• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kepatuhan

Dalam dokumen RATNA DEWI /IKM (Halaman 45-0)

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Kepatuhan

Kepatuhan (compliance) berasal dari kata patuh yang berarti suka menurut, taat pada perintah, aturan, dan disiplin. Selanjutnya, kepatuhan adalah taat atau tidak taat pada perintah, aturan atau disiplin (Ridwan, 2012).

Kelman dalam Sarwono (1997) mengemukakan bahwa perubahan sikap dan perilaku individu dimulai dengan tahap kepatuhan, identifikasi, kemudian

internalisasi. Kepatuhan dapat didasarkan karena ingin menghindari hukuman/sangsi, atau ingin memperoleh imbalan yang dijanjikan jika mematuhi anjuran. Kepatuhan seperti ini adalah kepatuhan sementara. Sedangkan kepatuhan yang diharapkan adalah kepatuhan dimana seseorang memahami makna, dan mengerti akan pentingnya suatu tindakan atau suatu keadaan.

2.4 Dokter

2.4.1 Profesi Dokter

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran menyatakan bahwa dokter adalah dokter, dokter spesialis, dokter gigi dan dan dokter gigi spesialis lulusan pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi baik di dalam maupun diluar negeri yang diakui Pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Menurut Meliala (2011) yang mengutip pendapat Iswandari (2006), strategi WHO yang dikenal dengan sebutan Five Stars Doctor dimana setiap dokter diharapkan dapat berperan :

a. Sebagai health care provider yang bermutu, berkesinambungan dan komprehensif dengan mempertimbangkan keunikan individu, berdasarkan kepercayaan dalam jangka panjang.

b. Sebagai decision maker yang mampu memilih teknologi yang tepat dengan pertimbangan etika dan biaya.

c. Sebagai communicator yang mampu mempromosikan gaya hidup sehat melalui Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) serta memberdayakan masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal.

d. Sebagai community leader, yang mampu memperoleh kepercayaan, membangun kesepakatan tentang kesehatan serta berinisiatif meningkatkan kesehatan bersama.

e. Sebagai manager yang mampu menggerakkan individu dan lingkungan demi kesehatan bersama dengan menggunakan data yang akurat.

2.4.2 Hak Dokter

Menurut Hanafiah dan Amir (2008), dokter dalam melaksanakan praktek kedokteran mempunyai hak, antara lain :

1. Melakukan praktik dokter setelah memperoleh Surat Izin Dokter dan Surat Izin Praktik (SIP).

2. Memperoleh informasi yang benar dan lengkap dari pasien/keluarga tentang penyakitnya.

3. Bekerja sesuai standar profesi.

4. Menolak melakukan tindakan medik yang bertentangan dengan etika, hukum, agama, dan hati nuraninya.

5. Mengakhiri hubungan dengan seorang pasien jika menurut penilaiannya kerja sama pasien dengannya tidak berguna lagi, kecuali dalam keadaan darurat.

6. Menolak pasien yang bukan bidang spesialisasinya, kecuali dalam keadaan darurat atau tidak ada dokter lain yang mampu menanganinya.

7. Hak atas kebebasan pribadi (privacy) dokter.

8. Hak atas ketentraman bekerja.

9. Mengeluarkan surat-surat keterangan dokter.

10. Menerima imbalan jasa.

11. Menjadi anggota perhimpunan profesi.

12. Hak membela diri.

2.4.3 Kewajiban Dokter

Undang-undang No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran menyatakan bahwa kewajiban dokter adalah :

1. Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien.

2. Merujuk pasien ke dokter lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan.

3. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia.

4. Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin pada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya.

5. Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran.

6. Meminta persetujuan pada setiap melakukan tindakan kedokteran, khusus untuk tindakan yang berisiko persetujuan dinyatakan secara tertulis. Persetujuan

dimintakan setelah dokter menjelaskan tentang : diagnosa, tujuan tindakan, alternatif tindakan, risiko tindakan, komplikasi dan prognose.

7. Membuat catatan rekam medis yang baik secara berkesinambungan berkaitan dengan keadaan pasien.

8. Memenuhi hal- hal yang telah disepakati/perjanjian yang telah dibuatnya.

9. Bekerjasama dengan profesi dan pihak lain yang terkait secara timbal balik dalam memberikan pelayanan kepada pasien.

10. Dalam melakukan praktik kedokteran di Indonesia wajib memiliki surat izin praktik dokter.

11. Dalam melakukan praktik kedokteran di Indonesia wajib memiliki surat tanda registrasi dokter.

12. Dokter yang berhalangan menyelenggarakan praktik kedokteran harus membuat pemberitahuan atau menunjuk dokter pengganti.

13. Wajib menyelenggarakan kendali mutu dan kendali biaya dalam memberikan pelayanan kesehatan.

14. Wajib menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah dokter dan kode etik kedokteran Indonesia.

2.4.4 Obat

Kebijakan Obat Nasional (KONAS) menyatakan bahwa obat adalah bahan atau paduan bahan-bahan yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis,

pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi.

Sedangkan menurut Tjay dan Rahardja (2002), obat merupakan semua zat baik kimiawi, hewani, maupun nabati yang dalam dosis layak dapat menyembuhkan, meringankan, atau mencegah penyakit berikut gejalanya. Dalam pengertian umum, obat adalah substansi yang melalui efek kimianya membawa perubahan dalam fungsi biologik.

Idris (2008), mengemukakan bahwa secara internasional obat hanya dibagi menjadi 2 yaitu obat paten dan obat generik.

a. Obat Paten

Merupakan obat yang baru ditemukan berdasarkan riset dan memiliki masa paten yang tergantung dari jenis obatnya. Menurut UU No. 14 Tahun 2001 masa berlaku paten di Indonesia adalah 20 tahun. Selama 20 tahun itu, perusahaan farmasi tersebut memiliki hak eksklusif di Indonesia untuk memproduksi obat yang dimaksud. Perusahaan lain tidak diperkenankan untuk memproduksi dan memasarkan obat serupa kecuali jika memiliki perjanjian khusus dengan pemilik paten.

b. Obat Generik

Setelah obat paten berhenti masa patennya, obat paten kemudian disebut sebagai obat generik (generik = nama zat berkhasiatnya). Obat generik dibagi lagi menjadi 2 yaitu generik berlogo dan generik bermerek. Obat generik berlogo (OGB) yang lebih umum disebut obat generik saja adalah obat yang menggunakan nama zat

berkhasiatnya dan mencantumkan logo generik pada kemasan obat, sedangkan obat generik bermerek yang lebih umum disebut obat bermerk adalah obat yang diberi merek dagang oleh perusahaan farmasi yang memproduksinya.

2.4.4.1 Obat Generik

Obat generik adalah obat dengan nama resmi International Non-Proprietary Names (INN) yang telah ditetapkan dalam Farmakope Indonesia atau buku standar lainnya untuk zat berkhasiat yang dikandungnya. Obat generik merupakan obat yang masa patennya sudah habis, sehingga dapat diproduksi oleh semua perusahaan farmasi tanpa perlu membayar royalti. Selanjutnya, obat generik adalah program pemerintah Indonesia yang bertujuan memberikan alternatif obat bagi seluruh lapisan masyarakat, dengan kualitas obat yang terjamin, serta harga yang terjangkau. Obat generik biasanya dikenal dari logo yang menjadi ciri khasnya, dikenal sebagai Obat generik Berlogo (OGB). Logo OGB adalah lingkaran hijau bergaris putih dengan tulisan “generik” di bagian tengah lingkaran. Logo OGB tersebut menunjukan bahwa obat generik telah lulus uji kualitas, khasiat, dan keamanan. Garis-garis putih menunjukkan obat generik dapat digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat (Purwatiningtiyas, 2012).

OGB diluncurkan pemerintah Indonesia sejak tahun 1989. Kualitas obat generik tidak perlu diragukan lagi. Baik OGB, obat bermerek, maupun obat yang dipatenkan, mengandung zat aktif atau komponen utama yang sama. OGB telah memenuhi berbagai persyaratan sebagaimana obat yang dipatenkan.

Persyaratan-persyaratan tersebut di antaranya mengikuti aturan pembuatan obat internasional, memenuhi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) yang telah ditentukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia, dan lolos uji bioavailabilitas atau bioekivalensi (BA/BE) untuk menjamin obat generik setara dengan obat yang dipatenkan. Jadi, dalam hal kualitas, OGB sama baiknya dengan obat yang dipatenkan maupun obat generik bermerek. OGB mempunyai kelebihan dari segi harga yang terjangkau. Jika dibandingkan dengan obat yang dipatenkan maupun teman sejawatnya, yaitu obat bermerek, OGB menempati posisi harga yang paling murah karena harga jual OGB tidak memerlukan biaya penelitian dan biaya promosi OGB tidak setinggi obat yang dipatenkan. Di samping itu, kesederhanaan kemasan OGB juga menjadikannya lebih murah jika dibandingkan obat bermerek.

Kemasan OGB hanya berupa kemasan sederhana dengan logo OGB. Pengemasan OGB hanya bertujuan untuk melindungi obat di dalamnya (Purwatiningtyas, 2012).

Jadi, beberapa hal yang perlu dipahami tentang OGB adalah kualitasnya yang tidak perlu diragukan lagi, dan OGB mempunyai kelebihan dari segi harga yang terjangkau.

2.4.4.2 Kebijakan Obat Generik

Menurut Depkes RI (2000), Kebijakan obat generik merupakan kebijakan untuk memudahkan akses masyarakat terhadap obat yang mutunya terjamin dengan harga terjangkau. Agar upaya pemanfaatan obat generik ini dapat mencapai tujuan yang diinginkan, maka kebijakan tersebut mencakup komponen-komponen berikut :

1. Produksi obat generik dengan Cara Produksi Obat yang baik (CPOB).

2. Pengendalian mutu obat generik secara ketat.

3. Distribusi dan penyediaan obat generik di unit-unit pelayanan kesehatan.

4. Peresepan berdasarkan atas nama generik, bukan nama dagang.

5. Penggantian (substitusi) dengan obat generik diberlakukan di unit-unit pelayanan kesehatan.

6. Informasi dan komunikasi mengenai obat generik bagi dokter dan masyarakat luas secara berkesinambungan.

7. Pemantauan dan evaluasi penggunaan obat generik secara berkala.

2.4.4.3 Peraturan Menteri Kesehatan RI No. HK.02.02/MENKES/068/I/2010 tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/068/I/2010 tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah mengemukakan beberapa ketentuan yang berhubungan dengan penulisan resep obat generik, sebagai berikut :

1. Pasal 2 menyatakan bahwa Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah, Pemerintah Daerah wajib menyediakan obat generik untuk kebutuhan pasien rawat jalan dan rawat inap dalam bentuk formularium.

2. Pasal 4 ayat (1) menyatakan bahwa Dokter yang bertugas di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah wajib menulis resep obat generik bagi semua pasien sesuai indikasi medis.

3. Pasal 4 ayat (2) menyatakan bahwa Dokter dapat menulis resep untuk diambil di Apotek atau di luar fasilitas pelayanan kesehatan dalam hal obat generik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak tersedia di fasilitas pelayanan kesehatan.

4. Pasal 7 menyatakan bahwa Apoteker dapat mengganti obat merek dagang/obat peten dengan obat generik yang sama komponen aktifnya atau obat merek dagang lain atas persetujuan dokter dan/atau pasien.

5. Pasal 8 menyatakan bahwa Dokter di Rumah Sakit atau Puskesmas dan Unit pelaksana Teknis lainnya dapat menyetujui pergantian resep obat generik dengan obat generik bermerek/bermerek dagang dalam hal obat generik tertentu belum tersedia.

6. Pasal 10 ayat (1) menyatakan bahwa Pemerintah, Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota dapat memberikan peringatan lisan atau tertulis kepada dokter, tenaga kefarmasian dan pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan dalam Peraturan Menteri ini.

7. Pasal 10 ayat (2) menyatakan bahwa Peringatan lisan atau tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan sebanyak 3 (tiga) kali dan apabila peringatan tersebut tidak dipatuhi, Pemerintah dan Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota dapat menjatuhkan sanksi administratif kepegawaian kepada yang bersangkutan.

Selanjutnya, Peraturan tersebut mengharapkan dokter mematuhi peraturan dan meresepkan obat generik agar semua lapisan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan

obat dengan harga terjangkau dan mutu terjamin serta dapat memperbaiki derajat kesehatan masyarakat. Pemerintah juga mengharapkan agar penggunaan obat generik dapat mencapai 80%-90% di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah (Kemenkes 2010). Adapun kepatuhan dokter merupakan suatu perilaku dokter dalam mentaati ketetapan peraturan Menteri Kesehatan dalam hal meresepkan obat generik.

2.4.5 Resep

2.4.5.1 Pengertian Resep

Menurut Depkes RI (2000), resep merupakan dokumen legal, sebagai sarana komunikasi profesional dari dokter dan penyedia obat untuk memberikan obat kepada pasien sesuai dengan kebutuhan medis yang ditentukan. Selanjutnya Jas (2005) mengemukakan bahwa resep adalah permintaan tertulis dari dokter kepada apoteker pengelola apotek untuk memberikan obat jadi atau meracik obat dalam bentuk tertentu sesuai dengan keahliannya, takaran dan jumlah obat sesuai dengan yang diminta, kemudian menyerahkannya kepada pasien.

2.4.5.2 Penulisan Resep

Penulisan resep artinya mengaplikasikan pengetahuan dokter dalam memberikan obat kepada pasien melalui kertas resep sesuai dengan kebutuhan, sekaligus permintaan secara tertulis kepada apoteker di apotek agar obat diberikan sesuai permintaan. Pihak apoteker berkewajiban melayani secara cermat, memberi informasi terutama yang menyangkut dengan penggunaan dan mengkoreksinya bila

terjadi kesalahan dalam penulisan. Dengan demikian pemberian obat lebih rasional, artinya tepat, aman, efektif dan ekonomis (Jas, 2005).

Berdasarkan Ridwan (2012) yang mengutip pendapat Yenis (1999), penulisan resep yang rasional yang berarti penggunaan obat secara rasional, merupakan komponen dari tujuan penggunaan obat yang tercantum dalam Kebijakan Obat Nasional. Penggunaan obat secara rasional adalah pasien yang mendapatkan pengobatan sesuai dengan kebutuhan klinisnya, dosis sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu, untuk periode waktu yang cukup dan dengan biaya yang serendah-rendahnya.

Beberapa faktor yang memengaruhi penulisan resep (Daniel, 2001) : 1. Sistem Suplai Kesehatan (Health Supply System)

Faktor yang memengaruhi sistem meliputi suplai obat yang tidak dapat dipercaya, jumlah obat yang terbatas/tidak mencukupi, obat-obat yang kadaluarsa dan tersedianya obat-obat yang tidak tepat/tidak sesuai. Inefisiensi dalam sistem tersebut menimbulkan ketidakpercayaan oleh dokter dan pasien.

2. Penulis Resep / Dokter (Prescriber)

Faktor internal dan eksternal memengaruhi dokter dalam menuliskan resep.

Pengetahuan dokter tentang obat dapat mempengaruhi penulisan resep obat, dimana pengetahuan didapat dari pendidikan dasar yang membentuk sikap.

Kurangnya pendidikan berkelanjutan (Continuing education), keahlian untuk mendapatkan informasi baru yang lebih banyak didapat dari sales obat bukan

berdasarkan Evidence based mempengaruhi penulisan resep obat. Faktor eksternal seperti jumlah pasien yang banyak, atau tekanan untuk menuliskan resep dari pasien atau salesmen obat/pabrik obat serta peraturan rumah sakit yang terikat dengan Permenkes (Formularium Rumah Sakit).

Faktor karakteristik dan kondisi kerja memengaruhi penulisan resep dokter per individu. Dibedakan atas karakteristik dokter yang bersifat non professional seperti umur, jenis kelamin, kepribadian (termasuk perilaku) dan karakteristik profesional seperti pendidikan dan pengalaman kerja.

3. Farmasi (Dispenser)

Pemberian informasi mengenai obat khususnya kepada dokter mempengaruhi penulisan resep, hal ini berkaitan dengan pendidikan. Informasi dapat diberikan secara aktif melalui pelayanan informasi obat atau pasif misalnya melalui bulletin atau newsletter. Peran farmasi juga terlihat mulai dari perencanaan, pengadaan dan pendistribusian obat di rumah sakit.

4. Pasien/Masyarakat

Pengetahuan, kepercayaan pasien/masyarakat terhadap mutu dari suatu obat dapat mempengaruhi pasien dalam menggunakan obat dan karena adanya interaksi pasien dengan dokter juga akan memengaruhi dokter dalam menuliskan resep.

Industri Farmasi dikatakan mempunyai pengaruh yang kuat dalam penulisan resep baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh secara langsung dilakukan dengan iklan seperti melalui kalender detailmen, eksibisi obat, sampel obat.

Secara tidak langsung seperti bantuan penelitian medis, bantuan untuk jurnal ilmiah, bantuan dan pengorganisasian pelatihan medis. Faktor-faktor yang disebutkan di atas berbeda pengaruhnya untuk setiap dokter pada kondisi-kondisi tertentu dan bersifat kompleks. Karena itu intervensi yang dilakukan untuk memperbaiki kualitas peresepan obat haruslah dimulai dengan mengerti terlebih dahulu pada masalah perilaku.

2.5 Landasan Teori

Menurut Kelman dalam Sarwono (1997), perubahan sikap dan perilaku individu dimulai dengan tahap kepatuhan, identifikasi, kemudian internalisasi. Salah satu aspek yang turut menentukan perilaku individu dalam hal ini kepatuhan adalah motivasi. Motivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan seseorang mau dan rela mengerahkan kemampuan dalam bentuk keahlian atau ketrampilan, tenaga dan waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai sasaran yang ditentukan (Siagian, 2003). Herzberg dalam Hasibuan (2005), mengemukakan bahwa motivasi terdiri dari 2 (dua) faktor meliputi Faktor Intrinsik yaitu : tanggung jawab, prestasi yang diraih, pengakuan orang lain, pekerjaan itu sendiri, kemungkinan pengembangan, kemajuan. Sedangkan Faktor Ektstrinsik meliputi : gaji, keamanan dan keselamatan kerja, kondisi kerja, hubungan kerja, prosedur perusahaan dan status.

Selanjutnya, karakteristik individu merupakan faktor yang menggerakkan atau memengaruhi perilaku individu meliputi Umur, Jenis kelamin, Lama kerja dan Pendidikan (Gibson, 1996).

Kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di Rumah Sakit Haji Medan mengacu kepada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/068/I/2010 tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah.

Karakteristik Individu dan Motivasi Sikap dan Perilaku

• Pekerjaan Itu Sendiri

• Tanggung Jawab

• Prestasi yang Diraih

• Pengakuan Orang Lain

• Kemungkinan Pengembangan

• Kemajuan

• Keamanan dan Keselamatan Kerja

Gambar 2.1 Kerangka Teori Penelitian

Sumber : Kelman dalam Sarwono (1997), Herzberg dalam Hasibuan (2005), Luthans (2003),dan Gibson (1996)

2.6 Kerangka Konsep

Berdasarkan landasan teori di atas, maka kerangka konsep penelitian ini adalah : 1. Pekerjaan itu Sendiri 2. Tanggung Jawab 3. Prestasi yang Diraih 4. Pengakuan Orang Lain

Ekstrinsik 1. Prosedur Kerja 2. Imbalan

3. Kondisi Kerja 4. Hubungan Kerja

Dari gambar kerangka konsep di atas, dapat dilihat bahwa variabel independen pada penelitian ini adalah Karakteristik Individu (umur, jenis kelamin, lama kerja, pendidikan), motivasi terdiri dari motivasi intrinsik (Pekerjaan itu sendiri, Tanggung jawab, Prestasi yang diraih, dan Pengakuan orang lain) dan motivasi ekstrinsik (Prosedur kerja, Imbalan, Kondisi kerja, dan Hubungan kerja) sedangkan

Kepatuhan Dokter Menulis Resep Obat

Generik

Gambar 2.2 Kerangka Konsep Penelitian

variabel dependennya adalah kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di Rumah Sakit Haji Medan.

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah survei atau explanatory research untuk menganalisis pengaruh karakteristik individu dan motivasi terhadap kepatuhan dokter dalam menulis resep obat generik pada pasien umum rawat jalan di Rumah Sakit Haji Medan Tahun 2013.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Haji Medan. Penelitian ini membutuhkan waktu selama 9 (sembilan) bulan terhitung November 2012 sampai Juli 2013.

3.3 Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh dokter (dokter gigi dan dokter spesialis) di Rumah Sakit Haji Medan yang aktif dalam peresepan obat terhadap pasien umum rawat jalan berjumlah 30 orang dokter. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh populasi tersebut yaitu 30 orang dokter (responden).

3.4 Metode Pengumpulan Data 3.4.1 Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data meliputi :

1. Data primer yaitu data yang diperoleh melalui kuesioner dan pengamatan terhadap responden.

2. Data sekunder adalah data-data yang mendukung dalam penelitian ini seperti berkas resep, profil rumah sakit, berkas rekam medis dan laporan tahunan.

3.4.2 Uji Validitas dan Reliabilitas

Uji validitas bertujuan untuk mengetahui sejauh mana suatu ukuran atau nilai yang menunjukan tingkat kehandalan dan kesahihan suatu alat ukur dengan cara mengukur korelasi antara variabel dengan skor total variabel dengan melihat nilai correlation corrected item, dengan ketentuan jika nilai r hitung > r tabel, maka dinyatakan valid dan sebaliknya.

Reliabilitas data merupakan indeks yang menunjukan sejauh mana suatu alat pengukur dapat menunjukan ketepatan dan dapat dipercaya dengan menggunakan metode Cronbach’s Alpha, yaitu menganalisis reliabilitas alat ukur dari satu kali pengukuran, dengan ketentuan jika nilai r alpha > 0,6, maka dinyatakan reliabel (Arikunto, 2006).

Uji validitas dan reliabilitas dilakukan kepada 30 orang responden di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Dr. Pirngadi Medan. Hasil uji validitas dan reliabilitas dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 3.1 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Pekerjaan Itu Sendiri Variabel Nilai Corrected

Item-Total

Cronbach’s Alpha

Keterangan

Pekerjaan1 0,808 Valid

Pekerjaan2 0,485 Valid

Pekerjaan3 0,861 Valid

Pekerjaan4 0,794 Valid

Pekerjaan5 0,730 Valid

Pekerjaan6 0,820 Valid

Pekerjaan7 0,820 Valid

Pekerjaan8 0,830 Valid

Pekerjaan9 0,866 Valid

Reliabilitas 0,937 Reliabel

Berdasarkan Tabel 3.1 di atas dapat dilihat bahwa seluruh variabel pekerjaan itu sendiri sebanyak 9 pertanyaan mempunyai nilai r-hitung > 0,361 (r-tabel) dengan nilai cronbach alpha 0,937, maka dapat disimpulkan bahwa seluruh pertanyaan variabel pekerjaan itu sendiri valid dan reliabel.

Tabel 3.2 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Tanggung Jawab Variabel Nilai Corrected

Item-Total

Cronbach’s Alpha

Keterangan

Tanggungjawab1 0,584 Valid

Tanggungjawab 2 0,417 Valid

Tanggungjawab 3 0,543 Valid

Tanggungjawab 4 0,538 Valid

Tanggungjawab 5 0,404 Valid

Tanggungjawab 6 0,473 Valid

Reliabilitas 0,751 Reliabel

Berdasarkan Tabel 3.2 di atas dapat dilihat bahwa seluruh variabel tanggungjawab sebanyak 6 pertanyaan mempunyai nilai r-hitung > 0,361 (r-tabel) dengan nilai cronbach alpha 0,751, maka dapat disimpulkan bahwa seluruh pertanyaan variabel tanggungjawab valid dan reliabel.

Tabel 3.3 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Prestasi yang Diraih

Tahap Pertama Tahap Kedua

Variabel Nilai Corrected Item-Total

Keterangan Variabel Nilai Corrected Item-Total

Keterangan

Prestasi1 0,531 Valid Prestasi1 0,741 Valid Prestasi2 -0,233 Tidak Valid Prestasi3 0,870 Valid Prestasi3 0,807 Valid Prestasi4 0,836 Valid Prestasi4 0,745 Valid Prestasi5 0,767 Valid Prestasi5 0,641 Valid

Cronbach alpha 0,637 Reliabel Cronbach alpha 0,913 Reliabel Tabel 3.3 di atas diperoleh bahwa dari seluruh variabel prestasi dilakukan dalam dua tahap. Pada tahap pertama ditemukan variabel P2 nilai Corrected item-Total correlation (r-hitung = -0,233) lebih kecil dari nilai tabel (r-tabel = 0,361), artinya sub-variabel P2 dikeluarkan. Selanjutnya dilakukan uji validasi tahap kedua, dan terlihat nilai Corrected item-Total correlation (r-hitung) lebih besar dari nilai tabel (r-tabel

Variabel

= 0,361), artinya seluruh item pertanyaan yang digunakan untuk mengukur variabel penelitian semuanya valid dan reliabel.

Tabel 3.4 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Pengakuan Orang Lain Nilai Corrected

Item-Total

Cronbach’s Alpha

Keterangan

Pengakuan1 0,687 Valid

Pengakuan 2 0,796 Valid

Pengakuan 3 0,447 Valid

Pengakuan 4 0,655 Valid

Pengakuan 5 0,571 Valid

Pengakuan 6 0,618 Valid

Reliabilitas 0,846 Reliabel

Berdasarkan Tabel 3.4 di atas dapat dilihat bahwa seluruh variabel pengakuan

nilai cronbach alpha 0,846, maka dapat disimpulkan bahwa seluruh pertanyaan variabel valid dan reliabel.

Tabel 3.5 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Prosedur Kerja

Tahap Pertama Tahap Kedua

Variabel Nilai Corrected Item-Total

Keterangan Variabel Nilai Corrected Item-Total

Keterangan

Prosedur1 0,498 Valid Prosedur1 0,576 Valid

Prosedur2 0,572 Valid Prosedur2 0,497 Valid

Prosedur3 0,658 Valid Prosedur3 0,769 Valid

Prosedur4 0,344 Tidak Valid Prosedur5 0,727 Valid

Prosedur5 0,600 Valid Prosedur6 0,411 Valid

Prosedur6 0,591 Valid

Cronbach alpha 0,784 Reliabel Cronbach alpha 0,808 Reliabel Tabel 3.5 di atas diperoleh bahwa dari seluruh variabel prosedur dilakukan dalam dua tahap. Pada tahap pertama ditemukan variabel P4 nilai Corrected

Cronbach alpha 0,784 Reliabel Cronbach alpha 0,808 Reliabel Tabel 3.5 di atas diperoleh bahwa dari seluruh variabel prosedur dilakukan dalam dua tahap. Pada tahap pertama ditemukan variabel P4 nilai Corrected

Dalam dokumen RATNA DEWI /IKM (Halaman 45-0)