BAB 4. HASIL PENELITIAN
4.6 Analisis Multivariat
Untuk mengetahui pengaruh karakteristik individu dan motivasi terhadap kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di RS. Haji Medan tahun 2013 dilakukan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda, yaitu salah satu pendekatan model statistik untuk menganalisis pengaruh beberapa variabel independen (lebih dari satu) terhadap variabel dependen kategori yang bersifat dikotomi atau binary. Variabel yang dimasukkan dalam model regresi logistik berganda adalah variabel dengan nilai p < 0,25.
Berdasarkan hasil analisis bivariat diperoleh bahwa variabel yang memiliki nilai p < 0,25 adalah karakteristik individu (jenis kelamin dan pendidikan), variabel motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik dengan kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik. Selanjutnya adalah pemilihan model yang dilakukan secara hirarki dengan cara semua variabel dimasukkan ke dalam model, kemudian variabel yang tidak signifikan (p>0,05) secara otomatis dikeluarkan komputer dari dalam model secara bertahap (backward LR). Hasil akhir analisis multivariat dapat dilihat pada Tabel 4.13 berikut : Tabel 4.13 Pengaruh Variabel Motivasi terhadap Kepatuhan Dokter dalam
Menulis Resep Obat Generik pada Pasien Umum Rawat Jalan di RS. Haji Medan Tahun 2013
Motivasi B Sig. Exp B
(OR)
95% Cl
Intrinsik 3,153 0,010 23,417 2,117-258,977
Ekstrinsik 2,678 0,027 14,555 1,364-155,270
Constant -3,393 0,006 -
Berdasarkan hasil uji regresi logistik berganda motivasi intrinsik terhadap kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di RS. Haji Medan diperoleh nilai probabilitas (p = 0,010) dengan besar pengaruh motivasi intrinsik dokter dalam menulis resep obat generik dilihat dari nilai Exp (B) dengan nilai 23,417 dimana dari hasil analisis terlihat bahwa dokter yang memiliki motivasi intrinsik tinggi mempunyai peluang untuk patuh dalam menulis resep obat generik sebesar 23 kali lebih besar dibandingkan dengan dokter yang memiliki motivasi intinsik rendah terhadap kepatuhan dokter yang tidak patuh dalam menulis resep obat generik.
Hasil analisis uji regresi logistik berganda motivasi ekstrinsik terhadap kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik diperoleh nilai probabilitas (p = 0,027) dengan besar pengaruh motivasi ekstrinsik dilihat dari nilai Exp (B) dengan nilai 14,555 dimana dari hasil analisis terlihat bahwa dokter yang memiliki motivasi ekstrinsik tinggi berpeluang untuk patuh dalam menulis resep obat generik sebesar 15 kali dibandingkan dengan dokter yang memiliki motivasi ekstrinsik rendah untuk tidak patuh.
Nilai Percentage Correct diperoleh sebesar 86,7 yang artinya variabel motivasi intrinsik dan ekstrinsik bisa menjelaskan pengaruhnya terhadap kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di RS. Haji Medan sebesar 86,7%, sedangkan sisanya sebesar 13,3% dipengaruhi oleh faktor lain seperti pengetahuan, keyakinan dan sikap yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Model persamaan regresi logistik berganda yang dapat memprediksi motivasi intrinsik dan ekstrinsik yang memengaruhi kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di RS. Haji Medan, yaitu sebagai berikut:
)
P : Probabilitas kepatuhan
B1 : Koefisien regresi motivasi intrinsik = 3,153 B2 : Koefisien regresi motivasi ekstrinsik = 2,678 B0 : Konstanta -3,393
e : 2,71828
Persamaan di atas menyatakan bahwa dokter yang mempunyai motivasi intrinsik dan ekstrinsik yang tinggi memiliki probabilitas sebesar 92% terhadap kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik yang patuh. Sedangkan motivasi intrinsik dan ekstrinsik dokter rendah memiliki probabilitas sebesar 3,25% terhadap kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik yang tidak patuh.
Nilai probabilitas berdasarkan skor motivasi intrinsik dan ekstrinsik dengan skor terendah dan skor tertinggi adalah :
Tabel 4.14 Nilai Probabilitas No Motivasi
Intrinsik
Motivasi Ekstrinsik
Perhitungan Persentase Probabilitas
1 49%=0,49 31%=0,31 0,265 26,5%
2 82%=0,82 87%=0,87 0,821 82,1%
Keterangan : 1 = Skor Terendah 2 = Skor Tertinggi
Berdasarkan Tabel 4.14 diatas diperoleh bahwa dokter yang mempunyai skor motivasi intrinsik dan ekstrinsik rendah memiliki probabilitas sebesar 26,5% terhadap kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik. Sedangkan dokter dengan skor motivasi intrinsik dan ekstrinsik tinggi memiliki probabilitas sebesar 82,1% terhadap kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di RS. Haji Medan.
BAB 5 PEMBAHASAN
5.1 Karakteristik Individu
Berdasarkan hasil penelitian karakteristik responden meliputi jenis kelamin, umur, pendidikan dan lama kerja diperoleh bahwa sebagian besar responden adalah berjenis kelamin laki-laki dibandingkan jenis kelamin perempuan. Umur responden tertinggi pada kelompok umur ≥40 tahun dibandingkan kelompok umur <40 tahun.
Berdasarkan tingkat pendidikan, paling banyak adalah dokter spesialis yaitu terdiri dari spesialis bedah, spesialis obgin, penyakit dalam, spesialis anak, spesialis paru, spesialis syaraf, dan spesialis THT, dibandingkan dengan pendidikan dokter gigi.
Selanjutnya, lama kerja dokter dengan pengalaman ≥5 tahun lebih banyak dibandingkan pengalaman <5 tahun.
Hasil analisis hubungan menunjukkan bahwa responden perempuan cenderung untuk melakukan penulisan resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di RS. Haji Medan lebih tinggi yang patuh dibanding responden laki-laki yang patuh. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di RS. Haji Medan.
Sunarto (2003) menulis bahwa wanita lebih bersedia untuk mematuhi wewenang dan pria lebih agresif dan lebih besar kemungkinannya dari pada wanita dalam memiliki pengharapan/ ekspektasi untuk sukses.
Tidak terdapat perbedaan responden yang ber-umur ≥40 tahun dan umur <40 tahun yang patuh, artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan antara umur dengan kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di RS. Haji Medan.
Tidak terdapat perbedaan kepatuhan menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di RS. Haji Medan antara dokter yang berpendidikan dokter spesialis dan dokter dengan pendidikan dokter gigi. Hasil analisis menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di RS. Haji Medan. Hasil penelitian ini sejalan dengan Lubis (2009) bahwa tidak ada pengaruh tingkat pendidikan terhadap kinerja dokter dalam kelengkapan pengisian rekam medis pasien rawat inap di RS. PTPN IV.
Tidak terdapat hubungan antara lama kerja dengan kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di RS. Haji Medan. Dokter yang memiliki lama kerja ≥5 tahun yang patuh l ebih banyak dibanding yang lama kerja <5 tahun. Hasil penelitian ini sejalan dengan Alwi (2002) yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh lama kerja terhadap kepatuhan dokter menulis resep berdasarkan Formularium di RS. Mohammad Hoesin Palembang.
Pada penelitian ini jenis kelamin, umur, pendidikan dan lama kerja tidak berpengaruh terhadap kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di RS. Haji Medan. Hal ini dapat dijelaskan bahwa
kepatuhan tersebut tidak tergantung pada kekuatan fisik dan kesehatan seseorang yang dipengaruhi oleh umurnya, kinerja ini merupakan kewajiban yang dilaksanakan berdasarkan peraturan atau standar yang telah ditetapkan, sehingga wajar jika umur tidak berpengaruh. Kepatuhan tidak bergantung pada lama kerja responden karena dalam melakukan pekerjaan rutinnya responden di lokasi penelitian melakukan berbagai jenis tindakan pelayanan kesehatan dan penulisan resep obat generik merupakan salah satu pekerjaan yang harus dilaksanakan dan melaksanakan pekerjaan tersebut tidak memerlukan suatu ketrampilan khusus dalam pelaksanaannya tetapi didasarkan pada kewajiban memenuhi suatu ketentuan yang terikat pada peraturan yang berlaku. Kepatuhan juga tidak tergantung pada tingkat pendidikan keahlian dokter, kepatuhan ini merupakan kewajiban yang dilaksanakan berdasarkan peraturan yang mewajibkan dokter yang bertugas di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah menulis resep obat generik bagi semua pasien sesuai indikasi medis (Permenkes RI No. HK.02.02/MENKES/068/I/2010 tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Kesehatan Pemerintah).
5.2 Faktor Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik dalam penelitian ini yang memengaruhi kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di Rumah Sakit Haji Medan yaitu terdiri dari pekerjaan itu sendiri, tanggung jawab, prestasi yang diraih, dan pengakuan orang lain.
5.2.1 Motivasi Intrinsik Indikator Pekerjaan itu Sendiri
Motivasi intrinsik dilihat dari indikator pekerjaan itu sendiri terdapat 50,0%
responden yang menyatakan kurang setuju menulis resep obat generik penting, 56,7%
tidak setuju bahwa menulis resep obat generik mempunyai sanksi jika tidak dilaksanakan, serta 53,3% menyatakan setuju bahwa menulis resep obat generik sangat membantu mengurangi biaya pengobatan pasien dan menulis resep obat generik menunjang pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien.
Berdasarkan hasil penelitian terhadap dokter di rumah sakit bahwa menulis resep obat generik bukanlah merupakan suatu hal yang wajib dan penting, dan juga bukanlah suatu hal yang bisa mendapatkan sanksi jika tidak melakukan penulisan resep obat generik. Hal ini menunjukkan bahwa saat ini memang tidak ada suatu bentuk sanksi yang diterapkan di rumah sakit sehubungan dengan penulisan resep obat generik. Selanjutnya, ini juga menunjukan bahwa dokter belum sepenuhnya termotivasi melakukan penulisan resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di RS. Haji Medan.
Sanksi atau hukuman (punishment) didefinisikan sebagai tindakan menyajikan konsekuensi yang tidak menyenangkan atau tidak diinginkan sebagai hasil dari dilakukannya perilaku tertentu. Hukuman seharusnya digunakan hanya setelah melalui pertimbangan cermat dan objektif dari semua aspek yang relevan dengan situasi (Regaletha, 2009).
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/068/I/2010, kewajiban menulis resep obat generik bagi semua pasien sesuai indikasi medis diberlakukan bagi dokter yang bertugas di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah. Sanksi administratif kepegawaian dapat dijatuhkan bagi dokter yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan dalam permenkes tersebut. Hal ini bertujuan agar dokter menjadi lebih patuh.
Hal ini sejalan dengan teori Herzberg dalam Hasibuan (2005), yang menyatakan bahwa pekerjaan itu sendiri merupakan faktor motivasi intrinsik bagi pegawai untuk berforma tinggi. Pekerjaan atau tugas yang memberikan perasaan telah mencapai sesuatu, tugas itu cukup menarik, tugas yang memberikan tantangan bagi pegawai merupakan faktor motivasi, karena keberadaannya sangat menentukan bagi motivasi untuk berforma tinggi dan memerlukan reinforcement.
5.2.2 Motivasi Intrinsik Indikator Tanggung Jawab
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa persentase motivasi intrinsik dilihat dari indikator tanggung jawab diperoleh 50,0% responden yang menyatakan kurang setuju bahwa menulis resep obat generik merupakan kegiatan yang menjadi tanggung jawab sebagai seorang dokter, merupakan kegiatan yang di lakukan secara rutin, 53,3% yang menyatakan kurang setuju menulis resep obat generik merupakan kegiatan yang tidak terlepas dari prosedur pelayanan kesehatan yang di berikan kepada pasien dan menulis resep obat generik bukan membatasi kebebasan
klinis/otonomi profesi dokter, serta terdapat 50,0% yang menyatakan setuju dalam bekerja harus memperhatikan aspek etika dan moral.
Hasil diatas memberikan gambaran bahwa dokter mempersepsikan menulis resep obat generik bukan sepenuhnya merupakan tanggung jawab dokter, dan yang menjadi tanggung jawab dokter adalah memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien yaitu memberikan pelayanan kedokteran untuk kesembuhan penderita. Dokter mengharapkan adanya kebebasan dalam memilih obat dalam peresepan demi kesembuhan penderita. Ini berdampak pada kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di RS. Haji Medan. Pada prinsipnya kewajiban menggunakan obat generik bukanlah membatasi otonomi dokter dalam memberikan pengobatan kepada pasien namun untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap obat dengan mutu yang terjamin dan harga terjangkau sehingga akan dapat meningkatkan derajat kesehatan.
Hal ini tidak sejalan dengan teori Herzberg dalam Hasibuan (2005), menyatakan bahwa setiap orang lain ingin diikutsertakan dan ingin diakui sebagai orang yang berpotensi, dan pengakuan ini akan menimbulkan rasa percaya diri dan siap memikul tanggungjawab yang lebih besar.
5.2.3 Motivasi Intrinsik Indikator Prestasi yang Diraih
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa motivasi intrinsik dokter dilihat dari indikator prestasi yang diraih dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di Rumah Sakit Haji Medan terdapat 56,7% yang menyatakan
kurang setuju melakukan penulisan resep obat generik dengan rutin memiliki peluang untuk mendapatkan prestasi.
Berdasarkan hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa patuh atau tidaknya dokter menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di RS. Haji Medan tidak terkait langsung dengan prestasi, artinya walaupun penulisan resep obat generik tidak dilaksanakan sepenuhnya tidak berpengaruh terhadap prestasi seperti kenaikan pangkat, jabatan atau mutasi, sehingga dokter merasa tidak termotivasi atau tidak terdorong untuk patuh melaksanakan penulisan resep obat generik. Adanya penghargaan (reward) yang disiapkan oleh manajemen rumah sakit dapat merupakan harapan bagi dokter namun pada kenyataannya manajemen rumah sakit belum memperhatikan hal itu dan belum ada suatu bentuk penghargaan (reward) apapun yang diberikan sehubungan dengan menulis resep obat generik.
Hal ini sejalan dengan teori Herzberg dalam Hasibuan (2005), menyatakan bahwa setiap orang menginginkan keberhasilan atau prestasi dalam setiap kegiatan.
Pencapaian prestasi dalam melakukan suatu pekerjaan akan menggerakkan yang bersangkutan untuk melakukan tugas-tugas berikutnya. Demikian juga dengan teori David C McClelland dalam Handoko (2001), menyatakan bahwa motivasi berprestasi yang tinggi berhubungan dengan peningkatan kinerja.
5.2.4 Motivasi Intrinsik Indikator Pengakuan Orang Lain
Motivasi intrinsik responden dilihat dari indikator pengakuan orang lain diketahui 53,3% responden menyatakan kurang setuju bahwa menulis resep obat
generik bisa mendapat penghargaan dari atasan dan menulis resep obat generik mendapat dukungan dari mitra kerja (detailer/sales obat).
Hasil diatas memberikan gambaran bahwa pihak manajemen rumah sakit masih kurang mengembangkan kegiatan-kegiatan sebagai bentuk penghargaan atau pengakuan terhadap prestasi petugas medis. Demikian juga dengan dukungan mitra kerja (detailer/sales obat) yang masih rendah, yang dapat dilihat pada saat penelitian bahwa detailer/sales obat cendrung memperkenalkan atau mempromosikan obat non generik. sehingga dokter kurang termotivasi untuk patuh dalam melaksanakan penulisan resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di RS. Haji Medan.
Hal ini sejalan dengan teori Herzberg dalam Hasibuan (2005), yang menyatakan bahwa petugas yang terdorong secara intrinsik akan menyenangi pekerjaan yang memungkinkannya menggunakan kreativitas dan inovasinya, bekerja dengan tingkat otonomi yang tinggi dan tidak perlu diawasi dengan ketat. Pengakuan terhadap prestasi merupakan alat motivasi yang cukup ampuh, bahkan bisa melebihi kepuasan yang bersumber dari kompensasi.
5.3 Faktor Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik dalam penelitian ini yang memengaruhi kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di Rumah Sakit Haji Medan adalah prosedur kerja, imbalan, kondisi kerja, dan hubungan kerja.
5.3.1 Motivasi Ekstrinsik Indikator Prosedur Kerja
Pada indikator prosedur kerja terdapat 60,0% yang menyatakan kurang setuju dalam penulisan resep obat generik merupakan kewajiban yang tercantum dalam protap, kebijakan pemberian penghargaan (reward) dan sanksi (punishment) disosialisasikan oleh manajemen rumah sakit dan mendukung pelaksanaan penulisan resep obat generik, 50,0% menyatakan kurang setuju prosedur kerja yang diberlakukan di tempat kerja mendukung pelaksanaan penulisan resep obat generik, dan 50,0% yang menyatakan setuju sosialisasi obat generik dilakukan di rumah sakit.
Berdasarkan hasil penelitian dapat dijelaskan bahwa rumah sakit belum memiliki prosedur yang baku untuk dipedomani dalam menulis resep khususnya resep obat generik, dan belum ada sosialisasi kebijakan pemberian penghargaan dan sanksi sehingga dokter menganggap menulis resep obat generik hanya sebatas himbauan namun bukan suatu keharusan yang tercantum dalam prosedur kerja.
Demikian juga dengan evaluasi pelaksanaan penulisan resep obat generik belum dilaksanakan di rumah sakit.
Hasil penelitian ini sejalan dengan teori motivasi yang dikemukakan oleh Herzberg dalam Luthans (2003), prosedur kerja dan pemberian evaluasi serta informasi secara tepat kepada pekerja juga berpengaruh terhadap motivasi pekerja.
Hal senada juga dikemukakan oleh Handoko (2001), mengungkapkan bahwa prosedur kerja yang ditetapkan merupakan batas bagi keputusan, menentukan apa yang dapat dibuat dan menutup apa yang tidak dapat dibuat. Dengan cara lain,
kebijaksanaan menyalurkan pemikiran para anggota organisasi agar konsisten dengan tujuan organisasi.
5.3.2 Motivasi Ekstrinsik Indikator Imbalan
Terdapat 36,7% pada indikator imbalan yang menyatakan tidak setuju bahwa dokter mendapatkan honor menulis resep obat generik, dan 36,7% menyatakan kurang setuju menulis resep obat generik kesejahteraan financial meningkat.
Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa kebijakan atau peraturan yang mengatur tentang pemberian insentif atau honor diluar gaji yang dapat berperan sebagai motivasi ekstrinsik bagi dokter dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di Rumah Sakit Haji Medan belum ada.
Menurut teori motivasi yang dikemukakan oleh Herzberg dalam Luthans (2003), bahwa tidak ada suatu organisasi pun yang dapat memberikan kekuatan baru kepada tenaga kerjanya atau meningkatkan produktivitas, jika tidak memiliki sistem kompensasi dan gaji realistis, apabila sistem kompensasi dan pengajian diimplementasikan dengan benar akan memotivasi pegawai.
Demikian juga dengan pendapat Gibson et.al (1996) bahwa motivasi ekstrinsik (imbalan yang berasal dari pekerjaan yang mencakup uang, status, promosi dan rasa hormat) dapat menjadi motivator setiap karyawan untuk mencapai prestasi kerja yang lebih baik, dengan memberi insensif, perusahaan akan dapat meningkatkan kinerja dan produktivitas karyawan.
5.3.3 Motivasi Ekstrinsik Indikator Kondisi Kerja
Pada Indikator Kondisi kerja terdapat 70,0% responden yang menyatakan kurang setuju bahwa brosur/leaflet obat generik yang tersedia di ruang kerja di rumah sakit mendukung pelaksanaan penulisan resep obat generik dan fasilitas (ketersediaan obat generik dari segi jumlah dan jenis) yang tersedia mendukung pelaksanaan penulisan resep obat generik, 56,7% responden yang menyatakan kurang setuju protap penggunaan obat generik yang tersedia/terpasang di ruang kerja di rumah sakit mendukung pelaksanaan penulisan resep obat generik, 53,3% menyatakan kurang setuju bulletin/newslatter obat generik yang tersedia di ruang kerja di rumah sakit mendukung pelaksanaan penulisan resep obat generik, dan 50,0% yang menyatakan kurang setuju manajemen rumah sakit memonitor pelaksanaan penulisan resep obat generik.
Hasil penelitian diatas memberikan gambaran bahwa kondisi kerja di rumah sakit masih belum mendukung pelaksanaan penulisan resep obat generik di RS. Haji Medan, seperti kurang tersedianya brosur/leaflet, bulletin/newsletter yang merupakan sarana informasi untuk melakukan sosialisasi atau penyampaian informasi obat generik dengan menginformasikan mutu obat generik berdasarkan data ilmiah (evidence base medicine) yang dapat membuat dokter bertindak atau berprilaku untuk patuh dalam menulis resep obat dengan nama generik, serta fasilitas (ketersediaan obat generik dari segi jumlah dan jenis) yang tersedia belum sepenuhnya mendukung penulisan resep obat generik.
Sistem informasi harus merupakan suatu senjata strategis yang potensial untuk mendapatkan keunggulan kompetitif, memperbaiki produktivitas dan kinerja, memungkinkan cara baru dalam pengelolaan dan pengorganisasian serta pengembangan bisnis baru (Ridwan, 2012). Dokter mengharapkan peran manajemen rumah sakit dalam memfasilitasi sistem informasi rumah sakit yang lebih optimal karena selama ini dirasakan masih terbatas sehingga dapat mendukung penulisan resep obat generik seperti melalui mekanisme sosialisasi, leaflet/brosur obat generik.
Kondisi kerja merupakan faktor penting yang dapat mendukung pelaksanaan penulisan resep obat generik, karena dengan kondisi kerja yang baik maka dalam melaksanakan pekerjaan dapat dilakukan dengan baik pula.
Hasil penelitian ini sejalan dengan teori motivasi yang dikemukakan oleh Herzberg dalam Luthan (2003), bahwa kondisi kerja yang mendukung dapat mencegah ketidakpuasan dalam bekerja.
5.3.4 Motivasi Ekstrinsik Indikator Hubungan kerja
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pada indikator hubungan kerja 56,7% responden menyatakan kurang setuju menulis resep obat generik bisa membuat hubungan baik dengan atasan dan menulis resep obat generik bisa membuat hubungan baik dengan mitra kerja, serta 53,3% yang menyatakan setuju menulis resep obat generik bisa membuat hubungan baik dengan tenaga medis lain.
Hasil diatas memberikan gambaran bahwa hubungan kerja merupakan faktor yang penting bagi dokter, sesama dokter, atasan, tenaga medis lainnya, pasien dan
mitra kerja dalam organisasi, karena dengan hubungan yang baik maka pelaksanaan penulisan resep obat generik dapat didukung dan dilaksanakan dengan baik pula
Menurut teori motivasi yang dikemukakan oleh Herzberg dalam Luthans (2003), untuk dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik, haruslah didukung oleh suasana atau hubungan kerja yang harmonis antara sesama pegawai maupun atasan dan bawahan.
Robbins (2002), menyatakan hubungan antara atasan dan bawahan serta hubungan sesama pegawai merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam organisasi. Hubungan menyangkut jalinan komunikasi baik vertikal, horizontal dan diagonal. Pemahaman mengenai hubungan ini tergantung beberapa aspek diantaranya aspek individual yang mampu bekerjasama dan mempengaruhi kinerja dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan efektif dan efisien bagi organisasi.
5.4 Kepatuhan
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa persentase dokter dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di RS. Haji Medan sebanyak 900 resep (30 resep untuk setiap dokter) tertinggi pada kategori tidak patuh dan terendah pada kategori patuh.
Berdasarkan jenis spesialis maka distribusi kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di Rumah Sakit Haji Medan, dapat dilihat mayoritas persentase kepatuhan dokter spesialis bedah yaitu tidak patuh, spesialis obgin persentase kepatuhan tertinggi pada dokter yang tidak patuh, dokter
spesialis penyakit dalam persentase kepatuhan dokter lebih banyak yang tidak patuh,
spesialis penyakit dalam persentase kepatuhan dokter lebih banyak yang tidak patuh,