• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV RELEVANSI PENDIDIKAN TAUHID DENGAN KEHIDUPAN

1. Analisis metode menanamkan dan menumbuhkan

Keluarga adalah tempat pengasuhan alami yang melindungi anak yang baru tumbuh dan merawatnya, serta mnegembnagkan fisik, akal dan spiritualisnya. Dalam naungan keluarga, perasaan cinta, empati dan solidaritas berpadu dan menyatu. Anak-anak pun akan bertabiat dengan tabiat yang biasa dilekati sepanjang hidupnya. Lalu dengan petunjuk dan arahan keluarga, anak itu akan dapat menyongsong hidup, memahami makna hidup dan tujuan-tujuannya, serta mengetahui bagaimana berinteraksi dengan makhluk hidup. Allah berfirman dalam QS. At-Tahrim ayat 6 :

ُةَراَجِحۡلٱَو ُساَّنلٱ اَهُدوُقَو ا ٗراَن ۡمُكيِلۡهَأَو ۡمُكَسُفنَأ ْآٰوُق ْاوُنَماَء َنيِذَّلٱ اَهُّيَأٰٓ َي

َنوُرَم ۡؤُي اَم َنوُلَعۡفَيَو ۡمُهَرَمَأ ٰٓاَم َ َّلِلّٱ َنوُص ۡعَي َّلَ ٞداَدِش ٞظ َلاِغ ٌةَكِئٰٓ َلَم اَهۡيَلَع

٦

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan

keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”

Ayat tersebut mengandung arti bahwa orang tua merupakan pemimpin bagi anak-anaknya, kelak di akhirat akan mempertanggung jawabkan tugasnya di hadapan Allah Swt. Dakwah dan pendidikan harus bermula dari rumah. Kedua orang tua bertanggung jawab terhadap anak-anak dan juga pasangan hidup

masing-masing sebagaimana masing-masing bertanggung jawab atas

46

mempunyai pembagian tugas dan kerja, seserta hak dan kewajiban bagi masing-masing anggotanya. Al-Qur’an menamakan suatu komunitas sebagai umat, dan menamakan seorang ibu sebagai orang yang melahirkan dengan kata umm. Kedua kata tersebut terambil dari akar yang sama. Ibu yang melahirkan dan yang di pundaknya terutama dibebankan pembinaan anak dan kehidupan rumah tangga merupakan tiang umat. Keluarga adalah sekolah tempat putra-putri belajar. Dari sana mereka belajar sifat-sifat mulia, seperti ketauhidan, kesetiaan, rahmat, dan kasih sayang. Ketika anak masih dalam kandungan, ibu diperintahkan untuk memperhatikan kesehatannya. Karena, kesehatan ibu mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin, bahkan ada kewajiban agama yang digugurkan (ditangguhkan) pelaksanaannya seperti puasa. Adapun jalinan perekat keluarga

adalah hak dan kewajiban yang disyari’atkan Allah terhadap ayah, ibu, suami dan

istri, serta anak-anak. Keluarga merupakan masyarakat alamiah yang pergaulannya diantara anggotanya bersifat khas. Disini pendidikan berlangsung dengan sendirinya sesuai tatanan pergaulan yang berlaku didalamnya, artinya tanpa harus diumumkan atau dituliskan terlebih dahulu agar diketahui dan diikuti oleh seluruh anggota keluarga. Hal ini sebagai bentuk perwujudan hak dan kewajiban setiap anggota keluarga ( M. Quraish Shihab, 1994 : 255 ).

Orang tua mempunyai kewajiban yang sangat besar dalam menanamkan dan menumbuhkan akidah anak. Akhlak yang mulia pada anak. Para ulama mengatakan semakin kurang keimanan anak, maka semakin rendah juga kadar akhlak, watak, kepribadian, serta kesiapan seorang anak untuk menerima konsep Islam sebagai pedoman dan pegangan hidup. Sebaliknya, jika aqidah tauhid anak telah kokoh dan mapan, maka terlihat jelas dalam setiap amal perbuatannya. Setiap konsep yang ada dalam Islam akan diterima secara utuh dan lapang dada oleh seorang anak ketika mereka tumbuh dewasa, tanpa ada rasa keberatan dan terkesan mencari-cari alasan.

Dalam rangka membentuk rumah tangga sakinah tersebut, Islam menetapkan beberapa patokan dalam pemilihan jodoh. Menurut panitia muzakarah ulama ada tiga kriteria untuk memilih jodoh yang baik:

47

a. Aspek keberagamaan dari pasangan hidup berumah tangga.

b. Aspek kehormatan diri dalam arti terpeliharanya kesucian seksual dari

kedua pasangan yang ingin membentuk hidup rumah tangga.

c. Islam mencegah terjadinya perkawinan antara keluarga yang terlalu dekat. Perkawinan seperti ini bias menimbulkan akibat tidak baik bagi psikis maupun mental anak ( Panitia Mudzakarah Ulama, 1987/1988 : 25-27 ).

Pendidikan anak bukanlah dimulai dari semenjak kandungan, sejatinya ia dimulai semenjak kita mencari pasangan hidup (suami/istri). Penanaman nilai- nilai tauhid kepada sang anak dan kunci keberhasilan pendidikan anak adalah tepatnya metode yang diberikan saat mengenalkan anak kepada Allah Swt. Selain itu, teladan dari orang tua juga berperan penting mengantarkan anak menjadi anak sholeh.

Masa usia dini merupakan masa keemasan (golden age) bagi

perkembangan seorang manusia. Masa usia dini merupakan fase dasar untuk tumbuhnya kemandirian belajar untuk berpartisipasi, kreatif, imajinatif dan mampu berinteraksi. Oleh karena itu, pendidikan dalam keluarga adalah madrasah pertama dan utama bagi perkembangan seorang anak, sebab keluarga merupakan wahan yang pertama untuk seorang anak dalam memperoleh keyakinan beragama yang dapat dijadikan patokan bagi anak dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam memilih dan mengaplikasikan sebuah metode pengajaran. Faktor-faktor itu adalah tujuan yang hendak dicapai, kemampuan guru, anak didik, situasi dan kondisi pengajaran dimana berlangsung, fasilitas dan waktu yang tersedia, dan kebaikan dan kekurangan sebuah metode ( Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, 1995 : 7-10 ).

Penjelasan metode-metode yang dapat dipakai dalam pendidikan dan pengajaran agama Islam, dapat dilihat sebagai berikut:

48

Pendidikan dengan pembiasaan ini misalnya agar anak dapat melaksanakan shalat secara benar dan rutin, maka mereka perlu dibiasakan shalat sejak kecil, dari waktu ke waktu. Dengan pendidikan sejak dini itu maka anak akan terbiasa melakukan kebiasaannya dan tidak merasa berat untuk melakukannya pada saat remaja nanti. Dalam kehidupan sehari-hari pembiasaan sangat penting, banyak orang berbuat atau bertingkah laku karena kebiasaan semata-mata. Tanpa pembiasaan, hidup seseorang akan berjalan lambat sekali dan memerlukan pemikiran yang sangat panjang. Pembiasaan ini akan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terbiasa mengamalkan ajaran agamanya, baik secara individual maupun secara berkelompok dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, apabila peserta didik sudah terbiasa shalat jama’ah, ia tidak akan berfikir panjang ketika mendengar adzan berkumandang.

2. Pendidikan dengan Keteladanan

Memberikan contoh teladan yang baik kepada peserta didik agar ditiru dan dilaksanakan merupakan hal penting yang perlu dilakukan karena keteladanan yang baik akan menumbuhkan hasrat bagi orang lain untuk meniru atau mengikutinya. Oleh karena itu, masalah teladan menjadi faktor terpenting dalam membentuk baik buruknya anak. Jika pendidik jujur, dapat dipercaya, berakhlak mulia dan menjauhkan diri dari perbuatan yang bertentangan dengan agama, maka anak pun akan menjadi anak yang brakhlakul karimah.

3. Pendidikan dengan Ganjaran

Memberikan ganjaran kepada orang yang berbuat kebaikan akan memberikan pengaruh besar, terutama bagi anak-anak dan remaja. Sebab pujian akan memberikan motivasi bagi mereka untuk memperbaiki dan meningkatkan perilaku supaya lebih baik dari sebelumnya. Ganjaran terhadap orang yang melakukan perbuatan positif seharusnya memperhatikan kadarnya sehingga ganjaran tersebut akan bernilai dan efektif. Tanpa mempertimbangkan faktor itu, maka ganjaran tidak akan berpengaruh bahkan akan memberikan dampak negatif.

49

Metode hukuman sebagai jalan terakhir setelah semua metode ditempuh. Meskipun demikian, hukuman tetap penting. Ketika peserta didik melakukan kesalahan dan tidak ada penghalang maupun pengendalinya, maka tidak ada yang mengingatkan perbaikan karakter dan kesalahannya akan terulang kembali. Pemberian hukuman merupakan metode pendidikan yang paling sensitif dan kompleks untuk mengubah perilaku seseorang. Jika hukuman dilakukan secara keliru dan dalam situasi dan kondisi yang tidak tepat maka akan berdampak merusak dan berlawanan dengan tujuan dari hukuman. Agama Islam memberi anjuran dalam memberikan hukuman terhadap anak, hendaknya memperhatikan hal-hal berikut:

a. Jangan menghukum ketika marah.

b. Jangan sampai menyakiti perasaan anak.

c. Jangan menghina atau mencaci di depan orang.

d. Jangan menyakiti secara fisik.

e. Bertujuan mengubah perilaku yang kurang baik.

Sementara Muhammad Zein menjelaskan bahwa metode yang mudah dilakukan para orang tua dalam mendidik anak-anaknya ada tiga: ( Muhammad Zein, 1991 : 68 )

1. Menghafal

Dalam keluarga hal ini lebih dominan bahwa seorang anak dengan dasar-dasar keimanan, ke-Islam-an, sejak mulai mengerti dan dapat memahami sesuatu. Metode dalam rangka menanamkan aqidah dan keimanan dengan cara memberikan hafalan. Sebab proses pemahaman diawali dengan hafalan terlebih dahulu. Ketika menghafal dan kemudian memahaminya, akan tumbuh dalam diri anak sebuah keyakinan dan pada akhirnya membenarkan apa yang diyakini ( Muhammad Zein, 1991: 68).

2. Membiasakan

Metode yang digunakan selain berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan materi pendidikan tauhid juga membantu pertumbuhan dan

50

perkembangan anak. Pendidikan tauhid dalam keluarga menuntut kemampuan pengetahuan dan wawasan orang tua yang luas. Selain itu metode yang digunakan harus bertahap, sehingga sesuai Antara metode, materi dan kemampuan anak. Pembiasaan-pembiasaan itu bisa dilakukan dengan:

a. Latihan kalimat tauhid

b. Latihan beribadah

c. Latihan berdoa di setiap aktivitas.

3. Pengawasan

Dalam menanamkan tauhid yang pertama harus di lakukan oleh orang tua terhadap anaknya yaitu menanamkan keyakinan bahwa Allah itu Maha Esa dan memiliki sifat-sifat yang mulia. Langkah-langkah dalam menanamkan tauhid terhadap anak yaitu:

a. Menanamkan tauhid ini bisa dimulai sejak anak dalam kandungan,

yaitu dengan membiasakan anak (bayi) mendengarkan alunan ayat-ayat suci Al-Qur’an, ceramah-ceramah agama, kalimat-kalimat tayyibah serta ucapan-ucapan yang sopan santun dan lemah lembut

b. Setelah anak bisa bicara, ajarkan ia untuk dapat mengucapkan

kata-kata Allah, Alhamdulillah, Bismillah dan sebagainya.

c. Tegur dan beri peringatan dengan segera apabila anak

mengucapkan kata-kata yang tidak baik.

d. Jelaskan bahwa diri kita, tumbuhan, hewan dan semuanya yang ada

di alam ini adalah ciptaan serta kepunyaan Allah Yang Maha Kuasa.

e. Sampaikanlah kisah-kisah para Nabi, Rasul dan orang-orang yang

shalih. Baik secara lisan atau bisa juga berupa buku-buku kisah yang bergambar. Jelaskan hikmah yang dapat diambil dari setiap kisah tersebut.

f. Hindarkan anak dari cerita-cerita dan tontonan takhayul, khufarat dan bid’ah

g. Bawalah anak ke tempat-tempat yang bisa memperkuat aqidah dan

51

Dokumen terkait