• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.5 Analisis Data

4.5.5 Analisis Matriks SWOT

Matriks SWOT dianalisis dengan menyesuaikan antara kekuatan dan kelemahan internal dengan peluang dan ancaman eksternal yang dimiliki TWI Sitinjo, dengan tujuan mengembangkan strategi-strategi alternatif bagi wisata yang mendukung strategi agresif sesuai dengan posisi wisata pada diagram SWOT. Analisis matrik SWOT Taman Wisata Iman Sitinjo dapat dilihat pada sebagai berikut

Tabel 4.6

Matriks SWOT Taman Wisata Iman Sitinjo

IFAS

EFAS

STRENGTHS (S)

1. Pengelola wisata yang kompeten

2. Pemasaran dengan kerjasama yang baik antara pengelola & pemerintah daerah 3. Akomodasi penginapan

yang memadai

4. Objek wisata religi yang unik

5. Lokasi yang strategis 6. Suasana dengan latar

belakang hutan pinus 7. Jasa photografer

membantu dalam mengabadikan momen 8. Pelayanan yang baik

oleh pedagang souvenir 9. Pengelola melakukan riset dengan mengunjungi wisata diluar Dairi 10.Variasi souvenir dengan harga terjangkau WEAKNESSES (W) 1. Minimnya fasilitas tempat sampah, penerangan, penunjuk arah serta posisi denah kurang tepat

2. Bangunan yang rusak dan sebagian jalan tidak beraspal

3. Dikenakannya pembayaran

menggunakan sarana umum toilet

4. Tarif retribusi yang tinggi

5. Promosi yang kurang 6. Pelayanan petugas

retribusi dan penampilan photografer yang kurang baik 7. Minimnya dana

8. Tidak adanya akomodasi bus

OPPORTUNITIES (O)

1. Ragam kebudayaan dan pagelaran budaya 2. Pemerintah daerah

yang antusias terhadap wisata

3. Berkembangnya teknologi informasi 4. Menjadikan objek

wisata diluar Dairi sebagai peluang 5. Memanfaatkan objek

wisata lain yang ada di Dairi

6. Lahan luas milik masyarakat dimanfaatkan 7. Komunitas peduli lingkungan 8. Masyarakat yang menyediakan jasa perjalanan/ open trip

STRATEGI SO

1. Memanfaatkan potensi wisata dengan tenaga pengelola yang kompeten (S1, O2, O5) 2. Memanfaatkan

pagelaran budaya untuk memperkenalkan

keunikan objek wisata religi yang dilengkapi fasilitas seperti akomodasi penginapan. (S3, S4, W1)

3. Pemasaran melauli kerjasama antara instansi dan masyarakat penyedia jasa perjalanan ( S2, O8) 4. Keunikan wisata religi

dapat meningkat dengan menambah objek wisata di lahan kosong yang luas milik masyarakat dekat lokasi wisata. (S4, O6)

5. Ragam budaya menjadi atraksi budaya yang dilakukan di lokasi wisata yang strategis dan meningkatkan daya tarik. ( S4, S5, W1) 6. Riset ke wisata daerah

lain dapat

meningkatkan

kompetensi pengelola dalam membenahi wisata religi dan mengembangkan

potensi wisata lainnya (S1, W1)

7. Menjalin kerjasama bagi pengelola wisata diluar Dairi untuk

STRATEGI WO 1.Meningkatkan promosi dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. (W5, O3) 2.Meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian, kebersihan dengan melakukan kerjasama dengan komunitas peduli lingkungan.(W1, W2, O7) 3.Antusias pemerintah dalam pengembangan wisata akan memudahkan dalam pembenahan terhadap fasilitas dan renovasi bangunan dan jalan. (W1, W2, O2)

4.Adanya retribusi dan pembayaran sarana umum toilet diimbangi dengan pelayanan, penambahan objek dan fasilitas wisata dengan memanfaatkan lahan kosong masyarakat. ( W3,W4. W7, W6, O6) 5. Menyediakan

akomodasi bus dan paket perjalanan diikuti pengembangan potensi wisata yang ada di Dairi dan kerjasama dengan pengelola wisata diluar Dairi. (W8, O4, O5, O8)

menarik perhatian wisatawan. ( S4, W4) 8. Menjaga kelestarian

hutan pinus dengan melakukan kerjasama dengan komunitas peduli lingkungan. (S6, W7)

9. Ragam budaya

dimanfaatkan untuk ide variasi souvenir(S10, W1) 10.Memanfaatkan teknologi dalam mempublis jasa photografer dan pedagang souvenir (S7, S8, W3)

THREATS (T)

1. Perekonomian yang tidak stabil

2. Kenaikan tarif retribusi sesuai Perbup nomor 24 tahun 2015 3. Sifat wisatawan yang

bosan akan satu objek wisata

4. Perubahan cuaca tidak menentu di daerah Dairi

STRATEGI ST

1.Melakukan riset dan memasarkan wisata religi dengan mengangkat segala potensi wisata yang ada di Dairi dengan kerjasama dengan seluruh pihak. (S1, S2, S4, S9, T1, T3)

2. Meningkatkan

pelayanan, penambahan objek wisata untuk menambah daya tarik wisata. (S3, S4, S8, S7, T3)

3.Memaksimalkan fasilitas sesuai tarif yang ditetapkan. (S3, S4, T2) 4.Penyediaan fasilitas dalam mengantisipasi perubahan cuaca. (S3, S4, T4) STRATEGI WT 1.Mulai menetapkan program penambahan objek wisata, fasilitas dan renovasi bangunan. (W1, W2, T1, T3) 2.Mempertimbangkan penghapusan pembayaran dalam menggunakan toilet. (W3, W4, T2) 3.Mempertimbangkan penyediaan booklet berisi denah lokasi penunjuk posisi objek wisata. (T4, W2)

Sumber: Hasil Penelitian, 2016

Berdasarkan matriks SWOT menunjukkan bahwa kinerja pengelola dapat ditentukan oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. Melalui hasil diagram SWOT, Taman Wisata Iman Sitinjo paling sesuai memanfaatkan strategi SO, namun untuk memaksimalkan hasil, sebaiknya pengelola wisata juga memanfaatkan strategi lainnya dalam mengembangkan produk wisata. Kombinasi kedua faktor tersebut ditunjukkan dalam diagram hasil analisis SWOT sebagai berikut :

1. Strategi SO (Strength-Opportunity)

Strategi ini menggunakan kekuatan internal wisata untuk meraih peluang peluang yang ada diluar wisata. Jadi jika wisata memiliki kelemahan maka pengelola harus mampu mengatasi kelemahan tersebut, sedangkan jika wisata menghadapi

ancaman maka pengelola harus berusaha menghindarinya dan berusaha berkonsentrasi pada peluang-peluang yang ada.

Strategi SO pada Taman Wisata Iman Sitinjo adalah :

a) Memanfaatkan potensi wisata dengan tenaga pengelola yang kompeten

Dairi memiliki potensi wisata baik wisata alam, wisata kebudayaan dan wisata peninggalan sejarah yang dapat di manfaatkan dan dikelola guna meningkatkan daya tarik wisatawan untuk berkunjung. Pengelolaan dilakukan oleh pihak yang kompeten dan memiliki ijin dalam bidang wisata yaitu Disbudparpora. Dengan memanfaatkan potensi wisata tersebut makan akan berimbas pada TWI Sitinjo baik dari segi pengembangan, penambahan jumlah wisatawan, serta pendapatan. b) Memanfaatkan pagelaran budaya untuk memperkenalkan keunikan objek wisata

religi yang dilengkapi fasilitas seperti akomodasi penginapan

Pagelaran budaya seperti Pesta Njuah-njuah maupun pagelaran budaya lainnya dapat dimanfaatkan sebagai sarana memperkenalkan TWI Sitinjo sebagai wisata ungggulan yang unik di Dairi. Melalui pagelaran budaya juga dapat dipubikasikan mengenai pengembangan wisata, seperti bertambahnya sarana wisata, fasilitas, dan lain-lain.

c) Pemasaran melauli kerjasama antara instansi dan masyarakat penyedia jasa perjalanan

Pemasaran tidak hanya dapat dilakukan oleh pihak pengelola secara pribadi saja, melainkan dapat juga dilakukan melalui adanya jasa perjalanan dengan menjalin kerjasama antara pengelola, pemerintah serta masyarakat penyedia jasa perjalanan.

d) Menambah objek wisata di lahan kosong yang luas milik masyarakat dekat lokasi wisata

Sebagai lokasi wisata yang unik, tentunya diperlukan penambahan objek wisata. Penambahan objek wisata dapat berupa rekreasi outdoor, camping ground, atau sarana rekreasi keluarga sejenisnya untuk menarik perhatian wisatawan dan media agar wisatawan melakukan kunjungan berulang.

e) Ragam budaya menjadi atraksi budaya yang dilakukan di lokasi wisata yang strategis dan meningkatkan daya tarik

Dengan keragaman budaya yang dimiliki oleh kabupaten Dairi, dapat dilakukan di lokasi TWI Sitinjo atraksi budaya, baik atraksi wayang, drama kebudayaan, pertunjukan tari, dan atraksi kebudayan lainnya. Tentunya atraksi ini akan melibatkan seluruh masyarakat baik muda maupun tua, dan hal ini terutama untuk meningkatkan cinta kebudayaan bagi generasi muda. Dengan bertambahnya atraksi budaya ini, akan menambah keunikan TWI Sitinjo.

f) Riset ke wisata daerah lain dapat meningkatkan kompetensi pengelola dalam membenahi wisata religi dan mengembangkan potensi wisata lainnya

Riset dan kunjungan ke lokasi wisata lain diluar Dairi yang dilakukan oleh pihak pengelola dapat meningkatkan kompetensi mereka. Kunjungan tersebut juga dapat membantu pengelola dalam melihat hal yang perlu di benahi di TWI Sitinjo. Riset juga dilakukan guna pengembangan potensi wisata alam, wisata kebudayaan, serta wisata sejarah yang ada di Dairi.

g) Menjalin kerjasama bagi pengelola wisata diluar Dairi untuk menarik perhatian wisatawan

Wisata diluar Dairi bukanlah sebagai pesaing/ kompetitor, melainkan peluang dalam mendatankan para wisatawan ke Dairi khususnya mengunjungi TWI Sitinjo. Bahkan dengan menjalin kerjasama terhadap pengelola wisata luar Dairi, dapat menciptakan sarana seperti paket perjalanan yang dilakukan untuk mengunjungi wisata tersebut, apalagi jika setiap wisata telah dilengkapi dengan fasilitas dan akomodasi yang memberi kenyamanan bagi wisatawan.

h) Menjaga kelestarian hutan pinus dengan melakukan kerjasama dengan komunitas peduli lingkungan

Latar belakang TWI Sitinjo yang merupakan hutan pinus dan destinasi pemandangan alam dari perbukitan harus lah dijaga kelestariannya. Hal ini bisa dilakukan dengan menjalin kerjasama dengan komunitas peduli lingkungan untuk melakukan kegiatan seperti aksi bersih, penanaman pohon, dan lain-lain. Komunitas juga menjadi media untuk meningatkan citra wisata dan promotor. i) Ragam budaya dimanfaatkan untuk ide variasi souvenir

Keragaman budaya yang dimiliki Dairi juga dapat menjadi sumber ide dalam membuat variasi souvenir yang dapat di dagangkan di TWI Sitinjo. Misalnya berupa miniatur rumah adat, miniatur alat musik, miniatur patung orang menari, dan lain-lain.

j) Memanfaatkan teknologi dalam mempublish jasa photografer dan pedagang souvenir

Perkembangan teknologi yang semakin canggih juga dapat dimanfaatkan oleh penyedia jasa photografer dan pedagang souvenir untuk mempublish apa yang mereka hasilkan. Seperti hasil foto yang menunjukkan setiap objek wisata,

mempublish dagangan souvenir yang menyertakan lokasi TWI Sitinjo. Selain mempublish hasil jasa mereka sekaligus mempromosikan wisata.

2. Strategi WO (Weakness-Opportunity)

Strategi ini bertujuan untuk memperkecil kelemahan-kelemahan internal wisata dengan memanfaatkan peluang-peluang eksternal. Kadang kala pengelola menghadapi kesulitan dalam memanfaatkan peluang karena adanya kelemahan- kelemahan internal, oleh karena itu tergantung bagaimana manajemen pengelola untuk menggunakan strategi tersebut.

Strategi WO pada Taman Wisata Iman Sitinjo adalah :

a) Meningkatkan promosi dengan memanfaatkan perkembangan teknologi

Perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan sebagai wadah mempromosikan TWI Sitinjo. Promosi dengan cara ini tidak hanya memudahkan, melainkan ntuk meminimalisir dana promosi.

b) Meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian, kebersihan dengan melakukan kerjasama dengan komunitas peduli lingkungan

Disamping menjaga kelestarian alam yang merupakan latar belakang TWI Sitinjo, sangat perlu juga dijaga kebersihan, karena kebersihan merupakan salah satu hal yang berpengaruh dalam daya tarik wisata. Hal ini bisa dilakukan dengan menjalin kerjasama dengan komunitas peduli lingkungan untuk melakukan kegiatan seperti aksi bersih, penanaman pohon, dan lain-lain. Komunitas juga menjadi media untuk meningatkan citra wisata dan promotor.

c) Antusias pemerintah dalam pengembangan wisata akan memudahkan dalam pembenahan terhadap fasilitas dan renovasi bangunan dan jalan

Penambahan fasilitas serta renovasi bangunan yang ada di TWI Sitinjo dapat berjalan dengan baik dengan adanya dukungan pemerintah yang antusias dalam pengembangan TWI Sitinjo sebagai wisata unggulan daerah.

d) Adanya retribusi dan pembayaran sarana umum toilet diimbangi dengan pelayanan, penambahan objek dan fasilitas wisata dengan memanfaatkan lahan kosong masyarakat

Segala pengeluaran yang dikeluarkan oleh wisatawan baik itu retribusi, pembayaran toiet yang merupakan sarana umum, harus diimbangi dengan penyedian sarana umum lainnya yang lebih lengkap serta penambahan objek wisata, wisalnya pelebaran untuk kebun binatang dengan kandang yang lebih bagus juga. Jumlah tempat sampah yang perlu ditambahi, sarana penerangan dilokasi wisata, menambah penunjuk arah dan posisi denah lokasi lebih strategis untuk dilihat wisatawan.

e) Menyediakan akomodasi bus dan paket perjalanan diikuti pengembangan potensi wisata yang ada di Dairi dan kerjasama dengan pengelola wisata diluar Dairi

Apabila potensi wisata yang ada di Dairi semakin dikembangkan, dibenahi dengan fasilitas pendukung, maka perlu disusun perancanaan untuk menyediakan akomodasi bus yang khusus digunakan untuk kunjungan ke wisata tersebut dan ke wisata luar Dairi juga.

3. Strategi ST (Strength-Threat)

Melalui strategi ini pengelola berusaha untuk menghindari atau mengurangi dampak dari ancaman-ancaman eksternal.

a) Melakukan riset dan memasarkan wisata religi dengan mengangkat segala potensi wisata yang ada di Dairi dengan kerjasama dengan seluruh pihak

Melakukan riset guna mengembangkan potensi wisata yang ada dan memasarkannya menjadi satu paket wisata Dairi yang didalamnya juga termasuk TWI Sitinjo. Riset dan pengembangan potensi serta pemasaran dapat dilakukan dengan kerjasama pemerintah daerah, Disbudparpora, serta masyarakat yang peduli akan pengembangan wisata.

b) Meningkatkan pelayanan, penambahan objek wisata untuk menambah daya tarik wisata

Pelayanan khususnya petugas retribusi dan photografer perlu dilakukan evaluasi dan diberikan arahan-arahan guna memberikan pelayanan yang memuaskan bagi wisatawan. Petugas retribusi baiknya memberikan kenyamanan lewat tatakrama yang ramah. Perlu dilakukan juga pengawasan bagi petugas retribusi dalam melakukan pemberian tiket ketika wisatawan telah membayarkan retribusi untuk masuk. Karena ketika tiket tidak diberikan, hal ini sangat berpengaruh bagi pendapatan dan perhitungan jumlah pengunjung TWI Sitinjo. Mengenai pelayanan photografer berkaitan dengan penampilan mereka yang tidak menunjukkan profesi mereka. Jadi perlu diberikan pengarahan dan pengawasan yang lebih ketat terhadap dua profesi tersebut.

c) Memaksimalkan fasilitas sesuai tarif yang ditetapkan

Dengan tarif yang ada dan telah dinaikkan sesuai Peraturan Bupati nomor 24 tahun 2015, perlu dipehatikan segala pembenahan fasilitas. Seperti, perbaikan jembatan yang berada tepat diatas aliran air sungai mengarah ke air terjun perlu

diperbaiki karena keadaan jmbatan tersebut sudah tidak layak dan membahayakan bagi wisatawan yang berjaan diatasnya. Perbaikan pondok- pondok kecil disepanjang jalur jalan didalam TWI Sitinjo yang rusak parah maupun rusak ringan, karena ini juga dapat membahayakan wisatawan yang bersantai di pondok tersebut, serta mengurangi keindahan lokasi. Perlu juga dilakukan perbaikan toilet yang merupakan sarana umum, seperti yang ada di Bahtera Nuh dan beberapa tempat lainnya. Perlu juga dilakukan pembenahan terhadap ruang ibadah atau ruang doa yang kurang dijaga kebersihannya.

d) Penyediaan fasilitas dalam mengantisipasi perubahan cuaca.

Dengan kondisi cuaca yang tidak menentu di kabupaten Dairi, terutama sering kali dilanda hujan, maka pihak pengelola perlu menyediakan fasilitas seperti pondok berteduh, jalur pejalan kaki yang diberi atap guna memberi kenyamanan. Hal ini bisa memberikan kelebihan tersendiri karena dapat menkmati keadaan alam hutan pinus dalam suasana apapun.

4. Strategi WT (Weakness-Threat)

Strategi ini merupakan taktik untuk bertahan dengan cara mengurangi kelemahan internal serta menghindari ancaman. Pengelola yang dihadapkan pada sejumlah kelemahan internal dan ancaman eksternal sesungguhnya berada dalam posisi yang berbahaya, ia harus berjuang untuk tetap hidup bertahan.

Strategi WT pada Taman Wisata Iman Sitinjo adalah :

a) Mulai menetapkan program penambahan objek wisata, fasilitas dan renovasi bangunan.

Dengan adanya ancaman seperti perekonomian masyarakat yang tidak stabil akan berimbas dalam pengembangan dan pendapatan TWI Sitinjo. Namun untuk tetap mempertahankan eksistensi keunikan wisata religi ini, pihak pengelola mulai menyusun program penambahan objek wisata dikawasan wisata religi tersebut, pembenahan fasilitas yang diperlukan serta renovasi terhadap bangunan yang mengalami penurunan daya tarik.

b) Mempertimbangkan penghapusan pembayaran dalam menggunakan toilet

Sarana umum toilet merupakan sarana yang wajib dimiliki oleh wisata. Namun dalam hal ini, perlu adanya pertimbangan bagi pihak pengelola untuk menghapus pembayaran dalam penggunaan toilet karena wisatawan telah membayar retribusi di awal memasuki lokasi wisata. Ditambah lagi toilet merupakan sarana umum yang menjadi bagian dari wisata, bukan bagian usaha masyarakat.

c) Mempertimbangkan penyediaan booklet berisi denah lokasi penunjuk posisi objek wisata

TWI Sitinjo merupakan wisata religi yang dapat dikatakan luas dan posisi setiap bangunan ibadah, patung, miniatur keagamaan, kebun binatang, serta fasilitas rekreasi lainnya bersifat terpencar walaupun sudah berurutan sesuai makna bangunan. Namun hal ini masih menyulitkan wisatawan untuk pergi ke lokasi yang satu ke lokasi yang lain, ditambah setiap objek wisata dibangun di daerah perbukitan. Denah berupa plankmerk tidak cukup bagi wisatawan terutama wisatawan luar. Jadi perlu bagi pihak pengelola untuk menyediakan denah lokasi TWI Sitinjo dalam bentuk booklet untuk memudahkan wisatawan.

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai potensi dan pengembangan produk Taman Wisata Iman Sitinjo dapat disimpulkan:

1. Potensi yang ada pada Taman Wisata Iman Sitinjo, Kabupaten Dairi, Sumatera utara adalah potensi bangunan lima (5) rumah ibadah agama yang ada di Indoneisa umumnya (Islam, Protestan, Katolik, Hindu dan Budha) , patung, serta miniatur tokoh agama dan berpotensi dijadikan sebagai lokasi ibadah. Kemudian potensi asam alam TWI Sitinjo yang masih alami dengan latar belakang hutan pinus dan perbukitan yang sering digunakan untuk berbagai kegiatan, baik rohani maupun non rohani. Pengembangan TWI Sitinjo juga didukung oleh potensi wisata lain di Dairi seperti potensi wisata alam, potensi kebudayaan, potensi sejarah, dan potensi manusia. Potensi wisata tersebut dapat dikelola dan memberikan imbas positiv bagi TWI Sitinjo guna menambah daya tarik dan menarik wisatawan untuk berkunjung.

2. Melalui analisis SWOT yang dilakukan peneliti, dihasilkan bahwa posisi Taman Wisata Iman Sitinjo berada pada kuadran I dimana TWI Sitinjo memiliki nilai faktor internal sebesar 2,70 dimana kekuatan lebih besar dari pada kelemahan dan nilai faktor eksternal sebesar 3,10 dimana peluang yang dimiliki lebih kuat dari pada ancaman.

3. Strategi SO adalah strategi yang paling tepat bagi Taman Wisata Iman Sitinjo dan strategi lainnya dapat dijadikan strategi alternatif yang dapat digunakan

oleh TWI Sitinjo sebagai referensi dan pertimbangan untuk melihat potensi dan pengembangan produk wisata, meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung, meningkatkan pendapatan, serta menjaga agar tetap menjadi wisata religi yang unik dan menjadi salah satu ciri khas Kabupaten Dairi.

5.2 Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka peneliti memberikan saran yang diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak yaitu sebagai beriku:

1. Pengelola Taman Wisata Iman Sitinjo dapat mengembangkan wisata menggunakan strategi SO dikombinasikan dengan strategi alternatife lainnya, seperti:

a. Memanfaatkan potensi wisata dengan tenaga pengelola yang kompeten; b. Memanfaatkan pagelaran budaya untuk memperkenalkan keunikan objek

wisata religi;

c. Pemasaran melauli kerjasama antara instansi dan masyarakat penyedia jasa perjalanan;

d. Keunikan wisata religi dapat meningkat dengan menambah objek wisata di lahan kosong yang luas milik masyarakat dekat lokasi wisata;

e. Ragam budaya menjadi atraksi budaya yang dilakukan di lokasi wisata yang strategis dan meningkatkan daya tarik;

f. Riset ke wisata daerah lain dapat meningkatkan kompetensi pengelola dalam membenahi wisata religi dan mengembangkan potensi wisata lainnya;

g. Menjalin kerjasama bagi pengelola wisata diluar Dairi untuk menarik perhatian wisatawan;

h. Menjaga kelestarian hutan pinus dengan melakukan kerjasama dengan komunitas peduli lingkungan;

i. Ragam budaya dimanfaatkan untuk ide variasi souvenir;

j. Memanfaatkan teknologi dalam mempublis jasa photografer dan pedagang souvenir;

2. Meningkatkan kelebihan, mengurangi kekurangan, manfaatkan peluang dan hindari ancaman yang ada pada Taman Wisata Iman Sitinjo.

berguna untuk dapat mengembangkan wisata tersebut dengan strategi yang tepat.

3. Bagi Program Studi Ilmu Administrasi Niaga/Bisnis, yaitu untuk bahan referensi, menambah wawasan dan ilmu untuk Mahasiswa/I di Jurusan Administrasi Bisnis FISIP-USU.

BAB II

KERANGKA TEORI 2.1 Pariwisata

Perkataan pariwisata berasal dari bahasa Sansekerta dengan rangkaian suku kata pari = banyak, ditambah dengan wis = melihat, dan ata = tempat. Jadi, pariwisata merupakan terjemahan dari melihat banyak tempat. Indonesia pada

awalnya mengenal pariwisata dengan mempergunakan bahasa asing yaitu “tourisme”.

Perubahan istilah “tourisme” menjadi “pariwisata” pertama kali dikemukakan secara resmi oleh Prof. Priyano (Alm), ketika dilangsungkan Musyawarah Nasioal Pariwisata II di Tretes Jawa Timur pada tanggal 12 s/d 14 Juni 1958 (Kamus Bahasa Indonesia di www.google.com). Atas keputusan tersebut, maka selanjutnya istilah

“Dewan Tourisme” Indonesia dirubah menjadi Dewan Pariwisata Indonesia

(DEPARI).

Pada tahun 1960, DEPARI ditetapkan sebagai satu-satunya penanggung jawab dan menyelenggarakan segala jenis pariwisata. Bersama-sama dengan bagian kementrian perhubungan ditetapkan sebagai Biro Eksekutif untuk melaksanakan kebijakan pemerintah dibidang kepariwisataan.

2.1.1 Definisi Pariwisata

Pengertian pariwisata secara lengkap dapat dilihat dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 9 tahun 1990 tentang kepariwisataan dalam pasal 1 menyatakan:

a. Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk meikmati oyek dan daya tarik wisata.

b. Wisatawan adalah orang yang melakukan kegiatan wisata.

c. Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusaha obyek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang terkait di bidang tersebut.

d. Kepariwisataan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggaraan pariwisata.

e. Usaha pariwisata adalah kegiatan yang bertujuan menyelenggarakan jasa pariwisata atau menyediakan atau mengusahakan oyek dan daya tarik wisata, usaha sarana pariwisata, dan usaha lain yang terkait di bidan tersebut.

f. Obyek dan daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang menjadi sasaran wisata.

g. Kawasan wisata adalah kawasan dengan luas tertentu yang dibangun atau disediakan untuk memeuhi kebutuha pariwisata.

Sedangkan pendapat para ahli mengenai pariwisata dapat dilihat berikut ini. Pariwisata adalah lalu-lintas orang-orang yang meninggalkan tempat kediamannya untuk sementara waktu, untuk berpesiar ditempat lain, semata-mata sebagai konsumen dari buah hasil perekonomian dan kebudayaan, guna memenuhi kebutuhan hidup dan budayanya atau keinginan yang beraneka ragam dari pribadinya menurut Kurt Morgenroth (Suwardjoko, 2007:6).

Menurut McIntosh, Goeldner& Ritchie, 1995 (Indira, 2007:6) bahwa pariwisata adalah kegiatan perjalanan seseorang ke dan tinggal di tempat lain di luar lingkungan tempat tinggalnya untuk waktu kurang dari satu tahun terus-menerus, dengan maksud bersenang-senang, berniaga dan keperluan-keperluan lainnya.

Kemudian Prof. Salah Wahab (Yoeti, 1983:106), dalam bukunya berjudul “An Introduction on Tourism Theory” mengemukakan: bahwa atasan pariwisata hendaknya memperlihatkan anatomi dari gejala-gejala yang terdiri dari tiga unsur yaitu: manusia (man), yaitu orang yang melakukan perjalanan wisata, ruang (space),

yaitu daerah atau ruang lingkup tempat melakukan perjalanan, dan waktu (time), yakni waktu yang digunakan selama dalam perjalanan dan tinggal di daerah tujuan wisata.

Jadi secara umum, Pariwisata adalah berbagai bentuk kegiatan wisata sebagai kebutuhan dasar manusia yang diwujudkan dalam berbagai macam kegiatan yang dilakukan oleh wisatawan, didukung berbagai fasilitas dan pelayanan disediakan oleh

Dokumen terkait