• Tidak ada hasil yang ditemukan

Untuk mendapatkan hasil kerja yang baik, diperlukan perancangan sistem kerja yang baik pula. Suatu sistem kerja harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat memungkinkan dilakukannya gerakan-gerakan yang ekonomis. Prinsip dari ekonomi gerakan menurut Niebel (1999) adalah pengetahuan dasar mengenai fisiologi manusia dan menggunakannya sebagai pertimbangan utama dalam analisis aplikasi suatu metode kerja.

Pada penggilingan Lokasi A Pada mesin husker menempatkan hopper pada sangat tinggi dibandingkan dengan polisher sehingga harus menaiki tangga dahulu untuk mencapai husker. Hal tersebut mengakibatkan pekerja membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai hopper dan pekerja juga membutuhkan tenaga yang lebih besar karena harus menaiki tangga sambil mengangkat karung gabah. Posisi menaiki tangga sambil mengangkat karung dapat menyebabkan cedera serius pada sendi-sendi lutut, pergelangan kaki dan paha yang menahan beban yang besar. Sebaiknya mesin husker dimodifikasi dan diletakkan sejajar dengan lantai agar pekerja tidak perlu menjangkau hopper yang terlalu tinggi. Karung beras yang diecer menggunakan wadah bervolume lebih kecil juga dapat mengurangi beban yang ditanggung pekerja.

Pada proses penyosohan, pekerja menuang beras hasil sosoh dari wadah penampung beras menggunakan sendok beras pada saat wadah belum terisi penuh sehingga tiap sendokan beras tidak memaksimalkan kapasitas sendok. Sebaiknya pekerja menggunggu wadah terisi penuh dan langsung menuangkan wadah kedalam karung beras tanpa menggunakan sendok beras. Kapasitas mesin penyosoh yang tidak sebanding dengan mesin pemecah kulit mengakibatkan tumpukan beras pecah kulit yang menumpuk dan menunggu untuk diproses ke mesin penyosoh.

Pada proses pemecahan kulit pekerja sering mengganti wadah penampung hasil giling yang terisi penuh dengan wadah lain yang kosong. Hal tersebut terjadi karena wadah penampung memiliki kapasitas yang terlalu kecil. Sebaiknya digunakan wadah yang memiliki kapasitas tampung yang lebih besar agar pergantian wadah penampung tidak terlalu sering. Pada lantai jemur di proses penjemuran dibutuhkan perhatian lebih mengenai kebersihan gabah. Hewan liar seperti anjing, bebek dan ayam terlihat dapat bebas masuk ke lantai jemur dan membuang kotoran diatas gabah.

Pada penggilingan Lokasi B kapasitas mesin yang rendah mengakibatkan pekerja hanya dapat menuang gabah ke mesin husker dalam jumlah yang sedikit dalam sekalio tuang. Pekerja lebih sering berdiam diri dan menunggu hopper pada mesin husker dapat dituang gabah kembali.

Pada penggilingan skala besar di PDS dalam proses penyosohan, pekerja mengumpulkan beras pecah kulit keluaran dari paddy separator tipe mesh untuk dimasukkan kedalam elevator. Pekerja melakukan kegiatan ini dengan posisi tubuh yang membungkuk dalam waktu yang lama sehingga mengakibatkan rasa sakit pada punggung dan pinggang. Kegiatan ini dilakukan karena

Pada penggilingan padi skala kecil Lokasi A memiliki kapasitas giling dan dan sosoh yaitu sebesar 110 kg beras/jam dengan mesin yang sudah menurun performanya. Kapasitas penggilingan padi dengan 160 kg beras/jam seharusnya masih belum dapat dikategorikan penggilingan kecil sesuai dengan standar Budan Pusat Statistik yaitu 0.3-0.7 ton/jam. Gabah pada penggilingan padi Lokasi A memerlukan 2-3 kali proses pemecahan kulit pada husker yang sama dan polisher memiliki performa yang sudah menurun. Pada proses penyosohan dari data yang diperoleh total waktu menunggu selama 1540.02 detik/63.3 kg beras atau 2432.89 detik/100 kg beras. Jika diasumsikan kapasitas mesin sebesar 300 kg/jam atau batas minimum penggilingan kecil, maka waktu menunggu seharusnya dapat dikurangi dengan membaginya dengan 300/110 kg beras. Waktu menunggu yang awalnya 1540.02 detik/63.3 kg beras dapat berkurang menjadi 564.67 detik/63.3 kg atau 892.06 detik/100 kg beras. Pengurangan delay pada proses penyosohan dapat mengurangi waktu total sebesar 47.43%.    Perbaikan Metode Kerja

Pada proses penjemuran pekerja mengambil dan mengangkut karung gabah ke lantai jemur. Jarak penyimpanan karung gabah dengan lapangan jemur cukup jauh sehingga pekerja banyak mengabiskan waktu untuk berjalan mengambil karung dan berjalan kembali untuk meletakkan karung di lantai jemur. Hal tersebut dianggap kurang efisien karena pekerja hanya dapat mengangkut satu karung sekali jalan, oleh karena itu sebaiknya digunakan kereta dorong atau gerobak agar pekerja dapat mengangkut karung gabah dalam jumlah yang lebih banyak ke lapangan jemur.

Pekerja pada proses pemecahan kulit di husker 2 hanya melakukan kegiatan menuang dan mengganti wadah gabah, sedangkan sisa waktunya hanya menunggu wadah terisi penuh. Total rata- rata waktu siklus kerjanya adalah 8.14 detik dan waktu menunggu adalah 71.05 detik. Terlihat bahwa waktu menunggu jauh lebih lama dibandingkan dengan waktu kerjanya, oleh karena itu sebaiknya pekerja pada kegiatan ini digabungkan dengan kegiatan pada proses pemecahan kulit di husker 1.

Pada elemen kegiatan penuangan gabah dari karung ke kotak penampung gabah pada proses pemecahan kulit, pekerja harus memanjat karung gabah yang ditumpuk agar dapat menuang gabah ke kotak penampung gabah yang letaknya tinggi. Pekerja yang memanjat dan berdiri diatas tumpukan karung dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti terlihat pada Gambar 22. Tangga dan tempat berpijak yang sejajar dengan kotak penampung sebaiknya dibangun untuk menghindari pekerja memanjat tumpukan karung dan mencegah terjadinya kecelakaan kerja.

keluaran beras pecah kulit dari paddy separator tipe mesh tidak langsung masuk ke elevator karena desain awal menggunakan paddy separator tipe mekanis yang langsung masuk kedalam elevator. sedangkan yang digunakan adalah paddy separator tipe mesh. Keluaran dari paddy separator tipe mesh sebaiknya disambungkan dengan saluran yang langsung masuk kedalam elevator sehingga kegiatan pada proses penyosohan ini dapat dihilangkan dan pekerja pada kegiatan ini dapat dialihkan pada kegiatan yang lain.

38   

Gambar 22. Pekerja memanjat tumpukan beras

Pada penggilingan padi skala kecil Lokasi B memiliki kapasitas giling dan dan sosoh yaitu sebesar 160 kg beras/jam dengan mesin yang sudah menurun performanya. Kapasitas penggilingan

padi Lokasi B juga memiliki kapasitas dibawah standar penggilingan kecil yang minimal sebesar 300 kg beras/jam. Mesin husker pada penggilingan padi Lokasi B memiliki performa yang kurang sehingga perlu menunggu dalam waktu yang cukup lama untuk menuang kembali gabah kedalam hopper mesin husker. Pada proses pemecahan kulit pada mesin husker diperoleh data total waktu menunggu selama 591.66 detik/125 kg beras atau 473.33 detik/100 kg beras. Jika diasumsikan kapasitas mesin sebesar 300 kg/jam atau batas minimum penggilingan kecil, maka waktu menunggu seharusnya dapat dikurangi dengan membaginya dengan 300/125 kg beras. Waktu menunggu yang awalnya 591.66 detik/125 kg beras dapat berkurang menjadi 246.53 detik/125 kg atau 197.22 detik/100 kg beras. Pengurangan delay pada proses pemecahan kulit dapat mengurangi waktu total sebesar 41.33%.   

Pada penggilingan padi skala besar PDS perbaikan dapat dilakukan dengan menambahkan saluran dari paddy separator tipe mesh ke dengan menambahkan saluran langsung ke elevator dengan sehingga tidak diperlukan pekerja untuk mendorong hasil gabah pecah kulit dari paddy separator kedalam elevator. Pada proses pemecahan kulit di husker 2 pekerja sebaiknya difokuskan pada husker 1 yang memiliki kerja lebih berat karena pekerja pada husker 2 memiliki kerja yang jauh lebih kecil dibandingkan waktu menunggunya sehingga waktu karena menunggu dapat dikurangi atau dihilangkan. Perbaikan juga dapat dilakukan pada kondisi lingkungan, atmosfer dan suhu karena dapat mempengaruhi waktu standar dari proses penggilingan padi. Perbaikan kelonggaran dapat dilihat dilampiran 15-17 dengan asumsi kondisi lingkungan, atmosfer dan suhu sama seperti pada penggilingan kecil. Usulan perrbaikan metode kerja dapat dilihat pada tabel 15.

Tabel 15. Tabel Usulan Perbaikan metode kerja di penggilingan besar PDS tiap 100 kg (detik) Elemen Sebelum perbaikan T Standar Sebelum Perbaikan Elemen Setelah perbaikan T Standar Setelah Perbaikan Mengangkat karung 24.33 Mengangkat karung 22.3 Mengangkut karung 69.16 Mengangkut karung 63.40 Menuang gabah dari

karung 33.13

Menuang gabah dari

karung 29.86 Menukar wadah 12.70 Menukar wadah 12.28

Mengangkat 12.31 Mengangkat 11.93

Menuang 17.73 Menuang 16.8

Mengumpulkan gabah 169.52 - Memasukkan gabah 95.28 -

Memasang karung 41.75 Memasang karung 37.29 Mengangkat karung 23.82 Mengangkat karung 21.57 Menimbang beras 67.62 Menimbang beras 60.4 Melipat karung 28.05 Melipat karung 25.02 Menjahit karung 35.85 Menjahit karung 32.08 Menyusun karung 61.41 Menyusun karung 55.92 Mengambil karung 44.12 Mengambil karung 39.07

TOTAL 736.77 427.92

Dari data tersebut diperoleh bahwa usulan perbaikan dapat mengurangi waktu standar dari 736.77 detik/100 kg beras menjadi 427.92 detik/100kg beras atau mengurangi waktu sebesar 308.85 detik/100kg beras.

40   

V.

SIMPULAN DAN SARAN

5.1

Simpulan

1. Pada proses penggilingan padi terdapat beberapa elemen gerakan Therblig di dalamnya, elemen gerakan Therblig tersebut adalah mencari, memilih, menjangkau dan memegang, membawa, membawa dengan beban, memegang untuk memakai, mengarahkan, melepas, menganggur.

2. Waktu standar pada proses penggilingan padi skala kecil Lokasi A adalah 257.89 detik/100 kg GKP untuk proses penjemuran, 379.17 detik/100 kg beras dan 1056.02 detik/100 kg beras untuk proses penyosohan. Total waktu standar pada penggilingan padi skala kecil Lokasi A adalah 1693.08 detik/100 kg.

3. Waktu standar pada proses penggilingan padi skala kecil Lokasi B adalah 609.6 detik/100 kg GKP untuk proses penjemuran, 279.35 detik/100 kg beras dan 425.51 detik/100 kg beras untuk proses penyosohan. Total waktu standar pada penggilingan padi skala kecil Lokasi A adalah 1314.46 detik/100 kg.

4. Waktu standar pada proses penggilingan padi skala besar PDS adalah 335.7 detik/100 kg GKP untuk proses penjemuran, 169.36 detik/100 kg beras, 306.55 detik/100 kg beras untuk proses penyosohan dan 260.86 detik/100 kg beras untuk proses pengemasan. Total waktu standar pada penggilingan padi skala besar PDS adalah 1072.47 detik/100 kg.

5. Rendahnya produktivitas pada penggilingan padi skala kecil disebabkan oleh tingginya waktu mengganggur yang merupakan gerakan tidak efektif.

6. Besar kelonggaran yang diberikan pada penggilingan padi skala besar lebih tinggi dibandingkan penggilingan kecil terutama pada kondisi lingkungan, atmosfer dan suhu.

7. Perbaikan metode kerja secara perhitungan dapat untuk penggilingan padi skala kecil dapat mengurangi delay selama 892.06 detik/100 kg atau waktu total sebesar 47.43% beras untuk penggilingan Lokasi A dan 197.22 detik/100 kg beras atau waktu total sebesar 47.43% 41.33% untuk penggilingan Lokasi B.

8. Perbaikan metode dan kondisi kerja pada penggilingan padi skala besar dapat mengurangi waktu standar sebesar 308.85 detik/100kg beras atau sebesar 41.92%.

5.2

Saran

1. Perlunya peningkatan kapasitas mesin pada penggilingan padi skala kecil agar dapat mengurangi keterlambatan pada elemen kerja dan meningkatkan efiseiensi kerja.

2. Perbaikan terhadap kondisi lingkungan, atmosfer dan suhu pada lokasi penggilingan padi skala besar PDS dapat mengurangi faktor kelonggaran yang diberikan pada pekerja.

3. Terdapat elemen kerja yang sebaiknya dihilangkan, seperti pada proses pemecahan kulit di husker 2 pada penggilingan padi skala besar. Elemen kerja pada proses ini sebenarnya tidak perlu dilakukan jika saluran dari paddy separator tipe mesh langsung masuk kedalam elevator.

4. Penggunaan alat bantu yang lebih baik dapat mempercepat elemen kerja, seperti pada pengangkutan karung pada proses penjemuran sebaiknya pekerja diberi alat angkut seperti kereta dorong atau gerobak agar dapat mengangkut karung dalam jumlah banyak sekali jalan.

5. Penelitian lebih lanjut diharapkan membahas kaidah-kaidah ergonomi khususnya mengenai pengaruh getaran, kebisingan dan debu agar pengukuran faktor kelonggaran bisa lebih akurat.

6. Perbaikan metode kerja didasari oleh asumsi sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut dengan melakukan simulasi dan pengujian secara langsung agar hasil yang diperoleh riil.

STUDI GERAK DAN WAKTU PADA PROSES PENGGILINGAN

Dokumen terkait