimana teknik pembayarannya ? Tunai / Kredit / Lainnya...
26. Siapa yang menentukan harga jual? ...
27. Bagaimana cara menentukan harga jual ? ...
28. Apakah lembaga pemasaran memiliki standar khusus mengenai tebu yang dipanen? Ya / Tidak 29. Apakah Anda melakukan kerjasama atau kontrak dengan lembaga pemasaran tertentu? Ya / Tidak Jika ya, apa alasan Anda melakukan kerjasama?...
30. Apakah Anda mendapatkan informasi tentang pasar tebu? Ya / Tidak 31. Darimana Anda mendapatkan informasi tersebut ? ...
32. Berapa jumlah biaya pemasaran yng dikeluaran setiap panen: a. Biaya pemanenan : Rp...
b. Biaya pengangkutan : Rp...
c. Biaya penyimpanan : Rp...
d. Biaya penyusutan : Rp...
e. Biaya bongkar muat : Rp...
f. Biaya sortir : Rp...
g. Retribusi : Rp...
h. Lainnya : Rp...
33. Apakah ada kesulitan dalam menjual tebu? Ya / Tidak 34. Sumber modal : (modal sendiri / dapat bantuan / dapat pinjaman) a. Besarnya modal : Rp...
b. Jika dapat bantuan dalam bentuk ... jangka waktu...
c. Apakah ada keterkaitan dengan pemilik modal? Ya / Tidak d. Jika ya, apakah hasil panen harus dijual ke lembaga tersebut?
89
Lampiran 5. Kuisioner Lembaga Pemasaran Tebu
Kuisioner Penelitian Analisis Tataniaga Tebu Di Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro
Kabupaten Jombang, Jawa Timur Oleh : Anggriani Putri S (H34070117)
Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor 2011
Kuisioner untuk Lembaga Pemasaran
1. Nama : ...
2. Jenis kelamin : perempuan / laki-laki 3. Umur : ... tahun 4. Alamat rumah : ...
...
5. Status : menikah / belum menikah 6. Pendidikan terakhir : ...
7. Klasifikasi lembaga pemasaran: ...
8. Nama lembaga : ...
9. Bentuk lembaga : a. Perorangan c. Firma /CV b. koperasi d. Lainnya, sebutkan...
10. Apakah menjadi salah satu lembaga pemasaran merupakan pekerjaan utama Anda? Ya / Tidak 11. Apakah Anda melakukan kerjasama? Ya / Tidak 12. Apakah Anda menetapkan standar / pengelompokan dari tebu yang Anda beli? Ya / Tidak 13. Apakah ada perbedaan harga berdasarkan perbedaan mutu? Ya / Tidak 14. Standar mutu apa yang Anda terapkan? ...
15. Apakah Anda selalu membeli dari orang tersebut? Ya / Tidak Jika tidak, pada sapa Anda membeli?...
16. Apa alasan Anda membeli tebu dari orang tersebut?...
17. Dimana tempat Anda membeli tebu tersebut? ...
18. Berapa frekuensi Anda dalam melakukan pembelian tebu? ...
19. Berapa banyak tebu yang Anda beli setiap panennya? ...kuintal 20. Berapa harga pembelian tebu per kuintalnya? Rp...
21. Bagaimana sistem pembelian tebu? a. Bebas c. Borongan b. kontrak d. Lainnya, sebutkan...
22. Bagaimana cara pembayarannya? a. Tunai c. Dibayar dimuka b. dibayar sebagian d. Lainnya, sebutkan...
23. Bagaimana cara penentuan harga? a. petani c. Tawar-menawar b. pedagang d. Lainnya, sebutkan ...
24. Bagaimana penyerahan barang? a. di tempat penjual b. Di tempat pembeli 25. Bagaimana mendapatkan informasi harga? ...
26. Apakah anda melakukan kegiatan penyimpanan? Ya / Tidak Jika ya, jumlah yang disimpan ... kuintal Lama penyimpanan ... kuintal Cara penyimpanan ...
Lokasi penyimpanan ...
90 27. Besarnya biaya yang dikeluarkan :
a. Biaya pengangkutan : Rp...
b. Biaya tenaga kerja : Rp...
c. Biaya penyimpanan : Rp...
d. Biaya penyusutan : Rp...
e. Biaya bongkar muat : Rp...
f. Biaya sortir : Rp...
g. Retribusi : Rp...
h. Lainnya : Rp...
28. Apakah Anda menanggung semua risiko dari kegiatan pembelian? Ya / Tidak 29. Apakah Anda melakukan pengelompokkan / standar mutu pada saat menjual tebu? Ya / Tidak 30. Apakah ada perbedaan harga berdasarkan perbedaan mutu? Ya / Tidak 31. Standar mutu apa yang Anda terapkan? ...
32. Kemana biasanya Anda melakukan kegiatan penjualan? ...
33. Bagaimana cara pembayarannya? a. Tunai c. Dibayar dimuka b. dibayar sebagian d. Lainnya, sebutkan...
34. Bagaimana cara penentuan harga? a. anda c. Tawar-menawar b. pedagang d. Lainnya, sebutkan ...
35. Berapa banyak tebu yang Anda jual? ...kuintal 36. Berapa harga jual tebu per kuintal? Rp. ...
37. Adakah hambatan yang Anda alami dalam menjual tebu saat ini? Ya /Tidak\ Alasan : ...
38. Manakah pernyataan yang sesuai dengan keadaan saat ini? a. Pembeli sedikit, penjual banyak b. Kualitas tebu kurang bagus c. Biaya yang dikeluarkan terlalu tinggi 39. Bagaimana Anda mendapat informasi mengenai jumlah, waktu, mutu tebu yang akan dijual? ...