• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

3. Uji Heteroskedastisitas

4.4. Analisis Model dan Pengujian Hipotesis 1. Hasil Analisis Regresi Berganda

Perhitungan dilakukan dengan menggunakan metode regresi liniear berganda untuk melihat konsistensi dari pengaruh variabel-variabel independen terhadap variabel dependennya. Hasil analisis tersebut dusajikan dalam tabel berikut:

Tabel 4.12. Hasil Analisis Regresi Linear Berganda

Coefficientsa 3549.498 2010.867 1.765 .091 -3.2E-005 .000 -.049 -.312 .758 4.84E-008 .000 .625 3.941 .001 3.05E-008 .000 .134 .845 .407 (Constant) X1 X2 X4 Model 1 B Std. Error Unstandardized Coefficients Beta Standardized Coefficients t Sig. Dependent Variable: Y a.

Sumber : data diolah, (lampiran 4)

Berdasarkan tabel di atas diperoleh model persamaan regresi sebagai berikut :

Y = 3549,49 – 3,2X1 + 4,84X2 + 3,05X4 + e

Dari model persamaan regresi linier tersebut di atas, dapat diinterprestasikan, sebagai berikut :

1. Konstanta (a)

Nilai konstanta (a) sebesar 3549,49 menunjukkan bahwa, apabila variabel rasio laba akuntansi (X1), arus kas dari aktifitas operasi (X2), arus kas dari aktifitas pendanaan (X4) konstan, maka besarnya harga saham (Y) yaitu sebesar 3549,49.

2. Koefisien (β1) Untuk Variabel Insider Laba Akuntansi (X1)

Besarnya nilai koefisien regresi (β1) sebesar – 3,2 yang artinya jika variabel laba akuntansi (X1) naik sebesar satu satuan, maka besarnya harga saham (Y) akan turun sebesar – 3,2 dengan asumsi bahwa variabel bebas lainnya bersifat konstan.

3. Koefisien (β2) Untuk Variabel arus kas dari aktifitas operasi (X2)

Besarnya nilai koefisien regresi (β2) sebesar 4,845, yang artinya nilai (β2) jika variabel arus kas dari aktifitas operasi (X2) naik sebesar satu satuan maka besarnya harga saham (Y) akan naik sebesar 4,84 dengan asumsi bahwa variabel bebas lainnya bersifat konstan.

4. Koefisien (β3) Untuk Variabel Rasio Hutang (X4)

Besarnya nilai koefisien regresi (β3) sebesar 3,05, yang artinya jika variabel arus kas dari aktifitas pendanaan (X4) naik sebesar satu satuan, maka besarnya harga saham (Y) akan naik sebesar 3,05 dengan asumsi bahwa variabel bebas lainnya bersifat konstan.

4.4.2. Uji F (Uji Kecocokan Model)

Untuk mengetahui cocok atau tidaknya alat analisa regresi yang digunakan dalam penelitian ini maka digunakan uji F. Dalam tabel berikut ini disajikan analisis Uji F.

57

Tabel 4.13. Hasil Analisis Uji F

Sum of Squares Mean Square F hitung Tingkat Signifikansi Regression 1647023124.846 549007708.282 6.087 0.003 Residual 2074329532.562 90188240.546

Total 3721352657.407 Sumber: lampiran 4

Terlihat dari angka Fhitung sebesar 11,4866.087 dengan Sig.0,003 < 0,05 yang berarti signifikan, berarti secara bersama-sama perubahan variabel X1,X2,X4

mampu menjelaskan perubahan variabel Y. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa model regresi yang digunakan untuk teknik analisis ini masih cocok, oleh karena itu untuk peneliti yang akan datang disarankan untuk menggunakan model teknik analisis yang sama atau dengan menambahkan data penelitian.

Tabel 4.14 : Hasil Koefisien Determinasi (R Square / R2)

Model Summary .665a .443 .370 9496.749 Model 1 R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Predictors: (Constant), X4, X1, X2 a. Sumber : Lampiran 3

Dari hasil pengolahan data tabel di.atas juga diperoleh nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,443, hal ini menunjukkan bahwa sekitar 44,3 % harga saham dapat dijelaskan oleh variabel rasio Laba akuntansi (X1), Arus kas dari aktivitas operasi (X2), Arus kas dari aktivitas pendanaan (X4), sedangkan sisa sebesar (100-44,3=55,7%) dijelaskan oleh sebab – sebab lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini.

Dan besarnya koefisien korelasi berganda (R) = 0,665. Ini berarti besar hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat adalah cukup tinggi yaitu sebesar 66,5%.

Standar Error of Estimate (SEE) sebesar 9496,749. Makin kecil nilai SEE akan membuat model regresi semakin tepat dalam memprediksi variabel dependen.

4.4.3. Uji t

Uji t bertujuan untuk menguji signifikansi pengaruh laba akuntansi (X1), arus kas dari aktifitas operasi (X2), arus kas dari aktifitas pendanaan (X4) secara parsial terhadap nilai perusahaan (Y) pada perusahaan otomotif yang go publik di BEI adalah sebagai berikut:

Tabel 4.15. Uji t Coefficientsa 3549.498 2010.867 1.765 .091 -3.21E-005 .000 -.049 -.312 .758 4.84E-008 .000 .625 3.941 .001 3.05E-008 .000 .134 .845 .407 (Constant) X1 X2 X4 Model 1 B Std. Error Unstandardized Coefficients Beta Standardized Coefficients t Sig. Dependent Variable: Y a.

Sumber : data diolah, (lampiran 4)

a. Pengaruh antara variabel X1 terhadap Y.

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai pada level of significant >5 %. Sehingga secara parsial variabel laba akuntansi tidak berpengaruh terhadap harga saham perusahaan otomotif yang go publik di BEI

59

b. Pengaruh antara variabel X2 terhadap Y

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai pada level of significant < 5 %. Sehingga secara parsial variabel arus kas dari aktifitas operasi berpengaruh terhadap harga saham perusahaan otomotif yang go publik di BEI c. Pengaruh antara variabel X4 terhadap Y

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai pada level of significant > 5 %. Sehingga secara parsial variabel arus kas dari aktifitas pendanaan tidak berpengaruh terhadap harga saham perusahaan otomotif yang go publik di BEI 4.5. Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis data yang telah dikemukakan maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

4.5.1. Pengaruh Laba Akuntansi Terhadap Harga Saham Perusahaan Otomotif Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia

Variable laba akuntansi tidak berpengaruh terhadap harga saham perusahaan otomotif yang go public di BEI.

Arus kas mengekspresikan laba bersih ditambah depresiasi, yang secara aktual didistribusikan kepada investor, yakni setelah perusahaan menanamkan invesatasi di fixed assed dan modal kerjanya yang penting untuk kelanjutan operasi. Jadi nilai perusahaan berhubungan dengan kemampuannya menghasilkan arus kas. Sehingga jika arus kasnya meningkat nilai perusahaan akan naik, yang selanjutnya juga akan menaikkan harga saham (Brigham et al,1997 :110).

Untuk variabel laba akuntansi mendukung penelitian Triyono dan yogianto (2000)dalam judul yang sama, Beever et al (1980), Foster et al (1984), Bernad dan

Thomas (1989), Easton et al (1992), Kathari dan Sloan (1992) serta Borwn dan Hancook yang menemukan publikasi laba akuntansi mempunyai pengaruh pada perubahan harga saham. Sejalan dengan pengharapan investor, yakni peningkatan laba bersih. Artinya, jika perusahaan memiliki laba negatif, para investor kurang memiliki peluang untuk mendapatkan hasil terhadap modal yang telah ditanamkan, yakni dalam bentuk pembagian dividen. Reaksi ini ditunjukkan dengan menurunya harga saham.

Berdasarkan uraian di atas bahwa laba akuntansi tidak berpengaruh terhadap harga saham pada perusahaan otomotif, sebab pergerakan laba yang negatif kurang menguntungkan pada pihak investor sebab menunujukkan rekasi harga saham yang menurun.

4.5.2. Pengaruh Arus Kas Dari aktifitas Operasi Terhadap Harga Saham Perusahaan Otomotif Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia

Variable arus kas dari aktifitas operasi berpengaruh terhadap harga saham perusahaan otomotif yang go public di BEI.

Aktivitas operasi adalah aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan (principal revenue activities) dan aktivitas lain yang bukan merupakan aktivitas investasi dan pendanaan, umumnya berasal dari transaksi dan peristiwa lain yang mempengaruhi penetapan laba atau rugi bersih, dan merupakan indikator yang menentukan apakah dari operasi perusahaan dapat menghasilkan kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi perusahaan, membayar dividen dan melakukan investasi baru tanpa mengandalkan pada sumber pendanaan dari luar. Livnat dan Zarowin (1990) dalam Ninna Daniati (2006) yang

61

menguji komponen arus kas menemukan bukti bahwa komponen arus kas mempunyai hubungan yang lebih kuat dengan expected return saham dibanding hubungan total arus kas dengan return.

Penelitian ini juga didukung oleh Triyono dan Joglanto (2000) menguji kandungan laba dan informasi arus kas yang dikelompokkan dari aktivitas operasi. pendanaan dan investasi. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa dengan model level, total arus kas tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan harga saham, tetapi pemisahan arus kas ke dalam komponen arus kas operasi. pendanaan dan investasi menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan harga saham. Temuan lainnya adalah dengan menggunakan model return, perubahan arus kas total, perubahan komponen arus kas, dan perubahan laba akuntansi tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan return saham.

Hasil ini mengindikasikan bahwa peranan arus kas dari aktivitas operasi yang berasal dari aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan yang merupakan indikator yang menentukan apakah dari operasi perusahaan dapat menghasilkan arus kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi perusahaan, membayar dividen dan melakukan investasi baru tanpa mengandalkan pada sumber pendanaan dari luar perusahaan. Kemampuan ini tidak didapatkan dari laba akuntansi yang disajikan berdasarkan accrual basis. Hal inilah yang diduga menjadi penyebab mengapa arus kas dari operasi dapat berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Dengan demikian para investor telah memperhitungkan informasi arus kas dari aktivitas operasi sebagai salah satu faktor penentu pengambilan keputusan investasinya

Berdasarkan uraian di atas bahwa arus kas operasional berpengaruh terhadap harga saham artinya, semakin tinggi arus kas operasional perusahaan maka semakin besar kepercayaan investor pada perusahaan tersebut, sehingga semakin besar pula harga saham.

4.5.3. Pengaruh Arus Kas Dari Aktifitas Pendanaan Terhadap Harga Saham Perusahaan Otomotif Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia

Variable arus kas dari aktivitas pendanaan tidak berpengaruh terhadap harga saham perusahaan otomotif yang go public di BEI.

Arus kas pendanaan diartikan penerbitan utang merupakan sinyal yang baik untuk menaksir arus kas karena pemilik dapat mempertahankan porporsi kepemilikannya dari pada menerbitkan saham. Berdasar teori ini pasar akan bereaksi positif terhadap pengumuman penerbitan utang (Brigham et al,1997 :439).

Hal ini menunjukkan bahwa arus kas pendanaan pada perusahaan otomotif memberi sinyal yang kurang baik kepada investor artinya akan diikuti dengan adanya peningkatan harga sahamnya.

Hasil ini mengidentifikasikan bahwa pihak manajemen perusahaan mempunyai kemampuan untuk menghimpun dana dari pihak luar yang dapat digunakan untuk mendukung kegiatan pengembangan usaha perusahaan, yang berarti bahwa perusahaan lebih banyak menghimpun kas sebagai hasil penghimpun dana dari pihak dalam daripada melakukan penerimaan kas untuk membayar utang-utang. jangka panjangnya. Temuan ini mengindikasikan bahwa

63

investor lebih menekankan pada informasi arus kas operasi. Dalam hal ini apabila perusahaan mampu dalam menghasilkan modal dari kegiatan operasinya sendiri maka perusahaan mampu dalam melunasi hutang-hutangnya kepada debitur.

Pelaporan arus kas dari aktivitas pendanaan berisi informasi aktivitas-aktivitas yang mengakibatkan perubahan dalam jumlah serta komposisi ekuitas dan pinjaman perusahaan. Investor dalam hal ini tidak melihat pelaporan arus kas dari aktivitas pendanaan tersebut sebagai informasi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan investasinya. Hasil ini berbeda dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Arie S. Rachim (2004), San Susanto (2006) yang menyatakan bahwa arus kas pendanaan mempengaruhi harga saham.

Dokumen terkait