• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.5 Penelitian Terdahulu

Beberapa penelitian terdahulu terkait dengan variabel academic self efficacy dan decisional procrastination sebagai berikut :

1. Hubungan Self Efficacy Akademik Dengan Prokrastinasi Akademik Pada Mahasiswa Yang Sedang Mengerjakan Skripsi (Jurnal Ilmiah Psikologi Universitas YARSI Jakarta, Vol. 3, No. 2, 2016) Oleh ZusyaAnnisa Rosni dan Sari Zakiah Akmal.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk melihat hubungan self efficacy akademik dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. Responden pada penelitian ini adalah 210 mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini Academic Procrastination Scale dan academic self efficacy. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan

9

yang signifikan antara self efficacy akademik dan prokrastinasi akademik pada mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi.

2. Relationship between Self Efficacy, Self Esteem and Procrastination in Undergraduate Psychology Students (Iranian Journal of Psychiatry and Behavioral Sciences, Vol. 8(3):42-49, 2014) Oleh Hajloo Nader

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meninjau kembali hubungan antara penundaan dan dua self factors, self efficacy dan self esteem. Responden dalam penelitian ini berjumlah 140 mahasiswa sarjana psikologi yang terdaftar di Universitas Arjaan Mohagheg, Ardabil, Iran. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengumpulkan data yang dikumpulkan adalah versi siswa dari General Procrastination Scale (GP-S), General Self Efficacy Scale (GSE) dan Rosanberg’s Self Esteem Scale (SES). Hasil dari penelitian ini adalah hubungan variabel procrastination dengan harga diri dan self efficacy terungkap dikalangan mahasiswa psikologi.

3. Academic Self Efficacy, Emotional Intelligence, GPA And Academic Procrastination In Higher Education ( Jurnal Ilmiah Sosial Tel- Hai Academic College, Israel, DOI:

10

10.117/0022219412439325, 2012) Oleh Merav Hen, PhD, and Marina Goroshit, PhD.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk mengeksplorasi dan memberikan pemahaman awal untuk hubungan antara kecerdasan emosional, prokrastinasi akademik, dan IPK, seperti dimensi oleh akademik self efficacy. Penelitian ini didasarkan pada sampel kenyamanan dimana terdapat 287 mahasiswa dari perguruan tinggi yang terletak di utara Israel. Instrumen yang digunakan didalam penelitian ini variabel kecerdasan emosional menggunakan The Schutte self Report Emotional Intelligence test (SSREIT) yang dikembangkan oleh Schutte dkk. (1998). Veriabel academic self efficacy menggunakan College Academic Self Efficacy Scale (CASES). Variabel prokrastinasi akademik skala ini dirancang untuk mahasiswa (Milgram dkk 1998). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa prokrastinasi akademik terkait erat dengan variabel motivasi seperti self efficacy dan pembelajaran mandiri, dan dengan tingkat yang lebih tinggi dari kecemasan, stres, dan penyakit.

4. The Relationship Between The Academic Procrastination And The Academic Self Efficacy For Academic Achievements In Female High School Students In Isfahan

11

In The 2013- 2014 Academic Year ( Journal Of Management Science. Vol, 1 (12), 385-390, 2015) Oleh Leila Roghani, Taghi Aghahosaini, Fazlollah Yazdani.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara prokrastinasi akademik dan academic self efficacy untuk prestasi akademik siswa SMA perempuan di isfahan tahun akademik 2013- 2014. Responden dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA perempuan di Isfahan tahun akademik 2013- 2014. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini The Procrastination Assessment Student Version Scale (PASS).

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa self efficacy dan prokrastinasi akademik bisa menjelaskan perubahan yang terkait dengan prestasi akademik.

5. Hubungan Self Efficacy dan Prokrastinasi Akademik Mahasiswa Dalam Menyelesaikan Tugas Perkuliahan (Jurnal Bimbingan Konseling. ISSN 2460-4917) Oleh Damri, Engkizar, Faudy Anwar.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk melihat hubungan self efficacydan prokrastinasi akademik mahasiswa dalam menyelesaikan tugas perkuliahan. Responden dalam penelitian ini adalah 231 mahasiswa. Instrumen yang digunakan dalam

12

penelitian ini adalah instrumen self efficacy dan prokrastinasi akademik. Hasil dari penelitian ini menunjkkan bahwa secara keselurhan self efficacy mahasiswa berada pada kategori tinggi, sedangkan prokrastinasi akademik berada pada kategori sedang.

Analisis correlation product moment pearson menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara self efficacy dengan prokrastikasi akademik.

1

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Academic Self Efficacy

2.1.1 Pengertian Academic Self Efficacy

Self efficacy didefinisikan sebagai kepercayaan seseorang tentang kemampuan mereka untuk menghasilkan tingkat kinerja yang ditunjuk mempengaruhi aktivitas kejadian- kejadian yang mempengaruhi kehidupan mereka (Bandura, 1994). Bandura percaya bahwa faktor terpenting dalam belajar adalah self efficacy (Hapsari, 2016). Menurut Nugraheni (2016) self efficacy dalam konteks akademik dapat disebut juga academic self efficacy.

Academic self efficacy merupakan keyakinan mahasiswa terhadap kemampuan mereka dalam melaksanakan tugas- tugas akademik seperti mempersiapkan diri untuk ujian dan menyusun makalah (Zusya, 2016).

Semakin seseorang merasa yakin terhadap kemampuan yang dimilikinya, maka semakin besar usaha yang dilakukannya dan semakin aktif karena dirinya yakin kemampuannya itu dapat membantu dalam mengerjakan suatu tugas menghadapi hambatan atau rintangan untuk mencapai prestasi akademik yang tinggi (Chairiyati, 2013) .

Mahasiswa yang memiliki academic self efficacy yang tinggi cenderung memilih kegiatan menantang, terus berusaha keras, dan tetap bertahan dalam usahanya walaupun mengalami hal yang tidak menyenangkan (Nugraheni, 2016). Shankland (Arlinkasari, 2017) menemukan bahwa mahasiswa yang memiliki self efficacy yang tinggi akan mampu mengatasi berbagai tuntutan sebagai mahasiswa diperguruan tinggi. Sebaliknya

tugas kuliah.

Zimmerman (2000) mendukung pernyataan Bandura (1986), yaitu acadeic self efficacy dapat memprediksi pilihan aktivitas, tingkat usaha, seberapa lama bertahan dalam usahanya, dan reaksi emosi (Nugraheni, 2016).

Academic self efficacy mengacu pada persepsi siswa tentang kompetensi mereka untuk mengerjakan pekerjaan kelas mereka (Sharma, 2014). Seperti yang digariskan oleh Bandura (1993) bahwa siswa dengan academic self efficacy yang tinggi cenderung melihat masalah sebagai tantangan yang harus dikuasai dari pada ancaman dan menetapkan tujuan untuk menghadapi tantangan, memiliki komitmen terhadap tujuan akademis yang mereka tetapkan, memiliki orientasi diagnostik tugas, yang memberikan umpan balik yang berguna untuk meningkatkan kinerja seseorang, dan bukan orientasi diagnostik mandiri, yang memperkuat harapan rendah siswa tentang apa yang dapat mereka capai, melihat kegagalan sabagai usaha atau pengetahuan yang tidak mencukupi, bukan sebagai kekurangan kemampuan, serta meningkatkan usaha mereka dalam kasus kegagalan untuk mencapai tujuan yang telah mereka tetapkan (Bandura, 1993).

2.1.2 Dimensi Academic Self efficacy

Terdapat tiga dimensi self efficacy menurut Bandura (1977) diantaranya adalah:

a. Dimensi tingkat (level)

Dimensi ini berkaitan dengan tingkat kesulitan tugas ketika individu merasa mampu melakukannya. Jika individu dihadapkan dengan

mencakup tugas yang paling sulit, sesuai dengan batasan yang dirasakan untuk memenuhi tuntutan perilaku yang dibutuhkan pada masing-masing tingkat. Dimensi ini berimplikasi pada perilaku seleksi yang akan dicoba atau dihindari. Individu akan mencoba perilaku yang dianggap mampu melakukan dan menghindari perilaku yang berada di luar batas yang dirasakan (Tuhardjo, 2016).

b. Dimensi Kekuatan (strength)

Dimensi ini berkaitan dengan tingkat kekuatan kepercayaan individu atau harapan tentang kemampuannya. Harapan orang lemah mudah terombang-ambing oleh pengalaman yang tidak mendukung.

Sebaliknya, harapan yang mantap mendorong individu bertahan dalam upayanya. Meski bisa ditemukan pengalaman kurang. Dimensi ini terkait langsung dengan dimensi tingkat, seperti semakin tinggi tingkat kesulitan tugas, semakin lemah kepercayaan yang dirasakan untuk menyelesaikannya (Tuhardjo, 2016).

c. Dimensi Generalisasi (generality)

Dimensi ini terkait dengan area perilaku yang luas dimana individu merasa percaya diri dengan kemampuannya. Terbatas pada situasi atau aktivitas tertentu dan dalam serangkaian aktivitas atau situasi yang bervariasi (Tuhardjo, 2016).

Dalam penelitian ini self efficacy dikaitkan dalam konteks akademik.

Decisional procrastination merupakan salah satu bentuk dari procrastination yaitu dysfunctional procrastination. Decisional pocrastination merupakan suatu penundaan dalam pengambilan keputusan. Bentuk procrastination ini merupakan sebuah penghambat kognitif dalam menunda untuk mulai melakukan suatu pekerjaan dalam menghadapi situasi yang dipersepsikan penuh stress (Kristanto & Abraham, 2016).

Janis dan Mann (Zeisler, 2011) mengatakan bahwa decisional procrastination merupakan salah satu tipe penghindaran, hal ini ditandai dengan tingginya konflik, kehilangkan harapan untuk solusi yang lebih baik, tidak memiliki target waktu, dan juga terkait dengan stres yang tinggi. Effert dan Ferarri (1989) juga mengatakan decisional procrastination berkaitan dengan kecepatan dan ketidaksabaran pada batas waktu tugas dan rendahnya daya saing pada tugas tersebut. Individu yang tinggi melakukan decisional procrastination membutuhkan waktu yang lebih lama dalam membuat keputusan saat memiliki banyak pilihan alternatif (Ferrari dan Dovidio, 2000).

Fakta bahwa decisional procrastination dapat mempengaruhi siapapun seperti pekerja, karyawan, siswa, hingga mahasiswa. Hammer dan Ferrari (2002) menemukan bahwa decisional procrastination lebih tinggi terjadi pada lulusan perguruan tinggi dibandingkan dengan lulusan SMA. Hal tersebut dikarenakan lulusan perguruan tinggi memiliki lebih banyak tanggung jawab dalam pekerjaan dan tekanan tingkat tinggi yang menyebabkan meningkatnya decisional procrastination.

menyelesaikan suatu tugas, kegagalan dalam mengevaluasi atau bahkan sebenarnya telah melupakan aspek fundamental karena kerapuhan, defisit dalam perolehan, retensi dan pengolahan informasi (Fabio, 2006). Decisional procrastination sendiri merupakan salah satu bentuk procrastination yang mengawali (anteseden) kognitif dalam menunda untuk memulai tugasnya.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa decisional procrastination adalah suatu penundaan dalam mengambil keputusan yang dilakukan secara sengaja untuk jangka waktu tertentu ketika dihadapkan pada pilihan dan konflik.

2.2.2 Bentuk Decision Making

Bentuk decisional procrastination berdasarkan pada teori decision making Janis & Mann tentang pengambilan keputusan, dimana decisional procrastination digunakan untuk mengukur perilaku menunda- nunda dalam pengambilan keputusan (Mann, dkk, 1997). Berikut adalah bentuk dari decision making dalam mengatasi konflik pengambilan keputusan:

a. Vigilance

Pengambilan keputusan yang efektif, mencari informasi secara menyeluruh, mempertimbangkan tujuan yang ingin dicapai dari alternatif pilihan yang membutuhkan solusi, merencanakan strategi untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai dengan mengevaluasi resiko dan alternatif pilihan.

b. Hypervigilance

tergesa- gesa dan spontan dalam menemukan solusi.

c. Procrastination

Pengambilan keputusan dengan melakukan penundaan secara sengaja dan berulang-ulang dengan melakukan aktivitas yang lain yang tidak diperlukan dalam mengambil keputusan.

d. Buck- passing

Pengambilan keputusan untuk menentukan solusi yang baik agar terhindar dari konflik dengan memberikan tanggung jawab atau keputusan kepada orang lain. adanya keraguan dalam pengambilan keputusan.

Berdasarkan defisnisi dari bentuk- bentuk decisional making diatas, peneliti menggunakan salah satu bentuk decisional making yang berhubungan dengan perilaku menunda dalam pengambilan keputusan yaitu, procrastination sebagai landasan utama untuk menyusun instrumen penelitian yang akan digunakan, dimana peneliti mengadaptasai dari skala Mann, dkk (1997) yaitu The Melbourne Decision Making Questionnaire berdasarkan teori Jenis & Mann (1997) yaitu decision making.

2.2.3 Faktor yang Mempengaruhi Decisional procrastination

Jannis dan mann (Mann, Barnet, dkk, 1997) mengatakan stress yang disebabkan karena adanya konflik dalam membuat keputusan merupakan faktor utama kegagalan dalam mencapai pengambilan keputusan yang berkualitas tinggi. Faktor- faktor demografis seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, jenis pekerjaan, dan status perkawinan dapat mempengaruhi

2.3 Mahasiswa yang Mengerjakan Skripsi

Mahasiswa merupakan peserta didik yang terdaftar dan belajar pada perguruan tinggi (Ramadhani, 2016) dan Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Skripsi merupakan karya ilmiah yang wajib ditulis oleh mahasiswa sebagai bagian dari persyaratan akademis untuk mendapatkan gelar sarjana pada jenjang pendidikan S1 (Kamus Besar Bahasa Indonesia Online).

Mahasiswa yang mengerjakan skripsi merupakan individu yang yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi yang sedang mengerjakan suatu tugas ilmiah yang wajib ditulis oleh mahasiswa sebagai bagian dari persyaratan akademis untuk mendapatkan gelar sarjana.

2.4 Peran Academic Self Efficacy Terhadap Decisional procrastination pada Mahasiswa yang Sedang Menyusun Skripsi.

Dalam kehidupan manusia banyak masalah yang akan terjadi, baik masalah yang simpel maupun yang kompleks. salah satu masalah adalah decisional procrastination yang merupakan suatu penundaan dalam mengambil keputusan. Bentuk procrastination ini merupakan sebuah penghambat kognitif dalam menunda untuk mulai melakukan suatu pekerjaan dalam menghadapi situasi yang dipersepsikan penuh stress (Kristanto, 2016).

Beberapa hal yang menyebabkan seseorang melakukan procrastination diantaranya kurangnya sikap disiplin mahasiswa (tidak mengikuti atau terlambat bimbingan skripsi sesuai jadwal yang telah ditentukan), dosen pembimbing yang sulit ditemui, tidak mendapatkan persetujuan dari dosen pembimbing (misalnya,

Salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang melakukan procrastination adalah self efficacy (Zusya, 2016). Menurut Nugraheni (2016) Self Efficacy dalam konteks akademik disebut dengan academic self efficacy.

Academic self efficacy merupakan keyakinan mahasiswa terhadap kemampuan mereka dalam melaksanakan tugas- tugas akademik seperti mempersiapkan diri untuk ujian dan menyusun makalah (Zusya, 2016). Semakin seseorang merasa yakin terhadap kemampuan yang dimilikinya, maka semakin besar usaha yang dilakukannya dan semakin aktif karena dirinya yakin kemampuannya itu dapat membantu dalam mengerjakan suatu tugas menghadapi hambatan atau rintangan untuk mencapai prestasi akademik yang tinggi (Khotimah, 2016) .

Mahasiswa yang memiliki academic self efficacy yang tinggi cenderung memilih kegiatan menantang, terus berusaha keras, dan tetap bertahan dalam usahanya walaupun mengalami hal yang tidak menyenangkan (Nugraheni, 2016).

Shankland (Arlinkasari, 2017) menemukan bahwa mahasiswa yang memiliki self efficacy selfyang tinggi akan mampu mengatasi berbagai tuntutan sebagai mahasiswa diperguruan tinggi. Sebaliknya mahasiswa yang memiliki academic self efficacy yang rendah akan mudah menyerah saat menghadapi kesulitan- kesulitan dalam menghadapi tugas kuliah.

Perilaku menunda- nunda atau menghindari tugas hingga membiarkannya hingga waktu yang akan datang serta memilih melakukan hal- hal lain yang kurang berprioritas ini disebut dengan procrastion (Zusya, 2016). Procrastination dibagi menjadi beberapa bentuk, salah satunya adalah decisional procrastination.

Decisional pocrastination merupakan suatu penundaan dalam pengambilan

situasi yang dipersepsikan penuh stress (Kristanto & Abraham, 2016).

Janis dan Mann (Zeisler, 2011) mengatakan bahwa decisional procrastination merupakan salah satu tipe penghindaran, hal ini ditandai dengan tingginya konflik, kehilangkan harapan untuk solusi yang lebih baik, tidak memiliki target waktu, dan juga terkait dengan stres yang tinggi. Effert dan Ferarri (1989) juga mengatakan decisional procrastination berkaitan dengan kecepatan dan ketidaksabaran pada batas waktu tugas dan rendahnya daya saing pada tugas tersebut. Individu yang tinggi melakukan decisional procrastination membutuhkan waktu yang lebih lama dalam membuat keputusan saat memiliki banyak pilihan alternatif (Ferrari dan Dovidio, 2000).

2.5 Kerangka Pemikiran Bagan 1

Kerangka Pemikiran Variabel Academic Self Efficacy dan Variabel Decisional procrastination

Skripsi merupakan karya ilmiah yang wajib ditulis oleh mahasiswa sebagai bagian dari persyaratan akademis untuk mendapatkan gelar sarjana pada jenjang pendidikan S1 (Kamus Besar Bahasa Indonesia Online). Skripsi pada umumnya diberikan jangka waktu pengerjaan satu semester, tetapi pada kenyataannya banyak mahasiswa yang mengerjakan skripsi lebih dari batas waktu yang telah ditentukan oleh perguruan tinggi. Adanya kecenderungan untuk tidak segera memulai ketika menghadapi suatu tugas merupakan indikasi dari perilaku menunda dalam penyelesaian tugas (Zusya, 2016).

Decisional procrastination Academic self

Efficacy

regulation (Zusya, 2016). Academic self efficacy merupakan keyakinan mahasiswa terhadap kemampuan mereka dalam melaksanakan tugas- tugas akademik seperti mempersiapkan diri untuk ujian dan menyusun makalah (Zusya, 2016). Semakin seseorang merasa yakin terhadap kemampuan yang dimilikinya, maka semakin besar usaha yang dilakukannya dan semakin aktif karena dirinya yakin kemampuannya itu dapat membantu dalam mengerjakan suatu tugas menghadapi hambatan/rintangan untuk mencapai prestasi akademik yang tinggi (Khotimah, 2016) .

Mahasiswa yang memiliki academic self efficacy yang tinggi cenderung memilih kegiatan menantang, terus berusaha keras, dan tetap bertahan dalam usahanya walaupun mengalami hal yang tidak menyenangkan (Nugraheni, 2016).

Shankland (Arlinkasari, 2017) menemukan bahwa mahasiswa yang memiliki self efficacy yang tinggi akan mampu mengatasi berbagai tuntutan sebagai mahasiswa diperguruan tinggi. Sebaliknya mahasiswa yang memiliki academic self efficacy yang rendah akan mudah menyerah saat menghadapi kesulitan- kesulitan dalam menghadapi tugas kuliah.

Perilaku menunda- nunda atau menghindari tugas hingga membiarkannya hingga waktu yang akan datang serta memilih melakukan hal- hal lain yang kurang berprioritas ini disebut dengan procrastination (Zusya, 2016).

Procrastination dibagi menjadi beberapa bentuk, salah satunya adalah decisional procrastination. Decisional pocrastination merupakan suatu penundaan dalam pengambilan keputusan. Bentuk procrastination ini merupakan sebuah penghambat kognitif dalam menunda untuk mulai melakukan suatu pekerjaan

Janis dan Mann (Zeisler, 2011) mengatakan bahwa decisional procrastination merupakan salah satu tipe penghindaran, hal ini ditandai dengan tingginya konflik, kehilangkan harapan untuk solusi yang lebih baik, tidak memiliki target waktu, dan juga terkait dengan stress yang tinggi. Effert dan Ferarri (1989) juga mengatakan decisional procrastination berkaitan dengan kecepatan dan ketidaksabaran pada batas waktu tugas dan rendahnya daya saing pada tugas tersebut. Individu yang tinggi melakukan decisional procrastination membutuhkan waktu yang lebih lama dalam membuat keputusan saat memiliki banyak pilihan alternatif (Ferrari dan Dovidio, 2000).

Terkait dengan kedua variabel yaitu academic self efficacy dan decisional procrastination, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terhadap mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. Sehingga peneliti mengambil judul “Peran Academic Self Efficacy Terhadap Decisional Procrastination pada Mahasiswa yang Mengerjakan Skripsi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Malang”.

2.6 Hipotesis

Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis yang dapat diajukan adalah sebagai berikut:

H0 : Tidak terdapat peran academic self efficacy terhadap Decisional procrastination pada mahasiswa yang sedang menyusun skripsi di FISIP Universitas Brawijaya Malang.

Universitas Brawijaya Malang.

1 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian korelasional. Dimana tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran academic self efficacy terhadap decisional procrastination pada mahasiswa yang menyusun skripsi.

3.2 Identifikasi Variabel Penelitian

Penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu, variabel independen dan variabel dependen. Variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

3.2.1 Variabel Bebas (X)

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah academic self efficacy.

3.2.2 Variabel Terkait (Y)

Variabel terkait dalam penelitian ini adalah decisional procrastination.

3.3 Definisi Operasional

3.3.1 Academic Self Efficacy

Academic Self Efficacy merupakan suatu kepercayaan yang dimiliki setiap individu atas kemampuannya atau kompetensi untuk

menghadapi serta memecahkan masalah yang berhubungan dengan akademik. Seseorang dengan academic self efficacy yang tinggi cenderung mampu untuk menyelesaikan tugas yang ia kerjakan hingga selesai. Begitupun sebaliknya seseorang dengan academic self efficacy yang rendah cenderung untuk mudah menyerah dalam mengerjakan tugas yang sedang ia kerjakan. Academic self efficacy diukur dengan mengacu pada teori self efficacy Bandura (1977) berdasarkan aspek-aspek sebagai berikut:

Tabel 1

Aspek- Aspek Academic Self Efficacy

Aspek Indikator

Tingkat/ level Kemampuan dalam menghadapi tingkat kesulitas menyelesaikan tugas berdasarkan pemilihan soal yang dihadapi.

Generality (Generalisasi)

Kemampuan atau keyakinan dalam menghadapi situasi tugas dan belajar berdasarkan kemampuannya.

Strength (Kekuatan)

Keyakinan individu atas kemampuannya untuk dapat berfikir dan berusaha saat menyelesaikan tugas yang sulit.

3.3.2 Decisional procrastination

Decisional procrastinasi merupakan suatu pola maladaptif dalam menunda keputusan ketika dihadapkan pada pilihan dan konflik. Individu dengan decisional procrastination yang tinggi cenderung membutuhkan waktu yang lebih lama dalam mengambil keputusan. Begitupula dengan individu dengan decisional procrastination yang rendah tidak membutuhkan waktu yang lama dalam mengambil keputusan. Decisional procrastination diukur

dengan mengacu pada teori Mann dkk, (1997) berdasarkan dimensi- dimensi sebagai berikut:

Tabel 2

Bentuk Decisional procrastination

Bentuk Indikator

Procrastination

Keterlambatan dalam mencapai keputusan dengan melakukan kegiatan yang lain, menunda dalam melaksanakan keputusan.

3.4 Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling 3.4.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini sebanyak 1.895 mahasiswa FISIP Universitas Brawijaya yang berstatus aktif dan sedang mengerjakan skripsi.

3.4.2 Sampel

Sampel dalam penelitian ditentukan dengan rumus slovin dengan error 10% dengan rumus sebagai berikut:

n = 𝑁

1+(𝑁𝑒2)

Keterangan:

n = Jumlah Sampel

N = Jumlah seluruh anggota populasi

e = Taraf signifikan atau toleransi error sebesar 10% dengan tingkat kepercayaan 90%

berdasarkan rumus tersebut sampel yang didapatkan minimal sebanyak 95 orang, akan tetapi pada penelitian ini peneliti mengambil sampel 120 mahasiswa FISIP yang sedang menyusun skripsi.

3.4.3 Teknik Sampling

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling, karena teknik untuk pengmbilan anggota sampel penelitian dengan beberapa pertimbangan tertentu yang bertujuan agar data yang diperoleh nantinya bisa lebih representatif (Sugiono, 2010).

Adapun kriteria khusus agar sampel yang diambil nantinya dapat memenuhi kriteria- kriteria yang mendukung atau sesuai dengan penelitian. Berikut kriterianya:

1. Mahasiswa FISIP UB

2. Mahasiswa yang sedang menyusun skripsi 3. Mahasiswa angkatan 2010- 2013

3.5 Tahapan Pelaksanaan Penelitian

Tahapan pelaksanaan penelitian terdiri dari tiga tahapan, diantaranya tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap penganalisaan data.

3.5.1 Tahap persiapan

a. Melaksanakan studi kepustakaan mengenai variabel yang telah ditentukan sebelumnya untk mendapatkan konsep teoritis.

b. Menentukan sampel dan desain penelitian yang akan digunakan dalam penelitian yang sesuai dengan topik penelitian.

c. Membuat alat ukur yang akan digunakan dalam pengambilan data. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini yaitu, menggunakan skala academic self efficacy dan skala decisional procrastination.

d. Melakukan uji coba alat ukur yang berfungsi untuk mengetahui tingkat keabsahan dan keandalan dari aitem- aitem yang ada.

e. Setelah dilakukan uji coba, peneliti melakukan revisi alat ukur yaitu dengan cara mempertahankan item yang lolos uji validitas dan reabilitas serta membuang aitem yang gugur dan tidak memenuhi kualifikasi. Selanjutnya peneliti menyusunya kedalam alat ukur yang digunakan untk pengambilan data.

3.5.2 Tahap Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan penelitian dilakukan dengan pengambilan data pada subjek penelitian, 120 subjek. Penelitin ini dilakukan pada mahasiswa sesuai dengan kriteria yang ditentukan peneliti yaitu mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi di FISIP Universitas Brawijaya Malang, dalam menyebarkan skala peneliti menggunakan cara online. Subjek mengisi skala dari link yang sudah dikirimkan peneliti.

3.5.3 Tahap Penganalisaan Data

a. Peneliti melakukan pengecekan kembali data yang telah terkumpul untuk mengetahui skala yang digunakan adalah

a. Peneliti melakukan pengecekan kembali data yang telah terkumpul untuk mengetahui skala yang digunakan adalah

Dokumen terkait