• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN ACADEMIC SELF EFFICACY TERHADAP DECISIONAL PROCRASTINATION PADA MAHASISWA YANG SEDANG MENYUSUN SKRIPSI DI FISIP UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERAN ACADEMIC SELF EFFICACY TERHADAP DECISIONAL PROCRASTINATION PADA MAHASISWA YANG SEDANG MENYUSUN SKRIPSI DI FISIP UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG"

Copied!
66
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya

Disusun Oleh : Saputri Arifsa Chaq

135120301111071

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG 2018

(2)
(3)
(4)

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul “Peran Academic Self Efficacy Terhadap Decisional Procrastination pada Mahasiswa yang Sedang Menyusun Skripsi di FISIP Universitas Brawijaya Malang” adalah benar karya sendiri, bukan karya ilmiah atau skripsi orang lain, kecuali dalam bentuk kutipan yang telah disebutkan sumbernya dan ditunjukkan dalam daftar pustaka.

Apabila dikemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan skripsi dan gelar yang saya peroleh dari skripsi tersebut.

Malang, Januari 2018 Yang membuat pernyataan

Saputri Arifsa Chaq NIM. 135120301111071

(5)

[email protected] [email protected]

Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya, Malang

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran academic self efficacy terhadap decisional procrastination pada mahasiswa yang sedang menyusun skripsi di FISIP UB. Penelitian ini melibatkan 120 mahasiswa. Teknik pengambilan sampel yang dilakukan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini yaitu skala academic self efficacy yang disusun sendiri oleh peneliti berdasarkan dari teori Bandura (1977) dan skala decisional procrastination yang diadaptasi dan dialih bahasakan kedalam bahasa Indonesia dari teori Mann (1997). Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan regresi sederhana. Hasil analisis menunjukkan nilai signifikansi adalah 0,000 (< 0,05) dengan demikian hasil analisis berdasarkan penelitian tersebut dapat dikatakan signifikan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa academic self efficacy memiliki pengaruh yang signifikan terhadap decisional procrastination pada mahasiswa FISIP UB yang sedang menyusun skripsi.

Kata Kunci: Academic Self Efficacy, Decisional procrastination, Mahasiswa

(6)

[email protected] [email protected]

Department Psychology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Brawijaya

ABSTRACT

The purpose of the study was to determine how dimensions of academic self efficacy against decisional procrastination on students who were preparing a thesis in FISIP UB. Sample of the study is 120 college student. Sampling technique used with the purposive sampling. The measuring tools used in this study were academic self efficacy scales that were self composed by researchers based on Bandura theory (1977) and the decisional scales of procrastination that were adapted and translated into indonesian from Mann’s theory (1997). The data obtained, were processed using simple regression analysis. From the analysis shown that the value 0,000 (< 0,05) was significant. The result from this study, it could be concluded that academic self efficacy had a significant influence on decisional procrastination on FISIP UB students who are preparing thesis.

Keywords : Academic Self Efficacy, Decisional procrastination, Collage Student

(7)

“Peran Academic Self Efficacy Terhadap Decisional Procrastination pada Mahasiswa yang Sedang Menyusun Skripsi di FISIP Universitas Brawijaya Malang”. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini penulis tidak bekerja sendiri. Begitu banyak pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan laporan ini. Pada kesempatan ini, penulis menyempaikan penghargaan dan ucapan terimakasih kepada pihak- pihak yang telah membantu, antara lain:

1. Kedua orang tua tercinta, bapak dan ibu yang tiada hentinya memberikan semangat, motivasi, serta doa bagi penulis sehingga terselesaikan skripsi ini dengan baik.

2. Bapak Prof. Dr. Unti Ludigdo, Ak, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Malang.

3. Ibu Cleoputri Al Yusainy, S.Psi., M.Psi., Ph.D. selaku ketua Program Studi Psikologi Universitas Brawijaya Malang.

4. Ibu Thoyyibatus Sarirah, S.Psi., M.Si, selaku dosen pembimbing skripsi, yang dengan sabar membimbing penulis serta meluangkan banyak waktu untuk membimbing dan memberika banyak arahan serta masukan selama proses penyusunan laporan skripsi.

(8)

penyusunan laporan skripsi ini.

6. Pebrianti Ramadani, teman seperjuangan dalam penelitian , yang selalu sabar, setia menemani, dan memberikan semangat disaat mulai putus asa.

7. Anggun Miftahul Ula dan Cicik Nur Arida yang selalu sabar mengajari peneliti ketika peneliti membutuhkan bantuan.

8. Nurul Karina, Didin Pratiwi, Salsabila Liris Wahyudi, Nadia Muslimah, Melinda Puspita , Novency Habtuti teman dan sahabat yang selalu memberikan semangat penulis ketika mulai down.

9. Seluruh responden penelitian yang telah bersedia meluangkan waktunya.

10. Serta seluruh teman- teman psikologi yang ikut membantu dalam proses penyusunan skripsi.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan yang ada pada skripsi ini, oleh karena itu penulis mengharap kritik dan saran untuk perbaikan dikemudian hari. Semoga bermanfaat untuk pembaca sebagai bahan acuan.

Malang, Januari 2018

Saputri Arifsa Chaq

(9)

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR BAGAN ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

ABSTRAK ... x

ABSTRACT ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 7

1.3 Tujuan Penelitian ... 7

1.4 Manfaat Penelitian ... 8

1.4.1 Secara Teoritis ... 8

1.4.2 Secara Praktis ... 8

1.5 Penelitian Terdahulu ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 13

2.1 Academic Self Efficacy ... 13

2.1.1 Pengertian Academic Self Efficacy... 13

2.1.2 Dimensi Academic Self Efficacy ... 15

2.2 Decisional procrastination ... 16

2.2.1 Pengertian Decisional procrastination ... 16

2.2.2 Bentuk Decisional procrastination ... 18

2.2.3 Faktor yang Mempengaruhi Decisional procrastination ... 20

2.2.4 Mahasiswa Yang Menyusun Skripsi ... 20

(10)

BAB III METODE PENELITIAN ... 28

3.1 Desain Penelitian ... 28

3.2 Identifikasi Variabel ... 28

3.2.1 Variabel Bebas (X) ... 28

3.2.2 Variabel Terkait (Y) ... 28

3.3 Devinisi Operasional ... 28

3.3.1 Academic Self Efficacy ... 28

3.3.2 Decisional procrastination ... 29

3.4 Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling ... 30

3.4.1 Populasi ... 30

3.4.2 Sampel ... 31

3.4.3 Teknik Sampling ... 31

3.5 Tahapan Pelaksanaan Penelitian ... 31

3.5.1 Tahap Persiapan ... 31

3.5.2 Tahap Pelaksanaan ... 32

3.5.3 Tahap Penganalisisan Data ... 33

3.6 Instrumen Penelitian ... 34

3.6.1 Skala Academic Self efficacy ... 34

3.6.2 Skala Decisional procrastination ... 35

3.7 Pengujian Alat Ukur ... 36

3.7.1 Uji Validitas ... 36

3.7.2 Analisis Aitem... 37

3.7.2.1 Blueprint Skala Academic Self Efficacy ... 37

3.7.2.2 Blueprint Skala Decisional procrastination ... 38

3.7.3 Reliabilitas ... 39

3.8 Analisis Data ... 39

(11)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 41

4.1 Hasil Penelitian ... 41

4.1.1 Gambaran Umum ... 41

4.1.2 Deskripsi Data Penelitian ... 42

4.1.3 Uji Asumsi ... 45

4.1.3.1 Uji Normalitas ... 45

4.1.3.2 Uji Linearitas ... 46

4.1.3.3 Uji Heteroskedastisitas... 46

4.1.3.4 Uji Hipotesis ... 47

4.2 Pembahasan Hasil... 48

4.3 Keterbatasan Penelitian ... 51

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 52

5.1 Kesimpulan ... 52

5.2 Saran ... 52

DAFTAR PUSTAKA ... 53

(12)

Tabel 3 Skor Instrumen ... 34

Tabel 4 Blueprint Skala Academic Self Efficacy ... 34

Tabel 5 Blueprint Skala Decisional procrastination ... 35

Tabel 6 Blueprint Skala Academic Self Efficacy Setelah Uji Coba ... 37

Tabel 7 Blueprint Skala Academic Self Efficacy Setelah Aitem Gugur dihapus ... 38

Tabel 8 Blueprint Skala Decisional procrastination Setelah Uji Coba ... 38

Tabel 9 Skala Decisional procrastinationSetelah Aitem Gugur dihapus ... 38

Tabel 10 Reliabilitas Skala ... 39

Tabel 11 Data Demografis Responden Penelitian ... 41

Tabel 12 Persamaan Skor Hipotetik ... 43

Tabel 13 Skor Hipotetik dan Empirik Skala Academic Self efficacy dan Decisional procrastinationpada Tiap Variabel ... 43

Tabel 14 Kategori Variabel ... 44

Tabel 15 Kategorisasi Variabel Academic Self Efficacy dan Decisional Procarastination ... 45

(13)
(14)
(15)

1

Perguruan tinggi merupakan lembaga pendidikan tingkat akhir yang memberikan pengetahuan akademik bagi mahasiswa. Melalui perguruan tinggi para mahasiswa belajar berbagai macam hal, untuk mencapai keterampilan, kecakapan, dan pengetahuan baru (Chairiyati, 2013). Menyelesaikan pendidikan tinggi merupakan harapan bagi tiap mahasiswa. Untuk meraih jenjang sarjana, mahasiswa harus menyelesaikan tugas- tugas dan menulis skripsi sebagai prasyarat kelulusan dari sebuah Universitas (Hapsari, 2016).

Skripsi merupakan karya ilmiah yang wajib ditulis oleh mahasiswa sebagai bagian dari persyaratan akademis untuk mendapatkan gelar sarjana pada jenjang pendidikan S1 (Kamus Besar Bahasa Indonesia Online). Kegiatan penyusunan skripsi dilakukan dengan melalui penelitian, baik penelitian lapangan maupun penelitian laboratorium. Sebelum mengerjakan skripsi mahasiswa menerima perkuliahan di Universitas selama kurang lebih tujuh semester untuk bekal menyusun penelitian skripsi, dan umumnya pengerjaan skripsi mahasiswa diberikan jangka waktu minimal satu semester atau enam bulan (Pedoman Pendidikan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 2013/2014). Sehingga, mahasiswa diharapkan dapat segera mengerjakan skripsi dan lulus tepat waktu.

(16)

2

Pada kenyataannya banyak mahasiswa yang mengerjakan skripsi lebih dari batas waktu yang telah ditentukan oleh perguruan tinggi. Adanya kecenderungan untuk tidak segera memulai ketika menghadapi suatu tugas merupakan indikasi dari perilaku menunda dalam penyelesaian tugas (Zusya, 2016). Siaputra mengatakan penundaan dapat disebabkan beberapa hal, diantaranya adalah sikap kurang disiplin mahasiswa (tidak mengikuti atau terlambat bimbingan skripsi sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan), dosen pembimbing yang sulit ditemui, tidak mendapatkan persetujuan dari dosen pembimbing, sulit mencari literatur terkait dengan sekripsi (Zusya, 2016). Individu yang tidak dapat mengambil keputusan, sehingga melakukan penundaan disebut dengan decisional procrastination.

Menurut Jennis dan Mann (Zeisler, 2011) decisional procrastination merupakan pola maladaptive dalam menunda keputusan ketika dihadapkan dengan konflik dan pilihan. Bentuk procrastination ini merupakan sebuah penghambat kognitif dalam menunda untuk mulai melakukan suatu pekerjaan dalam menghadapi situasi yang dipersepsikan penuh stress (Kristanto & Abraham, 2016).

Seseorang dengan decisional procrastination yang tinggi cenderung akan membutuhkan waktu lebih lama dalam mencari

(17)

3

informasi untuk membuat keputusan, terutama ketika dihadapkan pada banyaknya alternatif pilihan yang kemudian menjadi pertimbangan.

Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Bruno dan Yuen memperlihatkan sekitar 70% mahasiswa mengalami penundaan, perilaku ini bahkan telah dianggap sebagai kebiasaan dalam kehidupan mahasiswa (Ramadhani, 2016).

Hal ini sejalan dengan data yang diperoleh dari Pusat Informasi, Dokumentasi, dan Keluhan Universitas Brawijaya tercatat dari 15 Fakultas yang ada di UB, FISIP merupakan Fakultas yang memiliki jumlah terbanyak mahasiswa yang belum lulus dari angkatan 2010- 2013 yaitu sekitar kurang lebih 1.895 mahasiswa. Hal ini juga diperkuat dengan artikel yang dimuat di Radar Malang bahwa sebanyak 157 mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya terancam drop-out (DO) jika tidak lulus pada tahun ajaran 2017/2018. Menurut artikel yang dimuat di Radar Malang Dekan FISIP UB, Bapak Unti Ludigdo juga menyampaikan faktor penyebabnya adalah banyaknya mahasiswa FISIP yang bekerja dan faktor yang lain adalah faktor akademik. Mahasiswa yang bekerja cenderung melakukan penundaan, sehingga sulit untuk mengatur waktu yang ada antara bekerja dengan mengerjakan tugas akhir (Ramadhani, 2016). Hal ini juga di sampaikan oleh (Zusya, 2016) dalam penelitiannya bahwa pada tiap tahunnya terdapat lebih dari 50%

mahasiswa yang lulus tidak tepat waktu di Fakultas Psikologi

(18)

4

Universitas YARSI (Zusya, 2016). Berdasarkan data tersebut, dapat dikatakan adanya penundaan yang dilakukan oleh mahasiswa FISIP dalam menyelesaikan skripsi, sehingga memperlambat mahasiswa tersebut untuk lulus tepat pada waktunya.

Hal ini diperkuat oleh penelitian (Tatan, 2012)yang menjelaskan bahwa faktor yang menyebabkan terjadinya penundaan mahasiswa dalam mengerjakan skripsi atau tugas akhir yaitu pemahaman mahasiswa mengenai skripsinya, peranan buku panduan skripsi, kecemasan, penguasaan statistik, layanan bimbingan, intensitas bimbingan. Hambatan- hambatan yang dirasakan ketika penyusunan skripsi ini membuat mereka menjadi malas untuk mengerjakan skripsi dan cenderung melakukan procrastination (Srantih, 2014)

Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Zusya, 2016) terkait procrastination pada mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi, memperlihatkan bahwa partisipan dalam penelitian ini umumnya membutuhkan waktu 6-10 bulan dalam menyelesaikan skripsi, dengan hambatan yang paling dirasakan mahasiswa adalah sulitnya mencari literatur terkait dengan skripsinya. Sebagian besar partisipan penelitiannya menyatakan bahwa mereka memiliki orang terdekat yang juga mengalami keterlambatan dalam menyelesaikan skripsi. Selama proses menyelesaikan skripsi, sebagian besar mahasiswa tidak memiliki kegiatan lain yang dilakukan selain menyelesaikan skripsi

(19)

5

(Zusya, 2016). Salah satu faktor seseorang melakukan procrastination adalah self efficacy (Zusya,2016)

Bandura (1977) mendefinisikan self efficacy merupakan keyakinan seorang individu tentang kemampuannya untuk mengatur dan melakukan tindakan yang diperlukan untuk menghasilkan pencapaian tertentu. Menurut Nugraheni (2016) self efficacy dalam konteks akademik dapat disebut juga academic self efficacy. Academic self efficacy merupakan keyakinan mahasiswa terhadap kemampuan mereka dalam melaksanakan tugas- tugas akademik seperti mempersiapkan diri untuk ujian dan menyusun makalah (Zusya, 2016).

Semakin seseorang merasa yakin terhadap kemampuan yang dimilikinya, maka semakin besar usaha yang dilakukannya dan semakin aktif karena dirinya yakin kemampuannya itu dapat membantu dalam mengerjakan suatu tugas menghadapi hambatan atau rintangan untuk mencapai prestasi akademik yang tinggi (Chairiyati, 2013) .

Mahasiswa yang memiliki academic self efficacy yang tinggi cenderung memilih kegiatan menantang, terus berusaha keras, dan tetap bertahan dalam usahanya walaupun mengalami hal yang tidak menyenangkan (Nugraheni, 2016). Shankland (Arlinkasari, 2017) menemukan bahwa mahasiswa yang memiliki self efficacy yang tinggi akan mampu mengatasi berbagai tuntutan sebagai mahasiswa diperguruan tinggi. Sebaliknya mahasiswa yang memiliki academic

(20)

6

self efficacy yang rendah akan mudah menyerah saat menghadapi kesulitan- kesulitan dalam menghadapi tugas kuliah.

Menurut (Bandura, 1977), self efficacy memiliki tiga dimensi diantaranya yang pertama dimensi tingkat dimana dimensi ini berkaitan dengan derajat kesulitan tugas ketika individu merasa mampu untuk melakukannya, kedua dimensi kekuatan merupakan keyakinanyang dimiliki individu pada kemampuan yang dimilikinya untuk menyelesaikan tugasnya dengan berfikir secara positif dan berusaha dalam menyelesaikan tugas, ketiga dimensi generalisasi merupakan luasnya cakupan tingkah laku individu bahwa ia yakin pada kemampuan yang dimilikinya, tetapi tergantung pada pemahaman kemampuannya. Self efficacy memiliki peranan yang sangat penting dalam dinamika kemunculan procrastination. Adanya keyakinan dalam diri seorang individu serta harapan keberhasilan yang tinggi membuat seseorang memiliki keinginan yang tinggi untuk mencapai suatu tujuan, maka semakin rendah kecenderungan seorang individu dalam melakukan procrastination begitupun sebaliknya. (Zusya, 2016).

Penelitian yang membahas mengenai hubungan antara self efficacy dan procrastination sudah banyak dilakukan. Penelitian yang dilakukan dan (Julianda, 2012) menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang negatif antara self efficacy dengan academic procrastination pada mahasiswa. Hal ini berarti, semakin tinggi self

(21)

7

efficacy seseorang maka semakin rendah kecenderungan mereka dalam melakukan procrastination.

Dari uraian diatas peneliti ingin melihat Peran Decisional procrastination Terhadap Academic Self Efficacy Pada Mahasiswa Yang Mengerjakan Skripsi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Malang.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan masalah yang telah diuraikan diatas maka rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah “Apakah terdapat peran academic self efficacy terhadap decisional procrastination pada mahasiswa yang mengerjakan skripsi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Malang?”

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat peran academic self efficacy terhadap decisional procrastination pada mahasiswa yang mengerjakan skripsi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Braijaya Malang.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Secara Teoritis

Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi dan memperkaya pengetahuan psikologi khususnya mengenai peran academic self efficacy terhadap decisional

(22)

8

procrastination pada mahasiswa yang mengerjakan skripsi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Braijaya Malang.

1.4.2 Secara Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa supaya dapat dijadikan sebagai pertimbangan dalam menyikapi permasalahan terkait peran academic self efficacy terhadap decisional procrastination.

1.5 Penelitian Terdahulu

Beberapa penelitian terdahulu terkait dengan variabel academic self efficacy dan decisional procrastination sebagai berikut :

1. Hubungan Self Efficacy Akademik Dengan Prokrastinasi Akademik Pada Mahasiswa Yang Sedang Mengerjakan Skripsi (Jurnal Ilmiah Psikologi Universitas YARSI Jakarta, Vol. 3, No. 2, 2016) Oleh ZusyaAnnisa Rosni dan Sari Zakiah Akmal.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk melihat hubungan self efficacy akademik dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. Responden pada penelitian ini adalah 210 mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini Academic Procrastination Scale dan academic self efficacy. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan

(23)

9

yang signifikan antara self efficacy akademik dan prokrastinasi akademik pada mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi.

2. Relationship between Self Efficacy, Self Esteem and Procrastination in Undergraduate Psychology Students (Iranian Journal of Psychiatry and Behavioral Sciences, Vol. 8(3):42-49, 2014) Oleh Hajloo Nader

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meninjau kembali hubungan antara penundaan dan dua self factors, self efficacy dan self esteem. Responden dalam penelitian ini berjumlah 140 mahasiswa sarjana psikologi yang terdaftar di Universitas Arjaan Mohagheg, Ardabil, Iran. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengumpulkan data yang dikumpulkan adalah versi siswa dari General Procrastination Scale (GP-S), General Self Efficacy Scale (GSE) dan Rosanberg’s Self Esteem Scale (SES). Hasil dari penelitian ini adalah hubungan variabel procrastination dengan harga diri dan self efficacy terungkap dikalangan mahasiswa psikologi.

3. Academic Self Efficacy, Emotional Intelligence, GPA And Academic Procrastination In Higher Education ( Jurnal Ilmiah Sosial Tel- Hai Academic College, Israel, DOI:

(24)

10

10.117/0022219412439325, 2012) Oleh Merav Hen, PhD, and Marina Goroshit, PhD.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk mengeksplorasi dan memberikan pemahaman awal untuk hubungan antara kecerdasan emosional, prokrastinasi akademik, dan IPK, seperti dimensi oleh akademik self efficacy. Penelitian ini didasarkan pada sampel kenyamanan dimana terdapat 287 mahasiswa dari perguruan tinggi yang terletak di utara Israel. Instrumen yang digunakan didalam penelitian ini variabel kecerdasan emosional menggunakan The Schutte self Report Emotional Intelligence test (SSREIT) yang dikembangkan oleh Schutte dkk. (1998). Veriabel academic self efficacy menggunakan College Academic Self Efficacy Scale (CASES). Variabel prokrastinasi akademik skala ini dirancang untuk mahasiswa (Milgram dkk 1998). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa prokrastinasi akademik terkait erat dengan variabel motivasi seperti self efficacy dan pembelajaran mandiri, dan dengan tingkat yang lebih tinggi dari kecemasan, stres, dan penyakit.

4. The Relationship Between The Academic Procrastination And The Academic Self Efficacy For Academic Achievements In Female High School Students In Isfahan

(25)

11

In The 2013- 2014 Academic Year ( Journal Of Management Science. Vol, 1 (12), 385-390, 2015) Oleh Leila Roghani, Taghi Aghahosaini, Fazlollah Yazdani.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara prokrastinasi akademik dan academic self efficacy untuk prestasi akademik siswa SMA perempuan di isfahan tahun akademik 2013- 2014. Responden dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA perempuan di Isfahan tahun akademik 2013- 2014. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini The Procrastination Assessment Student Version Scale (PASS).

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa self efficacy dan prokrastinasi akademik bisa menjelaskan perubahan yang terkait dengan prestasi akademik.

5. Hubungan Self Efficacy dan Prokrastinasi Akademik Mahasiswa Dalam Menyelesaikan Tugas Perkuliahan (Jurnal Bimbingan Konseling. ISSN 2460-4917) Oleh Damri, Engkizar, Faudy Anwar.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk melihat hubungan self efficacydan prokrastinasi akademik mahasiswa dalam menyelesaikan tugas perkuliahan. Responden dalam penelitian ini adalah 231 mahasiswa. Instrumen yang digunakan dalam

(26)

12

penelitian ini adalah instrumen self efficacy dan prokrastinasi akademik. Hasil dari penelitian ini menunjkkan bahwa secara keselurhan self efficacy mahasiswa berada pada kategori tinggi, sedangkan prokrastinasi akademik berada pada kategori sedang.

Analisis correlation product moment pearson menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara self efficacy dengan prokrastikasi akademik.

(27)

1

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Academic Self Efficacy

2.1.1 Pengertian Academic Self Efficacy

Self efficacy didefinisikan sebagai kepercayaan seseorang tentang kemampuan mereka untuk menghasilkan tingkat kinerja yang ditunjuk mempengaruhi aktivitas kejadian- kejadian yang mempengaruhi kehidupan mereka (Bandura, 1994). Bandura percaya bahwa faktor terpenting dalam belajar adalah self efficacy (Hapsari, 2016). Menurut Nugraheni (2016) self efficacy dalam konteks akademik dapat disebut juga academic self efficacy.

Academic self efficacy merupakan keyakinan mahasiswa terhadap kemampuan mereka dalam melaksanakan tugas- tugas akademik seperti mempersiapkan diri untuk ujian dan menyusun makalah (Zusya, 2016).

Semakin seseorang merasa yakin terhadap kemampuan yang dimilikinya, maka semakin besar usaha yang dilakukannya dan semakin aktif karena dirinya yakin kemampuannya itu dapat membantu dalam mengerjakan suatu tugas menghadapi hambatan atau rintangan untuk mencapai prestasi akademik yang tinggi (Chairiyati, 2013) .

Mahasiswa yang memiliki academic self efficacy yang tinggi cenderung memilih kegiatan menantang, terus berusaha keras, dan tetap bertahan dalam usahanya walaupun mengalami hal yang tidak menyenangkan (Nugraheni, 2016). Shankland (Arlinkasari, 2017) menemukan bahwa mahasiswa yang memiliki self efficacy yang tinggi akan mampu mengatasi berbagai tuntutan sebagai mahasiswa diperguruan tinggi. Sebaliknya

(28)

tugas kuliah.

Zimmerman (2000) mendukung pernyataan Bandura (1986), yaitu acadeic self efficacy dapat memprediksi pilihan aktivitas, tingkat usaha, seberapa lama bertahan dalam usahanya, dan reaksi emosi (Nugraheni, 2016).

Academic self efficacy mengacu pada persepsi siswa tentang kompetensi mereka untuk mengerjakan pekerjaan kelas mereka (Sharma, 2014). Seperti yang digariskan oleh Bandura (1993) bahwa siswa dengan academic self efficacy yang tinggi cenderung melihat masalah sebagai tantangan yang harus dikuasai dari pada ancaman dan menetapkan tujuan untuk menghadapi tantangan, memiliki komitmen terhadap tujuan akademis yang mereka tetapkan, memiliki orientasi diagnostik tugas, yang memberikan umpan balik yang berguna untuk meningkatkan kinerja seseorang, dan bukan orientasi diagnostik mandiri, yang memperkuat harapan rendah siswa tentang apa yang dapat mereka capai, melihat kegagalan sabagai usaha atau pengetahuan yang tidak mencukupi, bukan sebagai kekurangan kemampuan, serta meningkatkan usaha mereka dalam kasus kegagalan untuk mencapai tujuan yang telah mereka tetapkan (Bandura, 1993).

2.1.2 Dimensi Academic Self efficacy

Terdapat tiga dimensi self efficacy menurut Bandura (1977) diantaranya adalah:

a. Dimensi tingkat (level)

Dimensi ini berkaitan dengan tingkat kesulitan tugas ketika individu merasa mampu melakukannya. Jika individu dihadapkan dengan

(29)

mencakup tugas yang paling sulit, sesuai dengan batasan yang dirasakan untuk memenuhi tuntutan perilaku yang dibutuhkan pada masing-masing tingkat. Dimensi ini berimplikasi pada perilaku seleksi yang akan dicoba atau dihindari. Individu akan mencoba perilaku yang dianggap mampu melakukan dan menghindari perilaku yang berada di luar batas yang dirasakan (Tuhardjo, 2016).

b. Dimensi Kekuatan (strength)

Dimensi ini berkaitan dengan tingkat kekuatan kepercayaan individu atau harapan tentang kemampuannya. Harapan orang lemah mudah terombang-ambing oleh pengalaman yang tidak mendukung.

Sebaliknya, harapan yang mantap mendorong individu bertahan dalam upayanya. Meski bisa ditemukan pengalaman kurang. Dimensi ini terkait langsung dengan dimensi tingkat, seperti semakin tinggi tingkat kesulitan tugas, semakin lemah kepercayaan yang dirasakan untuk menyelesaikannya (Tuhardjo, 2016).

c. Dimensi Generalisasi (generality)

Dimensi ini terkait dengan area perilaku yang luas dimana individu merasa percaya diri dengan kemampuannya. Terbatas pada situasi atau aktivitas tertentu dan dalam serangkaian aktivitas atau situasi yang bervariasi (Tuhardjo, 2016).

Dalam penelitian ini self efficacy dikaitkan dalam konteks akademik.

(30)

Decisional procrastination merupakan salah satu bentuk dari procrastination yaitu dysfunctional procrastination. Decisional pocrastination merupakan suatu penundaan dalam pengambilan keputusan. Bentuk procrastination ini merupakan sebuah penghambat kognitif dalam menunda untuk mulai melakukan suatu pekerjaan dalam menghadapi situasi yang dipersepsikan penuh stress (Kristanto & Abraham, 2016).

Janis dan Mann (Zeisler, 2011) mengatakan bahwa decisional procrastination merupakan salah satu tipe penghindaran, hal ini ditandai dengan tingginya konflik, kehilangkan harapan untuk solusi yang lebih baik, tidak memiliki target waktu, dan juga terkait dengan stres yang tinggi. Effert dan Ferarri (1989) juga mengatakan decisional procrastination berkaitan dengan kecepatan dan ketidaksabaran pada batas waktu tugas dan rendahnya daya saing pada tugas tersebut. Individu yang tinggi melakukan decisional procrastination membutuhkan waktu yang lebih lama dalam membuat keputusan saat memiliki banyak pilihan alternatif (Ferrari dan Dovidio, 2000).

Fakta bahwa decisional procrastination dapat mempengaruhi siapapun seperti pekerja, karyawan, siswa, hingga mahasiswa. Hammer dan Ferrari (2002) menemukan bahwa decisional procrastination lebih tinggi terjadi pada lulusan perguruan tinggi dibandingkan dengan lulusan SMA. Hal tersebut dikarenakan lulusan perguruan tinggi memiliki lebih banyak tanggung jawab dalam pekerjaan dan tekanan tingkat tinggi yang menyebabkan meningkatnya decisional procrastination.

(31)

menyelesaikan suatu tugas, kegagalan dalam mengevaluasi atau bahkan sebenarnya telah melupakan aspek fundamental karena kerapuhan, defisit dalam perolehan, retensi dan pengolahan informasi (Fabio, 2006). Decisional procrastination sendiri merupakan salah satu bentuk procrastination yang mengawali (anteseden) kognitif dalam menunda untuk memulai tugasnya.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa decisional procrastination adalah suatu penundaan dalam mengambil keputusan yang dilakukan secara sengaja untuk jangka waktu tertentu ketika dihadapkan pada pilihan dan konflik.

2.2.2 Bentuk Decision Making

Bentuk decisional procrastination berdasarkan pada teori decision making Janis & Mann tentang pengambilan keputusan, dimana decisional procrastination digunakan untuk mengukur perilaku menunda- nunda dalam pengambilan keputusan (Mann, dkk, 1997). Berikut adalah bentuk dari decision making dalam mengatasi konflik pengambilan keputusan:

a. Vigilance

Pengambilan keputusan yang efektif, mencari informasi secara menyeluruh, mempertimbangkan tujuan yang ingin dicapai dari alternatif pilihan yang membutuhkan solusi, merencanakan strategi untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai dengan mengevaluasi resiko dan alternatif pilihan.

b. Hypervigilance

(32)

tergesa- gesa dan spontan dalam menemukan solusi.

c. Procrastination

Pengambilan keputusan dengan melakukan penundaan secara sengaja dan berulang-ulang dengan melakukan aktivitas yang lain yang tidak diperlukan dalam mengambil keputusan.

d. Buck- passing

Pengambilan keputusan untuk menentukan solusi yang baik agar terhindar dari konflik dengan memberikan tanggung jawab atau keputusan kepada orang lain. adanya keraguan dalam pengambilan keputusan.

Berdasarkan defisnisi dari bentuk- bentuk decisional making diatas, peneliti menggunakan salah satu bentuk decisional making yang berhubungan dengan perilaku menunda dalam pengambilan keputusan yaitu, procrastination sebagai landasan utama untuk menyusun instrumen penelitian yang akan digunakan, dimana peneliti mengadaptasai dari skala Mann, dkk (1997) yaitu The Melbourne Decision Making Questionnaire berdasarkan teori Jenis & Mann (1997) yaitu decision making.

2.2.3 Faktor yang Mempengaruhi Decisional procrastination

Jannis dan mann (Mann, Barnet, dkk, 1997) mengatakan stress yang disebabkan karena adanya konflik dalam membuat keputusan merupakan faktor utama kegagalan dalam mencapai pengambilan keputusan yang berkualitas tinggi. Faktor- faktor demografis seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, jenis pekerjaan, dan status perkawinan dapat mempengaruhi

(33)

2.3 Mahasiswa yang Mengerjakan Skripsi

Mahasiswa merupakan peserta didik yang terdaftar dan belajar pada perguruan tinggi (Ramadhani, 2016) dan Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Skripsi merupakan karya ilmiah yang wajib ditulis oleh mahasiswa sebagai bagian dari persyaratan akademis untuk mendapatkan gelar sarjana pada jenjang pendidikan S1 (Kamus Besar Bahasa Indonesia Online).

Mahasiswa yang mengerjakan skripsi merupakan individu yang yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi yang sedang mengerjakan suatu tugas ilmiah yang wajib ditulis oleh mahasiswa sebagai bagian dari persyaratan akademis untuk mendapatkan gelar sarjana.

2.4 Peran Academic Self Efficacy Terhadap Decisional procrastination pada Mahasiswa yang Sedang Menyusun Skripsi.

Dalam kehidupan manusia banyak masalah yang akan terjadi, baik masalah yang simpel maupun yang kompleks. salah satu masalah adalah decisional procrastination yang merupakan suatu penundaan dalam mengambil keputusan. Bentuk procrastination ini merupakan sebuah penghambat kognitif dalam menunda untuk mulai melakukan suatu pekerjaan dalam menghadapi situasi yang dipersepsikan penuh stress (Kristanto, 2016).

Beberapa hal yang menyebabkan seseorang melakukan procrastination diantaranya kurangnya sikap disiplin mahasiswa (tidak mengikuti atau terlambat bimbingan skripsi sesuai jadwal yang telah ditentukan), dosen pembimbing yang sulit ditemui, tidak mendapatkan persetujuan dari dosen pembimbing (misalnya,

(34)

Salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang melakukan procrastination adalah self efficacy (Zusya, 2016). Menurut Nugraheni (2016) Self Efficacy dalam konteks akademik disebut dengan academic self efficacy.

Academic self efficacy merupakan keyakinan mahasiswa terhadap kemampuan mereka dalam melaksanakan tugas- tugas akademik seperti mempersiapkan diri untuk ujian dan menyusun makalah (Zusya, 2016). Semakin seseorang merasa yakin terhadap kemampuan yang dimilikinya, maka semakin besar usaha yang dilakukannya dan semakin aktif karena dirinya yakin kemampuannya itu dapat membantu dalam mengerjakan suatu tugas menghadapi hambatan atau rintangan untuk mencapai prestasi akademik yang tinggi (Khotimah, 2016) .

Mahasiswa yang memiliki academic self efficacy yang tinggi cenderung memilih kegiatan menantang, terus berusaha keras, dan tetap bertahan dalam usahanya walaupun mengalami hal yang tidak menyenangkan (Nugraheni, 2016).

Shankland (Arlinkasari, 2017) menemukan bahwa mahasiswa yang memiliki self efficacy selfyang tinggi akan mampu mengatasi berbagai tuntutan sebagai mahasiswa diperguruan tinggi. Sebaliknya mahasiswa yang memiliki academic self efficacy yang rendah akan mudah menyerah saat menghadapi kesulitan- kesulitan dalam menghadapi tugas kuliah.

Perilaku menunda- nunda atau menghindari tugas hingga membiarkannya hingga waktu yang akan datang serta memilih melakukan hal- hal lain yang kurang berprioritas ini disebut dengan procrastion (Zusya, 2016). Procrastination dibagi menjadi beberapa bentuk, salah satunya adalah decisional procrastination.

Decisional pocrastination merupakan suatu penundaan dalam pengambilan

(35)

situasi yang dipersepsikan penuh stress (Kristanto & Abraham, 2016).

Janis dan Mann (Zeisler, 2011) mengatakan bahwa decisional procrastination merupakan salah satu tipe penghindaran, hal ini ditandai dengan tingginya konflik, kehilangkan harapan untuk solusi yang lebih baik, tidak memiliki target waktu, dan juga terkait dengan stres yang tinggi. Effert dan Ferarri (1989) juga mengatakan decisional procrastination berkaitan dengan kecepatan dan ketidaksabaran pada batas waktu tugas dan rendahnya daya saing pada tugas tersebut. Individu yang tinggi melakukan decisional procrastination membutuhkan waktu yang lebih lama dalam membuat keputusan saat memiliki banyak pilihan alternatif (Ferrari dan Dovidio, 2000).

2.5 Kerangka Pemikiran Bagan 1

Kerangka Pemikiran Variabel Academic Self Efficacy dan Variabel Decisional procrastination

Skripsi merupakan karya ilmiah yang wajib ditulis oleh mahasiswa sebagai bagian dari persyaratan akademis untuk mendapatkan gelar sarjana pada jenjang pendidikan S1 (Kamus Besar Bahasa Indonesia Online). Skripsi pada umumnya diberikan jangka waktu pengerjaan satu semester, tetapi pada kenyataannya banyak mahasiswa yang mengerjakan skripsi lebih dari batas waktu yang telah ditentukan oleh perguruan tinggi. Adanya kecenderungan untuk tidak segera memulai ketika menghadapi suatu tugas merupakan indikasi dari perilaku menunda dalam penyelesaian tugas (Zusya, 2016).

Decisional procrastination Academic self

Efficacy

(36)

regulation (Zusya, 2016). Academic self efficacy merupakan keyakinan mahasiswa terhadap kemampuan mereka dalam melaksanakan tugas- tugas akademik seperti mempersiapkan diri untuk ujian dan menyusun makalah (Zusya, 2016). Semakin seseorang merasa yakin terhadap kemampuan yang dimilikinya, maka semakin besar usaha yang dilakukannya dan semakin aktif karena dirinya yakin kemampuannya itu dapat membantu dalam mengerjakan suatu tugas menghadapi hambatan/rintangan untuk mencapai prestasi akademik yang tinggi (Khotimah, 2016) .

Mahasiswa yang memiliki academic self efficacy yang tinggi cenderung memilih kegiatan menantang, terus berusaha keras, dan tetap bertahan dalam usahanya walaupun mengalami hal yang tidak menyenangkan (Nugraheni, 2016).

Shankland (Arlinkasari, 2017) menemukan bahwa mahasiswa yang memiliki self efficacy yang tinggi akan mampu mengatasi berbagai tuntutan sebagai mahasiswa diperguruan tinggi. Sebaliknya mahasiswa yang memiliki academic self efficacy yang rendah akan mudah menyerah saat menghadapi kesulitan- kesulitan dalam menghadapi tugas kuliah.

Perilaku menunda- nunda atau menghindari tugas hingga membiarkannya hingga waktu yang akan datang serta memilih melakukan hal- hal lain yang kurang berprioritas ini disebut dengan procrastination (Zusya, 2016).

Procrastination dibagi menjadi beberapa bentuk, salah satunya adalah decisional procrastination. Decisional pocrastination merupakan suatu penundaan dalam pengambilan keputusan. Bentuk procrastination ini merupakan sebuah penghambat kognitif dalam menunda untuk mulai melakukan suatu pekerjaan

(37)

Janis dan Mann (Zeisler, 2011) mengatakan bahwa decisional procrastination merupakan salah satu tipe penghindaran, hal ini ditandai dengan tingginya konflik, kehilangkan harapan untuk solusi yang lebih baik, tidak memiliki target waktu, dan juga terkait dengan stress yang tinggi. Effert dan Ferarri (1989) juga mengatakan decisional procrastination berkaitan dengan kecepatan dan ketidaksabaran pada batas waktu tugas dan rendahnya daya saing pada tugas tersebut. Individu yang tinggi melakukan decisional procrastination membutuhkan waktu yang lebih lama dalam membuat keputusan saat memiliki banyak pilihan alternatif (Ferrari dan Dovidio, 2000).

Terkait dengan kedua variabel yaitu academic self efficacy dan decisional procrastination, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terhadap mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. Sehingga peneliti mengambil judul “Peran Academic Self Efficacy Terhadap Decisional Procrastination pada Mahasiswa yang Mengerjakan Skripsi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Malang”.

2.6 Hipotesis

Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis yang dapat diajukan adalah sebagai berikut:

H0 : Tidak terdapat peran academic self efficacy terhadap Decisional procrastination pada mahasiswa yang sedang menyusun skripsi di FISIP Universitas Brawijaya Malang.

(38)

Universitas Brawijaya Malang.

(39)

1 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian korelasional. Dimana tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran academic self efficacy terhadap decisional procrastination pada mahasiswa yang menyusun skripsi.

3.2 Identifikasi Variabel Penelitian

Penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu, variabel independen dan variabel dependen. Variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

3.2.1 Variabel Bebas (X)

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah academic self efficacy.

3.2.2 Variabel Terkait (Y)

Variabel terkait dalam penelitian ini adalah decisional procrastination.

3.3 Definisi Operasional

3.3.1 Academic Self Efficacy

Academic Self Efficacy merupakan suatu kepercayaan yang dimiliki setiap individu atas kemampuannya atau kompetensi untuk

(40)

menghadapi serta memecahkan masalah yang berhubungan dengan akademik. Seseorang dengan academic self efficacy yang tinggi cenderung mampu untuk menyelesaikan tugas yang ia kerjakan hingga selesai. Begitupun sebaliknya seseorang dengan academic self efficacy yang rendah cenderung untuk mudah menyerah dalam mengerjakan tugas yang sedang ia kerjakan. Academic self efficacy diukur dengan mengacu pada teori self efficacy Bandura (1977) berdasarkan aspek-aspek sebagai berikut:

Tabel 1

Aspek- Aspek Academic Self Efficacy

Aspek Indikator

Tingkat/ level Kemampuan dalam menghadapi tingkat kesulitas menyelesaikan tugas berdasarkan pemilihan soal yang dihadapi.

Generality (Generalisasi)

Kemampuan atau keyakinan dalam menghadapi situasi tugas dan belajar berdasarkan kemampuannya.

Strength (Kekuatan)

Keyakinan individu atas kemampuannya untuk dapat berfikir dan berusaha saat menyelesaikan tugas yang sulit.

3.3.2 Decisional procrastination

Decisional procrastinasi merupakan suatu pola maladaptif dalam menunda keputusan ketika dihadapkan pada pilihan dan konflik. Individu dengan decisional procrastination yang tinggi cenderung membutuhkan waktu yang lebih lama dalam mengambil keputusan. Begitupula dengan individu dengan decisional procrastination yang rendah tidak membutuhkan waktu yang lama dalam mengambil keputusan. Decisional procrastination diukur

(41)

dengan mengacu pada teori Mann dkk, (1997) berdasarkan dimensi- dimensi sebagai berikut:

Tabel 2

Bentuk Decisional procrastination

Bentuk Indikator

Procrastination

Keterlambatan dalam mencapai keputusan dengan melakukan kegiatan yang lain, menunda dalam melaksanakan keputusan.

3.4 Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling 3.4.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini sebanyak 1.895 mahasiswa FISIP Universitas Brawijaya yang berstatus aktif dan sedang mengerjakan skripsi.

3.4.2 Sampel

Sampel dalam penelitian ditentukan dengan rumus slovin dengan error 10% dengan rumus sebagai berikut:

n = 𝑁

1+(𝑁𝑒2)

Keterangan:

n = Jumlah Sampel

N = Jumlah seluruh anggota populasi

e = Taraf signifikan atau toleransi error sebesar 10% dengan tingkat kepercayaan 90%

(42)

berdasarkan rumus tersebut sampel yang didapatkan minimal sebanyak 95 orang, akan tetapi pada penelitian ini peneliti mengambil sampel 120 mahasiswa FISIP yang sedang menyusun skripsi.

3.4.3 Teknik Sampling

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling, karena teknik untuk pengmbilan anggota sampel penelitian dengan beberapa pertimbangan tertentu yang bertujuan agar data yang diperoleh nantinya bisa lebih representatif (Sugiono, 2010).

Adapun kriteria khusus agar sampel yang diambil nantinya dapat memenuhi kriteria- kriteria yang mendukung atau sesuai dengan penelitian. Berikut kriterianya:

1. Mahasiswa FISIP UB

2. Mahasiswa yang sedang menyusun skripsi 3. Mahasiswa angkatan 2010- 2013

3.5 Tahapan Pelaksanaan Penelitian

Tahapan pelaksanaan penelitian terdiri dari tiga tahapan, diantaranya tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap penganalisaan data.

3.5.1 Tahap persiapan

a. Melaksanakan studi kepustakaan mengenai variabel yang telah ditentukan sebelumnya untk mendapatkan konsep teoritis.

b. Menentukan sampel dan desain penelitian yang akan digunakan dalam penelitian yang sesuai dengan topik penelitian.

(43)

c. Membuat alat ukur yang akan digunakan dalam pengambilan data. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini yaitu, menggunakan skala academic self efficacy dan skala decisional procrastination.

d. Melakukan uji coba alat ukur yang berfungsi untuk mengetahui tingkat keabsahan dan keandalan dari aitem- aitem yang ada.

e. Setelah dilakukan uji coba, peneliti melakukan revisi alat ukur yaitu dengan cara mempertahankan item yang lolos uji validitas dan reabilitas serta membuang aitem yang gugur dan tidak memenuhi kualifikasi. Selanjutnya peneliti menyusunya kedalam alat ukur yang digunakan untk pengambilan data.

3.5.2 Tahap Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan penelitian dilakukan dengan pengambilan data pada subjek penelitian, 120 subjek. Penelitin ini dilakukan pada mahasiswa sesuai dengan kriteria yang ditentukan peneliti yaitu mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi di FISIP Universitas Brawijaya Malang, dalam menyebarkan skala peneliti menggunakan cara online. Subjek mengisi skala dari link yang sudah dikirimkan peneliti.

3.5.3 Tahap Penganalisaan Data

a. Peneliti melakukan pengecekan kembali data yang telah terkumpul untuk mengetahui skala yang digunakan adalah skala yang sudah valid dan reliabel.

(44)

b. Peneliti melakukan uji coba pada 34 mahasiswa di FISIP Universitas Brawijaya pada mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi dengan jumlah subjek sebanyak mahasiswa. Peneliti memberikan skor pada jawaban yang telah diisi oleh subjek dalam alat ukur penelitian.

c. Peneliti memberikan skor pada jawaban yang telah diisi oleh subjek dalam alat ukur penelitian.

d. Peneliti mengecek, menghitung, dan membuat tabulasi data yang diperoleh sesuai dengan kebutuhan analis.

e. Analisis data dengan menggunakan perhitungan statistic untuk menguji hipotesis dengan menggunakan program SPSS (statistical Product and Service Solutions) version 22.0 for windows.

f. Pembahasan yaitu dengan menginterpretasi berdasarkan teori dan kerangka berpikir yang diajukan sebelumnya dan merumuskan kesimpulan hasil penelitian.

3.6 Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini ada dua yaitu skala academic self efficacy dan skala decisional procrastination.

Instrumen penelitian ini menggunakan skala likert yang item-itemnya berupa pernyataan favorable dan unfavorable dengan empat alternatif jawaban sebagai berikut:

(45)

Tabel 3

Skor Instrumen

Favorable Skor Unfavorable Skor Sangat Setuju (SS) 4 Sangat Tidak

Setuju (STS)

1

Setuju (S) 3 Tidak Setuju (TS) 2

Tidak Setuju (TS) 2 Setuju (S) 3

Sangat Tidak Setuju (STS) 1 Sangat Setuju (SS) 4 3.6.1 Skala Academic Self Efficcy

Alat ukur dari variabel academic self efficacy peneliti membut skala sendiri yang berlandaskan dari teori Bandura 1977. Yang telah dikoreksi oleh expert judgment. Dengan reliabilitas sebesar 0,911.

Berikutblueprint dari skala academic self efficacy:

Tabel 4

Blueprint Skala Academic Self Efficacy

Dimensi Indikator Nomor aitem Jum

fav Unfav lah Level/

(Tingkat)

Kemampuan dalam menghadapi tingkat kesulitan menyelesaikan tugas berdasarkan pemilihan soal yang dihadapi.

1,4, 7, 16,

18 10, 13 7

Generality (Generalisasi)

Kemampuan atau

keyakinan dalam menghadapi situasi tugas dan belajar berdasarkan

kemampuannya.

2, 5, 11 8, 14 5

Strength (Kekuatan)

Keyakinan individu atas kemampuannya untuk dapat berfikir positif dan berusaha saat menyelesikan tugas yang sulit.

3, 9, 15 6, 12,

17 6

Total

18

(46)

3.6.2 Skala Decisional Procrastination

Skala decisional procrastination dalam penelitian ini mengadaptasi dari skala Mann dkk, (1997) yaitu The Melbourne Decision-Making Questionnaire. Jumlah aitem sebanyak 5 dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,802 dan dialih bahasakan ke dalam bahasa indonesia. Berikut blueprint skala decisional procrastination:

Tabel 5

Blueprint Skala Decisional Procrastination

Dimensi Indikator Nomor Item Jum

lah fav Unfav Procrasti

nation

Keterlambatan dalam mencapai keputusan dengan melakukan kegiatan yang lain, menunda dalam melaksanakan keputusan

3, 7, 11, 15,

19

- 5

Total 5

3.7 Pengujian Alat Ukur

Sebelum dilakukannya penelitian, skala yang akan digunakan harus diuji coba terlebih dahulu kepada responden yang sesuai karakteristik yang sudah ditentukan oleh peneliti. Peneliti melakukan uji coba skala kepada mahasiswa FISIP yang sedang menyusun skripsi di UB sebanyak 34 mahasiswa.

3.7.1 Uji Validitas

Azwar (2013) menjelaskan bahwa validitas merupakan sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam menjalankan fungsinya. Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi (content validity). Validitas isi merupakan

(47)

validitas yang diuji kelayakannya melalui expert judgement dalam penelitian ini expert judgement yang dimaksud adalah penilaian dari dosen pembimbing dan dosen ahli dalam bidang penelitian tersebut. Penilaian expert judgement pada skala dalam penelitian ini yaitu terkait masalah kalimat dan kata- kata yang kurang tepat dari setiap indikator yang kemudian penulis perbaiki atau dihapus.

Validitas isi terbagi menjadi dua macam yaitu validitas tampang (face validity) dan validitas logis (logical validity).

Validitas tampang adalah penilaian kelayakan suatu alat ukur yang dilihat dari format penampilan dari aitem skala, sedangkan validitas logis merupakan sejauh mana alat ukur merepresentasikan aspek yang ingin diukur. Hasil yang diperoleh dari tanggapan subjek mengenai tampilan layout sebesar 52,5% memilih menarik, dalam hal ukran font sebesar 66,1% memilih jelas, dan pernyataan yang disampaikan sebesar 45,8% memilih jelas.

3.7.2 Analisis Aitem

koefisien korelasi aitem total yang digunakan dalam penelitian ini adalah 0,30. Aitem yang memiliki koefisien korelasi aitem > 0,30 maka aitem dapat diterima.

3.7.2.1 Blueprint Skala Academic Self Efficacy Tabel 6

Blueprint Skala Academic Self Efficacy Setelah Uji Coba

Dimensi Indikator Nomor aitem Jum

Fav Unfav lah Level/ Kemampuan dalam menghadapi 1,4, 7, 10, 13 7

(48)

Tabel 7

Blueprint Skala Academic Self Efficacy Setelah Aitem Gugur dihapus Magnitude

(Tingkat)

tingkat kesulitan menyelesaikan tugas berdasarkan pemilihan soal yang dihadapi.

16, 18

Generality (Generalisasi)

Kemampuan atau keyakinan dalam menghadapi situasi tugas dan

belajar berdasarkan

kemampuannya.

2, *5,

11 8, 14 5

Strength (Kekuatan)

Keyakinan individu atas kemampuannya untuk dapat berfikir positif dan berusaha saat menyelesikan tugas yang sulit.

3, 9, 15

6, 12,

17 6

Total

18

Dimensi Indikator Nomor aitem Jum

lah fav Unfav Level/

(Tingkat)

Kemampuan dalam menghadapi tingkat kesulitan menyelesaikan tugas berdasarkan pemilihan soal yang dihadapi.

1, 7

4, 10, 13, 15, 17

7

Generality (Generalisasi)

Kemampuan atau keyakinan dalam menghadapi situasi tugas dan belajar berdasarkan kemampuannya.

2, 8, 11 5 4

Strength (Kekuatan)

Keyakinan individu atas kemampuannya untuk dapat berfikir positif dan berusaha saat menyelesikan tugas yang sulit.

3, 6, 9, 12, 14,

16

6

Total

17 Keterangan : Bertanda (*) aitem gugur

(49)

3.7.2.2 Blueprint Decisional Procrastination Tabel 8

Blueprint Skala Decisional Procarastination Setelah Uji Coba

Dimensi Indikator Nomer aitem juml

ah Fav Unfav Procrastin

ation

Keterlambatan dalam mencapai keputusan dengan melakukan kegiatan yang lain, menunda dalam melaksanakan keputusan

3,7,11,15

,19 - 5

Total 5

Tabel 9

Skala Decisional procrastination Setelah Aitem Gugur Dihapus

Dimensi Indikator Nomer aitem Jum

lah Fav Unfav Procrastin

ation

Keterlambatan dalam mencapai keputusan dengan melakukan kegiatan yang lain, menunda dalam melaksanakan keputusan.

3,7,11,15

,19 - 5

Total 5

3.7.3 Reliabilitas

Azwar (2013) menjelaskan bahwa reliabilitas merupakan sejauh mana suatu proses pengukuran dapat dipercaya kebenaran hasilnya.Aitem dalam instrumen dikatakan reliabel apabila mendekati angka 1,00. Apabila aitem mendekati angka 0 maka reliabilitasnya dikatakan rendah. setelah dilakukan try out terhadap skala academic self efficacy dan skala decisional procrastination, didapatkan hasil bahwa kedua skala tersebut reliabel.

Tabel 10

Reliabilitas Skala

No. Skala Alpha

Cronbach

Keterangan 1. Academic Self Efficacy 0,911 Reliabel 2. Decisional

procrastination

0,802 Reliabel

Keterangan : Bertanda (*) aitem gugur

(50)

3.8 Analisis Data

3.8.1 Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah dalam model regresi variabel terkait dan variabel bebas memiliki distribusi normal atau mendekati normal. Penelitian ini menggunakan uji normalitas One Sample Kolmogrov Smirnov dengan menggunakan bantuan Software SPSS versi 22.0.

3.8.2 Uji Linearitas

Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah kedua variabel memiliki hubungan linier atau tidal. Uji linearitas dilakukan dengan menggunakan SPSS Versi 22. Dengan menggunakan test for linearity, dimana variabel dapat dikatakan memiliki hubungan linier apabila memiliki taraf signifikansi <0,05

3.8.3 Uji Heteroskadastisitas

Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot. Jika ada titik- titik yang membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit). Maka mengidentifikasikan telah terjadi heteroskadastisitas. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik- titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskadastisitas, dalam pengujiannya peneliti menggunakan software SPSS versi 22.

(51)

3.8.4 Uji Hipotesis

Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi sederhana, yaitu metode yang menganalisis kemampuan variabel independen dalam memprediksi variabel dependen, dalam pengujiannya peneliti menggunakan bantuan software SPSS versi 22.0.

(52)

1 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Gambaran Umum

Responden dalam penelitian ini adalah mahasiswa FISIP angkatan 2010- 2013 sebanyak 120 mahasiswa dari 6 jurusan yang ada di FISIP yakni Psikologi, Ilmu Politik, Ilmu Pemerintahan, Ilmu Komunikasi, Sosiologi, dan Hubungan Internasional. Berikut ini adalah penyajian data demografis penelitian:

Tabel 11

Data Demogrfis Responden Penelitian

No Kategori Macam kategori Jumlah

1. Usia 21

22 23 24 25

7 64 37 10 2

2. Angkatan 2010

2011 2012 2013

1 7 27 85 3. Jenis kelamin Laki- laki

Perempuan

71 49

4. Jurusan Psikologi

Ilmu politik Ilmu komunikasi

Sosiologi Hubngan internasional

Ilmu pemerintahan

48 15 25 16 9 7

5. IPK 2.00- 2.99

3.00- 3.99

11 109

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa jumlah subjek dari beberapa kategori. Pertama yaitu kategori usia, subjek terbanyak berada pada usia 22 tahun dengan jumlah 64 mahasiswa. Kedua

(53)

kategori angkatang , subjek terbanyak berada pada angkatan 2013 dengan jumlah 85 mahasiswa. Ketiga kategori jenis kelamin, subjek tebanyak berada pada jenis kelamin laki- laki dengan jumlah 71 mahasiswa. Keempat kategori jurusan, subjek terbanyak berada pada kategori psikologi dengan jumlah 48 mahasiswa. Kelima kategori IPK, subjek terbanyak berada pada kategori IPK 3.00- 3.99 dengan jumlah 109 mahasiswa.

4.1.2 Deskripsi Data Penelitian

dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua variabel yaitu variabel academis self efficacy sebagai variabel X dan variabel decisional procrastination sebagai variabel Y. Pada penelitian ini peneliti akan menguraikan data dari masing masing variabel secara hipotetik dan empirik. Skor yang dihitung meliputi nilai minimal, nilai maksimal, mean, dan standar deviasi. Perhitngan skor empirik dapat dilakukan dengan bantuan SPSS versi 22. Sedangkan Menurut Azwar (2012) untuk mencari skor hipotetik dapat diperoleh dengan rumus dibawah ini:

Tabel 12

Persamaan Skor Hipotetik

Statistik Persamaan

Nilai Minimum Hipotetik Skor aitem terendah x jumlah aitem

Nilai Maksimum Hipotetik Skor aitem tertinggi x jumlah aitem

Mean Hipotetik Jumlah aitem x mean dari skor aitem

Standar Deviasi Hipotetik Skor maksimum-skor minimum 6

(54)

Berikut adalah tabel skor hipotetik dan skor empirik dari skala academic self efficacy dan skala decisional procrastination:

Tabel 13

Skor Hipotetik dan Empirik Skala Academic Self Efficacy dan skala Decisional procrastination pada Tiap Variabel

Variabel N Data Hipotetik Data Empirik Mean Std.

Dev.

Nilai Mean Std.

Dev.

Nilai

Min Maks Min Max

Academic Self Efficacy

120 42,5 8,5 17 68 50,37 4,52

6 38

60 Decisional

procrastin ation

120 12,5 2,5 5 20 43,76 6,63

1 30

68 Skor hipotetik diperoleh dari perhitungan manual yang

berdasar pada skala yang telah disusun oleh peneliti. Berdasarkan tabel nilai hipotetik diketahui bahwa pada variabel academic self efficacy memiliki skor minium 17, skor maksimum 68, mean 42.5 dan standar deviasi 8.5. skor hipotetik pada variabel decisional procrastination memiliki skor minimum 5, skor maksimum 20, mean 12.5 dan standar deviasi 2.5.

Skor empirik diperoleh dengan perhitungan SPSS versi 22.

Skor empirik pada variabel academic self efficacy memiliki skor minimum 38, skor maksimum 60, mean 50.38, dan standar deviasi 4.526. skor empirik pada variabel decisional procrastination memiliki skor minimum 8, maksimum 20, mean 13.23, dan standar deviasi 2.329.

Setelah memperoleh hasil hipotetik dan empirik, selanjutnya akan dilakukan analisis deskriptif yang bertujuan untuk

(55)

menggolongkan subjek kedalam tiga kategori yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Berikut merupakan tabel kategorisasi variabel (Azwar, 2012) :

Tabel 14 Kategori Variabel

Rentang Skor Kategori

X < (µ -1σ) Rendah

(µ-1 σ)≤X<(µ+1σ) Sedang

X≥(µ+1σ) Tinggi

Keterangan:

X = skor responden µ = mean hipotetik

σ = standardeviasi hipotetik

Tahap selanjutnya adalah menentukan batasan minimal dan maksimal pada masing- masing kategori dari setiap variabel penelitian. Berikut merupakan hasil dari kategori subjek berdasarkan skala academic self efficacy dan skala decisional procrastination:

Tabel 15

Kategorisasi Variabel Academic Self Efficacy dan Decisional procrastination

Variabel Rentang Skor Kategori Jumlah Responden

Persentase Academic

Self Efficacy

X < 34 Rendah 0 0%

34 ≤ X < 51 Sedang 74 61,67%

51 ≤ X Tinggi 46 38,34%

Total 120

Decisional Procrastiati

on

X < 10 Rendah 4 3,34%

10 ≤ X < 15 Sedang 84 70%

15 ≤ X Tinggi 32 26,67%

Total 120

Berdasarkan tabel kategori vaiabel, dapat diketahui bahwa responden penelitian pada variabel academic self efficacy pada kategori rendah 0 mahasiswa dengan persentase 0%, kategori sedang

(56)

sebanyak 74 mahasiswa dengan persentase 61,67%, kategori tinggi sebanyak 46 mahasiswa dengan persentase 38,34%. Sedangkan pada variabel decisional procrastination yang termasuk dalam kategori rendah sebanyak 4 mahasiswa dengan persentase 3,34%, kategori sedang sebanyak 84 mahasiswa dengan persentase 70%, dan kategori tinggi sebanyak 32 mahasiswa dengan persentase 26,67%.

4.1.3 Uji Asumsi

4.1.3.1 Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah dalam model regresi variabel terkait dan variabel bebas keduanya memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Uji normalitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji One Sample Kolmogrov Smirnov. Data dikatakan terdistribusi normal dengan taraf signifikansi 0.079 (> 0.05).

4.1.3.2 Uji Linearitas

Uji linearitas dilakukan untuk melihat apakah kedua variabel memiliki hubungan yang linier atau tidak. Hasil uji linearitas menggunakan bantuan SPSS versi 22. Diketahui bahwa nilai signifikan pada liniarity sebesar 0,000 (p<0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa antara variabel academic self efficacy terhadap variabel decisional procrastination memiliki hubungan yang linier.

(57)

4.1.3.3 Uji Heterokadastisitas

Berdasarkan hasil uji heteroskedastisitas, didapatkan hasil bahwa pola titik- titik pada scatterplots menyebar diatas dan dibawah atau disekitar angka 0, dan pola titik tidak menunjukkan pola tertentu karena pola titik- titik menyebar secara acak. Berikut gambar scatterplot dari hasil uji Heteroskadastisitas:

Gambar 1 Scatterplot Hasil Uji Heteroskedastisitas

4.1.3.4 Uji Hipotesis

Berdasarkan hasil hipotesis menggunakan SPSS versi 22 dengan analisis Product Moment Pearson diperoleh koefisien determinasi (R2) sebesar 0,168 yang mengandung pengertian bahwa pengaruh variabel bebas (X) terhadap variabel terkait (Y) adalah sebesar 16,8% sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel yang lain yang tidak diteliti oleh peneliti. Hasil dari F hitung =

(58)

23,862 dengan tingkat signifikansi 0,000 < 0,05 dan Beta didapatkan nilai -0,410, maka H0 ditolak dan Ha diterima yang artinya terdapat peran negatif yang signifikan academic self efficacy terhadap decisional procrastination pada mahasiswa yang sedang menyusun skripsi di FISIP UB sehingga persamaan regresinya dapat ditulis Y=a+bX atau 23,864+(-211).

4.2 Pembahasan Hasil

Hasil analisis statistik dari penelitian ini menunjukkan taraf signifikansi p = 0.000 (p < 0.005) dan Beta didapatkan nilai -0,410 yang artinya terdapat peran negatif yang signifikan academic self efficacy terhadap decisional procrastination pada mahasiswa yang mengerjakan skripsi di FISIP UB. Artinya semakin tinggi academic self efficacy mahasiswa maka semakin rendah decisional procrastination mahasiswa. Sebaliknya, semakin rendah academic self efficacy mahasiswa maka semakin tinggi tingkat decisional procrastination pada mahasiswa.

Hal ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Damri, dkk (2017) dijelaskan bahwa self efficacy mahasiswa berada pada kategori tinggi yang artinya mahasiswa mempunyai tingkat keyakinan diri yang tinggi untuk mampu menyelesaikan tugas- tugas perkuliahan. Sedangkan untuk kategori prokrastinasi akademik mahasiswa hanya berada pada kategori sedang. Kategori sedang tersebut hanya bermakna bahwa sebagian besar mahasiswa masih

Gambar

Tabel 14 Kategori Variabel
Gambar 1 Scatterplot Hasil Uji Heteroskedastisitas

Referensi

Dokumen terkait

Keterangan : Membawa dokumen asli dan 1 (satu) set fotocopy dari data-data kualifikasi yang di input di dalam Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) pada alamat website LPSE

[r]

Demikian Pengumuman ini kami sampaikan, apabila ada peserta yang berkeberatan atas pengumuman ini dapat menyampaikan sanggahan atas penetapan pemenang kepada

[r]

Nilai Penaw aran Terkoreksi : Rp 1.921.575.000,00 (Satu M ilyar Sembilan Ratus Dua Puluh Satu Juta Lima Ratus Tujuh Puluh Lima Ribu Rupiah). Dem ikian Pengum um an Pemenang

[r]

[r]

Result of the research indicated that implementation of government service function especially in construction of road and educational and health infrastructure in district of City