BAB III METODE PENELITIAN
3.8 Analisis Data
3.8.1 Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah dalam model regresi variabel terkait dan variabel bebas memiliki distribusi normal atau mendekati normal. Penelitian ini menggunakan uji normalitas One Sample Kolmogrov Smirnov dengan menggunakan bantuan Software SPSS versi 22.0.
3.8.2 Uji Linearitas
Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah kedua variabel memiliki hubungan linier atau tidal. Uji linearitas dilakukan dengan menggunakan SPSS Versi 22. Dengan menggunakan test for linearity, dimana variabel dapat dikatakan memiliki hubungan linier apabila memiliki taraf signifikansi <0,05
3.8.3 Uji Heteroskadastisitas
Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot. Jika ada titik- titik yang membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit). Maka mengidentifikasikan telah terjadi heteroskadastisitas. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik- titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskadastisitas, dalam pengujiannya peneliti menggunakan software SPSS versi 22.
3.8.4 Uji Hipotesis
Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi sederhana, yaitu metode yang menganalisis kemampuan variabel independen dalam memprediksi variabel dependen, dalam pengujiannya peneliti menggunakan bantuan software SPSS versi 22.0.
1 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Gambaran Umum
Responden dalam penelitian ini adalah mahasiswa FISIP angkatan 2010- 2013 sebanyak 120 mahasiswa dari 6 jurusan yang ada di FISIP yakni Psikologi, Ilmu Politik, Ilmu Pemerintahan, Ilmu Komunikasi, Sosiologi, dan Hubungan Internasional. Berikut ini adalah penyajian data demografis penelitian:
Tabel 11
Data Demogrfis Responden Penelitian
No Kategori Macam kategori Jumlah
1. Usia 21
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa jumlah subjek dari beberapa kategori. Pertama yaitu kategori usia, subjek terbanyak berada pada usia 22 tahun dengan jumlah 64 mahasiswa. Kedua
kategori angkatang , subjek terbanyak berada pada angkatan 2013 dengan jumlah 85 mahasiswa. Ketiga kategori jenis kelamin, subjek tebanyak berada pada jenis kelamin laki- laki dengan jumlah 71 mahasiswa. Keempat kategori jurusan, subjek terbanyak berada pada kategori psikologi dengan jumlah 48 mahasiswa. Kelima kategori IPK, subjek terbanyak berada pada kategori IPK 3.00- 3.99 dengan jumlah 109 mahasiswa.
4.1.2 Deskripsi Data Penelitian
dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua variabel yaitu variabel academis self efficacy sebagai variabel X dan variabel decisional procrastination sebagai variabel Y. Pada penelitian ini peneliti akan menguraikan data dari masing masing variabel secara hipotetik dan empirik. Skor yang dihitung meliputi nilai minimal, nilai maksimal, mean, dan standar deviasi. Perhitngan skor empirik dapat dilakukan dengan bantuan SPSS versi 22. Sedangkan Menurut Azwar (2012) untuk mencari skor hipotetik dapat diperoleh dengan rumus dibawah ini:
Tabel 12
Persamaan Skor Hipotetik
Statistik Persamaan
Nilai Minimum Hipotetik Skor aitem terendah x jumlah aitem
Nilai Maksimum Hipotetik Skor aitem tertinggi x jumlah aitem
Mean Hipotetik Jumlah aitem x mean dari skor aitem
Standar Deviasi Hipotetik Skor maksimum-skor minimum 6
Berikut adalah tabel skor hipotetik dan skor empirik dari skala academic self efficacy dan skala decisional procrastination:
Tabel 13
Skor Hipotetik dan Empirik Skala Academic Self Efficacy dan skala Decisional procrastination pada Tiap Variabel
Variabel N Data Hipotetik Data Empirik Mean Std. Skor hipotetik diperoleh dari perhitungan manual yang
berdasar pada skala yang telah disusun oleh peneliti. Berdasarkan tabel nilai hipotetik diketahui bahwa pada variabel academic self efficacy memiliki skor minium 17, skor maksimum 68, mean 42.5 dan standar deviasi 8.5. skor hipotetik pada variabel decisional procrastination memiliki skor minimum 5, skor maksimum 20, mean 12.5 dan standar deviasi 2.5.
Skor empirik diperoleh dengan perhitungan SPSS versi 22.
Skor empirik pada variabel academic self efficacy memiliki skor minimum 38, skor maksimum 60, mean 50.38, dan standar deviasi 4.526. skor empirik pada variabel decisional procrastination memiliki skor minimum 8, maksimum 20, mean 13.23, dan standar deviasi 2.329.
Setelah memperoleh hasil hipotetik dan empirik, selanjutnya akan dilakukan analisis deskriptif yang bertujuan untuk
menggolongkan subjek kedalam tiga kategori yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Berikut merupakan tabel kategorisasi variabel (Azwar, 2012) :
σ = standardeviasi hipotetik
Tahap selanjutnya adalah menentukan batasan minimal dan maksimal pada masing- masing kategori dari setiap variabel penelitian. Berikut merupakan hasil dari kategori subjek berdasarkan skala academic self efficacy dan skala decisional procrastination:
Tabel 15
Kategorisasi Variabel Academic Self Efficacy dan Decisional procrastination
Variabel Rentang Skor Kategori Jumlah Responden
Berdasarkan tabel kategori vaiabel, dapat diketahui bahwa responden penelitian pada variabel academic self efficacy pada kategori rendah 0 mahasiswa dengan persentase 0%, kategori sedang
sebanyak 74 mahasiswa dengan persentase 61,67%, kategori tinggi sebanyak 46 mahasiswa dengan persentase 38,34%. Sedangkan pada variabel decisional procrastination yang termasuk dalam kategori rendah sebanyak 4 mahasiswa dengan persentase 3,34%, kategori sedang sebanyak 84 mahasiswa dengan persentase 70%, dan kategori tinggi sebanyak 32 mahasiswa dengan persentase 26,67%.
4.1.3 Uji Asumsi
4.1.3.1 Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah dalam model regresi variabel terkait dan variabel bebas keduanya memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Uji normalitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji One Sample Kolmogrov Smirnov. Data dikatakan terdistribusi normal dengan taraf signifikansi 0.079 (> 0.05).
4.1.3.2 Uji Linearitas
Uji linearitas dilakukan untuk melihat apakah kedua variabel memiliki hubungan yang linier atau tidak. Hasil uji linearitas menggunakan bantuan SPSS versi 22. Diketahui bahwa nilai signifikan pada liniarity sebesar 0,000 (p<0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa antara variabel academic self efficacy terhadap variabel decisional procrastination memiliki hubungan yang linier.
4.1.3.3 Uji Heterokadastisitas
Berdasarkan hasil uji heteroskedastisitas, didapatkan hasil bahwa pola titik- titik pada scatterplots menyebar diatas dan dibawah atau disekitar angka 0, dan pola titik tidak menunjukkan pola tertentu karena pola titik- titik menyebar secara acak. Berikut gambar scatterplot dari hasil uji Heteroskadastisitas:
Gambar 1 Scatterplot Hasil Uji Heteroskedastisitas
4.1.3.4 Uji Hipotesis
Berdasarkan hasil hipotesis menggunakan SPSS versi 22 dengan analisis Product Moment Pearson diperoleh koefisien determinasi (R2) sebesar 0,168 yang mengandung pengertian bahwa pengaruh variabel bebas (X) terhadap variabel terkait (Y) adalah sebesar 16,8% sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel yang lain yang tidak diteliti oleh peneliti. Hasil dari F hitung =
23,862 dengan tingkat signifikansi 0,000 < 0,05 dan Beta didapatkan nilai -0,410, maka H0 ditolak dan Ha diterima yang artinya terdapat peran negatif yang signifikan academic self efficacy terhadap decisional procrastination pada mahasiswa yang sedang menyusun skripsi di FISIP UB sehingga persamaan regresinya dapat ditulis Y=a+bX atau 23,864+(-211).
4.2 Pembahasan Hasil
Hasil analisis statistik dari penelitian ini menunjukkan taraf signifikansi p = 0.000 (p < 0.005) dan Beta didapatkan nilai -0,410 yang artinya terdapat peran negatif yang signifikan academic self efficacy terhadap decisional procrastination pada mahasiswa yang mengerjakan skripsi di FISIP UB. Artinya semakin tinggi academic self efficacy mahasiswa maka semakin rendah decisional procrastination mahasiswa. Sebaliknya, semakin rendah academic self efficacy mahasiswa maka semakin tinggi tingkat decisional procrastination pada mahasiswa.
Hal ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Damri, dkk (2017) dijelaskan bahwa self efficacy mahasiswa berada pada kategori tinggi yang artinya mahasiswa mempunyai tingkat keyakinan diri yang tinggi untuk mampu menyelesaikan tugas- tugas perkuliahan. Sedangkan untuk kategori prokrastinasi akademik mahasiswa hanya berada pada kategori sedang. Kategori sedang tersebut hanya bermakna bahwa sebagian besar mahasiswa masih
menunjukkan perilaku menunda- nunda dalam memulai untuk mengerjakan tugas perkuliahan, sehingga menyebabkan keterlambatan dalam menyelesaikan tugas tersebut. Tingginya keyakinan diri tidaklah cukup tanpa diimplementasikan dalam bentuk perbuatan secara nyata.
Menurut analisis yang dilakukan penulis, dimungkinkan adanya faktor- faktor lain yang menyebabkan mahasiswa masih cenderung berperilaku menunda (Damri, 2017).
Perilaku menunda- nunda suatu pekerjaan dan membiarkannya hingga waktu yang akan datang disebut dengan procrastination (Zusya, 2016). Salah satu bentuk procrastination adalah decisional procrastination. Menurut Jennis dan Mann (Zeisler, 2011) decisional procrastination merupakan pola maladaptive dalam menunda keputusan ketika dihadapkan dengan konflik dan pilihan. Seseorang dengan decisional procrastination yang tinggi cenderung akan membutuhkan waktu lebih lama dalam mencari informasi untuk membuat keputusan, terutama ketika dihadapkan pada banyaknya alternatif pilihan yang kemudian menjadi pertimbangan.
Burka dan Yuen (Hapsari, 2016) mengatakan bahwa procrastination atau penundaan dapat terjadi karena adanya 2 faktor yaitu faktor internal diantaranya kondisi fisik subjek yang kelelahan, dan kondisi psikologis subjek yang memiliki self efficacy yang rendah, sedangkan faktor eksternal diantaranya adalah faktor lingkungan yang juga dapat mempengaruhi seseorang untuk melakukan penundaan atau
procrastination. Steel (Hapsari, 2016) menyatakan pula bahwa self efficacy merupakan salah satu faktor yang cukup mempengaruhi munculnya perilaku procrastination.
Individu yang memiliki self efficacy yang rendah cenderung akan melakukan prokrastinasi akademik dan cenderung akan merasa kesulitan dalam memotivasi dirinya sehingga dapat mengurangi usahanya dalam penyelesaian tugas yang sedang dihadapi (Rahayu, 2013). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 0 mahasiswa dengan presentase 0% memiliki academic self efficacy yang rendah, mahasiswa yang memiliki academic self efficacy yang sedang sebanyak 74 mahasiswa dengan presentase 61,67%, sedangkan mahasiswa yang memiliki academic self efficacy yang tinggi sebanyak 46 mahasiswa dengan presentase 38,34%. Menurut Bandura hal ini dapat terjadi karena terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya: pengalaman keberhasilan, pengalaman orang lain, persuasi verbal, dan keadaan emosional individu (Rahayu, 2013).
Hal ini sesuai dengan respon jawaban yang diberikan oleh subjek untuk skala decisional procrastination. Respon jawaban mahasiswa yang memiliki decisional procrastination yang rendah sebanyak 4 mahasiswa dengan presentase 3,34%, mahasiswa yang memiliki decisional procrastination yang sedang sebanyak 102 mahasiswa dengan presentase 85%, sedangkan mahasiswa yang memiliki decisional procrastination yang tinggi sebanyak 14
mahasiswa dengan presentase 11,67%. Maka dapat disimplkan bahwa tingginya academic self efficacy pada mahasiswa maka decisional procrastination pada mahasiswa tersebut akan rendah.
4.3 Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki keterbatasan sehingga dapat mempengaruhi hasil dari penelitian, oleh karena itu beberapa keterbatasan dalam penelitian ini antara lain :
1. Keterbatasan variabel academic self efficacy yang merupakan pengembangan dari teori self efficacy Bandura. academic self efficacy sendiri tidak memiliki tokoh spesifik sehingga hal ini dapat dijadikan keterbatasan dalam penelitian ini.
2. Keterbatasan subjek yang sulit ditemui langsung karena subjek yang dibutuhkan sudah jarang berada dikampus, sehingga peneliti melakkan pengambilan data secara online dengan menyebarkan lewat google form dengan membagikan link form kepada group angkatan 2010- 2013 dan peneliti tidak mengetahui dengan pasti kesungguhan subjek dalam memberikan jawaban karena tidak secara langsung.
3. Keterbatasan penyebaran alat ukur peneliti yang dilakukan secara online dapat memungkinkan terjadinya kesamaan responden dalam mengisi skala try out dan skala turun lapangan.
1
Berdasarkan uji hipotesis, dapat diketahui bahwa terdapat peran negatif yang signifikan antara academic self efficacy terhadap decisional procrastination pada mahaiswa yang sedang menyusun skripsi di FISIP UB, sehingga semakin tinggi academic self efficacy seseorang, maka semakin rendah decisional procrastination pada mahasiswa.
1.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan, berikut beberapa saran yang dapat diberikan oleh peneliti:
1. Untuk penelitian selanjutnya sebaiknya lebih mempelajari lebih mendalam mengenai academic self efficacy.
2. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambahkan metode wawancara sebagai data tambahan dalam menggali data, sehingga mendapatkan gambaran mengenai perilaku decisional procrastination mahasiswa dalam proses mengerjakan skripsi.
1
DAFTAR PUSTAKA
Arlinkasari, Fitri. (2017). Hubungan antara school engagement, academic self efficacy dan academic burnout pada mahasiswa. Jurnal Humanitas. Vol. 1 Nomor 2 Agustus 2017
Azwar, S. (2011). Metode penelitian, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Azwar, S. (2012). Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Azwar, Saifuddin. (2013). Metode penelitian . Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Bandura, A. (1993). Perceived self efficacy in cognitive development and functioning. Educational Psychologist.Vol. 28 (2), 117-148.
Bandura, A. (1994). Self-efficacy. In V. S. Ramachaudran (Ed.), Encyclopedia of human behavior (Vol. 4, pp. 71-81). New York: Academic Press.
(Reprinted in H. Friedman [Ed.], Encyclopedia of mental health. San Diego: Academic Press, 1998).
Bandura, Albert. (1977). Analysis Of Self Efficacy Theory Of Behavioral Change.
Journal Cognitive Therapy and Research. Vol. 1, No. 4, 1997, pp. 287-310.
Chairiyati, Lisa Ratriana. (2013). Hubungan Antara Self efficacy Akademik dan Konsep Diri Akademik Dengan Prestasi Akademik. Jurnal Humaniora.
Vol.4 No.2, 1125-1133.
Damri. (2017). Hubungan Self Efficacydan Prokrastinasi Akademik Mahasiswa Dalam Menyelesaikan tugas Perkuliahan. Jurnal Bimbingan Konseling.
Jurnal Bimbingan Konseling. ISSN: 2460-4917.
Fabio, Annamaria Di. (2006). Decisional Procrastination Correlaties: Personality traits, Self Esteem or Perception of Cognitive Failure?. Journal of Int J Educ Vocat Guid. Vol. 6:109–122.
Ferrari, Joseph. R. (2000). “ Examining Behavioral Processes in Indecision:
Decisional Procrastination and Decision Making Style”. Journal of Research in Personality. Vol. 34, 127–137.
Ferrari, Joseph.R. (1989). Reliability of Academic and Dispositional Measures of Procrastination. Journal of Sosial, Behavior and Personality Vol. 1989,
64, 1057-1058.
Hajloo, Nader. (2014). Relationship Between Self Efficacy, Self esteem and Procrastination in Undergraduate Psychology Students. Journal of Psychiatry and Behavioral Sciences. Vol. 8(3): 42-49
Hammer, Corey. (2002). “Differential Incidence of Procrastination Between Blue and White- Collar Workers”.Journal of Current Psychology. Vol. 21 No. 4 pp. 333-338.
Hapsari, Elisabet Widyaning. (2016). Self efficacy Pengerjaan skripsi Prokrastinasi akademik Dengan Pada Mahasiswa Fakultas farmasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Jurnal Experientia.
Volume 4, Nomor 2 Oktober 2016.
Hen, Meirav. (2012). Academic Procrastination, Emotional Intelligence, Academic Self efficacy, and GPA: A Comparison Between Students With and Without Learning Disabilities. Journal of Learning Disabilities. DOI:
10.1177/0022219412439325.
Julianda, B. N. (2012). Prokrastinasi dan self-efficacy pada mahasiswa fakultas psikologi Universitas Surabaya. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya, 1(1).
Kamus Besar Bahasa Indonesia Online. (n.d). http://kbbi.web.id/skripsi.
Khotimah, Rahmawati Husnul. (2016). Hunungan Antara Konsep Diri Akademik, Effikasi Diri Akademik, Harga Diri dan Prokrastinasi Akademik Pada Siswa SMP Negeri di Kota Malang. Jurnal Kajian bimbingan dan Konseling. Vol 1, No. 2, 2016, hlm. 60-67.
Kristanto, Jeremy., Abraham, Juneman. (2016). Decisional Procrastination: The Role Of Courage Media Mltitasking and planning Fallacy. The European Proceedings of Social & Behavioural Sciences EpSBS. Volume XVI, No.
69, p. 663-675, 2016.
Ling, Kelvin. (2012). Validation Of Decisional Procrastination instrument. Jurnal Psikologi. Vol. 27, No. 2, 102-111.
Mann, Leon., Paul Burnett, Mark Radford and Steve Ford. (1997). The Melbourne Decision Making Questionnaire: An Instrument for Measuring Patterns for Coping With Decisional Conflict. Journal of Behavioral Decision Making.
Vol. 10, 1-19.
Nugraheni, Rizka Fitri. (2016). Kesabaran Dan Academic Self Efficacy Pada Mahasiswa. Journal Psychologi. Vol. 21 Nomor 1 Tahun 2016.
Pedoman Pendidikan (2013-2014). Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Btawijaya. Malang.
Pedoman Penyusunan Skripsi. (2013-2014). Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya. Malang.
Ramadhani, Aprilina. (2016). Hubungan Konformitas Dengan Prokrastinasi Dalam Menyelesaikan Skripsi Pada Mahasiswa Tingkat Akhir Yang Tidak Bekerja di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman Samarinda. Jurnal Psikologi. Vol. 4 (3) : 507 – 517.
Roghani, Laila. (2015). The Relationship between The Academic Procrastination And The Academic Self Efficacy For Academic Achievements In Female High School Students In Isfahan In The 2013- 2014 Academic Year.
Journal of Management Sciences. Vol. 1 (12), 385-390, 2015.
Sharma, Hemant Lata. (2014). “Academic Self Efficacy: A Reliable Predictor Of Educational Performances”.British Journal of Education. Vol. 2, No. 3, pp. 57-64, July 2014.
Sirin, Erkan Faruk. (2011). Academic Procrastination Among Undergraduates Attending School of Physical Education and Sports: Role of General Procrastination, Academic Motivation and Academic Self Efficacy.
Journal Educational Research and Reviews. Vol. 6(5), pp. 447-455, May 2011.
Srantih, Titih. (2014). Pengaruh Perfeksionisme Terhadap Prokrastinasi Akademik Pada Mahasiswa yang Sedang Mengerjakan Skripsi di Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Jurnal Ilmiah Psikologi.
Vol. 1, No.1, Hal: 58-68
Sugiono. (2010) Metode Penelitian Kualitatif Kuantitatif dan R&D, Alfabeta, Bandung.
Tatan. ZM. (2012). Analisis Prokrastinasi Tugas Akhir/ Skripsi. Jurnal FMIPA UNY. ISBN : 978-979-16353-8-7.
Tuhardjo, Dodik Juliardi and Mohammad Arief Rafsanjani. (2016). The Effect of Learning Effectiveness and Self Efficacy on Intermediate Financial Accounting I Learning Outcome. Journal Of Humanities And Social Science. Vol. 21, Issue 9, Ver. 8 (Sep. 2016) PP 01-09.
Ursia, Nela regar. (2013). Prokrastinasi akademik dan self-control pada mahasiswa skripsi fakultas psikologi universitas surabaya. Jurnal Makara Seri Sosial Humaniora. Vol 17(1):1-18 DOI:10.7454.
Wahyuni, Wilujeng Dwi. (2014). Penerpan konseling kelompok realita untuk mengurangi perilaku prokrastinasi akademik siswa kelas viii c smp negeri 20 surabaya. Jurnal BK UNESA. Vol. 04 Nomer 3 Tahun 2014, 1-10.
Zeisler, Laurel. (2011). Association Between Stress and Decisional Procrastination in Parents of Children With Down Syndrome During Their Developmental Transitions. Seton Hall University Dissertations and Theses. 2011.
Zusya, Annisa Rosni. (2016). Hubungan self efficacy akademik dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi. Jurnal Ilmiah Psikologi. Vol. 3, No. 2, Hal: 191 – 200.