DAFTAR GAMBAR
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.2 PENGGILINGAN PAD
Penggilingan padi mempunyai peranan yang sangat vital dalam mengkonversi padi menjadi beras yang siap diolah untuk dikonsumsi maupun untuk disimpan sebagai cadangan. Dalam kaitan dengan proses penggilingan padi, karakteristik fisik padi sangat perlu diketahui karena proses penggilingan padi sebenarnya mengolah bentuk fisik dari butiran padi menjadi beras putih. Butiran padi yang memiliki bagian-bagian yang tidak dapat dimakan atau tidak enak dimakan, sehingga perlu dipisahkan. Selama proses penggilingan, bagian-bagian tersebut dilepaskan sampai akhirnya didapatkan beras yang enak dimakan yang disebut dengan beras sosoh (beras putih).
Badan pusat Statistik dalam surveynya terhadap alat dan mesin pertanian antara lain memberikan batasan definisi terhadap beberapa mesin pertanian dintaranya sbb: 1) Penggilingan Padi Kecil (PPK) adalah penggilingan padi yang terdiri dari dua unit mesin yang dipasang terpisah, yaitu pemecah kulit padi (husker) dan pemutih beras (polisher). Umumnya proses pemindahan bahan dari satu alat ke alat lain menggunakan tenaga manusia, dengan kapasitas produksi riil antara 0.3 s/d 0.7 ton beras per jam. 2) Penggilingan Padi Besar (PPB) adalah penggilingan padi yang memiliki unit lengkap terdiri dari mesin pembersih gabah, pemecah kulit padi (husker), padi separator, pemutih beras (polisher), shifter, grader dan lainnya. Pemindahan bahan dari satu mesin kemesin lainnya menggunakan elevator dan kapasitas produksi riil lebih besar dari 0.7 ton beras per jam. 3) Rice milling unit (RMU) adalah pengglingan padi yang merupakan satu unit yang kompak dimana antara pemecah kulit padi (husker) dan pemutih beras menjadi satu bagian yang tak terpisahkan. Kapasitas produksi riil antara 0.3 s/d 0.7 ton beras per jam (Sugondo,2000).
Suismono dan Damardjati (2000) menyatakan bahwa pengusahaan penggilingan padi dapat dibedakan berdasarkan teknik penggilingan yang digunakan dalam proses produksi, antara lain: 1. Sistem penggilingan padi diskontinyu adalah sistem penggilingan padi yang menggunakan mesin
pemecah kulit dan penyosohan yang manual, yang masih digerakkan oleh tenaga manusia.
2. Sistem penggilingan padi sistem modifikasi kontinyu adalah sistem penggilingan padi dengan proses pemecahan kulit berasnya secara kontinyu, tetapi proses penyosohannya dilakukan secara manual.
3. Sistem penggilingan konitinyu adalah sistem penggilingan padi yang terdiri dari satu unit mesin penggilingan padi yang secara kontinyu (langsung atau ban berjalan) kapasitas 1000 kilogram per
jam yang dilengkapi mesin-mesin pembersih gabah, pemecah kulit, pengayak beras pecah kulit, penyosoh beras, dan ayakan beras.
Sistem penggilingan kontinyu maupun modifikasi kontinyu dapat meningkatkan efisiensi kerja, kapasitas produksi dan mutu beras (penampakkan beras lebih jernih). Usaha untuk menigkatkan mutu penampakkan beras dapat dilakukan dengan cara pemolesan beras giling. Proses pemolesan adalah proses penyosohan beras disertai pengkabut uap agar penampakkan beras lebih mengkilap. Beras yang diolah sampai pada proses ini disebut beras Kristal (Suismono dan Damardjati, 2000).
Widowati (2001) membagi pengusahaan penggilingan padi berdasarkan kapasitas mesin yang dimiliki, antara lain:
1. Penggilingan Padi Besar (PPB)
PPB menggunakan tenaga penggerak lebih dari 60 HP (Horse Power) dan kapasitas produksi lebih dari 1.000 kg/jam, baik menggunakan sistem kontinyu maupun diskontinyu. PPB sistem kontinyu terdiri dari satu unit penggiling padi lengkap, semua mesin pecah kulit, ayakan, dan penyosoh berjalan secara kontinyu, dengan kata lain masuk gabah keluar beras giling. PPB diskontinyu minimal terdiri dari empat unit mesin pemecah kulit dan empat unit mesin penyosoh yang dioperasikan tidak sinambung atau masih menggunakan tenaga manusia Penggilingan kapasitas besar biasanya dilengkapi grader sehingga menir langsung dipisahkan dari beras kepala. 2. Penggilingan Padi Sedang/Menengah (PPS)
PPS menggunakan tenaga penggerak 40-60 HP, dengan kapasitas produksi 700-1.000 kg/jam. Umumnya PPS terdiri dari dua unit mesin pemecah kulit dan dua unit mesin penyosoh. PPS ini menggunakan sistem semi kontinyu, yaitu mesin pecah kulitnya kontinyu, sedangkan mesin sosohnya masih manual. Proses pemindahan bahan dari satu alat ke alat yang lain ada yang menggunakan elevator dan sebagian besar lainnya menggunkan tenaga manusia.
3. Penggilingan Padi Kecil (PPK)
PPK menggunakan tenaga penggerak 20-40 HP, dengan kapasitas produksi 300-700 kg/jam. Penggilingan padi manual yang terdiri dari dua unit mesin pemecah kulit dan dua unit mesin penyosoh ini sering disebut Rice Milling Unit (RMU). Di pedesaan masih terdapat Huller, yaitu penggilingan padi yang menggunakan tenaga penggerak kurang dari 20 HP dan kapasitasnya kurang dari 300 kg/jam. Huller terdiri dari satu unit mesin pemecah kulit dan satu unit penyosoh. Beras yang dihasilkan mutu gilingnya kurang baik, umumnya untuk dikonsumsi sendiri di perdesaan.
Bulog (2007) membagi penggilingan padi atas empat kelompok berdasarkan sarana yang dimiliki dan kemampuan produksi beras, sebagai berikut:
1. Penggilingan Padi Terpadu (PPT)
PPT merupakan gabungan dari beberapa mesin yang menjadi satu kesatuan utuh yang berfungsi sebagai pengolah gabah menjadi beras, dengan kapasitas lebih besar dari PPB serta terintegrasi dengan mesin pengering dan silo penyimpanan oleh elevator dan conveyor.
2. Penggilingan Padi Besar (PPB)
PPB memiliki unit peralatan teknik yang merupakan gabungan dari dari beberapa mesin menjadi satu kesatuan dengan kapasitas antara tiga sampai sepuluh ton GKG per jam atau setara dengan 20 sampai 60 ton beras per hari. Sistem pengolahan PPB minimum harus melalui empat proses utama, yaitu proses pembersihan gabah, proses pecah kulit, proses pemisahan gabah dengan beras pecah kulit, dan proses pemutihan beras pecah kulit secara berulang dua sampai empat kali. 3. Penggilingan Padi Kecil (PPK)
PPK memiliki unit peralatan teknik gabungan dari beberapa mesin menjadi satu kesatuan utuh dengan kapasitas lebih kecil dari satu sampai tiga ton GKG per jam atau sekitar lima sampai
5
20 ton beras per hari. Sistem PPK dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu tipe sederhana dan tipe lengkap.
4. Penggilingan Padi Sederhana (PPS)
PPS merupakan unit peralatan teknik baik merupakan satu unit tersendiri maupun merupakan gabungan dari beberapa mesin, dimana proses satu sama lain dihubungkan dengan tenaga manusia dengan kapasitas 0,5 sampai satu ton GKG per jam atau kurang dari lima ton beras per hari. Penggilingan dikatakan sederhana karena teknologi yang digunakan sudah dikenal sejak mulai menggunakan mesin penggilingan padi sampai saat ini secara turun temurun tanpa perubahan berarti. Beberapa jenis penggilingan sederhana, antara lain mesin tipe engelberg dan kombinasi dari beberapa mesin khususnya husker, separator, dan polisher.
2.3 ERGONOMI
Istilah ergonomi yang juga dikenal dengan human factors berasal dari bahasa Latin yaitu “ergon” yang berarti kerja, dan “nomos” yang berarti hukum alam. Sehingga, ergonomi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang aspek–aspek manusia dalam lingkungan kerjanya, yang dapat ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen, dan perancangan (Nurmianto, 2004). Di dalam ergonomi, diperlukan studi tentang sistem dimana manusia, fasilitas kerja dan lingkungannya saling berinteraksi dengan tujuan utama yaitu menyesuaikan suasana kerja dengan manusianya. Metode pendekatannya dengan menganalisa hubungan fisik antara manusia dengan fasilitas kerjanya.
Menurut Oborne (1995), ergonomi adalah cara memandang dunia, berpikir tentang manusia, dan bagaimana interaksinya dengan seluruh aspek dalam lingkungannya, perlengkapannya, dan situasi kerjanya. Menurut Bridger (1995), ergonomi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara manusia, mesin dan lingkungan yang bertujuan untuk menyesuaikan pekerjaan dengan manusia.
Ergonomi menurut American Industrial Hygene Association adalah multidisiplin ilmu yang mengaplikasikan prinsip-prinsip fisika dan psikologi terhadap kapabilitas manusia untuk menciptakan atau memodifikasi pekerjaan, peralatan, produk, dan tempat kerja (Nardi, 1997), sedangkan International Ergonomi Association mendefinisikan ergonomi sebagai disiplin ilmu yang mempelajari tentang interaksi antara manusia, dan elemen lainnya dalam sistem yang berhubungan dengan perancangan, pekerjaan, produk dan lingkungannya untuk mendapatkan kesesuaian antara kebutuhan, kemampuan, dan keterbatasan manusia.
Menurut Bridger (1995) terdapat perbedaan antara ergonomi dengan human factors, yaitu ergonomi lebih menenkankan kepada faktor manusia sebagai sistem biologis, sedangkan human factors lebih menekankan kepada aspek psikologis (psikologi eksperimental dan psikologi teknik) dan menekankan kepada integrasi pertimbangan faktor manusia di dalam total desain. Walaupun demikian, human factors dan ergonomi mempunyai banyak persamaan dan tetap diasumsikan sama.
Pada dasarnya, ergonomika memiliki tujuan penting. Tujuan pertama adalah meningkatkan efektifitas dan efisiensi pekerjaan, serta aktifitas lain yang dilakukan, termasuk meningkatkan kemampuan pengguna, mengurangi kesalahan, dan meningkatkan produktivitas. Tujuan kedua adalah meningkatkan keinginan tertentu; seperti keselamatan, kenyamanan, penerimaan pengguna, kepuasan kerja dan kualitas kehidupan, sama halnya dengan mengurangi kelelahan dan stress (Fitriani, 2003).
Maka, manfaat dan tujuan penerapan ilmu ini adalah untuk mengurangi ketidaknyamanan saat bekerja. Dengan demikian ergonomi berguna sebagai media pencegah terhadap kelelahan kerja sedini mungkin sebelum berakibat fatal dan kronis.