METODELOGI PENELITIAN
D. Analisis Data:
Analisis data dilakukan untuk mendapatkan makna dari data yang telah dikumpulkan pada penelitian, analisis data dapat dilaksanakan berupa uji normalitas, homogenitas, beda rata-rata, nilai gain dan uji hipotesis.
1. Uji Normalitas
Tujuan dilakukannya uji normalitas adalah mengetahui apakah suatu variabel terdistribusi normal. Hal tersebut dilakukan karena dalam pandangan statistik sifat dan karakteristik populasi adalah terdistribusi secara normal. Data yang berdistribusi normal berarti memeliki sebaran data yang normal pula sehingga dengan profil sepertini maka data tersebut dianggap mewakili populasi. Kondisi data berdistribusi normal menjadi syarat untuk menguji hipotesis menggunakan statistik parametric, bial tidak berdistribusi normal maka menggunakan alaisi non parametric.
Normal atau tidaknya suatu variabel dilihat dari mean dan standar deviasi yang sama. Pada penelitian ini, uji normalitas menggunakan Test of Normality berdasarkan pada uji Kolmogorov-Smirnov.
Keterangan: X2 = koefisien
= frekuensi yang diperoleh
= frekuensi yang diperkirakan (teoretis)
Sumber: Arikunto, 2003: 220.
Kriteria untuk menentukan data yang telah dianalisis tersebut berdistribusi normal atau tidak, dengan α = 0,05 dapat dilihat pada tabel berikut:
Nilai Probabilitas (Asymp. Sig)
Keterangan Asymp. Sig > 0,05 Data Berdistribusi Normal Asymp. Sig < 0,05 Data Berdistribusi Tidak Normal
Sumber: Arikunto, 2003: 235.
Apabila uji Kolmogorov-Smirnov, tidak mencapai angka normalitas maka dilakukan uji Shapiro-Wilk, bila masih belum mencapai angka normal maka normalitas data dilakukan dengan melihat nilai kritis z (Skewness) dimana data dikatakan berdistribusi normal jika nilai Skewness di antara -1 dan +1 (Morgan, dalam Rokhman 1990: 4). Jika semua tes telah dilakukan dan angka normalitas belum dicapai maka analisis data menggunakan analisis non parametric.
2. Uji Homogenitas
Uji homogenitas dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa dua atau lebih kelompok data sampel berasal dari populasi yang memiliki variansi yang sama atau berasal dari populasi yang tidak jauh berbeda keragamannya. Selain itu uji homogenitas dilakukan untuk mendeteksi agar penyimpangan estimasi tidak terlalu besar, dan bisa atau tidaknya digabung untuk dianalisis lebih lanjut, maka homogenitas variansi kelompok-kelompok populasi dari mana sampel diambil, perlu diuji.
57
Pada penelitian ini uji homogenitas menggunakan Tes of Homogeneity of
Variance berdasarkan pada uji Levene Test, karena sampel diambil dari 2
kelompok data.
Keterangan: = koefien F
= varians kelompok 1 (besar) = varians kelompok 2 (kecil)
Penetapan data yang telah dianalisis bersifat homogen atau heterogen, maka ditetapkan kriteria sebagai berikut:
Nilai Probabilitas (Asymp. Sig)
Keterangan
Asymp. Sig ≥0,05 Variansi sample sama (homogen)
Asymp. Sig < 0,05 Variansi sample tidak sama sama (heterogen)
Sumber: Arikunto, 2003: 237.
3. Penentuan N-Gain
Untuk mengetahui perbedaan pemahaman konsep melalui pembelajaran dihitung berdasarkan skor gain yang ternormalisasi. Uji N-gain ini dilakukan untuk mengetahui sejauhmana peningkatan hasil belajar peserta didik antara sebelum dan sesudah pembelajaran. Perbedaan skor tes awal dan tes akhir (gain) diasumsikan efek dari treatment (Panggabean, 1996: 21).
Gain yang ternormalisasi dicari dengan menggunakan rumus g factor yang dikembangkan oleh Hake, R. R (Cheng, et al, 2004, dalam Wiyono, 2009:43), yaitu:
Keterangan: = koefien F
= skor tes akhir; = skor tes awal; = skor maksimum
= skor minimum
Penetapan Nilai Indeks N-gain, mengacu pada kriteria sebagai berikut Nilai Indeks N-gain Interpretasi
0,7 IG Tinggi
0,3 IG 0,7 Sedang
IG < 0,3 Rendah
Sumber: Arikunto, 2003: 240.
4. Uji Beda
Uji beda yang digunakan adalah uji t untuk melihat perbedaan skor sesudah perlakuan antara kelas eksperimen dengan model pembelajaran POE dan kelas kontrol dengan model pembeajaran Konvensional. Penelitian ini menggunakan sampel 35 orang siswa, dengan menggunakan pretest dan postest, sehingga uji t yang digunakan adalah uji t dua sampel berpasangan (paired sample
t test) untuk melihat perbedaan skor sebelum dan sesudah perlakuan, dan uji t dua
sampel independen (independent sample t test) untuk melihat perbedaan skor sesudah perlakuan antara kelas eksperimen dan kelas Kontrol;
Rumus yang digunakan pada uji t dua sampel berpasangan (paired sample
t test) adalah sebagai berikut;
̅ ̅
59
Keterangan: t = Koefisien t ̅ = Mean sampel 1 ̅ = Mean sampel 2
∑ = Jumlah kuadrat deviasi N = Jumlah sampel
(Arikunto, 2010: 349; Riyanto, 1996: 85).
Sedangkan rumus uji t dua sampel independen (independent sample t test) adalah sebagai berikut;
̅ ̅
√[∑ ∑ ]
Keterangan : t = Koefisien t
̅ = Mean masing-masing sampel
n = Jumlah kasus pada tiap sampe/ banyaknya objek
∑ X2
= Jumlah deviasi pangkat dua (Arikunto, 2010: 354; Riyanto, 1996: 85).
Hipotesis statistik yang berlaku pada uji t dua sampel berpasangan (paired
sample t test) adalah Ho : µ = 0 tidak terdapat hubungan dan Ha : µ ≠ 0 terdapat
hubungan. Pada pelaksanaannya pengolahan data menggunakan alat bantu statistik SPSS 17. Dari seluruh hasil keluaran, perhatikan tabel Test Statistics. Dengan melihat nilai Asymp. Sig. (2-tailed) dapat ditentukan apakah terdapat perbedaan perolehan nilai Pretest dan Posttest setelah diterapkan metode pembelajaran POE. Untuk menentukan ada tidaknya perbedaan, maka perlu diperhatikan kriteria berikut:
1) Jika Asymp. Sig < 0.05, maka terdapat perbedaan yang nyata antara nilai
Pretest dengan Posttest.
5. Pengujian Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian pada bab 1. Hipotesis pada penelitian ini adalah sebagai berikut.
a. Hipotesis 1
Ho1 : Tidak terdapat perbedaan pre test dan post test dalam pemahaman konsep pada kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran POE
Ha1 : Terdapat perbedaan pre test dan post test dalam pemahaman konsep pada kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran POE b. Hipotesis 2
Ho2 : Tidak terdapat perbedaan pre test dan post test dalam pemahaman konsep pada kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional
Ha2 : Terdapat perbedaan pre test dan post test dalam pemahaman konsep pada kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional
c. Hipotesis 3
Ho3 Tidak terdapat perbedaan pemahaman konsep pada kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran POE dengan kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional
Ha3 Terdapat perbedaan pemahaman konsep pada kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran POE dengan kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional
d. Hipotesis 4
Ho4 Tidak terdapat perbedaan kemampuan berpikir kreatif pada kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran POE dengan kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional Ha4 Terdapat perbedaan kemampuan berpikir kreatif pada kelas
eksperimen yang menggunakan model pembelajaran POE dengan kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional.
99
BAB V